"V, kamu panggil si Ding Dong dong! Bilang, Papa mau bicara sekarang!" perintah Hoshi ke putranya, Valentino Reeves, yang sedang bekerja.
"Lha? Pak Macan biasanya telepon sendiri ke Dean," jawab Valentino bingung.
"Jempol Papa pegal. Telepon gih! Kemarin si Ding Dong minta ketemu sama Papa. Sayangnya kan kemarin Papa harus istirahat gegara asam lambung naik kebanyakan mangga." Hoshi lalu duduk di sofa ruang kerja Valentino. "Telepon sana V!"
Valentino menggelengkan kepalanya. Ampun deh Papa nih! Pria itu pun mengambil ponselnya.
"Siang Dik Dean ... Iya ini Pak V. Kamu bisa ke PRC Group? Pak Quinn minta bertemu ... Jam? Kalau bisa sekarang ... Ya sekarang saja." Valentino melihat ke arah Hoshi yang memilih tiduran di sofa. "Oke, dik. Kami tunggu."
Hoshi mendengar Valentino meletakkan ponselnya. "Sudah?"
"Sampun Papa Macan."
"Bagus!" Hoshi memejamkan matanya lagi.
"Pa, apa papa sudah sehat? Semua aman? Sudah diperiksa Kaysa?" tanya Valentino yang cukup cemas karena kemarin Hoshi harus dibawa ke IGD PRC Hospital gara-gara asam lambung.
"Sudah," jawab Hoshi pendek.
"Makanya tho Pa, kalau makan mangga itu kira-kira. Kai sampai nggak dibagi papa lho pas main ke rumah."
"Yeeeee, itu kan yang kupas dan motong mamamu! Ya buat Papa lah! Kai kan bisa kupas dan motong sendiri! Kok ngrepotin mama kamu!" balas Hoshi judes.
"Yaaa tapi kan mama mau kasih ke cucu. Papa tuh lho, egoisnya ampun deh!" kekeh Valentino. "Tetap ya sama cucu jendral VOC tidak luntur!"
"Sekali jendral VOC, tetap jendral VOC! Ingat, Opa buyut bin canggah kalian itu memang orang VOC!" ucap Hoshi. "Mana Arsya juga nikah sama Violet yang notabene dari wangsa VOC."
Valentino menghela napas panjang. "Wangsa pula. Papa habis baca Game of Thrones kah?"
"Iya. Baca lagi dan tidak pernah bosan!"
***
Polda Metro Jaya Jakarta
AKP Dean Thomas bergegas membereskan pekerjaannya setelah ditelpon oleh Valentino Reeves. AKP termuda di usia 28 tahun itu kemudian keluar dari ruang kerjanya. AKP Dean Thomas termasuk mendapatkan percepatan jabatan karena prestasinya di divisi major crimes. Rekannya, Aiptu Rayyan, sekarang sedang pendidikan lagi untuk menjadi perwira di Lembang. Bisa jadi dia solo run dan jujur, AKP Dean Thomas tidak mau ikut arus oknum polisi yang ingin kaya lewat jalur haram.
AKP Dean Thomas sudah menikah dengan Rafika, seorang ahli forensik dari CSI Polda. Mereka sedang menunggu kehadiran buah hati karena Rafika sedang hamil anak pertama yang sudah diperkirakan laki-laki.
"Kamu mau kemana Bang Dean?" tanya Iptu Nana.
"Ada urusan bentar." AKP Dean Thomas berbalik dan menemui juniornya. "Nana ...."
"Ya Bang Dean?"
AKP Dean Thomas berbisik di sisi telinga Iptu Nana. Wanita berambut pendek itu pun terbelalak.
"I'm in Bang Dean! Aku sudah jèléh ( muak ) dengan korupsi di sini! Mas Rommy sudah bilang kalau ada divisi yang bersih, pindah!" bisik Iptu Nana dengan wajah berbinar.
"Doakan proposal aku diterima ya? Nepotisme sih tapi bagiku, yang penting uangnya halal dan kita membantu banyak orang," senyum AKP Dean Thomas.
"Sip bang! Aku nanti ajak Tikah juga. Kita akan sering ketemu sama Mas L kan? Aku kangen sama Shea comel itu."
AKP Dean Thomas mengangguk. "Aku akan ajak Bang Jarot juga. Dia kan definisi orang lurus juga."
"Sip!"
AKP Dean Thomas lalu keluar dari gedung kantornya dan menuju parkiran dimana motornya terparkir. Tak lama, dia pun mengendarai motornya keluar jalan raya dan menuju gedung PRC Group di area segitiga emas Jakarta.
***
Ruang Kerja Hoshi di PRC Group
AKP Dean Thomas diantarkan oleh salah seorang pengawal Hoshi dan Valentino yang sudah menunggu di lobby saat tahu dia datang. Ethan tersenyum ke AKP Dean Thomas karena mereka sudah beberapa kali bertemu baik kasus kemarin maupun acara lebaran yang diadakan keluarga klan Pratomo.
"Sehat mas Dean?" sapa Ethan.
"Puji Tuhan sehat. Pak Quinn gimana?" balas AKP Dean Thomas.
"Yaaaa sudah mendingan. Mas Dean nggak tahu saja, di rumah sakit malah bikin ramai. Pak Quinn eyel-eyelan sama mas Kaivan hanya perkara mangga. Padahal pas mas Kai pulang dari Harvard kok malah gelut unfaedah," kekeh Ethan yang sudah hapal dengan keributan keluarga Reeves.
"Padahal kan cucunya lho? Apa memang seperti itu kah gaya pak Quinn ke cucunya?" tanya AKP Dean Thomas.
"Tahu nggak mas, kata Pak Quinn, lebih kena di memori soal gelut daripada yang manis-manis," senyum Ethan. "Sekarang Bu Rina melarang pak Quinn makan mangga."
AKP Dean Thomas menggeleng gemas. "Pak Quinn tuh ya!"
Mereka pun tiba di ruang kerja Hoshi dan dipersilahkan masuk oleh sekretarisnya.
Tak lama AKP Dean Thomas berada di dalam ruang kerja yang sophisticated dengan dominasi warna coklat, hitam, putih dan abu-abu. Hoshi tidak sendirian disana karena ada Bimasena Baskara yang sedang berbincang dengannya.
"Ah, Ding Dong. Terima kasih Ethan sudah mengantarkan cucu angkat aku," senyum Hoshi membuat AKP Dean Thomas melongo.
"Sama-sama pak Quinn. Saya permisi dulu," pamit Ethan.
"Cucu .... Angkat?" beo AKP Dean Thomas.
"Iya. Kamu aku anggap cucu angkat aku. Tahu kenapa? Aku suka pria cerdas dan lurus! Bagiamana kabar Rafika dan kehamilannya? Masuk usia berapa?"
"Delapan bulan pak Quinn," jawab AKP Dean Thomas sambil Salim ke Hoshi dan Bima.
"Oke, sudah cukup basa basinya. Kamu minta apa Dean?" Tanya Hoshi saat AKP Dean Thomas duduk di kursi depan meja kerjanya.
"Divisi kasus dingin. Saya hanya minta dibuat divisi itu karena saya dan dik Rayyan ingin membantu para keluarga yang masih bertanya-tanya kenapa anggota keluarganya tewas tanpa ada closure yang pasti," jawab AKP Dean Thomas serius. "Saya juga sudah mengajak Nana, Atikah dan Bang Jarot. Saya memang selektif memilih tim yang benar-benar mengayomi masyarakat."
Hoshi saling berpandangan dengan Bima yang berada di depannya.
"Kamu akan berhubungan dengan arwah," ucap Hoshi akhirnya.
"Saya tahu pak Quinn."
"Kalau divisi kasus dingin, tidak bikin kamu kaya."
"Saya juga tahu pak Quinn. Kami disumpah untuk melayani masyarakat jadi bukan kekayaan yang saya cari."
"Jangan ngibrit kalau ada arwah yang bentuknya aneh-aneh! Jangan macam Werkudara satu ini! Nama saja keren, lihat arwah buyutnya jejeritan!" Ejek Hoshi ke Bima yang menatap judes.
"Siapa yang tidak jejeritan! Lehernya hampir pedot Kuwi!" Seru Bima kesal.
***
Yuhuuu up Siang yaaaa
Ini cerita santai ya gengs. Up-nya suka-suka.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️
"Maksud pak Bima ... Nonik?" tanya AKP Dean Thomas.
"Siapa lagi! Ampun deh! Cantik, lucu tapi ... Horor! Bisa-bisanya L dan Nyes santai saja sih sama Nonik?" omel Bima.
Hoshi tersenyum smirk. "Biar nanti aku temui Kapolda dan Kapolri. Mereka punya hutang banyak padaku."
"Hutang apa pak Quinn?" tanya AKP Dean Thomas.
"Ada deh!"
***
Seminggu kemudian Hoshi dengan didampingi Valentino Reeves, Septian, Aizen Akihiro dan Sagara Hadiyanto, menemui Kapolda dan Kapolri beserta jajarannya. Baru-baru ini Hoshi mengancam dua pejabat itu karena sebagai pelindung pembalak liar di hutan milik keluarga Léopold. Sean sudah ngamuk, begitu juga dengan Arsyanendra karena ada yang mengambil kayu-kayu disana.
Setelah ditelusuri, Hoshi tahu pejabat lokal termasuk gubernur, mendapatkan beking dari Kapolda setempat dengan Kapolri dan Kapolda Metro Jaya terlibat. Hoshi menawarkan, blow up semua dan biarkan hukum rimba berjalan atau hukum rimba ala Hoshi di hutan milik keluarga Léopold.
Hoshi bisa menebak mereka tidak mau turun dari posisi uenak jadi mereka memiliki jabatan. Hoshi semakin umpak-umpakan dengan membeli tanah-tanah yang tadinya untuk sawit. Dia ubah semuanya menjadi hutan kembali dengan hukum rimba ala dirinya berlaku. Tembak ditempat tanpa perduli beking siapa!
Dan sekarang, Hoshi bersama Valentino memiliki banyak kartu as lagi keterlibatan mereka di kasus lainnya. Kesannya mereka pemeras tapi bagi Hoshi, pemerasan yang tidak dzolim ... dimaafkan.
"Jadi pak Quinn meminta divisi kasus dingin? Di Polda?" tanya Kapolda.
"Iya. Kalian punya kasus dingin banyak! Mana ada yang mau ngurus kan? Bagi kalian, nggak terpecahkan ya sudah! Benar? Tidak perduli bagaimana kondisi keluarga yang ditinggalkan." Hoshi bersedekap dengah gaya khasnya.
"Pak Quinn, apakah termasuk korban politik?" Kapolri menatap tajam.
"Apakah kamu takut akan ketahuan? Jika kamu tidak terlibat, ngapain takut? Orang takut itu karena merasa bersalah, bisa kebongkar kejahatannya atau memang terlibat luar dalam!" senyum Hoshi. "Kamu yang mana?"
Semua orang di jajaran kepolisian terdiam. Setelah kemarin mereka dikuliti habis-habisan oleh Hoshi dan tidak bisa berbuat apapun karena dilindungi FBI dan tiga negara Eropa serta lima negara Timur Tengah yang bisa merembet kemana-mana termasuk stabilitas politik dan ekonomi negara, kali ini mereka tidak bisa berbuat apapun.
Hoshi dibungkam? Dikriminalisasi? Pembalasannya bisa jauh lebih kejam! Apalagi dia memiliki ipar Yakuza, Mafioso dan sahabat Triad.
"Anda sudah mendapatkan siapa yang mau urus kasus yang sudah lama itu?" tanya Kapolda sinis dan skeptis.
"Sudah! Oh, lantai mana di gedung Polda yang paling seram dan orang tidak betah disana lama-lama?" tanya Hoshi cuek.
"Lantai empat," jawab Sekertaris Kapolri.
"Kenapa?" tanya Valentino.
"Setiap ada yang kerja disana, merasa tidak nyaman dan lampu tidak mau nyala kalau sudah mau Maghrib," jawab pria itu. "Jadi lantai empat kosong."
"Wajar lah. Dalam bahasa Mandarin, angka 4 diucapkan sebagai "sì", yang bunyinya sangat mirip dengan kata kematian, yaitu "sǐ" (死). Kemiripan pengucapan ini, terutama dalam dialek Kanton, sering disebut sebagai homofon, di mana kata yang berbeda makna memiliki bunyi yang hampir sama. Jadi kalau disana banyak arwah penasaran ... Ya nggak heran. Tahu lah dosa polisi dari jaman dahulu kala! Hanya Pak Hoegeng dan polisi tidur saja yang jujur!" ucap Hoshi sinis.
Semua anggota polisi yang berada disana langsung merah padam mendengar ucapan Hoshi. Siapapun tahu pengusaha yang memiliki wajah cantik hingga di usia kepala tujuh itu, punya mulut yang pedas. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena PRC Group milik negara Belanda. Jika terjadi sesuatu, bisa-bisa Raja Belanda, Roland van Bummel, ngamuk.
"Oke. Lantai empat kita ambil! Lantai empat adalah milik Divisi Kasus Dingin dan tetap milik divisi kasus dingin sampai kiamat! Jadi tidak ada batasan lantai empat untuk divisi baru ini. Soal renovasi, kalian tidak usah khawatir. Bukan kalian yang keluar duit juga! Tahu lah bisnis sama polisi itu gimana? Hanya orang-orang yang punya mental kuat, uang kuat dan beking tidak main-main yang bisa menekan kalian? Benar begitu?" senyum sinis Hoshi. "Oh, jangan coba-coba membunuh aku! Kalian akan tahu akibatnya!"
Valentino, Aizen dan Sagara hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Hoshi yang tidak ada takut-takutnya. Bagi Hoshi, selama dia benar, lainnya bodo amat!
"Tian, urus surat perjanjian sampai kiamat lantai empat gedung Polda Metro Jaya untuk divisi kasus dingin. Tidak ada seorang pun berhak mengambil lantai empat itu! Kecuali bencana alam! Karena itu Big Boss yang minta!" Hoshi menoleh ke pengacara Blair and Blair Advocate yang sudah tersenyum simpul mendengar ucapan tetua klan Pratomo Jakarta itu.
"Sampun Pak Quinn. Tinggal revisi yang seumur hidup diganti sampai kiamat," jawab Septian cuek.
***
Divisi Major Crimes Beberapa Hari Kemudian
"Buat nama-nama yang aku panggil, segera ke lantai empat! AKP Dean Thomas, Kompol Jarot, Iptu Nana Nivetha, Iptu Atikah Shadira, Aiptu Muhammad Rayyan. Ke lantai empat. Sekarang!" ucap sekertaris Kapolda ke keempat orang yang ada disana.
Keempatnya pun bersiap ke lantai empat hingga sekretaris Kapolda itu bingung kurang satu.
"Aiptu Rayyan pendidikan perwira di Lembang. Baru kembali setahun lagi!" jawab Iptu Nana judes. "Makanya jangan cuma mikir cewek aja lu!"
Sekretaris Kapolda itu tergagap karena sempat dipergoki Iptu Nana yang sedang mengintai pelaku pelecehan di sebuah hotel, sedang bersama LC.
"Sudah ... Ayo ke lantai empat," ajak Iptu Atikah sambil mendorong sahabatnya.
"LC mana lagi sekarang?" goda Kompol Jarot.
AKP Dean Thomas hanya menggeleng gemas dengan ketiga rekannya.
Sekretaris Kapolda itu hanya mengeraskan rahangnya. Tidak menduga akan diejek seperti itu.
Keempatnya pun masuk lift dan turun dari lantai lima ke lantai empat. Begitu keluar dari lift, mereka terkejut melihat Hoshi bersama Valentino dan Aizen, sedang sibuk mengukur lantai empat itu. Ada beberapa orang lagi yang sudah pasti dari PRC Group juga sedang mendata semuanya.
"Pak Quinn?" AKP Dean Thomas menghampiri pria itu. "Pak Valentino, Mas Aizen."
"Ini ada apa ya pak?" tanya Iptu Nana.
"Ini akan menjadi markas kalian!" jawab Hoshi. "Divisi kasus dingin."
Keempat polisi itu melongo. "Serius?"
"Yup. Aku berhasil membuat surat perjanjian bahwa lantai ini hanya khusus divisi kasus dingin dan tidak boleh diambil sampai kiamat!" jawab Hoshi dengan gaya jumawa.
"Terus disini ... Ada apa saja pak?" tanya Kompol Jarot.
"Sebelah sini, ruang kerja Ding Dong nanti bersama Rayyan. Di sini adalah ruang kerja kalian. Nanti kalian akan mendapatkan ruang meeting, ruang kerja lengkap dengan lemari makanan dan semua perlengkapan, lalu di sebelah kiri, adalah ruang monitor IT untuk mengawasi lantai empat dan ruang interogasi. Ruang interogasi sebelah sana, dan ada dua. Kamar mandi ada di dalam ruang kerja kalian yang memang dibuat luas. Plus loker yang akan menyimpan perlengkapan anda. Bagaimana?" tanya Hoshi.
"Wow ...."
"Nanti biar L dan Nyes datang kemari karena aku yakin disini penghuninya banyak sekali!"
Ketiga orang itu terkejut. "Kita bekerja sama dengan arwah?" serunya.
***
Yuhuuuu up malam Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
Lachlan sedang melakukan meeting zoom bersama ayah dan para manajer di Palermo dalam membahas bisnis keluarga de Luca, ketika ponselnya bergetar. Matanya melirik ke arah benda pipih di sebelahnya dan ada pesan dari Hoshi.
📩 Opa Macan Galak : L, kalau kamu sudah selesai urusan pekerjaan kamu, ke Polda Metro Jaya lantai empat ya! Bawa Nyes sekalian. Shea, titipkan saja ke Oma Rina kamu.
Lachlan mendelik. Ya ampun Opaaaaa! Bisa-bisanya bikin aturan sat set begini sih?
"L? Ada apa?" tanya Michel de Luca saat melihat ekspresi wajah putranya. "Apa ada yang salah?"
"Bukan Daddy ... Tapi Opa Macan," jawab Lachlan de Luca.
"Apalagi maunya Opa kamu itu?" Michel hanya menggelengkan kepalanya gemas dengan Oom cantiknya.
"Gampang lah! Kita lanjutkan urusan bisnis kita dulu. Jadi untuk panen anggur musim ini ...." Lachlan pun kembali fokus dengan perusahaan milik keluarganya.
***
Lantai Empat cikal bakal Divisi Kasus Dingin
"Mbak Susi ..." panggil Tole ke arah kuntilanak yang sedang mengawasi sekelompok orang disana.
"Kita ... Akan satu lantai dengan mereka?" tanya Mbak Susi ke arah Tole, tuyul yang hobi nyolong uang para polisi korup.
"Yup. Sama pak Dean, mbak Nana, mbak Atikah dan pak Jarot ... Tenang saja. Mereka polisi garis lurus pakai penggaris. Aku sudah berapa kali kerjasama dengan mereka. Apalagi sama mas L dan mas Dendeng. Sayang, mas Dendeng sudah balik Jepang. Padahal seru kalau ada dia," jawab Tole.
"Kira-kira, bisa tidak ya urus kasus aku?" tanya Mbak Susi.
"Kalau belum dicoba ... Ya kita nggak tahu. Cuma tho mbak, kudu nunggu Mas L dan Mbak Nyes. Soalnya, mereka itu macam liaison arwah," ucap Tole. "Atau ... Minta tolong Pak Longga ya? Biar laporan ke Kanjeng Eyang?"
Mbak Susi menatap Tole. "Memangnya ... Bisa?"
"Bisa lah! Tole ini disayang Kanjeng Eyang. Jadi don't worry! Tapi ... Kalau aku boleh kasih saran tho, gimana kalau kasusnya mbak Susi dibuka saat semua ini sudah selesai? Biar gampang cari datanya," tawar Tole.
"Begitu ya," gumam Mbak Susi.
"Hu um!"
"Ya sudah. Nunggu lagi tidak apa-apa. Toh pelakunya masih hidup juga." Mbak Susi menatap satu persatu anggota kepolisian yang akan menjadi tim kasus dingin.
***
Rumah Lachlan dan Nareswari
Lachlan menunggu kedatangan istrinya dari rumah sakit. Dia dan Nareswari sudah melakukan perjanjian jika Lachlan di rumah, dia yang akan mengurus Shea. Lachlan dan Nareswari sudah dikaruniai seorang bayi perempuan bernama Chelsea yang biasa dipanggil Shea. Nama Chelsea diambil dari nama eyang buyut, Chelsea van Hoover yang menjadi arwah dengan panggilan Nonik. ( Baca Ghost Detective ).
Nonik berjanji jika Lachlan dan Nareswari menikah, dia baru menyeberang. Dan saat dia menyeberang, Lachlan, Nareswari dan Dendeng, melihat GKRM Haryo Pratomo dan Carlotta van Hoover datang menjemputnya.
Sekarang Nonik reinkarnasi ke Shea.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam." Lachlan tersenyum ke arah Nareswari yang datang dari rumah sakit.
"Aku cuci tangan dan ganti baju dulu mas," ucap Nareswari sambil berjalan ke kamar utama.
"Shea, Mama sudah datang. Jadi papa ketemu sama Opa buyut dulu ya?" senyum Lachlan sambil menowel hidung Shea.
"Rewel nggak mas?" tanya Nareswari yang sudah bersih dan berganti daster.
"Nggak kok. Malah ikutan meeting soal kebun anggur dan pabrik wine de Luca. Yah, anggap saja diajarin bisnis dari bayi," kekeh Lachlan.
Nareswari cekikikan. "Kamu tuh lho. Katanya mas mau ke Polda. Ada apa mas?" tanya Nareswari sambil menggendong Shea dan dia merasakan dadanya penuh yang berarti waktunya menyusui putri bulenya seperti ayahnya. Nareswari sampai-sampai sebal karena dia sama sekali tidak kebagian hanya jenis kelamin saja.
"Opa Macan bikin gebrakan," jawab Lachlan.
"Gebrakan apa mas?" tanya Nareswari sambil tersenyum mendengar kecapan Shea mendapatkan sumber ASI nya. "Lapar ya nduk. Pelan-pelan saja."
Lachlan tersenyum melihat putrinya heboh sendiri. "Padahal tadi sudah aku kasih satu botol lho sejam lalu."
"Namanya juga masa pertumbuhan. Justru yang fresh from oven itu lebih enak," kekeh Nareswari sambil mengelus pipi gembul Shea yang berusia tiga bulan sekarang. "Opa Hoshi ngapain lagi?"
"Bikin Divisi Kasus Dingin di Polda Metro Jaya dengan Pak Dean sebagai ketuanya," jawab Lachlan.
Nareswari melongo. "Serius? Memangnya Divisinya mau sampai kapan? Terus gajinya?"
Lachlan tertawa. "Gaji ya tetap lah, Nyes. Kan memang kewajiban Polri kasih ke timnya pak Dean. Hak mereka juga."
"Memang siapa saja yang di tim pak Dean?"
"Pak Dean, mas Rayyan, mbak Nana, mbak Tikah dan pak Jarot."
"Kantornya di sebelah mana?" tanya Nareswari.
"Lantai empat. Lantai yang selalu gelap itu! Opa Macan sudah membuat perjanjian. Lantai Empat milik Divisi kasus dingin sampai kiamat!"
Nareswari terbelalak. "Sampai kiamat? Ya Allah Opa Hoshi tuh yaaaa ...."
Bonus Shea bayi
***
Polda Metro Jaya Jakarta
Lachlan naik ke lantai empat dan dirinya nyaris terjatuh saat pintu lift terbuka, tampak Tole tersenyum manis.
"Woi, gigi kamu itu lho! Perlu dibawa ke Nala deh supaya dikikir dan veneer!" omel Lachlan sementara Longga dan Pak Sakera cekikikan mendengar sungutan tuannya.
"Eh? Aduh, mas L. Aku takut suara bor gigi. Ngilu rasanya," jawab Tole dengan wajah bergidik.
"Yaelah, kamu itu arwah Le! Mana kerasa!" balas Lachlan sebal.
"Mas L tidak tahu saja. Horor mas!" eyel Tole.
"Horor mana sama lihat gigi kamu yang saingan sama piranha?" Lachlan menyipitkan mata birunya.
"Eh, aku tuh comel. Piranha ... No comel," cengir Tole.
"Haaaiiissshhh!" Lachlan meninggalkan Tole dan menuju Hoshi yang sudah menunggu dirinya. "Opa ...." Lachlan pun Salim ke Hoshi, Salim ke Valentino, salaman dan berpelukan dengan Aizen. Dia juga bersalaman dengan AKP Dean Thomas, Kompol Jarot, Iptu Nana dan Iptu Atikah.
"Sudah urusan anggurnya? Panen raya kamu?" tanya Hoshi.
"Alhamdulillah ... Ini gimana ceritanya?" Lachlan menatap semua anggota keluarganya.
"Kasus dingin kan banyak, L. Opa pikir daripada pasukan ini kena mudaratnya di divisi Major Crimes atau narkoba, mending mereka mengusut kasus yang jauh dari korupsi. Memang tidak membuat kalian kaya tapi ... Aku bisa memberikan kailnya membuat kalian kaya," ucap Hoshi ke arah tim kasus dingin.
"Bukan cara haram kan pak Quinn?" tanya Iptu Atikah takut-takut.
"Sorry ya Tikah! Tidak ada dalam kamus aku cari duit pakai cara haram!" cebik Hoshi judes.
Tiba-tiba, lampu di lantai empat byar pet dan itu semuanya. Mereka pun saling berpandangan hingga Lachlan melihat pelakunya.
"Ada mbak Kunti di sini. Dia tidak suka kehadiran kita," ucap Lachlan.
"Makanya Opa panggil kamu L!" kekeh Hoshi.
***
Yuhuuuu up Siang Yaaaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!