Indonesia
NovelToon NovelToon

Kaisar Abadi Penentang Surga

Kebangkitan Kaisar

Gemuruh guntur membelah kehampaan kosmik. Di Puncak Ilahi Primordial, tempat di mana bintang-bintang lahir dan mati hanya dalam satu tarikan napas, lautan darah menggenang.

"Luo Xue... kenapa?!"

Suara itu serak, dipenuhi dengan keputusasaan yang mampu membuat langit menangis.

Jian Chen, Kaisar Pedang Kekosongan yang namanya menggetarkan Sembilan Surga, berlutut dengan satu kaki. Pedang ilahinya yang dulunya mampu membelah galaksi kini patah menjadi dua. Di dadanya, sebuah pedang es sebening kristal menancap tepat di jantungnya, membekukan sumber kehidupannya dan menghancurkan lautan jiwanya.

Di hadapannya, berdiri seorang wanita dengan kecantikan yang melampaui konsep fana. Gaun putihnya berkibar anggun di tengah badai energi kosmik. Dia adalah Luo Xue, Permaisuri Surgawi, wanita yang telah menemaninya mendaki puncak kultivasi selama tiga ribu tahun. Tunangannya.

Dan di samping wanita itu, berdiri seorang pria berjubah naga emas, menatap Jian Chen dengan senyum tipis yang penuh ejekan. Dia adalah Mo Tian, saudara angkat yang pernah bertukar cawan darah dengannya.

"Maafkan aku, Chen," suara Luo Xue terdengar dingin, tanpa emosi, layaknya dewa yang menatap semut. "Jalan menuju Alam Penguasa Primordial hanya bisa dilalui oleh satu orang. Pengetahuan dari Reruntuhan Kekacauan yang kau temukan... itu terlalu berharga untuk kau kuasai sendiri. Aku dan Tian membutuhkan Darah Primordial itu."

"Hanya... demi sebuah takdir ilahi... kau mengkhianati sepuluh ribu tahun ikatan kita?" Mata Jian Chen memerah, meneteskan darah, bukan air mata. Jiwanya mulai retak. Segel es dari pedang Luo Xue merayap, menghancurkan kultivasi tingkat Kaisar Ilahi miliknya secara perlahan namun pasti.

Mo Tian melangkah maju, tawanya menggema di kehampaan. "Yang kuat memangsa yang lemah, Saudaraku. Kau terlalu naif. Serahkan Darah Primordial itu, dan kami akan membiarkan sisa jiwamu bereinkarnasi ke dunia fana."

"Hahaha! Hahahahaha!"

Tawa Jian Chen meledak, memancarkan niat membunuh yang begitu pekat hingga ruang dan waktu di sekitarnya terdistorsi. Matanya yang perlahan meredup tiba-tiba memancarkan cahaya keemasan yang gila.

"Luo Xue! Mo Tian! Bahkan jika jiwaku hancur menjadi debu, bahkan jika aku harus jatuh ke dalam Api Api Penyucian selama sembilan reinkarnasi, aku, Jian Chen, bersumpah! Aku akan merangkak kembali dari neraka, membelah surga kesembilan, dan mencabut jantung kalian dengan tanganku sendiri!"

Dengan sisa kekuatan terakhirnya, Jian Chen tidak menyerang mereka. Alih-alih, ia meledakkan Dantiannya sendiri. Ledakan energi dari seorang Kaisar Ilahi menyapu Puncak Ilahi Primordial. Dalam kekacauan ledakan itu, setetes darah berwarna merah kehitaman yang memancarkan aura kuno berdenyut keras, membungkus satu fragmen jiwa terkecil milik Jian Chen, lalu merobek ruang angkasa dan menghilang ke dalam kekosongan tanpa batas.

"Uh..."

Rasa sakit yang menyengat adalah hal pertama yang dirasakan Jian Chen. Rasanya seperti jutaan jarum beracun ditusukkan ke setiap inci otot dan tulangnya.

Matanya terbuka perlahan. Tidak ada lagi lautan bintang. Tidak ada lagi energi kosmik yang melimpah. Yang menyambut pandangannya adalah langit-langit kayu yang lapuk, berhiaskan jaring laba-laba. Aroma obat penawar yang murah dan bau apak menguar di udara.

Di mana aku? Bukankah aku sudah mati? Bukankah jiwaku hancur?

Jian Chen mencoba bangkit, tetapi rasa sakit yang tajam dari perutnya memaksanya kembali berbaring. Tiba-tiba, rasa sakit yang jauh lebih hebat menyerang kepalanya. Aliran ingatan yang asing membanjiri benaknya secara paksa.

Benua Bintang Jatuh... Kerajaan Angin Langit... Kota Daun Gugur... Klan Jian.

Dan nama pemuda pemilik tubuh ini juga... Jian Chen.

Kaisar Pedang Kekosongan terdiam sejenak, membiarkan ingatan itu menyatu dengan jiwanya. Setelah beberapa menit, seutas senyum sinis yang bercampur dengan kelegaan yang luar biasa terbentuk di bibirnya yang pucat.

"Sepuluh ribu tahun... Aku tertidur selama sepuluh ribu tahun," gumam Jian Chen. Suaranya lemah, tetapi mengandung dominasi yang tak terbantahkan.

Melalui ingatan tubuh ini, ia tahu bahwa Luo Xue dan Mo Tian kini telah menjadi Penguasa Sembilan Surga yang disembah oleh triliunan makhluk. Mereka menyebut diri mereka Dewi Surga Bersalju dan Kaisar Surgawi Kekacauan. Nama "Kaisar Pedang Kekosongan" telah dihapus dari sejarah, dianggap sebagai pengkhianat umat manusia.

"Luo Xue... Mo Tian... Kalian pikir kalian telah menang? Surga tidak buta. Takdir mengizinkanku kembali. Tunggu saja saat pedangku kembali menunjuk ke arah surga kesembilan!"

Setelah menenangkan emosinya yang bergejolak, Jian Chen mulai memeriksa kondisi tubuh barunya. Sebagai mantan kultivator puncak, hal pertama yang ia lakukan adalah memindai Dantian (pusat energi) dan meridian (saluran energi) di tubuhnya.

Wajahnya segera menjadi gelap.

"Benar-benar tubuh yang menyedihkan," desahnya pelan.

Pemuda bernama Jian Chen ini dulunya adalah putra tunggal dari Patriark Klan Jian di Kota Daun Gugur. Ayahnya menghilang secara misterius tiga tahun lalu saat menjelajahi Reruntuhan Kuno, meninggalkan Jian Chen yang baru berusia dua belas tahun sendirian.

Lebih buruk lagi, sejak lahir, Jian Chen memiliki kondisi langka: Sembilan Meridian Absolut yang Terputus. Ini berarti, saluran energi di tubuhnya bagaikan pipa yang hancur. Sebanyak apa pun energi spiritual (Qi) yang ia serap dari langit dan bumi, energi itu akan bocor dan keluar dari tubuhnya. Di dunia yang menjunjung tinggi kekuatan bela diri ini, ia adalah lambang dari kata "Sampah Bawaan".

Kematiannya hari ini pun bukan sebuah kecelakaan. Kemarin, ia didorong dari tebing di belakang kediaman klan oleh antek-antek sepupunya, Jian Hu. Jian Hu telah lama mengincar posisi Tuan Muda dan sumber daya bulanan yang masih diterima oleh Jian Chen secara nominal.

Jian Chen memejamkan mata, memindai lebih dalam ke lautan jiwanya yang kini sangat kecil dan rapuh. Di tengah kegelapan jiwa fana itu, melayang diam setetes darah merah kehitaman. Darah Primordial.

"Jadi ini yang menyelamatkanku. Sepuluh ribu tahun melintasi ruang dan waktu untuk mencari wadah yang tepat. Ironisnya, Darah Primordial ini yang selama ini menyerap sisa-sisa Qi di tubuh pemuda ini, memperburuk kondisi meridiannya, hanya untuk mempertahankan fragmen jiwaku agar tidak musnah."

Meskipun meridiannya hancur, mata Jian Chen tidak menunjukkan sedikit pun keputusasaan. Di kehidupan masa lalunya, ia memulai segalanya dari bawah. Ia membunuh, merampas, meracik alkimia, dan memanjat tumpukan mayat jenius surgawi. Meridian hancur? Itu hanyalah lelucon kecil bagi seorang Kaisar.

Di kehidupan masa lalunya, bersama dengan Darah Primordial, ia juga memperoleh sebuah teknik kultivasi terlarang dari Reruntuhan Kekacauan yang belum sempat ia praktikkan.

Seni Melahap Surga Primordial.

Teknik ini dikabarkan mampu melahap segala bentuk energi di alam semesta—baik itu Qi yang murni, racun, esensi darah binatang iblis, bahkan karma dan nyawa musuh—untuk ditempa menjadi kultivasi pribadi dan memperbaiki cacat tubuh apa pun.

"Jika aku tidak memiliki meridian, maka aku akan menjadikan setiap tulang, daging, dan darah di tubuhku sebagai meridian! Aku akan melahap langit dan bumi ini untuk membangun kembali fondasiku!"

Brak!

Pikiran Jian Chen terputus ketika pintu kamarnya yang reyot ditendang terbuka dengan kasar, hingga engselnya hampir lepas.

Seorang pemuda berpakaian pelayan abu-abu melangkah masuk dengan angkuh. Wajahnya dipenuhi bopeng, dan matanya memancarkan rasa jijik yang tidak ditutupi. Dia adalah Wang Lu, seorang pelayan tingkat rendah dari faksi Paman Kedua, tetapi bahkan pelayan pun berani menginjak-injak Tuan Muda yang kehilangan pelindungnya.

"Hei, Sampah! Kau belum mati juga rupanya?" Wang Lu mendengus kasar, meludah ke lantai di dekat tempat tidur Jian Chen. "Kudengar dari Tuan Muda Jian Hu kau jatuh dari tebing. Sayang sekali nyawamu sekeras kecoak."

Jian Chen tidak menjawab. Ia hanya menoleh perlahan, menatap pelayan itu.

Wang Lu berjalan mendekat, meraih botol porselen kecil di atas meja nakas yang berisi jatah Pil Pengumpul Qi bulanan milik Jian Chen. "Berhubung kau sudah cacat dan hampir mati, pil ini hanya akan sia-sia di perutmu. Tuan Muda Jian Hu menyuruhku mengambil jatah bulan ini untuk anjing peliharaannya. Kurasa itu jauh lebih berguna!"

Wang Lu tertawa mengejek dan berbalik untuk pergi.

"Taruh kembali."

Dua kata itu diucapkan dengan nada yang sangat pelan, nyaris seperti hembusan angin. Namun, entah mengapa, ruangan itu tiba-tiba terasa beberapa derajat lebih dingin.

Wang Lu menghentikan langkahnya dan menoleh, mengerutkan kening. "Apa kau bilang, Sampah? Kau berani memerintahku? Kau pikir kau masih Tuan Muda yang dihormati saat ayahmu masih ada? Hari ini aku akan mematahkan kakimu agar kau tahu tempat—"

Ucapan Wang Lu terhenti di tenggorokannya.

Ia menatap mata Jian Chen. Mata yang biasanya penuh ketakutan dan keputusasaan itu kini berubah total. Mata itu dalam, gelap, dan setajam pedang yang baru saja dicabut dari sarungnya. Di dalam kedalaman pupil hitam itu, Wang Lu seolah melihat lautan darah, tumpukan mayat setinggi gunung, dan aura kehancuran yang tak terbatas.

Itu bukan tatapan manusia. Itu adalah tatapan dewa kematian yang memandang seekor serangga. Niat Membunuh (Killing Intent) yang dikumpulkan dari sepuluh ribu tahun pembantaian di kehidupan sebelumnya, meskipun dipancarkan dari tubuh tanpa kekuatan, adalah sesuatu yang menekan jiwa itu sendiri.

Deg!

Jantung Wang Lu seakan berhenti berdetak. Kakinya gemetar hebat, kehilangan semua tenaganya. Wajahnya pucat pasi seperti kertas. Napasnya tercekat, seolah ada tangan kasat mata yang mencekik lehernya dengan kuat. Rasa takut purba, rasa takut yang melekat pada naluri hewan saat menghadapi predator puncak, menguasai pikirannya.

Klang.

Botol porselen berisi pil itu terlepas dari tangannya yang gemetar dan jatuh ke lantai kayu, berguling pelan ke arah tempat tidur Jian Chen.

"E-eek..." Wang Lu hanya bisa mengeluarkan suara tercekik, air mata ketakutan menggenang di matanya, dan tanpa sadar, celananya menjadi basah oleh noda kekuningan. Ia telah mengompol.

"Aku tidak suka mengulang kata-kataku untuk orang mati," suara Jian Chen terdengar lagi, sedingin es abadi. "Tapi karena tanganku saat ini terlalu kotor untuk menyentuh darah anjing sepertimu... Enyahlah."

Seketika tekanan ilusi itu menghilang.

Wang Lu terkesiap menghirup udara, lalu berbalik dan merangkak keluar dari kamar secepat anjing yang ketakutan, bahkan tidak berani menoleh ke belakang sedetik pun, meninggalkan bau pesing di ambang pintu.

Jian Chen mendengus pelan, rasa pusing yang hebat kembali menyerang kepalanya. Menggunakan 'Niat Membunuh' tingkat Kaisar pada tubuh fana dan jiwa yang sangat lemah memberikan beban balik (backlash) yang cukup besar. Ia terengah-engah, keringat dingin membasahi dahinya.

"Hanya menggunakan aura saja sudah menguras staminaku sampai seperti ini," Jian Chen tersenyum kecut sambil mengambil botol porselen di lantai.

Ia membuka sumbatnya dan menuangkan dua butir pil berwarna cokelat seukuran kacang polong. Itu adalah Pil Pengumpul Qi tingkat rendah. Bagi kultivator biasa, kualitasnya sangat buruk, penuh dengan kotoran (impurities).

Namun, bagi Jian Chen saat ini, itu adalah kunci pertamanya untuk bertahan hidup.

Ia memasukkan kedua pil itu ke dalam mulutnya dan duduk bersila, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Matanya terpejam, dan ia mulai merapal mantra pertama dari teknik kultivasi nomor satu di alam semesta.

"Mari kita mulai melahap."

Melahap Surga

Dua butir Pil Pengumpul Qi tingkat rendah meluncur melewati tenggorokan Jian Chen, meleleh seketika saat menyentuh kehangatan lambungnya.

Bagi kultivator tingkat dasar di Kota Daun Gugur, pil semacam ini adalah sumber daya berharga untuk mempercepat pengumpulan energi spiritual. Namun, di mata mantan Kaisar Pedang Kekosongan, pil ini tidak lebih dari gumpalan lumpur yang tak sengaja tercampur sedikit debu spiritual.

"Terlalu banyak kotoran," gumam Jian Chen dalam hati, alisnya berkerut. "Sembilan puluh persen dari pil ini hanyalah limbah alkimia. Jika kultivator biasa menelannya, butuh sepuluh hari penuh hanya untuk menyaring seutas energi murni. Sisanya akan mengendap di meridian, menjadi racun tersembunyi yang kelak mencekik potensi mereka sendiri."

Namun, Jian Chen tidak berniat menyaringnya secara perlahan. Ia tidak punya waktu. Dan yang lebih krusial: ia tidak memiliki meridian untuk mengalirkan energi tersebut.

Jika ia membiarkan energi pil ini meledak begitu saja, energi liar itu akan mengoyak organ dalamnya dan mengantarkannya kembali ke gerbang kematian.

"Seni Melahap Surga Primordial... Bangkit!"

Di dalam kegelapan lautan kesadarannya, suara Jian Chen menggema layaknya dekrit mutlak seorang dewa kuno.

Seketika itu juga, untaian teknik kultivasi paling tabu di alam semesta mulai berputar. Di tempat yang dulunya adalah Dantian miliknya—kini hanya sebuah ruang hancur dan kosong—sebuah pusaran kelam seukuran kacang kedelai mendadak tercipta.

Itu bukanlah pusaran energi biasa. Gelap, pekat, dan tanpa dasar, menyerupai lubang hitam miniatur yang siap menelan cahaya bintang. Begitu pusaran itu berputar, daya hisap yang luar biasa brutal meletus di dalam perut Jian Chen.

BZZZT!

Energi spiritual yang baru saja mencair dari pil langsung ditarik paksa ke dalam pusaran. Tidak ada proses penyaringan yang lembut. Tidak ada pemisahan yang rumit.

Seni Melahap Surga Primordial hanya mengenal satu hukum: Dominasi mutlak.

Pusaran hitam itu menggilas energi pil dengan kejam. Sembilan puluh persen racun limbah dihancurkan menjadi ketiadaan dalam sekejap mata, disuling oleh hukum kekacauan, hanya menyisakan sepuluh persen Qi murni yang bersinar keperakan.

"Sekarang bagian tersulitnya. Membangun fondasi tanpa meridian," batin Jian Chen, menggertakkan rahangnya kuat-kuat.

Keringat dingin sebesar biji jagung seketika membanjiri dahinya. Wajah pucatnya berkerut hebat menahan antisipasi penderitaan.

Karena saluran energinya hancur sejak lahir, Qi murni yang baru saja disuling terjebak tanpa jalur. Maka, Jian Chen mengambil keputusan gila yang hanya berani dipikirkan oleh orang gila, atau seorang Kaisar yang menolak tunduk pada takdir: Ia akan memaksa Qi tersebut menembus otot, pembuluh darah, dan sumsum tulangnya secara langsung!

Ia akan menjadikan setiap inci tubuh fisiknya sebagai satu meridian raksasa!

KRAK! KRAK!

Suara sobekan dan retakan redam terdengar mengerikan dari dalam tubuhnya. Itu adalah suara serat ototnya yang terkoyak secara mikroskopis karena dipaksa menjadi saluran Qi.

Rasa sakitnya meledak seketika. Rasanya jauh lebih buruk daripada dipotong hidup-hidup oleh seribu pisau. Seolah jutaan semut api sedang menggerogoti dagingnya dari dalam, sementara asam pekat disuntikkan langsung ke inti tulang-tulangnya.

Tubuh kurus pemuda itu kejang di atas ranjang kayu. Darah segar mulai merembes dari sudut bibirnya, hidungnya, bahkan menetes dari pori-pori kulitnya. Ini adalah harga fatal dari kultivasi tanpa wadah yang tepat. Jika dibiarkan lima napas lagi, tubuh fana ini akan meledak menjadi kabut darah.

"Rasa sakit fana ini... bukan apa-apa!" Jian Chen meraung di dalam jiwanya, menahan jeritan fisiknya. "Pengkhianatan kalian berdua seribu kali lebih menyiksa dari ini! Bertahanlah!"

Tepat ketika otot jantungnya mulai menunjukkan tanda-tanda retak, keajaiban kuno yang tertidur itu akhirnya merespons.

Di kedalaman lautan jiwanya, setetes Darah Primordial merah kehitaman—yang hanya diam sejak membawanya melintasi ruang dan waktu—tiba-tiba berdenyut.

Thump! Thump!

Detaknya beresonansi sempurna dengan pusaran hitam di Dantiannya. Teknik terlarang dan darah kuno itu seolah saling mengenali, layaknya dua gir dari mesin kosmik yang akhirnya bertaut.

Darah Primordial itu memancarkan untaian cahaya merah redup yang membanjiri fisik Jian Chen. Begitu cahaya merah itu menyentuh otot dan tulang yang hancur, sebuah proses regenerasi yang menentang surga terjadi.

Daging yang robek terajut kembali seketika, menjadi jauh lebih padat dan ulet. Tulang yang retak dilapisi oleh kilau emas pucat, mengubah strukturnya agar melampaui batas rapuh manusia fana.

Hancur. Sembuh. Koyak. Menyatu.

Siklus penyiksaan dan kelahiran kembali ini berputar dalam kecepatan kilat. Setiap kali tubuhnya hancur dan dirajut ulang, fisik Jian Chen melompat ke tingkat ketahanan yang baru, sementara Qi perak dari pil perlahan-lahan meresap dan menyatu permanen ke dalam setiap selnya.

Satu jam... Dua jam... Tiga jam berlalu di bawah siksaan neraka itu.

BOOM!

Sebuah letupan redam bergema dari dalam dada Jian Chen, seolah sebuah belenggu rantai tak terlihat baru saja dipatahkan. Udara di dalam kamar reyot itu berdesir kuat, menyapu debu dan jaring laba-laba di sekitarnya.

Jian Chen tiba-tiba terbatuk hebat. Ia membuka matanya dan memuntahkan seteguk udara keruh berwarna abu-abu—sisa kotoran dari pil dan organ dalamnya.

Mati-matian ia meraup udara, dadanya naik turun dengan cepat. Seutas kilat perak melintas sebentar di pupil matanya yang hitam pekat. Senyum lelah namun buas perlahan mengembang.

"Kondensasi Qi Tingkat Pertama," gumamnya parau.

Namun, pusaran di perutnya belum puas. Energi regenerasi dari Darah Primordial terus mendorong momentum. Setengah jam kemudian, tanpa rasa sakit yang seburuk sebelumnya, letupan kedua terjadi.

"Kondensasi Qi Tingkat Kedua."

Pusaran hitam itu akhirnya melambat dan berhenti berputar, kembali bersembunyi dalam bayangan Dantiannya.

Jian Chen bersandar lemas pada dinding kayu. Butuh waktu beberapa detik baginya untuk menyadari ada yang salah dengan udara di sekitarnya. Bau busuk, seperti campuran telur busuk dan daging basi, menyengat hidungnya.

Ia menunduk. Seluruh permukaan kulitnya kini tertutup oleh lapisan lendir hitam pekat yang lengket. Ini adalah efek 'Pembersihan Sumsum dan Penebangan Tulang'. Kotoran bawaan yang menumpuk selama lima belas tahun di tubuh pemuda ini telah diperas habis melalui pori-pori.

Meski baunya menyaingi selokan kota paling kumuh, Jian Chen merasa luar biasa menakjubkan. Tubuhnya seringan kapas. Seluruh memar, nyeri, dan luka patah tulang akibat didorong dari tebing kemarin telah lenyap tanpa sisa.

Ia bangkit berdiri. Langkahnya tegak dan kokoh.

Jian Chen mengepalkan tinju kanannya, merasakan ledakan tenaga di balik kulitnya. Di Benua Bintang Jatuh, seorang kultivator Alam Kondensasi Qi Tingkat Dua umumnya hanya memiliki kekuatan fisik sekitar 250 kilogram—setara dengan tenaga satu banteng dewasa.

Tanpa kuda-kuda maupun teknik bela diri, Jian Chen langsung meninju udara kosong di hadapannya.

WUSH! PAK!

Pukulannya merobek udara, memicu suara ledakan sonik kecil yang nyaring.

Mata Jian Chen berbinar tajam. "Lima ratus kilogram. Setara tenaga dua banteng lebih. Fisik yang ditempa langsung oleh benturan Qi dan Darah Primordial jauh melampaui norma kultivator biasa. Dengan kekuatan murni ini saja, aku bisa menghancurkan seniman bela diri Tingkat Tiga."

Senyum sinis kembali terukir di bibirnya. Jian Hu, sepupu yang memerintahkan pembunuhannya, baru berada di Tingkat Tiga Kondensasi Qi. Jika bajingan itu berdiri di depannya sekarang, Jian Chen bisa meremukkan lehernya seperti mematahkan ranting kering.

Namun, realitas pahit dengan cepat menyapu euforianya.

"Seni Melahap Surga Primordial memang absolut," keluh Jian Chen, menganalisis kehampaan di perutnya yang seolah terus meminta makan. "Tapi teknik ini adalah lubang tanpa dasar. Dua pil tingkat rendah hanya cukup untuk mendorongku dua tingkat karena tubuhku masih berada di tahap paling awal dan paling haus. Untuk naik ke Tingkat Tiga, Empat, dan seterusnya... aku akan membutuhkan energi sepuluh, atau bahkan dua puluh kali lipat lebih banyak dari kultivator normal."

Kultivator jenius mungkin butuh sepuluh pil untuk menerobos; Jian Chen mungkin akan menelan dua ratus pil tanpa merasa kenyang.

Klan Jian tidak akan pernah memberinya sumber daya seabsurd itu. Apalagi paman keduanya—ayah dari Jian Hu—yang mengontrol perbendaharaan klan pasti akan langsung memotong jatah bulanan 'pemuda cacat' ini esok hari.

Jian Chen berjalan ke sudut ruangan, mencelupkan kain kasar ke dalam tong air kayu, dan mulai membersihkan lendir hitam di tubuhnya.

Setelah dibilas bersih, bayangan pemuda pucat dan penyakitan itu lenyap. Sebagai gantinya, kulitnya menampakkan rona sehat dengan formasi otot-otot ramping namun padat, meliuk sempurna bagai otot macan tutul yang siap menerkam dari kegelapan.

Ia mengenakan kembali pakaian hitam kasualnya. Tatapannya menembus jendela reyot kamarnya. Di luar, langit malam masih pekat, dinaungi bulan purnama kemerahan yang menggantung di atas Kota Daun Gugur.

Turnamen Klan Jian hanya tinggal dua bulan lagi. Itu adalah hari penentuan; generasi muda yang gagal mencapai batas minimal akan diusir dari kediaman utama, diturunkan statusnya menjadi rakyat jelata pengurus bisnis klan. Paman keduanya pasti akan menggunakan momen itu untuk memastikan Jian Chen tidak pernah kembali.

"Dua bulan... lebih dari cukup."

Pandangan Jian Chen beralih ke siluet pegunungan gelap bergerigi yang membelah cakrawala utara. Itu adalah Hutan Binatang Iblis (Demonic Beast Forest). Zona kematian bagi kultivator lemah, sarang monster haus darah dan racun mematikan.

Bagi mereka, itu adalah kuburan. Tapi bagi pengguna Seni Melahap Surga Primordial... hutan itu adalah ruang makan raksasa tak berujung. Daging dan esensi darah Binatang Iblis menyimpang energi Qi murni yang tak bisa dibandingkan dengan pil sampah buatan klan.

Tanpa membawa bekal apa pun, selain sebuah belati tua berkarat yang ia tarik dari kolong tempat tidurnya, Jian Chen melangkah keluar dari pintu.

Bayangan malam langsung menyambut dan menelannya. Sang mantan Kaisar memulai langkah pertamanya keluar dari sangkar fana, bersiap mengukir ulang jalan darahnya menuju surga kesembilan.

Hukum Rimba

Hutan Binatang Iblis membentang ribuan mil melintasi perbatasan utara Kerajaan Angin Langit. Pepohonan raksasa berusia ratusan tahun tumbuh rapat, kanopinya saling berjalin rapat hingga mencekik cahaya bulan purnama. Di dalam sana, udara selalu terasa berat, sarat akan aroma lumut basah, daun membusuk, dan—jika angin berhembus tepat—bau anyir darah segar.

Bagi penduduk fana Kota Daun Gugur, hutan ini adalah perwujudan rahang dewa kematian. Hanya kelompok tentara bayaran elit atau kultivator nekat yang berani menginjakkan kaki di pinggirannya.

Namun malam ini, seorang pemuda berusia lima belas tahun berpakaian hitam melangkah masuk ke dalam zona mematikan itu sendirian. Langkahnya seringan hantu, menapak di atas dedaunan kering tanpa menghasilkan satu pun suara gemerisik.

Jian Chen berjalan santai, namun setiap serat otot di tubuhnya ditarik kencang bak pelatuk yang siap dilepas. Matanya yang segelap malam menyapu bayangan pepohonan dengan presisi absolut. Meski kultivasinya kini hanya berada di Kondensasi Qi Tingkat Dua, insting bertarung dan kesadaran spasial seorang mantan Kaisar Pedang Kekosongan masih tertanam di jiwanya.

Di kehidupan lampau, ia telah selamat merangkak dari lautan pedang dan gunungan mayat dewa. Hutan tingkat fana ini, di matanya, tak lebih dari halaman belakang rumah yang sedikit berantakan.

"Energi spiritual di sini jauh lebih padat dibandingkan kediaman klan," gumam Jian Chen pelan, membiarkan udara lembap memenuhi paru-parunya. "Tapi ini masih terlalu tipis untuk memberi makan pusaran di Dantianku. Aku butuh esensi darah."

KRAK!

Suara ranting patah memecah keheningan, berjarak sekitar lima puluh meter di sebelah kanannya.

Langkah Jian Chen terhenti. Dalam sekejap, tubuhnya menyatu sempurna dengan bayangan batang pohon ek raksasa di dekatnya. Ia menajamkan telinga. Terdengar dengusan kasar, diikuti suara gesekan benda keras yang mengoyak tanah berbatu.

Dari balik semak belukar berduri, seekor makhluk mengerikan menyeret tubuhnya keluar. Itu adalah babi hutan, namun ukurannya membengkak sebesar sapi jantan dewasa. Kulitnya berwarna abu-abu gelap, sekasar dan sekeras pelat baja, ditumbuhi bulu-bulu kaku setajam jarum. Dua taring kuning melengkung mencuat dari rahang bawahnya, meneteskan liur kental yang berbau busuk.

Babi Berkulit Besi, batin Jian Chen, membongkar ingatan pemilik asli tubuh ini. Binatang Iblis Tingkat 1 Kelas Rendah. Kekuatan setara Kondensasi Qi Tingkat Dua. Tanpa kecerdasan, hanya mengandalkan kulit kebal senjata dan serudukan brutal.

Jika jenius klan seperti Jian Hu bertemu monster ini sendirian, ia pasti sudah lari terbirit-birit mengompol di celana. Mengalahkan makhluk ini umumnya butuh pengepungan dari tiga kultivator sepadan.

Namun, yang bersembunyi di dalam bayangan saat ini bukanlah pemuda fana biasa.

Jian Chen menarik belati tua berkarat dari balik sabuknya. Ia memandang bilah murahan itu dengan senyum miring. "Bilah rongsokan ini akan hancur jika aku menebas kulitnya. Tapi sekeras apa pun kulit besi... setiap makhluk yang bernapas memiliki celah."

Mata Jian Chen menyipit, mengunci targetnya layaknya predator puncak.

Babi Berkulit Besi itu tengah mengendus tanah, mencari akar berdarah untuk dikunyah. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa posisinya dalam rantai makanan baru saja berbalik.

WUSH!

Jian Chen melesat meledak dari tempat persembunyiannya. Kecepatannya tidak masuk akal; otot-otot kakinya yang diregenerasi Darah Primordial melepaskan tenaga lima ratus kilogram ke pijakan tanah, melontarkan tubuhnya bagai anak panah hitam di tengah malam.

Monster itu merasakan hembusan angin pembawa maut. Naluri purbanya menjerit. Ia menyentakkan kepalanya yang masif ke atas, mendengus marah, dan bersiap meremukkan bayangan kecil yang berani menantangnya.

Tapi Jian Chen bergerak dengan kesempurnaan matematis.

Alih-alih mundur atau menghindar, Jian Chen tiba-tiba menjatuhkan diri, meluncur rendah di atas tanah berlumpur tepat di bawah kolong taring monster yang sedang menanjak. Dalam sepersekian detik kritis saat ia berada tepat di bawah leher raksasa itu, tangan kanannya menusuk ke atas dengan sudut yang mematikan.

Ia tidak mengincar kulit leher. Ia mengincar lipatan sempit di antara rahang bawah dan tenggorokan—titik buta absolut di mana pelat kulit besinya tidak tumbuh.

CRAAAT!

Belati berkarat itu menembus daging lunak dan memutus pembuluh darah utama babi hutan itu tanpa perlawanan. Namun, karena ledakan tenaga murni Jian Chen dan kualitas logam yang terlampau buruk, bilah belati itu langsung patah menjadi dua, tertinggal di dalam tenggorokan makhluk tersebut.

"NGUIIIIKKK!"

Jeritan melengking merobek malam. Darah panas mendidih menyembur deras dari leher makhluk itu bagai geyser pecah. Raksasa itu terhuyung-huyung, menyeruduk udara kosong dengan membabi buta, sebelum akhirnya ambruk membentur tanah dengan dentuman keras. Kakinya menendang-nendang udara beberapa kali, lalu terdiam selamanya.

Satu tarikan napas. Kematian instan.

Jian Chen bangkit berdiri perlahan, mengibaskan kotoran dari pakaiannya. Tak ada setetes pun darah yang berhasil menodai jubah hitamnya.

"Seni pedangku tak bisa digunakan tanpa Qi Sejati, tapi insting membunuh dari sepuluh ribu tahun tidak akan pernah berkarat," ucapnya dingin sambil melempar gagang belati yang kini tak berguna.

Ia melangkah menghampiri bangkai hangat Babi Berkulit Besi itu. Tanpa jeda, Jian Chen menempelkan telapak tangannya tepat di atas luka menganga yang mengucurkan darah.

"Waktunya makan."

Seni Melahap Surga Primordial—Bangkit!

Pusaran hitam kelam di Dantiannya berputar liar merespons kehendak tuannya. Daya hisap tak kasat mata menjalar dari perutnya, merambat melalui jaringan lengan, dan meledak di telapak tangannya.

Pemandangan yang menyalahi kodrat alam pun terjadi.

Darah yang tadinya tumpah ke tanah perlahan melayang naik, melawan gravitasi, meresap masuk ke telapak tangan Jian Chen. Daging, otot, dan Esensi Kehidupan dari monster raksasa itu disedot keluar secara paksa.

Hanya dalam sepuluh napas, bangkai Babi Berkulit Besi yang seukuran sapi itu menyusut dengan kecepatan mengerikan. Otot-ototnya kempes. Darahnya mengering. Kulit besinya kehilangan kilau, berubah kusam layaknya batu nisan tua. Pada akhirnya, yang tersisa hanyalah kerangka berbalut kulit keriput—sebuah mumi monster yang mengenaskan.

Di saat bersamaan, Jian Chen bergetar hebat.

Esensi darah dan energi iblis liar merangsek masuk ke dalam tubuhnya. Energi itu sarat akan kebrutalan dan kotoran. Jika kultivator normal menyerapnya, meridian mereka akan meledak atau mereka akan berakhir gila karena penyimpangan Qi.

Namun di hadapan lubang hitam Seni Melahap Surga Primordial, energi liar itu digilas tanpa ampun. Kesadaran brutalnya dihancurkan, kotorannya dibumihanguskan, menyisakan untaian Qi keperakan yang sangat murni dan setetes embun Esensi Kehidupan yang menyegarkan setiap sel tubuh Jian Chen.

Kultivasinya, yang tadinya baru menetap di Tingkat Dua, kini mendidih dan merayap naik menuju puncak Tingkat Dua dengan sangat solid.

"Luar biasa," mata Jian Chen berkilat buas. "Satu ekor Babi Berkulit Besi setara dengan lima Pil Pengumpul Qi tingkat rendah. Dan esensi kehidupannya secara pasif terus menumbuhkan kekuatan fisikku."

Ia menendang bangkai mumi itu hingga hancur menjadi debu tulang, melenyapkan barang bukti agar tidak memancing predator tingkat tinggi. Ia hanya mematahkan sepasang taring babi hutan itu dari tengkoraknya; benda itu cukup keras dan tajam untuk menggantikan belatinya yang hancur.

Perburuan baru saja dimulai. Hutan gelap ini resmi menjadi taman bermainnya.

Selama tiga jam berikutnya, Jian Chen bergentayangan bak hantu kelaparan. Ia melacak, menyergap, dan membantai empat ekor Babi Berkulit Besi lainnya, serta dua ekor Serigala Angin Bayangan (Shadow Wind Wolf). Semuanya dieksekusi dengan presisi tusukan taring babi hutan, lalu dilahap esensinya hingga tak tersisa.

Energi di Dantiannya terus membengkak, mendorong batas kapasitasnya. Ia hanya berjarak sehelai rambut tipis dari terobosan ke Kondensasi Qi Tingkat Tiga.

Di sela-sela pembantaiannya, mata elangnya—yang mewarisi pengetahuan Alkimia Tingkat Dewa—berhasil mengais harta karun yang buta bagi kultivator amatir. Ia mencabut belasan batang Rumput Darah Beku di bawah lapisan lumut dan memanen kelopak Bunga Pengumpul Roh dari celah bebatuan.

Namun, target utamanya malam ini belum juga muncul.

"Untuk mencabut sisa akar kecacatanku dan menembus Tingkat Tiga dengan fondasi sempurna, aku butuh Bunga Sumsum Tulang (Bone Marrow Flower)," pikir Jian Chen seraya melompati akar gantung. "Ramuan busuk itu hanya mekar di atas kuburan massal binatang iblis."

Pencariannya membuahkan hasil tepat ketika semburat biru fajar mulai menggaris ufuk timur.

Jian Chen menghentikan langkahnya di balik semak pakis raksasa. Di depannya, sebuah celah tebing berbatu melesak ke dasar bukit. Bau busuk kematian menguar pekat dari dalam sana. Permukaan tanah di sekitar celah itu memutih—sepenuhnya tertutup oleh tulang-belulang hancur dari ratusan binatang.

Dan tepat di tengah lautan tengkorak itu, mekar sekuntum bunga yang ganjil. Kelopaknya seputih pualam tulang, dihiasi urat-urat merah menyala yang berdenyut pelan, seolah tengah memompa darah ke udara.

Bunga Sumsum Tulang!

Jian Chen tidak langsung bergerak maju. Ia seketika menahan napas dan menekan seluruh auranya menjadi ketiadaan.

Ia sangat paham hukum mutlak alam liar: Harta karun surgawi tidak pernah mekar tanpa penjaga.

Dari dalam kegelapan pekat celah gua itu, sebuah geraman rendah terdengar, frekuensinya begitu dalam hingga membuat tanah berbatu di bawah kaki Jian Chen bergetar. Dua pasang mata kuning vertikal menyala, mengiris kegelapan, menatap tajam penuh posesif ke arah Bunga Sumsum Tulang.

Sesosok makhluk berukuran sebesar kuda perlahan melangkah keluar, otot-ototnya bergerak bagai cairan di bawah bulu hitam legamnya yang menyatu dengan bayangan. Cakar-cakarnya yang melengkung tajam menancap tanpa suara ke dalam bebatuan padat.

Macan Kumbang Bayangan (Shadow Panther)...

Binatang Iblis Tingkat 1 Kelas Menengah. Kekuatannya mengimbangi kultivator Kondensasi Qi Tingkat Tiga Puncak, hampir menembus Tingkat Empat. Monster ini seratus kali lebih mematikan dari babi hutan berotak udang; ia dipersenjatai kecepatan kilat, kecerdasan berburu yang licik, dan haus darah yang tak pernah terpuaskan.

Jian Chen memutar taring babi hutan di genggamannya. Alih-alih gentar, senyum gila justru perlahan merobek wajahnya. Darah di pembuluhnya mendidih oleh antisipasi pertarungan sejati.

"Sempurna. Esensi darahmu akan menjadi tiketku menuju Tingkat Tiga."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!