Indonesia
NovelToon NovelToon

The Future With My Grumpy Neighbor

Bab 1: Menara Pengawas Berjalan

[POV: Vaya]

"Vaya, ini daftar pustaka buat tugas sosiologi kemarin, kan? Udah gue benerin, coba lo cek dulu."

Aku mendongak, menyipitkan mata karena sinar matahari senja yang menembus jendela koridor lantai dua tepat mengenai wajahku. Di depanku, Rian—salah satu teman sekelasku yang cukup ramah—menyodorkan beberapa lembar kertas.

"Oh, iya! Makasih ya, Yan. Aku cek sekarang—"

Belum sempat jemariku menyentuh kertas itu, sebuah bayangan besar tiba-tiba jatuh menutupi tubuhku. Seketika, suhu di sekitarku terasa turun beberapa derajat. Aroma sandalwood dan maskulin yang sangat familiar menyerbu indra penciumanku, membuat bulu kudukku berdiri tanpa sadar.

Sial. Si Raksasa datang.

"Minggir."

Suara itu rendah, berat, dan tidak menerima bantahan. Rian tersentak, kertas di tangannya hampir jatuh saat dia menoleh dan mendapati sosok tinggi menjulang berdiri tepat di belakangku.

Narev Elvaro. Dengan tinggi 192 cm, dia tidak hanya sekadar tinggi; dia adalah tembok berjalan. Kepalaku bahkan tidak sampai ke bahunya. Untuk menatap wajahnya saja, aku harus mendongak sampai leherku terasa ingin patah.

"Eh, Rev... ini, lagi bahas tugas—" Rian terbata.

Narev tidak menatap Rian. Mata abu-abunya yang dingin justru tertuju padaku, mengunci pergerakanku seperti predator yang sedang mengawasi kelinci. "Cebol," panggilnya dingin. "Pulang."

Aku menggeram, mencoba mengabaikan debaran jantungku yang tidak keruan karena kesal. "Nanti dulu, Narev! Aku lagi ada urusan sama Rian. Kamu kalau mau pulang, pulang aja duluan!"

Narev justru melangkah maju satu tahap. Perbedaan tinggi kami yang ekstrem membuatku terdesak hingga punggungku menempel pada deretan loker besi. Suara benturan tasku dengan loker bergema di koridor yang mulai sepi.

"Aku nggak suka mengulang kalimatku," ucap Narev. Dia melirik Rian sekilas dengan tatapan meremehkan. "Tugas sosiologi? Atau cuma alasan buat cari perhatian?"

"Jaga mulutmu, Narev!" potongku cepat. "Nggak semua orang punya pikiran kotor kayak kamu!"

Narev mendengus sinis. Dia tiba-tiba mengulurkan tangannya yang panjang, melewati kepalaku untuk menutup pintu loker di belakangku dengan suara dentuman yang keras. Aku terperangkap di antara kedua lengannya yang kokoh.

"Dengar, Rian," Narev bicara tanpa mengalihkan pandangan dariku. "Mulai besok, kalau mau kasih tugas, lewat ketua kelas saja. Jangan langsung ke dia. Paham?"

Rian, yang sepertinya tidak ingin berurusan dengan atlet basket sekolah yang temperamental ini, hanya mengangguk kaku lalu bergegas pergi meninggalkan kami.

"Narev! Kamu keterlaluan!" aku memukul dadanya yang keras seperti beton. "Kamu pikir kamu siapa, hah? Ayahku aja nggak seposesif ini!"

Narev menundukkan kepalanya, membuat wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahku. Aku bisa melihat pantulan diriku di matanya yang tajam. "Ayahmu menitipkanmu padaku selama mereka dinas di luar kota, Anvaya. Itu artinya, keselamatanmu—termasuk dari gangguan cowok-cowok nggak jelas—adalah tanggung jawabku."

"Aku bukan barang titipan!" balasku dengan suara bergetar karena emosi. "Kenapa sih kamu hobi banget ganggu hidupku? Kamu benci aku, kan? Kamu selalu bilang aku cebol, pendek, nggak becus. Kalau benci, ya udah, biarin aku sendiri!"

Narev terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. Dia menarik kembali tangannya dan memasukkannya ke dalam saku celana, kembali ke posisi tegaknya yang luar biasa tinggi.

"Aku nggak benci kamu," gumamnya pelan, suaranya kini terdengar berbeda, sedikit lebih dalam namun tetap tajam. "Aku cuma... memastikan kamu nggak melakukan kebodohan."

"Kebodohan apa? Ngobrol sama temen itu bodoh?"

"Iya, kalau temannya punya maksud lain." Narev berbalik, mulai melangkah pergi dengan kaki panjangnya. "Jangan banyak protes. Lima menit lagi aku tunggu di parkiran. Kalau telat, aku seret kamu di depan umum."

Aku menatap punggungnya yang lebar dengan perasaan dongkol yang meluap-luap. Satu bulan lagi, batinku. Satu bulan lagi kelulusan. Setelah itu, aku akan kuliah sejauh mungkin dari raksasa gila ini. Aku nggak mau melihat wajah sombongnya lagi seumur hidupku!

...****************...

Aku tidak tahu, bahwa takdir punya cara yang sangat lucu sekaligus kejam untuk mempermainkan sumpahku itu.

Bab 2: Malam Kelulusan dan Insiden

[POV: Vaya]

Dentuman musik EDM memenuhi aula hotel tempat pesta kelulusan angkatan kami digelar. Lampu warna-warni berputar liar, membuat kepalaku yang sudah terasa berat menjadi makin berdenyut. Di tanganku, sebuah gelas plastik berisi cairan kuning keemasan yang berbusa tampak sangat menggoda.

"Ayo, Vaya! Masa di malam terakhir kita sekolah lo mau jadi anak baik terus?" seru Salsa, sahabatku, sambil menyenggol lenganku.

Aku menatap gelas itu ragu. "Tapi Sal, aku nggak pernah minum bir. Nanti kalau aku mabuk gimana?"

"Cuma dikit, Vaya! Lagian si Menara Pengawas itu lagi nggak ada di sini, kan? Dia tadi gue liat lagi dikerubungin anak-anak basket di pojokan sana," Salsa tertawa, menunjuk ke arah kerumunan di ujung ruangan.

Aku melirik ke arah yang ditunjuk Salsa. Benar saja, Narev berdiri di sana, menjulang tinggi seperti biasanya, tampak bosan meski dikelilingi banyak orang. Dia mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing teratas terbuka—tampilan yang jarang sekali kulihat.

Sekali ini saja, aku mau bebas dari pengawasannya, batinku nekad.

Aku meneguk isi gelas itu. Rasanya pahit dan aneh di tenggorokan, tapi efeknya instan. Hanya dalam hitungan menit, lantai di bawah kakiku terasa seperti jelly.

"Sal... kok lampunya jadi ada lima?" gumamku sambil tertawa kecil. Pandanganku mengabur, dan aku merasa tubuhku sangat ringan.

Tiba-tiba, suasana di sekitarku mendingin. Sebuah tangan besar merampas gelas dari tanganku dan membantingnya ke meja terdekat.

"Apa yang kau lakukan, Anvaya?!"

Suara berat yang menggelegar itu membuatku tersentak. Aku mendongak, mencoba memfokuskan mataku. Di depanku, Narev berdiri dengan wajah merah padam karena marah. Matanya berkilat tajam, lebih menakutkan dari biasanya.

"Eh... Raksasa... kamu kok... punya dua kepala?" aku malah terkikik, mencoba menyentuh pipinya yang terasa panas.

"Kau mabuk, bodoh!" Narev menggeram. Dia menoleh ke arah Salsa dengan tatapan yang bisa membunuh. "Siapa yang memberinya minum?!"

Salsa langsung menciut. "Tadi... cuma satu gelas, Rev..."

"Satu gelas untuk ukuran tubuh sekecil dia itu sudah cukup buat bikin dia pingsan!" Narev menyambar tas kecilku, lalu tanpa aba-aba, dia merengkuh pinggangku dan mengangkat tubuhku ke atas bahunya seperti karung beras.

"Narev! Turunin! Aku mau joget!" aku memukul-mukul punggungnya yang lebar, tapi dia sama sekali tidak bergeming.

"Diam atau aku benar-benar akan meninggalkanmu di pinggir jalan!" ancamnya sambil melangkah lebar keluar dari aula, mengabaikan tatapan semua orang.

Sepanjang perjalanan di dalam mobil, aku terus meracau. Aku menyanyi lagu-lagu tidak jelas sambil sesekali memaki Narev karena tinggi badannya yang menyebalkan. Narev tidak membalas, dia hanya mencengkeram kemudi dengan erat, rahangnya terkatup rapat.

Sampai di depan rumahku, dia kembali menggendongku. Kali ini bukan di bahu, tapi dalam posisi bridal style. Kepalaku bersandar di dadanya yang bidang. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang berpacu cepat.

"Narev... kenapa jantung kamu berisik banget?" gumamku lirih, mulai merasa mengantuk.

Narev tidak menjawab sampai kami masuk ke dalam kamarku. Suasana kamar yang remang hanya diterangi lampu jalan dari balik jendela. Dia berjalan menuju tempat tidur dengan langkah berat.

"Kau selalu saja menyusahkanku, Anvaya," bisiknya pelan. Suaranya tidak lagi marah, melainkan terdengar penuh... kelelahan? Atau mungkin sesuatu yang lain.

Narev hendak meletakkanku di tempat tidur, tapi kakinya yang panjang tidak sengaja menginjak boneka beruang besar yang tergeletak di lantai.

"Sial—!"

Narev kehilangan keseimbangan. Karena dia masih memelukku erat, tubuh besarnya ikut jatuh menimpaku di atas kasur. Wajah kami hanya berjarak satu inci. Aku bisa merasakan napasnya yang beraroma mint mengenai bibirku.

Untuk sesaat, dunia seolah berhenti berputar. Tatapan Narev melunak, dia menatap bibirku dengan cara yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tangannya yang besar masih mengunci tubuhku.

"Vaya... seandainya kau tahu..." gumamnya parau.

Tiba-tiba, sebuah sensasi aneh menjalar dari tempat jantung kami bertemu. Udara di dalam kamar terasa mendesing. Cahaya putih menyilaukan muncul dari celah-celah udara, menyelimuti kami berdua.

"Narev! Ada apa ini?!" teriakku ketakutan, rasa mabukku hilang seketika digantikan kepanikan.

"Pegang tanganku, Vaya! Jangan lepas!" Narev memelukku semakin erat, menyembunyikan wajahku di dadanya.

Duniaku terasa berputar hebat, seperti ditarik ke dalam lubang hitam yang tak berujung. Rasa mual menghantamku, dan perlahan-lahan kesadaranku mulai meredup, meninggalkan kegelapan total.

...****************...

Bab 3: Selamat Pagi, Papa, Mama!

[POV: Vaya]

10 Tahun Kemudian...

"M-ma, mm—"

Vaya merasakan tangan kecil yang lembut menepuk-nepuk pipinya. Matanya yang terasa sangat berat perlahan terbuka. Sinar matahari yang masuk melalui jendela besar sangat terang, berbeda dengan lampu redup di kamarnya semalam.

"Ugh... pusing..." Vaya memegang kepalanya.

"Papa, Papa--dadada!" suara mungil itu kembali terdengar.

Pandangan Vaya yang buram perlahan fokus. Dia terbelalak. Di atas perutnya, seorang bayi perempuan cantik berusia sekitar dua tahun sedang duduk sambil tertawa, tangannya kini beralih menepuk-nepuk pria yang tidur di sebelah Vaya.

"Nenen!" si kecil itu menepuk dada pria itu dengan kuat.

Pria itu bergerak, mengerang pelan sebelum membuka matanya. Vaya menahan napas. Pria itu adalah Narev. Tapi dia tampak lebih dewasa, bahunya lebih lebar, dan rahangnya jauh lebih tegas.

"Sakit..." Narev mengucek matanya, satu tangannya masih melingkar protektif di pinggang Vaya. Dia melihat bayi itu, lalu melihat Vaya yang sedang melongo kaget. "Hah? Dari mana datangnya si kecil ini?"

Mereka berdua saling menatap, ekspresi mereka sama-sama bingung dan ketakutan. Sementara itu, bayi di samping mereka mulai menangis keras karena merasa diabaikan.

"Narev... kenapa kamu jadi tua?!" teriakku histeris. Suaraku melengking tinggi, memantul di dinding kamar yang luas dan mewah ini.

​Narev, yang biasanya selalu punya jawaban ketus, hanya bisa melongo. Dia menatap tangannya sendiri, lalu meraba rahangnya yang kini ditumbuhi bayangan jenggot tipis yang rapi. "Tua? Apa maksudmu, Cebol? Aku baru saja—"

​Kalimatnya terhenti saat dia menatap bayangannya di cermin besar yang berdiri di sudut kamar. Dia terkesiap, melompat turun dari tempat tidur hingga hampir terjungkal. "Sial! Ini... ini bukan wajahku! Kenapa aku terlihat seperti pria berumur dua puluh delapan tahun?!"

​"Papa! Huaaa! Papa!"

​Bayi perempuan di atas tempat tidur itu mulai menangis kencang. Wajahnya memerah, air mata mulai mengalir di pipi tembamnya yang beraroma susu. Dia merangkak ke arahku, menarik-narik piyamaku yang berbahan sutra mahal—tunggu, sutra? Sejak kapan aku punya piyama begini?

​"Narev, bayinya nangis! Lakukan sesuatu!" seruku panik, menjauhkan diri seolah bayi itu adalah bom yang siap meledak.

​"Kenapa aku?! Aku tidak kenal dia!" Narev membalas, suaranya kini jauh lebih berat dan dalam, terdengar sangat maskulin hingga membuatku merinding meski dalam keadaan kacau.

​"Dia panggil kamu 'Papa'! Kamu pasti sudah melakukan sesuatu di masa depan ini!" aku menudingnya dengan telunjuk gemetar.

​"Jangan konyol! Semalam aku baru saja mengangkatmu dari sofa karena kau mabuk seperti babi! Bagaimana mungkin aku punya anak sebesar ini dalam semalam?!"

​Tiba-tiba, pintu kamar diketuk dua kali. Seorang wanita paruh baya dengan seragam rapi masuk sambil tersenyum lebar.

​"Selamat pagi, Tuan Narev, Nyonya Vaya. Oh, tampaknya Non Miciella sudah bangun duluan ya?" wanita itu menghampiri tempat tidur dan dengan luwes menggendong bayi itu. "Cup, cup, sayang... Mama dan Papa baru bangun ya? Mari, Bi Inah siapkan sarapannya di bawah."

​Aku dan Narev membeku. Kami saling pandang dengan mata yang hampir keluar dari kelopaknya.

​"Nyo-nyona?" aku terbata, menunjuk diriku sendiri. "Bi... Bi Inah? Saya... saya Nyonya di sini?"

​Bi Inah tertawa kecil, menganggap pertanyaanku sebagai lelucon pagi hari. "Nyonya Vaya ini ada-ada saja. Sudah tiga tahun menikah kok masih nanya. Oh iya, Tuan Narev, tadi sekretaris Tuan menelepon, katanya ada rapat penting jam sembilan di kantor pusat."

​Setelah Bi Inah keluar membawa bayi—yang katanya bernama Miciella—suasana kamar menjadi sunyi senyap. Hanya ada deru napas kami yang memburu.

​Aku segera berlari ke arah cermin yang tadi dilihat Narev. Aku menutup mulutku dengan kedua tangan. Di depan sana, berdiri seorang wanita dewasa yang cantik. Rambutku yang biasanya dikuncir kuda asal-asalan, kini tergerai indah dengan gelombang yang teratur. Wajahku terlihat lebih matang, lebih anggun, dan di jari manisku... ada sebuah cincin berlian yang berkilau mewah.

​"Narev..." suaraku bergetar, hampir menangis. "Ini benar-benar sepuluh tahun ke depan. Kita... kita menikah?"

​Narev berjalan mendekat. Dia berdiri di belakangku, dan perbedaan tinggi kami masih tetap sama—dia masih seperti raksasa bagiku. Namun, tatapannya saat melihatku di cermin berubah. Ada binar aneh yang tidak pernah kulihat di masa SMA.

​"Cincin itu..." Narev meraih tanganku, jemarinya yang besar dan hangat melingkari tanganku dengan pas. "Itu marga Elvaro. Kau benar-benar istriku di sini."

​"Tapi bagaimana bisa?! Kita kan musuh! Aku benci kamu, Narev! Kamu selalu ngatur aku, panggil aku cebol, dan—"

​"Dan aku menjagamu dari semua cowok di sekolah," potong Narev. Dia memutar tubuhku agar menghadapnya. Tangannya kini berada di bahuku, terasa sangat posesif. "Vaya, dengerin aku. Kalau ini benar masa depan, berarti semua yang aku inginkan... sudah jadi nyata."

​Aku mengernyit, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa maksudmu 'semua yang kamu inginkan'?"

​Narev terdiam, rahangnya mengeras seolah dia baru saja membocorkan rahasia besar. Dia melepaskan bahuku dan berjalan ke arah jendela, melihat pemandangan kota dari lantai atas apartemen mewah ini.

​"Lupakan," gumamnya. "Yang penting sekarang, kita harus tahu bagaimana cara bertindak sebagai 'suami-istri' di depan orang-orang sebelum kita menemukan jalan pulang. Atau... kau memang ingin pulang ke masa di mana kau harus belajar untuk ujian masuk universitas lagi?"

​Aku tertegun. Benar juga. Di sini aku kaya, punya suami tampan (meski menyebalkan), dan seorang bayi yang menggemaskan. Tapi, pria di depanku ini adalah Narev yang kasar dari masa SMA, bukan Narev dewasa yang mencintaiku.

​"Kita harus cari cara buat balik, Narev! Aku belum siap jadi Ibu!"

​Narev berbalik, sebuah senyum tipis—hampir seperti seringai—muncul di wajah dewasanya yang sangat tampan. "Kita lihat saja nanti, Vaya. Tapi sebelum itu... kurasa kau harus ganti baju. Karena Bi Inah bilang, mertuamu—maksudku ibuku—akan datang berkunjung siang ini."

​"APA?!"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!