Langit malam tampak pekat tanpa bintang. Hanya suara angin yang menyapu reruntuhan gudang tua di pinggiran kota. Lampu-lampu jalan yang redup menciptakan bayangan panjang di tanah yang retak.
Di atas sebuah gedung beton yang setengah runtuh, seorang wanita berdiri dengan tenang dia Aurelia. Sang Leader One, organisasi pembunuh bayaran yang paling terkenal.
Rambut hitamnya yang panjang diikat tinggi, memperlihatkan wajah dingin yang nyaris tanpa emosi. Mata tajamnya menatap ke arah kompleks gudang yang dijaga ketat oleh puluhan pria bersenjata. Mereka adalah kelompok tentara bayaran yang selama dua tahun terakhir menjadi musuh utama organisasinya.
Kelompok itu dikenal kejam. Mereka menyerang markas, mencuri jalur senjata, bahkan membantai anggota yang tertangkap tanpa ampun.
Namun malam ini... semuanya akan berakhir.
Aurelia mengangkat tangan, memberi isyarat pada pasukan kecil yang bersembunyi di balik bayangan. Dua belas orang, semua adalah prajurit terbaik yang dia pilih sendiri. Di telinganya terpasang alat komunikasi kecil.
"Posisi semua unit," ucap Aurelia pelan.
Suara pria terdengar dari alat komunikasi.
"Tim dua siap."
"Tim tiga siap."
"Penembak jitu sudah mengunci target."
Aurelia mengamati area itu sekali lagi melalui teropong malam. Para penjaga berpatroli tanpa menyadari bahwa kematian sedang mengawasi mereka dari berbagai arah.
Dia menarik napas perlahan. "Mulai."
Satu kata itu seperti membuka gerbang neraka, detik itu juga suara tembakan senyap langsung terdengar.
Salah satu penjaga di gerbang depan roboh tanpa sempat berteriak. Peluru dari penembak jitu menembus kepalanya dengan presisi.
"Bergerak."
Aurelia melompat turun dari atap gedung dengan lincah setelah memberi komando, mendarat tanpa suara. Sepatu tempurnya menyentuh tanah dengan ringan sebelum dia berlari menuju pintu belakang gudang.
Dua orang penjaga berjaga di sana. Sebelum mereka sempat bereaksi, Aurelia sudah berada di depan mereka. Pisau tempur di tangannya bergerak cepat.
Srat!
Jleb!
Satu tebasan, dan satu tusukan. Dua tubuh langsung jatuh bersamaan. Darah mengalir di lantai beton yang dingin. Aurelia mendorong pintu gudang perlahan.
Di dalamnya, suara tembakan mulai terdengar. Anak buahnya sudah menyerbu dari sisi lain, dia melangkah masuk dengan tenang. Seorang pria bersenjata muncul dari balik peti kayu, mengarahkan senapannya.
DOR!
Aurelia menghindar, berguling ke samping lalu menendang tangan pria itu hingga senjatanya terlepas, lalu memutar tubuh dan menembakkan pistol yang dia pegang.
DOR!
Pria itu jatuh. Di sekelilingnya, pertempuran berlangsung cepat dan brutal. Tim Aurelia bergerak dengan koordinasi sempurna. Mereka menembak, berlindung, dan menyerang seperti mesin perang yang terlatih.
Dalam waktu kurang dari lima belas menit, sebagian besar musuh sudah terkapar.
Seorang pria tinggi dengan bekas luka di wajah keluar dari ruangan dalam gudang. Dia membawa senapan otomatis dan menatap Aurelia dengan mata penuh kebencian.
"Jadi akhirnya kau datang juga," katanya dingin.
Aurelia mengenal pria itu. Victor.
Pemimpin kelompok tentara bayaran yang selama ini meneror organisasinya. Aurelia mengangkat pistolnya.
"Permainanmu berakhir malam ini."
Victor tertawa kecil. "Benarkah?"
Dia tiba-tiba melempar granat asap ke lantai. Ledakan kecil terdengar dan asap tebal langsung memenuhi gudang. Aurelia melompat ke samping, menghindari rentetan peluru yang ditembakkan Victor secara membabi buta.
DOR! DOR!
RATATA!
DOR!
Suara tembakan menggema di dalam ruangan. Aurelia berlari menerobos asap.
Insting tempurnya membimbing setiap langkah. Dia melihat bayangan Victor bergerak di balik asap.
Aurelia mengangkat senjatanya dan menembak dua kali.
DOR! DOR!
Suara tubuh jatuh terdengar. Ketika asap mulai menipis, sosok Victor terlihat tergeletak di lantai dengan darah mengalir dari dadanya.
Sunyi. Pertempuran baru saja selesai. Aurelia menurunkan senjatanya, dia menghela napas pelan.
"Akhirnya selesai." Gumam Aurelia.
Kelompok yang selama ini mengganggu mereka akhirnya dihancurkan. Di belakangnya, beberapa anggota tim mulai keluar dari posisi masing-masing.
Salah satunya adalah pria bernama Leon, orang yang sudah bertarung bersamanya selama bertahun-tahun.
"Kerja bagus, Leader," kata Leon sambil tersenyum tipis.
Aurelia mengangguk singkat. "Periksa area. Pastikan tidak ada yang tersisa."
"Baik."
Para anggota tim mulai menyebar. Namun sesuatu terasa... aneh, suasana terasa begitu hening. Aurelia mengerutkan kening.
Instingnya yang tajam tiba-tiba berteriak memberi peringatan. Sebelum dia sempat bereaksi...
DOR!
Suara tembakan menggema, tubuh Aurelia tersentak. Rasa panas menjalar dari punggungnya. Dia perlahan menoleh ke belakang, matanya membelalak. Leon berdiri di sana, bersama pistol yang masih terangkat di tangannya.
Beberapa anggota tim lain juga mengarahkan senjata ke arahnya. Aurelia menatap mereka satu per satu.
"...Apa ini?" suaranya rendah.
Leon tertawa kecil. "Maaf, Leader."
Darah mulai mengalir dari luka di punggung Aurelia, meresap ke seragam hitamnya. Dia menggenggam pistolnya lebih erat.
"Pengkhianatan?"
"Anggap saja begitu," jawab Leon santai.
"Kenapa?"
Leon mengangkat bahu. "Karena kami sudah muak berada di bawah bayanganmu."
Aurelia menatapnya tajam. Leon melanjutkan dengan senyum sinis.
"Selain itu... seseorang membayar kami jauh lebih mahal untuk kepalamu."
"Sia–"
DOR!
Peluru kedua melesat dari arah samping dan mengenai kepalanya, tanpa sempat Aurelia menyelesaikan pertanyaannya. Serangan malam ini sejak awal memang dirancang untuk membunuhnya.
Tubuh Aurelia jatuh tergeletak ke lantai beton yang dingin, Leon berjalan mendekat lalu menendang tubuh Aurelia yang sudah tidak bernyawa.
"Ayo pergi, dia sudah mati." Kata Leon.
"Baik."
Leon menatap tubuh Aurelia sekali lagi lalu terkekeh. "Harusnya kau tidak mempercayai siapa pun, Leader."
Bulu mata lentik yang awalnya tertutup rapat, kini perlahan mulai terbuka. Pandangan gadis itu mengerjap beberapa kali untuk menjernihkan penglihatannya, saat pandangannya sudah lebih jelas alis kedua gadis itu seketika terangkat.
"Aku di mana?" Gumamnya heran.
Dia menoleh ke kanan dan kiri namun ruangan yang kini dia tempati sangat jauh berbeda dengan ingatan terakhir yang dia miliki, Aurelia berusaha menegakan tubuhnya dan bersandar pada sandaran ranjang yang berada di belakang punggungnya.
"Kenapa aku di kamar?" Aurelia mengamati sekelilingnya. "Bukankah seharusnya aku sudah mati?"
Aurelia yakin bahwa dia baru saja di khianati oleh rekannya sendiri, Leon. Yang pada akhirnya membuat nyawanya melayang detik itu juga, tapi anehnya sekarang dia masih bernapas layaknya tidak terjadi apa-apa.
Aurelia meraih cermin yang berada di atas nakas samping tempat tidur, saat wajahnya terpantul dari cermin yang dia pegang refleks Aurelian menjatuhkan cermin itu ke atas pangkuannya.
"Kenapa wajahku berubah?" Ujarnya heran.
Saat dia ingin mengambil cermin itu lagi, tiba-tiba saja pintu kamar tersebut terbuka dari luar. Aurelia menoleh, dia melihat seorang pria paruh baya datang membawa nampan berisi makanan.
"Kau sudah bangun, Al?" Tanya pria itu.
Aurelia mengernyitkan dahi. "Siapa kau?"
"Siapa?" Pria itu merasa aneh dengan sikap waspada yang cucunya berikan. "Aku kakekmu, masa kau lupa?"
"Kakek?"
Pria bernama Jacob itu mengangguk seraya meletakan nampan berisi bubur serta susu hangat ke atas nakas. "Iya, kau demam selama empat hari dan sekarang kau malah tidak mengenaliku?"
"A-apa?" Aurelia tergagap. "Demam?"
"Sepertinya demam-mu cukup parah, kata dokter kondisimu hampir kritis tapi untungnya kau bisa sadar." Senyum tulus muncul di wajah pria itu. "Kakek sangat bahagia, Aleta."
Mendengar namanya berubah, Aurelia terdiam cukup lama. Dia mencoba mencerna situasi yang ada, namun hanya ada satu kalimat yang bisa menerjemahkan situasinya saat ini. Transmigrasi?
Benarkah dia mengalami hal itu? Jika tidak mana mungkin dia yang sudah mati bisa hidup lagi, dan wajah serta namanya berubah.
"Leta, kau kenapa? Ada yang sakit?" Tanya Jacob cemas.
Aurelia yang kini menjadi Aleta menggeleng lemah. "Tidak, aku baik-baik saja."
"Syukurlah, tadi Kakek memasak bubur untukmu. Kau makan dulu, sebelum dingin."
Aleta mengangguk. "Terima kasih, Kek."
"Sama-sama," Jacob mengusap pucuk kepala Aleta pelan. "Kakek berangkat kerja dulu, ya."
"Kerja? Di mana?"
"Di kedai makanan seberang jalan rumah kita, kalau kau memerlukan sesuatu segera hubungi Kakek."
Setelah mengatakan hal itu, Jacob berbalik meninggalkan kamar cucunya. Selepas kepergian pria itu, Aleta segera meraih cermin yang tadi sempat terjatuh ke pangkuannya.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" Aleta memegang wajahnya sendiri, kulit gadis yang dia tempati sangat lembut dengan iris mata berwarna coklat.
Aleta menatap bayangannya cukup lama, wajah yang terlihat di cermin itu jelas bukan miliknya.
Gadis itu tampak jauh lebih muda. Kulitnya pucat bersih, dengan garis wajah lembut yang memberi kesan rapuh. Mata cokelatnya besar, namun terlihat sedikit sayu, seolah pemilik tubuh ini sering menahan sesuatu dalam diam.
Aleta menyentuh pipinya perlahan, kulitnya terasa nyata. Hangat.
"Ini bukan mimpi..." gumamnya pelan.
Dada Aleta naik turun perlahan. Otaknya bekerja keras mencoba menyusun semua potongan kejadian yang sempat di alami olehnya.
Dia ingat dengan jelas malam itu, di gudang tua pertarungan terjadi. Bau mesiu memenuhi gudang itu, bersama darah dan pengkhianatan yang di lakukan oleh rekannya sendiri.
Tatapan Leon waktu itu masih terbayang jelas di kepalanya. Senyum sinis sebelum peluru terakhir ditembakkan ke kepalanya.
Secara logika, dia seharusnya sudah mati.
Namun sekarang... Dia hidup di tubuh orang lain. Aleta menurunkan cermin ke pangkuannya, menatap kosong ke arah dinding kamar yang sederhana. Catnya sedikit pudar, dengan beberapa foto keluarga kecil yang menempel di sana.
Salah satu foto menarik perhatiannya. Seorang pria tua berdiri di samping seorang gadis remaja yang tersenyum cerah. Gadis itu... Aleta.
Tidak, gadis yang dulu memiliki tubuh ini. Aleta bangkit perlahan dari ranjang, meskipun tubuhnya masih terasa lemah. Kakinya menyentuh lantai kayu yang dingin. Langkahnya sedikit goyah saat berjalan mendekati dinding.
Dia mengambil foto itu, tatapannya menelusuri wajah gadis di dalam bingkai.
"Jadi... ini pemilik tubuh ini?" gumamnya pelan.
Tiba-tiba, sebuah rasa sakit menusuk kepalanya. "Ah—!"
Aleta memegang pelipisnya kuat-kuat. Rasa sakit itu datang begitu tiba-tiba, seperti ribuan jarum yang menusuk otaknya bersamaan. Gambar-gambar asing mulai bermunculan di kepalanya.
Suara. Wajah. Kenangan. Seorang gadis kecil tertawa. Seorang pria tua memanggil dengan suara lembut.
Lalu... Sekolah. Koridor panjang. Bisikan orang-orang. Aleta tersentak. Napasnya memburu. Ingatan yang bukan miliknya terus mengalir masuk seperti banjir yang tidak bisa dihentikan.
Nama gadis ini memang Aleta, dan nama panjangnya Aleta Valencia. Umurnya tujuh belas tahun. Dia tinggal bersama kakeknya, Jacob, setelah kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan beberapa tahun lalu. Namun itu bukan bagian paling aneh, Aleta menegakkan tubuhnya perlahan.
Matanya menyipit. "Tubuh ini memiliki tunangan..."
Ingatan baru muncul lagi di kepalanya, sebuah ruangan besar dengan pria-pria bersetelan hitam. Dan di tengah mereka seorang pria muda duduk di kursi besar dengan ekspresi dingin.
Wajahnya tampan, namun tatapannya tajam seperti pisau.
"Siapa sebenarnya pria itu?" Gumam Aleta penasaran.
Tidak ada ingatan lain mengenai sosok yang baru saja singgah di ingatannya, dia tidak tahu persis bagaimana hubungan Aleta dan pria itu.
"Sepertinya kehidupan kali ini bakal menarik." Ketika Aleta hendak menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Secara kebetulan ponsel yang ada di nakas bergetar pelan, Aleta menoleh lalu meraih ponsel itu dan melihat ada satu pesan yang baru saja masuk.
Ravian:
Minggu depan aku pulang, sebaiknya kau mempersiapkan diri.
Kening Aleta berkerut halus. "Siapa orang ini? Dan kenapa di menyuruhku bersiap-siap?"
Aleta membalas pesan itu dengan menanyakan siapa sosok tersebut, akan tetapi pesannya sama sekali tidak di balas meski sudah di lihat.
Aleta berdecak pelan. "Dasar orang gila."
Dia meletakan kembali ponselnya ke nakas, dan bergegas menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Tanpa tahu bahwa dia baru saja berurusan dengan orang paling berpengaruh di dunia bawah.
Aleta baru saja keluar dari kamar mandi setelah melakukan ritual mandinya, gadis itu melirik ke arah jam dinding yang terpasang di sebelah kanan kamarnya, dekat dengan lemari baju.
"Baru jam enam?" Ujarnya sedikit heran.
Semalam suntuk dia kesulitan untuk memejamkan mata, sulit sekali baginya menyesuaikan diri dengan tubuh barunya yang masih SMA. Dia yang jelas-jelas sudah lulus sekolah menengah atas, kini justru harus mengulang semuanya dari awal.
"Ck, kenapa juga aku harus masuk ke tubuh ini." Gerutu Aleta seraya berjalan menuju seragam sekolahnya yang tergantung di lemari baju. "Minimal masuk ke raga CEO atau nyonya besar gitu, biar hidupku tidak berputar-putar di bangku sekolah mulu."
Meski tak suka, tapi takdir tak mengizinkan dirinya untuk protes. Nyatanya sejak semalam dia memohon untuk di cabut saja nyawanya, Tuhan sama sekali tidak mengabulkan keinginannya.
Aleta mematut diri di depan cermin, dia masih saja takjub dengan wajahnya yang sekarang. Meski Aleta hanya gadis biasa dan bukan dari kalangan atas, namun kecantikannya patut di acungi jempol.
"Setidaknya wajah ini tidak begitu buruk," Aleta menyentuh pipinya yang tembam. "Pipiku gemuk sekali, apa aku hobi makan?"
Memilih membiarkan pertanyaannya menggantung, Aleta meraih ransel biru yang tergantung di kursi meja belajar. Dia mengecek sekali lagi isi di dalam ransel itu, memastikan bahwa semua benda yang dia perlukan di sekolah sudah lengkap.
Setelah semua aman, barulah Aleta melangkah menuju pintu kamar. Baru saja dia membukanya, aroma masakan sudah menguar ke udara.
"Wah, Kakek masak apa, ya?" Ujarnya berjalan menuju dapur di mana kakeknya sedang sibuk memasak.
"Pagi, Kek." Sapa Aleta ramah. "Kakek masak apa?"
Jacob yang sedang berdiri di depan kompor menoleh ketika mendengar suara langkah kaki cucunya. Pria paruh baya itu mengenakan celemek lusuh berwarna cokelat, tangannya sibuk mengaduk sesuatu di dalam wajan.
Senyum hangat langsung muncul di wajahnya.
"Pagi juga, Leta," jawabnya lembut.
Aroma harum telur goreng dan nasi hangat memenuhi dapur kecil itu. Dapur rumah mereka memang sederhana, hanya ada satu kompor, meja kayu kecil, dan beberapa peralatan masak yang terlihat sudah cukup lama digunakan.
Jacob mematikan kompor sebelum menoleh sepenuhnya pada cucunya.
"Kakek buat nasi goreng. Kau harus makan yang banyak, tubuhmu baru saja sembuh dari demam," katanya sambil mengambil piring.
Aleta bersandar sebentar di ambang pintu dapur. Tatapannya menyapu ruangan kecil itu, meja makan kayu dengan dua kursi di tambah lemari dapur yang sederhana. Jendela kecil yang menghadap ke jalan.
Entah kenapa... suasana itu terasa sangat asing baginya.
Selama hidup sebagai tentara bayaran, Aurelia terbiasa tinggal berpindah-pindah demi bertahan hidup, kadang dia tinggal di markas, apartemen sementara, atau tempat persembunyian di tengah hutan. Tidak pernah ada dapur hangat seperti ini.
Tidak pernah ada seseorang yang memasak untuknya, semua di lakukan seorang diri demi menghemat waktu.
Jacob meletakkan sepiring nasi goreng di atas meja. "Ayo makan dulu," ujarnya.
Aleta tersadar dari lamunannya dan berjalan menghampiri meja. Dia duduk perlahan di kursi kayu itu.
Jacob ikut duduk di kursi seberangnya sambil menaruh segelas susu hangat di dekat piring cucunya.
"Makan yang banyak," katanya lagi.
Aleta mengambil sendok, namun sebelum menyuapkan makanan ke mulutnya, dia sempat menatap nasi goreng itu beberapa detik.
Aneh. Perasaan hangat muncul di dadanya secara tiba-tiba, perasaan yang tidak pernah dia miliki selama ini.
"Kenapa aku jadi sentimental begini..." gumamnya pelan dalam hati.
Dia akhirnya menyuap satu sendok nasi goreng. Begitu makanan itu masuk ke mulutnya, alisnya sedikit terangkat.
"Enak," katanya spontan.
Jacob tersenyum bangga. "Tentu saja. Resep andalan Kakek."
Aleta kembali makan tanpa banyak bicara.
Namun Jacob memperhatikan cucunya dengan tatapan lembut.
"Leta."
Aleta mengangkat kepala. "Ya, Kek?"
"Kau yakin sudah cukup sehat untuk pergi ke sekolah hari ini?"
Aleta mengangguk pelan. "Aku baik-baik saja."
Jacob tampak ragu. "Kau demam hampir empat hari. Kakek khawatir kalau tubuhmu belum benar-benar pulih."
Aleta menelan makanannya sebelum menjawab. "Aku tidak mau terlalu lama bolos. Nanti banyak pelajaran yang tertinggal."
Jawaban itu sebenarnya terdengar seperti jawaban siswi biasa. Padahal yang ada di balik tubuh itu adalah seseorang yang dulu bertarung di medan perang.
Jacob akhirnya menghela napas kecil. "Kalau begitu hati-hati di jalan."
Aleta mengangguk. Beberapa menit kemudian dia sudah menghabiskan sarapannya. Dia berdiri sambil meraih tas sekolahnya.
"Kakek berangkat kerja jam berapa?" tanyanya.
"Sebentar lagi." Jacob berdiri sambil membersihkan meja. "Kau pergi dulu saja. Nanti Kakek menyusul ke kedai, busnya sudah hampir tiba."
Aleta mengangguk lalu berjalan menuju pintu depan rumah. Sebelum keluar, dia sempat berhenti sebentar dan menoleh pada kakeknya.
"Kek."
Jacob menoleh. "Ya? Kau kehabisan uang jajan?"
Aleta terlihat sedikit canggung. "Bukan, hanya saja terima kasih... untuk sarapannya."
Jacob tersenyum lebar. "Tentu saja. Kau cucu Kakek dan kita keluarga, Sayang. Kau tak perlu berterima kasih pada Kakek."
Aleta mengangguk kecil sebelum akhirnya membuka pintu dan keluar rumah. Udara pagi langsung menyambutnya. Langit masih sedikit pucat, tanda matahari baru saja mulai terbit.
Lingkungan sekitar rumah itu cukup ramai. Beberapa orang berjalan menuju tempat kerja, sementara anak-anak sekolah mulai terlihat di jalan. Aleta menyesuaikan tali tasnya di bahu. Kemudian dia mulai berjalan. Langkahnya tenang, tapi matanya terus mengamati sekitar.
Kebiasaan lama itu tak bisa hilang. Sebagai tentara bayaran, dia selalu mempelajari lingkungan di sekitarnya. Ada gang kecil di sisi kiri, toko kelontong di ujung jalan. Halte bus sekitar lima belas meter dari rumah.
Semua detail itu langsung tersimpan di kepalanya. Beberapa siswa yang memakai seragam sekolah yang sama dengannya terlihat berjalan di depan.
SMA Vella. Nama sekolah yang kini harus dia datangi setiap hari.
"Ck." Aleta mendecakkan lidah kecil. "Hidup kedua sebagai anak SMA..."
Dia menatap langit sebentar. "Terdengar seperti lelucon."
Beberapa menit kemudian dia sampai di halte bus yang akan membawanya ke sekolah. Para siswa berjalan masuk ke dalam bus secara bergiliran.
Begitu Aleta melangkah masuk, beberapa bisikan langsung terdengar.
"Itu dia."
"Aleta."
"Gadis itu."
"Apa dia sudah sembuh?"
Tatapan orang-orang langsung mengarah padanya. Aleta sedikit mengernyit. Ingatan pemilik tubuh ini sama sekali tidak muncul, Aleta bersikap acuh dan melewati mereka untuk mencari tempat duduk. Namun tiba-tiba, seseorang menabraknya dari depan.
BRAK.
Tubuh Aleta sedikit terdorong mundur. Seorang gadis dengan rambut panjang bergelombang berdiri di depannya dengan ekspresi kesal. Di belakang gadis itu berdiri dua temannya.
"Eh, maaf ya," katanya dengan nada yang sama sekali tidak terdengar menyesal.
Tatapan gadis itu menyapu Aleta dari atas sampai bawah. "Oh, ternyata kau sudah sembuh."
Aleta menatapnya datar. Ingatan langsung memberitahunya siapa gadis itu. Clara.
Salah satu siswi populer di sekolah ini.
Dan orang yang sering membuat masalah dengan Aleta yang lama.
Clara menyilangkan tangan di depan dada.
"Kukira kau masih sekarat di rumah."
Temannya tertawa kecil di belakang, Clara kembali bertanya. "Apa demammu belum bisa membunuhmu juga, Leta?"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!