Dear pembaca ❤️
Welcome pembaca di sequel Klan Jihad--Ica generasi ketiga.
Question: wajib baca sequel pertama dan kedua ngga, teh?
Answer : Engga juga.
Bab awal mungkin akan sedikit bikin otak risih karena berisi banyak nama tapi tenang aja---nama-nama yang akan ada dan jadi tokohku, cameo, atau figuran aku cetak bold yang lain hanya pajangan.
Bab selanjutnya bikin kalian yang ukhti ngernyit kok bahasanya begini sih, penulisnya terlalu---astagfirullah, untuk pembaca yang ngga mau ribet dan ngga santuy, mungkin akan banyak ngeluh. Tapi aku yakin kalo kalian mengenal gaya tulisanku terutama di tim KKN 21 atau beberapa genre remaja lainnya kalian akan nyaman dan justru menganggap hal itu biasa.
So, yang ukhti minggir, kasih jalan sebentar, kunti mau lewat.
Enjoy reading, 🤗
...----------------...
Bunyi beep---mesin printer mencetak dua bagan struktur organisasi sekolah yang telah disahkan oleh kepala sekolah, kesiswaan dan atas pemilihan umum yang biasa terjadi setiap satu periode (satu tahun)
Akhirnya, nama mereka keluar sebagai pembantu program sekolah di luar akademik berjuluk OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas)
Sekolah SMA Budi Pekerti X begitu sibuk melebihi sibuknya kabinet Indonesia Merdeka. Sebab, hari ini adalah acara puncak pesta demokrasi sekaligus pengukuhan pengurus OSIS dan MPK disana.
Sejak pagi, suasana sekolah sudah ramai, di bagian aula telah menjadi TKP dilaksanakannya acara sakral pengukuhan. Sementara lapangan basket yang biasa dipakai untuk tempat olahraga dan upacara akan menjadi tempat acara hiburan.
Bahkan sebelum matahari benar-benar melek, anak-anak siswa ini sudah berdatangan untuk melakukan persiapan. Ada yang datang dengan kostum tarian dari rumah, ada pula yang datang dengan kostum seragam bak paskibraka istana merdeka.
Dari sudut basecamp bagian belakang, semua pasang mata dapat melihat anak-anak dari ekskul PMR yang sedang melakukan briefing sebagai tenaga medis bersamaan dengan barisan organisasi keamanan sekolah, berjaga bilamana ada siswa yang mendadak kolaps hari itu.
Mama ❤️
Ka, hari ini pulang jam berapa? Nanti malam jangan lupa ya, ada makan malam sama keluarga om Septahadi.
Namun pesan dari mama Anye belum ternotice oleh pemuda 17 tahun ini, sebab Naka baru saja sampai di sekolah dan belum sempat melirik ponsel yang ia masukan ke dalam saku celana. Getaran di pahanya tak terasa, dan tertutupi oleh getaran deru mesin motor yang ia kendarai.
...----------------...
...STRUKTUR OSIS...
...SMA BUDI PEKERTI X...
...Periode 202X- 202X...
...📍Kepala Sekolah...
...M.Yusuf Rahmah, M.Pd...
...📍Wakil bid. Kesiswaan...
...Adam Jatayu, S.Pd...
...📍Pembina OSIS...
...Bowo Wiguna, S.Pd...
...📍Ketua OSIS...
...Mainaka Praveen Rajendra...
...📍Wakil ketua OSIS...
...Savero Archandra...
...📍Sekertaris...
...1.Airani Calya...
...2. Jeevika Pinggala...
...📍Bendahara...
...1.Adhisti Gumilang...
...2.Chika Rachana...
...📍Divisi Iman dan Taqwa...
...Ketua: Ghibran Ahmad...
...Wakil: Fiqih Maulana...
...📍Divisi Organisasi dan Kaderisasi...
...Ketua: Pandu Pahlevi...
...Wakil: Nabila Elyasa...
...📍Divisi Kesenian dan Dokumen...
...Ketua: Aditya Handoko...
...Wakil: Nimas Dewi...
...📍Divisi Humas...
...Ketua: Daffa Saskara...
...Wakil: Tegar Prayoga...
...📍Divisi Olahraga dan Pengembangan Jasmani...
...Ketua: Lutfiansyah Fahrizal...
...Wakil: Gistara Fitriana...
"Welcome to OSIS SMA Budi Pekerti periode kami!! We create our future together !!!" Seruan beberapa siswa yang terpilih itu, mereka berbaris rapi tepat di depan bendera Indonesia dan sekolah serta lambang OSIS SMA mereka.
Setelah sebelumnya diarak layaknya bendera pusaka, oleh pasukan paskibraka SMA dan anak-anak Pramuka disertai iringan musik marching band.
Puncak euforia pesta demokrasi SMA Budi Pekerti X adalah hari ini, acara pengukuhan yang nantinya akan diisi oleh penampilan band sekolah dan penampilan dari ekskul lainnya yang berada di bawah naungan OSIS dan sekolah.
Jepretan kamera dokumentasi para awak media sekolah, anak 'MAK BUTI' (MAJALAH BUDI PEKERTI) merekam dan memotret wajah-wajah calon babuu yang sukarela mengabdikan diri untuk sekolah akan mereka pajang dan jadikan hot news besok lusa.
Prok---prok--prokk!!
Tepukan tangan menggema di aula sekolah bersama dengan senyum-senyum penuh kebanggaan. Jas OSIS berwarna maroon dipakai oleh para pengurus organisasi sekolah yang biasa dielu-elukan ini dengan segudang kata--keren, ber-skill, dan berdedikasi.
Namun jangan harap OSIS disini bisa terbang dengan segudang pujian tanpa harus bersusah dan bercape-cape ria, sebab...program kerja mereka akan diawasi oleh organisasi siswa lainnya yang kini turut dilantik sebagai majelis perwakilan kelas.
Satu banjar anak lain kini berjalan membentuk barisan di samping OSIS, ada tepukan tangan yang juga tak kalah riuhnya ketika mereka datang meski hadirnya para pengurus MPK ini meninggalkan kesan tanggung jawab dan beban bagi para pengurus OSIS.
Ada lirikan mata yang tak begitu ramah dari ketuanya menatap anak OSIS, terlebih untuk Mainaka Praveen Rajendra, seolah----i watch you!
Diantara anak-anak yang kini dipasangi ban lengan oleh kepala sekolah, kesiswaan dan pembina ada mata Naka yang menatap salah satunya.
Naka tentu tak melihat yang lain saat mereka mengucap janji dan sumpahnya, terlebih ia tau jika gadis itu adalah gadis yang nasibnya sama dengannya, malam ini...baik ia ataupun Shanum tau jika kedua orangtua mereka telah setuju untuk menjodohkan mereka.
...STRUKTUR MPK...
...SMA BUDI PEKERTI X...
...Periode 202X-202X...
...📍Kepala Sekolah...
...M. Yusuf Rahmah, M. Pd....
...📍Wakil Bid. Kesiswaan...
...Adam Jatayu, S. Pd....
...📍Pembina MPK...
...Selli Marwah, S. Pd....
...📍Ketua...
...Arjuna Davian...
...📍Wakil ketua...
...Navarro Mavendra...
...📍Ketua Komisi...
...Canza Pamungkas...
...📍Sekertaris...
...1. Shanum Kamala...
...2. Jihan Pranata Indah...
...📍Bendahara...
...1. Frizka Anjelia...
...2. Esya Wulandari...
...📍Komisi 1 : Ilyas Ranjaya...
...📍Komisi 2 : Jemima Indira...
...📍Komisi 3 : Altair Sebasta...
...📍Komisi 4 : Bayu Aji...
"Kami, majelis perwakilan kelas. Berpegang teguh pada pengamalan Pancasila, mengutamakan kepentingan sekolah dan siswa dan seluruh poin visi misi sekolah serta kejujuran."
Anye melihat sang putra tunggal, begitu mirip dengan Ganesha...maksudnya, perawakannya serta sifatnya meski tak seluruhnya gen Ganesha tumplek sebadan-badan, tak jatuh sepohon-pohon...tapi tetap saja, sifat yang jutek dan tak banyak bicaranya terkesan cool itu, Ganesha punya.
"Nanti kalo ketemu sama Shanum jangan lupa ngobrol ya, Ka..." Anye mewanti-wanti sang putra, oh ya ampun! Untuk mengobrol saja ia harus diwanti-wanti begini. Seolah putranya itu anak balita yang masih belajar bicara mama-papa--ee...
Apakah mama Anyelir lupa, tadi siang di sekolah ia secara resmi dikukuhkan sebagai ketua OSIS, yang tentunya tugas diplomasi sudah hatam dan sering ia jabarkan, sebab bukan hal mudah untuk berada di posisi Naka itu, ia harus melalui debat Calon ketua OSIS beberapa waktu lalu.
Percayalah, jika sedang begitu...Mainaka dan Ganesha bak pinang *membelah diri*.
Wajah Naka malas, tangannya masih menyugar rambut yang sengaja ia bubuhkan pomade, "iya, ma."
Ganesha sang ayah sudah siap, "papa yang bawa mobil, kamu di belakang."
Di tempat lain
Shanum berkali-kali menghela nafasnya berat, tangannya meraih jam tangan, lalu sisir, tapi menaruhnya kembali tak yakin. Rasanya berat menjalani hidup ke depannya.
Diantara rasa khusyuknya melamun sambil bersolek pintu kamarnya diketuk tanpa berbelas kasihan, dorr...dorr...dorr!
"Kak Sha! Kata bunda buruan, jangan coba-coba buat Bu nuh diri ya, ngga usah lebay deh! Di jodohin sama cowok cakep kok ya galau! Kalo Shey sih jangankan tunangan, langsung dinikahin sama kak Naka juga hayukk banget!" serunya berteriak dari luar sembari tertawa.
Dughh!
Sisir yang ada di tangan ia lempar ke arah pintu tertutup memancing tawa renyah Sheyna sang adik, "uhh, si al banget kak Naka dapetin cewek galak. Jangan bikin aku punya niatan buat jadi seorang ipar maut ya kak!" lagi, ia senang sekali menggoda kakaknya.
.
.
.
.
.
Shanum mematut dirinya di depan cermin. Minyak wangi ia semprotkan antara kerah dan bawah dagu, a.k.a leher lalu pergelangan tangan sebelum memasang gelang handmade dan jam tangannya disana.
Tak ada ciri khas gadis yang telah terikat di jemari atau area lainnya, entah itu cincin atau gelang dan kalung. Perhiasan pengikat yang disematkan Naka malam itu ia simpan rapi di dalam laci.
Terhitung, sudah 3 bulan yang lalu saat Naka memberikan cincin di jari manisnya. Namun mereka sepakat untuk menyembunyikan hubungan itu di depan umum, terlebih di sekolah...mereka bukan teman, bukan pula sahabat karib apalagi pacar, mereka hanya dua orang yang bersebrangan---sudah menjadi tugas Shanum mengawasi kinerja OSIS yang ada di bawah kendali MPK--singkatnya.
Dan well ! Hubungan antara ketua OSIS dan ketua MPK cukup mesra, saking mesranya...keduanya sering terlibat perdebatan sengit yang membuat program sekolah kadang-kadang sedikit alot untuk dijalankan.
Singkat kata, di sekolah, Naka dan Shanum dikenal----dua orang yang asing.
Squad **Ceriwis**
(**Chika\_ika**) *Priss, Sha, atau Mima, pesenin gue sama Pandu mie ayam dong. Jadi pas datang ke kantin udah tinggal numpahin ke perut aja🥺*
*Kayanya kalo 5 menit lagi Naka ngga tutup rapat ini, gue langsung masuk UKS buat minta obat lambung deh ini*...
(***Aditya Jegrek***) *Mentang-mentang yang manusia cuma lu berdua, gue ngga diabsen*.
(***Pandu\_winata***) *asli, rasanya pengen gue robek aja mulut Naka, terus bilang udahan ngga? 🫵Kalo ngga gue tendang juga meja! Lama banget an jingg😭 cacing di perut gue udah jadiin usus gue buat main tali*.
(**Mala Shanum**) *emang berani*?
(***Pandu\_winata***) *kagak* 😭
(***Frizka freeze***) *Wokeh. 3 porsi kan, ya? Mie ayam...ayamnya ayam mati apa ayam hidup*?
(***Jemima Mima***) *😆 ayam tiren*.
(***Pandu\_winata***) *ayam cemani Priz kalo ada🙏, mau gue pake buat nyantet Naka. Ini gue bukan lagi rapat kerja OSIS soalnya, tapi rapat kerja jo ngosnya Naka*.
(***Chika\_ika***) *sumpah udah laper perut gue. Perih banget...kalo tau jadi OSIS bawahan Naka bakalan kaya dijajah gini, gue kubur hidup-hidup manusia bernama Mainaka Praveen Rajendra sebelum dia mutusin buat sekolah disini. Gue lelepin peti matinya di laut Merah*.
*Cuma Naka doang yang bisa bikin cewek rumahan nan sesoleha gue jadi zombie killer. 😓*
(***Jemima Mima***) *lah, bukannya dulu Naka Lo semua elu-elukan ya, bak titisan dewa? Katanya Naka ganteng, tegas, jarang ngomong, aura pemimpin banget? 😂*
(***Frizka freeze***) *iya titisan dewa, dewa 19? Tatap matamu bagai busur panah...😂 yang kagak rapat jangan harap masih hidup besok, dia panah sampe mati*.
(***Mala Shanum***)*😆😆 sabar Ka, gue penasaran, apaan sih yang dibahas. Rapat kok hampir tiap dua hari sekali? Kaya kajian jamaah. Ya udah ijin aja, emangnya ngga ada toleransi*?
(***Chika\_ika***) *ngga tau, gue udah ngga bisa bedain antara Mainaka sama malaikat pencabut nyawa yang bawa-bawa arit sekarang😭 jadi pengurus OSIS rasanya kok kaya lagi Bu nuh diri pelan-pelan...sampe nafas ngik--ngik*.
(**Jemima Mima**) *itu pengurus OSIS apa orang bengek sih*?
(***Pandu\_winata***) *ijin sama Naka\= gelut yok*!
*Dia tuh selalu pake jurus*, ***Lo ngga inget...kalo MPK tuh selalu ngawasin kinerja OSIS***? *Disitu saya merasa perlu membeli racun tikus sepabrik, terus di oplos bareng Komix*.
*Lah, dia ngga mikir kah an jing. MPK aja ngga nuntut program segambreng, yang penting ada dan jalan...kalo ngga sempurna ya maaf aja, kita cuma manusia bukan Andra dan tulang belakangnya*.
(**Chika\_ika**) *gue ngga kebayang gimana nanti yang jadi bininya Naka, udah deh gue cuma mau bilang sama dia dari sekarang, mending pindah ke mars aja🙏🙏 gue cuma kasian, umurnya ngga akan lebih lama dari laron*.
(***Aditya Jegrek***) *lah, cuma cewek ngga waras aja yang mau sama modelan cowok tipe begitu*.
(***Jemima Mima***) *🤔 berarti Airani, Rea, dan beberapa cewek populer di sekolah lain termasuk cewek ngga waras dong? Atau modelan laron*? *Ini gue antara oon sama mau muntah sih ngobrol sama kalian*. *Apalagi pas mode babuu nya Naka begini*.
(***Frizka freeze***) *mereka sih waras, cuma belum kena karma aja*, *Mima*.
Jemima tertawa melihat nasib ketiga temannya yang ada dalam organisasi OSIS di bawah naungan Naka itu.
Sementara Shanum, ia ikut terkekeh tanpa merasa terganggu dengan ocehan teman-temannya tentang Naka atau wanita yang dijuluki tak waras itu. Memang benar apa yang mereka katakan, pantas saja Tante Anye dan om Ganesha sampai harus menjodohkan putranya, dan sialnya ia yang harus terpilih, karena Naka sejenis pembasmi serangga.
Satu meja di bagian paling depan gerobak mie ayam menjadi pilihan ketiga siswi dengan enam mangkok mie ayam yang masih mengepulkan asapnya.
Meja kayu yang vernis dan lapisan atasnya sudah mengelupas di beberapa titik.
"Ini mereka masih lama ngga, ya?" Gadis dengan kacamata bingkai bulat itu melirik jam di tangannya yang ia pakai bersisian dengan gelang handmade yang sama dengan Shanum. Sementara Frizka, ia sudah mengikat rambut panjangnya, mencepol atas agar tak menghalangi wajah dan mengganggu acara makannya.
"Emang udah paling enak mie ayam pake racikan sendiri..." ia mulai membubuhkan saus dan kecap tambahan serta sambal, "berapa menit lagi sih ke waktu masuk?"
"15 menit." Jawab Shanum bahkan sudah mencicipi mie ayam miliknya, ada benak yang berbicara---Naka emang kelewatan sih, tapi ya...itulah Mainaka.
"Kebangetan emang si Naka. Menurut gue sih udah paling untung jadi MPK punya ketua kaya Arjuna." Ucap Jemima diangguki Frizka.
Hingga tak lama setelah itu, dari kejauhan tiga orang dengan postur berbeda memasang tampang kesal, frustasi, sekaligus muka-muka orang lapar yang siap-siap senggol bacok datang menghampiri.
Chika, ia langsung menjatuhkan begitu saja pan tatnya setelah melepas lengan Pandu, "baby ..gue mau keluar dari kepengurusan..." rengeknya, "bantuin lah gimana caranya."
Pandu, ia turut melenguh...meraih teh kotak yang paling dekat, "kebiasaan banget si an jir emang..main sedot aja." desis Frizka melirik teh kotaknya yang diminum oleh Pandu.
Adit tak banyak bicara, ia lebih pada---sat-set membumbui mie ayam di mangkok yang dua detik lalu ia klaim miliknya itu.
"Lo ngga pengen minum dulu, Dit?" tanya Shanum.
"Ngga perlu, perut gue udah kruyuk--kruyuk dari tadi." Jawabnya lebih memilih melampiaskan rasa kesal dan laparnya pada suapan-suapan mie ayam yang banyak ke dalam mulut.
"Adiitttt!" geplak! Chika menggeplak punggung kawannya itu, uhukk--uhukk, gleuk!
"Bang kee!"
"Bismillah dulu kenapa sih?!" omel Chika.
Wkwkwkwk...
"Rapat tentang apa sih?" tanya Jemima menyedot teh kotak miliknya yang sudah berbunyi--srrot--sroot tanda jika isinya sudah tandas.
Chika masih sibuk memilah milih bagian sayur hijau yang ada di mie ayam miliknya lalu ia masukan ke dalam mangkuk Pandu, memang Pandu ini spek cowok tempat sampah diantara squad Ceriwis ini, si paling tempat pembuangan akhir.
"Biasa lah, cuma rapat kerja biasa aja...yang sebenernya ngga perlu sampe rapat seminggu 3 kali juga. Itu mah si Naka cuma kangen aja disumpahin sama bawahan." Jawab Pandu.
Adit mengangguk, "Naka kan gatel kalo ngga ngerjain staf pengurus OSIS kaya---hidupnya tuh hampa."
Frizka tertawa sampai hampir tersedak kuah nyemek yang pedas, "bisa gitu ya...istimewa sekalehhh ketos SMA Budi Pekerti X, sampe para Jo ngos nurut lagii..."
Shanum turut tersenyum geli dan tertawa gemas, ia sama sekali tak keberatan teman-temannya mengumpati Naka, sebab...memang kenyataannya begitu, ia sudah pernah melihat dan mengalaminya sendiri, dan memang Naka semenyebalkan itu, "sukur-sukur tiap rapat ngga disuruh bikin burcang ijo juga Lo, Ndu..."
Frizka kembali menahan tawanya, hampir tersedak kembali, "bukan sie kaderisasi yang begitu juga kali Num, si Pandu."
Jemima ikut tertawa, "penimbangan balita kali ah! Pake batik sono lu..."
Chika merengut, "hah! Tepatnya bukan cuma kita aja sih, dia kalo lagi mode singa Barong begitu cewek cantik aja dibikin cemberut..."
Adit menggebrak meja sekali cukup membuat mereka kaget, "inget gue, yang waktu rapat hari Senin itu kan? Waktu si Rea tiba-tiba datang pas Naka lagi khotbah di depan. Diusir tanpa senyuman dong!"
Shanum menaikan kedua alisnya dan membulatkan matanya, "oh iya?"
"Iya. Tapi anehnya cewek-cewek justru makin keblinger buat ngejar..." lanjut Adit kini menggigiti tulang ayam yang masih tersisa daging di sela-selanya, persis guguk.
"Kandidat yang kuat tetep dipegang Airani sih kalo menurut gue." Kini Chika yang bicara, memantik alis Shanum untuk naik, "kok bisa?"
"Lah, saban waktu bareng Naka, sekertaris OSIS. Gimana aja Lo sama Juna. Ditambah, OSIS kan sering banget ketemunya, lah Airani nempel banget, dijajah Naka aja dia iya-iya aja...mau disuruh ketik ulang proposal setebel buku anak teknik juga dia mau-mau aja. Kalo gue sih bakal langsung alesan tipes .." Pandu yang berbicara.
Namun kemudian Jemima menggeleng, "Kalo gue sih pegang Rea Nayana...coba deh Lo cocokologi, Naka--Naya...see, dari nama aja udah jodoh tuh!"
"Departemen perhaluan, alias ngarang!" sembur Chika.
Jemima kekeh dengan tebakannya, "engga ya, taun kemaren kan Naka sama si Rea Nayana pernah masuk kandidat Abang none...seleranya kayanya Naka banget tuh Rea. Siapa juga yang ngga suka Rea, cewek bisa main biola kesannya tuh lembut gitu, keren pada porsinya. Cocok lah sama Naka yang well, gue sebenernya males mengakui tapi emang Naka tuh the best tauuu!"
Shanum sudah selesai dengan makannya, tapi pembicaraan tentang Naka ini bukan sebuah dessert yang pas rasanya sebab mendadak ia malas sekali mendengarnya, andai teman-temannya tau jika sebenarnya pemuda yang sejak tadi mereka bicarakan, gosipkan dan hina-hina itu sudah memiliki tunangan yang saat ini sedang mendengarkan mereka menggibahi Naka.
"Iya kan, Num?" tanya Jemima lagi pada Shanum, yang--ha? Ngga tau, iya kali...
Masih asik mereka menghabiskan waktu yang tinggal 5 menit lagi itu, beberapa langkah memasuki kantin. Disaat anak-anak lain sudah berangsur meninggalkan area foodcourt itu, mereka justru baru akan duduk.
"Si Naka tuh pokoknya-----" Adit langsung menghentikan bicaranya dengan reaksi terkejut, takut dan panik, "Naka!" ia langsung memberikan gestur menghindari tatapan dengan menyedot teh kotak miliknya, membuat pandangan seisi meja otomatis tertuju ke arah datangnya keempat siswa.
"Ndu oy! Keburu makan mie ayam juga Lo?" Savero, ia melambaikan tangannya ke arah meja Shanum. Bukannya menjauh, ia justru mendekat membuat yang lain mengekorinya ke meja Shanum termasuk Naka dengan makanan yang sudah di tangan, oke----jadi ketos sekolah mereka itu cuma numpang makan doang di kantin.
"Keburu lah, gue udah terlatih makan mode vacum cleaner!" cebik Pandu ditertawai Savero, "gue tebak, sejak masuk OSIS dan jadi anak buah Naka?!" tembaknya terang-terangan, memang hanya Savero, Canza dan Lutfi saja yang berani.
Tanpa rasa bersalahnya, Naka duduk begitu saja bersama yang lain, memberikan sensasi tegang dan yap! Tak sesantai tadi.
Shanum memutus tatapnya dari Naka, begitupun Naka.
Roti sandwich coklat dan onigiri dengan rasa yang selalu sama, ayam pedas, makanan kemasan minimarket serta air putih botol nan dingin yang menjadi andalannya mengisi perut.
"Ka, gue sebelumnya mau ijin dulu nih sama lo, buat kamera kebetulan punya gue lagi dibawa Abang...jadi nanti dokumentasi----" Adit justru bersuara yang membuat wajah kawan-kawannya muak, terlebih Chika, "Lo kalo mau nanya kenapa ngga sekalian tadi sih Dit?" wajahnya begitu muak, seolah--- Adit!! Yang bener aja ya Lo, masih juga bahas tugas OSIS di luar jam kerja sama rapat....ah gila Lo kalo sama Naka kesirep!
"Nanti pake punya gue aja." Jawabnya kalem membuka serta bungkusan onigiri lalu melahapnya dengan khusyuk dan suapan besar.
Canza melempar tatapnya pada Shanum dan anggota MPK lainnya, "Num, proposal anggaran subsidi bantuan buat OSIS udah masuk kita belum?"
Shanum mengangguk, "udah, tadi pagi. Tapi gue belum sempet kasih ke Juna, baru kasih tau Frizka...berhubung dia disini juga."
Frizka mengangguk.
"Jangan dinanti-nanti Num, acara OSIS bakalan butuh biaya ngga sedikit tapi mesti dihemat-hemat." Kini Naka yang bersuara setelah menjeda suapannya, tapi belum ia melahap kembali, Savero sudah merebut sisa onigiri milik Naka dan melahapnya. Definisi sahabat seiya sekata, "denger kan Num? Jinakin dulu si Juna...jangan banyak protes jangan banyak debat...toh kita ngga mungkin korup atau salah sasaran tuh dana. Ada Abang ketua komisi disiplin yang ngawasin, jadi jembatan!" kekeh Vero menepuk pundak Canza.
Shanum mengangguk malas lalu menyanggah dagunya di atas meja.
"Nih ketua komisi lebih pro ke OSIS, lah dikeroyok sama Lo pada..." tunjuk Jemima pada Lutfi, Savero dan Naka.
"Ngga lah! Kita mah temenan ya temenan aja, ya...Nza? Mana ada Canza kita keroyok kalo ngga pro OSIS....yang ada ntar balik kita tunggu di perempatan." Jawab Savero.
Dan obrolan santai yang kini mengalir tak menyurutkan acara curi-curi pandang Naka pada Shanum, begitupun sebaliknya.
Mainaka
Jangan lupa acara makan malam, malam ini. Mama sama bunda kamu nyuruh datang berdua.
Shanum notice dengan getaran ponselnya, setelah Naka berhasil memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana, kini Shanum yang mengambil ponsel miliknya dari saku.
Ia melirik sebentar pemuda yang saat ini justru menyimak obrolan teman-temannya yang berujung pada nepotisme dan entahlah----koalisi, mereka bicara ngaler ngidul tak jelas berawal dari circle pertemanan Naka, Canza, Lutfi dan Savero dimana hanya Canza anggota MPK seorang diri.
.
.
.
.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!