Dentum musik techno dari dalam klub perlahan memudar, digantikan oleh kesunyian udara malam yang menusuk kulit. Valerie melangkah keluar dengan kepala yang terasa sedikit mengambang.
Gaun selutut tanpa lengan yang melekat di tubuhnya tampak kontras dengan aspal jalanan yang gelap, namun ia tetap berusaha menjaga punggungnya tetap tegak.
Malam ini adalah pesta penyambutan mahasiswi baru, dan sebagai mahasiswi yang baru saja menginjakkan kaki di dunia kampus, dia pun ikut serta dalam perayaan itu.
Begitu kesadarannya mulai terasa tipis akibat beberapa gelas cocktail, Valerie tahu kapan harus berhenti. ia langsung memutuskan untuk angkat kaki dari ruangan itu, yang di penuhi para mahasiswa baru yang sebagian sudah teler.
Ia terlalu pintar untuk membiarkan dirinya menjadi sasaran empuk pria-pria hidung belang di dalam sana.
"Gila, kalau aku pingsan di dalam, bisa habis aku diterkam mereka," gumamnya pelan sambil bergidik ngeri.
Valerie mendengus kesal saat melirik jam tangan mewahnya. Sudah pukul dua belas malam. Ia berdiri di pinggir jalan, berusaha memindai keberadaan taksi, namun jalanan di depan klub itu tampak mati. Hanya ada beberapa kendaraan pribadi yang melintas cepat.
Kakinya mulai terasa pegal. Heels setinggi 7 sentimeter yang ia kenakan memang membuatnya tampak jenjang dan berkelas, tapi berjalan sempoyongan dengan sepatu itu bukanlah ide yang bagus.
"Ck, kenapa susah sekali cari taksi di sini?"
Valerie teringat sesuatu. Di samping gedung klub ini, ada sebuah gang yang berfungsi sebagai jalan pintas menuju jalan raya utama di sisi lain. Setahunya, jalan di seberang sana jauh lebih ramai dan peluang mendapatkan taksi akan lebih besar.
Meski kepalanya masih berputar, keberaniannya tidak luntur. Ia memutar arah menuju jalan tikus tersebut. Ia hanya ingin cepat sampai di apartemen, melempar sepatu mahalnya, dan tidur.
Tanpa ragu, Valerie melangkah masuk ke dalam kegelapan jalan pintas itu, tidak menyadari apa yang mungkin menunggunya di balik bayang-bayang tembok tua di sana.
Langkah kaki Valerie yang mengenakan heels terdengar bergema di antara dinding beton jalan tikus yang sempit itu. Suaranya seolah menjadi satu-satunya tanda kehidupan di sana.
Ia melangkah dengan harap-harap cemas, sesekali memegang dinding untuk menjaga keseimbangan.
"Jangan sampai ketemu orang mabuk.." bisiknya merapal doa dalam hati.
Tiba-tiba, rasa pening menghantam kepalanya lebih keras dari sebelumnya. Pandangan Valerie mengabur, membuat garis-garis dinding di sekitarnya tampak bergoyang.
Ia terpaksa berhenti sejenak, memejamkan mata rapat-rapat, dan menarik napas dalam-dalam untuk menormalkan penglihatannya.
Saat ia kembali membuka mata, jantungnya seakan merosot ke perut.
Di pertengahan jalan yang hanya diterangi satu lampu redup yang berkedip-kedip, Valerie menangkap sebuah bayangan. Ada siluet tubuh yang bersandar santai di tembok gedung.
Valerie mematung. Ia mengucek matanya dengan kasar, memastikan apakah alkohol tadi membuatnya berhalusinasi.
"Itu... manusia atau hantu?" pikirnya dengan bulu kuduk yang mulai meremang.
Logikanya berperang hebat. Haruskah ia berbalik arah dan kembali ke depan klub yang sepi, atau terus maju? Ujung jalan raya yang lebih ramai sudah terlihat di depan sana, hanya tinggal beberapa belas meter lagi.
Valerie menegakkan bahu, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, lalu melangkah perlahan mendekati siluet tersebut.
Semakin dekat, ia mulai menyadari bahwa itu adalah sosok seorang pria dewasa. Postur tubuhnya tegap, namun wajahnya masih tertutup bayangan kegelapan lorong.
Pria itu diam tak bergerak, seolah-olah memang sedang menunggu seseorang—atau mungkin hanya sedang menikmati kesunyian malam dengan cara yang sangat mencurigakan.
Valerie menahan napas, berusaha melewati pria itu tanpa kontak mata, meski rasa penasaran dan waspadanya mencapai puncak.
Langkah Valerie melambat. Meski kepalanya masih terasa berat, instingnya menangkap ada sesuatu yang tidak beres dengan pria itu. Alih-alih lari menjauh, sisi kemanusiaan—dan mungkin sedikit sifat keras kepalanya—mendorong Valerie untuk memastikan keadaan pria misterius itu.
"Permisi... Anda baik-baik saja?" tanya Valerie pelan sambil memberanikan diri menepuk pundak pria itu.
Detik berikutnya, segalanya terjadi begitu cepat.
Pria itu tersentak hebat, napasnya terdengar memburu dan berat, seperti seseorang yang sedang menahan rasa sakit atau emosi yang meluap. Begitu menyadari sosok Valerie berdiri di dekatnya, pria itu bergerak secepat kilat.
Sebelum Valerie sempat bereaksi, tangan kokoh pria itu sudah menarik lengannya dan mendorong tubuh ramping Valerie ke dinding beton yang dingin.
Brak!
Sentakan itu begitu keras hingga rasa pusing akibat cocktail yang dirasakan Valerie menguap seketika, digantikan oleh adrenalin yang memuncak. Matanya terbelalak lebar, jantungnya berdegup kencang hingga terasa ingin melompat keluar.
"Hei! Apa yang kau laku—"
Kalimat Valerie terputus di udara. Sebuah tangan besar yang hangat langsung membekap mulutnya dengan rapat, meredam teriakan yang hampir lolos dari bibirnya.
Tidak berhenti di situ, pria itu semakin menghimpit tubuh Valerie, menindihnya hingga tidak ada celah di antara mereka.
Dalam jarak sedekat itu, Valerie bisa merasakan panas tubuh pria itu dan deru napasnya yang tidak beraturan tepat di telinganya.
Aroma maskulin yang tajam bercampur dengan sesuatu yang misterius menusuk indra penciuman Valerie, membuatnya mematung dalam dekapan yang terasa sangat mengintimidasi sekaligus menyesakkan.
Valerie mencoba memberontak, namun kekuatan pria ini jauh di atasnya. Di lorong yang remang-remang itu, ia hanya bisa menatap tajam ke arah pria misterius yang kini telah mengunci pergerakannya.
"Ssst... jangan berisik," bisik pria itu tepat di telinga Valerie. Suara berat dan seraknya mengirimkan getaran dingin yang membuat bulu kuduk Valerie meremang seketika.
Valerie terpaku, matanya masih membulat sempurna, menatap bayangan pria di depannya dengan penuh tanda tanya. Apa-apaan ini? Siapa dia? Pikirannya berputar mencoba mencerna situasi yang mendadak berubah menjadi film aksi ini.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah sepatu bot yang berat dari ujung lorong. Beberapa pria berpakaian serba hitam muncul, bergerak taktis seperti sedang memburu seseorang.
Mereka berpencar, dan dua di antaranya mulai melangkah masuk ke dalam lorong gelap tempat Valerie dan pria misterius itu bersembunyi.
Saat kedua pria asing itu semakin mendekat, pria yang masih menghimpit tubuh Valerie itu kembali berbisik. Kali ini suaranya terdengar lebih rendah, hampir seperti gumaman putus asa.
"Maaf..."
Valerie mengerutkan kening. Maaf? Untuk apa dia meminta maaf—
Belum sempat logika Valerie menjawab, tangan besar yang membekap mulutnya terlepas. Namun, sebelum Valerie sempat menarik napas untuk berteriak, pria itu langsung membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman yang dalam dan menuntut.
Valerie terkejut bukan main. Tubuhnya menegang, ia mencoba meronta dan mendorong dada bidang pria itu, namun tenaganya kalah telak.
Pria itu justru semakin menekan tubuh Valerie ke dinding, memperdalam lumatannya seolah mereka adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara di tengah kegelapan malam.
Di sudut matanya yang masih terbuka karena syok, Valerie melihat dua orang asing tadi berhenti hanya beberapa meter dari posisi mereka. Kedua orang itu tampak mondar-mandir sejenak, memperhatikan sekeliling dengan waspada.
Namun, melihat "sepasang kekasih" yang sedang asyik berciuman panas di pojok lorong, mereka mendengus dan mengalihkan pandangan.
Merasa orang yang mereka cari tidak ada di sana, kedua pria itu akhirnya berbalik dan kembali ke ujung jalan raya untuk bergabung dengan kelompok mereka yang lain.
Suasana kembali sunyi, hanya menyisakan deru napas yang saling beradu di antara Valerie dan pria misterius yang masih belum melepaskan pagutannya.
Valerie sudah tidak tahan lagi. Bukan hanya karena ia merasa sesak, tapi karena pria ini seolah-olah mulai hanyut dan menikmati apa yang ia lakukan. Dengan sisa tenaga dan emosi yang meluap, Valerie menggigit bibir bawah pria itu sekuat mungkin.
"Akh!" Pria itu mengerang pelan, melepaskan pagutannya seketika.
Valerie menggunakan kesempatan itu untuk mendorong dada bidang pria itu sekuat tenaga hingga pria itu terhuyung ke belakang. Napas Valerie memburu, wajahnya memerah bukan karena malu, melainkan karena amarah yang meledak.
"Hey! Apa-apaan kau? Main cium sembarangan, sudah gila ya?!" bentak Valerie dengan suara tertahan namun tajam.
Ia mengusap bibirnya dengan kasar menggunakan punggung tangan. Meskipun ini bukan ciuman pertamanya, tetap saja Valerie merasa kecolongan. Gadis sekelas dia tidak seharusnya diperlakukan seperti ini di sebuah gang gelap oleh orang asing.
Pria itu meringis, menyentuh bibirnya yang kini mengeluarkan sedikit darah akibat gigitan Valerie.
Namun, bukannya merasa bersalah, ia malah berdiri tegak dan menyeringai tipis—sebuah senyum yang terlihat berbahaya di bawah remang lampu jalan.
Sebelum Valerie sempat melangkah pergi, pria itu bergerak lebih cepat. Ia kembali merapat, mengunci tubuh Valerie ke dinding. Kali ini, ia menarik kedua tangan Valerie dan menahannya di atas kepala gadis itu dengan satu tangan besarnya.
Valerie tersentak, mencoba berontak, namun terkunci rapat.
"Manis, tolonglah aku," bisik pria itu dengan suara serak yang sangat dalam dan mengintimidasi.
Tatapannya tajam, menembus langsung ke mata Valerie. "Jika kau mau menolongku, aku akan memberikan apa pun yang kau inginkan. Apa pun."
Valerie terdiam. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena takut, tapi karena aura dominan yang dipancarkan pria ini. Meski suaranya terdengar mengancam, Valerie yang pintar bisa menangkap nada urgensi di sana.
Pria ini memang sedang terdesak, dan entah kenapa, naluri keberanian Valerie justru tertantang oleh tawaran tersebut.
"Apa pun?" tanya Valerie dengan nada angkuh yang mulai kembali, meski posisinya masih terkurung.
Valerie mendengus remeh, mencoba menutupi debar jantungnya yang tak keruan. "Bagaimana mungkin aku bisa menolongmu? Aku bahkan tidak tahu siapa namamu," tantangnya kemudian.
Pria itu tidak langsung menjawab. Perlahan, ia melepaskan satu tangannya yang tadi mengunci tangan Valerie, lalu menggerakkannya untuk membelai pipi Valerie dengan lembut. Sentuhan itu terasa kontras dengan situasi mereka yang mencekam.
"Aku membutuhkan tubuhmu... sekarang," bisik pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
Mata Valerie membelalak sempurna. "Apa???"
Ia seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Darahnya mendidih seketika. Bagaimana mungkin pria asing yang baru saja menyeretnya ke dalam masalah ini, dengan tidak tahu malu meminta hal seperti itu?
"Kau pikir aku ini siapa?!" Valerie mendesis penuh amarah, ia berusaha meronta lebih keras. "Apa tampangku terlihat seperti wanita panggilan yang bisa kau beli begitu saja? Kau benar-benar sudah gila!"
Valerie merasa sangat terhina. Sebagai seorang yang berkelas, ia terbiasa dipuja, bukan ditawar dengan cara serendah ini di sebuah lorong gelap.
Rasa waspada gadis itu bangkit sepenuhnya; ia tidak akan membiarkan pria misterius ini berpikir bahwa dia bisa memiliki Valerie hanya dengan sebuah janji "memberikan apa pun".
Namun, di tengah kemarahannya, Valerie menyadari sesuatu. Napas pria itu semakin memburu dan suhu tubuhnya terasa tidak normal.
Pria itu menatap Valerie dengan pandangan sayu, matanya mulai kehilangan fokus. "Arrgh, brengsek!" makinya pada diri sendiri sambil mengerang frustrasi. "Aku sudah tidak tahan lagi..."
Ia kembali merunduk, mencoba meraih bibir Valerie untuk yang kedua kalinya. Namun kali ini, Valerie lebih sigap.
Ia segera menempelkan telapak tangannya di depan bibir pria itu, menahan gerakannya. Sebagai mahasiswi yang pintar, Valerie mulai menyadari ada yang tidak beres dengan reaksi fisik pria ini.
"Tunggu sebentar," sela Valerie tenang. "Apa kau sedang dibius obat perangsang?"
Pria itu tertegun sejenak, lalu menyeringai tipis meski napasnya semakin berat. "Gadis pintar... Jadi, kau mau kan menolongku?"
Bukannya takut, Valerie justru menunjukkan senyum liciknya. —ia tahu sekarang dialah yang memegang kendali. "Baiklah, aku akan menolongmu. Tapi tidak di sini," ujarnya tegas.
Pria itu mengerutkan kening, tampak bingung di tengah gejolak yang menyerangnya. "Apa maksudmu?"
"Bagaimana kalau kita cari hotel terdekat? Setelah itu, aku bisa menolongmu dengan layak," jawab Valerie santai.
Mendengar tawaran itu, pria tersebut perlahan melepaskan cengkeramannya pada tangan Valerie. Ia tampak setuju, atau mungkin sudah terlalu lemah untuk berdebat.
Valerie kemudian berbalik dan berjalan lebih dulu, memberi isyarat agar pria itu mengikutinya menuju ujung lorong yang mengarah ke jalan raya utama.
Begitu mereka keluar dari kegelapan dan sampai di bawah sinar lampu jalan yang terang, Valerie berhenti dan menoleh. Ia ingin melihat dengan jelas siapa sebenarnya pria yang baru saja menciumnya dengan sembarangan tadi.
Seketika, Valerie terdiam.
Di bawah cahaya lampu yang kekuningan, pria itu ternyata luar biasa tampan. Rambutnya yang sedikit berantakan justru menambah kesan maskulin.
Matanya yang berwarna cokelat gelap menatap tajam, dan wajahnya yang tegas kini nampak kemerahan—sebuah efek dari obat yang mulai bekerja maksimal di dalam tubuhnya, membuatnya terlihat menawan sekaligus berbahaya.
Di sisi lain, pria itu pun tertegun. Di bawah lampu jalan yang terang, kecantikan Valerie terpancar sempurna. Gadis di depannya bukan hanya berani dan angkuh, tapi juga memiliki daya tarik yang membuat pria mana pun akan bertekuk lutut.
Beruntung bagi Valerie, sebuah taksi lewat tepat saat mereka sampai di tepi jalan raya. Ia segera melambai, lalu dengan sigap menuntun pria misterius itu masuk ke kursi belakang. Valerie ikut menyelinap masuk dan menutup pintu dengan rapat.
"Pak, ke hotel terdekat ya," perintah Valerie pada sopir taksi. Sopir itu hanya mengangguk pelan, seolah sudah biasa melihat pasangan muda keluar dari area klub di jam-jam seperti ini.
Namun, baru beberapa menit mobil melaju, Valerie melihat papan neon sebuah apotek yang masih buka 24 jam. "Pak, berhenti sebentar di depan sana," pintanya.
Saat Valerie hendak membuka pintu, sebuah tangan yang panas dan bergetar menahan lengannya dengan kuat. Pria itu menatapnya dengan curiga, seolah takut Valerie akan melarikan diri dan membiarkannya menderita sendirian.
Valerie mendekatkan wajahnya, berbisik tepat di telinga pria itu dengan nada menggoda namun tegas. "Tenanglah. Aku harus membeli 'pengaman', kan? Kau tidak ingin kita melakukannya tanpa persiapan, bukan?"
Mendengar itu, cengkeraman pria tersebut perlahan mengendur. Ia mengangguk lemah, membiarkan Valerie keluar dari taksi.
Valerie melangkah masuk ke apotek dengan santai, seolah apa yang ia beli adalah hal paling wajar di dunia. Tak butuh waktu lama, ia kembali ke taksi dengan sebuah bungkusan plastik kecil.
Di dalam plastik itu, memang ada kotak pengaman seperti yang ia katakan tadi. Namun, di balik itu, Valerie juga menyelipkan beberapa butir obat tidur dosis tinggi.
Ia tahu, meskipun pria ini tampan, ia tetaplah orang asing yang berbahaya. Sebagai gadis yang tidak ingin mengambil risiko, Valerie sudah menyiapkan rencana cadangan untuk "menidurkan" pria ini jika situasi mulai tak terkendali di hotel nanti.
"Jalan lagi, Pak," ucap Valerie sambil melirik pria di sampingnya yang kini terlihat semakin kepayahan menahan gejolak dalam tubuhnya.
Valerie menarik napas panjang saat taksi meninggalkan pelataran hotel bintang tiga yang nampak sederhana itu. Dengan tenaga yang tersisa, ia memapah tubuh pria asing yang terasa semakin berat dan panas menuju meja resepsionis.
Setelah proses administrasi yang singkat, mereka akhirnya sampai di depan kamar bernomor 120.
Begitu pintu terbuka, Valerie menuntun pria itu masuk dan merebahkannya di atas single bed yang untungnya berukuran cukup besar.
Namun, saat Valerie hendak berdiri untuk menjauh, sebuah tarikan kuat di lengannya membuat ia kehilangan keseimbangan.
"A-akh!"
Tubuh ramping Valerie terhuyung dan jatuh tepat di atas dada bidang pria itu. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti. Valerie bisa merasakan detak jantung pria itu yang berpacu liar, seirama dengan miliknya yang kini sudah tidak karuan.
Mata cokelat pria itu menatapnya dengan lapar, sebuah tatapan predator yang sudah kehilangan akal sehat akibat pengaruh obat.
Di bawah sana, Valerie merasakan sesuatu yang mengeras—sebuah tanda bahwa pria ini sudah berada di ambang batas pertahanannya.
Valerie menelan ludah, mencoba menguasai kegugupan yang luar biasa. Bagaimanapun, ini adalah pertama kalinya ia berada dalam posisi seintim ini dengan seorang pria.
Namun, otaknya yang encer segera mengambil alih. Ia tidak boleh kalah.
"Tunggu dulu..." bisik Valerie dengan suara yang dibuat sedayu dan menggoda mungkin tepat di depan wajah pria itu. "Aku haus sekali. Biarkan aku minum sebentar, setelah itu aku akan kembali padamu."
Ia memberikan senyum tipis yang memikat. "Sambil menungguku, kenapa kau tidak buka dulu bajumu? Hmm?"
Pria yang kesadarannya sudah hampir habis itu hanya bisa mengangguk pasrah. "Cepatlah kembali... aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi," gumamnya dengan suara serak.
Valerie bangkit dengan perlahan, merasakan hembusan napas lega saat cengkeraman pria itu terlepas. Ia melangkah menuju nakas di pojok ruangan, tempat dua botol air mineral disediakan oleh pihak hotel.
Di belakangnya, terdengar suara gesekan kain saat pria itu mulai menanggalkan pakaiannya satu per satu, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang kokoh di bawah cahaya lampu kamar yang temaram.
Sementara itu, tangan Valerie bergerak cepat membuka bungkusan obat tidur dari apotek tadi, siap untuk mencampurkannya ke dalam botol air mineral.
Pemandangan di atas kasur itu sungguh menguji pertahanan Valerie. Cahaya lampu kamar yang remang menyoroti lekuk otot perut pria itu yang sempurna, berpadu dengan kulit yang sedikit berkeringat.
Valerie tertegun, pandangannya sempat terkunci pada bagian bawah yang tampak begitu menonjol di balik boxer ketat pria itu.
"Sial, pria ini sangat menggoda," gumam Valerie dalam hati. Ia menggigit bibir bawahnya, merasakan desiran aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun, Valerie adalah gadis yang logis. Ia segera menggeleng pelan, mengusir pikiran kotor yang mulai merayap, dan kembali fokus pada misinya.
Ia meletakkan tas selempang mahalnya di atas nakas dengan anggun, lalu duduk di tepi ranjang, tepat di samping pria yang kini menatapnya dengan pandangan yang semakin menggelap.
"Nampaknya kau juga kehausan, kan? Minumlah dulu," ucap Valerie dengan nada lembut yang menenangkan, sambil menyodorkan botol air mineral yang sudah "diracik" tadi.
Pria itu berusaha bangkit untuk duduk, meski gerakannya tampak agak berat. Ia menatap Valerie sejenak, ada binar terima kasih di matanya yang sayu. "Terima kasih... aku memang sangat haus," suaranya terdengar sangat parau.
Tanpa curiga sedikit pun, pria itu menerima botol tersebut. Ia meneguknya dengan rakus, seolah air itu adalah satu-satunya hal yang bisa mendinginkan suhu tubuhnya yang membara. Valerie memperhatikan jakun pria itu yang naik turun saat menelan air sampai tetes terakhir.
Tandas.
Valerie menghela napas panjang dalam hati. Umpannya sudah dimakan. Sekarang, ia hanya perlu menunggu beberapa saat sampai obat tidur dosis tinggi itu bekerja dan menumbangkan sang predator yang ada di depannya.
"Sekarang... kemarilah," gumam pria itu pelan setelah meletakkan botol kosong ke lantai, sambil kembali merentangkan tangannya ke arah Valerie.
Valerie menahan napas, menghitung detik demi detik di dalam kepalanya. Ia berharap obat tidur dosis tinggi itu segera menyerang sistem saraf sang pria sebelum situasi ini melangkah terlalu jauh.
Namun, untuk sekarang, ia harus benar-benar totalitas dalam perannya. Jika ia menolak terlalu keras, pria ini mungkin akan curiga.
Valerie merangkak naik ke atas kasur, memposisikan dirinya lebih rapat. Tanpa menunggu aba-aba, pria itu seolah mendapatkan tambahan energi terakhirnya. Ia mendorong tubuh Valerie hingga gadis itu jatuh terlentang di atas sprei putih yang dingin.
"Akh—"
Pria itu langsung menindihnya, mengunci kedua pergelangan tangan Valerie di atas kepala dengan satu tangan yang terasa seperti borgol besi.
Detik berikutnya, ia langsung melumat bibir Valerie dengan penuh gairah yang tak tertahankan. Valerie memejamkan mata rapat-rapat, mencoba tetap tenang dan bersabar di tengah badai ciuman yang menghantamnya.
Dari bibir, pria itu mulai turun, membenamkan wajahnya di ceruk leher jenjang Valerie. Deru napas panasnya membakar kulit Valerie, sementara kecupan-kecupan basah itu membuat jantung Valerie seakan sedang berdisko dengan irama yang kacau.
Valerie tercekat. Rasa asing yang menggelitik sekaligus mengintimidasi ini hampir membuatnya kehilangan kendali. Kedua tangannya meremas sprei hotel dengan kuat, mencoba mencari pegangan agar kewarasannya tidak ikut tenggelam dalam permainan yang ia buat sendiri.
"Sebentar lagi... sebentar lagi dia akan tumbang," batin Valerie menyemangati dirinya sendiri, meski tubuhnya gemetar hebat di bawah kuasa pria misterius itu.
Tiba-tiba, gerakan pria itu mulai melambat. Ciumannya di leher Valerie tidak lagi seintens tadi.
Kepalanya terasa semakin berat di bahu Valerie, dan deru napasnya yang semula memburu perlahan berubah menjadi hembusan napas yang panjang dan dalam.
Rencana Valerie berhasil! Pria itu mulai kehilangan kesadarannya tepat di atas tubuh Valerie.
Suasana kamar yang tadinya panas dan penuh gejolak seketika berubah sunyi, hanya menyisakan suara detak jam dinding dan deru napas teratur dari pria yang kini sudah terlelap total.
Kepala pria itu terkulai lemas di atas kasur, tepat di posisi Valerie berbaring tadi. Obat tidur dosis tinggi itu rupanya bekerja tepat pada waktunya.
Valerie menahan napas sejenak, memastikan pria di sampingnya tidak akan terbangun dalam waktu dekat.
Tubuhnya terasa pegal karena harus menahan bobot tubuh pria yang jauh lebih besar darinya. Dengan sekuat tenaga, ia menyikut dan menggeser tubuh pria itu hingga benar-benar telentang di atas sprei.
Bruk.
Begitu berhasil membebaskan diri, Valerie segera bangkit dan duduk di tepi ranjang. Ia menghembuskan napas dengan kasar, mencoba membuang sisa-sisa ketegangan yang masih menyangkut di dadanya.
"Gila... benar-benar gila," gumam Valerie sambil merapikan gaunnya yang sedikit berantakan.
Ia menyeka lehernya yang masih terasa basah dan panas akibat ciuman pria tadi. Jantungnya masih berdegup lebih kencang dari biasanya.
Valerie menoleh, menatap sosok yang kini nampak tak berdaya itu. Jika tidak ingat betapa berbahayanya situasi tadi, mungkin Valerie akan mengagumi betapa damainya wajah pria tampan itu saat sedang tidur.
Namun, naluri kewaspadaannya kini mengalahkan rasa terpesonanya.
Ia tidak mungkin membiarkan pria misterius ini tanpa tahu dia siapa dengan mudah merenggut kesuciannya—
Dia juga bahkan tidak tahu kenapa pria ini sedang dikejar-kejar segrombolan orang asing dan saat ini berakhir dengan obat perangsang.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!