Lin Yinjia selalu merasa dirinya bukan gadis yang istimewa.
Ia tidak terlalu pintar, tidak terlalu cantik, dan jelas tidak kaya. Jika orang lain berdiri di keramaian dan tampak menonjol, Yinjia justru tipe orang yang akan dengan mudah tenggelam di antara kerumunan.
Ia juga punya kebiasaan buruk yang sulit dihilangkan. Jika gugup, ia akan berbicara apa saja yang muncul di kepalanya. Dan jika terlalu fokus pada sesuatu, ia hampir pasti akan menjatuhkan barang di sekitarnya.
Hari itu kebiasaan buruknya hampir terjadi lagi.
“Aduh—”
Yinjia buru-buru menangkap gelas plastik yang hampir tergelincir dari meja kantin kampusnya. Beberapa tetes minuman sudah lebih dulu jatuh ke buku catatan yang terbuka.
Di depannya, Chen Luo menahan tawa. “Kamu selalu begitu.”
“Aku tidak selalu begitu,” bantah Yinjia sambil menyeka meja dengan tisu. “Hanya… kadang.”
Chen Luo mengangkat alis. “Kadang yang sering.”
Yinjia mendesah. Ia tidak bisa membantah.
Kantin Universitas Shanghai siang itu cukup ramai. Mahasiswa memenuhi meja-meja panjang, suara obrolan bercampur dengan bunyi sendok dan kursi yang bergeser.
Sebagai mahasiswa semester empat jurusan manajemen bisnis, Yinjia sudah cukup terbiasa dengan suasana kampus. Tapi entah kenapa, setiap kali berada di tengah banyak orang, ia tetap merasa sedikit gugup. Apalagi jika ada seseorang seperti Chen Luo di depannya.
Chen Luo cukup terkenal di kampus. Wajahnya tampan, nilainya bagus, dan ia aktif di berbagai organisasi. Banyak orang mengenalnya. Sedangkan Yinjia…
Ia hanya gadis biasa.
“Ngomong-ngomong,” kata Chen Luo sambil mendorong sebuah kotak kecil ke arah Yinjia, “ini buat kamu.”
Yinjia menatap kotak itu. “Lagi?”
Chen Luo pura-pura tidak mengerti. “Lagi apa?”
Yinjia membuka kotak itu. Di dalamnya ada beberapa potong kue kecil yang terlihat sangat rapi. “Aku sudah bilang, jangan sering-sering memberi aku makanan.”
Chen Luo tersenyum santai. “Kenapa? Kamu tidak suka?”
“Suka sih… tapi ini terlalu sering.”
“Kalau begitu anggap saja aku sedang membersihkan lemari dapur.”
Yinjia menatapnya dengan wajah datar. “Kamu pikir aku bodoh?”
Chen Luo tertawa pelan. Mereka sudah beberapa kali makan siang bersama. Awalnya hanya kebetulan, tapi lama-lama jadi kebiasaan.
Meski begitu, Yinjia tetap tidak terlalu banyak berpikir. Ia selalu merasa hubungan dengan orang lain sebaiknya tidak dibuat rumit.
Di sisi lain kantin, dua mahasiswi yang duduk beberapa meja dari mereka sedang memperhatikan. Salah satunya berbisik pelan.
“Dia lagi.”
“Siapa?”
“Lin Yinjia.”
Temannya menoleh sekilas. “Yang katanya dijodohkan sama keluarga Gu itu?”
“Ya.”
Nada suara mereka tidak terlalu pelan. Yinjia sebenarnya tidak ingin mendengar, tapi kata-kata seperti itu selalu sampai ke telinganya. Ia pura-pura tidak peduli dan mengambil satu potong kue.
Chen Luo memperhatikan ekspresinya. “Kamu dengar?”
Yinjia mengangguk sedikit. “Biasa saja.” Ia menggigit kue itu perlahan. Manis. Sama seperti biasanya. Namun pikirannya tidak benar-benar ada di sana.
Dua tahun lalu hidupnya berubah. Semua dimulai dari satu keputusan orang dewasa. Perjodohan.
—
Saat itu Yinjia baru lulus SMA.
Ia masih ingat malam ketika ayahnya memanggilnya ke ruang tamu.
Ayahnya, Lin Wei, bukan orang kaya. Ia hanya memiliki usaha kecil yang cukup untuk hidup sederhana. Namun ia selalu terlihat tenang dan hangat.
Ibunya, Mei Lan, duduk di sampingnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Yinjia,” kata ayahnya saat itu, “ada sesuatu yang ingin Ayah bicarakan.”
Yinjia duduk di depan mereka. Ia tidak tahu bahwa pembicaraan itu akan mengubah hidupnya. Ayahnya menjelaskan bahwa ia memiliki teman lama. Teman yang dulu berjuang bersama ketika mereka masih muda.
Sekarang teman itu telah menjadi konglomerat besar. Keluarga Gu. Dan karena hubungan persahabatan lama itu, mereka ingin menjodohkan anak-anak mereka.
Yinjia masih ingat bagaimana ia terdiam lama setelah mendengarnya. Ia bahkan sempat berpikir ayahnya sedang bercanda.
Namun ekspresi kedua orang tuanya terlalu serius untuk sebuah lelucon. “Ayah tidak memaksamu,” kata Lin Wei waktu itu. Namun Yinjia tahu itu tidak sepenuhnya benar. Dalam keluarga seperti mereka, keputusan seperti ini tidak pernah benar-benar sederhana.
Pada akhirnya ia mengangguk. Ia tidak mengatakan ya dengan penuh semangat. Tapi ia juga tidak menolak. Karena ia percaya pada ayahnya. Dan karena ia selalu berpikir… mungkin hidupnya memang akan berjalan seperti itu. Namun dua tahun kemudian, semuanya terasa jauh lebih rumit.
—
Yinjia tersadar dari lamunannya ketika ponselnya bergetar di meja. Nama yang muncul di layar membuat dadanya sedikit menegang.
Ibu.
Ia segera menjawab.
“Halo, Bu?”
“Yinjia, kamu sedang di kampus?”
“Iya.”
Di seberang sana terdengar suara ibunya yang lelah. “Ibu baru saja dari rumah sakit.”
Jantung Yinjia langsung terasa lebih berat. “Bagaimana Yichen?”
Beberapa detik hening.
“Masih sama.”
Yinjia menunduk.
Adiknya, Lin Yichen, baru berusia tujuh belas tahun ketika kecelakaan itu terjadi beberapa bulan lalu.
Sejak saat itu ia belum pernah sadar. Rumah sakit, obat-obatan, dokter spesialis. Semua membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dan sejak hari itu, Yinjia tidak pernah lagi berpikir tentang menolak perjodohan.
“Dokter bilang kita harus bersabar,” lanjut ibunya pelan.
“Iya.”
“Kamu jangan terlalu capek di kampus.”
Yinjia mengangguk meski ibunya tidak bisa melihatnya. Setelah panggilan berakhir, ia menatap meja cukup lama. Chen Luo memperhatikannya.
“Kabar dari rumah sakit?”
Yinjia mengangguk lagi. Chen Luo tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mendorong kotak kue itu sedikit lebih dekat. “Kalau kamu tidak makan, nanti aku ambil lagi.”
Yinjia tersenyum kecil. “Kamu aneh.”
“Mungkin.”
Mereka kembali makan dalam diam. Namun Yinjia tahu hidupnya tidak akan benar-benar tenang. Karena di luar sana ada seseorang yang selalu mengingatkannya tentang perjodohan itu.
Gu Zhenrui. Tunangan yang tidak pernah benar-benar menganggapnya penting.
—
Sore hari ketika Yinjia meninggalkan kampus, ia menemukan sesuatu di mejanya di ruang kelas. Sebuah kantong kecil. Di dalamnya ada roti isi dan minuman kemasan. Tidak ada catatan. Tidak ada nama.
Yinjia menghela napas pelan. Ini bukan pertama kalinya. Beberapa minggu terakhir selalu ada makanan kecil seperti ini di mejanya. Ia tidak pernah tahu siapa yang mengirimnya. Teman-temannya hanya bercanda bahwa mungkin ada penggemar rahasia. Yinjia tidak terlalu percaya.
Namun tetap saja, ia membawa kantong itu keluar kelas. Langit sudah mulai gelap ketika ia berjalan menuju halte bus. Hari itu terasa panjang. Kuliah, gosip kampus, panggilan dari rumah sakit. Semua bercampur di kepalanya. Bus datang beberapa menit kemudian. Saat duduk di dekat jendela, Yinjia menatap pantulan wajahnya di kaca. Gadis biasa. Sedikit lelah. Sedikit gugup. Dan sedikit takut tentang masa depan.
Namun untuk saat ini, Lin Yinjia masih menjalani hidupnya seperti biasa. Sebagai mahasiswi yang mencoba bertahan di antara kuliah, keluarga, dan masa depan yang belum jelas. Tanpa tahu bahwa langkah kecilnya hari ini akan membawanya ke dunia yang sama sekali berbeda.
Lin Yinjia selalu mengatakan bahwa rumahnya kecil. Bukan kecil dalam arti benar-benar sempit, tapi kecil jika dibandingkan dengan apartemen mewah milik keluarga Gu yang pernah ia lihat di foto-foto media sosial. Rumahnya hanyalah bangunan dua lantai di pinggir Shanghai yang sudah ditempati keluarganya sejak ia kecil.
Cat dindingnya tidak selalu rapi. Ada beberapa bagian yang mulai memudar. Tangga kayunya kadang berderit jika diinjak terlalu keras. Tapi bagi Yinjia, rumah itu selalu terasa hidup.
Pintu depan terbuka ketika ia mendorongnya dengan bahu sambil masih melepas sepatu.
“Aku pulang!” Suara langkah kaki cepat terdengar dari dapur. “Jiejie!”
Seorang remaja laki-laki berlari keluar sambil membawa sendok kayu di tangannya. Rambutnya sedikit berantakan, dan ada sedikit noda saus di pipinya.
Lin Yichen.
Adik laki-laki Yinjia yang baru berusia tujuh belas tahun. Yinjia menatapnya lalu tertawa kecil. “Kamu masak lagi?”
“Aku cuma bantu Mama,” jawab Yichen cepat. “Kamu terlambat hari ini.”
Yinjia menaruh tasnya di kursi dekat pintu.
“Kelompok tugas. Mereka ribut soal presentasi.”
“Berarti kamu yang akhirnya mengerjakan semuanya lagi.”
Yinjia meliriknya dengan mata menyipit. “Kamu kenapa bisa tahu?”
Yichen hanya mengangkat bahu sambil tersenyum nakal. Dari dapur, suara seorang wanita terdengar. “Yinjia, cuci tangan dulu sebelum makan!”
“Iya, Ma!” Ibunya, Mei Lan, muncul dari dapur dengan apron yang masih terikat di pinggangnya. Tangannya memegang piring besar berisi tumis sayur yang masih mengepul. Wajahnya terlihat lelah, tapi tetap hangat seperti biasa.
Mei Lan selalu seperti itu. Tidak pernah benar-benar terlihat santai, tapi juga tidak pernah terlihat marah. Ia meletakkan piring di meja makan kecil mereka. “Ayahmu belum pulang,” katanya.
Yinjia sudah mencuci tangan dan duduk di kursi. “Masih kerja?”
“Katanya ada lembur di toko.”
Ayahnya, Lin Wei, memiliki toko kecil yang menjual peralatan listrik rumah tangga. Bukan usaha besar, tapi cukup untuk menjaga keluarga mereka tetap hidup dengan layak.
Yinjia mengambil sumpit. “Aku bisa bantu di toko akhir pekan nanti.”
Mei Lan langsung menatapnya. “Kamu fokus kuliah saja.”
“Tapi—”
“Kamu mahasiswa universitas bagus, Yinjia,” kata ibunya pelan. “Itu sudah cukup membuat kami bangga.”
Yinjia tidak menjawab. Kadang kalimat itu membuatnya sedikit bersalah. Ia tahu orang tuanya bekerja keras agar ia bisa kuliah di universitas di Shanghai.
Di sisi lain, ia juga tahu ia bukan mahasiswa yang luar biasa. Ia sering gugup saat presentasi. Sering salah bicara. Dan kadang ceroboh dalam hal kecil.
Yichen duduk di kursi seberangnya sambil mengambil nasi. “Kak, hari ini ada cerita apa di kampus?”
“Tidak ada.”
“Kamu pasti bohong.”
Yinjia menghela napas panjang. “Baiklah, sedikit.”
Yichen langsung terlihat tertarik. “Cerita!”
“Di kelas pemasaran tadi aku salah menyebut nama dosen.”
Yichen langsung tertawa keras. “Kamu memanggilnya apa?”
“Aku bilang ‘Profesor Zhang’ padahal dia ‘Profesor Wang’.”
“Ya Tuhan.”
Mei Lan ikut tertawa kecil sambil menuangkan sup ke mangkuk mereka.
“Dia marah?”
“Tidak juga,” jawab Yinjia. “Dia cuma menatapku lama sekali.”
“Kalau aku jadi dia juga begitu,” kata Yichen.
Yinjia melempar sumpitnya ke arah adiknya.
“Diam kamu.”
Meja makan kecil itu dipenuhi suara tawa. Hal-hal seperti itu sering terjadi di rumah mereka. Tidak ada kemewahan. Tidak ada drama besar. Hanya percakapan sederhana, makanan hangat, dan kebiasaan lama yang membuat semuanya terasa aman.
Beberapa menit kemudian pintu depan terbuka. “Ah, akhirnya pulang.” Suara Lin Wei terdengar dari pintu. Ia masuk sambil melepas jaket tipisnya.
Pria itu berusia hampir lima puluh tahun, tapi wajahnya masih terlihat kuat meskipun ada garis lelah di sekitar matanya.
“Ayah!” Yichen berdiri dan membantu mengambil tasnya.
“Kamu makan dulu,” kata Mei Lan.
Lin Wei duduk di kursi kosong. “Aku hampir menutup toko ketika pelanggan terakhir datang,” katanya. “Lampu rumahnya rusak.”
Yinjia tersenyum. “Berarti ayah menyelamatkan rumah seseorang.”
Lin Wei tertawa pelan. “Kalau begitu ayah harus dibayar seperti pahlawan.”
Makan malam berlanjut dengan percakapan ringan. Yichen bercerita tentang latihan basketnya.
Mei Lan bercerita tentang tetangga baru di ujung jalan. Dan Yinjia hanya mendengarkan sambil sesekali menambahkan komentar.
Setelah makan selesai, Yinjia membantu mencuci piring. Air hangat mengalir di tangannya. bunya berdiri di sebelahnya sambil mengeringkan piring. “Kamu terlihat lelah,” kata Mei Lan.
“Sedikit.”
“Kuliah sulit?”
“Tidak juga.”
Mei Lan menatapnya sebentar. “Apakah keluarga Gu menghubungimu lagi?”
Yinjia berhenti sebentar. Pertanyaan itu selalu datang cepat atau lambat. “Belum,” jawabnya.
Ibunya tidak mengatakan apa-apa. Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Perjodohan itu sudah ada sejak dua tahun lalu. Keluarga Gu membantu toko ayahnya saat sedang kesulitan waktu itu.
Sebagai balasan, mereka membuat kesepakatan yang tidak pernah benar-benar dijelaskan secara rinci pada Yinjia. Ia hanya tahu satu hal.
Suatu hari nanti, ia akan menikah dengan Gu Zhenrui. Pria yang bahkan hampir tidak ia kenal.
“Ma,” kata Yinjia pelan.
“Hm?”
“Menurut Mama… apakah orang bisa menikah dengan seseorang yang tidak mereka kenal?”
Mei Lan tidak langsung menjawab. Ia menaruh piring terakhir di rak. “Kadang orang menikah bukan karena cinta,” katanya akhirnya. “Tapi karena waktu membuat mereka saling memahami.”
“Dan kalau tidak?”
Ibunya tersenyum kecil. “Kalau tidak, mereka belajar untuk kuat.”
Jawaban itu tidak benar-benar menenangkan. Tapi juga tidak membuatnya semakin takut. Yinjia mengeringkan tangannya dengan handuk.
Di ruang tamu, ayah dan Yichen sedang menonton berita sambil berdebat soal pertandingan basket. Suasana itu terasa sangat biasa. Sangat normal.
Yinjia berdiri di ambang pintu dapur dan memperhatikan mereka. Rumah kecil itu dipenuhi suara yang ia kenal sejak kecil. Tawa ayahnya. Komentar keras Yichen. Langkah ibunya yang sibuk. Ia selalu berpikir hidupnya akan terus seperti ini. Tenang. Sederhana. Hangat.
Ia tidak tahu bahwa beberapa minggu lagi semuanya akan berubah. Dan rumah yang terasa begitu aman itu akan menjadi tempat yang penuh kecemasan.
Lin Yinjia tidak pernah benar-benar memahami bagaimana perjodohan itu dimulai. Ia hanya tahu satu hal: dua tahun lalu hidup keluarganya hampir runtuh.
Saat itu ia masih mahasiswa baru. Hidupnya sederhana—kuliah, pulang, membantu ibunya memasak, lalu mengobrol dengan adiknya sampai larut malam. Segalanya terasa stabil.
Sampai suatu malam ayahnya pulang lebih lambat dari biasanya. Pintu rumah terbuka perlahan, dan Lin Wei masuk dengan langkah berat. Yinjia yang sedang belajar di meja makan langsung mengangkat kepala.
“Ayah?”
Biasanya ayahnya selalu menyapa lebih dulu. Tapi malam itu ia hanya berdiri di dekat pintu beberapa detik sebelum melepas sepatunya. Ibunya keluar dari dapur.
“Kamu makan dulu? Aku—”
“Tokonya hampir bangkrut.” Kalimat itu keluar begitu saja. Mei Lan langsung berhenti bergerak. Yinjia juga terdiam.
Lin Wei berjalan menuju kursi lalu duduk perlahan. Bahunya terlihat jatuh, seolah beban besar menekan punggungnya. “Ada distributor baru di daerah ini,” katanya pelan. “Mereka menjual barang lebih murah dari kita.”
Ia menggosok wajahnya dengan kedua tangan. “Banyak pelanggan pindah.”
Yinjia tidak tahu harus mengatakan apa. Toko kecil ayahnya adalah sumber penghasilan utama keluarga mereka. Jika toko itu benar-benar bangkrut, ia bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.
Mei Lan duduk di kursi sebelahnya. “Kita masih punya tabungan,” katanya mencoba tenang.
“Tiga bulan.” Hanya dua kata itu yang keluar dari mulut Lin Wei.
Tiga bulan. Setelah itu mereka tidak punya apa-apa. Ruangan menjadi sangat sunyi.
Yinjia menatap buku catatannya tapi tidak lagi melihat huruf-huruf di atas kertas. Saat itulah ia pertama kali benar-benar menyadari bahwa hidup bisa berubah sangat cepat.
Hari-hari berikutnya dipenuhi ketegangan. Ayahnya pulang semakin larut. Ibunya mulai menghitung pengeluaran rumah tangga dengan lebih ketat.
Yinjia diam-diam mencari pekerjaan paruh waktu. Ia bahkan sempat berpikir untuk berhenti kuliah. Tapi ia tidak pernah sempat mengatakannya.
Karena suatu sore seseorang datang ke toko ayahnya. Seorang pria dengan mobil hitam mahal yang tidak cocok dengan lingkungan sederhana di sekitar sana.
Namanya Gu Mingze. Ayah dari Gu Zhenrui.
Yinjia tidak hadir saat pertemuan pertama itu terjadi. Ia hanya tahu ceritanya dari ayahnya malam itu. “Keluarga Gu ingin membantu toko kita.”
Mereka sedang makan malam ketika ayahnya mengatakan itu. Yinjia menatapnya dengan bingung. “Membantu bagaimana?”
“Mereka menawarkan kerja sama distribusi.”
Yinjia tahu nama keluarga Gu. Hampir semua orang di Shanghai tahu. Perusahaan mereka memiliki jaringan bisnis besar—terutama di bidang ekspor impor.
“Kenapa mereka mau membantu kita?” tanya Yichen polos.
Ayah mereka tidak langsung menjawab. Ia menatap piringnya beberapa detik. Lalu berkata pelan. “Mereka punya satu syarat.”
Perut Yinjia tiba-tiba terasa tidak nyaman. “Syarat apa?”
Lin Wei mengangkat kepala dan menatapnya. “Perjodohan.” Kata itu jatuh di meja makan seperti benda berat. “Antara kamu dan anak mereka.”
Yinjia menatap ayahnya seolah tidak yakin ia mendengar dengan benar “Aku?”
“Iya.”
Mei Lan terlihat sama terkejutnya. “Apa maksud mereka?”
Lin Wei menghela napas panjang. “Anak mereka, Gu Zhenrui… seumuran dengan Yinjia. Mereka berpikir jika dua keluarga memiliki hubungan keluarga, kerja sama bisnis akan lebih kuat.”
Yichen langsung berseru. “Ini seperti drama!”
Tidak ada yang tertawa. Yinjia hanya duduk diam. Ia tidak mengenal Gu Zhenrui. Bahkan belum pernah melihat wajahnya. “Ini hanya pertunangan sementara,” kata Lin Wei cepat. “Kalian bisa menikah nanti setelah lulus kuliah.”
“Tapi… kenapa aku?” bisik Yinjia.
Ayahnya menatapnya dengan mata lelah. “Karena mereka memilihmu.”
Kalimat itu terdengar aneh. Seolah hidupnya baru saja dipilih orang lain. Beberapa hari kemudian keluarga Gu mengundang mereka makan malam. Restoran yang mereka pilih berada di pusat kota.
Begitu masuk, Yinjia langsung merasa tidak nyaman. Lampu gantung kristal. Meja marmer. Pelayan berpakaian rapi yang berbicara sangat sopan. Ia bahkan merasa pakaiannya terlalu sederhana untuk tempat itu. Ayahnya terlihat sama gugupnya.
Ketika pintu ruang VIP terbuka, Yinjia melihat mereka untuk pertama kali. Gu Mingze duduk di kepala meja. Pria paruh baya dengan wajah tegas dan pakaian mahal. Di sebelahnya duduk seorang wanita elegan—istrinya.
Dan di kursi dekat jendela duduk seorang pria muda yang sedang memainkan ponselnya. Gu Zhenrui. Itu pertama kalinya Yinjia melihat calon tunangannya.
Pria itu tampan. Tinggi. Wajahnya tajam dengan ekspresi yang sulit dibaca. Tapi ada sesuatu dalam cara ia duduk yang membuat Yinjia merasa tidak nyaman.
Ia terlihat… bosan. Seolah berada di sana hanyalah kewajiban. Ketika mereka masuk, Gu Mingze berdiri menyambut. “Tuan Lin.”
Mereka berjabat tangan. Perkenalan berlangsung formal. Saat akhirnya giliran Yinjia, Zhenrui baru mengangkat kepala dari ponselnya. Matanya menatap Yinjia sebentar.
Lalu kembali ke layar. “Halo,” katanya singkat. Tidak ada senyum. Tidak ada ketertarikan. Hanya formalitas.
Selama makan malam, sebagian besar percakapan terjadi antara orang tua mereka. Tentang bisnis. Tentang masa depan. Tentang kerja sama.
Yinjia hampir tidak berbicara. Beberapa kali ia merasa Zhenrui menatapnya. Bukan dengan rasa ingin tahu. Lebih seperti seseorang yang sedang menilai barang.
Setelah makan selesai, Gu Mingze berkata dengan tenang. “Anak-anak sebaiknya berbicara sebentar.” Yinjia dan Zhenrui keluar ke balkon restoran.
Malam di Shanghai penuh lampu kota. Tapi suasananya terasa canggung. Zhenrui menyandarkan punggungnya di pagar balkon. “Jadi,” katanya.
“Kamu yang akan jadi tunanganku.” Cara bicaranya terdengar santai. Terlalu santai untuk topik seperti itu.
Yinjia menggenggam tangannya sendiri. “Aku juga baru tahu.”
Zhenrui tertawa kecil. “Tenang saja.”
Ia memasukkan tangan ke saku celananya. “Aku juga tidak terlalu peduli.” Kalimat itu membuat Yinjia menatapnya. “Kalau begitu kenapa kamu setuju?”
“Karena ini menguntungkan keluarga.” Ia mengangkat bahu. “Dan ayahku tidak suka ditolak.” Jawaban yang sangat jujur. Dan sangat dingin.
Zhenrui menatapnya lagi. “Kamu terlihat gugup.”
“Aku memang gugup.”
Ia mengangguk pelan. “Biasakan saja.”
Angin malam berhembus pelan. Lampu kota Shanghai menyala di kejauhan. Saat itu Yinjia tidak tahu bahwa keputusan yang diambil malam itu akan mempengaruhi hidupnya selama bertahun-tahun. Ia hanya tahu satu hal.
Mulai hari itu, ia memiliki seorang tunangan yang hampir tidak ia kenal. Dan perasaan tidak nyaman di perutnya tidak pernah benar-benar hilang.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!