Indonesia
NovelToon NovelToon

Suami Untuk Shanum

Indra, Apa Maksud Kamu?

"Kamu ini gimana sih Shanum, lihat anaknya Bu Lasmi padahal baru lulus SMA loh, tapi udah nikah. Kamu ini udah mau 30 tahun belum juga nikah, di desa ini yabg belum nikah perempuannya cuma kamu loh," ucap Bu Febby.

"Belum ada jodohnya. Bu," ucap perempuan bernama Shanum.

"Makanya kamu cari, jangan kerja terus," ucap Bu Sekar.

"Saya tidak buru-buru, Bu," jawab Shanum.

"Kamu harus segera menikah, ingat Shanum perempuan itu tujuan hidupnya menikah dan melayani suami. Kalau anak saya kan cowok, jadi dia terserah umur berapa aja nikah, tapi kalau perempuan umur 21 tahun harus sudah menikah," ucap Bu Sekar.

"Benar, Bu. Kamu itu aib di keluarga kamu, karena cuma kamu yang belum menikah," ucap Bu Lasmi.

"Anak saya umur 22 tahun udah nikah," ucap Bu Vita.

"Tapi, hamil di luar nikah, Bu," ucap Shanum.

"Yang penting dia udah nikah, daripada kamu udah tua belum juga nikah. Ingat Shanum, kamu itu satu-satunya perempuan di desa ini yang belum menikah," ucap Bu Vita.

"Astaghfirullah," gumam Shanum.

"Halah, sok suci kamu," ucap Bu Sekar.

"Lagian kamu juga orangnya gak asik, dulu Raka deketin kamu malah kamu tolak. Sekarang, Raka nikahnya sama Gea teman kamu dan sekarang mereka hidup bahagia di Jakarta," ucap Bu Lasmi.

"Ini, Bu. Uangnya pas ya 28 ribu," ucap Shanum dan memberikan uangnya pada Bu Lasmi lalu Shanum pun melangkah pergi dari warung tersebut.

Shanum, gadis desa yang berumur 29 tahun dan belum menikah. Bagi para tetangganya, Shanum adalah aib keluarga karena diumur yang sudah terbilang dewasa belum juga menikah. Shanum bukan hanya dianggap aib oleh para tetangganya, tapi keluarganya juga terutama Ayah dan Ibunya.

Shanum bekerja di salah satu toko peralatan alat sekolah, ia hanya lulusan SMA sehingga sulit bagi Shanum untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar.

Beberapa saat kemudian, Shanum sampai di rumah sederhananya, dimana cat tembok sudah berjamur dan mengelupas lalu lantai rumah yang hanya berupa semen kasar dan sudah mulai retak di beberapa sudut, memberikan kesan dingin dan lembap.

Tidak ada sofa empuk untuk melepas lelah, yang ada hanyalah kursi kayu tua yang jalinan rotannya sudah banyak yang putus. ​Shanum berjalan menuju dapur yang masih berdinding anyaman bambu, di sela-sela anyaman itu angin malam seringkali masuk tanpa permisi dan membawa hawa dingin yang menusuk tulang.

Jangankan kompor gas yang modern, Shanum masih harus bergelut dengan kepulan asap dari tungku kayu bakar setiap kali ingin memasak, tidak ada barang elektronik canggih di rumah Shanum kecuali mixer karena Shanum suka membuat kue dan kadang-kadang ia menerima pesanan juga.

​"Baru pulang kamu?" Tanya Bapak Tono yang mengejutkan Shanum.

"Iya, Pak. Habis beli beberapa bumbu," ucap Shanum.

Bapak Tono duduk di amben kayu sambil melinting tembakau, "Tadi Bapak ketemu Pak Ikhsan, anaknya baru saja lamaran. Kamu kapan? Malu Bapak setiap lewat pos ronda ditanya terus soal kamu," ucap Bapak Tono.

​Shanum menghela napas panjang dan meletakkan belanjaannya di atas meja dapur yang kusam, "Sabar, Pak. Shanum juga lagi berusaha," jawab Shanum.

​"Berusaha apa? Kerja terus di toko itu? Gaji nggak seberapa, nggak bisa dandan, siapa yang mau melirik?" ucap Ibu Laila yang muncul dari balik tirai kamar yang sudah pudar warnanya.

"Tapi, kalau Shanum gak kerja. Sekolah Diva sama Pandu gimana, Bu?" tanya Shanum.

"Ya kamu cari suami kaya dong," ucap Ibu Laila.

"Shanum hanya lulusan SMA, Bu. Paras Shanum juga biasa-biasa aja, Shanum hanya realistis," ucap Shanum.

"Makanya jangan sok alim, besok anaknya keponakannya Pak Rudi dari Pacitan datang, kamu coba kenalan sama dia. Awas aja kalau sampai kamu malu-maluin Ibu," ucap Ibu Laila, dengan menatap tajam Shanum.

"Sudah masak sana, Ibu udah lapar," lanjut Ibu Laila dengan nada ketus sebelum kembali masuk ke dalam kamar.

​Shanum terdiam di depan tungku, kata-kata ibunya terasa lebih panas dari api yang mulai ia nyalakan. Selama ini, gajinya yang kecil dari toko peralatan sekolah habis untuk membayar biaya sekolah Diva yang kelas 2 SMA dan Pandu yang kelas 2 SD.

Namun, pengorbanan itu seolah tidak terlihat di mata orang tuanya hanya karena Shanum belum menikah.

Shanum memasak dengan sisa-sisa tenaga yang ada, air matanya nyaris jatuh saat asap dari tungku kayu bakar menusuk matanya, namun ia buru-buru menyekanya dengan ujung hijabnya.

Shanum tidak boleh menangis, karena jika ia menangis, suaranya akan terdengar oleh ibunya dan hanya akan memancing omelan baru.

​Setelah makan malam yang sunyi, Shanum pergi ke sudut dapur dan menatap satu-satunya barang berharga miliknya, sebuah mixer yang ia beli dari hasil menabung selama satu tahun.

"Apa perempuan yang umurnya diatas 25 tahun dianggap aib kalau belum menikah? Tapi, kenapa kalau pria yang belum menikah dianggap wajar?" gumam Shanum.

Shanum tidak kuat tinggal di desa yang masih kental dengan tradisi bergosipnya, namun Shanum tidak bisa berbuat apa-apa karena Shanum tidak memiliki tujuan lain selain disini.

Keesokan harinya, keponakan Pak Rudi yang bernama Indra datang berkunjung. Harapan Ibu Laila begitu tinggi, ia bahkan meminjam taplak meja milik tetangga agar ruang tamu mereka tidak terlihat terlalu menyedihkan.

Namun, sepanjang pertemuan, Indra terus-menerus memperhatikan dinding rumah Shanum yang berjamur dan lantai semen yang retak dengan tatapan merendahkan.

​Shanum hanya menunduk, menyajikan teh hangat dan keripik singkong buatannya sendiri. Shanum tidak banyak bicara, ia hanya menjawab seperlunya ketika ditanya.

​"Maaf, sebelumnya. Tapi, saya tidak mau basa basi, jadi sepertinya saya tidak bisa melanjutkan ini. Saya cari istri yang penampilannya yang cantik dan pintar, saya tidak tertarik karena latar belakang pendidikannya cuma SMA, nanti saya malu kalau ditanya teman-teman saya," ucap Indra.

"Indra, apa maksud kamu? Paman kan sudah bilang kondisi Shanum sebelumnya dan kamu gak masalah," tanya Pak Rudi.

"Awalnya Indra pikir gak akan parah Paman, tapi lihat rumahnya, buruk sekali. Indra gak mau menikah dengan orang miskin, Indra ini pns Paman, Indra takut dimanfaatkan. Kalau begitu, Indra pergi Paman," ucap Indra lalu pergi tanpa berpamitan pada pemilik rumah.

"Laila, Tono, Shanum. Maafkan Indra, dia orangnya memang cukup frontal, kalau begitu saya susul Indra dulu," ucap Pak Rudi dan pergi meninggalkan rumah tersebut.

Shanum tentu saja merasa sedih, meskipun Shanum sering mendapat hinaan. Tapi, tetap saja rasa sedihnya selalu ada jika mendengar perkataan hina orang-orang.

Begitu Pak Rudi dan Indra pergi meninggalkan rumahnya, amarah Ibu Laila langsung meledak, ia membanting gelas plastik di atas meja hingga airnya tumpah ke lantai semen.

​"Dasar anak tidak berguna!" teriak Ibu Laila dengan suaranya yang melengking hingga mungkin terdengar ke rumah tetangga.

"Kamu sengaja kan? Kamu sengaja pasang muka cemberut begitu supaya Indra tidak suka? Kamu lihat sendiri bahkan duda saja menolak kamu karena kamu tidak cantik dan pintar!" bentak Ibu Laila.

"Bu, Shanum tidak melakukan apa-apa. Shanum sudah dandan sebisanya," ucap Shanum lirih.

​"Alasan! Kamu itu pembawa sial, Shanum! Gara-gara kamu belum nikah, keluarga kita jadi bahan tertawaan. Sekarang keponakan Pak Rudi menolak kamu, besok berita ini pasti menyebar ke seluruh desa. Mau taruh di mana muka Ibu?" maki Ibu Laila hingga wajahnya merah padam.

Bapak Tono hanya diam, tidak membela, malah ikut mendengus kecewa sambil terus mengisap tembakaunya.

​"Dasar perawan tua, gak laku-laku, bisanya bikin malu orangtua terus!" ucap Ibu Laila dengan kasar sebelum masuk ke kamar dan membanting pintu dengan keras.

​Shanum berdiri mematung di tengah ruangan, Shanum menatap sekeliling rumah lalu menatap foto adik-adiknya. Semua kebutuhannya ia nomor duakan demi sekolah mereka, tapi di rumah ini, nilainya hanya diukur dari apakah ada laki-laki yang mau mengambilnya atau tidak.

.

.

.

Bersambung.....

Boleh, Pak.

Pagi harinya, langit mendung seolah ikut merasakan beratnya langkah kaki Shanum menuju toko peralatan sekolah. Namun, mendungnya langit tak seberapa dibandingkan tajamnya lisan orang-orang yang ia temui di sepanjang jalan.

​"Eh, lihat itu si Shanum. Katanya kemarin ditolak lagi ya sama keponakannya Pak Rudi?" ucap Bu Febby yang sedang menyapu halaman, namun suaranya sengaja dikeraskan.

​"Iya, denger-dengar si Indra itu sampai ilfeel lihat mukanya yang kusam. Ya jelaslah, mana ada laki-laki yang mau kalau perempuannya nggak bisa dandan," ucap Bu Vita yang kebetulan lewat.

Shanum mempercepat langkahnya, mencoba menulikan telinga. Namun, sesampainya di toko, keadaan tidak menjadi lebih baik, beberapa teman-temannya sekolah yang sudah menikah sejak usia belasan tahun sedang asyik berkumpul di dekat rak buku bersama anak-anak mereka.

​"Duh, Shanum... sabar ya. Makanya, kalau ada yang mau itu jangan jual mahal. Akhirnya apa? Malah ditolak duluan kan sekarang," ucap Maya sambil tertawa kecil dan memamerkan cincin emas di jarinya.

​"Iya, Shanum. Kamu itu jangan terlalu fokus kerja. Fokus tuh ke muka sama badan. Laki-laki itu lihatnya visual dulu, kalau sudah hampir 30 begini dan belum laku, nanti malah jadi karatan loh," ejek Ika tanpa perasaan.

​Shanum hanya diam, ia mulai menata tumpukan buku tulis ke rak dengam tangan yang sedikit gemetar. "Saya ke sini untuk bekerja, bukan untuk bahas urusan pribadi," ucap Shanum mencoba tegas, meski suaranya sedikit serak.

​"Halah, dibilangin malah nyolot. Pantas saja Raka dulu lebih milih Gea, kamu sih orangnya kaku, mana sok banget lagi," cibir Maya sambil berlalu.

Sepanjang jam kerja, ejekan itu terus mengalir dan setiap ada pelanggan masuk yang mengenalnya pasti mereka selalu menyisipkan pertanyaan kapan nikah atau tatapan kasihan yang justru terasa seperti hinaan.

​Puncaknya adalah saat jam istirahat, Shanum duduk di gudang belakang sendirian dan ia mengeluarkan ponsel jadulnya lalu melihat pesan masuk dari Diva.

Mbak, Ibu marah-marah terus dari tadi pagi. Buku Diva belum dibayar, Ibu bilang minta uangnya ke Mbak.

^^^Iya, nanti Mbak kasih^^^

Maaf ya, udah ngerepotin Mbak Shanum.

^^^Gapapa kamu belajar yang rajin ya biar bisa sukses.^^^

Iya, Mbak.

​Setitik air mata jatuh mengenai layar ponselnya, Shanum merasa sesak yang luar biasa. Shanum sudah memberikan seluruh gajinya, ia sudah merelakan masa mudanya, namun status belum menikah membuatnya dianggap lebih rendah dari sampah di mata semua orang bahkan keluarganya sendiri.

Shanum pun kembali bekerja seperti biasanya, ditengah kesibukannya Pak Heru pemilik toko datang menghampiri Shanum.

"Shanum," panggil Pak Heru.

"Iya, Pak. Ada apa?" tanya Shanum.

"Bapak dengar, kamu baru ditolak sama keponakannya Pak Rudi?" tanya Pak Heru.

"Iya, Pak," jawab Shanum.

"Begini, Bapak punya kenalan. Insyaallah dia pria baik, apa kamu mau kenalan sama pria itu?" izin Pak Heru.

"Apa pria itu mau sama Shanum, Pak?" tanya Shanum.

"Bapak juga kurang tahu, namanya Fajar. Dia asli Surabaya, tapi dia sekarang tinggal di Klaten," ucap Pak Heru.

"Boleh, Pak," ucap Shanum.

"Alhamdulillah, nanti Bapak suruh dia kesini ya biar kalian ketemuan langsung," ucap Pak Heru dan diangguki Shanum.

"Terima kasih, Pak," ucap Shanum.

"Iya, sama-sama," ucap Pak Heru.

Sore harinya, saat matahari mulai tergelincir dan Shanum bersiap untuk menutup toko, Pak Heru mendekatinya dengan wajah yang tampak tidak enak hati, beliau menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil berdeham pelan.

​"Shanum... soal yang tadi pagi Bapak bilang," ucap Pak Heru menggantung kalimatnya dan membuat jantung Shanum berdegup sedikit lebih kencang.

"I-itu, si Fajar barusan telepon Bapak. Ternyata dia baru saja jujur kalau sebenarnya dia sudah lama menaruh hati pada perempuan lain di Klaten dan sepertinya mereka mau serius," lanjut Pak Heru.

​Shanum terdiam sejenak, namun bukannya merasa sedih atau hancur, ia justru merasa ada beban yang terangkat dari pundaknya dan tidak ada lagi harapan orang lain yang harus ia pikul.

​"Oh, begitu ya, Pak. Alhamdulillah kalau Mas Fajar sudah punya pilihan, tidak apa-apa, Pak. Terima kasih sudah berniat baik membantu saya," jawab Shanum dengan senyum tipis yang tulus.

​"Kamu beneran tidak apa-apa, Shanum? Bapak jadi merasa tidak enak sudah memberi harapan," ucap Pak Heru merasa bersalah.

​"Sama sekali tidak apa-apa, Pak. Mungkin memang belum waktunya," balas Shanum singkat.

Sore harinya, Shanum pun memutuskan untuk pulang. Biasanya ia pulang jam 2 siang, namun kali ini ia pulang jam 5 sore karena banyaknya barang datang.

Selaam perjalanan, Shanum sering melamun hingga ia bertemu dengan Mbak Dyah yang merupakan orang terpandang di desa.

"Mbah, kenapa Mbah ada disini?" tanya Shanum.

"Ini, tadi saya habis beli sesuatu. Dan sekarang menunggu jemputan," ucap Mbah Dyah.

"Kita duduk di sana itu aja ya, Mbah. Ayo saya temani," ajak Shanum dengan menunjuk warung yang tutup.

Mbah Dyah pun menganggukkan kepalanya dan mereka pergi ke tempat yang dimaksud Shanum, "Mbah sendirian? Mbah Wira gak ikut?" tanya Shanum.

"Mbah Wira lagi sibuk sama sawahnya," ucap Mbah Dyah.

Mbah Dyah saat ini tinggal dengan suaminya yaitu Mbah Wira dan juga anak bungsunya Pak Panji, sedangkan tiga anak lainnya sudah merantau di kota dan menjadi orang sukses, tidak ada yang gagal.

Bahkan Pak Panji sendiri saat ini sukses dengan usaha restoran dan sudah memiliki banyak cabang. Kekayaan Mbah Dyah dan Mbah Wira tidak bisa dijabarkan lagi, Mbah Dyah dan Mbah Wira sudah kaya sejak dulu bahkan sebelum anak-anaknya sukses.

Ini adalah pertama kalinya Shanum mengobrol dengan langsung dengan Mbah Dyah, Shanum begitu terkesima. Walaupun umur Mbah Dyah tidak muda, tapi beliau tetap cantik dan begitu anggun.

Mbah Dyah memperhatikan Shanum dengan seksama. Di balik wajah lelah gadis itu, Mbah Dyah menangkap sinar ketulusan yang jarang ia temukan pada gadis-gadis desa lainnya yang biasanya hanya bersikap manis di depannya karena memandang status sosial keluarganya.

"Nama kamu siapa?" tanya Mbah Dyah lembut, suaranya tenang namun berwibawa.

"Nama saya Shanum, Mbah," jawab Shanum.

"Shanum? Saya kok nggak pernah denger ya, siapa orangtua kamu?" tanya Mbah Dyah.

"Ayah saya Tono, Mbah. Yang rumahnya dekat pertigaan sawah," jawab Shanum.

"Tono? Oh yang jualan di pasar itu ya?" tanya Mbah Dyah.

​"Iya, Mbah," jawab Shanum sambil menunduk sopan.

"Maaf kalau lancang, apa Mbah sudah mencoba telepon Pak Panji atau Pak Wira? Hari sudah mau maghrib, hawanya mulai dingin," tanya Shanum.

​Mbah Dyah tersenyum tipis, ia merapatkan selendang batiknya. "Sudah, tapi mungkin mereka sedang di jalan. Kamu sendiri kenapa baru pulang jam segini? Perempuan sendirian lewat jalan sepi begini bahaya," tanya Mbah Dyah.

"Tadi banyak barang datang di toko, Mbah. Jadi harus diselesaikan dulu," jawab Shanum jujur.

"Kamu anak yang rajin, jarang ada anak muda sekarang yang mau kerja keras, mereka maunya kerja yang instan aja," puji Mbah Dyah, lalu terdiam sejenak dan menatap jari-jemari Shanum yang kasar karena sering terkena kayu bakar dan air cucian.

.

.

.

Bersambung.....

Pak Agus Yang Mana?

Mobil hitam mewah berhenti tepat di depan Shanum dan Mbah Dyah, hingga seorang pria paruh baya turun dengan wajah pucat pasi karena ketakutan.

​"Aduh, maaf Mbah Putri! Tadi ban belakang bocor jauh dari sini, sinyal hp saya mati total jadi tidak bisa mengabari. Mohon maaf sekali membuat Mbah menunggu lama," ucap sang sopir sambil membungkuk berkali-kali.

​Mbah Dyah hanya menghela napas pendek lalu menoleh ke arah Shanum yang sudah berdiri untuk berpamitan, "Tidak apa-apa, Man. Untung ada Shanum yang menemani saya di sini," ucap Mbah Dyah.

​"Kalau begitu, Shanum pamit pulang dulu ya, Mbah. Sudah mau magrib," ucap Shanum lembut sambil mencium punggung tangan Mbah Dyah dengan takzim.

​"Tunggu, Shanum. Biar sopir saya antar kamu sampai depan rumah, hari sudah gelap," tawar Mbah Dyah.

​Shanum menggeleng pelan sambil tersenyum tulus, "Tidak usah, Mbah. Rumah saya masuk gang kecil, mobilnya susah masuk. Lagipula saya sudah biasa jalan kaki. Mari, Mbah," pamit Shanum.

​Mbah Dyah menatap punggung Shanum yang menjauh hingga gadis itu hilang di tikungan jalan, ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Di desa yang penuh dengan lidah tajam ini, ia tahu persis bagaimana nasib Shanum yang sering dijadikan bahan gunjingan. Namun, ketenangan gadis itu saat menghadapi situasi sulit membuat Mbah Dyah terkesan.

"Andai Shanum menjadi keluargaku, pasti aku senang sekali," gumam Mbah Dyah.

​Shanum melangkah cepat menyusuri jalan setapak menuju rumahnya. Azan Magrib mulai berkumandang dari musala kejauhan, menyatu dengan suara jangkrik yang mulai bersahutan. Pikirannya tidak tenang, bukan karena omongan tetangga, melainkan karena ia tahu di balik pintu rumah itu, ada badai yang siap menyambutnya.

​Benar saja, begitu kakinya menginjak teras, suara Ibu Laila sudah menggelegar dari arah dapur.

​"Bagus ya! Jam segini baru pulang! Sengaja kamu biar nggak bantu masak? Biar Ibu mati kecapekan melayani Bapakmu dan Adik-adikmu?" bentak Ibu Laila tanpa menoleh, tangannya sibuk mengaduk panci dengan kasar.

​"Maaf, Bu. Tadi di toko banyak barang datang, terus tadi Shanum nemenin Mbah Dyah buat nunggu jemputan," jawab Shanum pelan sambil meletakkan tasnya di atas kursi kayu.

​Mendengar nama jawaban Shanum, Ibu Laila mendadak menghentikan kegiatannya dan berbalik dengan mata memicing.

"Mbah Dyah? Ngapain kamu sama Mbah Dyah? Jangan mimpi ketinggian, Shanum. Orang kaya kayak mereka mana mungkin ngelihat kita, palingan kamu cuma dianggap tukang pijat atau pesuruh!" ucap Ibu Laila.

​Shanum hanya menghela napas, tidak berniat membantah dan memilih masuk ke kamar mandi yang hanya berbataskan seng karatan untuk membersihkan diri. Di bawah guyuran air sumur yang dingin, Shanum memejamkan mata dan teringat tatapan lembut Mbah Dyah tadi. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ada orang yang menatapnya sebagai manusia, bukan sebagai barang yang tidak laku.

.

Keesokan harinya, ​Suasana di warung Bu Lasmi lebih riuh dari biasanya. Aroma kopi tubruk bercampur dengan bau ikan asin yang digoreng menciptakan atmosfer khas pedesaan yang kental dengan obrolan hangat atau lebih tepatnya gosip panas. Ibu Laila berdiri di pojok warung, jemarinya sibuk memilah kangkung yang sudah agak layu, sementara telinganya panas mendengar bisik-bisik di sekitarnya.

​"Eh, Bu Laila," sapa Bu Lasmi sambil menimbang gula pasir.

"Iya, Bu," balas Ibu Laila.

"Gimana itu si Shanum? Katanya kemarin lusa keponakannya Pak Rudi datang, tapi nolak buat dijodohin sama Shanum? Duh, sayang banget ya, padahal katanya keponakannya Pak Rudi itu pns loh," ucap Bu Lasmi.

​Wajah Ibu Laila mendadak merah padam, karena malu. "Iya, Bu. Mungkin belum jodohnya," jawab Ibu Laila.

​Bu Vita yang sedang menggendong cucunya ikut menimpali, "Belum jodohnya gimana sih, Bu. Orang Shanum itu kaku banget dan suka pilih-pilih, harusnya kalau sudah umur segitu, ya terima aja yang ada aja, nggak usah pilih-pilih," ucap Bu Vita.

​Ibu Laila menghela napas kasar, dadanya sesak oleh rasa malu yang menumpuk. "Saya juga bingung harus bagaimana, masalahnya memang belum ada yang mau sama Shanum," ucap Ibu Laila.

​Bu Lasmi menghentikan kegiatannya sebentar lalu mendekat ke arah Ibu Laila dengan tatapan penuh rahasia. "Begini loh, Bu Laila. Daripada Bu pusing sendiri, kenapa nggak minta tolong sama Pak Agus aja," saran Bu Lasmi

​"Pak Agus? Pak Agus yang mana?" tanya Ibu Laila heran.

​"Loh, Pak Agus yang tinggal di dekat balai desa itu loh! Dia kan memang dikenal sebagai mak comblang sakti di kampung kita. Sudah banyak itu anak-anak gadis yang ketemu jodoh lewat tangan dia. Pak Agus itu koneksinya luas sampai ke luar kecamatan," jelas Bu Lasmi dengan semangat.

​"Iya, bener itu!" timpal Bu Sekar yang baru datang.

"Anaknya sepupu saya satu bulan lalu minta dicarikan jodoh sama Pak Agus dan sekarang suaminya juragan material di kota. Pak Agus itu kalau nyariin orang nggak sembarangan, dilihat dulu bibit, bebet, bobotnya. Tapi ya gitu, biasanya yang minta tolong harus bawa tanda terima kasih yang pantas," lanjut Bu Sekar.

​Mendengar perkataan Bu Sekar, mata Ibu Laila langsung berbinar dan membayangkan beban ekonominya terangkat jika Shanum mendapatkan suami kaya. Ibu Laila tidak peduli siapa pria itu, yang penting Shanum segera keluar dari rumah dan tidak lagi menjadi bahan tertawaan tetangga.

​"Apa benar Pak Agus bisa bantu cariin suami untuk Shanum?" tanya Ibu Laila memastikan.

​"Bisa banget, Bu. Tapi ya itu, Bu Laila harus ada inisiatif. Datangi rumahnya Pak Agus, bawa hantaran sedikit lalu ceritakan kondisi Shanum. Pak Agus itu orangnya disegani, omongannya didengar laki-laki mana saja," ucap Bu Lasmi meyakinkan.

​Ibu Laila mengangguk mantap, "Ya sudah, nanti sore saya ke sana. Saya sudah nggak tahan lihat muka Shanum di rumah, tiap hari kerjanya cuma bikin saya darah tinggi," balas Ibu Laila.

.

Sore harinya, tanpa sepengetahuan Shanum, Ibu Laila benar-benar menjalankan niatnya dan mengambil tabungan simpanan hasil jualan sayur yang seharusnya digunakan untuk membayar SPP Pandu bulan depan lalu membelikan satu keranjang buah dan biskuit kaleng sebagai pelicin untuk Pak Agus.

​Rumah Pak Agus nampak asri dengan pohon mangga yang rimbun di depannya. Di teras, lelaki tua yang selalu mengenakan peci hitam itu sedang asyik menyesap kopi.

​"Eh, Bu Laila. Tumben sekali mampir, ada angin apa ini?" tanya Pak Agus dengan senyum ramah yang penuh arti.

​Ibu Laila meletakkan hantarannya di atas meja plastik, "I-itu, Pak Agus. Saya mau minta tolong, ini soal si Shanum," ucap Ibu Laila sambil mendekat.

​Pak Agus mengangguk-angguk paham, ia sudah sering mendengar selentingan tentang putri sulung Ibu Laila itu. "Oalah, si Shanum yang belum menikah itu ya? Memangnya kenapa, Bu? Shanum itu rajin loh, saya sering lihat dia lewat kalau berangkat kerja," tanya Pak Agus sekadar basa basi.

.

.

.

Bersambung.....

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!