Indonesia
NovelToon NovelToon

DUDA GILA Vs PERAWAN TUA

01

.

“Tolong…! Siapapun tolong aku…!”

Amanda terus berlari. Napasnya memburu membuat dadanya terasa sesak. Keringat dingin membasahi kulitnya. Debu beterbangan di belakangnya, jejak pelariannya yang tergesa. Amanda melirik ke belakang sekali lagi, empat pria berbadan besar itu masih membuntuti dengan jarak yang semakin dekat.

Setitik harapan muncul saat terlihat di depannya, sebuah mobil mewah berwarna merah tua tampak hendak melaju keluar dari parkiran taman. Dengan cepat, Amanda berlari menuju mobil itu, hingga jarak tinggal sejengkal. Dengan satu tarikan napas panjang, ia melompat, tubuhnya berguling melampaui atas kap mobil, lalu mendarat tepat di samping pintu bagian penumpang.

Tok… tok…tok..

Dengan penuh harap, Wanita itu mengetuk kaca mobil. Tampak olehnya seorang pria membuka kaca. Sebagian rambutnya yang telah memutih, menunjukkan usianya yang tak lagi muda. Namun, terlihat jelas olehnya sisa-sisa ketampanan masa muda.

“Ada apa?!" Wajah pria itu yang terlihat kesal membuat Amanda merasa bersalah.

“Tolong saya, mereka mengejar saya,” ucap Amanda, sambil menunjuk ke arah empat pria yang semakin dekat.

Pria itu menoleh mengikuti arah telunjuk Amanda. Tampak ragu sebentar, tapi akhirnya membuka pintu, mengambil jas dan dasinya yang berada di jok di sampingnya, lalu melempar ke jok belakang. Membiarkan Amanda duduk. Amanda bernapas lega.

Tok… tok… tok…

Suara ketukan di kaca mobil membuat Amanda menegang. Buru-buru wanita itu melorot menyembunyikan diri di bawah kursi sebelum pemilik mobil menurunkan kaca.

“Apa Anda melihat seorang wanita berlari ke arah sini?” Salah satu dari empat pria itu bertanya.

Pria itu jelas tahu siapa yang dimaksud. “Oh, orang gila yang rambutnya acak-acakan tadi? Aku lihat tadi dia lari ke arah sana,” jawabnya, menunjuk ke arah yang berlawanan.

Salah seorang preman melongok memeriksa ke dalam mobil dan tak mendapati siapapun. Dengan isyarat tangannya, preman itu pun memberi kode pada tiga temannya untuk melanjutkan pencarian.

“Dasar orang-orang tidak tahu terima kasih!” gerutu pemilik mobil setelah mereka pergi. Menarik tuas mobil dan melaju meninggalkan tempat itu.

Amanda yang bersembunyi di bawah, antara kursi dan dasbor, perlahan kembali ke tempat duduknya dengan jantung yang masih berdebar kencang.

“Hufttt…” Amanda membuang udara melalui mulut. Dadanya terasa plong. "Selamat,” gumamnya.

Ckiittt…

Mobil berhenti mendadak! Membuat Amanda terkejut hingga kepalanya membentur dasbor.

“Apa yang kau lakukan di mobilku?” Pemilik mobil bertanya dengan suara keras. Dia baru menyadari keberadaan wanita dalam mobilnya. Dia bahkan mengira wanita itu orang gila.

Amanda terdiam. Ia tidak tahu apa maksud pria itu. Apakah mungkin dia lupa kalau dia telah menolongnya. Wanita itu menghela nafas panjang. Sepertinya masalahnya belum berakhir.

“Anda yang tadi menyuruh saya masuk!” jawab Amanda pelan.

Pria itu memang tak secara eksplisit meminta dirinya masuk, tapi saat dirinya mengetuk kaca mobilnya, memohon pertolongan saat dikejar, pria itu membuka pintu. Bukankah itu sama saja?

“Aku tidak akan menyuruhmu masuk kalau kau tidak mengetuk pintu dan merengek,” sergah pria itu.

“Saya juga tidak akan masuk jika Anda tidak membuka pintu." Lelah yang melanda membuat Amanda tanpa sadar berbicara dengan nada tinggi. Lututnya saja masih bergetar karena terus berlari tadi.

Mendengar nada bicara Amanda, membuat pria itu merasa geram. “Dasar manusia tidak punya sopan santun. Apa seperti itu caramu berbicara dengan orang yang lebih tua? Apa lagi orang itu baru saja menolongmu!”

“Oh, sudah tua rupanya? Pantas saja pikun,” ujar Amanda, tak kuasa menahan kesal. Bagaimana bisa ada orang dengan model seperti itu.

“Apa kau bilang?” Wajah pria itu memerah.

“Kalau tidak pikun apa namanya? Kamu yang menyuruhku masuk, waktu ada preman yang mengejarku. Tapi belum sampai beberapa menit kamu sudah lupa.”

“Lalu kenapa kau masih di sini? Seharusnya kau segera keluar dari mobil setelah orang yang mengejarmu itu pergi. Sudah ditolong tidak tahu terima kasih, malah berbicara tidak sopan,” umpatnya kesal.

“Aku keluar dari mobilmu? Lalu bagaimana jika preman itu tidak menemukan aku di tempat yang kau tunjuk, lalu kembali ke tempat semula dan menemukanku? Itu bunuh diri namanya?”

Pemilik mobil semakin geram mendengar suara keras Amanda. “Lalu sekarang, tunggu apa lagi? Ini sudah jauh, orang yang mengejarmu tadi tidak mungkin akan mencarimu sampai tempat ini. Sana cepat keluar! Karena aku juga harus cepat pulang!”

Amanda memperhatikan sekeliling. Mobil yang dia tumpangi berhenti di tempat yang sangat sepi. Jauh dari keramaian. Wanita itu menelan ludahnya kasar. Tidak mungkin ia turun di sini.

“Kau benar-benar manusia tidak punya perasaan,” kesal Amanda. “Apa pantas menurunkan seorang wanita di tempat seperti ini. Apa kau ini diciptakan layaknya pohon pisang? Berjantung, tak berhati!” Amanda tak bisa menahan amarah dan kepanikan.

“Kau…!” Jari telunjuk pria itu mengarah ke wajah Amanda. “Kalau aku tidak punya hati, aku sudah menyerahkanmu pada preman-preman tadi!”

Dengan emosi yang memuncak, pria itu turun dari mobil, lalu membuka pintu bagian penumpang dan menarik tangan Amanda dengan kasar.

“Ayo cepat turun! Aku tidak punya waktu untuk meladenimu!”

Amanda menjadi panik. “Tidak!” teriaknya panik. Sebelah tangannya berpegangan pada jok. “Aku mohon, aku tidak mau turun di sini. Tempat ini sangat sepi. Tolong berikan aku tumpangan untuk malam ini saja!"

Dengan kasar, pria itu melepaskan tangan Amanda, mengusap wajahnya frustasi. Lalu menghentakkan kaki kesal sebelum kembali masuk ke dalam mobil.

“Awas saja jika kau melakukan sesuatu yang buruk di rumahku nanti!” hardiknya sebelum mobil melaju.

“Kau pikir aku ini maling?” Amanda membentak. Ia tidak terima dituduh yang bukan-bukan.

“Dan jangan merepotkan para pelayanku. Mereka sudah cukup lelah dengan pekerjaan mereka!”

“Aku orang yang cukup tahu diri. Dan aku bukan anak kecil yang tidak bisa mengurus diri sendiri,” jawab Amanda ketus.

Karena kesal, pria itu secara tiba-tiba menambah kecepatan mobilnya. Namun, justru semakin kesal karena Amanda tidak berteriak ketakutan.

“Apa selalu seperti ini sikapmu pada seorang wanita? Kau sama sekali tidak seperti pria gentleman!” ledek Amanda.

Pria itu melirik sinis, lalu berkata, “Memangnya kau ini wanita? Aku tidak yakin."

“Kau…!!” Amanda bersedekap dan memalingkan wajahnya. Menatap jalanan malam di luar mobil lebih baik daripada berdebat dengan pria menyebalkan ini, yang sayangnya adalah dewa penyelamatnya.

*

Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di rumah pria itu. Rumah yang sangat mewah. Pria itu segera turun lalu berbicara dengan ketus. “Cepat turun! Jangan menunggu orang membuka pintu untukmu. Kau bukan seorang Putri!”

Amanda turun dengan diam, memperhatikan rumah besar itu. “Mewah sekali rumahnya,” gumamnya.

“Rani…! Rani…!”

Dengan suaranya yang menggelegar, pria itu berteriak memanggil seseorang. Amanda yang berdiri tak jauh darinya sampai harus menutup telinga karena kaget.

Tak lama, seorang gadis cantik muncul, memeluknya. “Ayah… Putri sudah nungguin ayah dari tadi,” ucap gadis itu.

“Maaf, tadi ada sedikit masalah di jalan,’ ucap pria itu sambil memeluk putrinya.

“Masalah?” Putri melepaskan pelukan dari ayahnya. Menoleh ke samping, ia terkejut melihat ayahnya pulang bersama seorang wanita dengan penampilan berantakan.

“Ayah…?” panggilnya. “Siapa dia, Yah? Apa yang telah Ayah lakukan padanya?” Gadis itu bertanya, menatap ke arah ayahnya dan Amanda bergantian. Matanya meneliti, menyelidik penuh pertanyaan.

“Orang terlantar." Pria itu menjawab acuh. Membuat Amanda yang mendengar seketika mengeraskan rahang dan mengepalkan tangan.

Putri mengarahkan pandangannya pada Amanda. Matanya menyipit, keningnya berkerut seolah sedang mengingat-ingat. Hingga, sedetik kemudian mata gadis itu terbelalak dengan mulut terbuka lebar.

“Ya, Allah..! Bu Manda..!”

02

.

“Bu Manda..!” Putri berseru sambil menutup mulutnya dengan dua telapak tangan. Matanya terbelalak sempurna, seakan tidak percaya bahwa sosok yang ada di hadapannya benar-benar orang yang sangat dikenalnya.

Sedetik kemudian gadis itu menghambur memeluk Amanda. Sementara Amanda berdiri kaku tak tahu apa yang harus ia lakukan. Siapa nona muda ini? Kenapa nona muda ini mengenalnya?

Dirga yang semula Ingin berbicara sesuatu, menjelaskan bagaimana dia bertemu dengan wanita itu, terdiam dengan tangan yang masih menggantung di udara, lupa Apa yang hendak dikatakan. Dalam hati bertanya, bagaimana Putri bisa mengenal wanita yang baru saja ditolongnya.

Bu Manda?

Dirga mencoba mengingat-ingat, sepertinya sang Putri memang pernah bercerita tentang nama itu, tapi siapa? Dia lupa.

Putri melepaskan pelukannya setelah beberapa saat. Matanya memindai wanita itu dari atas sampai bawah. Penampilan wanita itu sungguh….

Bagaimana cara menjabarkannya? Rambut dan pakaian acak-acakan, wajah kusut, tubuh kotor. Ieuww, itu benar-benar buruk.

Amanda menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tatapan putri membuatnya merasa tidak nyaman,

“Kenapa ibu bisa seperti ini? Apa yang terjadi sama Ibu?” Putri memegang dua bahu Amanda dengan wajah iba. Bibir gadis itu tampak bergetar.

“Maaf, Nona ini siapa? Bagaimana bisa tahu nama saya?” Tanya Amanda bingung. Pasalnya dia sama sekali merasa tidak mengenal siapa gadis yang kini ada di hadapannya.

Putri melongo mendengar pertanyaan Amanda. “Ibu gak ingat sama Putri? Ini putri, Bu. Masa ibu lupa?” Putri menunjuk hidungnya sendiri dengan raut tak percaya. Wajahnya yang tadi bahagia, seketika berubah suram.

“Putri?" Amanda mencoba mengingat-ingat. Menggali setiap kepingan wajah yang ia temui di masa lalu, hingga sedetik kemudian…

"Oh, ya ampun!! Kamu Putri? Putri yang dulu pake kacamata tebal sama rambut diikat dua itu?” wajah Amanda berseri sekaligus terbeliak kaget.

Putri mengangguk berulang kali dengan senyum terkembang. Sementara Amanda menutup mulutnya yang menganga tak percaya.

“Gimana Ibu gak pangling? Kamu cantik sekali sekarang.” Amanda serta merta memeluk Putri yang langsung dibalas oleh Putri. Keduanya bahkan melompat-lompat saking bahagianya.

Di sisi lain pria paruh baya yang tak lain adalah Dirga Wijaya, pebisnis kondang di negeri ini, tercenung melihat dua wanita beda generasi itu berpelukan dengan hebohnya. Dirinya bagai makhluk tak kasat mata di antara mereka berdua. Diabaikan.

Sang putri yang biasanya menempel padanya jika dia datang kini seakan melupakan dirinya karena kehadiran wanita yang tadi berdebat dengannya dalam mobil.

“Cih, ternyata dia bisa juga bersikap manis. Lalu kenapa tadi denganku dia judes sekali? Padahal aku yang telah menolongnya?” Merasa tak dianggap, Dirga meninggalkan tempat itu dengan sewotnya.

“Tuan memanggil saya?” seorang wanita paruh paruh baya mendekat sebelum Dirga benar-benar pergi.

“Urus tamu itu,” jawab Dirga tiba-tiba kesal entah karena apa.

Putri dan Amanda segera melepas pelukan masing-masing karena mendengar suara Dirga.

“Mari, Bu. Saya akan mengantar ke belakang untuk bersih bersih dan ganti baju!” wanita paruh baya itu yang bernama Rani, menyela keakraban antara Putri dan Amanda.

“Iya, terima kasih,” jawab Amanda, hendak mengikuti ajakan Rani.

“Eh… Gak usah, Bu Rani.”

Dirga yang baru saja tiba di depan pintu kamar menghentikan langkahnya. Kenapa Putri malah tidak mengijinkan Rani membantu Amanda?

“Bu Manda biar sama Putri saja. Ayo, Bu. Kita ke kamar Putri. Ibu bisa mandi dan berganti di sana. Di sana juga ada baju yang bisa ibu pakai!” Putri segera menggandeng tangan Amanda untuk pergi ke kamarnya.

Dirga terpaku di tempatnya berdiri. Selama ini Putri tidak pernah membiarkan orang asing masuk kamarnya. Yang bebas keluar masuk kamarnya hanya dia dan Rani. Itu pun mungkin karena Rani adalah pengasuhnya sejak kecil.

Jangankan orang lain, teman-temannya pun kalau datang berkunjung hanya dia terima di ruang tamu.

Lalu wanita bernama Amanda ini? Se-spesial apa hubungan di antara mereka, hingga baru saja datang, dan dengan penampakan yang sedemikian buruk, tetapi putrinya rela menyeretnya ke dalam kamarnya.

***

Dirga yang sedang berjalan menuruni tangga menghentikan langkahnya. Di ruang makan, tak jauh dari tempatnya berdiri, tampak Putri sedang bercanda ria dengan Amanda. Mereka sangat akrab. Bahkan belum pernah sebelumnya dirga melihat Putri tertawa selepas itu.

Akan tetapi bukan itu yang menyita perhatiannya. Amanda, wanita yang dia bawa datang ke rumah ini dengan terpaksa, pakaian yang dikenakan oleh wanita itu, itu adalah pakaian milik Susi. Almarhum istrinya.

Kenapa putri mengijinkan baju itu dipakai oleh orang lain. Sedangkan selama ini putri merawat pakaian itu seperti merawat dirinya sendiri. Mencucinya sebulan sekali, dan menyimpan di lemari khusus untuk pakaian dan barang barang peninggalan ibunya yang oleh Putri diletakkan di kamarnya, berdampingan dengan pakaian Putri sendiri.

Bahkan ketika Dirga mengusulkan agar pakaian itu disumbangkan kepada yang lebih membutuhkan agar lebih bermanfaat, Putri pun tidak mengizinkannya.

“Ayah! Ayo cepat kesini, Yah. Kami sudah lapar, kenapa ayah lama sekali? Kami sudah nunggu sejak tadi loh!”

Suara teriakan putrinya membuyarkan lamunan Dirga. Perlahan pria itu pun melanjutkan langkahnya, hingga akhirnya sampai juga di meja makan. Dan segera duduk di kursi untuk kepala keluarga.

“Ayah ingat tidak? Putri kan pernah cerita tentang Bu Manda ini dulu, Yah?”

Dirga menggaruk tengkuknya demi mendengar pertanyaan Putri. Dia merasa tidak enak karena benar-benar lupa. Dari sudut matanya dia melihat Amanda seolah sedang tertawa mengejeknya. Senyum miring wanita itu seakan mengatakan, “Dasar pikun.” membuat Dirga menahan kepalan tangannya.

“Ish, Ayah. Masa lupa sih? Itu loh, Yah. Yang Putri pernah cerita kalau punya adik yang lagi sakit, terus ayahnya sudah tua, juga ada lagi lima anak asuh,” Putri merajuk kesal.

Dirga kembali menggali ingatannya, hingga kemudian dia mengingat tentang seorang guru Putri di kala SMA, satu-satunya guru yang selalu bersikap bijak, dan sangat baik pada Putri meskipun saat itu Putri berpenampilan seperti siswa miskin yang culun.

Amanda memiliki pekerjaan ganda, siang jadi guru, dan malamnya menjadi penjaga toko. Semua itu demi biaya pengobatan ayahnya, adiknya dan menghidupi anak jalanan yang dia tampung.

“Memangnya suami Bu Manda ke mana?” Tanya Dirga kala itu.

“Bu Manda belum menikah, Yah. Sebenarnya usianya sudah empat puluh tahun. Tapi, beliau takut, jika suaminya nanti tidak sayang sama ayah, adik dan anak-anak asuhnya.”

“Oh, ayah ingat sekarang. Yang perawan tua itu kan?” Ceplos Dirga. Ketika ingatan itu kembali.

“What…??”

“Ayah…!”

03

.

“What?!”

“Ayah!!”

Putri dan Amanda memekik bersamaan.

Amanda spontan berdiri dari duduknya dengan tangan terkenal erat. “Kau baru saja mengatai aku apa? Coba ulangi!” Wanita itu benar-benar geram dengan sebutan yang baru saja disematkan oleh Dirga untuknya.

“Ayah apa-apaan sih? Tidak sopan bicara seperti itu, Yah!” Putri juga merasa kesal dengan ucapan ayahnya. Dia merasa tidak enak pada Bu Manda, ibu gurunya yang paling baik yang paling menyayanginya.

“Apa sih? Memangnya Ayah salah?” Dirga benar-benar tidak menyadari ucapannya. “Umur empat puluh tahun dan belum menikah, apa namanya kalau bukan perawan tua?” 

“Ralat. Empat puluh tahun itu kan enam tahun yang lalu. Berarti sekarang empat puluh enam. Oh, atau mungkin sekarang sudah menikah? Maaf kalau begitu.” Dirga masih tetap tidak mau dianggap salah, karena dia tidak merasa bersalah. Apa yang baru saja dia ucapkan adalah fakta.

“Ayah..!” Suara Putri meninggi. Gadis itu semakin kesal. Ayahnya bukan berhenti bicara malah semakin dilanjutkan. Ada apa dengan ayahnya? Kenapa mendadak berubah jadi seperti ibu-ibu julid? 

“Bu Manda, maaf ya?” Putri menatap Amanda dengan raut penuh bersalah.  Dia benar-benar menyesali ayahnya yang tidak bisa menjaga lidahnya. Meskipun yang diucapkan ayahnya benar, tapi tidak seharusnya ayahnya itu berbicara secara langsung di hadapan Bu Manda.

Melihat wajah Amanda yang memerah, entah karena marah atau malu, membuatnya benar-benar merasa tidak enak.

Di lain pihak, Amanda ingin sekali membantah omongan Dirga. Tetapi bagaimana caranya. Tubuh wanita kembali jatuh terduduk dengan tatapan kosong. Mungkin memang benar dia pantas diberikan julukan perawan tua. Karena nyatanya bahkan sampai saat ini dia juga belum menikah.

Bukan hanya itu, baru saja beberapa jam yang lalu. Tadi siang tepatnya. Laki-laki yang selalu menyatakan cinta padanya, dengan dalih ingin mencarikan pekerjaan tambahan yang lebih layak agar dia bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untuk ayah, adik, dan anak-anak asuhnya.

Ternyata laki-laki itu sedang menjebaknya. Kejadian yang baru saja tadi sore, jika dia tidak bisa kabur, mungkin dia…

Ah, entah lah dia tidak sanggup berpikir, kalau saja tadi dia tidak bertemu dengan laki-laki yang ternyata adalah ayahnya Putri. Mungkin dia akan diseret oleh empat orang pria yang ternyata adalah bayaran dari mantan kekasihnya. Dan mungkin dirinya sudah berhasil dijual.

“Cepat minta maaf sama Bu Manda, Yah!” Putri menatap ayahnya dengan sorot tajam. 

“Tsk…!” Dirga memutar bola matanya malas. “Iya, iya. Maaf,” ucapnya malas. 

“Ayah… ?”

Menghela nafas malas, Dirga mendorong kursinya ke belakang dengan kasar hingga menimbulkan suara berderak. Berdiri dan menatap malas ke arah Amanda, lalu menundukkan sedikit badannya. 

“Nona Manda, yang paling baik, saya minta maaf,” ucap Dirga lalu menoleh ke arah Putri. “Sudah benar?” 

Amanda hanya diam, sementara Putri memejamkan mata menahan kesal. Gadis itu jelas tahu, ucapan permintaan maaf ayahnya tidak dari hati. Ayahnya masih tidak menyadari kesalahannya. 

“Sekarang apa Ayah sudah boleh makan? Ayah lapar!” Suara Dirga terdengar kesal. Ia masih tidak terima disalahkan atas sesuatu yang ia yakini benar. 

Akhirnya Putri hanya diam. Dirga mulai membuka piring dan mengambil makanan dengan kasar. 

“Ayo kita makan, Bu!” Suara Putri memecah keheningan yang canggung. Tangan gadis itu bergerak terampil mengambilkan nasi dan lauk lalu meletakkan di piring Amanda. 

“Terima kasih, Putri,” ucap Amanda, menoleh dan tersenyum. “Sudah jangan banyak-banyak, nanti perut ibu gak muat.”

“Gak bisa,” bantah Putri. “Ini pertama kalinya Ibu datang ke rumah Putri. Jadi, harus makan yang banyak!” 

Sambil makan, keduanya larut dalam percakapan yang begitu hangat, terkadang tertawa bersama, bahkan sambil saling menyuapi. 

Di meja seberang, Dirga mencebikkan bibirnya. “Wanita ini membawa pengaruh buruk,” gumamnya dalam hati. “Putriku sendiri sampai melupakan aku gara-gara dia. Memangnya siapa dia sampai minta dilayani oleh putriku?” 

TAK! 

Suara sendok beradu keras dengan piring membuat Putri dan Amanda spontan menoleh. 

“Kenapa, Yah?” tanya Putri dengan kening berkerut. 

Dirga mendorong kursinya keras, lalu berdiri. Wajahnya terlihat masam seperti koran bekas pembungkus kacang rebus yang terbuang di sudut terminal. “Ayah sudah tidak lapar!” ucapnya lalu pergi setelah membanting tisu. 

“Tapi Ayah belum selesai makan?” teriak Putri yang melihat piring ayahnya bahkan belum berkurang separuh. Namun, Dirga seolah tak mendengar. Pria dengan rambut sedikit beruban itu terus melangkah hingga hilang di tikungan tangga. 

“Ayah kenapa sih?” tanya Putri pelan seolah pada dirinya sendiri. 

“Apa ayahnya Putri tidak suka Ibu ada di sini?” celetuk Amanda lirih. 

“Mana mungkin seperti itu? Ayah itu selalu menyukai apapun yang Putri sukai. Kalau Putri suka Bu Manda, Ayah juga akan suka Bu Manda.”

Amanda mengangguk mendengar ucapan Putri, tapi sesaat kemudian keningnya berkerut. Matanya melirik piring Dirga yang nyaris masih utuh, lalu melirik juga ke arah Putri. Wanita yang nyaris tergelak, “Apa dia cemburu karena putrinya lebih dekat denganku?” gumamnya. “Dasar bocah tua! Umur aja tua, kelakuan kayak bocah!”

*

“Ayo cerita, Bu,” pinta Putri ketika mereka sudah berbaring berdua di atas ranjang dalam kamar Putri. “Apa yang sebenarnya terjadi sama Ibu? Dan bagaimana Ibu bisa bersama Ayah?”

Amanda menarik nafas dalam-dalam. Sesuatu yang baru ia alami tadi sore kembali terlintas di depan matanya. 

“Mantan pacar Ibu menjebak Ibu. Dia bilang ada pekerjaan tambahan yang bayarannya cukup besar. Ibu tergiur karena Ibu benar-benar sedang butuh banyak uang untuk keluarga Ibu. Ternyata Ibu mau dijadikan santapan pria hidung belang.” Suara Amanda terdengar serak menahan tangis akibat kekecewaan dan kemarahan. 

Wanita itu kemudian menceritakan bagaimana dia bisa kabur dari jebakan mantan kekasihnya hingga akhirnya bertemu dengan Dirga. 

Putri spontan memeluk tubuh Amanda. “Kurang ajar sekali. Kalau Putri ketemu dia, Putri pasti akan membuatnya berlutut dan memohon ampun di bawah kaki Ibu,” ucapnya geram. 

Amanda mengangguk sambil mengusap air matanya. Tentu saja ia percaya. Ia ingat persis, Putri memang menguasai ilmu bela diri. Itulah yang membuatnya salut, meskipun anak orang kaya, Putri tidak bersikap manja dan sombong  seperti kebanyakan putri konglomerat lainnya. 

“Ibu sudah bercerita tentang ibu,” ucap Amanda. “Sekarang giliran Ibu mendengar semua tentang Putri. Bagaimana hubungan Putri dengan tuan muda Ega? Tadinya Ibu pikir Putri sudah menikah dengan tuan muda Ega.” 

Putri melepaskan pegangan tangannya dari Amanda. Gadis itu berbaring terlentang dengan mata menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.

“Ada apa?” Amanda seketika merubah posisinya menjadi tengkurap dengan dua siku menyangga badan menatap wajah Putri dengan kening berkerut. “Hubungan kalian baik-baik saja kan?” tanyanya mengingat Putri dan Ega sebagai best couple saat SMA. 

“Putri juga tidak tahu mau bagaimana hubungan kami,” ucap Putri lirih. dadanya terasa sesak.

“Memangnya ada apa?” tanya Amanda penasaran. “Seingat Ibu tuan muda Ega sangat mencintai Putri?”

Putri mengambil nafas dalam sebelum kemudian berucap, “Ternyata…  Kak Ega adalah putra dari mantan istri pertama Ayah. Apa Putri harus melanjutkan hubungan dengan Kak Ega? Sementara Putri tahu, antara Ayah dan mamanya Kak Ega kembali terjalin hubungan.”

“Ya Tuhan… ?”

*

*

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!