Indonesia
NovelToon NovelToon

Dicerai Karena Mandul, Menikah Perwira Dapat Tiga Anak

Episode 1

Fajar belum menyentuh langit Bandung pada Maret 1995. Udara dingin merayap melalui celah-celah jendela apartemen tua itu, meresap ke dalam tulang. Wulan Hartati sudah bangun sejak lama. Tangannya cekatan menyalakan kompor minyak yang berderit, meniup api kecil hingga menyala stabil. Tanpa membuang waktu, ia menuangkan beras ke dalam panci, menambahkan air, dan mulai memasak bubur.

Setiap pagi berjalan dengan pola yang sama, tanpa perubahan. Ia tidak pernah menunggu alarm, tubuhnya seakan sudah terlatih oleh kebiasaan bertahun-tahun. Ia harus memastikan sarapan siap sebelum suaminya, Joko Prasetyo, pulang dari shift malam di rumah sakit umum kota. Ia juga harus menyiapkan makanan untuk anak mereka, Arif, sebelum anak itu bangun dan bersiap ke sekolah.

Selama tujuh belas tahun pernikahan, Wulan tidak pernah mengeluh. Ia menyerahkan kamar utama yang luas kepada suaminya dan Arif. Ia sendiri tinggal di ruang sempit yang dipisahkan dari ruang tamu dengan sekat kayu tipis. Ruangan itu bahkan tidak cukup untuk berjalan lurus tanpa menyentuh dinding. Namun ia tetap menjaga kebersihan dan keteraturan, memastikan setiap sudut rumah rapi seperti baru.

Ia mengaduk bubur perlahan, lalu memanfaatkan waktu untuk membersihkan rumah. Kain lap di tangannya bergerak cepat, menghapus debu dari meja, kursi, hingga rak buku di kamar utama. Gerakannya terlatih, efisien, tanpa ragu. Ia tidak pernah berhenti di satu titik terlalu lama.

Ketika ia mengelap rak buku yang penuh dengan buku medis milik Joko, lengannya tanpa sengaja menyenggol beberapa buku yang tersusun tidak rapi. Tumpukan itu jatuh dengan suara pelan, memecah kesunyian pagi. Wulan berhenti sejenak, lalu berjongkok untuk memungut buku-buku itu.

Saat ia mengangkat salah satu buku yang sudah usang, sesuatu terlepas dari sela-sela halaman. Sebuah foto lama jatuh ke lantai.

Wulan memungutnya tanpa berpikir. Foto itu sudah menguning di tepinya, tanda usia yang panjang. Ia memandanginya sekilas, awalnya tanpa emosi. Namun matanya segera berhenti, napasnya tertahan.

Di dalam foto itu, seorang pria muda berdiri dengan wajah yang sangat ia kenal—Joko. Wajahnya lebih segar, senyumnya lebih lepas dibanding sekarang. Di sampingnya, seorang wanita bersandar dengan dekat, hampir melekat. Wanita itu adalah Siti Aminah.

Wulan tidak perlu berpikir untuk mengenalinya. Siti adalah sahabat lamanya, orang yang dulu menjadi perantara pernikahannya dengan Joko.

Namun yang membuat Wulan tidak bisa mengalihkan pandangan bukan hanya kedekatan mereka dalam foto itu. Di pelukan Siti, ada seorang bayi.

Bayi itu tampak berusia beberapa bulan, dibungkus kain tipis. Joko berdiri di samping mereka, tangannya menyentuh bahu Siti dengan cara yang tidak asing, tidak canggung, seolah itu adalah kebiasaan yang sudah lama.

Wulan membalik foto itu dengan tangan gemetar.

Tulisan tangan Joko tertera jelas di belakangnya.

“September 1977. Aku, Siti, dan anak kami, Arif.”

Tangan Wulan berhenti bergerak. Dunia di sekitarnya seakan membeku.

Panci bubur di dapur mulai mendidih lebih keras, tetapi ia tidak mendengarnya. Pikirannya bergerak mundur, menelusuri ingatan yang selama ini ia anggap benar.

Tahun 1977.

Itu adalah tahun yang tidak pernah ia lupakan.

Saat itu, hidupnya berada di titik terendah. Kekasihnya meninggalkannya tanpa penjelasan, keluarganya menekan agar ia menikah dengan pria yang tidak ia kenal—bahkan dikatakan memiliki keterbelakangan mental. Ia tidak punya pilihan, tidak punya tempat untuk lari.

Siti datang pada saat itu.

Siti berbicara dengan tenang, menawarkan solusi yang tampak seperti jalan keluar. Ia memperkenalkan Joko, seorang dokter muda yang stabil, sopan, dan tampak bertanggung jawab. Wulan tidak banyak berpikir. Ia hanya ingin keluar dari situasi itu.

Mereka menikah pada akhir tahun 1977.

Semua terjadi cepat. Terlalu cepat untuk dipertanyakan.

Setelah menikah, kehidupan berjalan seperti yang diharapkan. Joko jarang di rumah karena pekerjaannya, tetapi ia tidak pernah kasar. Ia memenuhi kebutuhan finansial, tidak pernah mengangkat suara tanpa alasan.

Masalah muncul ketika Wulan tidak kunjung hamil.

Bertahun-tahun berlalu tanpa tanda-tanda. Keluarga Joko mulai menunjukkan ketidaksabaran mereka. Sindiran datang secara halus, lalu semakin terang-terangan. Wulan menunduk setiap kali itu terjadi.

Namun Joko selalu membelanya.

Ia berkata tidak masalah jika mereka tidak punya anak. Ia bahkan mengusulkan untuk mengadopsi anak dari “kerabat jauh” yang tidak mampu merawat bayinya.

Wulan menerima tanpa ragu.

Ketika Arif datang ke dalam hidupnya, ia mencurahkan seluruh perasaannya. Ia merawatnya, membesarkannya, mengajarinya berjalan, berbicara, dan membaca. Ia menghabiskan lima belas tahun hidupnya untuk anak itu.

Ia selalu merasa bersalah.

Merasa dirinya tidak cukup sebagai istri karena tidak bisa melahirkan anak. Merasa harus menebus kekurangan itu dengan bekerja lebih keras, melayani lebih baik.

Dan sekarang—

Semua itu runtuh dalam satu detik.

Arif bukan anak adopsi.

Arif adalah anak kandung Joko.

Dan Siti.

Wulan berdiri perlahan. Tubuhnya terasa ringan sekaligus berat. Ia mencoba menarik napas, tetapi dadanya terasa sempit.

Dari dapur, suara bubur meluap terdengar jelas sekarang. Air mendidih meluber ke atas kompor, mengeluarkan bau hangus. Wulan tidak bergerak untuk mematikannya.

Pintu depan terbuka dengan suara kunci diputar.

Joko masuk dengan langkah cepat, masih mengenakan jas dokter yang kusut setelah shift malam. Ia meletakkan tasnya dengan sedikit keras, lalu melihat ke arah dapur.

“Apa yang kamu lakukan? Kenapa sarapan belum siap?” suaranya terdengar kesal, tanpa menyadari apa yang sedang terjadi.

Wulan tidak menjawab.

Ia berdiri di tengah ruang tamu, memegang foto itu.

Joko melangkah mendekat, awalnya masih dengan ekspresi kesal. Namun ketika pandangannya jatuh pada benda di tangan Wulan, wajahnya berubah dalam sekejap.

Ia berhenti.

Mata mereka bertemu.

Dalam satu detik yang sunyi, tidak ada kata yang diucapkan, tetapi segalanya sudah jelas.

Joko bergerak cepat.

Ia meraih foto itu dari tangan Wulan dengan kasar, hampir merobeknya. Gerakannya tegas, tanpa ragu, seolah tindakan itu sudah dipikirkan sebelumnya.

“Kamu ngapain pegang barangku?” suaranya keras, penuh tekanan.

Wulan mundur satu langkah, bukan karena takut, tetapi karena tubuhnya bereaksi lebih cepat dari pikirannya.

“Itu... apa?” suaranya keluar pelan, serak.

Joko tidak menjawab langsung. Ia menyelipkan foto itu ke dalam saku jasnya, lalu menatap Wulan dengan mata tajam.

“Kamu tidak punya hak untuk mengacak-acak barangku,” katanya dingin.

Wulan menatapnya, matanya mulai basah, tetapi tidak ada air mata yang jatuh.

“Arif...” ia berhenti sejenak, mencoba mengumpulkan kata-kata. “Arif itu siapa?”

Joko menghela napas, seperti seseorang yang kesal karena harus menjelaskan sesuatu yang menurutnya tidak perlu.

“Dia anak kita,” jawabnya singkat.

Wulan menggeleng pelan.

“Bukan itu yang tertulis di foto.”

Joko terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak ia masuk, ada keraguan kecil di wajahnya. Namun itu hanya berlangsung sesaat. Ia segera mengeraskan ekspresinya kembali.

“Kamu salah paham.”

“Tidak,” potong Wulan, suaranya lebih tegas. “Tulisan itu jelas. Itu tulisanmu.”

Joko melangkah lebih dekat. “Sudah cukup.”

Nada suaranya berubah, bukan lagi sekadar kesal, tetapi mengandung ancaman yang halus.

Wulan tidak mundur kali ini.

“Tujuh belas tahun,” katanya perlahan. “Aku hidup dengan percaya semua yang kamu katakan.”

Joko menatapnya tanpa ekspresi.

“Aku menerima semuanya. Aku menahan semua hinaan dari keluargamu. Aku merawat Arif seperti anakku sendiri.” Suaranya mulai bergetar, tetapi ia tetap berdiri tegak. “Dan sekarang kamu bilang aku salah paham?”

Joko mengalihkan pandangannya sejenak, lalu kembali menatap Wulan.

“Itu masa lalu,” katanya.

Wulan tertawa pelan. Suara itu kering, tanpa emosi.

“Masa lalu?” ia mengulang. “Itu hidupku.”

Tidak ada yang bergerak. Tidak ada suara selain desis kompor dari dapur.

Wulan menatap pria di depannya—pria yang selama ini ia anggap sebagai suami, sebagai tempat bergantung.

Sekarang, ia melihat seseorang yang sama sekali berbeda.

Seseorang yang mampu menyembunyikan kebenaran selama tujuh belas tahun tanpa ragu.

Seseorang yang membiarkannya hidup dalam kebohongan, menanggung rasa bersalah yang bukan miliknya.

Joko berbalik, berjalan menuju kamar utama seolah pembicaraan itu sudah selesai. Ia tidak mencoba menjelaskan, tidak mencoba meminta maaf.

Tindakan itu lebih jelas daripada kata-kata apa pun.

Wulan tetap berdiri di tempatnya.

Api di dapur akhirnya padam sendiri setelah kehabisan bahan bakar. Bau hangus memenuhi ruangan.

Pagi mulai datang perlahan, cahaya redup masuk melalui jendela.

Namun bagi Wulan, tidak ada yang berubah menjadi terang.

Segalanya justru menjadi gelap.

Ia tidak menangis.

Ia tidak berteriak.

Ia hanya berdiri, menyadari bahwa tujuh belas tahun hidupnya telah dibangun di atas kebohongan yang rapi—dan sekarang, semuanya runtuh tanpa suara.

Episode 2

Wulan tidak pernah melihat Joko seperti ini.

Selama tujuh belas tahun, pria itu selalu tenang, berbicara dengan nada terkendali, menjaga sikap di depan siapa pun. Bahkan ketika marah, ia tidak pernah kehilangan bentuknya. Namun sekarang, semua itu runtuh hanya karena selembar foto.

Joko merampas foto itu dengan kasar, lalu segera merapikannya dengan hati-hati. Tangannya bergerak perlahan, menghaluskan lipatan yang tadi terbentuk saat Wulan menggenggamnya terlalu kuat. Gerakannya lembut, penuh perhatian, seolah benda itu jauh lebih berharga daripada apa pun di ruangan itu.

Wulan memperhatikan setiap detail.

Cara Joko menatap foto itu.

Cara ia mengusap permukaannya.

Cara ia memastikan tidak ada kerusakan yang tersisa.

Perlakuan itu terasa seperti pisau yang menembus dadanya tanpa suara.

“Kenapa?” suara Wulan akhirnya pecah. Tidak lagi tertahan. “Kenapa kamu lakukan ini padaku?”

Ia melangkah maju, suaranya semakin keras, napasnya tidak teratur. “Tujuh belas tahun, Joko! Tujuh belas tahun aku hidup seperti orang bodoh!”

Joko tidak langsung menjawab. Ia masih memegang foto itu, matanya turun sebentar sebelum akhirnya mengangkat kepala. Ada sesuatu yang melintas di matanya—rasa bersalah, mungkin. Tapi juga ada hal lain yang lebih dingin, lebih tajam.

Ketidaksabaran.

Ia mengalihkan pandangan sejenak, seolah sedang menimbang sesuatu. Dalam kepalanya, perhitungan berjalan cepat. Posisi di rumah sakit. Penilaian jabatan. Reputasi yang selama ini ia jaga.

Masalah ini tidak boleh keluar.

Tidak boleh membesar.

Tidak boleh sampai orang lain tahu.

Tanpa berkata apa-apa, ia menyelipkan foto itu ke dalam laci meja, menutupnya dengan cepat. Lalu ia berjalan ke pintu, menutupnya rapat, memastikan tidak ada celah suara keluar ke koridor.

Baru setelah itu, ia kembali mendekati Wulan.

Ia menurunkan tubuhnya perlahan, berjongkok di depan istrinya, lalu meraih bahu Wulan dan menariknya ke dalam pelukan.

Gerakannya tiba-tiba berubah lembut.

“Sudah,” katanya pelan, mencoba menurunkan suasana. “Itu cuma masa lalu.”

Wulan tidak membalas pelukan itu. Tubuhnya kaku.

“Itu dulu sekali,” lanjut Joko. “Aku dan Siti... itu waktu kami masih muda. Sekarang sudah tidak ada apa-apa. Kami hanya teman biasa.”

Wulan menatap kosong ke depan, tidak berkedip.

“Teman biasa?” ulangnya pelan.

Ia menarik tubuhnya mundur, melepaskan diri dari pelukan Joko.

Kalimat itu terdengar terlalu ringan. Terlalu rapi. Tidak cocok dengan apa yang ia lihat di foto itu.

“Kalau cuma teman,” katanya, menatap langsung ke mata Joko, “kenapa ada Arif di foto itu?”

Joko terdiam.

Hanya beberapa detik, tetapi cukup untuk mengubah segalanya.

Wulan melihat jeda itu. Melihat keraguan yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya.

“Arif itu siapa?” desaknya. “Jawab aku.”

Joko menarik napas dalam. Wajahnya mengeras sedikit demi sedikit, seolah memutuskan untuk tidak lagi menghindar.

“Itu anakku,” katanya akhirnya.

Ruangan menjadi sunyi.

Tidak ada suara lain.

Wulan tidak bergerak. Kata-kata itu masuk ke telinganya dengan jelas, tetapi butuh waktu untuk benar-benar sampai ke pikirannya.

“Anakmu...” ia mengulang perlahan. “Dengan siapa?”

Joko tidak menjawab.

Wulan tertawa pelan, kali ini lebih pahit.

“Dengan Siti, ya?”

Joko menutup mata sejenak, lalu membukanya lagi.

“Ya.”

Jawaban itu pendek. Tidak berusaha membela diri. Tidak berusaha memperhalus.

Seperti fakta yang tidak perlu diperdebatkan.

Tubuh Wulan goyah sedikit. Ia mundur satu langkah, lalu berhenti.

“Jadi... selama ini...” suaranya melemah. “Aku membesarkan anakmu dengan dia?”

Joko menghela napas, lalu berdiri. Sikapnya berubah lagi—tidak lagi mencoba menenangkan, melainkan mulai defensif.

“Kamu tidak perlu membesar-besarkan,” katanya. “Arif tetap anak kita sekarang.”

“Bukan!” Wulan menggeleng keras. “Dia anakmu dengan perempuan lain!”

Joko menatapnya tajam.

“Lalu kamu mau apa?” balasnya, nada suaranya mulai naik. “Kamu mau aku buang dia?”

Wulan terdiam.

Pertanyaan itu datang tiba-tiba, memotong arah pikirannya.

“Aku—”

“Selama ini siapa yang tidak bisa punya anak?” potong Joko cepat.

Kalimat itu jatuh seperti pukulan.

Wulan membeku.

Joko melangkah lebih dekat, suaranya semakin keras, semakin tajam.

“Kamu!” katanya. “Kamu yang tidak bisa melahirkan!”

Setiap kata diucapkan dengan jelas, tanpa ragu.

“Aku sudah coba sabar. Aku sudah lindungi kamu dari omongan keluargaku. Aku yang bilang tidak masalah kalau kita tidak punya anak!” lanjutnya. “Tapi kenyataannya? Kita tetap butuh anak!”

Wulan tidak bisa menjawab.

Dadanya terasa sesak.

“Arif datang ke rumah ini bukan untuk menyakiti kamu,” kata Joko, kini dengan nada yang seolah logis. “Itu solusi. Solusi untuk kita berdua.”

“Solusi?” suara Wulan hampir tidak terdengar.

“Kalau waktu itu aku bilang yang sebenarnya, kamu pikir kamu masih mau menikah denganku?” tanya Joko balik. “Kamu sudah dalam keadaan seperti itu. Kamu butuh jalan keluar.”

Ia berhenti sejenak, menatap Wulan dengan mata dingin.

“Aku juga.”

Kalimat itu menggantung di udara.

“Jadi kamu bohong?” tanya Wulan.

Joko tidak menjawab langsung.

“Aku hanya tidak bilang semuanya,” katanya akhirnya.

Wulan menutup mata.

“Dan kamu pikir itu tidak apa-apa?”

Joko mengangkat bahu sedikit.

“Aku melakukan ini untuk menjaga semuanya tetap berjalan,” jawabnya. “Termasuk kamu.”

Wulan tertawa lagi. Kali ini tidak ada suara.

Kata-kata itu masuk ke dalam pikirannya, berputar tanpa henti.

Dia tidak bisa melahirkan.

Itu fakta.

Selama ini ia selalu merasa bersalah karena itu.

Selalu merasa kurang.

Selalu merasa harus membayar dengan kerja keras, dengan kesabaran, dengan pengorbanan.

Dan sekarang—

Semua kesalahan itu seperti dilemparkan kembali kepadanya.

Seolah semua yang terjadi adalah akibat dari kekurangannya sendiri.

Wulan membuka mata perlahan. Pandangannya kosong.

“Aku yang salah...” gumamnya pelan.

Joko tidak membantah.

Ia hanya berdiri diam, membiarkan kalimat itu mengendap.

Di luar, suara langkah kaki mulai terdengar di koridor. Tetangga-tetangga mulai bangun, aktivitas pagi dimulai. Beberapa suara bisik terdengar samar, jelas menyadari bahwa sesuatu terjadi di dalam unit itu.

Namun pintu tetap tertutup.

Beberapa menit kemudian, Wulan bergerak.

Ia tidak menangis lagi. Tidak berteriak. Ia hanya berjalan keluar kamar, menuju dapur.

Kompor sudah dingin. Bubur yang tadi meluap mengering di panci.

Tanpa berkata apa-apa, ia mengambil bahan lain. Tepung, air, daun bawang. Tangannya mulai bekerja lagi, mencampur adonan, menguleni, membentuk.

Gerakannya stabil.

Seolah tidak ada yang terjadi.

Di koridor sempit, beberapa tetangga sudah berkumpul, berpura-pura melakukan hal lain sambil mencuri dengar. Begitu Wulan muncul dengan wajan dan adonan, mereka langsung diam, tetapi mata mereka tetap mengikuti setiap gerakan.

Salah satu dari mereka, Nenek Sumiati, mendekat dengan langkah pelan.

“Wulan, kamu tidak apa-apa?” tanyanya dengan nada penuh perhatian yang dibuat-buat.

Namun matanya tidak melihat wajah Wulan.

Matanya tertuju pada wajan.

Aroma roti goreng bawang mulai menyebar, menggoda.

Wulan tidak menjawab pertanyaan itu.

Ia hanya melanjutkan pekerjaannya, membalik adonan di atas wajan panas. Minyak berdesis, suara itu mengisi keheningan yang canggung.

Beberapa detik berlalu.

Wulan mengambil dua potong roti goreng yang sudah matang, membungkusnya dengan kertas, lalu menyerahkannya kepada Nenek Sumiati.

“Ini,” katanya singkat.

Nenek Sumiati tersenyum lebar, segera menerimanya.

“Ah, kamu memang baik sekali,” katanya cepat, lalu berbalik pergi tanpa bertanya lagi.

Kerumunan kecil itu perlahan bubar.

Wulan kembali masuk ke dalam rumah, membawa sisa makanan.

Joko sudah duduk di meja, seolah tidak ada yang berubah. Ia mengambil piring, mulai makan tanpa banyak bicara.

Beberapa menit berlalu dalam diam.

“Ada yang dengar tadi?” tanya Joko tiba-tiba.

Wulan menggeleng pelan.

Ia tidak mengatakan apa pun kepada siapa pun.

Tidak tentang foto.

Tidak tentang Arif.

Tidak tentang Siti.

Joko menghela napas panjang, jelas lega.

“Bagus,” katanya singkat.

Ia melanjutkan makan, lalu setelah selesai, berdiri dan merapikan bajunya.

“Kita tidak perlu membahas ini lagi,” tambahnya, nada suaranya kembali tenang seperti biasa. “Jaga rumah seperti biasa.”

Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan menuju kamar utama dan menutup pintu.

Suara itu terdengar lebih keras dari biasanya.

Wulan tetap duduk di kursinya.

Tangannya terdiam di atas meja.

Ia menatap pintu yang baru saja tertutup.

Untuk pertama kalinya, pikirannya tidak lagi dipenuhi oleh rasa bersalah saja.

Ada sesuatu yang lain mulai muncul.

Sebuah pertanyaan yang selama ini tidak pernah ia berani pikirkan.

Ia dan Joko sudah tidak tidur satu kamar selama enam atau tujuh tahun terakhir.

Alasannya selalu sederhana—jadwal kerja, kelelahan, kebiasaan.

Wulan tidak pernah mempertanyakannya.

Ia menganggap itu hal yang wajar.

Namun sekarang, ketika ia memikirkan kembali—

Joko adalah pria yang sehat.

Pria normal.

Namun selama bertahun-tahun, ia tidak pernah sekalipun mencoba mendekatinya sebagai suami.

Tidak pernah.

Pikiran itu muncul perlahan, tetapi tidak bisa dihentikan.

Wulan menunduk, menatap tangannya sendiri.

Ada sesuatu yang salah.

Dan mungkin, itu sudah salah sejak lama.

Episode 3

Pikiran itu tidak berhenti.

Setelah percakapan pagi itu, setiap potongan kejadian yang selama ini terasa biasa mulai berubah bentuk di kepala Wulan. Joko yang jarang pulang. Joko yang tidak lagi tidur sekamar. Joko yang tidak pernah menyentuhnya selama bertahun-tahun.

Dan sekarang, foto itu.

Siti.

Arif.

Semuanya tersambung menjadi satu garis lurus yang jelas.

Joko tidak pernah benar-benar meninggalkan Siti.

Kesimpulan itu muncul tanpa perlu dipaksakan.

Wulan duduk di meja makan, tetapi tangannya tidak bergerak. Makanan di depannya tetap utuh. Ia menatap kosong, napasnya terasa berat, seolah ada sesuatu yang menekan dadanya dari dalam.

Ia mencoba menarik napas dalam, tetapi tidak cukup.

Dada itu semakin sesak.

Semakin sempit.

Pikirannya berputar semakin cepat, memaksa tubuhnya ikut menegang. Ia berdiri mendadak, kursi bergeser keras ke belakang. Tanpa melihat lagi ke meja, ia mulai membereskan piring dan mangkuk dengan gerakan cepat, hampir kasar.

Air mengalir deras di wastafel. Ia mencuci tanpa benar-benar memperhatikan apa yang sedang ia lakukan. Tangannya bergerak otomatis, tetapi pikirannya tidak ada di sana.

Begitu selesai, ia mengelap tangannya, lalu langsung mengambil kunci.

Ia tidak ingin berada di rumah itu lebih lama.

Tidak satu menit pun.

Pintu terbuka, lalu tertutup di belakangnya tanpa suara.

Udara luar terasa lebih dingin, tetapi juga lebih ringan. Wulan melangkah keluar dari gedung apartemen tua itu tanpa tujuan yang jelas. Kakinya bergerak sendiri, menjauh dari tempat yang baru saja runtuh baginya.

Belum jauh ia berjalan, sebuah suara memanggil namanya.

“Wulan!”

Ia berhenti, menoleh.

Rina Wulandari berdiri beberapa meter darinya.

Namun yang pertama kali dilihat Wulan bukan wajahnya, melainkan air mata yang tidak berhenti mengalir. Rina berjalan cepat mendekat, lalu langsung memeluknya erat sebelum Wulan sempat berkata apa pun.

Tangisnya pecah tanpa kendali.

“Aku tidak tahan lagi...” suaranya tersendat.

Wulan kaku sejenak, lalu perlahan menepuk punggung Rina. “Ada apa?”

Rina mundur sedikit, tetapi tangannya masih mencengkeram lengan Wulan seolah takut kehilangan pegangan.

“Budi...” katanya, napasnya tidak teratur. “Dia pukul aku lagi...”

Wulan tidak terkejut, tetapi tetap diam menunggu.

Rina menarik napas panjang, mencoba bicara lebih jelas.

“Hanya karena aku pakai terlalu banyak sabun cuci,” katanya, suaranya bergetar. “Ibunya lihat, lalu mulai marah-marah. Bilang aku boros, tidak tahu diri...”

Ia mengusap air matanya dengan kasar.

“Aku cuma jawab sedikit. Aku bilang itu tidak seberapa. Tapi dia langsung teriak-teriak, bilang aku tidak sopan, tidak menghormati orang tua... lalu dia... dia pura-pura jatuh, teriak-teriak seolah aku yang dorong dia...”

Wulan menatapnya tanpa berkedip.

“Budi percaya?” tanyanya.

Rina tertawa pahit.

“Dia bukan cuma percaya,” katanya. “Dia suruh aku minta maaf.”

Wulan tidak berkata apa-apa.

“Aku tidak mau,” lanjut Rina. “Aku tahu aku tidak salah. Tapi dia... dia tampar aku... sekali... dua kali...” suaranya mulai pecah lagi. “Lalu dia bilang aku harus keluar dari rumah kalau tidak mau minta maaf.”

Tangannya gemetar.

“Aku keluar... tapi aku tidak tahu harus ke mana.”

Wulan merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya. Bukan hanya karena cerita Rina, tetapi karena kata-kata itu terasa terlalu dekat.

Tidak tahu harus ke mana.

“Kenapa kamu tidak pulang saja ke rumah orang tuamu?” tanya Wulan.

Rina menggeleng keras.

“Aku tidak punya apa-apa,” katanya cepat. “Aku tidak kerja. Tidak punya uang. Selama ini aku cuma di rumah, masak, cuci, bersih-bersih...”

Ia menatap Wulan dengan mata merah.

“Kalau aku tinggalkan Budi, aku hidup dari apa?”

Wulan tidak bisa menjawab.

Pertanyaan itu terlalu berat.

Mereka mulai berjalan tanpa arah. Tidak ada tujuan yang jelas, hanya mengikuti jalan yang terbentang di depan.

Rina masih berbicara, sesekali mengeluh, sesekali terdiam. Sementara Wulan mendengarkan tanpa benar-benar menyerap semua kata.

Pikirannya sendiri sudah terlalu penuh.

Dulu, ia pernah merasa beruntung.

Setidaknya, ia tidak seperti Rina.

Suaminya tidak memukulnya. Tidak mempermalukannya di depan orang lain. Ia punya rumah yang stabil, kehidupan yang terlihat tenang.

Namun sekarang—

Semua itu terasa seperti lelucon.

Tujuh belas tahun kebohongan.

Tujuh belas tahun hidup dalam sesuatu yang tidak pernah nyata.

Dadanya kembali terasa sakit. Bukan sesak seperti tadi, tetapi seperti ditarik dari dalam.

“Wulan,” suara Rina memotong pikirannya. “Kamu itu beruntung, tahu.”

Wulan menoleh sedikit.

“Joko itu baik,” lanjut Rina. “Tidak seperti Budi. Kamu punya hidup yang enak.”

Wulan berhenti berjalan sejenak.

Ia ingin tertawa.

Atau menangis.

Tetapi tidak ada yang keluar.

Ia hanya mengangkat sudut bibirnya sedikit, sesuatu yang bahkan tidak bisa disebut senyuman.

Ia tidak menjawab.

Mereka kembali berjalan.

Beberapa saat kemudian, Rina menunjuk ke arah depan.

“Lihat itu,” katanya.

Wulan mengikuti arah jarinya.

Di kejauhan, berdiri kompleks perumahan yang berbeda dari sekitarnya. Bangunan-bangunan itu lebih baru, lebih besar, tertata rapi dengan pagar tinggi dan jalan yang bersih.

“Dago Heritage,” kata Rina. “Orang kaya semua tinggal di situ.”

Wulan hanya melihat sekilas, tanpa minat.

“Katanya Siti tinggal di sana sekarang,” lanjut Rina, nada suaranya berubah sedikit, seperti sedang berbagi gosip. “Bulan lalu dia beli rumah di situ. Tiga kamar, hampir seratus meter.”

Langkah Wulan terhenti.

“Apa?” suaranya keluar tanpa sadar.

Rina mengangguk.

“Iya. Orang-orang bilang begitu. Hebat ya dia.”

Namun Wulan tidak lagi mendengar kelanjutan kalimat itu.

Siti.

Rumah di Dago Heritage.

Ia tahu pasti berapa penghasilan Siti.

Tidak mungkin.

Tidak masuk akal.

Kecuali—

Pikirannya berhenti di sana, tetapi tubuhnya sudah mulai bereaksi. Dunia di sekitarnya terasa goyah. Suara menjadi jauh. Langkahnya tidak lagi stabil.

Ia terus berjalan tanpa arah, tanpa sadar bahwa ia sudah keluar dari trotoar.

Ke tengah jalan.

Sebuah suara klakson keras memecah udara.

Terlambat.

Sebuah jeep militer melaju cepat ke arahnya. Sopir langsung menginjak rem, ban berdecit keras di aspal.

Wulan membeku di tempat.

Tubuhnya tidak bergerak.

Dalam satu detik itu, semua suara hilang.

Hanya ada satu pikiran yang lewat.

Selesai.

Namun benturan tidak pernah datang.

Jeep berhenti hanya beberapa sentimeter di depannya.

Wulan terjatuh ke belakang, tubuhnya menghantam aspal. Tangannya menahan, tetapi tidak cukup untuk mencegah benturan keras.

Napasnya terputus.

Jantungnya berdetak liar, tidak teratur.

Ia duduk di tanah, tidak bergerak.

Keringat dingin mengalir di punggungnya meski udara pagi masih sejuk.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya—

Ia benar-benar merasakan kematian begitu dekat.

“Gila kamu?!” suara kasar memecah keheningan.

Pengemudi jeep membuka pintu dengan keras, turun dengan wajah penuh amarah. Seragam militernya rapi, tetapi ekspresinya tidak menyisakan kesabaran.

“Kamu mau mati ya?!” bentaknya.

Wulan tidak menjawab.

Ia masih duduk di tanah, napasnya belum stabil.

Pria itu melangkah mendekat, menunjuknya dengan tajam.

“Ini jalan raya! Pakai mata kalau jalan!”

Suaranya semakin keras, menarik perhatian orang-orang di sekitar.

Namun sebelum ia bisa melanjutkan, sebuah suara lain terdengar dari belakang jeep.

“Cukup.”

Nada suaranya tidak keras, tetapi tegas.

Pengemudi itu langsung berhenti.

Pintu belakang jeep terbuka.

Seorang pria turun perlahan.

Seragamnya lebih rapi, pangkat di bahunya menunjukkan posisi yang lebih tinggi. Langkahnya tenang, tetapi setiap gerakannya membawa tekanan yang tidak terlihat.

Ia berdiri di samping jeep, matanya langsung tertuju pada Wulan.

Tatapannya tajam.

Terukur.

Berbeda dari kemarahan kasar pengemudi tadi, pria ini tidak menunjukkan emosi berlebihan.

Namun justru itu yang membuat suasana berubah.

Pengemudi tadi mundur satu langkah, sikapnya langsung menegang.

Wulan masih duduk di tanah, tetapi tanpa sadar ia mengangkat kepala.

Mata mereka bertemu.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.

Dan untuk pertama kalinya sejak pagi itu—

Pikiran Wulan berhenti berputar.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!