“Iya, jadi aku dengar Karina baru saja bercerai belum lama ini. Dia sibuk jadi ibu dan pemilik toko roti Aura Bakery sekarang. Usia anaknya sepertinya hampir sama dengan usia anakku, kira-kira 1 tahunan lah,” ujar Benny, seorang lelaki berusia 33 tahun.
Khale, lawan bicara Beni pun tampak terdiam namun raut wajahnya penuh arti setelah mendengar berita dari sang sahabat tentang kehidupan terkini mantan kekasihnya itu.
“Jangan bilang kamu ingin kembali dengannya. Ingat, kamu sudah mau jadi ayah. Atau…kamu mau coba punya dua wanita, Khal?” goda Beni tertawa kecil.
Melempar spidol yang ada di dekatnya, Khale seakan masih belum ingin membuka mulut.
“Jujur saja, kamu masih ada rasa ‘kan dengan Karina? 9 tahun loh, tidak mungkin selesai begitu saja. Aku tahu, lelaki memang hanya jatuh cinta sekali saja, setelahnya hanya melanjutkan hidup,” lanjut Beni.
Berdiri dari tempatnya duduk menuju arah jendela dekat pintu ruangan, Khale pun menghela nafas. “Iya, memang.”
Ruangan pun seketika menjadi hening. Pikiran Khale pun terbesit pada memori tiga tahun lalu, ketika mendiang ibunya menjodohkannya dengan Syafira yang kini menjadi istrinya. Khale terpaksa memutuskan hubungannya dengan Karina, wanita yang menjadi kekasihnya selama 9 tahun sejak mereka duduk di bangku kuliah.
Tak ada pilihan lain saat itu bagi Khale selain menuruti permintaan sang ibu. Tapi kini, perasaannya menjadi campur aduk kala mendengar berita dari Beni tentang perceraian sang mantan terindah. Ya, tak lama setelah Khale menikah dulu, terdengar kabar bahwa Karina juga melangsungkan pernikahannya dengan seorang pengusaha dan tinggal di Pulau Sumatera. Dan kini, ibunya pun telah meninggal beberapa bulan yang lalu. Seolah tak ada lagi yang menentang hubungannya bersama Karina seperti dulu.
“Ah, aku tahu yang ada di otakmu. Jangan bilang kamu menyesal karena Syafira akhirnya kini bisa hamil. Kalau tahu ibumu meninggal begitu cepat dan usia pernikahan Karina sesingkat ini, setidaknya jika istrimu belum hamil, kamu masih ada kesempatan untuk…” Beni tak melanjutkan ucapannya, sedangkan Khale pun juga seakan tak membantah praduga Beni.
Sementara itu di luar ruangan, tampak seorang wanita berambut hitam berkilau sebahu berusia 30 tahun tengah berdiri di depan pintu. Menguping pembicaraan suaminya di dalam, ia menelan salivanya kasar. Mengusap lembut perutnya yang mulai tampak membuncit, wanita bernama Syafira itu bergegas berjalan menuruni tangga.
“Tolong Buk Mar saja yang berikan,” ujarnya menyodorkan baki kecil berisi dua cangkir teh hangat yang awalnya ingin ia sajikan untuk suami dan tamunya.
Tampak kebingungan sembari menerima baki yang disodorkan padanya, Buk Mar, sang asisten rumah tangga berjalan menaiki tangga menuju ruang kerja tuannya hingga berpapasan dengan Khale yang baru saja keluar dari ruangan bersama Beni.
“Maaf, terlambat mengantarkan minumannya, Tuan,” ucap Buk Mar pada sang majikan dengan menundukkan kepalanya karena jamuan baru diantar ketika tamu tuannya itu akan pulang.
“Tidak apa-apa, Buk Mar,” sahut Beni mengambil dan menyeruput sampai habis secangkir teh di atas baki, lalu berpamitan pulang.
Celingukan, Khale tampak menanyakan sang istri pada asisten rumah tangganya itu. “Syafira belum pulang?”
“Sudah, Tuan, baru saja masuk kamar,” jawab Buk Mar singkat.
***
Sementara itu di dalam kamar, Syafira tampak merenungi apa yang baru saja ia dengar tadi, seakan tanpa aba-aba petir menyambar dirinya di siang bolong.
“Jadi, setelah hampir tiga tahun pernikahan kita dan aku baru saja dinyatakan hamil, kamu justru berpikiran ingin kembali dengan mantanmu,” renungnya.
Bagaimana tidak, Khale begitu baik padanya, tak pernah terlihat lelaki itu masih menyimpan perasaan untuk wanita lain. Khale juga selalu perhatian dan menunjukkan rasa sayangnya, apalagi saat dirinya diketahui hamil. Terpantau wajah berseri keluar dari wajah tampan sang suami ketika mendengar sang istri akhirnya mengandung. Suaminya itu juga sama sekali tak pernah menunjukkan sikap seseorang yang terpaksa menikah karena perjodohan orang tua.
Tapi nyatanya, apa yang ia lihat tak sesuai dengan kenyataannya. Khale begitu pandai menghargai rumah tangganya hingga dengan rapinya membohongi perasaannya sendiri. Tapi sayangnya, hal ini membuat hatinya tersiksa. Syafira merasa Khale masih menyimpan rasa pada sang mantan kekasih, wanita yang terpaksa ditinggalkannya demi menikahi dirinya. Membungkam mulutnya dengan tangan kanannya, mata Syafira berkaca-kaca.
“Apa aku yang salah karena telah memisahkan mereka? Aku tidak tahu jika hubungan mereka selama dan sedalam itu. Khale tidak pernah cerita sebelumnya soal ini. Apa benar cintanya sudah habis pada Karina, dan denganku hanyalah melanjutkan hidup?” Syafira tampak tak percaya dengan semua ini.
Hingga tak lama, terdengar suara pintu kamar diketuk.
“Sayang, sudah pulang? Kenapa tidak menemuiku?” sapa Khale dengan lembut.
Mengusap matanya pelan, Syafira berdiri dari duduknya dan mengangguk. “Buk Mar bilang kamu sedang ada tamu.”
“Apa kamu mual lagi?” lanjut Khale setengah memeluk tubuh sang istri.
“Hanya butuh istirahat,” jawab Syafira singkat dan menghindari pelukan Khale, lalu meminta izin beristirahat karena ia merasa lelah sepulang dari minimarket.
Bak ingin memahami kondisi sang istri yang sedang hamil muda, Khale mempersilakannya beristirahat lalu berpamitan meninggalkannya untuk kembali ke kantor.
Melirik ke arah pintu, Syafira yang sudah terbaring di kasur pun kembali bangkit dan meraih tas juga ponselnya.
***
“Kalau sesuai maps sih alamatnya sudah benar di sini, Nyonya,” ujar sopir pribadi yang mengemudikan mobil yang ditumpangi Syafira.
Sembari mencocokan alamat yang ia lihat di maps dalam ponselnya, istri Khale itu celingukan ke arah luar jendela mencari sebuah tempat.
Hingga kedua bola matanya tertuju pada sebuah mobil yang ia hafal betul milik sang suami berikut dengan plat nomornya. Mobil seharga hampir satu milyar berwarna hitam itu dengan jelas terparkir di depan sebuah toko kue yang sedang ia cari. Reflek, ia menelan salivanya kasar, jantungnya berdegup kencang.
Aura Bakery.
...****************...
“Kata Buk Mar tadi kamu pergi lagi, kemana? Jangan terlalu lelah, aku tidak mau kamu dan anak kita kenapa-kenapa,” ujar Khale saat tengah makan malam bersama sang istri.
Sedikit tersedak, Syafira meneguk air minumnya. Syukurnya, ia telah meminta sang sopir mengatakan hal yang sama bila Khale bertanya. “Oh, tadi ada belanjaan yang aku lupa bawa, baru ingat sewaktu sudah di rumah, jadi aku kembali lagi ke minimarket.”
Mengusap lembut rambut istrinya, Khale menatapnya penuh perhatian. “Kan bisa minta diambilkan Buk Mar, Yani, atau Lela, dari pada harus bolak-balik. Aku takut kamu kelelahan.”
Sungguh, sikap suaminya itu begitu terlihat tulus, bak tak ada yang sedang disembunyikan. Tapi jika mengingat pernyataan Beni tentang cinta Khale yang telah habis di masa lalu, hatinya kembali teriris. Belum lagi ketika ia tahu dengan mata kepalanya sendiri, Khale menemui mantannya di toko kue tadi.
“Secepat itu kamu bergerak menemui Karina setelah mengetahui kabarnya. Apa kamu begitu rindu padanya? Atau perasaanmu begitu menggebu setelah tahu dia janda?” batin Syafira sesak.
Melambaikan tangannya di depan wajah Syafira, Khale menegur sang istri agar tak sering melamun saat sedang hamil begini.
“Oh iya, aku bawakan croissant kesukaanmu, tadi aku mampir ke toko kue.” Khale menyodorkan sebuah kotak kue berwarna pink di hadapannya, bertuliskan nama toko Aura Bakery.
Dengan ekspresi datar tapi penuh tekanan, Syafira memandangi kue itu begitu lama. Biasanya, jika mendengar kata croissant ia akan langsung melahapnya. Tapi, kali ini berbeda. Ia bahkan tak nafsu untuk mencicipinya.
“Aku sudah kenyang, besok saja. Aku ingin kembali ke kamar,” pamitnya sedikit ketus.
Memandang sang istri yang bersikap aneh, Khale tampak ingin memaklumi mood ibu hamil itu.
***
Keesokan paginya setelah Khale berangkat ke kantor, Syafira bergegas menemui Pak Aden, sopir pribadi yang Khale perintahkan untuk mengantarkan ke mana pun istrinya pergi.
“Kita ke toko kue kemarin, ya, Pak,” ujarnya sembari duduk di kursi belakang kemudi.
“Ingat, ya, Pak, jangan bilang pada Khale kalau kita ke toko kue itu,” lanjut Syafira mengingatkan.
Mengangguk, Pak Aden mulai melajukan mobilnya.
20 menit berlalu, tibalah mereka tak jauh dari seberang toko kue Aura Bakery.
Kali ini tak terlihat mobil Khale di sana, tapi, ia melihat seorang wanita seumuran Khale mondar-mandir di depan toko sembari menggendong seorang batita berusia 1 tahunan.
“Apa itu Karina? Kalau benar, dia memang cantik. Wajar jika Khale tak bisa melupakannya. Apalagi, 9 tahun bukan lah waktu yang sebentar, pasti sudah banyak yang mereka lalui,” gumamnya.
Setelah beberapa menit mengintai toko kue itu, Syafira memutuskan untuk pergi. Namun, baru juga sopir menginjak gas, mobil Khale tak lama melintas dan memarkirnya di depan bakery. Meminta sang sopir melajukan mobilnya perlahan, Syafira tak berkedip saat melihat wanita yang ia duga Karina itu, masih menggendong anaknya dengan terburu-buru masuk ke dalam mobil Khale.
Tak ada tenaga untuk mengikuti ke mana mobil suaminya itu pergi bersama Karina, Syafira meminta sang sopir untuk segera pergi dari sana.
***
Saat malam harinya, tak biasanya Khale pulang terlambat. Kalau pun sedang ada pekerjaan yang masih harus diselesaikannya, ia pasti akan memberi kabar. Tapi tidak dengan malam ini. Padahal dari seminggu yang lalu Syafira sudah mengatakan jadwal kontrol ke dokter kandungan malam ini.
Hingga terdengar suara mobil baru saja berhenti di halaman rumah, Syafira pun bergegas keluar untuk menyambut sang suami.
“Sayang, maaf aku pulang terlambat. Tadi ada urusan yang urgent sekali. Kamu mau ke mana rapi begini? Atau baru pulang dari luar?” Khale menghampiri istrinya.
Baru saja ingin menjawab sapaan sang suami, Syafira kembali menutup mulutnya kala terdengar suara ponsel Khale berdering.
“Ya, halo? Apa? Ya sudah, aku akan segera ke sana,” ujarnya dalam panggilan telepon lalu menutupnya.
“Sayang, aku harus pergi lagi. Kalau kamu mau pergi, besok pagi saja. Tapi kalau kamu memang baru dari luar, baguslah, segera istirahat saja,” pamit Khale mencium kening sang istri dan mengusap lembut perut ibu hamil itu.
Mengusap lembut perutnya berkali-kali, Syafira berjalan mengambil tasnya dan bergegas menuju pos satpam tempat Pak Aden beristirahat. “Bisa-bisanya kamu melupakan janji untuk bertemu dengan anakmu sendiri.”
Terpaksa, ia harus pergi ke rumah sakit tanpa Khale.
Hingga setibanya di rumah sakit dan selesai melakukan konfirmasi kedatangan, Syafira menunggu namanya dipanggil di ruang tunggu praktik dokter kandungan. Ia mengedarkan pandangannya tak jauh dari ruang praktik dokter obgyn, yang bersebelahan dengan ruang tunggu praktik dokter anak. Mengelus perutnya, senyumnya mengembang kala ia membayangkan jika suatu saat nanti akan berganti mengantre di sana. Namun, tiba-tiba seyumnya surut perlahan kala mengingat nasib rumah tangganya.
Tapi, bukan hanya senyumnya yang surut, kini wajahnya memerah dipenuhi api amarah, kala melihat seorang laki-laki yang sedang menggendong anak kecil baru saja keluar dari ruangan dokter anak.
...****************...
“Ha? Kamu serius? Apa tidak terlalu cepat dan terkesan terburu-buru kamu mengambil keputusan ini?” Seorang wanita yang kini tengah duduk berhadapan dengan Syafira di sebuah kafe, tampak melotot setelah mendengar sebuah pernyataan dari teman baiknya itu.
Mengangguk, Syafira tampak yakin dengan keputusannya. “Keputusanku sudah bulat. Tolong bantu aku, Len.”
Wanita bernama Helena itu terlihat seperti masih ingin menyanggah dan menyangkal keputusan Syafira, tapi ia tak dapat berkata apapun saat ini.
“O-oke, akan aku kirimkan daftar berkas yang harus kamu siapkan nanti,” ujar Helena dengan terbata.
“Aku mau sekarang, Lena, bukan nanti. Tunjukkan saja padaku sekarang berkas apa saja yang harus aku berikan supaya kamu bisa segera memprosesnya hari ini juga. Apa yang aku bawa ini sudah lengkap?” tanya Syafira bernada tinggi, lalu menyodorkan sebuah map berwarna merah.
Menutup mulutnya, Helena kembali dibuat shock kala melihat Syafira seakan sudah menyiapkan semua berkas itu dengan matang. “Maksudku sembari kamu menyiapkan berkasnya, kamu bisa berpikir ulang. Membicarakan baik-baik misalnya, mencari jalan keluar.”
Tak menjawabnya, tatapan wajah Syafira begitu tajam hingga membuat Helena yang sehari-hari begitu tegas saat bekerja membela siapa pun kliennya dengan kasus sedemikian rupa, kini menjadi kicep dibuatnya. Sungguh, tak pernah ia sangka akan menjadi kuasa hukum temannya sendiri, apalagi dengan kasus menyesakkan seperti ini. Tak ada pilihan lain, ia terpaksa menyanggupi permintaan Syafira.
“Aku percayakan semuanya padamu dan suamimu. Advokat terbaik di kota ini, jam terbang tinggi, lulusan luar negeri, dan telah memiliki klien dari berbagai kalangan juga partner ternama. Aku percaya kalian berintegritas, tak akan tertarik dengan sebanyak apa pun uang yang mungkin saja akan Khale berikan nantinya.
Tenang saja, biarpun kita teman aku tetap akan membayar jasamu sesuai tarif yang kamu pasang. Kabari saja jika ada berkasku yang kurang. Aku tunggu progressnya hari ini juga,” ucap Syafira dengan mantap, sembari berdiri dari kursinya lalu pergi membawa tas miliknya.
***
Malam ini saat Khale tiba di rumah, tak ada sambutan apa pun dari istrinya. Biasanya sepulang kantor, Syafira selalu menyambutnya di ruang tamu. Tapi malam ini, tak juga ia temui sang istri di kamar sekalipun.
Semalam saat ia kembali ke rumah, dilihatnya istrinya itu sudah tertidur pulas. Begitu pun saat pagi tadi ketika akan berangkat ke kantor, sang istri tampak masih berbaring di kasur karena perutnya terasa mual. Alhasil, Khale belum banyak bicara dengan Syafira. Sekarang, ia justru tak melihat sang istri.
“Buk Mar, di mana Syafira? Aku cari di kamar tidak ada. Pak Aden juga sepertinya sedang ngopi di pos satpam, seharusnya tak sedang mengantar Syafira ke mana-mana. Aku telepon ponselnya tidak aktif,” tanya Khale panik saat berpapasan dengan kepala asisten rumah tangganya.
Terdiam sejenak, Buk Mar seakan merasa bersalah karena seharian tak memperhatikan keberadaan nyonyanya itu. “Maaf, Tuan. Seharian saya urus dapur bersama Lela karena Yani sedang izin pulang kampung per hari ini. Jadi, kami kerepotan sekali sampai-sampai tidak memperhatikan Nyonya. Tapi, tadi siang Lela masih melihat Nyonya di kamar. Dia yang antar makanan ke kamar.”
Tampak kecewa dengan jawaban Buk Mar, Khale memperingatkannya kembali bahwa selama ia tak ada di rumah, Syafira menjadi tanggung jawab seluruh pekerja di rumahnya terutama Buk Mar. Ia pun kembali mencari sang istri di setiap sudut rumah. Tak lupa, Khale pun memanggil Pak Aden untuk meminta keterangan.
“Terakhir saya antar Nyonya semalam ke rumah sakit dan tadi pagi ke kafe, Tuan,” lapor Pak Aden.
Terdiam, Khale seketika teringat akan jadwal kontrol sang istri yang ia lupakan begitu saja. “Ke kafe? Tadi pagi? Apa kamu melihat dia bertemu siapa di sana?”
Menunduk, Pak Aden terdiam karena ia memang tak tahu dengan siapa sang Nyonya bertemu.
“Jawab saya!” titah Khale.
“Nyonya hanya bilang ingin menikmati teh pagi hari dengan suasana kafe. Tuan. Tidak lama berada di sana, nyonya meminta diantar pulang. Tapi, setelahnya saya tidak tahu aktivitas nyonya,” jawab Pak Aden setengah menunduk karena takut salah menjawab.
Berganti memanggil satpam rumahnya, Khale memastikan Syafira memang tak keluar rumah lagi sepulang dari kafe.
“Sa-saya dan Aden tidak melihat Nyonya keluar, Pak,” jawab satpam pelan karena teringat ia sempat ketiduran selama beberapa jam di pos, sementara Aden juga sempat izin pergi ke luar mencari angin.
Dengan wajah muram, Khale kembali ke kamarnya. Entah mengapa firasatnya tak enak. Diperiksanya lemari dan seluruh barang-barang milik istrinya. Semuanya terlihat masih lengkap, tapi terasa ada yang berbeda.
Ya, Syafira meninggalkan gaun-gaun mewahnya di dalam lemari, sedangkan baju sehari-seharinya kini tak ada. Barang-barang pribadi milik Syafira juga masih terlihat ada di meja rias. Tapi, tas yang biasa ia pakai tak terlihat di sana. Perhiasan pemberian Khale pun masih ada di dalam kotak.
Hingga kedua bola mata CEO perusahaan keluarganya itu tertuju pada selembar amplop di atas meja kecil di samping tempat tidur. Penasaran, segera dibukanya amplop putih itu. Di dalamnya, terdapat beberapa lembar cetak foto dan selembar surat.
Khale, maafkan aku harus pergi. Aku kecewa padamu yang tak pernah jujur padaku soal masa lalumu. Seharusnya kamu tak akan mempermasalahkan kepergianku ‘kan? Bukan kah kamu tak pernah mencintaiku? Bukan kah selama ini kamu menjalani pernikahan ini tanpa rasa, dan yang kamu lakukan tak lebih dari sekedar bertanggung jawab sebagai seorang suami?
Kamu pun membenarkan ucapan temanmu bahwa cintamu telah habis padanya, denganku hanya lah melanjutkan sisa hidupmu. Bukankah itu artinya memang tak pernah ada cinta untukku?
Ibumu, orang yang kekeh menjodohkan kita kini sudah tiada. Artinya pula, tak ada lagi yang menentang hubunganmu dengan mantan kekasihmu itu yang kini sudah menjanda. Silakan kembali padanya dan lupakan kami, aku dan anak-anakmu.
Surat singkat dari Syafira itu membuat Khale mematung. Tak hanya karena surat itu, tapi beberapa lembar foto di dalam amplop membuatnya ingin ambruk. Foto-foto yang Syafira cetak adalah foto saat dua kali mobil Khale tertangkap basah mampir ke toko kue milik Karina, juga saat ibu hamil itu melihat Khale tengah menggendong anak kecil yang diduga adalah anak Karina, keluar dari ruang praktik dokter anak.
Di belakang foto itu juga tertulis sebuah tulisan tangan Syafira yang membuat hatinya tersayat.
Aku mengambil gambar ini saat sedang kontrol kandungan.
Tak sengaja aku melihatmu yang lebih memilih peduli pada anak dari mantanmu, dari pada menengok perkembangan anak-anakmu sendiri dalam rahimku.
Gambar ini juga aku ambil tak lama setelah kamu tahu kabar mantanmu yang kini menjanda, mungkin kamu sudah memendam rindu mendalam padanya hingga langsung menemuinya.
“Anak-anak?” Belum sempat Khale mempertahankan keseimbangan tubuhnya, satu foto terakhir yang ia lihat membuatnya benar-benar ingin pingsan.
Foto USG anak kembar yang ternyata ada di dalam perut Syafira, yang tak pernah ia tahu sebelumnya, karena pada kontrol di waktu-waktu sebelumnya, tak terdeteksi sang istri tengah mengandung 2 janin.
Khale mencoba menyadarkan dirinya secara penuh di tengah serangan ombak dahsyat ini, untuk mencoba berpikir dari mana Syafira bisa mengetahui semua ini. Ia lalu bergegas melihat layar monitor di ruang CCTV, sebab beberapa praduga mulai muncul dalam benaknya. Benar saja, Khale terduduk shock saat melihat rekaman CCTV ketika Syafira menguping pembicaraan di ruang kerjanya bersama Beni, juga saat sang istri kembali pergi setelah dirinya berpamitan pergi ke kantor pagi itu, yang mungkin bisa saja Syafira mengikuti mobilnya menuju toko kue milik Karina.
“Jadi…” Sontak Khale berlari keluar kamar menuju garasi mobilnya untuk mencari keberadaan sang istri yang kini entah di mana.
...****************...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!