Pagi di kota kecil ini selalu dimulai dengan aroma yang sama, bau tanah basah, asap dari kayu bakar tetangga yang masih memasak air, dan bunyi gesekan sapu lidi di halaman.
Namun bagi Sekar, pagi ini terasa benar-benar asing. Ia terbangun bukan di kamarnya yang sempit dengan dinding triplek yang lembap, melainkan di sebuah kamar dengan ranjang kayu jati yang kokoh dan seprai beraroma detergen mahal.
Sekar mengerjapkan mata, menatap langit-langit kamar yang tinggi. Di sampingnya, sisi ranjang sudah kosong. Hanya ada bekas lekukan tubuh yang menandakan bahwa beberapa saat lalu, ada orang lain di sana.
Ia bangkit perlahan, merapikan daster batiknya yang sudah mulai terasa sempit di bagian perut. Usia kandungannya baru memasuki bulan ketiga, tapi Sekar merasa beban di perutnya jauh lebih berat karena rasa bersalah yang ia pikul. Ia melangkah keluar kamar dengan ragu, seolah-olah ia adalah pencuri di rumah gedong yang sudah sangat mewah baginya itu.
Di dapur, ia melihat punggung lebar itu. Pria yang tadi menempati sisi di lain di ranjangnya, sedang berdiri di depan kompor, membelakanginya saat ini.
Pria itu hanya mengenakan kaos kutang putih dan celana pendek selutut. Otot-otot lengannya yang kecokelatan karena sering turun tangan mengecek material di gudang terlihat menegang saat ia menuang air panas ke dalam cangkir.
"Sudah bangun?" Suara berat milik pria itu memecah keheningan. Ia tidak menoleh, tapi seolah tahu Sekar sedang memperhatikannya.
Sekar tersentak, jemarinya meremas pinggiran meja makan kayu yang mengkilap.
"Iya, Mas. Maaf, saya kesiangan. Harusnya saya yang siapkan sarapan"
Pria itu berbalik. Wajahnya tenang, tidak ada guratan amarah atau kekesalan. Ia hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang selalu membuat Sekar merasa kecil.
"Tidak apa-apa. Kamu butuh istirahat lebih banyak. Dokter bilang jangan terlalu capek, kan?"
Pria yang dua bulan lalu menikahinya itu meletakkan secangkir susu hangat di depan Sekar.
"Minum ini. Aku tadi beli nasi uduk di depan pasar. Masih hangat"
Sekar menatap cangkir susu itu dengan pandangan nanar. Di matanya, kebaikan pria itu adalah sembilu.
"Mas tidak perlu repot-repot. Saya bisa jalan sendiri ke depan kalau mau makan"
"Sekarang kamu tanggung jawabku, Sekar" Sahut pria itu pendek. Ia kemudian duduk di kursi seberang Sekar, menyesap kopinya sambil menatap keluar jendela ke arah halaman samping yang dipenuhi tumpukan batu bata.
"Tanggung jawab" Kata itu bergema di kepala Sekar.
Setiap kali suaminya melakukan sesuatu yang manis, Sekar selalu menerjemahkannya sebagai bentuk penebusan dosa.
"Suami?" Entahlah, apa Sekar pantas memangilnya sebagai suaminya.
Pria itu adalah Danu, atasannya sendiri di toko bangunan Sumber Rejeki, tempat bekerja menjadi buruh penimbang paku. Danu adalah pria yang baik, pria yang dididik untuk tidak melarikan diri dari kesalahan. Dan pernikahan ini adalah cara Danu membereskan kekacauan yang mereka buat di gudang toko malam itu.
"Mas..." panggil Sekar lirih.
"Ya?" Danu menjawabnya setelah menurunkan cangkirnya dari bibirnya.
"Mbak Lidya, apa dia masih sering telepon?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja, seperti bisul yang pecah. Sekar segera menyesalinya saat melihat perubahan kecil di wajah Danu. Rahang pria itu mengeras sejenak, meski matanya tetap datar.
"Kenapa tanya itu?" Tanya Danu kembali.
"Saya cuma merasa, saya sudah merusak banyak hal buat Mas. Mas harusnya punya kehidupan yang lebih bagus di kota. Mbak Lidya itu cantik, pinter, dia..."
"Sekar" Danu memotong dengan nada yang tidak tinggi, namun tegas.
"Makan sarapanmu. Jangan bahas yang sudah lewat. Kita sudah menikah, dan itu keputusan yang aku ambil!" Danu bangkit dari kursi, mengambil kunci motor di atas meja.
"Aku ke toko dulu. Ada kiriman semen yang datang pagi ini. Kalau ada apa-apa, telepon aja. Jangan pergi kemana-mana tanpa kasih tau dulu!" Tanpa menunggu jawaban, Danu melangkah keluar. Suara motor Honda tuanya menderu di halaman, lalu perlahan menghilang ditelan jarak.
Sekar terduduk lesu. Nasi uduk yang ada di depannya mendadak terasa hambar. Ia tahu, Danu tidak menjawab pertanyaannya tentang Lidya. Dan bagi Sekar, diamnya Danu adalah jawaban yang paling jujur.
Danu masih mencintai wanita itu. Danu hanya sedang berusaha menjadi pria hebat yang memikul beban akibat kesalahan satu malam bersama seorang buruh penimbang paku seperti dirinya.
Ia membelai perutnya yang masih cukup rata diusia kehamilannya yang sudah menginjak usia tiga bulan.
"Maafin Ibu, Nak. Kita cuma menjadi beban untuk Ayahmu saja. Ayahmu menikahi Ibu hanya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tapi dalam hatinya tentu masih mencintai Mbak Lidya"
Di kota kecil yang sepi ini, Sekar merasa dirinya lebih terasing daripada saat ia masih hidup luntang-lantung di kontrakan kumuhnya. Di sini, di rumah yang nyaman ini, ia hanyalah seorang tamu yang terjebak dalam rasa syukur yang menyakitkan.
Dia tidak pernah menginginkan posisinya saat ini. Saat dia tau kejadian malam kelam itu menghadirkan nyawa di dalam rahimnya, Sekar lebih memilih diam. Dia tidak berani meminta tanggung jawab dari Danu. Dia juga tidak mau menikah dengan Danu dengan status sosial mereka berdua yang begitu jauh.
Selain itu, semua karyawan di toko bangunan "Sumber Rejeki" dan juga seluruh penghuni pasar yang letaknya di samping toko bangunan, mereka semua tau kalau Danu sudah menjalin hubungan dengan Lidya. Wanita cantik dan pintar yang tinggal di kota dengan status sosial yang setara dengan Danu. Lidya bahkan mempunyai butik yang cukup sukses di kota kecil itu.
"Hmm!!"
Sekar tersentak karena suara itu. Suara yang paling membuatnya ketakutan di rumah milik keluarga Subroto.
"Hmm!!"
Sekar tersentak karena suara itu. Suara yang paling membuatnya ketakutan di rumah milik keluarga Subroto.
"I-ibu" Sudah dua bulan Sekar tinggal di rumah keluarga Subroto, namun rasa takut masih saja ada ketika harus berhadapan dengan Nyonya rumah itu.
"Lebih baik masak daripada ngalamun kaya gitu!" Bu Broto tampak melirik Sekar dengan sinis.
"Baik Bu"
Dari awal Sekara melangkahkan kakinya masuk ke rumah dengan lantai marmer itu, Sekar tidak pernah mendapatkan sambutan hangat dari Ibu mertuanya.
Bu Broto memang menerima pernikahan mereka. Tapi, itu hanya sebatas untuk membersihkan namanya yang sempat tercoreng dengan kejadian di gudang toko bangunan malam itu. Bukan karena dia menerima Sekar dengan ikhlas menjadi menantunya.
Selain itu, Sekar yang hanya buruh penimbang paku, tidak akan mungkin bisa diterima oleh Bu Broto yang kaya raya dan terpandang di kecamatan sekecamatan.
🏵️🏵️🏵️
Hujan tak pernah berhenti di kota kecil itu. Suaranya yang ritmis menghantam atap seng kontrakan Sekar yang bocor di tiga titik. Di dalam ruangan sempit berukuran tiga kali empat meter itu, Sekar duduk meringkuk di atas dipan kayu tipis, memegangi selembar kertas hasil laboratorium dari puskesmas kecamatan. Dua garis merah itu terasa seperti vonis mati, bukan anugerah.
Ia tidak punya siapa-siapa lagi untuk mengadu. Ibunya sudah meninggal lima tahun lalu karena kelelahan dan asma yang tak terobati, sementara ayahnya hanyalah sosok bayangan yang pergi meninggalkan mereka sejak Sekar masih balita untuk mengadu nasib di Malaysia dan tak pernah kembali. Sekar sendirian. Ia hanyalah wanita yang menyambung hidup dengan menjadi tukang cuci baju tetangga di pagi hari dan menjadi buruh penimbang paku serta semen di toko bangunan Sumber Rejeki milik keluarga Danu di sore hari.
Suara ketukan di pintu kayu yang sudah lapuk itu mengejutkannya. Sekar buru-buru menyembunyikan kertas itu di bawah bantal.
"Sekar? Ini aku, Danu"
Jantung Sekar seakan berhenti. Ia membuka pintu dengan tangan gemetar. Di sana berdiri Danu, basah kuyup dengan jaket parasut yang meneteskan air, namun sorot matanya tajam dan penuh determinasi.
"Mas Danu, ke-kenapa ke sini? Malam-malam, hujan..."
"Aku tahu, Sekar. Aku sudah tahu!" Potong Danu. Suaranya rendah tapi berat, menembus deru hujan di belakangnya.
"Kenapa kamu nggak bilang langsung ke aku? Kenapa aku harus dengar dari Bu Bidan kalau ada karyawanku yang datang periksa dengan wajah pucat pasi?"
Sekar menunduk, air matanya jatuh tanpa permisi.
"Ini salah saya, Mas. Saya yang tidak tahu diri malam itu. Mas sedang mabuk, harusnya saya tidak membiarkan Mas..." Sekar tampak berhenti sejenak, seperti sedang meralat kata yang ingin keluar dari bibirnya.
"Saya harusnya berusaha lebih keras lagi untuk mendorong Mas Danu. Saya harusnya bisa lari saat itu. Saya tahu posisi saya, Mas. Saya tidak akan menuntut apa-apa"
Danu melangkah masuk ke dalam kontrakan yang sempit itu tanpa dipersilakan. Ruangan itu pengap, berbau sabun cuci murah dan kemiskinan yang nyata. Pemandangan itu seolah menampar wajah Danu. Pria berusia tiga puluh dua tahun itu menghela napas panjang, lalu duduk di kursi plastik satu-satunya di sana.
"Kita menikah minggu depan!" Ucap Danu datar.
Sekar tersentak. Dia jelas sekali menghindari ikatan yang ingin dibuat oleh Danu, makanya dia berusaha menyembunyikan kehamilannya sampai Danu akhirnya mendengar dari Bu Bidan.
"Nggak bisa, Mas! Mas punya Mbak Lidya. Dia cantik, dia sarjana, dia anak orang terpandang di kota. Kalau Mas nikah sama saya, apa kata orang tua Mas? Apa kata orang pasar? Saya cuma buruh penimbang paku, Mas. Saya tidak selevel dengan Mas Danu"
Danu menatapnya lama. Tatapan itu sulit dibaca tapi jelas ada rasa bersalah, ada kewajiban, tapi tak ada ledakan emosi.
"Ibu sudah tahu. Aku sudah bicara semuanya tadi sore!"
Mendengar itu, tubuh Sekar lemas. Ibu Danu, Bu Subroto, adalah sosok yang disegani di pasar. Wanita itu selalu memakai perhiasan emas yang mencolok dan sangat bangga pada Danu, putra tunggalnya yang sukses mengelola usaha keluarga.
"Pasti pasti Bu Broto marah besar" bisik Sekar.
"Ibu kecewa. Itu wajar" jawab Danu jujur, kejujuran yang justru menyayat hati Sekar.
"Tapi beliau lebih kecewa kalau punya anak laki-laki pengecut yang membiarkan darah dagingnya tumbuh tanpa nama ayah. Ibu setuju, Sekar. Tapi dengan syarat, pernikahan ini dilakukan secara sederhana, hanya di KUA dan syukuran kecil di rumah. Tidak ada pesta"
Sekar menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia bisa membayangkan betapa hinanya ia di mata keluarga Danu. Sebuah kecelakaan yang harus dibersihkan.
"Mas Danu, kita tidak saling mencintai" Sekar berujar di balik jemarinya.
"Mas hanya kasihan dan merasa bersalah. Mas mengorbankan masa depan Mas bersama Mbak Lidya hanya karena tanggung jawab. Mas akan membenciku seumur hidup jika kita meneruskan ini"
Danu bangkit, melangkah mendekati Sekar hingga aroma hujan dan kayu putih dari tubuhnya tercium jelas. Ia memegang kedua lengan Sekar, memaksanya untuk mendongak.
"Dengarkan aku, Sekar. Aku bukan pria yang suka mengumbar janji manis. Aku memang nggak bisa memberikanmu pesta mewah atau pernyataan cinta yang berapi-api sekarang. Tapi aku janji, selama kamu menjadi istriku, nggak akan ada orang yang boleh menghinamu. Kamu nggak perlu lagi mencuci baju orang lain sampai tanganmu pecah-pecah, kamu juga nggak perlu lagi menimbang paku sampai larut malam. Kamu akan tinggal di rumahku, makan apa yang aku makan, dan anak itu... dia akan punya namaku di akta kelahirannya"
"Tapi Mbak Lidya..."
"Lidya sudah selesai" Potong Danu cepat, ada nada pahit yang terselip di sana.
"Dia tidak bisa menerima ini. Dan itu wajar. Aku yang brengsek di sini, bukan kamu. Jadi, berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Pokoknya Minggu depan kita menikah!"
🏵️🏵️🏵️
Pernikahan itu akhirnya terjadi tepat tujuh hari kemudian. Benar kata Danu, itu sangat sunyi. Tidak ada janur kuning yang melengkung di depan toko Sumber Rejeki. Hanya ada ijab kabul di kantor KUA yang dingin, disaksikan oleh Pak RT dan dua kerabat jauh Danu.
Tidak ada kerabat Sekar sama sekali karena sekarang memang sengaja tidak memberitahu Pakdenya di Desa. Dia tidak mau karena aibnya akan membuat Pakdenya malu. Hanya ada Ibas, teman yang juga bekerja di toko bangunan sebagai saksi untuknya.
Bu Subroto hadir dengan kebaya cokelat tua. Sepanjang acara, wanita itu tidak pernah benar-benar menatap mata Sekar. Saat Sekar mencium tangannya setelah sah menjadi menantu, tangan tua itu terasa kaku dan dingin.
"Sudah jadi garis tanganmu, Sekar" Ucap Bu Subroto lirih, nadanya tidak kasar, tapi penuh dengan nada pasrah yang menyakitkan.
"Jaga anakmu baik-baik. Jangan buat malu Danu lebih dari ini. Dia sudah mengorbankan banyak hal untukmu"
Kalimat itu menjadi hantu bagi Sekar. Mengorbankan banyak hal.
Setelah sah, Danu memboyongnya ke rumah besar di belakang toko. Rumah itu sangat jauh lebih layak dari kontrakannya, tapi bagi Sekar, setiap sudut rumah itu terasa seperti pengingat bahwa ia adalah penyusup.
Malam pertama mereka dilewati tanpa banyak kata. Danu tidur di sisi ranjang yang sama, namun mereka tidak bersentuhan. Danu hanya menyelimuti Sekar sebelum mematikan lampu.
"Tidurlah. Besok hidupmu sudah berbeda" hanya Itu yang Danu katakan saat malam pertama mereka.
Kini, Sekar menatap susu yang sudah telanjur dingin pemberian Danu tadi, Sekar menyadari satu hal. Danu memang menepati janjinya. Ia memberikan perlindungan, ia memberikan kecukupan, ia bahkan memberikan kelembutan yang tak terduga. Namun, di balik semua kebaikan itu, Sekar merasa Danu sedang membangun benteng tinggi.
Pria itu memperlakukannya seperti porselen retak yang harus dijaga agar tidak semakin hancur, bukan seperti wanita yang ia cintai. Dan fakta bahwa Danu memutuskan hubungan dengan Lidya, wanita yang begitu sempurna, hanya demi dirinya, membuat Sekar merasa berutang nyawa seumur hidup.
Ia sering bertanya-tanya dalam diam, jika malam itu tidak pernah terjadi, apakah Mas Danu akan pernah melirik wanita seperti dirinya? Jawabannya selalu sama dan selalu menyakitkan, TIDAK.
Sekar menghabiskan susunya, sebelum Bu Broto menegurnya lagi. Ia harus mulai terbiasa dengan rasa pahit di balik manisnya perlakuan Danu. Di kota kecil ini, rahasia mungkin bisa disimpan di bawah atap, tapi rasa rendah diri Sekar sudah mengakar lebih dalam dari fondasi rumah manapun yang pernah dibangun Danu.
Dinding rumah Mas Danu dicat dengan warna krem yang bersih, sangat berbeda dengan dinding kontrakan Sekar yang penuh noda jamur dan kupasan cat. Namun, bagi Sekar, tembok-tembok bersih ini terasa seperti jeruji penjara yang siap menghimpitnya kapan saja. Dua bulan sudah ia menyandang status sebagai istri Danu, namun setiap pagi ia terbangun dengan perasaan yang sama, ia adalah seorang penyusup yang tidak diinginkan.
Baginya, Danu tetaplah Mas Bos, pria yang membayar gajinya dulu, bukan suami yang ia cintai. Tidak ada ruang untuk cinta di hati Sekar saat ini, yang ada hanyalah ketakutan bahwa suatu saat Danu akan terbangun dan sadar betapa ruginya ia menikahi wanita seperti dirinya. Terutama pagi ini, saat langkah kaki yang berat dan berwibawa itu terdengar kembali mendekat ke arah dapur.
Bu Subroto, ibu mertuanya, muncul dengan sanggul rapi tidak seperti tadi. Ia mengenakan daster sutra bermotif bunga yang tampak mahal. Matanya yang tajam langsung menyapu meja makan, lalu beralih ke arah Sekar yang sedang gemetar mencuci piring di wastafel.
"Sudah kubilang berapa kali, Sekar. Kalau mencuci piring itu jangan sampai beradu bunyinya. Keramik ini mahal, bukan piring plastik yang biasa kamu pakai di kontrakan dulu!" Suara Bu Subroto datar, namun ketajamannya seperti silet yang mengiris sisa-sisa harga diri Sekar.
Prang.....
Saking terkejutnya, piring yang sedang dibilas Sekar terlepas dari tangannya dan pecah berkeping-keping di lantai porselen. Sekar mematung. Wajahnya seketika pucat pasi. Jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa mual. Bukan karena ia takut kehilangan piring itu, tapi ia takut pada tatapan menghina yang akan ia terima.
"Ma-maaf, Bu. Saya, saya tidak sengaja. Saya akan bersihkan segera!" Bisik Sekar dengan suara yang bergetar hebat. Ia langsung berjongkok, mencoba memunguti pecahan keramik itu dengan tangan telanjang. Ia tidak peduli jika tangannya terluka, ia hanya ingin kepingan-kepingan itu hilang dari hadapan mertuanya.
"Jangan pakai tangan! Bodoh sekali, nanti tanganmu luka dan Danu akan menyalahkanku lagi karena tidak menjagamu!" Bentak Bu Subroto, meski nadanya tidak berteriak. Ia hanya berdiri di sana, menjulang di atas Sekar yang merangkak di lantai.
"Duduk! Biar Mbok Sum yang bereskan nanti. Kamu ini kenapa sih? Penakut sekali. Sedikit-sedikit gemetar, sedikit-sedikit mau menangis. Bagaimana kamu mau jadi istri pemilik toko kalau mentalmu mental kacung?"
Air mata yang sejak tadi ditahan Sekar akhirnya jatuh juga. Ia menangis bukan karena cinta yang tersakiti, tapi karena ia merasa begitu kecil dan tidak berdaya. Ia merasa dirinya adalah kesalahan terbesar dalam hidup keluarga ini.
"Maaf, Bu. Maaf" Hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya yang kelu.
"Berhenti minta maaf. Telingaku panas mendengarnya" Bu Subroto menarik kursi dan duduk dengan anggun.
"Dengar, Sekar. Danu menikahimu karena dia pria yang bertanggung jawab. Tapi jangan pernah berpikir karena kamu mengandung anaknya, kamu bisa duduk manis saja di rumah ini. Kamu harus tahu diri. Kalau bukan karena perutmu itu, Danu sekarang sudah bertunangan dengan Lidya di Jakarta"
Setiap kata Lidya disebutkan, Sekar merasa dadanya dihantam benda tumpul. Ia tahu ia telah mencuri posisi wanita itu. Ia merasa seperti parasit. Ia tidak membenci Lidya sebaliknya, ia merasa kasihan pada Lidya karena harus kehilangan pria sebaik Danu gara-gara kecerobohannya.
"Lidya itu, ah sudahlah. Tidak ada gunanya dibanding-bandingkan" Lanjut Bu Subroto tanpa ampun.
"Sekarang, hapus air matamu. Jangan sampai Danu lihat kamu cengeng begini, dia sudah cukup stres mengurus toko!"
Sekar menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia ingin menghilang saja. Tiba-tiba, suara motor Honda tua terdengar berhenti di halaman. Danu pulang lebih awal.
Pria itu melangkah masuk ke dapur, masih mengenakan kemeja kerjanya yang berbau debu dan kayu. Langkahnya terhenti saat melihat Sekar yang terduduk di lantai dan ibunya yang bersedekap dengan wajah ketus.
"Ada apa ini?" Suara Danu rendah, matanya menatap pecahan piring di lantai.
"Istrimu ini, Nu. Pecah piring terus nangis. Manja sekali" Sahut Bu Subroto enteng.
Danu tidak menyahut ibunya. Ia melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangan ke arah Sekar.
"Bangun, Sekar. Ke kamar saja!"
Sekar ragu-ragu menyambut tangan suaminya. Saat kulit mereka bersentuhan, Sekar merasa asing. Tidak ada getaran cinta, yang ada hanyalah rasa sungkan yang luar biasa. Ia merasa seperti beban yang harus terus-menerus dibela.
"Maaf, Mas. Saya sudah merusak piringnya" Ucap Sekar tanpa berani menatap mata Danu.
"Itu hanya piring. Sudah, masuk ke kamar!" Perintah Danu pelan.
Begitu sampai di kamar, Sekar langsung duduk di pinggiran ranjang. Danu tidak mengikutinya masuk, pria itu masih di dapur, terdengar sedang berbicara dengan nada rendah kepada ibunya. Sekar tidak ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Ia hanya ingin tidur dan berharap nanti ia bangun di kontrakannya yang dulu, meski miskin tapi ia tidak perlu merasa menjadi pencuri hidup orang lain.
Ia mengusap perutnya yang mulai menonjol sedikit. Ia tidak merasakan kebahagiaan menjadi seorang ibu. Yang ia rasakan hanyalah tanggung jawab yang sangat berat.
Dia tidak mencintai Danu, pikirnya dalam hati. Dia hanya takut padanya. Dia takut pada kebaikannya yang terasa seperti tuntutan agar dia tahu diri selamanya.
Tak lama kemudian, Danu masuk ke kamar membawa segelas air putih, makanan dan vitamin. Ia meletakkannya di atas nakas, lalu duduk di kursi kayu di pojok kamar, cukup jauh dari Sekar. Itulah yang Sekar sukai dari Danu sebulan ini, pria itu memberikan jarak. Danu tidak pernah menuntut haknya sebagai suami, ia seolah paham bahwa Sekar butuh waktu untuk bernapas.
"Ibu memang bicaranya keras, Sekar. Jangan dimasukkan ke hati" Ucap Danu menatap Sekar yang terpaut jarak.
"Ibu benar, Mas. Saya memang tidak pantas di sini" Sahut Sekar lirih.
"Kamu sudah di sini. Pantas atau tidak, kamu istriku sekarang. Ayo lekas makan lalu minum vitaminnya. Kamu pasti nggak nyaman ketemu Ibu sekarang, jadi saya bawakan makan siang ke sini"
Sekar sampai lupa kalau sekarang adalah jam makan siang. Harusnya dia melayani Danu yang memang pulang untuk makan siang seperti biasa.
"Astaga. Maafkan saya Mas, saya lupa kalau sekarang jam makan siang" Sekar terlihat panik.
"Tidak papa, barusan saya sudah makan duluan di bawah. Sekarang makanlah, nanti piringnya biar saya bawa turun ke bawah sekalian saya berangkat lagi ke depan"
"Tapi Mas..."
"Apa mau saya suapi?" Potong Danu membuat bibir Sekar langsung tertutup rapat.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!