Indonesia
NovelToon NovelToon

Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

1. Jejak yang Kau Tinggalkan

Langit tertutup awan. Hujan mengguyur kota disertai angin kencang. Sesekali kilat menyambar, disusul guntur yang menggelegar.

Ayza berdiri di depan jendela kaca, menatap ke arah gerbang rumah.

“Apa malam ini Abi tak pulang lagi?” gumamnya pelan.

Ia menghela napas yang terasa berat. Tatapannya jatuh pada ranjang. Ingatan itu datang tanpa diundang.

Malam itu juga hujan deras. Tubuh Ayza dan Kaisyaf tertutup selimut tebal.

“Abi… aku sudah capek,” keluh Ayza saat Kaisyaf kembali mengecup pipinya dan jemarinya mulai bergerak nakal.

“Sekali lagi, Sayang,” bujuk Kaisyaf dengan wajah memelas. Ia melirik box bayi di dekat ranjang. “Beberapa hari ini Alvian rewel. Aku tersiksa menahannya.”

Ayza menyipitkan mata.

“Abi selalu bilang sekali lagi. Tapi ujung-ujungnya bukan cuma sekali.”

“Kali ini benar-benar cuma sekali.”

Kaisyaf langsung menarik selimut menutupi tubuh mereka.

“Abi… pelan…”

“Sayang, nanti Alvian keburu bangun.”

DUAAR!

Suara guntur membuat Ayza tersentak dari lamunannya.

Selama sepuluh tahun, malam-malam hangat bersama Kaisyaf membuatnya merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Namun akhir-akhir ini Kaisyaf berubah.

Ayza refleks tersenyum saat melihat mobil Kaisyaf memasuki halaman rumah. Ia bergegas keluar dari kamar.

Saat tiba di pintu depan, pintu itu terbuka. Kaisyaf muncul dari baliknya dengan wajah sedikit pucat.

Tanpa berkata apa pun, Ayza meraih tangan suaminya untuk disalimi dan dikecup. Namun Kaisyaf buru-buru menarik tangannya.

Pria itu berjalan melewati Ayza tanpa sepatah kata.

Ayza menatap punggungnya beberapa detik.

"Kenapa sikapnya makin dingin?" batinnya. Dadanya terasa seperti dihimpit batu.

Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan sebelum buru-buru menyusul suaminya ke kamar.

“Abi, kenapa pulang malam sekali? Abi jangan terlalu banyak bekerja. Istirahat juga penting.”

Seperti biasa, Ayza membantu melepaskan jas suaminya.

“Kau tak perlu menunggu aku pulang,” ucap Kaisyaf datar.

“Aku tak bisa tidur sebelum Abi pulang,” jawab Ayza sambil menggantung jas itu.

“Ayza…” panggil Kaisyaf pelan tanpa menatapnya. “Kita cerai.”

DUAAR!

Guntur kembali menggelegar.

Bahu Ayza terangkat. Bukan hanya karena suara guntur, tetapi karena tiga kata yang baru saja menghancurkan sepuluh tahun pernikahannya.

“Bi…” ucap Ayza akhirnya, nyaris tak terdengar. Ia menatap Kaisyaf dengan tatapan tak percaya.

“Akan kuurus surat-suratnya,” ujar Kaisyaf dingin. “Dan jangan khawatir, kau akan mendapatkan separuh hartaku.”

Ayza menggeleng cepat. “Tidak. Aku tidak mau cerai. Katakan padaku, Bi. Kenapa? Kenapa Abi ingin bercerai? Apa salahku?”

Ayza meraih tangan suaminya. “Katakan, Bi. Aku akan berusaha memperbaikinya.”

Kaisyaf kembali menarik tangannya. “Kamu tidak salah. Hanya saja, aku merasa pernikahan kita terlalu monoton,” katanya lagi, tetap tanpa menatap Ayza.

“Monoton?”

Ayza terdiam sejenak, berusaha mengingat bagian mana dari pernikahan mereka yang terasa monoton. Namun ia tidak menemukan apa pun.

Setiap libur mereka selalu bepergian bersama ke tempat berbeda. Mereka sering berbincang tentang hal-hal kecil, bahkan yang paling random sekalipun. Mereka juga membesarkan putra mereka, Alvian, dengan penuh kasih.

Apa semua itu dianggap monoton?

“Katakan padaku, Bi,” pinta Ayza akhirnya. “Bagian mana yang monoton? Apa yang harus kulakukan agar bisa memperbaikinya?”

“Tidak ada yang perlu diperbaiki,” sahut Kaisyaf singkat. “Aku sudah jenuh dengan rumah tangga ini. Aku akan mengajukan perceraian.”

Tanpa menunggu jawaban Ayza, Kaisyaf berlalu masuk ke kamar mandi.

Begitu pintu tertutup, ia menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Matanya terpejam, napasnya terdengar berat.

Di luar, Ayza masih berdiri mematung. Menatap pintu yang tertutup rapat.

Ia terdiam menatap pintu kamar mandi.

Akhir-akhir ini Kaisyaf sering pulang malam, bahkan kerap tidak pulang dengan alasan pekerjaan. Mereka semakin jarang menghabiskan waktu bersama.

Bahkan Alvian, putra mereka, sering menanyakan papanya yang kini jarang pulang.

Beberapa menit kemudian pintu kamar mandi terbuka.

Kaisyaf keluar. Tanpa menatap, apalagi berbicara dengan Ayza, ia langsung merebahkan tubuhnya di ranjang, membelakangi sisi tempat Ayza berbaring.

Ayza menatap punggung pria itu. Dadanya terasa seperti diremas.

"Besok saja aku bicarakan," batinnya saat menyadari malam telah larut. Ia tidak ingin waktu istirahat suaminya terganggu, meski masalah ini terasa begitu menghimpit dada.

Ayza pun merebahkan tubuhnya. Perlahan ia beringsut mendekat, lalu memeluk Kaisyaf dari belakang.

Kaisyaf tidak menolak. Namun ia juga tidak menyambutnya. Pria itu hanya diam, seolah pelukan Ayza tidak pernah ada.

Padahal Ayza yakin Kaisyaf belum tidur.

Ayza menyandarkan kepalanya di punggung pria itu, berusaha mencari kehangatan yang selama sepuluh tahun selalu ia rasakan. Namun malam ini terasa berbeda.

Kaisyaf membuka matanya. Ia melirik lengan Ayza yang melingkar di pinggangnya.

Pria itu kembali memejamkan mata, tetapi dadanya terasa sesak, seolah udara di kamar itu menipis.

"Maaf."

Kata itu hanya terucap dalam hatinya.

Di luar sana hujan masih turun deras tanpa henti. Di dalam kamar ini, kehangatan yang pernah ada kini berubah menjadi dingin.

-

Fajar mulai menyingsing ketika Kaisyaf terbangun. Ia masih merasakan hangat tubuh Ayza di punggungnya. Tangan wanita itu masih melingkar di pinggangnya.

Perlahan Kaisyaf melepaskan pelukan itu. Ia turun dari ranjang dengan hati-hati, tak ingin Ayza terbangun.

Sejenak ia terdiam menatap wajah wanita yang selama sepuluh tahun ini mendampinginya. Wajah teduh yang tak pernah bosan ia pandang.

"Maaf."

Kata itu lagi-lagi hanya terucap dalam hati.

Kaisyaf merapikan selimut Ayza. Setelah itu ia melangkah keluar dari kamar, menutup pintu tanpa menimbulkan suara.

Langkahnya berhenti di depan sebuah pintu. Pelan ia membukanya.

Alvian, putranya, tampak terlelap.

Kaisyaf mendekat tanpa suara. Tangannya mengusap rambut bocah itu dengan lembut, menatap wajah kecil itu seolah ingin mengingat setiap detailnya.

Ia menggenggam tangan kecil itu. Hangat.

Setelah beberapa saat, Kaisyaf mengecup kening putranya, lalu keluar dari kamar.

Tak lama setelah pintu tertutup, Alvian terbangun. Bocah itu menatap seisi kamarnya, lalu menatap pintu.

"Apa aku bermimpi?" batinnya. "Aku seperti merasa ada Abi di sini."

-

Di kamar lain, Ayza terbangun saat azan subuh berkumandang.

Semalam ia merasa tenang. Tidur sambil memeluk Kaisyaf, hal yang akhir-akhir ini jarang ia rasakan karena suaminya semakin sering pulang larut, bahkan tak pulang sama sekali. Perlahan Ayza menoleh ke sisi ranjang.

Kosong.

Tangannya meraba permukaan kasur itu.

Dingin.

"Abi sudah lama bangun?" gumamnya dengan suara serak, khas bangun tidur.

Ayza langsung bangkit. Ia berjalan cepat ke kamar mandi.

Tok… tok…

“Bi… Abi… apa Abi di dalam?”

Tak ada sahutan. Tak ada suara air. Ayza membuka pintu.

Tak ada siapa pun. Lantai kering.

Jantungnya mulai berdegup tak nyaman. Ia keluar kamar, menyusuri ruang tengah, ruang kerja, dapur…

Tidak ada.

“Abi…?” panggilnya pelan, hampir seperti bisikan.

Tapi tak ada jawaban.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ayza berlari ke garasi.

Mobil Kaisyaf tidak ada.

“Dia… sudah pergi?” gumamnya lirih.

Tubuhnya mendadak lemas. Dengan langkah pelan, Ayza kembali ke kamar.

Ia menunaikan shalat subuh dengan hati gelisah, memohon agar rumah tangganya baik-baik saja.

Namun setelah selesai dan meletakkan mukenanya, langkah Ayza terhenti.

Di dekat kaki ranjang, ada selembar kertas.

Napasnya tercekat. Kakinya terasa goyah saat melangkah mendekat. Tangannya bergetar saat meraih kertas itu. Matanya mulai membaca.

Satu baris. Dua baris. Lalu berhenti.

Pupilnya membesar. Kertas itu gemetar di tangannya.

“Tidak…” bisiknya nyaris tak terdengar.

Ayza merasa dunianya runtuh dalam sekejap.

-

...🔸🔸🔸...

...'Kadang yang paling menyakitkan bukan perpisahan, tapi ketika seseorang berubah tanpa alasan yang kau mengerti."...

..."Sepuluh tahun terasa nyata, sampai suatu malam semuanya berubah menjadi pertanyaan."...

..."Yang pergi tak selalu meninggalkan kata-kata… kadang hanya sebuah bukti yang menghancurkan segalanya."...

..."Tidak semua perpisahan diawali dengan pertengkaran… kadang hanya dengan diam yang perlahan menjauh."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

2. Dua Orang

Kertas itu bergetar di tangan Ayza. Napasnya tercekat saat matanya mulai membaca.

Satu baris. Dua baris. Lalu berhenti. Tubuhnya membeku.

Kuitansi hotel.

Nama tamu: Kaisyaf Al-Fath.

Tanggal: semalam.

Ayza menggeleng pelan.

“Tidak…” bisiknya lirih.

Tangannya semakin gemetar saat membaca baris berikutnya.

Jumlah tamu: dua orang.

Seolah ada sesuatu yang menghantam dadanya dengan keras.

Ayza mundur selangkah.

Kertas itu hampir terlepas dari genggamannya.

“Gak mungkin…” suaranya pecah.

Semalam…

Bukankah semalam Kaisyaf pulang?

Bukankah semalam ia tidur bersamanya?

Bukankah semalam—

Ayza terdiam. Ingatan itu datang tiba-tiba. Kaisyaf datang larut. Wajahnya sedikit pucat. Sikapnya dingin.

Dan… Ia tidak menyentuh Ayza sama sekali.

Jantung Ayza berdetak semakin cepat. Pikirannya mulai menghubungkan satu per satu potongan yang selama ini ia abaikan.

Pulang malam. Sering menghilang. Bersikap dingin.

Dan sekarang…

Hotel. Dengan orang lain.

"Tak mungkin masuk kamar hotel dengan seorang pria 'kan? Gak mungkin urusan bisnis dibicarakan di kamar hotel."

Pikiran itu membuatnya sulit bernapas seolah udara menipis.

Tangan Ayza mengepal, meremas kertas itu tanpa sadar. Air matanya mulai jatuh. Satu. Dua. Lalu tak terbendung.

“Jadi… ini alasannya?” suaranya bergetar. “Ini alasan Abi ingin bercerai?”

Dadanya terasa sesak. Lebih sakit daripada saat mendengar kata cerai semalam.

Kalau hanya benci… ia masih bisa bertahan. Tapi kalau ada orang lain…

Ayza menutup mulutnya, menahan isak yang hampir pecah. Tubuhnya perlahan jatuh terduduk di lantai.

Sepuluh tahun.

Sepuluh tahun ia menjaga pernikahan itu.

Sepuluh tahun ia mencintai pria itu tanpa ragu.

Dan semua itu…

Hancur hanya dalam satu malam.

***

Ayza menyiapkan sarapan seperti biasa. Namun pikirannya masih dipenuhi oleh suaminya.

Ia masih tidak percaya Kaisyaf berselingkuh.

Dua belas tahun mengenal satu sama lain… sepuluh tahun berbagi hidup sebagai suami istri. Dua belas tahun bukan waktu yang singkat untuk mengenal seseorang. Terlebih pria yang telah sepuluh tahun berbagi ranjang dengannya.

"Pasti ada sesuatu yang Abi sembunyikan, 'kan?" batinnya.

Entah karena ia tidak ingin mengakui kenyataan pahit itu, atau memang karena keyakinannya begitu kuat.

Entahlah.

Tangannya meletakkan dua gelas susu dan dua piring di atas meja.

Biasanya ada tiga. Kini hanya dua.

"Apa Abi sudah bosan dengan masakanku?" pikirnya, mengingat Kaisyaf semakin jarang makan di rumah.

“Umi…”

Suara kecil itu membuat Ayza menoleh.

Alvian, putranya, berjalan menghampirinya. Rambut bocah itu masih lembap, tetapi pakaiannya sudah rapi.

Ayza tersenyum. Sejenak, kegelisahan di hatinya mereda.

“Anak Umi sudah besar,” ucapnya sambil mengusap lembut rambut tebal Alvian.

“Tentu saja. Tiap hari Umi masak makanan bergizi, jadi Al cepat besar,” jawab Alvian dengan nada bangga.

Ayza tersenyum lagi, mencubit gemas hidung putranya. “Ayo sarapan.”

Alvian mengangguk, lalu duduk rapi di kursinya. Saat Ayza mengambilkan makanan, Alvian menatapnya.

“Umi…”

Ayza menoleh.

Alvian melirik sekilas ke arah kamar orang tuanya. “Abi nggak pulang lagi?” tanyanya pelan. Sorot matanya memancarkan kerinduan.

Gerakan tangan Ayza terhenti di udara. Hanya sesaat. Lalu ia kembali tersenyum.

“Semalam pulang. Tapi pagi-pagi sekali sudah pergi. Abi sepertinya sedang sangat sibuk.”

Alvian mengangguk pelan, berusaha mengerti.

Senyum di wajah Ayza perlahan berubah pahit. Ia tahu betul betapa dekatnya Alvian dengan ayahnya.

Sejak kecil, Kaisyaf selalu meluangkan waktu untuk mereka. Bermain, bercanda, pergi liburan… di tengah kesibukannya, ia selalu berusaha hadir untuk keluarga.

Namun akhir-akhir ini…

Tidak lagi.

Pria itu bahkan terasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.

***

Usai sarapan, Ayza mengantar Alvian ke sekolah.

Mobil melaju dengan kecepatan standar. Di kursi sebelah, Alvian membuka bukunya, matanya serius membaca.

“Umi… kalau air dipanasin terus sampai hilang jadi asap gitu, kenapa?”

Ayza tersenyum kecil.

“Itu bukan hilang, Sayang. Airnya berubah jadi uap.”

“Oh…” Alvian mengangguk. “Kalau uapnya jadi air lagi?”

“Itu bisa terjadi kalau uapnya kena udara dingin.”

Alvian tersenyum puas.

“Berarti air bisa berubah-ubah ya, Umi.”

“Iya. Tapi tetap air,” jawab Ayza lembut.

Ayza terdiam sejenak setelah mengucapkannya. Seolah tanpa sadar… ia sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Alvian kembali menatap bukunya, lalu menutupnya saat mobil berhenti di depan gerbang sekolah.

Ia melepas sabuk pengaman, lalu mengecup punggung tangan Ayza.

“Al berangkat, Umi. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Hati-hati ya,” ujar Ayza lembut.

“Iya, Umi.”

Alvian tersenyum, lalu turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam sekolah.

Ayza menatap punggung kecil itu hingga menghilang di balik gerbang.

Baru setelah itu ia mengalihkan pandangan, lalu melajukan mobil kembali ke rumah.

Setibanya di rumah, Ayza melangkah masuk ke ruang kerja.

Ruangan itu sunyi. Terlalu sunyi.

Ia duduk di kursinya, meraih buku sketsa, lalu memegang pensil. Namun ujung pensil itu tak juga menyentuh kertas.

Kosong. Seperti pikirannya.

Akhir-akhir ini ia bahkan tak punya ide untuk menggambar. Perubahan sikap Kaisyaf begitu memengaruhinya.

Tak biasanya ia seperti ini. Namun jika menyangkut Kaisyaf… Pria itu memang satu-satunya yang mampu mengusik seluruh hatinya.

Ayza menghela napas pelan.

“Ya Allah… hamba tahu, tak seharusnya mencintai seseorang terlalu dalam…

Suaranya lirih.

"...karena saat ia pergi… hamba seperti kehilangan segalanya.”

Matanya perlahan menatap sekeliling ruangan itu.

Dan ingatan itu kembali datang.

“Ini desain baru kamu?” Suara itu terdengar hangat di telinganya.

Ayza menoleh. Kaisyaf berdiri di belakangnya, menatap sketsa di tangannya.

“Iya. Gimana?” tanya Ayza sambil tersenyum.

Kaisyaf tidak langsung menjawab. Ia menarik kursi, lalu duduk di samping Ayza. “Bagus,” ujarnya singkat.

Ayza menyipitkan mata. “Bagus doang? Abi biasanya cerewet kalau ngomentarin desainku.”

Kaisyaf tersenyum tipis. “Kalau bagus ya aku bilang bagus.”

“Bohong. Pasti ada yang mau dikritik.”

Kaisyaf terkekeh pelan, lalu menunjuk bagian sketsa itu. “Di sini… coba kamu buat lebih tegas. Biar karakternya lebih kuat.”

Ayza memerhatikan, lalu mengangguk. “Hmm… iya juga.”

Kaisyaf menatap Ayza beberapa detik. “Tapi satu yang nggak pernah berubah.”

Ayza menoleh. “Apa?”

“Desain kamu… selalu punya ‘rasa’.”

Ayza tersenyum kecil. “Karena aku bikin pakai hati.”

Kaisyaf ikut tersenyum. “Makanya aku suka.”

Ayza tersentak. Ia kembali ke kenyataan.

Tangannya masih memegang pensil. Namun kertas di depannya tetap kosong. Senyumnya perlahan memudar.

“Sekarang…” bisiknya pelan, “bahkan aku nggak tahu harus menggambar apa.”

Dulu, ruangan ini penuh suara mereka. Sekarang… hanya tersisa kenangan yang tak bisa ia sentuh lagi.

Ayza menatap kertas itu sekali lagi.

Lalu perlahan berdiri.

“Aku harus tahu kebenarannya.”

 

...🔸🔸🔸...

..."Tidak semua kebenaran datang dengan suara keras....

...Kadang, ia hanya berupa selembar kertas… yang cukup untuk menghancurkan segalanya."...

..."Yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan, tapi menyadari bahwa yang selama ini kita percaya…...

...ternyata bukan lagi milik kita."...

..."Beberapa perubahan tidak langsung terasa....

...Sampai suatu hari, kita sadar…...

...semuanya sudah tidak lagi sama."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

3. Yang Tidak Bisa Kutanyakan

Ayza menatap gedung itu dari dalam mobil. Gedung tempat Kaisyaf menghabiskan sebagian besar waktunya.

Tangannya masih menggenggam setir. Jemarinya perlahan mengencang.

Ia sudah sampai. Tinggal turun. Tinggal masuk. Dan… bertanya.

Sesederhana itu.

Namun tubuhnya tak bergerak. Matanya menatap pintu masuk gedung, tempat beberapa karyawan keluar masuk dengan wajah biasa. Seolah dunia mereka baik-baik saja.

Berbeda dengan dunianya.

Berantakan.

"Kalau aku masuk… aku harus bertanya pada seseorang…"

Pikirannya mulai berputar.

Resepsionis. Staf kantor. Atau… mungkin orang yang cukup dekat dengan Kaisyaf.

"Dan kalau mereka tahu aku bertanya…" Napasnya tertahan. "Kalau sampai ke telinga Abi…?"

Dada Ayza terasa sesak. Ia membayangkan tatapan dingin Kaisyaf. Nada suaranya yang datar. Dan jarak yang semakin terasa.

"Apa ini akan membuat semuanya semakin buruk?"

Tangannya gemetar di atas setir. Ia ingin tahu. Sangat ingin. Tapi…

"Apa aku siap dengan jawabannya?"

Pertanyaan itu justru membuatnya diam.

Dalam mobil terasa sunyi. Hanya suara detak jantungnya yang terdengar begitu jelas.

Ayza menunduk. Matanya terpejam sejenak. Air matanya jatuh tanpa suara.

“Aku… takut…” bisiknya lirih.

Takut kalau semua ini benar.

Takut kalau semua yang ia pertahankan selama sepuluh tahun… benar-benar sudah tidak tersisa.

Perlahan, ia mengangkat wajahnya. Menatap gedung itu sekali lagi. Lama.

Seolah berharap menemukan jawaban tanpa harus melangkah masuk. Namun yang ia temukan hanya… kosong.

Ayza menghela napas panjang. Lalu, tanpa berkata apa pun, ia menyalakan mesin mobil.

Kakinya menginjak pedal gas. Mobil itu perlahan menjauh dari gedung tersebut. Meninggalkan pertanyaan yang belum terjawab.

Dan rasa takut yang semakin besar.

Ia tidak tahu… bahwa di saat yang sama, seseorang sedang mengamatinya dari dalam gedung itu.

Kaisyaf.

Beberapa menit sebelumnya—

Tok… tok…

“Masuk.”

Pintu terbuka. Ridho, orang kepercayaannya, melangkah masuk.

“Pak, satpam di bawah melapor. Ada mobil Bu Ayza di parkiran.”

Kaisyaf yang sedang membaca berkas terdiam. Beberapa detik. Lalu perlahan ia mengangkat wajahnya.

“Lakukan sesuai perintahku,” ucapnya tenang.

Ridho mengangguk. “Baik, Pak.”

Ia berbalik dan keluar dari ruangan.

Kaisyaf menghela napas berat. Perlahan ia bangkit dari kursinya, lalu berjalan menuju dinding kaca.

Dari sana… ia bisa melihat dengan jelas mobil Ayza di bawah.

Diam. Menunggu. Namun wanita itu tak kunjung keluar.

Beberapa menit berlalu. Lalu… mobil itu bergerak.

Pergi.

Kaisyaf tetap berdiri di tempatnya. Tatapannya mengikuti mobil itu hingga benar-benar menghilang dari pandangannya. Tangannya perlahan mengepal.

“Harusnya… aku tidak membawamu sejauh ini,” gumamnya lirih.

***

Di dalam mobil, Ayza mengemudi tanpa arah yang benar-benar jelas.

Matanya menatap jalan, tetapi pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tak menemukan jawaban.

"Harus tanya ke siapa…?"

Gumam itu hanya terdengar di dalam kepalanya.

Ia tidak mungkin bertanya pada orang kantor Kaisyaf. Terlalu berisiko. Ia juga tidak ingin masalah rumah tangganya diketahui orang lain.

Tangannya menggenggam setir lebih erat. Lalu… satu nama muncul.

Fahri.

Ayza mengangkat sedikit wajahnya, seolah baru menemukan pegangan.

Fahri… mantan adik iparnya dari pernikahan pertamanya. Namun sejak lama, hubungan mereka tak lagi sekadar “mantan keluarga”. Bagi Ayza, Fahri sudah seperti adik kandungnya sendiri.

Dan… seseorang yang cukup dekat dengan Kaisyaf.

Kedekatan itu bukan tanpa alasan.

Fahri pernah berada di titik terendah dalam hidupnya, dicap anak bandel, pembuat masalah, bahkan hampir kehilangan arah karena dunia balap liar yang ia jalani.

Sampai akhirnya… semuanya berubah.

Dunia balap yang dulu membawanya ke arah gelap, justru menjadi jalan yang menyelamatkannya saat ia masuk ke jalur profesional.

Bengkel performa yang kini ia miliki berdiri dari proses panjang itu, tempat modifikasi motor balap, riset teknologi mesin, sekaligus markas kecil bagi mimpi-mimpi yang dulu hampir ia buang.

Dan di balik semua itu… ada peran Kaisyaf.

Pria itu bukan hanya partner bisnisnya, tapi juga mentor yang membimbing Fahri ke jalur bisnis.

Karena itu, Fahri cukup tahu tentang pekerjaan Kaisyaf.

Cukup dekat… untuk mungkin mengetahui sesuatu yang Ayza tidak tahu.

Ayza menarik napas panjang.

“Ya… Fahri,” bisiknya pelan.

Tanpa ragu lagi, ia memutar kemudi. Mobilnya berbelok, menuju satu tempat yang sudah sangat ia kenal, bengkel performa milik Fahri.

Suara mesin meraung memecah udara saat mobil Ayza memasuki area bengkel.

Berbeda dengan rumahnya yang tenang… tempat ini hidup.

Bising. Panas. Penuh aroma oli dan logam.

Ayza mematikan mesin mobilnya, lalu turun perlahan.

Langkahnya berhenti sejenak.

Matanya menyapu area di depannya.

Motor-motor balap berjajar rapi. Beberapa terbuka, memperlihatkan mesin yang belum sempurna dirakit. Para mekanik bergerak cepat, tangan mereka hitam oleh oli, suara alat beradu terdengar nyaris tanpa jeda.

Ayza menarik napas pelan.

Dunia ini… jauh dari dunia yang biasa ia kenal.

Tak ada kain, tak ada warna lembut, tak ada garis-garis desain di atas kertas.

Yang ada hanya suara keras, mesin, dan kecepatan. Namun anehnya… tempat ini tidak asing baginya.

Ia melangkah masuk.

Di salah satu dinding, matanya tertarik pada deretan foto yang dipajang rapi.

Fahri.

Dengan baju balap.

Dengan helm di tangan.

Dengan senyum lebar yang berbeda dari yang biasa ia lihat sekarang.

Ayza mendekat. Hal yang tanpa sadar selalu ia lakukan setiap kali datang ke tempat ini. Seolah tak bosan memandang foto-foto itu.

Foto pertama, Fahri berdiri di podium, memegang piala.

Juara dua.

Ia tersenyum tipis.

“Ini pertama kalinya dia naik podium…” gumamnya pelan.

Matanya bergeser ke foto berikutnya.

Kali ini Fahri berdiri lebih tegak.

Di tengah.

Juara satu.

Sorot matanya berbeda. Lebih yakin. Lebih hidup.

Ayza menghela napas kecil.

Lalu foto-foto berikutnya…

Lintasan asing. Nama-nama sponsor luar negeri. Bendera yang berbeda.

Di beberapa foto, Fahri berdiri di antara para pembalap lain.

Bukan di tengah.

Tapi cukup dekat.

Lima besar.

Beberapa kali.

“Dia memang lumayan…” bisik Ayza, nyaris seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri.

“Lumayan?”

Suara itu tiba-tiba terdengar dari belakangnya.

Ayza menoleh.

Fahri berdiri di sana. Kaos hitamnya sedikit kotor, tangannya masih berlumur oli.

Namun senyumnya… sama seperti dulu.

“Cuma ‘lumayan’ buat sebelas tahun perjuanganku?” ujarnya sambil menyeringai.

Ayza ikut tersenyum.

“Kalau sombong nanti jatuh,” balasnya santai.

Fahri terkekeh pelan.

Matanya menatap Ayza beberapa detik lebih lama dari seharusnya.

“Jarang banget Kak Ayza ke sini,” katanya akhirnya.

Nada suaranya ringan.

Tapi tatapannya… tidak sepenuhnya begitu.

Ayza tersenyum tipis.

“Lagi pengen ngobrol aja.”

Fahri mengangguk pelan.

Ia melirik sekeliling bengkel yang masih ramai oleh suara mesin dan aktivitas para mekanik.

“Di sini berisik,” ujarnya. “Yuk, ke dalam.”

Tanpa menunggu jawaban, Fahri berjalan lebih dulu, memberi jalan untuk Ayza.

Ayza mengikutinya.

Mereka masuk ke sebuah ruangan kecil di sisi bengkel. Tidak terlalu luas, tapi cukup rapi. Meja kerja dipenuhi beberapa berkas, laptop, dan miniatur motor balap di sudut rak.

Suara bising dari luar masih terdengar samar, tapi jauh lebih tenang.

Fahri menarik kursi.

“Duduk, Kak.”

Ayza mengangguk pelan, lalu duduk.

Fahri ikut duduk di seberangnya, menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menatap Ayza.

“Sendiri?” tanyanya.

“Iya.”

Hening sejenak.

Fahri mencondongkan tubuh sedikit.

“Semua baik-baik aja?”

Pertanyaan itu sederhana.

Tapi cukup untuk membuat Ayza menahan napas sejenak.

Ayza tidak langsung menjawab.

Tangannya perlahan mengepal di atas pangkuannya.

“Fahri…”

 

...🔸🔸🔸...

..."Tidak semua pertanyaan berani kita ucapkan....

...Kadang, kita hanya mencari jawabannya… diam-diam."...

..."Ada hal-hal yang ingin kita ketahui,...

...tapi lebih kita takutkan saat kebenarannya terungkap."...

..."Ketika kepercayaan mulai retak,...

...bahkan diam pun terasa penuh kecurigaan."...

..."Yang paling sulit bukan mencari jawaban,...

...tapi menghadapi kemungkinan bahwa jawaban itu akan menyakitkan."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!