Indonesia
NovelToon NovelToon

Pengantin Pengganti Untuk Sang Jendral

#1 (revisi bab 1-22)

"Violet, teh Ayah sudah kamu siapkan belum?"

Suara itu datang dari ruang makan, nyaring dan tidak sabar seperti biasanya. Violet meletakkan kain lap di tepi wastafel dapur, mengeringkan tangannya, lalu mengangkat nampan berisi cangkir teh dan sepiring kue kering tipis yang sudah ia tata sejak sepuluh menit lalu.

"Sudah, Bu. Sebentar."

Tidak ada yang menjawab.

Violet melangkah keluar dari dapur, melewati lorong yang dindingnya dipenuhi foto keluarga Hartawan dalam bingkai emas. Foto pernikahan Jenderal Hartawan dan istrinya. Foto Teresa waktu wisuda SMA dengan gaun putih dan mahkota bunga di kepala. Foto liburan keluarga mereka ke luar negeri tiga tahun lalu.

Tidak ada satu pun foto Violet di dinding itu.

Ia sudah berhenti memperhatikan hal itu sejak lama.

Ruang makan pagi itu sudah penuh. Jenderal Hartawan duduk di kepala meja dengan koran terbuka di tangan, seragam dinasnya terpasang rapi meski hari ini hari Minggu. Di sebelah kirinya, Bu Hartawan menyentuh-nyentuh rambut yang sudah sempurna dengan ekspresi perempuan yang tidak pernah benar-benar puas. Dan di kursi paling ujung, Teresa duduk dengan ponsel di tangan dan earphone di satu telinga, separuh kesadarannya jelas sedang berada di tempat lain.

Violet meletakkan teh di depan Jenderal Hartawan tanpa suara. Lalu kue kering. Lalu serbet yang dilipat rapi di sebelah kiri cangkir. Tangannya bergerak dengan urutan yang sudah ia hafal bertahun-tahun, otomatis dan tanpa perlu dipikir.

"Gulanya kurang," ucap Bu Hartawan tanpa menoleh.

"Dokter bilang gula Ayah harus dikurangi, Bu."

Bu Hartawan menoleh, berdecak pelan. "Kau ini kalau dibilangin kenapa ada saja bantahannya? Lagipula dokter tidak tinggal di rumah ini."

Violet memilih tidak membalas. Ia mengambil tempat gula dari credenza di pojok ruangan, menuangkan satu sendok ke dalam cangkir, mengaduknya, lalu mundur ke posisi semula. Jenderal Hartawan tidak pernah mengangkat kepala dari korannya.

Teresa melepas earphone-nya saat Violet meletakkan segelas jus jeruk di depannya. "Kak Vi, kamu beli croissant tadi pagi tidak?"

Violet menggeleng."Tidak ada yang minta."

"Ya tapi kamu kan tahu aku suka croissant di Minggu pagi." Teresa mengernyit kecil, bukan marah, lebih seperti seseorang yang tidak mengerti kenapa hal yang menurutnya sudah jelas harus dilakukan malah tidak dilakukan. "Dari dulu juga begitu."

Violet menatap adik angkatnya itu sebentar. Teresa menatap balik dengan ekspresi perempuan yang terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan tanpa perlu mengucapkan tolong, dan yang benar-benar tidak menyadari bahwa ada yang salah dengan cara ia meminta.

Itulah yang selalu membuat Violet tidak bisa marah padanya dengan cara yang utuh. Teresa bukan jahat. Ia hanya tidak pernah diajarkan untuk melihat perbedaan antara meminta dan memerintah.

"Nanti aku keluar beli," kata Violet akhirnya.

Teresa hanya tersenyum kecil, lalu kembali memasang earphone-nya.

******

"Violet, bawa sarapan tambahan dan croissant untuk adikmu!"

Suara Bu Dania menggema dari ruang makan. Violet menghentikan gerakan tangannya di atas wastafel, lalu segera menyiapkan yang diminta.

Ia mengerjakannya dengan cekatan, berjalan hati-hati saat melewati lantai dekat tangga yang sudah licin sejak kemarin. Violet sudah berniat mengepelnya pagi ini tapi belum sempat karena teh Jenderal harus disiapkan duluan, lalu jus Teresa, lalu sarapan tambahan yang Bu Hartawan pinta.

Tapi kakinya tergelincir tepat di tikungan lorong.

Nampan itu tidak jatuh sepenuhnya karena ia berhasil menstabilkan diri dengan memegang dinding, tapi cangkir teh kedua di ujung nampan tidak bisa diselamatkan. Jatuh dengan bunyi yang terlalu keras untuk pagi yang seharusnya tenang, pecah menjadi beberapa bagian, teh panas menyiram lantai lorong.

Seisi ruang makan sunyi sedetik.

Bu Hartawan muncul di mulut lorong. **"Apa yang kamu lakukan?"**

"Maaf, Bu. Lantainya licin, jadi aku tidak—"

"Cangkir itu satu set dengan yang lainnya."suara Bu Hartawan menyela, memandang pecahan porselen di lantai dengan cara yang membuat Violet merasa lebih kecil dari pecahan itu. "Satu set delapan belas pieces, hadiah dari Bu Komisaris waktu kami pindah ke sini dua belas tahun lalu."

"Maaf, Bu. Nanti akan aku akan ganti—"

"Kamu mau ganti dengan apa?" Nada Bu Hartawan tidak naik, tidak berteriak, justru itulah yang membuatnya terasa lebih menyayat."Uang bulanan kamu bulan ini dipotong untuk gantinya ya. Wajar kan?"

Violet membuka mulutnya. Menutupnya kembali.

Uang bulanan yang dimaksud hanya sejumlah kecil yang diberikan setiap bulan, cukup untuk kebutuhan pribadi yang paling dasar. Kalau dipotong bulan ini maka ia tidak punya cukup untuk beli sabun cuci muka yang sudah hampir habis sejak tiga hari lalu.

"Baik, Bu."

"Makanya lain kali lebih hati-hati."

Bu Hartawan sudah berbalik dan kembali ke ruang makan sebelum Violet sempat membuka mulutnya lagi.

Violet berjongkok dan mulai memunguti pecahan porselen satu per satu dengan tangan kosong, tanpa sarung tangan, karena sarung tangannya ada di dapur dan bolak-balik untuk mengambilnya akan membuang waktu.

Dari ruang makan terdengar suara Teresa tertawa kecil karena sesuatu di ponselnya.

Kehidupan di sana berjalan terus seolah lorong ini tidak sedang ada seseorang yang memunguti pecahan dengan jari-jari yang harus hati-hati supaya tidak terluka.

Violet tidak menangis. Ia sudah lama tidak menangis untuk hal-hal seperti ini.

Tapi ketika sebuah pecahan kecil menyayat ujung jarinya dan darah kecil muncul di sana, ia berdiri, menatap jarinya sebentar, lalu pergi ke dapur untuk mengambil plester dengan langkah yang sama teraturnya seperti semua langkah lain yang ia ambil di rumah ini.

Tidak ada yang memperhatikan. Tidak ada yang bertanya.

Toh ia siapa? Hanya anak pungut yang beruntung besar di keluarga ini, seperti yang selalu orang-orang katakan.

*******

Jenderal Hartawan melipat korannya dengan gerakan yang terlalu rapi untuk sekadar gerakan pagi biasa. Violet mengenali itu. Gerakan orang yang sedang mempersiapkan diri untuk mengatakan sesuatu.

Violet sudah kembali ke ruang makan dengan nampan pengganti dan sudah berdiri di posisinya yang biasa ketika laki-laki itu bersuara.

"Duduk, Violet."

Bukan ajakan. Kalimat itu keluar seperti semua kalimat yang keluar dari mulut laki-laki itu, pernyataan yang bentuknya perintah.

Violet menarik kursi di sisi meja yang paling jauh dan duduk tegak.

"Ada yang ingin Ayah dan Ibu bicarakan dengan kalian berdua."Jenderal Hartawan menyatukan jari-jarinya di atas meja, menatap bergantian ke arah Teresa lalu ke arah Violet. "Soal Teresa."

Teresa melepas earphone-nya. Kali ini dengan ekspresi yang berbeda.

"Ayah sudah berbicara dengan Jenderal Muda Adriel Voss minggu lalu."

Nama itu jatuh ke meja makan seperti sesuatu yang berat. Bu Hartawan menegakkan punggungnya sedikit. Teresa mematung.

"Adriel Voss?" suara Teresa keluar tipis. **"Yang itu?"**

"Tidak ada Adriel Voss lain di kota ini."

"Ayah, dia..." Teresa menghentikan kalimatnya, memilih kata-kata dengan hati-hati dengan cara yang jarang sekali ia lakukan. "Orang-orang bilang dia—"

"Orang-orang bilang banyak hal." Jenderal Hartawan memotong tanpa nada tinggi. "Yang Ayah tahu, dia jenderal muda yang paling cepat naik pangkat dalam sepuluh tahun terakhir. Keluarganya terpandang. Posisinya kuat. Dan dia melamar kamu, Teresa."

Hening.

"Kapan?" tanya Teresa akhirnya.

"Pernikahannya tiga bulan lagi. Sudah Ayah konfirmasi."

"Ayah sudah konfirmasi,"** Teresa mengulang kalimat itu dengan nada yang datar sekali, **"tanpa tanya dulu ke aku."

"Ayah bertanya sekarang."

"Ini bukan pertanyaan."

Bu Hartawan menyentuh lengan Teresa dengan gerakan menenangkan yang tampak lebih seperti peringatan. "Teresa, ini kesempatan yang tidak semua orang bisa—"

"Aku tidak mau!"

Tiga kata itu keluar bulat dan keras. Teresa mendorong kursinya mundur dan berdiri, menatap ayahnya dengan tatapan sengit sekaligus hampir ingin menangis."Aku tidak akan menikahi orang yang bahkan belum pernah kulihat wajahnya. Apalagi dia!"

Teresa meninggalkan ruang makan. Suara langkahnya di tangga terdengar keras sampai ruangan itu sunyi kembali.

Jenderal Hartawan tidak mengejar. Ia hanya membuka korannya lagi dengan gerakan yang sama rapinya seperti tadi ia melipatnya.

"Violet."

Violet mengangkat wajah.

"Pastikan adikmu makan siang dengan benar."

Itu saja. Seolah percakapan tiga menit lalu tidak pernah terjadi.

Violet kemudian bangkit, mengumpulkan piring-piring kotor dengan gerakan yang sudah ia hafal sejak bisa berjalan, dan membawa semuanya kembali ke dapur.

Di luar jendela dapur, langit pagi itu cerah sekali. Jenis cerah yang terasa seperti ejekan di hari-hari tertentu.

Violet menyalakan keran, menunggu airnya hangat, dan menatap gelembung sabun yang naik perlahan di permukaan wastafel.

Adriel Voss.

Bahkan dari dapur, nama itu masih terasa berat.

*****

BERSAMBUNG

#2

Pukul lima pagi, ketika kota masih tidur dan jalanan di luar masih basah sisa hujan semalam, lampu di lantai tujuh gedung itu sudah menyala.

Adriel Voss tidak pernah tidur lebih dari empat jam.

Bukan karena tidak bisa. Tapi karena sejak kecil tubuhnya sudah terlatih untuk tidak membutuhkan lebih dari itu, dilatih oleh laki-laki yang menganggap tidur panjang adalah kemewahan yang melemahkan dan kelemahan adalah sesuatu yang tidak boleh ada di keluarga Voss.

Di ruangan yang tiga kali ukuran kantor kolonel manapun di kota ini, Adriel bergerak.

Tanpa musik. Tanpa instruktur. Hanya ia dan ruangan itu dan rutinitas yang sudah ia lakukan sejak usia tujuh tahun sampai tubuhnya hafal setiap gerakannya seperti hafal cara bernapas. Pukulan yang jatuh ke sansak dengan presisi yang tidak menyisakan ruang untuk kesalahan, tendangan yang mengukur sudut dan kecepatan sebelum mendarat, pergerakan kaki yang tidak pernah membuang satu langkah pun sia-sia.

Wajahnya tidak menunjukkan usaha.

Itu yang paling menakutkan dari laki-laki ini bagi orang-orang yang pernah berhadapan dengannya, bukan kekuatannya, bukan kecepatannya, tapi cara ia melakukan semua itu tanpa ekspresi yang berubah. Seperti menghancurkan sesuatu adalah hal yang sama biasanya dengan minum kopi di pagi hari.

Di luar ruangan itu, nama Adriel Voss beredar di kota ini dengan dua versi yang bergantung pada siapa yang menyebutnya.

Di kalangan militer, namanya disebut dengan nada yang datar dan hati-hati, nada orang yang tahu bahwa laki-laki itu punya telinga di mana-mana dan tidak pernah melupakan apa yang ia dengar. Usia dua puluh delapan ketika pertama kali mendapat bintang, rekor yang belum ada yang memecahkannya. Tidak pernah kehilangan satu operasi pun di bawah komandonya. Tidak pernah terlihat ragu dalam satu keputusan pun, bahkan keputusan yang membuat orang-orang di sekitarnya tidak bisa tidur berminggu-minggu sesudahnya.

Di kalangan perempuan kota ini, namanya disebut dengan nada yang berbeda.

Bisikan di kafe-kafe, di arisan, di grup pesan yang pesertanya lebih peduli dengan siapa yang belum menikah dari kalangan berduit daripada kabar dunia. Adriel Voss yang tinggi dan dingin dan tidak pernah terlihat benar-benar memperhatikan siapapun dengan cara yang cukup lama untuk disebut perhatian. Yang justru itulah masalahnya, karena tidak ada yang lebih menarik bagi sebagian orang daripada sesuatu yang terlihat tidak bisa diraih.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik semua itu ada sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapapun.

Trauma, yang membuat nya tumbuh menjadi laki-laki dingin tak tersentuh seperti saat ini.

Ibunya meninggalkan nya sejak ia berusia delapan tahun.

Tidak meninggal, tidak pula diculik. Tapi pergi dengan koper yang dikemas diam-diam dan taksi yang menjemput di depan rumah pukul dua pagi ketika semua orang seharusnya tidur. Adriel yang terbangun karena mimpi buruk dan turun ke bawah mencari air minum adalah satu-satunya yang melihat.

Ibunya melihat ia berdiri di tangga.

Dua detik. Mungkin tiga. Lalu perempuan itu mengalihkan pandangannya, masuk ke taksi, dan pintu tertutup.

Tidak ada pelukan. Tidak ada kata-kata. Tidak ada penjelasan.

Ayahnya tidak pernah membicarakannya setelah itu. Kehidupan di rumah Voss berjalan terus dengan presisi yang sama, sarapan pukul enam, latihan pukul tujuh, tidak ada yang boleh terlambat dan tidak ada yang boleh menangis, karena menangis menurut ayahnya adalah cara orang lemah membuang waktu yang bisa digunakan untuk menjadi lebih kuat.

Adriel tidak pernah menangis di depan ayahnya.

Tapi di kamarnya yang sunyi, dengan selimut ditarik sampai ke kepala, ia belajar satu hal yang tidak ada di kurikulum latihan manapun.

Bahwa orang-orang yang paling dekat adalah orang-orang yang paling berbahaya untuk dipercaya. Dan bahwa jarak adalah perlindungan paling efisien yang pernah ia temukan.

Itulah Adriel Voss yang sebenarnya.

Bukan yang di poster koran militer dengan bintang di bahu dan rahang yang tegas. Bukan yang dibisikkan di arisan dengan nada setengah kagum setengah penasaran.

Tapi laki-laki yang berolahraga pukul lima pagi sendirian di ruangan yang terlalu besar untuk satu orang karena diam adalah satu-satunya kondisi yang tidak pernah menuntut sesuatu yang tidak bisa ia berikan.

Sore itu seorang ajudan mengetuk pintu ruangannya.

"Jenderal, undangan dari keluarga Wiranto untuk malam ini sudah dikonfirmasi. Nama Bapak ada di daftar tamu kehormatan."

Adriel tidak mengangkat wajah dari dokumen di mejanya. "Iya."

"Bapak jadi hadir?"

"Iya."

Ajudan itu mengangguk dan pergi dengan cepat, karena sudah cukup lama bertugas di bawah Adriel untuk tahu bahwa percakapan yang sudah mencapai jawaban tidak perlu dilanjutkan.

Adriel meletakkan penanya.

Keluarga Wiranto. Acara seperti itu tidak pernah ia hadiri karena senang, selalu karena ada kalkulasi di baliknya, ada nama yang perlu ia lihat langsung atau situasi yang perlu ia petakan dari dekat. Malam ini tidak berbeda.

"Oh iya Pak, keluarga Hartawan juga akan hadir di jamuan itu. Sudah dikonfirmasi dia juga akan membawa dua putrinya untuk pertama kali ke pesta resmi, yang mana salah satu nya akan dijodohkan dengan bapak. "

Sudut bibir Adriel terangkat. "Menarik. Teresa dan? "

"Violet, pak. " Jawab sang ajudan. "Tapi dia hanya anak angkat yang beruntung tinggal dikeluarga itu. "

"Violet, ya. " Adriel mengetuk- ngetuk tangannya diatas meja. Seminggu lalu Hartawan sendiri yang menawarkan putrinya untuk nya, laki-laki penjilat seperti dia pasti mengincar sesuatu darinya dengan memanfaatkan soal perjodohan ini.

"Frans.Cari informasi tentang violet, aku ingin tahu semua tentang nya."

"Baik, pak. "

Ia mengambil jaketnya dari sandaran kursi dan berdiri.

Malam di jamuan nanti sepertinya akan ada sesuatu yang menyenangkan.

*****

Di sisi lain...

"Kak Violet, aku minta tolong."

Violet tidak langsung menjawab. Ia melipat baju yang baru diangkat dari jemuran dengan gerakan rapi, menumpuknya di keranjang, lalu baru menoleh ke arah pintu kamarnya.

Teresa berdiri di sana dengan mata merah dan ekspresi yang Violet kenal betul. Ekspresi yang sama ketika Teresa ingin sesuatu dan sudah tahu bahwa satu-satunya orang yang tidak akan menolaknya adalah kakak angkatnya itu.

"Masuk dulu," kata Violet.

Teresa masuk dan langsung duduk di tepi ranjang tanpa dipersilakan, memeluk bantal guling dengan kedua tangan seperti anak kecil. Matanya berkeliling sebentar ke seisi kamar Violet yang kecil dan sederhana, kamar paling ujung di lantai dua yang atapnya sedikit miring dan jendelanya menghadap tembok tetangga, lalu kembali ke wajah kakak angkatnya.

"Aku tidak bisa menikah dengan dia, Kak."

Violet meletakkan keranjang baju di pojok dan duduk di kursi belajarnya, menghadap Teresa. "Kamu sudah bicara dengan Ayah?"

"Tadi pagi kan sudah. Ayah tidak mau dengar." Teresa menggigit bibirnya. "Kamu tahu sendiri kalau Ayah sudah memutuskan sesuatu, tidak ada yang bisa mengubahnya."

"Kalau begitu, minta Ibu untuk bicara."

"Ibu yang pertama kali setuju."

Violet diam sebentar. Di luar jendela, suara motor tetangga lewat lalu sunyi lagi. Rasanya atmosfer di sekitar terlalu menyesakkan untuk nya.

"Teresa." Violet memilih kata-katanya hati-hati. "Adriel Voss bukan laki-laki sembarangan. Kalau memang kamu keberatan, harusnya ada cara yang lebih—"

"Gantikan aku, Kak."

Duarr!

Kalimat itu keluar begitu saja, cepat dan langsung, seperti Teresa takut kalau tidak diucapkan sekarang maka ia tidak akan pernah berani mengucapkannya.

Violet menatap adik angkatnya itu lama.

"Apa?"

"Gantikan aku di pernikahan itu." Teresa menegakkan tubuhnya, nada suaranya berubah menjadi nada yang Violet kenal sebagai nada Teresa ketika ia sedang meyakinkan seseorang. "Kamu pakai namaku, pakai gaunnya, duduk di pelaminan. Akad dijalankan atas namaku tapi kamu yang ada di sana. Setelah semua selesai, baru dibuka kebenarannya."

Alis Violet menyatu, kedua rahangnya mengeras, matanya menatap nyalak untuk pertama kalinya kepada adiknya itu. "Kau sadar dengan apa yang kau ucapkan ini?"

Sementara Teresa mulai menangis tersedu- sedu.

******

BERSAMBUNG

#3

Violet masih memandang adiknya dengan tatapan yang sama seperti beberapa menit lalu saat permintaan yang terdengar kurang ajar itu dilontarkan.

Sementara Teresa semakin terisak. Karena hanya itu senjata terakhirnya untuk membuat kakaknya iba padanya dan mau membantu nya.

"Aku serius kak. Aku mohon padamu, aku tidak ingin menikah dengan lelaki kejam itu, akan se menderita apa hidup ku nanti? jadi tolong gantikan aku. "

Sedetik.

Dua detik.

Violet masih bergeming. Hingga habislah sudah kesabarannya. "Teresa." Menarik nafas pelan, Violet kemudian berdiri, berjalan ke jendela lalu berbalik.

"Apa kau tidak tahu? itu penipuan, itu melanggar hukum. Itu--"

"Aku tahu. "Teresa ikut berdiri, melangkah mendekati Violet dengan mata yang kembali basah. "Tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak mau menghabiskan hidupku di sisi laki-laki yang bahkan senyum pun tidak pernah. Kak Vi, orang-orang bilang dia pernah membuat anak buahnya sendiri masuk rumah sakit hanya karena satu kesalahan kecil di lapangan. Aku takut."

Violet menatap wajah adik angkatnya itu. Teresa yang cantik, Teresa yang selalu mendapat apa yang diinginkan, Teresa yang tidak pernah sekalipun benar-benar takut pada apapun selama hidupnya. Tapi malam ini matanya berbeda.

Mungkin itulah yang membuat Violet tidak langsung pergi meninggalkan ruangan.

"Dan kamu pikir aku tidak akan takut?" tanya Violet pelan.

Teresa menggigit bibirnya lagi. "Kamu lebih kuat dari aku, Kak. Kamu selalu lebih kuat."

Violet hampir tertawa. Kuat? dua puluh dua tahun ia hidup di rumah ini dengan cara setipis mungkin, setenang mungkin, sediam mungkin supaya tidak ada yang merasa terganggu dengan keberadaannya, dan adik angkatnya menyebutnya kuat.

"Ini bukan soal kuat atau tidak, Teresa."

"Lalu soal apa?"

Violet tidak menjawab. Karena jawaban yang jujur terlalu rumit untuk diucapkan dalam satu malam. Bahwa ia tidak punya alasan yang cukup kuat untuk menolak permintaan perempuan yang keluarganya sudah memberinya atap dan makan selama dua puluh dua tahun. Bahwa rasa hutang budi itu sudah mengakar terlalu dalam untuk dicabut dengan logika sederhana.

Violet menarik napas sekali lagi, kali ini lebih panjang dari sebelumnya. Ia kemudian menoleh, menatap Teresa lagi.

"Kalau aku setuju," kata Violet akhirnya, suaranya pelan dan berhati-hati, "kamu tidak boleh menghilang begitu saja. Setelah pernikahan itu, kamu harus muncul dan menjelaskan semuanya. Bersama aku. Kita hadapi konsekuensinya bersama."

Teresa mengangguk cepat. Terlalu cepat.

Violet memperhatikan itu. Ia memperhatikan tapi tidak mengatakan apapun.

"Satu lagi." Violet menatap mata Teresa langsung. "Tidak ada yang tahu soal ini selain kita berdua. Jangan pernah kasih tau siapapun! "

"Aku janji, Kak."

Janji itu keluar ringan sekali dari mulut Teresa. Ringan seperti orang yang mengucapkan janji tanpa benar-benar merasakan beratnya.

Violet memalingkan wajah ke jendela lagi. Di luar, langit sudah gelap sepenuhnya dan lampu jalan menyala kuning pucat di balik tembok tetangga.

Ia menghela napas panjang.

"Pergi tidur, Teresa."

Teresa memeluknya dari belakang, cepat dan erat, lalu pergi meninggalkan kamar dengan langkah yang terdengar jauh lebih ringan dari langkah orang yang baru saja memindahkan bebannya ke pundak orang lain.

Violet berdiri di tempat yang sama sampai suara langkah itu menghilang di balik tangga.

Lalu ia duduk di tepi ranjangnya, menatap lantai, dan untuk pertama kali dalam waktu yang lama ia bertanya pada diri sendiri satu pertanyaan yang tidak ia tahu jawabannya.

"Sampai kapan? "

Sampai kapan ia harus seperti ini?

ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

Esok paginya, Jendral Hartawan meminta istri dan anak-anaknya untuk bersiap- siap. Ia memberikan undangan dari rekan sejawat nya, Jenderal Wiranto.

"Kita akan menjadi tamu kehormatan. Dan dipesta ini pula ayah untuk pertama kalinya akan membawa kalian ke sebuah pesta, " katanya pada kedua putri nya. "Jadi bersiaplah sebaik mungkin. "

Istrinya, Bu Dania terlihat sangat antusias, menatap Teresa dengan berbinar. "Berdandan lah secantik mungkin putri ku, kau akan melihat tuan Adriel untuk pertama kalinya nanti. Calon suami mu itu sudah senter dibicarakan akan ketampanan nya, kalian pasti akan menjadi pasangan yang paling serasi di kota ini. "

Jenderal Hartawan mengangguk- angguk setuju dengan ucapan istrinya, sementara Teresa terlihat tak minat. Bukan pada pesta yang akan dihadiri, lebih ke ucapan ibunya tentang Adriel yang membuat nya muak.

Ia lantas melenggang pergi untuk bersiap- siap. Semua orang kemudian mulai meninggalkan ruang tamu menyisakan Violet yang membatu. Seperti biasa, tidak ada yang memedulikan nya, lalu ia melakukan aktivasi seperti biasa.

****

Malam acara itu, rumah Hartawan berubah menjadi panggung persiapan yang riuh. Teresa bolak-balik di depan cermin kamar besarnya dengan empat pilihan gaun yang semuanya indah dan semuanya tidak ada yang cukup sempurna menurutnya. Bu Dania berteriak dari kamarnya menanyakan di mana selendang hijaunya. Jenderal Hartawan duduk di ruang tamu dengan seragam terbaiknya sudah terpasang sejak satu jam lalu, menunggu dengan sabar yang terlatih.

Violet menyiapkan semuanya.

Ia yang menyetrika gaun Teresa yang akhirnya dipilih, yang menemukan selendang hijau ibunya di balik tumpukan baju di lemari sudut, yang memastikan sepatu Jenderal Hartawan sudah disemir, yang mengecek apakah mobil sudah dipanaskan.

Ketika semua orang sudah siap dan berdiri di depan pintu, Bu Dania barulah menoleh ke arahnya dengan tatapan yang seolah baru ingat sesuatu.

"Kamu ikut. Jangan sampai ada yang perlu diurus di sana, agar tidak merepotkan. "

Violet mengangguk dan mengambil jaketnya dari gantungan.

Bukan undangan. Tapi juga bukan pilihan.

Dan ia sudah mengerti.

ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

Rumah Jenderal Wiranto besar dengan cara yang berbeda dari besarnya rumah Hartawan.

Kalau rumah Hartawan besar karena sengaja ingin terlihat besar, rumah ini besar karena memang tidak ada pilihan lain untuk menampung semua yang ada di dalamnya. Halamannya luas dengan lampu-lampu taman yang hangat, mobilnya berjejer di sepanjang jalan masuk, dan suara percakapan orang-orang berpakaian terbaik mereka sudah terdengar dari luar pagar.

Mereka masuk beriringan.

Yang pertama diperhatikan orang adalah Teresa.

Wajar. Teresa memang menarik perhatian dengan cara yang mudah, gaun hijau gelapnya, cara jalannya yang ringan, senyumnya yang selalu terpasang di sudut yang tepat. Bisikan-bisikan menyambut dari berbagai arah.

"Itu putrinya Hartawan ya? Cantik sekali."

"Pantas saja, ibunya juga dari keluarga baik."

"Kabarnya sudah ada beberapa yang melamar."

Teresa berjalan di antara semua bisikan itu dengan anggun, sesekali tersenyum ke arah yang tepat, sesekali berbisik balik ke ibunya dengan wajah yang cerah.

Violet berjalan tiga langkah di belakang.

Dan bisikan-bisikan itu berubah saat mata orang-orang berpindah ke arahnya.

"Yang itu siapa? Anak Hartawan juga?"

"Bukan. Anak pungut. Dipungut waktu masih bayi, entah dari mana."

"Oh, yang itu. Beruntung juga ya, bisa tinggal di keluarga seperti Hartawan."

"Beruntung bagaimana, lihat saja caranya jalan. Seperti pembantu yang ikut- ikutan."

Violet tidak memperlambat langkahnya. Tidak pula mempercepat. Ia berjalan dengan kecepatan yang sama dan menatap ke depan dengan ekspresi yang tidak ia ubah, karena mengubahnya hanya akan membuktikan bahwa bisikan-bisikan itu sampai ke tempat yang ingin mereka tuju.

Dua puluh dua tahun mengajarinya ini. Menjadi tidak terlihat ketika perlu, menjadi tidak terpengaruh ketika harus.

Meski setiap kali kata itu menghujam hatinya.

*****

Saat pesta berlangsung, Violet memilih berdiri di sudut ruangan, karena menurut nya itu tempat yang paling aman.

Sementara Jenderal Hartawan berjabat tangan dengan kolega-koleganya dan Bu Dania tertawa di lingkaran ibu-ibu yang perhiasannya berlomba-lomba, Teresa sendiri seperti kupu- kupu yang terbang bebas dan disukai semua orang, tertawa dengan teman- temannya dan bersenang-senang.

Violet mengamati semuanya dari sudut ruangan dengan cara yang sudah menjadi kebiasaan.

Sampai ketika ia melihat pengusaha itu.

Seorang laki-laki paruh baya, mungkin akhir lima puluhan, dengan jas yang terlalu bagus dan cara berdiri orang yang terbiasa mengisi terlalu banyak ruang. Ia sudah memperhatikan Teresa dari tadi, Violet menangkap itu, dan sekarang sedang mendekatinya dengan gelas minuman di tangan dan senyum yang entah, terlihat sangat mencurigakan.

Violet menggeser posisinya sedikit, lebih dekat.

Pengusaha itu mulai berbicara kepada Teresa dengan suara yang terlalu rendah untuk didengar dari jarak ini. Teresa tersenyum dengan sopan, senyum yang Violet kenali sebagai senyum tidak nyaman yang dipasang Teresa ketika tidak tahu bagaimana cara menghentikan sesuatu tanpa terlihat tidak sopan.

Violet mengernyit, laki-laki itu tampak sangat mabuk, matanya yang sayu seolah menyimpan hasrat, lalu tangannya mulai bergerak. Menyentuh bahu Teresa dengan kurang ajarnya, dengan wajah tuanya itu yang semakin terlihat penuh hasrat.

Teresa sedikit mundur tapi pengusaha itu malah melangkah maju mengikutinya.

Violet mendelik, insting seorang kakak dalam dirinya bergerak untuk melindungi adiknya.

Maka disinilah ia sekarang, berdiri di antara Teresa dan laki-laki tua itu. Punggungnya ke Teresa dan wajahnya ke pengusaha, dengan senyum yang sudah ia pasang rapi tapi matanya tidak ikut tersenyum.

"Maaf mengganggu, Om." Suaranya tenang dan jelas. "Teresa harus menemui seseorang sekarang."

Pengusaha itu menatapnya dari atas ke bawah dengan ekspresi yang bergeser dari terkejut ke tidak senang.

"Kau siapa?"

"Kakaknya."

Laki-laki itu terkekeh dengan cara yang tidak menyenangkan. "Kakaknya." Ia mengulang kata itu seperti sedang mencicipi sesuatu yang kurang enak. "Yang anak pungut itu?"

Di belakang Violet, Teresa menarik lengan bajunya pelan. Isyarat untuk berhenti. Untuk mundur. Untuk tidak memperburuk situasi.

Tapi Violet tidak mundur.

"Teresa, pergi dulu," katanya tanpa menoleh.

"Kak—"

"Pergi."

Langkah kaki Teresa menjauh. Violet berdiri di tempatnya menghadap pengusaha yang wajahnya sudah berubah merah padam itu.

"Kamu tahu kamu baru saja mempermalukan saya di depan semua orang ini?" bentaknya.

"Saya tidak bermaksud mempermalukan siapapun." Violet menatap tajam.

"Kamu anak pungut yang tidak tahu tempat." Bentakan nya semakin keras dan beberapa tamu di sekitar mereka mulai menoleh. "Kamu pikir kamu siapa, menghalangi saya?"

Violet membuka mulutnya untuk menjawab.

Tapi tangan itu sudah lebih dulu terangkat.

Gerakannya cepat dan Violet tidak sempat mundur, hanya memejamkan mata secara refleks dan menunggu.

Tapi benturan itu tidak datang.

Suara yang ada bukan suara tamparan. Tapi suara pergelangan tangan yang ditangkap oleh tangan lain, keras dan tegas, dan keheningan yang menyebar di sekitar mereka seperti riak air.

Violet membuka matanya.

Tangan pengusaha itu terhenti di udara, dipegang oleh tangan lain yang lebih besar, dan di balik tangan itu ada seseorang yang berdiri dengan cara berdiri orang yang tidak perlu meninggikan suara untuk membuat seluruh ruangan sadar akan kehadirannya.

Violet tidak melihat wajahnya.

Yang ia dengar hanya suara, bariton yang rendah dan tidak terburu-buru, suara yang terdengar seperti sudah terbiasa didengarkan.

"Aku tidak tahu apa yang kau lakukan." Kalimat itu pendek dan diucapkan dengan cara yang lebih berbahaya dari kemarahan manapun yang pernah Violet dengar. "Tapi kau sangat naif."

Ruangan itu sunyi.

Dan Violet, yang selama dua puluh dua tahun belajar untuk tidak mengharapkan siapapun berdiri di sisinya, berdiri di tengah keheningan itu dengan jantung yang berdetak lebih keras dari biasanya

dan satu pertanyaan yang belum bisa ia jawab.

Siapa dia?

****

BERSAMBUNG

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!