Indonesia
NovelToon NovelToon

Ibu Susu Sang Penguasa

Persembahan Mawar Merah

Suara musik techno yang memekakkan telinga seolah menggetarkan dinding kaca kelab malam eksklusif itu. Poppy Bunga, gadis berusia 21 tahun yang sedang merintis karier sebagai seniman tato, menghela napas panjang. Ia menyesuaikan letak tas peralatannya di bahu. Menjadi seniman panggilan di tempat seperti ini bukanlah hal baru, tapi suasana malam ini terasa berbeda. Terlalu sesak. Terlalu liar bagi jiwanya yang masih muda.

"Menunggu klien, Sayang?" Seorang wanita dengan gaun merah menyala tiba-tiba duduk di sampingnya. Wajahnya cantik, namun senyumnya menyimpan misteri yang sulit diartikan.

Poppy hanya mengangguk sopan. "Iya, sebentar lagi."

"Sambil menunggu, minumlah. Udara di sini kering," wanita itu mengangsurkan segelas anggur merah yang berkilau di bawah temaram lampu neon.

Poppy ragu sejenak. Namun, tenggorokannya memang terasa seperti terbakar karena dehidrasi. "Terima kasih. Hanya satu gelas, kurasa tidak masalah."

Satu sesapan—dingin dan manis.

Dua sesapan—kepalanya mulai terasa ringan.

Tiga sesapan... dan lantai di bawah kaki Poppy seolah berubah menjadi air.

Dunia berputar hebat. Suara musik perlahan menjauh, digantikan oleh dengungan panjang yang menyakitkan. Hal terakhir yang Poppy ingat adalah sepasang tangan kuat yang menangkap tubuh ringkihnya sebelum ia mencium lantai dingin kelab itu.

Tanpa ia sadari, tubuh lunglainya dibawa ke sebuah kamar VIP yang kedap suara. Di sana, seorang pria telah menunggu. Ia tidak mabuk, namun ia sedang haus akan pelampiasan. Pria itu adalah Arvicky Gunawan, seorang penguasa tangguh berusia 34 tahun yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan dengan satu jentikan jari.

Vicky berada di puncak frustrasinya. Istrinya, Yayuk Ardianti, wanita berusia 30 tahun, baru saja menyelesaikan rangkaian kemoterapi yang menyiksa setahun lalu dan dinyatakan bersih. Keajaiban medis terjadi; rahim Yayuk yang sempat terpapar zat sitostatika keras ternyata masih mampu membuahkan janin. Ia hamil satu bulan.

Namun, kebahagiaan itu dibayangi ketakutan luar biasa. Tim onkologi telah memperingatkan bahwa kehamilan pasca-kanker adalah sebuah pertaruhan nyawa. Lonjakan hormon estrogen dan progesteron yang sangat tinggi selama kehamilan—yang seharusnya menyehatkan janin—justru bertindak sebagai "bahan bakar" bagi residu sel kanker yang mungkin masih bersembunyi di tubuh Yayuk.

Bagi sel kanker yang agresif, hormon kehamilan adalah nutrisi terbaik untuk tumbuh kembali dengan lebih cepat dan ganas.

Itulah alasan mengapa Vicky merasa tubuh istrinya begitu rapuh. Setiap inci kulit Yayuk terasa seperti porselen yang bisa pecah kapan saja. Ia takut gairahnya akan menyakiti proses perjuangan sel tubuh Yayuk yang sedang membagi energi antara menghidupi janin dan melawan bibit kanker yang mulai menggeliat bangun.

Dokter sudah mewanti-wanti: Begitu bayi lahir, Yayuk harus segera masuk ke ruang isolasi untuk menjalani kemoterapi lini kedua yang jauh lebih keras. Tubuhnya tidak akan sanggup memproduksi ASI yang sehat karena racun kimia akan segera mengalir lagi di pembuluh darahnya demi menyambung nyawa.

Ketegangan psikologis inilah yang mendorong Vicky ke kelab malam itu. Ia mencintai Yayuk, namun ia butuh pelampiasan fisik yang tidak melibatkan rasa takut akan membunuh istrinya sendiri di atas ranjang.

Vicky menatap gadis di bawah tubuhnya. Ia sangat muda, bahkan mungkin terpaut belasan tahun darinya. Wajahnya cantik alami, namun kain merah kini menutupi sepasang mata gadis itu—sebuah aturan agar tak ada kontak mata di antara mereka.

Saat Vicky membuka lapisan pertama gaun Poppy, matanya tertuju pada sebuah tato mawar merah di dada kiri sang gadis. Tato itu terlihat menantang, seolah mekar di atas kulit yang begitu suci. Mami kelab itu benar-benar memberikan 'jajanan' yang luar biasa malam ini. Vicky memang berpesan: bius wanitanya, agar ia tidak mengenali siapa aku. Namun kini, justru Vicky yang bisa mengingat setiap detail wanita di bawahnya. Tubuhnya begitu indah, segar, dan kencang.

"Bahkan jika harus dibandingkan dengan Yayuk, kau jauh lebih sempurna," gumam Vicky dingin, suaranya parau oleh hasrat.

Ia tak peduli jika wanita ini hanyalah korban dari jahatnya dunia malam. Baginya, malam ini hanyalah transaksi.

"Percuma saja indah, jika kau hanya seorang pelacur."

Vicky meloloskan gaun merah yang membungkus tubuh Poppy dengan kasar namun pasti. Ternyata, mawar itu tidak mekar sendirian. Selain di dada kiri, sebuah tato mawar merah lainnya menjalar di pinggul ramping gadis itu. Kelopak-kelopak merahnya terlihat menyala di atas kulit putih pucat Poppy, dengan aksen duri-duri hitam yang melilit indah hingga ke lekuk pinggangnya.

"Pantas saja Mami Maya menyebutmu 'Mawar'. Kau indah sekali, lengkap dengan duri yang tidak mungkin bisa melukaiku," bisik Vicky dengan suara rendah yang berbahaya.

Hasrat yang tertahan selama akibat kondisi Yayuk meledak seketika. Vicky merunduk, menenggelamkan dirinya dalam aroma tubuh Poppy yang masih murni. Malam itu menjadi saksi bisu pertarungan antara nafsu dan raga yang tak berdaya. Di balik peluh dan napas yang memburu, Vicky menemukan sebuah fakta yang mengejutkannya: Mami Maya tidak berbohong. Wanita di bawahnya ini masih bersih. Masih perawan.

"Kau rupanya sangat sesuai dengan hargamu, Mawar," gumam Vicky, ada sedikit nada kepuasan sekaligus penghinaan dalam suaranya.

Setelah badai itu mereda, Vicky bangkit tanpa penyesalan. Ia mengenakan kembali kemeja mahalnya, merapikan jam tangan, dan menatap tubuh Poppy yang masih terlelap dalam pengaruh obat. Dengan gerakan dingin, ia meletakkan setumpuk uang tunai di sisi kepala gadis itu, tepat di atas bantal yang berserakan dengan helaian rambut hitamnya.

Vicky hendak melangkah pergi, namun bibir Poppy yang sedikit terbuka seolah mengundangnya untuk kembali. Tergerak oleh sisa gairah yang belum tuntas, Vicky membungkuk sekali lagi, melumat bibir itu dalam sebuah ciuman terakhir yang kasar namun memabukkan.

"Ciuman terakhir yang manis," desis Vicky, sempat merasa ketagihan sebelum akal sehatnya mengingatkan bahwa ada Yayuk yang menunggunya di rumah.

Ia melepaskan tautan itu, memperbaiki kerah bajunya, dan menatap sosok Poppy untuk terakhir kalinya dengan tatapan meremehkan.

"Semoga pelanggan-pelanggan selanjutnya seroyal dan sebaik aku, ya, Mawar."

BLAM!

Pintu kamar VIP itu tertutup rapat, mengunci suara dentum musik kelab di luar dan meninggalkan Poppy yang hancur dalam tidurnya, tanpa tahu bahwa di dalam rahimnya, sebuah kehidupan baru akan segera bermula dari malam terkutuk ini.

Vicky berjalan menyusuri lorong kelab yang remang, langkah sepatunya beradu dengan lantai marmer yang dingin. Ia meninggalkan kamar itu tanpa menoleh sedikit pun, membuang sosok Poppy dari ingatannya seolah gadis itu hanyalah asap rokok yang menguap. Ia tidak tahu, dan mungkin tidak peduli, bahwa benih kekuasaannya telah tertanam dan mulai mekar di rahim gadis yang ia juluki 'Mawar' itu.

Langkah kakinya terhenti saat ponsel di saku jasnya bergetar. Sebuah nama muncul di layar, menyinari kegelapan lorong dengan kontras yang menyakitkan: "Istriku Tercinta"

Vicky berdeham, mengatur suaranya agar terdengar stabil dan hangat sebelum menggeser tombol hijau.

"Ya, Sayang?" suaranya berubah lembut, seolah pria dingin di dalam kamar tadi hanyalah fatamorgana.

"Kau masih lembur, sayang?" Suara Yayuk terdengar serak di seberang sana, ciri khas seseorang yang tenaganya terkuras oleh sisa-sisa pengobatan.

"Tidak. Pekerjaanku baru saja selesai. Tiga puluh menit lagi aku sudah sampai di rumah," jawab Vicky dusta, sambil terus berjalan menuju area parkir VIP.

"Syukurlah. Hati-hati di jalan, Sayang. Aku dan calon anak kita menunggumu."

"Pasti. Istirahatlah, jangan menungguku bangun."

Klik. Sambungan terputus.

Vicky melirik jam digital di pergelangan tangannya. Pukul 02:00 pagi. Aroma parfum Poppy yang samar masih menempel di kerah kemejanya, sebuah jejak dosa yang harus ia hapus sebelum menginjakkan kaki di rumah.

'Lembur' panjangnya bersama sang Mawar telah usai. Kini, ia kembali menjadi sosok suami sempurna bagi Yayuk, tanpa menyadari bahwa badai besar sedang bersiap menghantam hidup mereka delapan bulan dari sekarang.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Darah dari nadi sang ayah

Delapan Bulan Kemudian

Poppy menatap nanar perutnya yang membuncit, buah dari malam bersama pria yang bahkan tidak ia kenali identitasnya. Selama ini, ia menyimpan rahasia itu rapat-rapat dalam kesunyian, hingga tiba-tiba rasa sakit yang luar biasa menghantam pangkal rahimnya. Kontraksi itu datang jauh lebih awal dari yang seharusnya.

Awalnya, Poppy mencoba bertahan sendirian. Ia menggigit ujung serbet sekuat tenaga, mencoba meredam jeritannya sendiri, berharap rasa sakit itu hanya lewat. Namun, harapannya hancur saat ia merasakan cairan hangat mengalir deras. Pendarahan. Darah itu mengalir terlalu banyak, memerahkan lantai dan memicu ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Aisyah, sahabatnya yang baru berusia 24 tahun, masuk ke kamar dan langsung jatuh dalam kepanikan. Dengan tangan gemetar, ia segera menghubungi ambulans. Wajah Aisyah pucat pasi, peluhnya bercucuran hampir sama derasnya dengan Poppy yang terus mengerang kesakitan. Dalam benak Aisyah hanya ada satu kecemasan besar: usia kandungan Poppy baru menginjak 34 minggu—terlalu dini bagi sang bayi untuk melihat dunia.

Dunia seolah runtuh di lobi UGD itu. Raungan sirine belum benar-benar hilang dari telinga ketika pintu ambulans terbanting buka, memuntahkan kepanikan yang pekat. Udara malam yang dingin terasa membeku saat aroma anyir darah—darah Poppy—menyerbu keluar, menyentak kesadaran siapa pun yang berada di dekatnya.

"Gawat! Solusio plasenta! Gestasi tiga puluh empat minggu! Detak jantung janin lemah!" teriak petugas paramedis, suaranya parau, berpacu dengan waktu yang kian menipis.

Brankar dihantamkan ke aspal dengan bunyi jeduk besi yang memilukan, lalu didorong liar memasuki lorong. Di atasnya, Poppy tak lagi merintih; ia melolong. Suaranya adalah jeritan keputusasaan seorang ibu yang merasakan nyawa buah hatinya perlahan menjauh.

"Sakiitt! Di... perutku hancur! Bayiku... bayiku jangan biarkan mati!" teriak Poppy, tangannya mencengkeram sprei brankar hingga kukunya memutih dan patah. Wajahnya, yang dulu disukai Vicky, kini berlumuran airmata dan peluh, tertutup masker oksigen yang berembun parah.

Aisyah berlari di sampingnya, air mata membanjiri wajahnya. Kemejanya basah oleh darah sahabatnya. "Tuhan, jangan sekarang! Poppy, bertahan! Pikirkan bayimu, Pop! Kamu harus kuat!" Aisyah menjerit, putus asa, tangannya gemetar mencoba menghapus peluh di dahi Poppy.

"Mbak, tolong jangan menghalangi! Kami harus segera ke ruang tindakan!" bentak perawat, terus memacu kecepatan brankar di atas lantai marmer yang dingin.

Tepat di persimpangan lorong VIP, sebuah ketenangan yang kontras terlihat. Yayuk. duduk di kursi roda, tampak anggun dan tenang dalam balutan jubah pasien bedah berwarna biru muda. Di sampingnya, berdiri Vicky—pria yang delapan bulan lalu membuang Poppy seperti sampah. Ia mengenakan setelan jas gelap yang rapi, keningnya sedikit berkerut menatap ponsel di tangannya.

"Semua sudah diatur, sayang. Dokter terbaik, fasilitas terbaik. Bayi kita akan lahir dengan selamat, tanpa celaka sedikit pun," ucap Vicky, suaranya berat, datar, dan penuh otoritas. Sebuah jaminan keselamatan yang tak pernah ia berikan pada Poppy.

Yayuk. tersenyum, lalu menoleh saat kegaduhan itu mendekat. "Sayang, lihat itu... mengerikan sekali. Kasihan wanita itu."

Vicky mendongak, tepat saat brankar Poppy melesat lewat di hadapan mereka. Jarak mereka tak sampai satu meter. Embusan angin yang dibawa brankar itu menerpa wajah Vicky, membawa bau darah yang sangat pekat—bau dari kehidupan yang pernah ia sentuh, lalu ia hancurkan.

Vicky tertegun. Langkahnya terkunci. Matanya—mata elang yang biasa menatap dingin dunia—kini terpaku pada sosok yang bersimbah darah di atas brankar. Meskipun wajahnya tertutup masker, jeritan kesakitan itu... ada nada yang sangat familiar di dalamnya. Nada yang membangkitkan ingatan tentang seorang gadis yang pernah ia panggil 'Mawar'.

"Pop, bertahan! Jangan tinggalkan aku!" teriakan Aisyahyang histeris menggema di lorong, menusuk pendengaran Vicky.

Mawar? Sebuah denyutan aneh menghantam dada Vicky. Ia merasakan ketidaknyamanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tangan yang tadi menggenggam ponsel kini mengepal kuat.

"Sayang?" panggil Yayuk, menyadari perubahan drastis pada wajah pria itu. Mata Vicky terlihat... terguncang. "Kamu... kenal wanita itu?"

Vicky perlahan memalingkan wajahnya dari arah brankar yang menjauh. Ia menatap Yayuk., mencoba mengembalikan ketenangannya, namun ada sesuatu yang retak di balik topeng kedinginannya.

"Tidak," jawab Vicky, suaranya sedikit bergetar, lebih seperti mencoba meyakinkan dirinya sendiri daripada menjawab Yayuk.. "Hanya... orang asing yang sedang sial. Ayo."

Vicky mendorong kursi roda Yayuk. menuju pintu lift VIP, mencoba mengubur firasat buruk yang mendadak mencekik lehernya. Ia tidak tahu bahwa di balik sekat tipis di ruang operasi gawat darurat, 'Mawar'-nya sedang bertaruh nyawa untuk melahirkan darah dagingnya—bayi yang ia tolak bahkan sebelum ia tahu keberadaannya. Dan di luar pintu, Aisyah jatuh terduduk di lantai, menangis tanpa suara, mencengkeram kemejanya yang berlumuran darah, berdoa pada tuhan yang seolah-olah sedang menghukum mereka.

Lantai ruang operasi itu kini terbelah menjadi dua dunia. Di balik pintu kayu yang kokoh dan kedap suara, Yayuk sedang menjalani prosesi persalinan VIP yang terencana. Namun, hanya beberapa meter di sisi lain, di balik pintu ganda baja yang dingin, Poppy diantar ke ruang oeprasi. Ia sedang meregang nyawa. Dokter telah memutuskan: tidak ada jalan normal. Operasi caesar darurat adalah satu-satunya cara sebelum jantung Poppy benar-benar berhenti berdenyut.

Aisyah duduk bersimpuh di lantai koridor yang kaku, telapak tangannya menutupi wajah yang sembap. Di seberangnya, Vicky berdiri tegak dengan keangkuhan yang mulai retak, matanya terus melirik ke arah lorong tempat brankar bersimbah darah itu menghilang tadi.

Tiba-tiba, pintu ruang operasi Poppy terbuka panik. Seorang dokter keluar dengan langkah terburu-buru, wajahnya tertutup masker namun matanya memancarkan kegentingan yang luar biasa.

"Keluarga Nona Poppy?!" seru dokter itu, suaranya menggema membelah kesunyian.

Aisyah tersentak bangun, kakinya hampir mati rasa. "Saya, Dok! Saya sahabatnya! Bagaimana Poppy? Bagaimana bayinya?"

"Kondisinya kritis. Terjadi pendarahan hebat dan kami kekurangan stok darah. Kami butuh golongan darah B sekarang juga! Satu kantong lagi, atau kita akan kehilangan ibu dan bayinya!" Dokter itu bicara dengan nada yang menuntut kecepatan. "Persediaan di bank darah rumah sakit sedang kosong!"

Dunia Aisyah serasa berputar. "B? Darah saya A, Dok... Ambil saja darah saya! Tolong, apa tidak bisa?!" Aisyah meracau, suaranya pecah oleh tangis. Ia tahu permintaannya konyol secara medis, namun keputusasaan telah melumpuhkan logikanya. "Tolong jangan biarkan mereka mati..."

Vicky, yang sedari tadi hanya mengamati dari kejauhan, merasakan debaran aneh di dadanya. Rasa iba yang tak biasa merayapi hatinya saat melihat noda darah yang mengering di kemeja Aisyah.darah yang ia tidak tahu adalah darah dagingnya sendiri.

Dengan langkah pelan namun pasti, bayangan tinggi besar Vicky mendekat, menaungi tubuh Aisyahyang gemetar hebat.

"Kebetulan," suara berat Vicky memecah kepanikan, "golongan darah saya B."

Deg!

Aisyah tersentak. Ia berpaling, mendongak menatap pria asing yang berdiri di hadapannya. Di bawah pendar lampu neon rumah sakit yang pucat, wajah Vicky yang tampan dan dingin tampak seperti mukjizat yang turun dari langit di detik-detik terakhir. Pria yang terlihat begitu berkuasa itu kini menawarkan satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan sahabatnya.

"Anda... Anda serius?" bisik Aisyah, matanya yang basah menatap penuh harapan sekaligus tak percaya.

Vicky tidak membuang waktu untuk berbasa-basi. Ia menatap dokter itu dengan tatapan tajam yang tak terbantahkan. "Ambil darah saya. Sebanyak yang kalian butuhkan. Segera."

Tanpa ada yang menyadari, di detik itu, darah dari nadi sang ayah bersiap mengalir kembali ke rahim yang pernah ia lupakan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Golongan Darah Author juga B 🥰

Pertukaran Identitas Kematian

Lantai rumah sakit itu kini menjadi saksi bisu dari dua tragedi yang bertolak belakang. Di satu sisi, lampu ruang operasi padam, menyisakan keheningan yang menyesakkan dada. Poppy selamat, namun sebuah berita duka menghantam Aisyah tepat di ulu hatinya: bayi malang itu dinyatakan tidak bertahan. Dunia seakan berhenti berputar bagi Aisyah saat ia melihat sosok mungil yang sedingin es itu di ruang perawatan. Bayi itu hanya sempat menghirup udara dunia selama satu hari, meninggalkan duka yang bahkan belum sempat menemukan kata-katanya.

Aisyah berdiri di depan pintu ruang pemulihan, jemarinya gemetar hebat hingga ke sumsum tulang. Ia menatap Poppy yang masih terlelap, menunggu sahabatnya itu mengerjap bangun dengan segenap doa agar wanita itu tetap memiliki keinginan untuk hidup. Namun, di saat yang sama, Aisyah dirongrong ketakutan luar biasa. Bagaimana ia bisa mengabarkan hal seburuk ini? Bagaimana ia bisa mengatakan pada Poppy—wanita yatim piatu yang begitu mencintai janinnya meski tanpa sosok ayah—bahwa satu-satunya harapan hidupnya telah tiada?

Dengan langkah gontai dan mental yang hancur, Aisyah keluar dari ruangan untuk mencari udara, namun tanpa sadar langkahnya membawanya ke koridor VIP yang megah namun terasa hampa. Di sana, ia melihat pria itu lagi.

Vicky.

Pria yang telah mendonorkan darahnya untuk Poppy itu berdiri mematung di depan kaca besar. Sepasang mata Vicky tampak merah, menyiratkan kesedihan yang begitu menjurang dalam, sebuah duka yang seolah tak memiliki dasar. Aisyah tertegun; di dalam benaknya, ia mengira itu adalah tangis bahagia seorang pria yang baru saja resmi menjadi ayah. Ia tidak tahu bahwa ada kegelapan yang jauh lebih pekat di balik tatapan itu.

Aisyah memberanikan diri mendekat. "Pak Vicky..."

Vicky menoleh lambat, auranya begitu dingin, tajam, dan tertutup. "Ada apa?" suara pria itu berat, seolah baru saja menelan kerikil tajam.

"Saya... saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan darah Anda. Anda telah menyelamatkan nyawa sahabat saya," ucap Aisyah tulus, meski suaranya bergetar hebat karena duka yang ia pendam sendiri.

Vicky hanya mengangguk singkat, sebuah gestur hampa seakan ia tidak ingin lagi bersinggungan dengan orang asing. Aisyah merasa kikuk, ia menunduk lalu segera berbalik pergi, masuk kembali ke ruang perawatan Poppy tanpa mengetahui rahasia mengerikan yang baru saja lahir.

Vicky terus menatap punggung Aisyah hingga gadis itu hilang ditelan pintu lorong. Napasnya terasa berat, menyesakkan dadanya yang bidang. Di dalam kepalanya, suara pengakuan yang keji terus berdengung:

​"Maaf, saya telah menukar bayi kalian."

Bagi Vicky, kebahagiaan Yayuk adalah harga mati. Istrinya itu sedang berjuang melawan kanker yang menggerogoti nyawanya, dan kehadiran bayi adalah satu-satunya alasan Yayuk untuk tetap mau membuka mata. Vicky tidak sanggup membayangkan Yayuk hancur jika mengetahui anak mereka telah mati di meja operasi. Dengan kekuasaan dan uangnya, ia telah melintasi batas kemanusiaan.

Ia telah mencuri bayi dari wanita yang baginya hanyalah orang asing—bayi dari wanita yang ia buang delapan bulan lalu—untuk diberikan kepada istrinya.

Vicky melangkah lunglai, setiap tapakan sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti detak jam menuju kehancuran. Ia sempat berhenti di depan kaca tebal ruang NICU yang paling eksklusif. Di dalam sana, di balik inkubator dengan teknologi paling mahal yang bisa dibeli uang, seorang bayi mungil sedang berjuang menghirup oksigen.

Vicky menatapnya dengan pandangan kosong, nyaris hampa. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa bayi yang ia rampas—yang ia jadikan "tumbal" sebagai pengganti demi senyum Yayuk—adalah darah dagingnya sendiri. Ia telah merobek paksa hak Poppy, menanamkan belati kepedihan abadi di jantung wanita malang itu, tanpa pernah tahu bahwa ia baru saja menjadikan putranya sendiri sebagai sebuah kebohongan besar yang dibalut kemewahan.

Bagi Vicky, ini adalah satu-satunya jalan. Hidup baru untuk Yayuk. Sebuah harapan yang harus tetap bernapas, meski ia harus mencuri nyawa dari pelukan ibu lain.

Namun, kegelisahan yang membakar jiwa menuntun langkahnya lebih jauh ke bawah. Menuju tempat di mana suhu udara mendadak turun, membekukan pori-pori. Kamar mayat.

Vicky berdiri di sana, dikelilingi bau formalin yang menusuk. Tatapannya dingin, seolah ia baru saja menyelesaikan transaksi bisnis paling kotor dalam hidupnya. Di sudut ruangan, Suster Amelia sudah menunggu. Ia tahu pria ini; sang penguasa yang telah membeli nuraninya dengan tumpukan uang.

"Aku ingin melihatnya... sekali lagi," suara Vicky parau, pecah di tengah keheningan yang mencekam.

Suster Amelia mengantarnya ke sebuah meja besi yang kaku. Di sana, selembar kain kafan putih yang amat kecil menutupi tubuh mungil yang sudah mendingin dan membiru. Itu adalah putra kandung Yayuk—bayi yang seharusnya ia timang dengan bangga.

Vicky jatuh tersungkur di samping meja itu. Tangisnya pecah kembali, bahunya berguncang hebat meratapi jasad yang tak lagi bernyawa. Namun, sedetik kemudian, ia menyeka air matanya dengan kasar, seolah malu pada kegelapan ruangan itu.

"Apakah ibunya sudah melihat?" tanya Vicky, suaranya kembali sedingin es.

"Nona Poppy belum siuman, Tuan," jawab Suster Amelia pelan, matanya menghindari tatapan Vicky.

Vicky bangkit berdiri, auranya kembali angkuh dan mengancam. "Buat dia cepat bangun! Itu tugas kalian! Bagaimana mungkin dia membiarkan putranya menunggu terlalu lama di tempat mengerikan seperti ini? Cepat berikan mayat ini padanya!"

Kalimat itu meluncur dengan kebengisan yang ironis. Vicky berbalik, meninggalkan kamar mayat tanpa menoleh lagi, menyisakan gema langkah kaki yang angkuh namun rapuh.

Suster Amelia hanya berdiri membeku, menatap punggung Vicky yang menjauh dengan pikiran yang berkecamuk hebat. Itu putramu, Tuan, batinnya miris. Kau baru saja menangisi jasad putra istrimu, sementara kau membiarkan ibu lain menangisi putramu yang sebenarnya masih hidup di atas sana. Kau mencuri napas dari satu rahim, untuk menambal lubang di rahim yang lain.

Suster Amelia menatap kain kafan putih itu dengan tatapan yang tak lagi memiliki belas kasihan. Nuraninya telah terkubur di bawah tumpukan uang yang dijanjikan Vicky. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum hambar yang penuh kelicikan, seolah ia baru saja memenangkan sebuah pertaruhan besar. Baginya, ini bukan sekadar pengkhianatan medis, melainkan bisnis yang teramat manis.

"Lagipula, untuk apa kau membesarkan anak ini, Poppy?" bisiknya lirih, suaranya memantul di dinding kamar mayat yang dingin.

Amelia telah menyelidiki segalanya. Ia tahu kondisi ekonomi Poppy berada jauh di bawah standar. Membiarkan bayi prematur itu tetap berada di tangan Poppy hanya akan menjadi vonis mati yang tertunda. Tanpa biaya untuk ruang inkubator yang mahal, tanpa jaminan perawatan intensif, jantung kecil itu pasti akan berhenti berdetak dalam hitungan minggu.

Sangat berbeda dengan Vicky. Pria kaya raya itu memiliki segalanya untuk memastikan detak jantung sang bayi terus berlanjut. Kekuasaan Vicky adalah napas bagi bayi itu, sesuatu yang tak akan pernah bisa diberikan oleh seorang ibu tunggal yang melarat.

"Sebenarnya, aku sedang membantumu," gumam Amelia sambil merapikan letak jenazah bayi yang membiru itu.

Amelia mengingat setiap cerita Aisyah tentang bagaimana malangnya nasib Poppy. Seorang yatim piatu, hamil tanpa suami, dan kini terbaring lemah tanpa masa depan. Di mata Amelia, moralitas adalah kemewahan yang tidak mampu dibeli oleh orang miskin.

"Daripada kau harus membesarkan anak haram yang hanya akan menjadi beban hidupmu... lebih baik kau memulai hidup baru sebagai wanita muda tanpa anak. Anggap saja ini sebuah anugerah yang menyakitkan," ucapnya dengan nada dingin yang tak tersentuh.

Dengan gerakan yang tenang namun mematikan, Suster Amelia menarik kembali kain kafan itu, menutupi wajah kaku sang bayi yang sebenarnya adalah putra kandung Yayuk. Ia memastikan setiap sudut kain tertutup rapat, seolah sedang menyegel rahasia paling busuk di rumah sakit itu.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!