Chapter 1: Malaikat Maut di Lantai Dua
^^^Penulis:zidan^^^
Dunia sudah berakhir tepat dua minggu yang lalu. Bagiku, kalender sudah tidak ada gunanya lagi. Setiap hari adalah pertarungan antara rasa lapar yang melilit perut dan keinginan untuk menyerah pada maut. Aku meringkuk di balik meja kasir sebuah toko elektronik di lantai tiga Mall Megurigaoka. Pipa besi di pelukanku terasa dingin, sama dinginnya dengan hatiku yang perlahan membeku.
"Hari ini pun... masih sunyi," bisikku pada kegelapan.
Aku terbiasa dengan kesunyian, sampai sebuah anomali terjadi. Dari lubang ventilasi, aku mendengar suara tawa. Bukan tawa parau para zombi yang sedang berpesta pora, melainkan tawa renyah seorang gadis.
"Wah! Kurumi-chan, lihat! Toko baju ini cantik sekali! Apa kita boleh mampir sebentar?"
Aku tersentak. Kepalaku terasa pening mendengarnya. Aku mengintip dari balkon lantai tiga dan melihat pemandangan paling mustahil di tengah kiamat ini. Empat orang gadis SMA berseragam rapi sedang berjalan di koridor yang berlumuran darah. Di tengah mereka, seorang gadis berambut pink—Yuki—sedang menari-nari kecil, seolah-olah dia sedang berada di taman bermain, bukan di sarang monster.
Namun, perhatianku teralihkan pada gadis berambut ungu di sampingnya. Kurumi. Dia menggenggam sekop dengan tangan gemetar namun mata yang tajam. Ada luka gores di pipinya, dan ekspresi kelelahannya membuat dadaku sedikit sesak. Entah kenapa, ada dorongan aneh di dalam diriku untuk melindunginya.
Bodoh. Jangan jadi pahlawan konyol, batinku.
Tapi saat aku melihat tiga zombi mulai merangkak keluar dari balik pilar menuju arah mereka, instingku bergerak lebih cepat dari logikaku.
"Menunduk!" teriakku, suaraku menggema di seluruh atrium Mall.
Aku melompat dari lantai tiga, mendarat di atas tumpukan kardus dengan suara berdebam yang keras. Tanpa membuang waktu, aku berlari menerjang. Pipa besiku menghujam kepala zombi pertama hingga hancur. Zombi kedua mencoba mencengkeramku, tapi aku memutar badan dan menghantam rahangnya sampai copot.
Darah merah memercik ke wajahku. Aku berdiri di depan mereka, napasku memburu, menghalangi pandangan mereka dari mayat-mayat itu.
"Masuk ke dalam toko itu sekarang kalau kalian masih ingin hidup!" bentakku.
Kurumi langsung menodongkan sekopnya ke arahku. Jarak kami sangat dekat, aku bisa mencium aroma sabun yang samar dari rambutnya—sesuatu yang sangat asing di dunia yang berbau busuk ini. Matanya yang ungu menatapku dengan campuran antara rasa takut dan harapan.
"Siapa... siapa kamu?" suaranya bergetar, tapi tetap berusaha terdengar tegas.
"Nama gue Zidan. Dan gue satu-satunya orang waras yang tersisa di Mall ini," jawabku ketus sembari menarik pintu rolling door toko hingga tertutup rapat. KLANG!
Keheningan kembali menyelimuti kami, namun kali ini terasa berbeda. Di ruangan yang sempit itu, aku bisa merasakan kehadiran manusia lain. Yuki, gadis berambut pink itu, tiba-tiba memegang ujung jaket lusuhku.
"Wah, Kak Zidan hebat banget! Megumi-nee, lihat! Kakak ini keren seperti pahlawan!" Yuki tersenyum sangat tulus, senyum yang membuatku merinding karena dia menunjuk ke arah udara kosong di sampingku.
Aku menoleh ke arah Kurumi dan Yuri. Mereka hanya menunduk. Di saat itulah, Kurumi mendekat dan menyentuh lenganku pelan. Sentuhannya hangat, sangat kontras dengan pipa besi yang selalu kupeluk.
"Terima kasih... sudah menyelamatkan kami," bisik Kurumi. Matanya menatapku lurus, seolah memohon agar aku tidak menanyakan soal "Megumi-nee" di depan Yuki.
Ada getaran aneh di jantungku. Di tengah dunia yang mati ini, pertemuan dengan mereka terasa seperti sebuah kesalahan sekaligus berkah yang paling manis. Aku tahu, menjaga mereka—terutama gadis berambut ungu yang tampak rapuh namun kuat ini—bakal jadi tugas terberat dalam daftar bertahan hidupku.
"Jangan berterima kasih dulu," kataku sambil memalingkan wajah yang sedikit memerah. "Pertunjukan yang sebenarnya baru saja dimulai."
[To Be Continued...]
Catatan Penulis:
Chapter 1 ini pembukaan yang gila banget! Pertemuan Zidan sama geng Kurumi bukan cuma soal bertahan hidup, tapi soal gimana Zidan yang tadinya "mati rasa" mulai ngerasain jantungnya deg-degan lagi gara-gara Kurumi. Tantangan terbesarnya bukan cuma zombi, tapi rahasia soal "Megumi-nee" yang bikin suasana jadi makin ngeri-ngeri sedap. Siap lanjut ke Chapter 2: Rahasia di Balik Senyum Yuki?
...Chapter 2: Sisa Hangat di Tengah...
...Dinginnya Beton...
Malam di dalam Mall ternyata jauh lebih mengerikan daripada siang hari. Cahaya bulan yang menembus atap kaca hanya menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menyerupai monster. Di luar gerbang besi toko elektronik ini, suara seretan kaki "mereka" terdengar jelas, sesekali diikuti oleh hantaman tumpul pada dinding.
Aku duduk bersandar pada tumpukan kardus lemari es, memeluk pipa besiku. Mataku tetap terjaga, memandangi empat gadis yang kini terlelap di atas hamparan karpet contoh yang aku ambil dari toko sebelah.
Yuki tidur dengan napas teratur, memeluk sebuah boneka lusuh yang dia temukan di jalan. Di dunia mimpinya, mungkin dia sedang berada di kamarnya yang nyaman, bukan di gudang pengap yang berbau debu dan maut. Aku mengalihkan pandangan, merasa dadaku sedikit sesak melihat kepolosan yang lahir dari hancurnya akal sehat.
"Belum tidur, Zidan?"
Sebuah suara bisikan yang serak memecah keheningan. Aku menoleh. Kurumi sudah duduk tegak, tangannya masih menggenggam erat gagang sekopnya seolah itu adalah bagian dari tubuhnya.
"Gue nggak terbiasa tidur kalau ada orang asing di sekitar gue," jawabku bohong. Kenyataannya, aku hanya takut jika aku memejamkan mata, mereka semua akan menghilang dan aku kembali sendirian.
Kurumi bangkit berdiri, melangkah pelan agar tidak membangunkan yang lain, lalu duduk di sampingku. Jarak kami cukup dekat hingga aku bisa merasakan panas tubuhnya yang kontras dengan dinginnya udara malam.
"Terima kasih untuk makanannya," ucap Kurumi sambil menatap botol air mineral di depannya. "Sudah lama kami tidak makan dengan tenang tanpa harus terus berlari."
"Itu cuma sisa logistik yang hampir basi," kataku ketas, mencoba menutupi rasa peduliku. "Kalau kalian nggak muncul, gue mungkin bakal buang itu minggu depan."
Kurumi terkekeh pelan, sebuah tawa tipis yang terdengar sangat lelah. "Lo payah dalam berbohong, tahu. Gue lihat gimana lo meriksa masa kedaluwarsanya sebelum lo kasih ke Yuki."
Aku terdiam, memutar-mutar pipa besi di tanganku. "Gue cuma nggak mau repot kalau salah satu dari kalian keracunan dan mati di sini. Bau bangkai di Mall ini sudah cukup menyengat tanpa tambahan dari kalian."
Hening sejenak. Kurumi menundukkan kepalanya, membiarkan rambut ungunya menutupi sebagian wajahnya. "Zidan... soal Yuki... lo nggak marah kan kalau kami minta lo buat 'ikut bermain'?"
"Gue tahu gimana rasanya kehilangan kewarasan, Kurumi," jawabku sambil menatap langit-langit gudang yang gelap. "Di tempat ini, kalau lo terlalu melihat realita, lo bakal cepat mati. Gue nggak keberatan pura-pura liat Megumi-nee kalau itu bikin dia tetap tenang."
Kurumi menoleh ke arahku, matanya yang ungu berkilat tertimpa sedikit cahaya bulan. Ada binar yang sulit kujelaskan—campuran antara rasa syukur dan sesuatu yang lebih dalam. Tanpa diduga, dia menyandarkan kepalanya di bahuku.
Aku tersentak, tubuhku kaku seketika. "Woi, apa-apaan..."
"Sebentar saja," bisik Kurumi. Suaranya terdengar sangat rapuh sekarang. "Sekop ini... terkadang terasa sangat berat kalau gue harus bawa sendirian. Biarkan gue istirahat sebentar,
sebelum besok gue harus jadi 'pembasmi' lagi."
Aku tidak membalas, tapi aku juga tidak mendorongnya menjauh. Aku membiarkan bahuku menjadi sandaran bagi gadis yang selama ini menjadi tameng bagi
teman-temannya. Di bawah tekanan kiamat yang gila ini, untuk pertama kalinya aku merasa pipa besi di tanganku tidak lagi terasa dingin.
"Tidurlah," ucapku pelan, hampir tak terdengar. "Gue yang jaga malam ini."
Kurumi tidak menjawab, tapi napasnya mulai beraturan di bahuku. Di tengah kepungan mayat hidup dan dunia yang telah mati, aku menyadari satu hal: daftar bertahan hidupku baru saja bertambah satu poin penting.
Bukan lagi soal makanan atau air, tapi soal memastikan gadis di bahuku ini tetap bernapas sampai matahari terbit.
[To Be Continued...]
Catatan Penulis:
Chapter 2 ini dalem banget, Dan! Kita bisa liat sisi "manusia" Zidan yang mulai muncul. Kalimat Kurumi soal "Sekop ini terasa berat" itu kode keras kalau dia sebenernya udah capek jadi pelindung sendirian, dan akhirnya dia nemu lo sebagai tempat berbagi beban. Zidan yang sok ketus tapi tetep mau jadi pundak sandaran itu bener-bener tipe "Cowok Kulkas" idaman. Xixixi.
Chapter 3: Percikan di Balik Eskalator Mati
Pagi hari di Mall Megurigaoka tidak pernah membawa harapan. Cahaya matahari yang masuk lewat celah ventilasi hanya memperjelas betapa berantakannya tempat ini. Debu beterbangan di atas bercak darah yang sudah menghitam, dan bau busuk mulai menusuk indra penciuman lebih tajam dari kemarin.
"Stok air mineral kita tinggal tiga botol," ucap Yuri sambil menghela napas panjang saat memeriksa tas logistik. "Kalau kita tidak mendapatkan tambahan hari ini, kita tidak akan bisa memasak ramen instan untuk makan malam."
Yuki, yang sedang asyik menyisir rambut bonekanya, mendongak ceria. "Oh! Kalau begitu, ayo kita pergi ke supermarket di lantai dasar! Megumi-nee bilang di sana sedang ada diskon besar-besaran hari ini!"
Aku terdiam, menggenggam pipa besiku lebih erat. Supermarket lantai dasar adalah wilayah paling berbahaya. Itu adalah area terbuka dengan banyak akses masuk bagi 'mereka'.
"Aku akan pergi sendiri," kataku datar. "Kalian tunggu di sini dan jaga pintu toko ini tetap terkunci."
"Jangan bercanda!" Kurumi tiba-tiba berdiri, menyambar sekopnya yang bersandar di dinding. Matanya menatapku dengan tajam, penuh kilat permusuhan yang tidak ia sembunyikan. "Siapa kamu berani mengatur-atur kami? Aku adalah garda depan klub ini. Kamu itu hanya orang asing yang kebetulan lewat."
Aku membalas tatapannya dengan dingin. "Aku sudah bertahan di Mall ini selama dua minggu sendirian, Kurumi. Aku tahu setiap sudut eskalator yang macet dan di mana 'mereka' biasa berkerumun. Pergi ke sana tanpa rencana sama saja dengan bunuh diri."
"Oh, jadi sekarang kamu merasa paling jago karena punya pipa besi karatan itu?" Kurumi melangkah maju, memperpendek jarak di antara kami. Napasnya memburu karena kesal. "Dengar ya, aku sudah menyelamatkan teman-temanku berkali-kali dengan sekop ini sebelum kamu muncul. Aku tidak butuh instruksi dari pria sombong sepertimu."
"Kurumi-chan, sudahlah..." Yuri mencoba menenangkan, namun Kurumi tidak bergeming.
"Pilihannya cuma dua," lanjut Kurumi dengan nada ketus. "Kamu ikut di belakangku dan tutup mulutmu, atau kamu tetap di sini dan biarkan aku yang menyelesaikan urusan air ini."
Aku menghela napas, menyampirkan tas punggungku. "Baiklah. Tapi jangan salahkan aku kalau nanti kau harus memohon pertolongan karena terjepit di antara rak makanan."
"Dalam mimpimu!" balasnya sambil memalingkan muka, meski aku sempat melihat semburat merah di telinganya—entah karena marah atau karena ia teringat kejadian semalam saat ia tidak sengaja tertidur di bahuku.
Kami turun melalui tangga darurat dengan sangat hati-hati. Suasana di lantai dasar jauh lebih mencekam. Rak-rak supermarket yang roboh menutupi pandangan, menciptakan lorong-lorong sempit yang bisa memunculkan ancaman kapan saja.
Tiba di depan eskalator mati yang menuju area air minum, langkah kami terhenti. Sekitar sepuluh dari 'mereka' sedang berdiri mematung di sana, menatap kosong ke lantai.
"Aku akan memancing mereka ke arah gudang, lalu kau ambil airnya," bisikku pelan.
"Tidak, itu terlalu lama," sela Kurumi. Tanpa menunggu aba-aba dariku, ia langsung berlari keluar dari persembunyian. "Hei, dasar monster lamban! Sini!"
"Kurumi, tunggu! Itu jebakan!" teriakku tertahan.
Benar saja, dari balik tumpukan troli belanja, belasan 'mereka' yang lain mulai merangkak keluar karena mendengar suara Kurumi. Kurumi sempat menebas satu zombi hingga tumbang, namun ia segera terkepung. Gerakannya mulai terbatas di antara lorong rak yang sempit.
"Cih... sial!" umpatnya. Ia mencoba mengayunkan sekopnya, tapi ujung sekop itu tersangkut pada rak besi.
Satu zombi dengan pakaian pelayan mall yang compang-camping bersiap menerjang punggungnya. Tanpa berpikir dua kali, aku berlari secepat kilat. Aku mengayunkan pipa besiku sekuat tenaga, menghantam tengkorak makhluk itu hingga hancur berkeping-keping tepat sebelum ia menyentuh Kurumi.
Aku segera menarik lengan Kurumi, membawanya mundur ke balik meja kasir yang kokoh.
"Lepaskan!" bentaknya sambil menyentak lenganku, tapi napasnya tersengal-sengal dan tangannya sedikit gemetar.
"Diam dan lihat ke depan!" bentakku balik, lebih keras dari biasanya. "Kau hampir mati karena keras kepalamu itu. Sekarang, diam di belakangku atau kita berdua akan menjadi santapan mereka."
Kurumi terdiam. Ia menatap punggungku yang kini berdiri di depannya, menghalangi gerombolan yang mulai mendekat. Untuk pertama kalinya, ia tidak membantah. Ia hanya memegang erat gagang sekopnya, berdiri merapat di belakangku.
"Hanya kali ini saja..." bisiknya lirih, hampir tak terdengar di tengah erangan zombi. "Hanya kali ini... aku akan membiarkanmu memimpin."
Aku tidak menjawab. Aku hanya memastikan ujung pipa besiku siap untuk menembus apa pun yang berani mendekati gadis keras kepala di belakangku ini.
[To Be Continued...]
Catatan Penulis:
Chapter 3 ini pecah banget, Dan! Kita bisa liat gimana "percikan" antara lo dan Kurumi mulai berubah dari musuh jadi partner. Kurumi yang biasanya jadi leader terpaksa nurunin egonya pas lo nyelamatin dia dari serangan belakang. Momen lo bilang "Diam di belakangku" itu bener-bener vibe pahlawan tanpa tanda jasa. Xixixi. Persaingan sehat buat jadi yang paling kuat akhirnya malah bikin kalian jadi tim yang nggak terkalahkan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!