Indonesia
NovelToon NovelToon

Kelahiran Kembali Arga Bimantara

Bab 1

1 April 2000

"Dana sebesar Rp10.000.000.000 telah dikreditkan ke rekening BCA Anda yang berakhiran 1314. Saldo efektif Anda saat ini adalah Rp10.001.020.100."

Seorang pria dengan penampilan konyol, mengenakan kostum badut karakter, melangkah keluar dari kantor pusat penyelenggara undian dengan pengawalan ketat hingga ke gerbang.

Setelah berhasil berganti pakaian di toilet umum yang sepi, Arga akhirnya mengembuskan napas panjang. Wajahnya dipenuhi kegembiraan yang tak mampu ia kendalikan.

Tujuh hari lalu, ia terlahir kembali—terlempar dari tahun 2021 kembali ke masa ini.

Dalam kehidupan sebelumnya, Arga adalah seorang analis keuangan kelas teri. Dua puluh tahun memeras keringat di Jakarta, namun kemiskinan tak pernah benar-benar menjauh darinya. Hidupnya berlalu tanpa pencapaian, penuh dengan cicilan dan penyesalan.

Namun setelah terlahir kembali dengan ingatan fotografis tentang peristiwa masa depan, Arga memilih jalan pintas paling logis untuk membangun fondasi: memenangkan undian nasional.

Hadiah sebesar 10 miliar rupiah kini ada di tangannya.

Dalam waktu tujuh hari, Arga berubah dari seorang pemuda perantauan dengan tabungan pas-pasan menjadi seorang miliarder baru!

Perlu diingat, pada tahun 2000, harga Sate Ayam di pinggir jalan masih Rp3.000 per porsi. Harga rumah tipe menengah di pinggiran kota pun masih di kisaran Rp50 juta hingga Rp80 juta. Memiliki uang 10 miliar di tahun ini bukan sekadar kaya—itu adalah tiket menjadi raja bisnis!

"Selama aku bisa memanfaatkan momentum krisis dan ledakan teknologi, 10 miliar ini akan menjadi 100 miliar, satu triliun, bahkan melampaui kekayaan grup konglomerat terbesar di negeri ini!"

Mata Arga memerah, seluruh tubuhnya bergetar. Ini adalah tahun 2000! Zaman keemasan ada di depan mata.

Ia ingat betul, saham-saham perbankan yang jatuh pasca-krisis 98 akan segera melesat. Tanah di kawasan BSD atau Kelapa Gading masih sangat murah. Belum lagi potensi perusahaan rintisan teknologi dan komoditas tambang yang akan meledak beberapa tahun lagi.

Arga menetapkan tiga janji pada dirinya sendiri:

 * Memuliakan orang tuanya dan menghapus semua penderitaan mereka.

 * Membangun imperium bisnis yang tak tergoyahkan.

 * Tidak akan lagi menjadi "pria lemah" yang bisa diinjak-injak harga dirinya.

Namun, Arga tetap waspada. Ia paham gelapnya sifat manusia. Sebelum ia benar-benar memiliki kuasa, ia harus bergerak dalam bayang-bayang.

Saat itu juga, ponsel Nokia 3210 di saku celananya berdering nyaring.

"Arga, cepat ke Restoran Pinang Muda sekarang!" suara di seberang ketus, lalu telepon ditutup sepihak.

Telepon itu dari Tiara—kekasihnya saat ini, yang di kehidupan sebelumnya adalah istri yang menjadi sumber malapetaka hidupnya. Wanita yang membuat Arga menderita dan membuat orang tuanya menelan penghinaan hingga akhir hayat.

"Baik. Kali ini, semuanya akan kuakhiri agar sejarah kelam itu tidak terulang."

Tanpa ragu, Arga mencegat taksi menuju restoran tersebut. Begitu melangkah masuk, ia melihat Tiara dan adiknya, Rendi, berdiri di depan kasir sambil tertawa-tawa.

"Kenapa lama sekali?" ketus Tiara saat melihat Arga. "Sudahlah, cepat bayar! Kasirnya sudah menunggu."

"Maaf, Mas. Totalnya Rp1.200.000," ujar pelayan restoran dengan sopan.

Arga tertegun sejenak. Di tahun 2000, uang 1,2 juta adalah gaji dua bulan seorang buruh pabrik. Mereka makan apa sampai menghabiskan uang sebanyak itu dalam sekali duduk?

"Aku tidak akan membayar. Biarkan mereka bayar sendiri," ujar Arga dingin.

"Apa?! Tidak bayar?" Tiara mendongak, menatap Arga dengan wajah tidak percaya.

Biasanya, Arga adalah pria yang bisa diatur—"budak cinta" yang akan melakukan apa saja demi senyuman Tiara. Namun hari ini, Arga terasa seperti orang asing. Tatapannya tajam dan tidak ada lagi binar pengabdian di matanya.

"Arga, jangan mempermalukan aku! Cepat bayar sekarang!" Tiara bersedekap, nadanya angkuh.

Arga menyeringai. Ingatan tentang dua puluh tahun disiksa secara mental oleh wanita ini muncul kembali.

"Kenapa aku harus bayar? Aku tidak ikut makan, dan menurutku sejuta dua ratus untuk makan siang itu tidak masuk akal," katanya datar.

"Rendi ini baru saja pulang wawancara kerja! Apa salahnya kita merayakan sedikit?" Tiara membentak. "Lagipula kita akan menikah. Rendi itu adik iparmu. Apa kamu setega itu mempermasalahkan uang makan keluarga?"

"Dia adikmu, bukan adikku!" suara Arga meninggi, membuat beberapa pelanggan menoleh. "Selama ini aku yang membiayai kuliahnya, uang rokoknya, bahkan cicilan motornya. Sekarang dia mau foya-foya, aku lagi yang harus menanggung? Kamu pikir aku ini mesin ATM?"

Tiara terkejut. Rendi yang merasa tidak nyaman segera menarik lengan kakaknya dan berbisik, lalu dengan senyum palsu berkata, "Sudah, Kak, jangan ribut. Biar aku yang bayar pakai uang tabunganku dulu."

Rendi akhirnya membayar, meski wajahnya terlihat sangat masam.

Setelah keluar dari restoran, Tiara kembali menyerang. "Ngomong-ngomong, Arga, soal rencana pernikahan kita bulan depan..."

"Kamu mau minta tambahan mahar seratus juta karena adikmu terjerat utang judi bola, kan?" potong Arga telak.

Wajah Tiara seketika pucat pasi. "Bagaimana... bagaimana kamu tahu?"

"Aku tahu lebih banyak dari yang kamu bayangkan," ujar Arga dingin. "Rendi kalah judi dan sekarang dikejar-kejar penagih utang. Dan kamu ingin orang tuaku menjual sawah satu-satunya di desa untuk menutupi kebodohan adikmu?"

"Dia adikku satu-satunya, Arga! Kalau kita menikah, masalah dia adalah masalahmu juga!" Tiara masih mencoba membela diri dengan egoisnya.

"Masalahku?" Arga tertawa getir. "Ayahku cacat karena kecelakaan kerja demi mengumpulkan uang pernikahan ini! Itu uang untuk pengobatannya, Tiara! Dan kamu ingin aku memberikan uang itu pada pecundang seperti adikmu?"

Tiara mencibir, "Ah, ayahmu kan bisa berobat pakai asuransi nanti kalau aku sudah jadi istrimu. Lagipula dia kan cuma orang desa, kuatlah!"

Mendengar itu, darah Arga mendidih. Ia teringat bagaimana di kehidupan lalu, Tiara mengusir ayahnya yang datang membawa oleh-oleh dari desa karena dianggap "mengotori" lantai keramik rumah mereka. Ayahnya harus berjalan kaki berkilo-kilometer di bawah hujan deras karena tidak diberi uang ongkos pulang oleh Tiara.

"Cukup!" bentak Arga.

"Arga! Jawab saja, kamu mau bayar seratus juta itu atau tidak? Kalau tidak, kita putus! Aku bisa cari pria lain yang lebih kaya!" tantang Tiara.

Arga menatap Tiara dengan tatapan paling dingin yang pernah ia miliki. Di masa lalu, ancaman ini selalu membuatnya berlutut. Tapi sekarang?

"Bahkan jika aku punya uang seratus miliar, aku tidak akan memberikan sepeser pun untuk keluarga parasit seperti kalian."

Arga berbalik badan, langkahnya mantap.

"Jawabanku cuma satu: Pergi dari hidupku!"

“Kamu… keterlaluan!”

Tiara hampir saja meledak. Namun, menyadari para pengunjung restoran mulai berbisik dan menunjuk-nunjuk ke arahnya, ia terpaksa menelan amarahnya bulat-bulat.

“Arga, lihat saja nanti! Kalau aku tidak bisa memberimu pelajaran, pasti ada orang lain yang bisa!”

Bab 2

Setelah mengucapkan ancaman itu, Tiara menarik adiknya, Rendi, lalu melenggang pergi dengan wajah merah padam.

Dalam perjalanan pulang menggunakan angkot yang pengap, Arga menerima panggilan di ponsel Nokia-nya. Layar monokrom itu menampilkan satu nama: Ibu.

“Halo, Bu.”

Suara Ibu Arga terdengar bergetar di seberang sana. Ada suara bising kendaraan dan deru mesin; sepertinya beliau menelepon dari wartel (warung telekomunikasi) di dekat pasar.

“Ga... bagaimana persiapan nikahnya? Calon mertuamu tidak minta yang aneh-aneh lagi, kan?”

Ibu Arga pernah bertemu keluarga Tiara dan tahu betul mereka bukan orang sembarangan dalam urusan menuntut. Namun demi kebahagiaan putra tunggalnya, pasangan tua di desa itu selalu memilih mengalah dan menelan harga diri.

Mendengar suara ibunya, Arga tersenyum tulus.

“Bu, Arga punya dua kabar buat Ibu. Ada kabar besar, ada kabar kecil. Ibu mau dengar yang mana dulu?”

Ibu Arga tertawa kecil. “Kabar kecil dulu saja, baru yang besar.”

Arga terkekeh ringan.

“Bu, Arga menang undian bank. Orang yang di berita TV kemarin—yang pakai kostum badut dan menang hadiah 10 miliar—itu Arga, Bu! Keluarga kita sekarang kaya. Arga akan langsung kirim 100 juta ke rekening Ibu buat biaya operasi kaki Bapak. Ibu tidak usah jualan jamu lagi. Istirahat saja di rumah, rawat Bapak. Kalau butuh apa-apa, tinggal bilang Arga.”

Ibu Arga terdiam lama sekali. Terdengar napasnya yang memburu di telepon.

“Le... kamu... kamu tidak sedang membohongi Ibu, kan, Nak?”

“Bu, mana berani Arga bohong soal uang, apalagi sama Ibu?”

Pertahanan Ibu Arga runtuh. Isak tangis haru terdengar jelas dari seberang kabel telepon.

“Alhamdulillah... Gusti Allah... anakku... akhirnya kamu sukses... Ibu... Ibu senang sekali...”

Penantian dan kerja keras bertahun-tahun seolah terbayar lunas. Beban berat yang selama ini menghimpit pundak wanita tua itu luruh seketika.

Arga berkata lembut, “Bu, Arga janji, mulai hari ini Ibu dan Bapak akan hidup mulia bersama Arga.”

Setelah suasana sedikit tenang, ibunya teringat sesuatu. “Lalu... kabar baik yang satunya lagi apa, Ga?”

Arga tidak menutupi apa pun.

“Bu, keluarga Tiara sudah kelewatan. Mereka bahkan mengincar uang santunan kecelakaan Bapak yang 200 juta itu cuma buat bayar utang judi si Rendi. Arga tolak, dan sekarang kami sudah putus.”

Ibu Arga terdiam sejenak. Di tahun 2000, membatalkan rencana pernikahan yang sudah dekat adalah aib besar di kampung.

“Ini... apa tidak apa-apa, Ga?”

“Bu, ini justru berkah!” nada Arga tegas. “Sikap Tiara ke Ibu dan Bapak sama sekali tidak ada sopannya. Sudah lama Arga ingin menyudahi ini. Jangan khawatir, Bu. Syarat utama Arga cari istri nanti cuma satu: dia harus sayang dan bakti sama orang tua Arga. Maafkan Arga ya, Bu, kalau selama ini sudah buat Ibu kepikiran.”

Suara Arga sedikit tercekat. Ia benar-benar merasa berdosa karena di kehidupan sebelumnya ia membiarkan wanita seperti Tiara menginjak-injak orang tuanya.

“Ya sudah, kalau itu maumu, Ibu dukung. Ibu percaya kamu pasti dapat yang jauh lebih baik,” pungkas ibunya lembut.

“Satu lagi, Bu. Tolong jangan ceritakan soal undian ini ke siapa pun dulu ya,” pesan Arga sebelum menutup telepon.

Tak lama setelah Arga sampai di rumah kontrakannya yang sempit, terdengar gedoran keras di pintu kayu. Begitu dibuka, Arga mendapati "pasukan lengkap": Tiara, Rendi, ibunya—Bu Lastri, dan ayahnya—Pak Bambang.

Bu Lastri langsung menunjuk hidung Arga dengan telunjuk yang gemetar karena emosi. Suaranya melengking bak pedagang di pasar loak.

“Arga! Mana hati nuranimu?! Undangan sudah dicetak! Kerabat di kampung sudah tahu semua! Sekarang kamu mau putus begitu saja? Kamu pikir anak saya barang pajangan?!”

Di masa lalu, Bu Lastri adalah sosok yang paling ditakuti Arga. Wanita ini sangat lihai bersilat lidah dan intimidatif. Namun hari ini, Arga berdiri tegak dengan tatapan dingin.

“Bu Lastri, tolong ingat baik-baik. Putri Ibu sendiri yang bilang, kalau saya tidak bisa setor 250 juta, lebih baik putus. Saya cuma mengabulkan permintaannya.”

“Halah! Jangan belagu!” Bu Lastri mencibir. “Saya tahu ibumu punya simpanan, dan bapakmu baru dapat uang ganti rugi proyek 200 juta, kan? Kalau kamu kasih 250 juta, kalian kan masih punya sisa!”

Arga tertawa getir. “Itu uang nyawa Bapak saya! Beliau patah kaki di proyek itu! Kalau uang itu saya kasih ke kalian, Bapak saya mau makan pakai apa di hari tua? Pakai batu?”

Rendi menyela sambil bersandar di kusen pintu dengan gaya sok jagoan, “Kan masih ada ibumu? Dia masih kuat gendong bakul jamu. Biarkan saja dia yang urus bapakmu.”

“Betul!” timpal Bu Lastri. “Ibumu itu kan orang desa, sudah biasa kerja kasar. Kalau tidak kerja malah sakit badan nanti!”

Rahang Arga mengeras. “Cuma satu kata buat kalian: Keluar!”

“Arga! Tega-teganya kamu!” Tiara mulai drama, air matanya tumpah. “Aku sudah kasih masa mudaku buat kamu! Apa itu tidak ada harganya dibanding uang 250 juta? Rendi itu adikku satu-satunya, Arga! Masa kamu tidak mau bantu?”

Dulu, Arga pasti akan langsung memeluknya dan minta maaf. Tapi sekarang, ia muak. Sampai detik ini, Tiara tetap merasa dirinya korban dan menganggap menjadi "pemuja adik" adalah hal yang benar.

“Aku egois? Pernahkah kamu pikirkan Bapakku yang hampir mati di rumah sakit? Di matamu, adikmu itu raja, aku ini cuma pelayan. Kalau begitu, kenapa tidak kamu saja yang menikah dengan adikmu? Biar awet hartanya!”

“Kurang ajar!” Rendi murka dan mencoba menerjang Arga.

“Hah, mau main otot?” Arga tertawa.

Tinggi Arga 180 cm dan badannya tegap karena sering olahraga. Sementara Rendi hanyalah pemuda pemalas yang cuma tahu main PS dan judi bola.

PLAK!

DUG!

Satu tamparan dan satu tendangan di perut membuat Rendi terjungkal ke lantai sambil memegang perutnya.

Bu Lastri histeris. “Kamu berani pukul anak saya?! Bayar! Kalau tidak kasih uangnya sekarang, kami lapor polisi karena penganiayaan!”

“Silakan,” tantang Arga. “Kalian masuk rumah orang tanpa izin dan melakukan pemerasan. Mari kita lihat siapa yang akan masuk sel duluan.”

Tiba-tiba Pak Bambang, yang sejak tadi diam, menarik Arga ke sudut ruangan dengan wajah dibuat ramah.

“Nak Arga, jangan emosi. Kami tidak benar-benar minta uang itu kok. Kami cuma mau lihat keseriusanmu.”

“Begini saja, kasih 250 juta sebagai mahar, nanti 50 jutanya kami balikan sebagai seserahan. Anggap saja modal kalian berumah tangga. Kamu untung, kan? Dapat istri cantik, dapat modal juga.”

Bab 3

Arga menatap pria itu. Jika ia tidak tahu bahwa Pak Bambang adalah penjudi berat yang nantinya akan menjual rumah Arga di masa depan, ia mungkin akan tertipu wajah teduhnya.

“250 juta buat mahar?”

“Iya, betul.”

“Dikasih ke Bapak dulu?”

“Iya, dong.”

“Lalu Bapak pakai buat main judi di kasino?”

“Iya, be—hah?!” Pak Bambang tersedak ludahnya sendiri.

“Cukup!” Arga menarik napas dalam. “Taktik kalian sudah basi. Mau main kasar atau main halus, tujuannya cuma satu: merampok uang Bapak saya demi menutupi utang si pecundang ini.”

Ia menunjuk pintu. “Pergi sekarang, atau saya panggil warga dan polisi!”

Pintu ditutup dengan bantingan keras tepat di depan hidung mereka.

Di luar, keluarga Tiara gemetar karena geram.

“Bu, kenapa si Arga jadi berani begitu?” Tiara bertanya dengan nada panik.

Bu Lastri menatap pintu kontrakan itu dengan tatapan tajam. “Sudahlah! Tiara, kamu itu cantik. Jangankan 200 juta, satu miliar pun ada yang mau bayar kalau kamu jadi istrinya!”

“Ayo pergi! Kalau nanti Tiara sudah dapat anak pengusaha kaya, kita injak-injak si Arga ini sampai dia memohon di kaki kita!”

Arga hampir tertawa terbahak-bahak saat mendengar percakapan di luar rumah kontrakan itu sebelum ia menutup pintu tadi.

Apakah semua orang kaya memang bodoh? Dengan keluarga "ajaib" seperti itu, keluarga terpandang mana yang sudi menikahi Tiara?

Beberapa hari berikutnya, keluarga itu bersikap cukup tahu diri dan tidak lagi berani mengganggu Arga. Ia pun bisa menikmati hari-hari yang tenang dan nyaman, sesuatu yang sangat langka di kehidupan sebelumnya.

Namun, Arga sama sekali tidak bermalas-malasan. Berdasarkan ingatannya, ia kembali mengikuti beberapa undian produk dan kuis berhadiah. Meski nominal kemenangannya tidak sebesar hadiah utama 10 miliar kemarin, tabungan yang terkumpul secara akumulatif telah bertambah beberapa juta.

“Keuntungan dari undian seperti ini tidak akan bertahan lama. Jika aku terus melakukannya, kemungkinan besar pihak berwenang atau bank akan mulai mencurigaiku,” gumam Arga.

Bukan berarti Arga takut diperiksa, tetapi ia tidak menyukai perasaan terus diawasi saat sedang membangun fondasi kekuatannya. Ia pun merenung dengan saksama. Berdasarkan ingatannya, ia tahu bahwa sebentar lagi akan terjadi sebuah peristiwa besar di kota ini—sebuah kejadian yang akan mengguncang dunia kolektor barang antik di seluruh negeri!

Dalam kehidupan sebelumnya, Arga ingat betul berita itu: pemilik toko barang antik Jati Lawas di Jalan Pemuda pernah membeli sebuah mangkuk tanah liat kusam dari zaman Kerajaan Majapahit dengan harga tinggi. Saat itu, semua orang menertawakan pemilik toko karena dianggap telah "salah taksir" dan membeli barang rongsokan.

Namun siapa sangka, mangkuk tersebut kemudian diidentifikasi sebagai Genthong Penglaris milik saudagar legendaris masa lalu yang berlapis material langka di balik tanah liatnya. Harga pasarnya ditaksir para ahli mencapai 8 miliar! Pemilik toko Jati Lawas bahkan mengadakan syukuran besar selama tujuh hari tujuh malam dan menyalakan kembang api senilai lebih dari 100 juta untuk merayakannya.

Dalam ingatannya, hari ini adalah hari ketika pemilik toko itu membeli harta karun tersebut!

Bagaimana mungkin Arga membiarkan kesempatan emas ini jatuh ke tangan orang lain?

Pagi-pagi sekali, Arga bahkan tidak sempat sarapan. Ia langsung menarik uang tunai sebesar 3 juta dari bank—jumlah yang sangat besar untuk dibawa dalam tas ransel di tahun 2000. Setelah itu, ia naik taksi menuju Jalan Pemuda dan langsung menuju toko Jati Lawas.

Begitu Arga melangkah masuk, ia justru melihat beberapa wajah yang sangat dikenalnya.

“Tante, liontin giok ini kualitas super. Saya datangkan langsung dari luar. Harga pasaran terendahnya saja 1 juta,” ujar seorang pria perlahan.

“Wah, Nak Yuda, saya cuma mengajak Tiara main ke tokomu. Kenapa malah dikasih hadiah mahal begini?” kata Bu Lastri sambil tersenyum lebar, tangannya tak henti-henti mengelus liontin itu.

Semakin lama ia memandang Yuda Perdana, semakin puas hatinya. Mampu membuka toko barang antik sebesar ini di usia awal 30-an, serta begitu royal—pria itu jelas ribuan kali lebih unggul dibanding Arga yang ia anggap miskin!

“Tiara, kemari. Lihat ini. Kalung giok ini untukmu.”

Sambil berkata demikian, Yuda sendiri yang memasangkan kalung itu ke leher Tiara. Di matanya tampak kilatan keserakahan dan keangkuhan. Padahal, Arga tahu betul itu hanyalah sisa bahan giok kualitas rendah yang harga belinya tak lebih dari puluhan ribu.

“Kak Yuda, terima kasih banyak ya,” ucap Tiara dengan wajah berseri-seri.

“Haha, tidak perlu sungkan. Asal kamu dan Mama senang, itu sudah cukup,” jawab Yuda sambil tertawa.

“Ah, andai saja Tiara ketemu kamu lebih awal! Tidak perlu dia menderita sama si Arga itu!” Bu Lastri menghela napas penuh drama.

Pada saat itulah Arga melangkah masuk. Begitu melihat Arga, raut wajah Tiara langsung berubah jijik.

“Kenapa kamu, si miskin, datang ke sini?” katanya ketus. “Arga, dengar ya. Sekalipun sekarang kamu bawa uang 250 juta itu, aku tidak akan mau balik sama kamu!”

Sambil berbicara, ia dengan bangga menggandeng lengan Yuda. “Kenalin, ini pacar baruku—pemilik toko Jati Lawas!”

Bu Lastri mencibir dan menunjuk perhiasan di dada Tiara. “Lihat itu! Nak Yuda baru kenal Tiara dua hari saja sudah kasih hadiah giok 1 juta. Kamu? Bertahun-tahun sama Tiara, boro-boro kasih hadiah, yang ada malah numpang makan!”

Rendi yang ikut di belakang menambah ejekan, “Kita sama-sama laki-laki, tapi kok nasibnya beda jauh ya? Yang satu bos, yang satu gelandangan.”

Yuda menikmati pujian itu dan melirik Arga dengan remeh. Dengan nada tenang yang dibuat-buat, ia berkata, “Bukannya laki-laki cari uang memang untuk memanjakan wanitanya? Kalau wanitaku tidak bisa foya-foya, berarti aku gagal cari uang.”

Tiara menatap Yuda penuh kagum. “Kak Yuda benar-benar hebat! Tidak pelit seperti orang itu. Memang pantasnya dia jomblo seumur hidup!”

Menghadapi hinaan itu, Arga hanya menjawab datar, “Aku ke sini bukan cari kamu.”

“Halah, alasan!” Tiara mencibir. “Kamu ke sini mau beli barang? Barang di sini harganya ratusan ribu sampai jutaan. Dompetmu saja mungkin isinya cuma struk tagihan.”

Tepat saat itu, seorang pria paruh baya berpakaian seperti kuli panggul masuk ke toko dengan langkah ragu.

“Bos... apakah di sini terima barang antik?” tanya pria itu hati-hati.

“Terima! Mau jual apa?” Yuda segera menyambutnya. Arga diabaikan begitu saja.

Pria itu mengeluarkan bungkusan kain kumal dari balik bajunya, meletakkannya di atas meja kaca, lalu membukanya perlahan. Sebuah mangkuk kecil dengan segel tanah liat kusam, sebesar telapak tangan, muncul di hadapan mereka.

Ini dia... harta karun itu!

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!