Semua petaka ini bermula dari sebuah cinta yang dianggap nista; pernikahan antara Yan Lie dari Klan Api dan Xue Qinghan dari Klan Es.
Dua klan besar ini telah memupuk dendam kesumat selama berabad-abad, mengalirkan darah di setiap generasi.
Pernikahan mereka dianggap tabu, sebuah pengkhianatan keji yang tak termaafkan terhadap leluhur.
Akibatnya, mereka berdua didera hukuman berat: diasingkan selamanya ke wilayah perbatasan yang tandus dan ingatan mereka tentang teknik beladiri utama klan dihapus paksa.
Hanya ada satu cara jika mereka ingin kembali dan memulihkan nama baik: mereka harus bercerai dan saling melupakan.
Namun, cinta mereka terbukti lebih kokoh dari baja. Mereka memilih bertahan, hidup dalam kemelaratan di sebuah kediaman terpencil yang reyot.
Dengan cucuran keringat dan air mata, mereka membangun kehidupan dari nol, perlahan-lahan merangkak naik hingga diakui sebagai keluarga cabang, meski tetap dipandang sebelah mata sebagai "keluarga terbuang".
Bertahun-tahun berlalu dalam damai yang rapuh, hingga lahirlah seorang putra yang mereka namai Yan Bingchen.
Kegembiraan mereka seketika sirna menjadi horor saat menyadari kondisi aneh bayi itu. Yan Bingchen terlahir dengan anomali mengerikan: tubuhnya memancarkan hawa murni dari dua elemen yang saling bertolak belakang, api dan es, yang bertarung tiada henti di dalam dirinya.
Kabar ini bagaikan petir di siang bolong bagi kedua klan utama.
Mengecam keras kelahiran Yan Bingchen, mereka menganggap anak itu sebagai aib yang akan mengotori kemurnian darah klan dan bom waktu yang membahayakan bagi dunia persilatan.
Mereka mendesak, bahkan mengancam, agar Yan Lie dan Xue Qinghan membuang anak haram itu.
Awalnya, kedua orang tua itu bersikukuh melindungi darah daging mereka.
Namun, seiring Yan Bingchen tumbuh dewasa, keraguan mulai menggerogoti hati mereka.
Yan Bingchen bukanlah anak biasa. Ia tidak pernah tertawa, jarang bicara, dan selalu menyendiri, menatap dunia dengan tatapan kosong yang penuh penderitaan.
Suatu hari, takdir malang pun terjadi.
"Hei Yan Bingchen! Apa kau mau ikut main?" ajak seorang anak sebayanya dari keluarga cabang Klan Api, mencoba bersikap ramah.
Yan Bingchen berdiri perlahan. Entah karena rasa senang yang jarang ia rasakan atau karena emosi yang tak stabil, kekuatan di dalam tubuhnya tiba-tiba meluap hebat tanpa kendali.
Hawa panas membara dan dingin yang membekukan meledak bersamaan dari tubuhnya, menghantam anak malang itu hingga terpental jauh dalam keadaan sekarat.
Beruntung, seorang pengawal klan yang sigap langsung melompat dan menyelamatkan anak tersebut tepat sebelum ajalnya tiba.
"M-maafkan aku ... aku tidak bermaksud ..." Yan Bingchen menunduk dalam, tubuhnya gemetar hebat, suaranya parau menahan tangis bersalah.
Namun, penyesalannya sia-sia. Yang ia dapatkan bukanlah simpati, melainkan tatapan waspada, jijik, ketakutan, dan amarah yang meluap-luap dari seluruh anggota klan yang menyaksikan kejadian itu. Bisikan-bisikan keji "Anak Terkutuk" mulai menggema.
Ketika kedua orang tuanya tiba di lokasi dengan napas memburu, hati Yan Bingchen hancur berkeping-keping.
Bukannya memeriksa kondisinya terlebih dahulu, mereka justru langsung berlari menghampiri anak yang terluka, wajah mereka penuh kecemasan dan rasa bersalah kolektif kepada klan.
"I-ibu ... Ayah ... Maafkan aku," bisik Yan Bingchen dengan sisa harapannya.
Yan Lie menatap putranya tajam, tatapan yang penuh frustasi dan keputusasaan mendalam. Ia merasa gagal sebagai ayah.
Berbagai cara telah ia coba untuk membantu Yan Bingchen mengendalikan kekuatannya, namun semuanya berujung kegagalan yang menyakitkan.
Xue Qinghan, sang ibu, teringat peringatan para petinggi klan tentang bahaya anak ini. Rasa takut sempat terlintas di wajahnya, namun naluri keibuannya menang.
Ia menghampiri Yan Bingchen dan memeluk tubuh yang gemetar itu dengan erat.
"Sudah Ibu bilang, jangan pernah mendekat pada orang lain, Nak. Itu berbahaya ... sangat berbahaya," isak ibunya, mencoba menasihati.
Namun, cara penyampaiannya salah telak. Kata-kata itu tidak terdengar seperti nasehat perlindungan, melainkan sebuah vonis bahwa dirinya adalah monster yang membawa petaka.
Kata-kata itu menghujam hati Yan Bingchen layaknya belati dingin yang paling tajam.
Sejak hari itu, isolasi Yan Bingchen menjadi mutlak. Ia tidak pernah lagi berinteraksi dengan siapa pun di luar rumah.
Bahkan hubungannya dengan orang tuanya sendiri pun merenggang, dingin sedingin elemen es di tubuhnya.
Penderitaan Yan Bingchen bertambah saat ibunya mengandung anak kedua. Ia sangat senang dan ingin merasakan tendangan adiknya.
Dengan penuh harap, ia mendekat dan mencoba menyentuh perut ibunya yang membuncit.
"JANGAN SENTUH!" bentak Xue Qinghan tiba-tiba, menepis tangan anaknya dengan kasar, sebelum ekspresi penyesalan instan muncul di wajahnya. "M-maafkan Ibu, Nak. Ibu ... Ibu hanya takut adikmu terluka oleh kekuatanmu."
Mendengar itu, Yan Bingchen hanya bisa melotot, wajahnya muram dan tatapannya kosong. Pintu hatinya seolah tertutup rapat saat itu juga.
Beberapa tahun kemudian, Setelah adiknya lahir, dia seorang anak perempuan cantik bernama Yan Xue.
Namun, kehadiran Yan Xue justru membuat jarak antara Yan Bingchen dan orang tuanya semakin menganga lebar.
Seluruh perhatian dan kasih sayang mereka tercurah pada Yan Xue yang "normal", sementara Yan Bingchen semakin terpinggirkan, dianggap sebagai cacat yang hidup di bayang-bayang keluarga.
"Jangan dekat-dekat dengan dia. Nanti kau bisa terluka," bisik seorang bibi pada anaknya saat Yan Bingchen lewat.
"Seharusnya dia tidak pernah dilahirkan," cibir yang lain tanpa belas kasihan.
Hari demi hari dilalui Yan Bingchen dalam kesepian yang mencekam. Saat usianya menginjak 17 tahun, penderitaan batinnya mulai bermanifestasi pada fisiknya.
Rambut panjangnya yang awalnya merah menyala, perlahan mulai memudar di satu sisi, memunculkan helaian-helaian warna putih kebiruan yang kontras.
Matanya pun berubah, satu merah bara, satu biru es, mencerminkan konflik abadi di dalam dirinya.
Meskipun ia diam-diam giat belajar kultivasi, melatih fisiknya dengan keras, dan mempelajari teknik dasar kedua elemen secara otodidak, kekuatan besar di dalam dirinya terus meluap tak terkendali, dipicu oleh emosinya yang semakin labil.
Puncaknya terjadi ketika ia tidak sengaja mendengar percakapan lirih kedua orang tuanya di suatu malam.
"Sayang, aku sangat khawatir. Jika Bingchen terus seperti ini ... dia benar-benar akan menjadi ancaman bagi semua orang, termasuk Yan Xue," isak Xue Qinghan pelan.
"Ya, aku tahu," jawab Yan Lie dengan nada berat dan putus asa. "Mungkin ... apa sebaiknya kita serahkan saja dia ke para petinggi klan utama untuk diawasi ketat? Setidaknya di sana ada penjara khusus ..."
Walaupun niat orang tuanya mungkin demi kebaikan bersama, bagi Yan Bingchen, itu adalah kalimat pengkhianatan terakhir. Mereka menyerah padanya.
Dengan perasaan sedih yang teramat dalam, bercampur dengan amarah yang membara dan keputusasaan total, Yan Bingchen membuat keputusan.
Di tengah malam yang sunyi, ia melangkah pergi meninggalkan klan, tanpa membawa apa-apa selain dendam dan janji pada dirinya sendiri.
Saat melangkah keluar dari gerbang, di bawah langit malam yang dingin, emosinya meledak hebat. Rasa sakit hati yang menumpuk selama 17 tahun akhirnya meruntuhkan pertahanannya.
Air mata keputusasaan mengalir membasahi wajahnya yang tampan namun penuh luka batin. Dan pada momen kehancuran total itu, kekuatannya benar-benar bangkit sepenuhnya.
Aura api yang membara di sisi kanan dan es yang membeku di sisi kiri meledak dahsyat dari tubuhnya, sejalan dengan perubahan rambut dan matanya yang kini sempurna terbelah dua warna. Ia tidak lagi menahan diri.
"Ibu ... Ayah ... Terima kasih karena setidaknya kalian membiarkanku hidup sampai hari ini. Tapi jika duniaku hanya berisi ketakutan dan penolakan, maka aku akan menciptakan duniaku sendiri."
Sambil menahan tangis dan rasa sakit di tubuhnya, Yan Bingchen menengadah ke langit, bersumpah dalam hati dengan nada penuh duka namun bertenaga:
"Aku tidak akan membiarkan takdir ini menghancurkanku. Aku akan menjadi yang terkuat di antara mereka semua. Aku akan menjadi 'Pendekar Api dan Es' yang sebenarnya, dan suatu hari ... aku sendiri yang akan memaksa dua klan sombong itu untuk bersatu di bawah kakiku!"
Dengan hati yang beku namun tekad yang membara, ia melangkah pergi menerjang kegelapan malam, memulai perjalanannya sebagai seorang pendekar yang dikutuk sekaligus diberkati.
Pelarian itu bukanlah perjalanan mewah di atas kereta kencana. Bagi Yan Bingchen, itu adalah ziarah panjang melintasi kematian.
Selama berbulan-bulan, ia menyusuri jalur tikus, mendaki tebing-tebing curam yang tak terjamah, dan bersembunyi di dalam gua-gua lembap demi menghindari patroli perbatasan dua klan besar.
Benua Binghuo, dengan segala kenangan pahitnya, perlahan memudar di cakrawala, digantikan oleh hamparan vegetasi yang lebih hijau dan udara yang tidak lagi menusuk paru-paru dengan hawa ekstrem.
Ia akhirnya menginjakkan kaki di Benua Tiandi—Tanah Langit dan Bumi.
Penduduk setempat memuja tanah ini sebagai titik temu sempurna antara energi langit yang murni dan kekuatan bumi yang kokoh.
Namun bagi Yan Bingchen, Tiandi hanyalah labirin baru. Benua ini adalah mosaik dari empat kekuatan besar: Kekaisaran Shan, Kerajaan HAI, Federasi LIN, dan Ordo LONG.
Yan Bingchen keluar dari rimbunnya hutan perbatasan dengan waspada. Jubahnya yang dulu megah kini compang-camping, tertutup debu jalanan.
Ia menarik tudung kepalanya, mencoba menyembunyikan kontradiksi warna rambutnya yang semakin mencolok.
Namun, saat ia memasuki gerbang kota terdekat, penyamarannya terasa sia-sia.
Setiap pasang mata tertuju padanya. Bukan hanya karena fitur wajahnya yang tegas dan tampan, tetapi karena aura asing yang terpancar dari matanya yang berbeda warna—satu merah membara bagai kawah gunung berapi, satunya lagi biru jernih layaknya es abadi.
Yan Bingchen mengabaikan tatapan-tatapan itu. Perutnya bergejolak perih. Semua persediaan makanannya telah habis tiga hari yang lalu.
"Aku bahkan tidak punya satu koin tembaga pun," gumamnya pelan, tangannya meraba kantong pakaiannya yang kosong.
Meski fisiknya menarik perhatian, ia tidak lagi merasa terancam. Ia telah belajar menyatukan gejolak apinya dengan ketenangan esnya.
Selama ia tidak meledakkan emosinya, ia hanyalah seorang pengembara eksentrik di mata orang-orang Tiandi.
Langkahnya terhenti saat sebuah keributan pecah di persimpangan jalan di depannya.
"Dasar penipu licin! Kembalikan uangku, keparat!" teriak seorang pria paruh baya dengan wajah merah padam karena amarah.
Seorang pemuda—tampak sebaya dengan Yan Bingchen—berlari melesat melewatinya.
Wajah pemuda itu tidak menunjukkan ketakutan; justru seringai nakal menghiasi bibirnya sembari tangannya erat mendekap sekantong koin yang gemerincing.
"Hahaha! Salah sendiri berjudi denganku, Paman! Anggap saja ini biaya sekolah untuk kepolosanmu!" seru pemuda itu sambil tertawa puas.
Saat pemuda itu hendak melesat melewati Yan Bingchen ...
Whosh!
Dengan gerakan refleks yang sangat presisi, Yan Bingchen mengulurkan tangannya.
Ia mencengkeram kerah belakang baju pemuda itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi seolah ia hanya mengangkat seekor anak kucing.
Si pemuda belum sadar. Kakinya masih bergerak-gerak di udara, mengayun seolah masih berlari kencang.
"Hahaha! Kau tidak akan bisa menangkapku, Paman Tua! Lebih baik relakan saja uang ini untuk masa depanku!" ocehnya tanpa menoleh.
Pria paruh baya yang mengejarnya akhirnya sampai. Ia membungkuk, terengah-engah dengan tangan memegang lutut. "Hah ... haah ... K-kena kau ... dasar kutu busuk!"
"Kena?" Si pemuda berhenti mengayunkan kaki. Ia menoleh ke atas, menyadari kerah bajunya tertahan oleh kekuatan yang tak tergoyahkan. Matanya bertemu dengan tatapan dingin dan tenang milik Yan Bingchen.
"S-siapa kau?! Lepaskan aku, Woi! Ini urusan pribadi!" protes si pemuda sambil meronta.
Tanpa ekspresi, Yan Bingchen melepaskan cengkeramannya, membiarkan pemuda itu jatuh terjerembap ke lantai batu yang keras.
BRUK!
"Aduh! Pantatku!" si pemuda mengaduh, memegangi tulang ekornya yang berdenyut sakit.
Ia hendak memaki, namun pria paruh baya yang ia tipu sudah berdiri di depannya dengan kepalan tangan siap menghajar. "Sekarang, kembalikan uangku, penipu kecil!"
BUGH! BUK!
Dua pukulan mendarat telak di perut dan wajah si pemuda. Pria itu dengan kasar merampas kantong koinnya kembali, lalu meludah ke samping.
"Cuih! Jangan coba-coba menipu lagi atau kuseret kau ke penjara kota! Anak zaman sekarang benar-benar tidak punya sopan santun!"
Pria itu pergi dengan gerutu yang masih terdengar jelas, tanpa menoleh sedikit pun pada orang yang membantunya.
Yan Bingchen memerhatikan punggung pria itu yang menjauh, lalu mendengus sinis. "Cih, dasar orang tua zaman sekarang. Tidak punya tata krama sama sekali. Setidaknya ucapkan terima kasih atau berikan sedikit upah karena aku sudah membantunya."
Ia kemudian berjongkok di samping si pemuda yang masih terkapar memegangi perutnya. Bukannya membantu berdiri, Yan Bingchen justru dengan cekatan menggeledah saku jubah si pemuda.
Ia menemukan sebungkus roti gandum yang masih hangat—mungkin hasil curian sebelumnya.
Tanpa ragu, Yan Bingchen duduk bersandar di dinding bangunan, membuka bungkusnya, dan mulai mengunyah roti itu dengan santai.
Beberapa saat kemudian, si pemuda itu mulai sadar sepenuhnya. Ia memegangi kepalanya yang pening dan meringis kesakitan.
"Ugh ... kepalaku rasanya mau pecah." Saat ia membuka mata, ia melihat Yan Bingchen sedang duduk di sampingnya, menghabiskan sisa rotinya dengan lahap.
Si pemuda segera memeriksa pakaiannya dan membelalak. "Tidaaaakk! Rotiku! Dasar pencuri berdarah dingin! Berani-beraninya kau memakan harta karun terakhirku?!"
Ia mencoba berdiri meski sempoyongan, menunjuk hidung Yan Bingchen dengan gusar. "Bayar! Cepat bayar! Semuanya jadi satu tael emas!"
Yan Bingchen menelan kunyahan terakhirnya, lalu menatap si pemuda dengan datar. "Aku yakin roti ini juga hasil mencuri dari kedai di ujung jalan, kan?"
Ia mengusap sisa remah roti di bibirnya. "Mencuri dari seorang pencuri sekaligus penipu bukanlah sebuah kejahatan—itu adalah redistribusi kekayaan. Lagi pula, harga roti murah begini paling hanya lima koin perunggu. Satu tael emas? Kau benar-benar penipu yang tidak tahu malu."
Setelah menghabiskan remah terakhir dari roti hasil redistribusi tersebut, Yan Bingchen bangkit berdiri.
Ia membersihkan debu dari jubahnya yang lusuh dengan gerakan elegan, seolah-olah ia masih seorang tuan muda di kediaman klan.
Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah pergi menyusuri keramaian pasar, meninggalkan pemuda malang itu di belakang.
Namun, harapannya untuk kembali dalam kesunyian segera sirna.
"Hei! Tunggu dulu, Kakak Berambut Dua!"
Suara cempreng itu menggema, diikuti bunyi langkah kaki yang terburu-buru.
Pemuda penipu tadi—yang kini tampak babak belur dengan memar kebiruan di pipinya—berlari menyusul sambil terengah-engah. Ia tidak menyerah meski baru saja dihajar massa.
Yan Bingchen tidak berhenti. Langkahnya tetap lebar dan tenang. "Jangan mengikutiku. Aku tidak punya uang untuk kau tipu."
"Tipu? Ah, kau terlalu kasar, Kawan! Sebut saja itu 'negosiasi kreatif'!" pemuda itu menyamakan langkahnya, berjalan mundur di depan Yan Bingchen dengan kelincahan yang aneh bagi seseorang yang tidak bisa bela diri. "Namaku Mo Ran. Aku yatim piatu sejak kecil, hidup dari belas kasihan langit dan kebodohan orang-orang yang terlalu kaya. Dan kau ... kau baru saja memakan satu-satunya harapan makanku hari ini!"
Yan Bingchen melirik sekilas. Mo Ran memiliki wajah yang sebenarnya cukup Bagus jika tidak tertutup debu, dengan mata bulat yang selalu bergerak lincah mencari peluang.
"Kau tidak punya energi Qi sedikit pun di tubuhmu," gumam Yan Bingchen dingin. "Berani menipu di kota sebesar ini tanpa kemampuan bela diri adalah cara tercepat untuk menemui ajal."
Mo Ran tertawa lepas, sebuah tawa yang terdengar tulus meski situasinya menyedihkan. "Bela diri? Kultivasi? Ah, itu untuk orang-orang hebat seperti kalian. Aku? Aku punya teknik 'Langkah Seribu Bayangan'—yang sebenarnya hanyalah lari secepat mungkin sambil berteriak minta tolong! Tapi hei, teknik itu menyelamatkanku selama tujuh belas tahun ini, kan?"
Mereka melewati sebuah jembatan batu yang melengkung di atas sungai jernih. Matahari mulai condong ke barat, membiaskan cahaya jingga yang memantul pada rambut unik milik Yan Bingchen.
"Jadi, siapa namamu, Tuan Pendekar yang Dingin tapi Lapar?" tanya Mo Ran sambil mencoba mencuri pandang ke arah pedang tumpul yang tergantung di pinggang Yan Bingchen.
Langkah kaki Yan Bingchen melambat sejenak. Menyebutkan nama lengkapnya terasa seperti memanggil kutukan masa lalu yang ingin ia kubur dalam-dalam. "Panggil saja aku ... Bingchen."
"Hanya Bingchen? Singkat sekali. Baiklah, Kakak Bingchen! Karena kau sudah berhutang nyawa (dan roti) padaku, aku memutuskan untuk menjadi pemandumu di Benua Tiandi ini. Kau terlihat seperti orang asing yang akan tersesat bahkan di jalan lurus," celoteh Mo Ran tanpa henti.
Yan Bingchen mendengus, namun sudut bibirnya hampir terangkat—sebuah reaksi yang sangat jarang terjadi.
Di Benua Binghuo, setiap kali ia mendekat, orang-orang akan lari ketakutan atau menatapnya dengan kebencian.
Namun, pemuda di sampingnya ini, yang tidak memiliki kekuatan apa pun, justru terus menempel padanya seperti lem meski tahu betapa berbahayanya Yan Bingchen.
Ada kehangatan aneh yang mulai menjalar di dada Yan Bingchen, sesuatu yang lebih lembut daripada api dan lebih cair daripada es.
Inikah yang dinamakan teman? Seseorang yang tetap bicara meskipun kau mengabaikannya?
"Aku tidak butuh pemandu," ujar Yan Bingchen, meski ia tidak benar-benar mengusir pemuda itu.
"Oh, kau sangat butuh! Lihat pakaianmu, kau terlihat seperti pendekar hebat yang baru saja kalah perang melawan sekawanan monyet. Kau butuh tempat menginap, pakaian baru, dan yang terpenting ... kau butuh teman bicara agar tidak menjadi gila karena kesepian!" Mo Ran melompat ke atas pagar jembatan, berjalan di atasnya dengan keseimbangan yang luar biasa.
"Kau sangat berisik, Mo Ran."
"Dan kau sangat tampan tapi menyeramkan, Kakak Bingchen! Kita adalah kombinasi yang unik, bukan? Si Tampan yang Mematikan dan Si Miskin yang Menawan!"
"Di puji tampan oleh laki-laki terdengar aneh."
Yan Bingchen menghentikan langkahnya tepat di ujung jembatan. Ia menatap langit Benua Tiandi yang luas.
Perjalanan panjang masih membentang di depannya, penuh dengan ancaman dari klan asalnya dan misteri dari benua asing ini.
Namun, saat ia melirik ke arah Mo Ran yang sedang mencoba melakukan atraksi konyol dengan koin tembaga di jarinya, beban di pundak Yan Bingchen terasa sedikit lebih ringan.
Mungkin, memulai segalanya dari nol di benua ini tidak akan seburuk yang ia bayangkan. Setidaknya, kini ia tidak lagi berjalan sendirian dalam bayang-bayang.
"Cepat turun dari sana sebelum kau jatuh dan membuatku harus menolongmu lagi," ujar Yan Bingchen sambil melanjutkan langkahnya.
"Hehe, siap bos! Tunggu aku!" Mo Ran melompat turun dan mengejar dengan tawa yang memenuhi udara sore itu.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!