Deru gerbong yang menghunjam pagi memecah keheningan sebelum waktunya. Bising kereta api itu tak sekadar menggeram di udara; ia menggetarkan rumah papan reyot yang menjadi satu-satunya tempat Siman bersandar dari kerasnya dunia. Sebuah sensasi menggigil menyertai getaran lantaran kusen jendela tua ikut bergetar seirama dengan detak jantung Siman yang baru saja terbangun.
Asap diesel menyusup lewat celah-celah dinding kayu, meninggalkan residu hitam dan bau menyengat yang terasa akrab. Aroma debu yang tercampur embun pagi menyapu indra penciumannya, memadukan bau arang, sampah, dan sedikit bensin bekas. Selimut lusuh yang membalut tubuh Siman terasa pengap, dan peluh mulai menetes di pelipisnya meski sang mentari belum sepenuhnya bangkit.
Ia menyibak tirai usang yang berfungsi sebagai pembatas antara ruang tidur dan ruang tengah yang tak seberapa. Bapak dan Ibu Siman sudah terlihat bersiap di dapur mungil, dikelilingi perabotan seadanya yang sudah reot. Lampu teplok di tengah ruangan berkelip lemah, memancarkan cahaya kekuningan yang menambah kesan suram pada pagi hari itu.
"Siman sudah bangun, Nak?" Suara ibunya terdengar parau, sarat dengan kelelahan yang tak kunjung padam. Wanita itu masih sibuk menghidupkan kompor dengan sumbu yang berkedip-kedip, berusaha menggoreng tempe untuk sarapan sekaligus dijajakan. Minyak jelantah di wajan sudah terlihat pekat.
Siman mengangguk sembari menuang air dari bak kecil di pojok kamar mandi seadanya, membasuh wajahnya yang sembab. "Sudah, Bu. Suara kereta barusan kencang sekali. Apalagi, tadi aku mimpi naik kereta api yang kencang, takut." Ia memaksakan sebuah senyum kecil, mencoba meringankan beban pikiran ibunya.
Bapak Siman, dengan rambutnya yang mulai memutih dan punggung sedikit membungkuk, menoleh sejenak. "Ah, kereta mah begitu setiap hari, Man. Kamu sudah biasa harusnya. Atau kupingmu belum kotor?" Nada suaranya terdengar datar, penuh dengan kepasrahan pada realita yang tak berdaya diubah.
"Iya, Bu, Pak. Biasa. Hanya... terasa aneh saja pagi ini," balas Siman sambil menggaruk tengkuknya. Ia menarik sebuah bangku kayu yang hampir reyot, duduk di depan meja kecil yang selalu penuh dengan rempah dan sisa-sisa adonan gorengan. Ada gumpalan ambisi yang berputar di dadanya, seperti gulungan benang kusut yang terus berusaha mengurai diri.
"Kamu tuh aneh-aneh saja." Ibu Siman menghela napas panjang, tatapannya menyiratkan beban yang jauh lebih berat dari gorengan yang ia pangku setiap hari. "Yang tidak aneh itu kalau kamu cari uang. Kita hari ini belum tahu mau makan apa siang nanti, Man."
"Ya, Allah, Bu, Siman 'kan juga berusaha. Kemarin aku sudah keliling, tanya-tanya di proyek bangunan, di bengkel juga. Tapi belum ada yang pas." Raut Siman berubah muram. Setiap penolakan adalah tusukan baru pada harga dirinya yang sudah luruh.
Ia memikirkan mimpi semalam, sebuah gambaran kota megah yang disinari lampu-lampu. Di sana, Siman berdiri tegak, mengenakan pakaian rapi, dan bukan lagi orang yang kotor penuh debu. Mungkinkah itu sebuah pertanda? Atau sekadar angan kosong dari pikiran yang terlalu lelah berjuang?
"Ngapain juga mikir yang tinggi-tinggi, Man. Wong kamu lulus SMP saja untung-untungan," ucap Bapak Siman sambil memungut beberapa helai benang kusut di lantai. Tangannya berlumuran arang dan oli, tanda pengabdian seumur hidupnya sebagai kuli serabutan yang kini lebih sering tidak ada kerja.
Siman menunduk, hatinya pedih mendengar kalimat bapaknya yang memang adalah fakta yang menyakitkan. Kata-kata itu lebih tajam daripada bising rel, lebih pengap daripada asap diesel. Ia ingin membalas, menjelaskan, namun tahu tak ada gunanya. Realita hidup mereka tak mempan dibantah dengan ilusi mimpi. Lagipula, bapaknya juga benar. Masa SMP-nya penuh ejekan, tidak ada yang ingin berteman, bahkan saat itu Dina adalah penyebab utama dirinya selalu dijadikan bahan ejekan oleh teman-temannya.
Namun, di dasar hatinya, ia menyimpan kerinduan. Kerinduan untuk sekadar tidak malu disebut nama, untuk bisa menatap orang lain tanpa rasa ciut. Dulu ia ingin sekali punya cita-cita jadi sarjana. Mimpi yang begitu utopis bagi seorang Siman yang terhimpit oleh kemiskinan dan bayangan penggusuran.
"Sudahlah, sana. Bantu ibu goreng tempe." Ibu Siman memotong lamunan Siman dengan suara yang lebih lembut. Wanita itu mengusap puncak kepala Siman, sentuhan yang tak selalu Siman rasakan, yang menandakan perhatian meskipun dengan bahasa yang keras. "Nanti sekalian keliling bawa jualannya. Jangan pulang sebelum habis."
"Iya, Bu." Siman segera mengambil alih wajan dari ibunya, api di kompor gas sederhana yang sering sekali ngadat membuat ibunya sedikit kewalahan. Kehidupan sehari-hari mereka memang adalah pertarungan. Untuk sebungkus nasi, untuk sekeping uang receh, mereka harus bertarung di jalanan yang berdebu.
Usai menuntaskan gorengan, Siman meraih wadah berisi dagangan. Udara pagi terasa semakin berat, digelung oleh polusi kota dan desah keluh kehidupan di permukiman kumuh. Sebuah mobil angkot melintas pelan di jalan tanah di depan rumah mereka, mengepulkan debu yang menyelimuti segala yang ada. Beberapa anak tetangga sudah mulai berlarian, sementara para orang dewasa tampak sudah pasrah menatap hari. Tak ada yang luput dari lingkaran kemiskinan.
"Hati-hati, Nak. Jaga baik-baik itu daganganmu." Ibu Siman berdiri di ambang pintu, matanya mengikuti langkah kaki Siman. Raut wajahnya penuh kecemasan. Mungkin khawatir jualannya tidak laku, atau anaknya ditipu. Apalagi wajah Siman gampang dibohongi. Mungkin ibunya tahu ada trauma itu.
Siman mengangguk tanpa menoleh, rasa pedih di dadanya kini berganti dengan determinasi tipis. Ia akan menjual semua gorengan ini. Lalu apa? Ia tidak tahu. Satu hal yang Siman yakini, takdir tidak akan menguntungkan orang sepertinya.
Ketika ia berbelok di tikungan rel yang memanjang, langkah Siman tiba-tiba terhenti. Sebuah truk besar terparkir tak jauh dari rumahnya, dikelilingi oleh beberapa pria berseragam berwarna abu-abu yang mirip petugas PJKA yang pernah berkeliling beberapa waktu lalu. Tangan mereka memegang alat ukur, mata mereka menelusuri setiap petak tanah di dekat rel. Seorang dari mereka memegang kertas, berbicara dengan intonasi tinggi yang sarat kekuasaan.
Jantung Siman berdegup kencang, perasaannya tiba-tiba dicekam ketakutan. Mereka, para petugas itu, kembali lagi. Apakah ancaman penggusuran itu sekarang benar-benar akan terealisasi?
Salah satu petugas berambut klimis dan berkacamata hitam tebal itu menatap ke arahnya. Bukan Siman, melainkan arah rel yang terbentang lurus di samping rumahnya, menunjuk sebuah titik. Dengan nada datar yang menusuk ke tulang sumsum, pria itu berseru, "Tandai daerah ini. Besok atau lusa, daerah sini harus segera dibersihkan dari apa pun yang mengganggu pemandangan, apalagi penghuni ilegal seperti mereka."
Kecemasan Siman mendidih dalam dadanya, rasa perih akibat kalimat si petugas melesak masuk ke lubuk hatinya. Suara-suara yang baru saja ia dengar bergaung seperti petir di pagi buta. Ancaman penggusuran. Mereka kembali datang. Keringat dingin membasahi pelipisnya, meski udara masih sejuk, bahkan menusuk kulit. Sekujur tubuhnya terasa kaku, terpaku menatap mobil truk dan para petugas yang bergerak seolah dunia akan berakhir dalam hitungan detik. Benaknya membayangkan puing-puing rumah mereka, impian kecil yang mungkin tak sempat tumbuh, dan air mata ibunya. Sebuah gambaran yang membuatnya ingin berteriak, namun suaranya tak kuasa keluar.
***
Ia mencoba mengenyahkan pikiran itu. Tidak, Siman harus fokus. Gorengan harus habis. Tangannya sigap menata tempe, tahu, dan ubi yang baru saja diangkat dari penggorengan, ke dalam wadah bambu yang sudah ia panggul setiap hari. Asap tipis masih mengepul, aromanya menyusup ke hidungnya, mengingatkannya pada realitas yang tak terhindarkan: perjuangan untuk bertahan hidup. Tapi aroma itu kini terasa lebih pahit. Lebih berat dari beban wadah di pundaknya. Bagaimana ia bisa menjual dagangan dengan hati sekacau ini? Ancaman itu seolah menimpali setiap langkahnya, membuat kakinya terasa berat.
"Man, kamu kok lesu begitu? Tidak boleh lemes. Rezeki sudah nunggu ini!" suara Bapaknya melengking, berusaha menghalau awan murung di wajah Siman. Sang bapak tampak sibuk mengecek sebuah gembok rusak di roda angkot tuanya, tak menyadari kepanikan dalam diri Siman. Atau mungkin bapaknya hanya tidak mau tahu.
"Iya, Pak. Aku cuma... memikirkan jualan." Siman berbohong. Ia menatap wajah bapaknya, lelah, tua, namun masih mencoba bertahan. Siman tidak ingin menambah beban orang tuanya dengan menceritakan apa yang baru saja ia dengar, walau mereka sendiri pasti tahu ancaman ini takkan pernah sirna dari pinggiran rel.
Tanpa banyak kata lagi, Siman pun melangkah, memasuki keramaian pasar tumpah di sudut jalan yang sering ia lalui. Suara klakson, teriakan pedagang, tawar-menawar yang riuh, semua menjadi latar belakang hiruk pikuk hidupnya. Ia menjejakkan kaki di antara kerumunan pembeli yang berebut, berusaha menawarkan dagangannya dengan senyum yang dipaksakan. Aroma ikan asin bercampur buah-buahan busuk. Seperti hidupnya. Sebuah kegetiran kembali terasa.
Ketika tengah menjajakan dagangannya, pandangannya tertumbuk pada segerombolan remaja tanggung yang melintas. Rambut mereka tergerai bebas, pakaian seragam sekolah putih abu-abu itu tampak bersih dan rapi, tidak ada noda debu, apalagi lumuran lumpur bekas jalanan basah seperti di lingkungannya. Tawa mereka renyah, membahas soal sekolah, guru, dan pacar. Siman melihat keceriaan yang dulu juga seharusnya menjadi miliknya.
Namun keceriaan itu tidak pernah hadir di hidupnya, seulas senyum pun tidak pernah menghampiri Siman remaja saat berada di sekolah dulu. Hatinya seperti dicubit. Sekelebat bayangan pahit melintas di benaknya, tiba-tiba menyeretnya mundur, masuk ke lorong ingatan yang selalu berusaha ia kubur dalam-dalam. Masa-masa SMA yang seharusnya ceria, malah berubah menjadi neraka baginya.
Kala itu, koridor sekolah selalu menjadi arena penyiksaan yang Siman rindukan sekaligus hindari. Siman, si anak pinggir rel yang hanya mengandalkan bantuan beasiswa, selalu jadi sasaran empuk untuk olok-olok. Bukan hanya dari teman-teman laki-lakinya, tapi juga dari kelompok gadis populer. Dan dari semua gadis itu, satu nama yang paling berbekas di hatinya. Dina.
Ia mengingat hari itu dengan jelas. Hari di mana mimpi-mimpinya seperti digilas buldoser, hancur berkeping-keping. Pakaian seragamnya memang tak semulus milik teman-teman lainnya. Ada noda minyak bekas menggoreng di sana-sini, kainnya kusam karena dicuci manual. Bahkan tasnya pun sudah bolong, sisa hadiah dari bapaknya saat ia masuk SMP dulu.
Ketika itu, ia tak sengaja menabrak Dina di kantin yang ramai. Buku-buku Dina terjatuh, dan yang lebih fatal, bekal makanan Dina—nasi goreng seafood mahal—ikut terlepas dari tangannya, mendarat di lantai keramik yang baru saja dipel. Sesaat, suasana kantin hening. Siman membeku.
"SIMAN! Ya ampun! Bekal gue!" Dina menjerit, tatapannya menyala marah, disusul bisikan-bisikan riuh dari teman-temannya yang melihat insiden itu.
"Hih, kasihan deh Dina. Padahal itu nasi goreng spesial lho, buat kencan sama pacarnya nanti."
"Ya, gitu deh kalau orang dari kaum tak berpunya, joroknya nular sampai ke sini."
Wajah Siman memerah. Ia ingin meminta maaf, namun kata-kata tertahan di tenggorokannya. Tangannya gemetar saat hendak meraih buku-buku Dina, tetapi sebuah tendangan ringan mengenai tangannya.
"Jangan pegang-pegang! Kotor tahu nggak?" Dina menarik tasnya menjauh, seolah Siman adalah wabah penyakit. Ia beringsut mundur, ekspresi jijik jelas terpancar di wajah cantiknya. "Heh, kamu kira aku mau apa? Kamu nggak level sama aku. Lihat nih, rokmu sudah kotor begitu, dekil! Cocoknya jadi pengamen jalanan daripada sekolah di sini, tahu nggak? Cuma buang-buang kursi dan bau apek!"
Tawa membahana di seluruh penjuru kantin. Siman menunduk, kepalanya terasa dihantam batu. Hinaan Dina menghunjam lebih dalam dari sekadar ucapan. Itu adalah penolakan mutlak atas keberadaannya, status sosialnya, mimpinya. Air mata Siman menggenang di pelupuk mata. Sejak saat itu, setiap sapaan Dina terasa seperti belati yang mengiris. Dina berhasil menguasai dirinya. Membuat dirinya rendah dan semakin tidak berarti.
Bahkan sampai setamat SMA, bayang-bayang Dina masih terus mengikutinya. Siman tak pernah berani mendekati perempuan lain. Bahkan untuk sekadar menaruh hati pun rasanya terlalu muluk. Siapa yang akan mau dengannya? Cowok pinggir rel yang kotor, dekil, bau apek, tidak tahu malu, tidak tahu diri dan miskin pula. Bahkan mimpi untuk menikah pun terasa haram baginya. Cinta adalah kemewahan yang hanya diperuntukkan bagi kaum elit yang seragamnya bersih dan rambutnya harum seperti Dina.
Pikirannya tiba-tiba melayang pada sosok lain, yang menjadi penyeimbang setiap kali dunia meruntuhkan mentalnya. Murni.
Seorang gadis dengan senyum yang selalu hangat, tetangga setia yang tumbuh bersamanya di pinggir rel yang sama. Dia selalu ada, diam-diam memberinya sepotong tahu atau nasihat kecil. Pernah suatu ketika, saat Dina menjahilinya lagi, menumpahkan seember air comberan ke bajunya, Murni lah yang memeluknya erat di tengah cemoohan, tak peduli dengan bau amis dan kotoran. Siman ingin membencinya saat itu, kenapa dia berpihak padaku? Kenapa dia baik padaku? Apa jangan-jangan dia mengejek aku lagi? Tapi senyumnya jujur dan tulus.
Siman tersentak kembali ke dunia nyata saat suara panggilan nyaring membuyarkan lamunannya.
"SIMAN! Ya ampun, aku cariin ke mana-mana, tahunya di sini!"
Murni berdiri di depannya, rambut hitamnya terkepang rapi, terpaan cahaya matahari pagi menyinari wajahnya. Ia tampak sedikit terengah-engah, dengan tangan memegang sebuah plastik berisi bahan makanan. Tatapannya hangat, seperti mentari pagi yang mengusir embun. Murni satu-satunya yang masih melihat "Siman" sebagai seorang manusia yang bermartabat.
"Oh, Murni." Siman tersenyum samar. Jantungnya berdebar, bukan karena suka, tapi karena merasa bersalah ia tak mendengar panggilannya.
"Ngapain senyum-senyum begitu? Kebanyakan mikir uang, ya? Jualannya laris nggak?" Murni memperhatikan bakul gorengan Siman yang mulai menyusut isinya.
"Lumayan. Masih ada sisa sedikit lagi. Ini baru mau muter ke komplek sebelah." Siman menunjuk jalanan kecil di sisi lain pasar. Siman memutar akalnya, kenapa dia sampai mencariku?
"Syukurlah kalau gitu." Murni menarik napas lega. Ia melirik jam tangan lamanya yang ia kenakan. "Eh, kamu jadi 'kan ikut gotong royong di kampung hari ini? Kata Ibu ada banyak acara seru di pos RW. Biar nggak mumet terus di rumah."
***
Pipi Siman terasa panas. Acara lingkungan? Dengan orang-orang? Setelah teringat lagi betapa Dina menghinanya. Siman tidak ingin dilihat lagi oleh warga, apa pun kondisinya. Siman khawatir Dina berada di acara lingkungan tersebut.
"Aku... anu... sepertinya nggak bisa, Murni." Siman menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia benci menolak, apalagi menolak ajakan Murni, satu-satunya sahabatnya.
"Lah, kenapa? Tadi pas subuh Bapak kamu bilang bisa kok," ujar Murni, keningnya berkerut. Senyumnya pudar sedikit, digantikan raut bingung. "Bukannya kemarin kamu semangat, Man? Kan ada banyak anak muda juga di sana."
"Mmm, bukan begitu. Aku harus bantuin Ibu di rumah. Banyak cucian yang harus diurus," bohong Siman, merasakan sakit hati pada diri sendiri atas kebohongan itu.
Murni menatapnya curiga, namun memilih untuk tidak banyak bertanya. "Ya sudah, deh, kalau gitu." Dia menghela napas, lantas mengangkat kantong plastiknya yang berisi kebutuhan pokok keluarganya. "Padahal kata Bu RT ada hadiah menarik buat yang rajin gotong royong, lho. Tapi, kalau kamu nggak bisa ya sudah."
"Bukan rezekiku, Murni," Siman berkata datar. Keberuntungan seperti itu tidak pernah berpihak padanya.
"Dulu memang kamu nggak suka acara kayak gitu, ya. Selalu di rumah saja. Sendirian. Kan sekarang sudah beda, Man." Murni memandangnya lagi, sorot matanya yang hangat kini sedikit diselimuti gurat kekhawatiran yang mendalam.
"Kalau sudah habis dagangannya, nanti pulang ya? Jangan nyari kesibukan lain."
*
Langit mulai bergemuruh ketika rintik hujan pertama menetes di lengan Siman. Senja baru saja menjulurkan bayangnya, namun suasana kota sudah tampak meredup. Ia mempercepat langkah, menyusuri jalanan becek di pinggir rel, menuju rumah reyotnya. Dagangannya memang sudah ludes, tetapi rasa lelah di punggung dan hatinya terasa berlipat ganda, seperti ditimbuni masalah bertumpuk. Bukan cuma masalah perut hari ini, melainkan masalah mentalnya yang kembali tergoncang dengan ancaman penggusuran itu, apalagi dengan tatapan Murni yang dipenuhi kekhawatiran itu.
Ia sampai di depan rumah. Aroma tanah basah dan basingan kereta yang mulai meredup mengisi indra penciumannya. Saat kakinya hampir menginjak ambang pintu rumahnya, sebuah desahan pelan terdengar, disusul suara benda jatuh yang tidak terlalu keras, namun cukup untuk menarik perhatiannya.
Siman menghentikan langkah, memicingkan mata ke arah gundukan sampah yang memang tidak jauh dari teras rumahnya, di antara bayang-bayang pohon asem tua. Sebuah bayangan samar tergeletak di sana, tertutup bayangan senja yang mulai gelap.
"Siapa itu?" seru Siman, rasa lelahnya sesaat terlupakan, terganti oleh keheranan.
Hanya gumaman lemah yang menjawabnya. Siman maju selangkah. Matanya membesar. Seorang nenek tua berjongkok, tangannya menekan lutut. Tampaknya ia baru saja terjatuh. Bajunya basah dan sebagian tubuhnya yang kurus tampak menggigil diterpa angin sore dan rintik hujan.
Siman menghampiri dengan hati-hati. Wajah nenek itu berkerut, dengan rambut putih acak-acakan. Matanya yang gelap, menatap Siman dengan sorot yang entah mengapa, terasa aneh, begitu dalam seolah dapat melihat hingga relung hatinya. Aroma rempah dan tanah basah menguar dari tubuh nenek itu.
"Nenek baik-baik saja?" tanya Siman, membantu nenek itu berdiri dengan perlahan. Tubuhnya ringan dan terasa rapuh dalam dekapannya. Siman membimbingnya menuju teras rumah, menjauh dari basahnya rintik hujan yang kini mulai membesar.
"Saya… Saya cuma terpleset sedikit, Nak," jawab nenek itu, suaranya parau. Namun ada semacam senyuman tipis tersungging di bibirnya. Senyum yang menyiratkan kedamaian. "Kamu anak yang baik, menolong orang tua seperti saya."
"Cuma nolong aja kok, Nek." Siman merasa canggung. Ia menyuruh nenek itu duduk di bangku reyot yang ada di teras. Siman membersihkan bagian pinggir kursi. Lalu duduk sedikit berjarak di sisi nenek itu. Hujan rintik-rintik pun mulai bertamu. "Dari mana, Nek? Hujan-hujan begini malah sendirian."
"Sudah keliling mencari banyak hal, Nak," sahut nenek itu. Matanya menerawang jauh, melewati gumpalan asap kereta yang berhenti sesaat, memandang hamparan permukiman padat di seberang rel. Lalu pandangannya kembali menancap ke wajah Siman.
"Begini, Nak. Saya merasa berutang budi dengan kebaikanmu ini," lanjutnya, tiba-tiba meraih tangan kanan Siman yang terkulai lemas di atas paha. Tangan nenek itu terasa dingin dan berkerut. "Mungkin kamu akan menganggap saya aneh, tapi saya tidak punya uang untuk membalas budimu ini. Hanya benda ini yang bisa saya berikan kepadamu."
Nenek itu membuka kepalan tangannya yang berkerut. Siman mengerutkan dahi. Di telapak tangan yang telah banyak menahan asam garam kehidupan itu, sebuah benda kecil berwarna biru berkilauan. Warnanya seperti biru laut jernih yang memikat mata, dan di dalamnya seolah ada cahaya samar yang menari. Bentuknya lonjong sempurna, dan ketika dipegang, terasa dingin namun dengan denyutan samar, seperti jantung yang berdetak pelan.
"Ini… apa, Nek?" tanya Siman, keningnya berkerut. Ia mengambil benda itu dengan perlahan. Terasa begitu halus, begitu eksotis. Sebuah cincin dengan mata batu yang sangat indah, berbeda dengan akik-akik murahan yang biasa ia lihat dijajakan di pasar.
"Itu akik biru laut, Nak," jawab nenek itu, senyumnya semakin lebar. "Jaga baik-baik benda itu, jangan sampai lepas dari tanganmu. Akik itu tahu pemilik sejatinya, dan dia akan menuntun pemiliknya. Bukan untuk jalan pintas, tapi sebagai penuntun untuk melewati badai dan terowongan takdir. Dia adalah pusaka yang akan membimbingmu pada perjalanan hidupmu, memberikan jawaban yang tak dapat kau temukan sendirian."
Siman membalik-balik cincin akik itu di telapak tangannya. Matanya tertuju pada guratan misterius di permukaan batu yang belum pernah ia lihat. Apa ini cuma batu biasa? Tapi kok rasanya lain? Dari sorot mata Nenek yang dalam itu. Perasaan Siman, seperti biasa, meremehkan benda ini, menganggapnya tidak lebih dari akal-akalan orang tua untuk menutupi tidak adanya uang sebagai rasa balas budi.
"Kalau nggak ada duit nggak apa-apa, Nek. Saya nggak berharap kok," sahut Siman, canggung. "Simpan aja benda ini, Nek. Kayaknya lebih berharga kalau Nenek yang pegang."
"Tidak, Nak. Benda ini bukan untuk disimpan selamanya. Benda ini tahu ke mana dia harus pergi." Nenek itu kembali menatapnya, dengan tatapan yang memaksa Siman memegang akik itu erat-erat. "Kebaikan yang kamu berikan tadi bukan sekadar menolong seorang tua jatuh, Siman. Itu… adalah jejak awal takdir yang memilihmu."
Siman menelan ludah. Bagaimana nenek ini tahu namanya? Ia tidak pernah menyebutkan namanya sejak tadi. Lagi-lagi perasaan tidak nyaman menyergapnya.
"Ah, Nak, tenggorokan saya rasanya kering sekali," potong nenek itu, seolah membaca keraguan di wajah Siman. Ia berdeham perlahan. "Bisakah kamu berikan saya segelas air putih?"
Permintaan itu mengalihkan Siman dari segala keanehan yang baru saja terjadi. "Tentu, Nek! Tunggu sebentar, ya. Akan saya ambilkan."
***
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!