Langit di atas Puncak Ijen tidak pernah benar-benar hitam. Di sana, warna biru elektrik dari api abadi beradu dengan kepekatan kabur belerang yang menyesakkan dada. Di tengah kawah yang mendidih dan angin yang mampu merobek kulit, seorang wanita duduk bersila di atas sebongkah batu lancip.
Ia adalah Serena Arrinra. Sepuluh tahun lalu, ia mendaki gunung ini sebagai seorang putri yang hancur, melarikan diri dari kudeta berdarah yang menewaskan keluarganya. Kini, di usianya yang ke-27, ia bukan lagi gadis rapuh yang menangis di pelukan dayang. Tubuhnya atletis, dibalut pakaian ninja hitam yang menyatu dengan bayangan malam, dengan rambut panjang yang diikat kencang.
"Konsentrasi, Serena. Jangan biarkan petir itu mengendalikanmu. Kamulah yang memerintahnya," sebuah suara parau bergema di balik kabut.
Itu adalah Guru Ki Ageng, petapa tua yang telah melatihnya selama satu dekade.
Serena tidak menjawab. Napasnya teratur, seirama dengan detak jantung bumi di bawahnya. Di telapak tangannya, percikan listrik mulai meloncat-loncat. Bunyinya seperti ribuan lebah yang marah. Cring! Crakk!
"Aku tidak merasakannya sebagai beban lagi, Guru," ucap Serena tenang, matanya masih terpejam. "Aku merasakannya sebagai bagian dari aliran darahku."
"Kalau begitu, buktikan. Lepaskan Jurus Kilat Langit Ketujuh," tantang Ki Ageng.
Serena membuka matanya. Pupil matanya yang semula hitam berubah menjadi perak berkilau. Dalam satu gerakan yang nyaris tak terlihat oleh mata manusia biasa, ia melesat. Tubuhnya berubah menjadi garis cahaya biru.
BOOM!
Sebuah pohon tua yang sudah membatu di pinggir kawah hancur berkeping-keping sebelum suara ledakannya sempat terdengar. Serena sudah berdiri di sisi lain kawah, pedang Raijin miliknya masih tersarung, namun sisa-sisa listrik masih menari di gagangnya.
Ki Ageng berjalan mendekat, terbatuk kecil karena debu belerang. "Kecepatanmu sudah melampaui batas manusia, Serena. Tapi ingat, pedang dan petir hanyalah alat. Yang akan menyelamatkan Kekaisaran Ser bukanlah senjatamu, tapi kebijakan hatimu."
Serena menunduk dalam, menghormati sang guru. "Arrinra memanggilku, Guru. Setiap malam, aku mendengar jeritan rakyat dalam mimpiku. Ibukota yang dulu indah kini pasti telah menjadi sarang tikus-tikus berdasi dan jenderal haus darah."
"Kau benar. Kekaisaran Ser yang luasnya mencapai 2.001.103 Km^2 itu kini sedang sekarat. Luasnya wilayah hanya berarti luasnya penderitaan jika dipimpin oleh tangan yang salah," balas Ki Ageng sambil mengelus jenggot putihnya.
"Apakah aku sudah siap? Sepuluh tahun adalah waktu yang lama untuk belajar bersembunyi," tanya Serena ragu.
Ki Ageng terkekeh, suara tawanya memantul di dinding kawah. "Bersembunyi? Tidak, kau sedang ditempa. Seperti pedang yang harus dibakar dan dipukul ribuan kali sebelum menjadi tajam. Pergilah. Turunlah dari gunung ini. Gunakan ilmu bela dirimu untuk melindungi yang lemah, dan gunakan ilmu petirmu untuk menghanguskan ketidakadilan."
Serena melangkah menuju bibir jurang, memandang ke arah timur di mana Ibukota Arrinra berada, jauh di balik cakrawala.
"Guru, jika aku menjadi pemimpin... apakah aku akan tetap menjadi ninja?"
"Ninja bekerja di balik bayangan agar dunia bisa melihat cahaya, Serena. Jadilah pemimpin yang seperti itu. Jangan haus akan pujian, tapi hauslah akan kesejahteraan rakyatmu."
Serena menarik napas panjang, menghirup aroma belerang untuk terakhir kalinya. "Terima kasih atas segalanya, Guru. Aku berjanji, saat aku kembali ke puncak ini suatu saat nanti, Arrinra tidak akan lagi menangis."
"Satu hal lagi, Serena," potong Ki Ageng. "Hati-hatilah. Di kota itu, musuhmu bukan hanya manusia dengan pedang. Ada kegelapan yang lebih tua, sihir hitam yang lahir dari keserakahan. Dan di tengah semua itu, kau mungkin akan menemukan sesuatu yang tidak pernah aku ajarkan di gunung ini."
"Apa itu, Guru?"
"Cinta yang membumi. Cinta yang akan membuatmu mengerti mengapa kau harus berjuang."
Serena mengernyitkan dahi, tidak terlalu mengerti. Baginya, cinta adalah kelemahan yang sudah ia buang sepuluh tahun lalu. "Aku hanya butuh keadilan, bukan cinta. Pamit, Guru!"
Dengan satu sentakan kaki, Serena melompat dari tebing setinggi ratusan meter. Bukannya jatuh, tubuhnya justru memelesat seperti meteor perak ke arah lembah. Ia berlari di atas pucuk-pucuk pohon dengan kecepatan yang mustahil.
Dalam perjalanannya turun, ia melewati desa-desa kecil di kaki gunung. Di sana, ia mulai melihat kenyataan pahit. Ia melihat para pemungut pajak kerajaan merampas sekarung beras terakhir dari seorang janda tua.
"Tolong, Tuan! Ini untuk cucu saya!" tangis wanita tua itu di depan sebuah gubuk reot.
Prajurit itu tertawa, seragamnya yang berwarna emas kusam tampak kontras dengan kemiskinan di sekitarnya. "Kaisar butuh biaya untuk pesta ulang tahunnya di Arrinra. Beras ini bahkan tidak cukup untuk membayar satu botol anggurnya! Cepat serahkan!"
Prajurit itu mengangkat tangannya, hendak menampar si janda. Namun, sebelum tangannya mendarat, sebuah desingan angin kencang menerjang.
Zrakkk!
Prajurit itu terlempar lima meter ke belakang, dadanya hangus sedikit, pakaiannya robek. Ia gemetar hebat, melihat seorang wanita berpakaian hitam berdiri di depan si janda tua dengan posisi rendah, siap menyerang.
"Si-siapa kau?! Beraninya melawan prajurit resmi Kekaisaran Ser!" teriak prajurit itu sambil mencabut parangnya.
Serena berdiri perlahan. Wajahnya tertutup cadar hitam, hanya matanya yang berkilat perak menatap tajam. "Aku adalah badai yang akan menyapu bersih sampah sepertimu."
"Cih! Hanya ninja bayaran rupanya! Serang dia!" teriak jenderal kecil itu kepada dua anak buahnya.
Kedua prajurit itu merangsek maju. Serena tidak bergerak hingga mereka hanya berjarak satu jengkal. Dengan gerakan bela diri yang lincah, ia menangkap pergelangan tangan lawan pertama, memutarnya hingga bunyi krak terdengar, lalu menggunakan punggung kakinya untuk menghantam rahang lawan kedua.
Semua terjadi dalam hitungan detik.
"Kembalikan beras itu," ucap Serena dingin. Suaranya rendah namun mengandung getaran listrik yang membuat bulu kuduk berdiri.
Prajurit yang tersisa ketakutan setengah mati. Ia melemparkan karung beras itu dan lari tunggang langgang menuju kuda mereka. "Kau akan menyesal! Arrinra akan mengirim pasukan untuk memburumu!"
Serena mengabaikan ancaman itu. Ia membantu wanita tua itu berdiri. "Ambil ini, Kek. Simpanlah di dalam tanah, jangan biarkan mereka melihatnya lagi."
"Terima kasih, pendekar... Siapa namamu?" tanya janda itu dengan suara gemetar.
Serena menatap ke arah Ibukota Arrinra yang mulai terlihat di kejauhan, menara-menara istananya mencuat seperti taring serigala di ufuk barat.
"Namaku tidak penting sekarang, Nek. Tapi sebentar lagi, seluruh kekaisaran akan tahu bahwa Arrinra telah kembali ke tangan yang sah."
Dengan kecepatan kilat, Serena menghilang dari pandangan, meninggalkan debu yang beterbangan. Hatinya membara. Kekaisaran seluas dua juta kilometer persegi ini telah menjadi neraka bagi rakyatnya sendiri. Peta politik telah berubah, pengkhianatan ada di mana-mana, dan ia tahu, masuk ke Ibukota Arrinra sama saja dengan masuk ke mulut singa.
Namun, ia adalah Serena Arrinra. Ia adalah petir yang tertunda. Dan malam ini, badai itu benar-benar akan dimulai.
Lembah di bawah Gunung Ijen masih menyisakan kabut pagi saat Serena Arrinra memacu kecepatannya. Namun, semakin ia menjauh dari kesunyian gunung, udara yang ia hirup tidak lagi terasa segar. Bau belerang berganti dengan bau kemiskinan: campuran debu jalanan yang kering, got yang tersumbat, dan keputusasaan yang menguap dari desa-desa di pinggiran.
Kekaisaran Ser mencakup wilayah seluas 2.001.103 Km^2, sebuah daratan yang seharusnya melimpah dengan hasil bumi dan tambang. Namun, sepanjang perjalanannya menuju Ibukota Arrinra, mata Serena hanya menangkap pemandangan yang menyayat hati.
Ia berhenti di sebuah kedai kopi reot di pinggiran tembok besar ibukota. Serena mengenakan jubah lusuh berwarna cokelat tanah untuk menutupi pakaian ninjanya. Wajahnya tersembunyi di balik caping lebar.
"Satu gelas air putih dan sepotong singkong," ujar Serena pelan kepada pemilik kedai, seorang pria tua yang matanya tampak keruh.
"Hanya itu, Nak? Kamu terlihat lelah setelah perjalanan jauh," tanya pria tua itu sambil menyodorkan gelas plastik kusam.
"Hanya itu yang sanggup kubayar tanpa menarik perhatian, Kek," jawab Serena, matanya mengawasi dua prajurit kerajaan yang sedang memalak pedagang sayur di seberang jalan. "Kenapa kota ini terlihat begitu... mati?"
Pria tua itu menghela napas panjang, ia duduk di bangku kayu yang reyot di samping Serena. "Kamu pasti baru kembali dari tanah seberang. Arrinra bukan lagi jantung kekaisaran. Ini adalah perut yang lapar. Sejak keluarga Arrinra dibantai sepuluh tahun lalu, para menteri dan Jenderal Karsa membagi-bagi tanah ini seperti potongan daging."
"Jenderal Karsa?" Serena mengulang nama itu. Ia ingat pria itu. Dulu, Karsa adalah tangan kanan ayahnya yang paling dipercaya.
"Benar. Dia menyebut dirinya Wali Kekaisaran, tapi kerjanya hanya berpesta di atas penderitaan rakyat. Lihat jembatan di sana?" Pria tua itu menunjuk konstruksi mangkrak di kejauhan. "Pajak dipungut setiap bulan untuk membangun itu, tapi uangnya habis untuk membeli selir dan emas bagi para menteri. Rakyat yang tidak sanggup bayar? Mereka dijadikan kuli paksa atau dijebloskan ke penjara bawah tanah."
Tiba-tiba, suara bentakan keras memecah percakapan mereka.
"Heh! Tua bangka! Mana setoran mingguanmu?" seorang prajurit bertubuh gempal menggebrak meja kedai. Gelas Serena terguling, airnya membasahi meja.
Serena tetap diam, kepalanya tetap tertunduk, namun jemarinya mulai merasakan getaran statis di bawah meja.
"Ampun, Tuan. Hari ini belum ada pembeli yang datang kecuali gadis ini," jawab pemilik kedai dengan suara gemetar.
"Aku tidak peduli! Jenderal Karsa butuh tambahan dana untuk perayaan malam ini. Kalau tidak ada uang, serahkan kedai ini atau kami bakar!" prajurit itu mencabut sebilah belati dan menancapkannya ke meja kayu, tepat di samping tangan Serena.
"Tuan, tolong jangan..."
Prajurit itu tertawa kasar, menoleh ke arah Serena. "Dan kau, gadis kecil. Kenapa wajahmu disembunyikan? Jangan-jangan kau buronan?"
Tangan kasar prajurit itu meraih caping Serena. Namun, sebelum jemarinya menyentuh anyaman bambu itu, sebuah kilatan biru pucat muncul sekejap mata.
BZZZT!
Prajurit itu terpental ke belakang seolah dipukul oleh palu raksasa yang tak terlihat. Ia mengerang, memegangi tangannya yang kini mati rasa dan menghitam.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak rekannya, mencabut pedang.
Serena berdiri perlahan. Capingnya terlepas, memperlihatkan mata perak yang berkilat tajam. "Aku hanya sedang memberi pelajaran tentang tata krama."
"Penyihir! Dia menggunakan ilmu hitam! Tangkap dia!"
Kedua prajurit itu merangsek maju. Serena tidak mencabut pedangnya. Ia hanya bergerak selangkah, namun bagi mata mereka, Serena seolah-olah menghilang dan muncul kembali di belakang mereka. Dengan dua pukulan cepat ke tengkuk, kedua prajurit itu roboh tanpa sempat berteriak.
Pria tua pemilik kedai melongo. "Nak... siapa kau sebenarnya? Kau punya ilmu yang hanya dimiliki oleh keluarga kerajaan..."
Serena menatap pria tua itu dengan tatapan sedih. "Simpan uang ini, Kek. Dan pergilah dari sini untuk beberapa hari. Malam ini, Ibukota Arrinra akan berdarah."
Ia memberikan sekeping koin emas murni dengan lambang bunga teratai—lambang asli keluarga Arrinra yang sudah dilarang selama satu dekade. Tanpa menunggu jawaban, Serena melesat pergi, menghilang di balik kerumunan kumuh menuju gerbang utama ibukota.
Masuk ke Jantung Kegelapan
Ibukota Arrinra adalah labirin kontras yang memuakkan. Di distrik luar, rakyat tidur di atas tumpukan sampah, sementara di distrik pusat, lampu-lampu kristal menyinari jalanan marmer yang hanya boleh dilewati oleh kaum bangsawan.
Serena bergerak di atas atap-atap gedung. Ia melihat istana ayahnya dari ketinggian. Di sana, di balkon utama, berdiri seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan jubah bermotif harimau emas. Jenderal Karsa.
"Lihatlah kemegahan ini, Menteri Ganda," suara Karsa terdengar sombong, terbawa angin malam menuju telinga tajam Serena.
"Benar, Jenderal," sahut seorang pria kurus dengan janggut kambing. "Rakyat mulai berbisik tentang kelaparan, tapi siapa yang peduli? Selama militer di tangan kita, suara mereka hanyalah desiran angin."
"Aku mendengar desas-desus bahwa sisa-sisa pengikut Arrinra sedang mengumpulkan kekuatan di perbatasan," ujar Karsa sambil meneguk anggur dari cawan emas.
Menteri Ganda tertawa kecil. "Biarkan saja. Mereka hanyalah tikus-tikus tua. Tanpa pemimpin, mereka tidak ada gunanya. Putri Serena sudah mati dimakan binatang buas di Gunung Ijen sepuluh tahun lalu. Tidak ada lagi yang bisa mengklaim takhta ini."
Serena yang mendengarkan dari balik bayangan menara lonceng mengepalkan tinjunya. Mati? pikirnya. Aku lebih hidup dari kalian semua.
Namun, keadaan di Arrinra lebih buruk dari yang ia bayangkan. Saat ia menyusuri lorong-lorong gelap kota menuju kuil tua tempat ia dulu sering bermain, ia menemukan sesuatu yang membuatnya merinding.
Di sebuah gang buntu, ia melihat sekumpulan orang berpakaian hitam sedang melakukan ritual. Di tengah mereka, terdapat sesajen berupa daging mentah dan simbol-simbol aneh yang digambar dengan darah.
"Wahai roh-roh kegelapan, jagalah kekuasaan kami. Berikan kami kekuatan untuk membungkam mereka yang berontak," gumam seorang dukun istana yang dikenal sebagai Penasihat Mistis Jenderal Karsa.
Serena merasakan hawa dingin yang bukan berasal dari angin malam. Ini adalah Ilmu Hitam Banaspati. Rupanya, para penguasa korup ini tidak hanya menggunakan senjata untuk menindas rakyat, tapi juga bersekutu dengan kekuatan gaib untuk menjaga stabilitas kekuasaan mereka yang busuk.
"Horor ini harus berakhir," bisik Serena pada dirinya sendiri.
Ia turun dari atap, mendarat tanpa suara tepat di tengah lingkaran ritual tersebut. Para pemuja itu tersentak.
"Siapa kau?!" teriak si dukun, matanya melotot.
"Aku adalah jawaban dari doa-doa orang yang kalian korbankan," sahut Serena. Ia mencabut pedang Raijin dari punggungnya. Bilah pedang itu tidak mengkilap seperti cermin, melainkan berwarna biru tua transparan yang di dalamnya mengalir arus listrik konstan.
"Bunuh dia! Dia mengganggu persembahan!"
Para pengawal dukun itu merangsek maju. Mereka bukan prajurit biasa; gerakan mereka kaku seperti mayat hidup, hasil dari manipulasi ilmu hitam.
Serena menarik napas dalam. Jurus Petir Langit: Lingkaran Guntur.
Ia memutar tubuhnya. Pedang Raijin menebas udara, melepaskan gelombang kejut listrik yang menghantam semua orang di lingkaran itu. BOOM! Ledakan cahaya putih menerangi gang gelap itu sesaat. Saat cahaya meredup, para pengawal itu terkapar dengan asap keluar dari mulut mereka.
Dukun itu gemetar, mencoba merapalkan mantra kutukan. "Kau... kau tidak mungkin manusia biasa... Kekuatan itu..."
"Kekuatan ini adalah murni dari alam, bukan dari darah dan nyawa manusia seperti yang kau lakukan," Serena mendekat, ujung pedangnya berada tepat di tenggorokan sang dukun. "Katakan padaku, berapa banyak menteri yang terlibat dalam ritual ini?"
"Semuanya! Semua menteri di bawah Karsa telah meminum darah sumpah!" teriak dukun itu ketakutan. "Kau tidak akan menang! Jenderal Karsa punya ribuan prajurit dan perlindungan dari iblis hutan!"
"Aku tidak butuh menang melawan iblis," ujar Serena dingin. "Aku hanya perlu menunjukkan pada rakyat bahwa iblis pun bisa mati."
Dengan satu pukulan telak ke ulu hati, Serena membuat dukun itu pingsan. Ia tidak membunuhnya, karena ia ingin orang ini menjadi saksi saat kebenaran terungkap.
Malam yang Panjang di Arrinra
Serena melanjutkan perjalanannya menyusuri ibukota. Ia melihat pasar-pasar yang tutup lebih awal karena jam malam yang ketat. Ia melihat anak-anak kecil mengais sisa makanan di belakang dapur restoran mewah para bangsawan.
Hatinya semakin hancur saat melewati Alun-alun Arrinra. Di sana, terpampang patung ayahnya yang telah dihancurkan kepalanya, digantikan dengan patung Jenderal Karsa yang memegang pedang. Di bawah patung itu, terdapat papan pengumuman:
PENGUMUMAN KERAJAAN
Pajak Gandum naik 40% mulai bulan depan.
Barangsiapa berbicara buruk tentang Wali Kekaisaran akan dihukum gantung.
"Dua juta kilometer persegi wilayah, dan kalian menjadikannya penjara raksasa," gumam Serena.
Ia berhenti di depan sebuah rumah kecil yang tampak lebih terawat di antara rumah-rumah kumuh lainnya. Itu adalah rumah rahasia milik mantan Panglima perang ayahnya yang ia harap masih setia.
Serena mengetuk pintu dengan pola khusus. Tiga ketukan cepat, dua ketukan lambat.
Pintu terbuka sedikit. Seorang pria tua dengan luka parut di wajahnya menatap curiga. "Siapa kau?"
Serena membuka cadarnya dan menunjukkan kalung emas berbentuk petir yang melingkar di lehernya. Pria itu terbelalak, matanya berkaca-kaca. Ia langsung berlutut di tanah.
"Putri... Putri Serena? Anda masih hidup?" bisik pria itu dengan suara serak.
"Bangunlah, Paman Bram. Aku tidak kembali untuk disembah," ujar Serena sambil membantunya berdiri. "Aku kembali untuk mengambil apa yang menjadi hak rakyat."
Bram membawa Serena masuk ke dalam. Di dalam, terdapat peta besar Kekaisaran Ser. "Keadaan sudah sangat buruk, Putri. Karsa telah membagi kekaisaran menjadi kadipaten-kadipaten kecil yang dipimpin oleh para jenderalnya. Rakyat di Arrinra sudah di ambang pemberontakan, tapi mereka takut. Karsa menggunakan teror gaib dan eksekusi publik untuk membungkam mereka."
"Aku sudah melihatnya, Paman. Aku melihat ritual mereka di gang gelap tadi," kata Serena.
"Mereka menggunakan ketakutan untuk memerintah," sahut Bram. "Tapi jika ada simbol harapan... jika mereka tahu bahwa darah Arrinra masih ada, mereka akan bangkit."
Serena menatap peta itu. "Aku tidak ingin mereka bangkit hanya untuk mati dalam perang saudara. Aku ingin membersihkan istana dari dalam. Besok malam adalah pesta ulang tahun Karsa yang ke-50, kan?"
"Benar, Putri. Seluruh jenderal pengkhianat akan berkumpul di sana."
"Bagus," Serena menyarungkan pedangnya dengan mantap. "Siapkan orang-orang setiamu di luar tembok istana. Jangan menyerang sebelum kalian melihat petir menyambar menara utama istana tiga kali di langit yang cerah."
"Tapi Putri, masuk ke sana sendirian adalah bunuh diri! Ada lebih dari lima ratus penjaga elit!"
Serena tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung kemarahan badai di dalamnya. "Paman lupa siapa yang melatihku selama sepuluh tahun ini. Aku bukan lagi putri yang lari ketakutan. Aku adalah badai itu sendiri."
Malam itu, Serena menghabiskan waktunya untuk bermeditasi, menghimpun seluruh energi listrik dari udara Arrinra yang pengap. Ia bisa merasakan denyut nadi kota ini—denyut nadi yang lemah, penuh luka, namun masih memiliki keinginan untuk berdetak.
Di luar sana, di jalanan Arrinra, seorang pemuda bernama Anton Firmansyah sedang mengangkut sisa-sisa bata dari proyek jembatan yang mangkrak. Ia menyeka keringat di dahinya, tidak tahu bahwa takdirnya akan segera bersilangan dengan wanita yang sedang bersiap untuk mengguncang dunia.
Serena Arrinra menatap bulan yang tertutup awan hitam. "Ayah, Ibu... lihatlah. Besok, Arrinra tidak akan lagi berdarah karena luka, tapi karena pembersihan."
Angin bertiup kencang, membawa aroma hujan yang akan datang. Seolah alam pun tahu bahwa esok hari, Kekaisaran Ser akan menyaksikan kembalinya sang pemilik petir yang sah.
Malam di Ibukota Arrinra merambat dengan keheningan yang mencekam. Di atas menara-menara istana yang megah, bendera dengan lambang harimau emas milik Jenderal Karsa berkibar malas ditiup angin tenggara. Di dalam aula utama, suara tawa yang kasar dan denting cawan emas terdengar riuh. Jenderal Karsa sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-50, sebuah pesta pora yang menghabiskan biaya setara dengan pajak satu provinsi selama setahun.
Di luar tembok istana yang setinggi sepuluh meter, bayangan hitam bergerak secepat pikiran. Serena Arrinra berdiri di atas dahan pohon beringin tua yang menghadap ke sayap barat istana. Ia tidak lagi mengenakan jubah cokelat lusuhnya. Tubuhnya kini dibalut pakaian ninja shinobi-shozoku yang terbuat dari serat sutra khusus yang tidak memantulkan cahaya. Pedang Raijin tersampir di punggungnya, siap melepaskan amarah yang terpendam selama sepuluh tahun.
"Pesta yang sangat meriah, Karsa," bisik Serena pada angin malam. "Nikmatilah setiap tetes anggur itu, karena itu adalah yang terakhir."
Serena memejamkan matanya sejenak. Ia memanggil aliran energi statis dari udara di sekitarnya. Di ujung jemarinya, percikan listrik biru mulai menari. Ilmu Petir Langit bukan sekadar teknik bertarung; itu adalah kemampuan untuk memanipulasi elektron di sekelilingnya. Dengan satu hentakan kaki, ia melompat.
Ia tidak jatuh. Ia seolah-olah ditarik oleh daya magnet ke arah tembok istana. Kakinya menyentuh dinding batu secara vertikal, dan dengan kecepatan yang menentang gravitasi, ia berlari naik.
"Siapa itu?!" teriak seorang penjaga di atas menara pengawas.
Serena tidak memberi waktu bagi penjaga itu untuk meniup terompet peringatan. Ia mengibaskan tangannya ke udara. Zrakkk! Sebuah jarum kecil yang dialiri listrik melesat, mengenai leher penjaga itu dan membuatnya pingsan seketika dalam keadaan lumpuh total.
Serena mendarat dengan seringan bulu di balkon lantai tiga. Ia menyelinap masuk melalui ventilasi ruang pertemuan para jenderal. Di bawah sana, di sebuah meja bundar besar, tujuh jenderal pengkhianat sedang tertawa sambil menunjuk-nunjuk peta Kekaisaran Ser seluas 2.001.103 Km^2 tersebut.
"Wilayah Selatan ini terlalu banyak pemberontak," ujar Jenderal Karsa sambil menusukkan belatinya ke peta, tepat di lokasi desa tempat Serena singgah kemarin. "Bakar saja lumbung padi mereka. Biarkan mereka tahu bahwa rasa lapar adalah hukuman bagi ketidakpatuhan."
"Setuju, Panglima," sahut Jenderal Barja, seorang pria dengan mata satu yang rakus. "Dan anak-anak muda di sana bisa kita kirim ke tambang tembaga di Timur. Kita butuh lebih banyak tenaga kerja gratis untuk mendanai perluasan istana ini."
Serena mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Amarahnya memuncak. Ia tidak bisa lagi hanya menonton. Ia melompat turun dari langit-langit, mendarat tepat di tengah-tengah meja bundar tersebut. BRAKK! Meja jati yang kokoh itu retak menjadi dua di bawah kakinya.
Aula itu seketika hening. Para jenderal tertegun melihat sosok wanita bercadar hitam dengan mata perak yang berkilat di hadapan mereka.
"Siapa kau?! Bagaimana kau bisa masuk ke sini?!" raung Jenderal Karsa, hampir tersedak anggurnya.
Serena mencabut pedang Raijin perlahan. Bunyi gesekan logam dengan sarungnya terdengar seperti petir yang menggelegar di kejauhan. "Aku adalah hantu dari masa lalu yang datang untuk menagih janji setia yang kalian khianati."
"Ninja sialan! Penjaga! Masuk!" teriak Jenderal Barja.
Pintu aula terbuka lebar. Tiga puluh prajurit elit berbaju zirah lengkap merangsek masuk dengan tombak terhunus.
"Bunuh dia! Bawa kepalanya kepadaku!" perintah Karsa sambil mundur ke arah kursi takhtanya.
Serena menarik napas panjang. Ia memutar pedangnya di udara. "Raijin, bicaralah!"
DHUAR!
Cahaya biru menyilaukan meledak dari bilah pedang Serena. Ia bergerak. Di mata para prajurit, Serena bukan lagi manusia, melainkan kilatan cahaya yang berpindah-pindah. Setiap kali pedangnya beradu dengan tombak, senjata lawan hancur berkeping-keping karena beban tegangan listrik yang luar biasa.
"Arghhh!" satu per satu prajurit bertumbangan. Serena tidak membunuh mereka secara brutal; ia hanya memutus saraf motorik mereka dengan sengatan listrik yang tepat sasaran di titik-titik vital bela dirinya.
"Jangan hanya diam! Gunakan busur!" teriak Jenderal Karsa dari kejauhan.
Sepuluh pemanah di balkon aula melepaskan anak panah secara bersamaan. Serena memejamkan mata, mengandalkan insting batinnya. Jurus Petir Langit: Perisai Guntur.
Ia memutar pedangnya dengan kecepatan tinggi di atas kepala. Aliran listrik membentuk pusaran magnetis yang membelokkan semua anak panah sebelum menyentuh kulitnya. Anak-anak panah itu jatuh ke lantai, hangus menghitam.
"Kalian menyebut diri kalian jenderal?" Serena bersuara di tengah kekacauan, suaranya terdengar seperti guntur yang menggema. "Kalian hanya pengecut yang bersembunyi di balik zirah dan rakyat yang kelaparan."
Jenderal Barja, yang merasa terdesak, mencabut pedang besarnya dan menyerang Serena dari belakang. "Mati kau, jalang!"
Serena tidak berbalik. Ia hanya menekuk lututnya, menghindar dengan gerakan salto ke belakang melewati kepala Barja. Saat berada di udara, ia menendang punggung Barja dengan kaki yang terbungkus energi listrik.
BOOM! Barja terlempar menghantam pilar marmer hingga pilar itu retak.
Kini tinggal Jenderal Karsa yang berdiri gemetar. Ia mencabut sebuah keris hitam yang tampak mengeluarkan asap tipis—keris hasil kutukan ilmu hitam yang ia dapatkan dari para dukun.
"Kau pikir pedang listrikmu bisa mengalahkanku?" Karsa tertawa histeris, wajahnya memerah. "Aku memiliki perlindungan dari penguasa kegelapan! Matilah kau!"
Karsa menerjang. Keris hitamnya memancarkan aura dingin yang menusuk tulang. Saat keris itu beradu dengan pedang Raijin, terjadi ledakan energi hitam dan biru yang luar biasa. Lantai marmer di bawah mereka hancur berkeping-keping.
"Kau bersekutu dengan setan untuk takhta ini, Karsa?" tanya Serena, menahan dorongan keris Karsa dengan pedangnya.
"Takhta ini milik siapa saja yang cukup kuat untuk mempertahankannya! Ayahmu lemah! Dia terlalu memikirkan perut rakyat sampai lupa memperkuat taringnya!"
"Ayahku bukan lemah," jawab Serena dengan nada rendah yang menakutkan. "Beliau hanya memiliki sesuatu yang tidak akan pernah kau mengerti: Integritas."
Serena menghentakkan kakinya ke lantai. Listrik dari tubuhnya merambat melalui lantai marmer, menjalar ke kaki Karsa.
"Aaakh! Kakiku!" Karsa kehilangan keseimbangan.
Serena menggunakan kesempatan itu. Ia memutar tubuhnya, memberikan tendangan berputar ke dada Karsa, lalu dengan gerakan cepat, ia menaruh ujung pedang Raijin tepat di leher Karsa.
"Ampun... ampun..." Karsa menjatuhkan keris hitamnya. Wajahnya yang tadi sombong kini pucat pasi, penuh keringat dingin. "Aku akan memberimu emas... aku akan memberimu wilayah... apa saja! Tolong jangan bunuh aku!"
"Emasmu adalah darah rakyat," ucap Serena dingin. "Dan wilayah ini bukan milikmu untuk kau berikan."
Tiba-tiba, pintu aula samping terbuka. Seorang menteri tua berlari masuk dengan wajah panik. "Jenderal! Rakyat di luar tembok... mereka melihat cahaya dari aula ini! Mereka mulai menjebol gerbang!"
Serena melirik ke arah jendela besar aula. Di kejauhan, ia melihat ribuan obor menyala di jalanan Arrinra. Rakyat yang selama ini tertekan mulai berani bergerak setelah melihat "pertunjukan cahaya" di istana.
"Paman Bram benar," gumam Serena. "Harapan adalah senjata yang paling mematikan."
Serena kembali menatap Karsa. "Aku tidak akan membunuhmu malam ini, Karsa. Itu terlalu mudah bagimu. Kau akan diadili oleh orang-orang yang kau injak-injak."
Serena kemudian berdiri di atas balkon istana, menghadap ke arah ribuan rakyat yang berkerumun di bawah. Ia melepas cadar hitamnya. Cahaya petir yang masih menari di pedangnya menyinari wajahnya yang tegas namun cantik.
"Rakyat Arrinra!" suaranya menggelegar, dibantu oleh energi internalnya sehingga terdengar hingga ke ujung alun-alun. "Sepuluh tahun aku menghilang untuk belajar cara melindungi kalian! Hari ini, kegelapan telah berakhir! Aku adalah Serena Arrinra, putri dari kaisar kalian yang sah, dan aku telah kembali!"
Keheningan sesaat menyelimuti seluruh ibukota. Kemudian, sebuah teriakan pecah dari kejauhan, diikuti oleh ribuan lainnya.
"HIDUP PUTRI SERENA! HIDUP ARRINRA!"
Malam itu, Ibukota Arrinra tidak berdarah karena pembantaian rakyat, melainkan karena pembersihan para penghianat. Serena memerintahkan para prajurit yang masih memiliki nurani untuk menangkap ketujuh jenderal tersebut.
Di sudut aula, Serena menyandarkan pedangnya. Napasnya terengah. Ia telah memenangkan pertempuran pertama, namun ia tahu, memimpin kekaisaran seluas dua juta kilometer persegi tidak akan semudah mengayunkan pedang.
"Ini baru permulaan," bisik Serena.
Tiba-tiba, seorang pengawal muda mendekatinya. "Putri... ada seorang pemuda di gerbang bawah. Dia membawa persediaan makanan dan air untuk para pengunjuk rasa. Dia bersikeras ingin memastikan bahwa istana sudah aman. Namanya... Anton."
Serena mengernyitkan dahi. Nama itu terasa asing, namun entah kenapa hatinya bergetar sedikit. "Anton? Biarkan dia membantu medis di luar. Aku harus fokus pada transisi pemerintahan malam ini."
Serena tidak tahu, bahwa pemuda yang disebut namanya itu adalah orang yang nantinya akan meruntuhkan tembok dingin di hatinya, jauh lebih efektif daripada pedang apa pun yang pernah ia hadapi.
Malam yang panjang itu diakhiri dengan pembersihan istana. Serena duduk di kursi takhta ayahnya, bukan dengan kesombongan, melainkan dengan beban tanggung jawab yang berat. Ia menatap ke luar jendela, ke arah pegunungan yang jauh, dan berjanji bahwa fajar yang akan terbit besok adalah fajar yang berbeda bagi Kekaisaran Ser.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!