Indonesia
NovelToon NovelToon

Transmigrasi: Pesona Istri Galak

Bab 1

Senja merayap perlahan, dan permukaan laut berkilau keemasan di bawah sinar terakhir matahari. Namun, hanya sedetik kemudian, kegelapan menutup bumi seperti selimut hitam pekat.

Dermaga Kota S, pelabuhan perdagangan terbesar di Negara Z, kini dipenuhi cahaya lampu yang remang-remang, berkedip-kedip di sepanjang dermaga kosong, menimbulkan suasana yang aneh—antara mewah dan misterius.

Di bawah atap gudang dekat dermaga, sekelompok orang menyelinap dengan hati-hati. Mata mereka mengamati setiap sudut, tangan siap menghadapi gerakan mendadak.

“Saudari Yvaine, di sini terlalu gelap. Apakah orang-orang ini benar-benar akan datang? Kita tidak ingin terjebak seperti terakhir kali, kan?” Mork, sosok muda yang bersih dan polos, berbisik di belakang pemimpin mereka, matanya menatap sekeliling dengan cemas.

Seseorang yang berdiri di dekatnya mendengar, dan dengan cepat memutar pistol sebelum menampar kepala Mork. Rasa sakitnya membuat Mork meringis, menahan diri agar tidak menjerit dan memberi tahu musuh.

“Saudari Yvaine, bersikap lembutlah,” bisiknya, setengah takut.

Yvaine Aurora hanya tersenyum tipis, tangan meraih pistol dengan tenang. “Datang untuk hal kosong? Jika intelijen menipu kita lagi, aku akan membuat mereka menyesal sampai mati,” ucapnya dengan nada dingin namun penuh ancaman.

Mork menyentuh kepalanya, bergidik oleh aura mematikan yang memancar dari wanita di depannya. Dia menelan ludah, mencoba tersenyum. “Ya, tim intelijen selalu memberikan berita palsu. Sudah saatnya mereka belajar pelajaran…”

Namun tatapan Yvaine yang dingin membuatnya terdiam, menutup mulut, dan membuat gerakan seolah menahan diri. Yvaine tertawa geli, menepuk kepala Mork dengan ringan. “Mengapa kamu mengoceh di saat yang tidak tepat?”

Mork merosot, memegangi kepalanya yang sakit. “Bisakah kau tidak menamparku terus, Kak? Aku bukan orang pintar, dan kalau kau terus begini…”

Yvaine tertawa, menggosok kepalanya, lalu memuji dengan senyum licik. “Kamu memang bodoh, jadi aku hanya mengetuk kepala untuk membuatmu lebih pintar.”

Saat mereka berdua bersenda, suara dari kejauhan menghentikan pembicaraan mereka. Yvaine menekan jari di bibir Mork, menandakan diam, dan menempel ke dinding gudang.

Beberapa van besar perlahan mendekat. Setelah klakson dibunyikan, pintu gudang dibuka untuk menampung kendaraan itu. Yvaine mengamati dengan teliti, lalu melompat ke jendela dengan lincah, diikuti timnya.

Di dalam gudang, gelap gulita hanya diterangi cahaya bulan yang menyelinap. “Di mana Kapten Li dan tim lainnya?” bisik Yvaine, bersandar di pilar batu.

“Jam dua, mereka menunggu di depan gudang,” jawab seorang anggota tim dengan suara pelan.

Yvaine mengangguk, menarik pistol dengan erat, dan membagi tim menjadi dua: satu bersamanya, satu lagi dengan Mork, untuk mengepung musuh tanpa memperingatkan mereka.

Mereka mendekati van kosong. Intuisi Yvaine berteriak bahaya. Tanpa ragu, dia berguling ke sisi lain, menahan peluru yang menghujani van. Suara tembakan dan teriakan rekan tim bergema di gudang.

Wajah Yvaine menghitam. “Sialan.. ini jebakan.”

Dia menembaki sudut gelap, satu demi satu musuh jatuh. Mork yang khawatir, menatap Yvaine dengan takjub saat dia menyerahkan majalah peluru padanya.

“Cukup omong kosong. Bertahanlah, aku akan menyerang. Kau tidak akan mati,” kata Yvaine singkat.

Dia melesat ke sudut kosong di atas, menembaki musuh, menggulingkan tubuhnya di tanah, menghindari peluru, dan menerkam dari sudut gelap. Musuh satu per satu jatuh.

Namun, sebuah benda dingin menyentuh dahinya. “Jangan bergerak, atau otakmu akan meledak,” suara kasar itu terdengar. Lampu gudang menyala, mengungkap pria jangkung dan kasar yang berdiri di depannya.

Pria itu terkejut melihatnya. Ia bersiul dan mengejek, “Wanita? Mereka mengirim wanita sekarang?”

Sementara itu, tembakan kembali terdengar. Pria yang menodongkan pistol ke Yvaine terjatuh, dan beberapa rekannya juga ikut menjadi korban. Situasi berbalik dengan cepat.

Bab 2

Dia mendongakkan kepala, berusaha mencari sumber tembakan. Di saat yang sama, Yvaine telah menunggu momen itu.

Begitu perhatian pria itu teralihkan, Yvaine dengan cepat menghantamkan siku kanannya ke arah pistol di tangan lawannya. Dalam satu gerakan mulus, ia berputar dan menendang dada pria itu dengan presisi, menjatuhkannya seketika. Pistol terlepas dan melayang—langsung ditangkap oleh Yvaine.

Dengan cekatan, ia memutar pergelangan tangannya. Kini, moncong pistol yang tadi mengarah padanya berbalik mengarah ke dahi pemiliknya, menghentikan perlawanan pria itu.

Tepat saat itu, pintu gudang didobrak dari luar. Sekelompok bala bantuan masuk dengan formasi rapi.

Melihat mereka, senyum tipis terukir di bibir Yvaine.

Ia menatap dingin pria di hadapannya, lalu berkata sinis,

“Apa salahnya jadi wanita? Baru saja seorang wanita menjatuhkanmu. Jangan pernah meremehkan wanita. Bawa dia pergi.”

Para anggota tim segera bergerak, membekuk pria itu dan menyeretnya keluar.

Begitu semuanya berakhir, Yvaine menghela napas panjang. Saat ia menurunkan pistolnya, terdengar teriakan penuh kelegaan.

“Kakak Yvaine!”

Ia menoleh dan melihat Morn berlari ke arahnya dengan wajah cerah. Sudut bibir Yvaine sedikit terangkat.

Namun, tepat ketika ia hendak melangkah maju—

Dor!

Suara tembakan kembali menggema dari belakang.

Rasa nyeri tajam langsung menghantam dadanya.

Yvaine membeku. Perlahan ia menunduk, menatap darah yang mulai merembes dari tubuhnya.

Kesadarannya seketika goyah. Ia samar-samar mendengar jeritan panik Morn dan yang lain, tetapi tubuhnya sudah kehilangan kendali, jatuh ke belakang.

Sebelum gelap menelannya, satu pikiran melintas—

'Satu peluru dari belakang… satu lagi dari arah jam dua…'

Sial.

Setelah bertahun-tahun menjadi polisi, pada akhirnya ia bukan mati di tangan penjahat—melainkan oleh rekan sendiri.

Dunia menjadi gelap.

Tubuhnya terasa begitu berat, seolah tertindih beban ribuan kilogram. Ia tak mampu bergerak. Hanya pendengarannya yang tersisa, itu pun samar.

Suara-suara asing terdengar di sekelilingnya.

“Hentikan pendarahannya!”

“Apa yang kalian lakukan? Tuan muda mungkin tidak menyukai istrinya, tapi kalau tahu nyonya mati karena bunuh diri di rumah ini, kita semua habis!”

“Sudah, hentikan omong kosong! Di mana dokternya? Kenapa belum datang?!”

“Dokter sedang dalam perjalanan, tapi kalau terlambat—nyonya bisa mati! Cepat hentikan pendarahannya! Ya Tuhan, darahnya banyak sekali!”

'Tuan muda? Nyonya? Bunuh diri?'

Pikiran Yvaine kacau.

'Bukankah aku sudah terkena dua tembakan di jantung..? Atau… pelurunya meleset?'

'Namun, jika aku selamat, seharusnya ini luka tembak—bukan pergelangan tangan yang disayat.'

Kesadarannya kembali tenggelam.

***

Saat ia membuka mata lagi, sesuatu menekan dadanya, membuatnya sulit bernapas—seperti tenggelam tanpa daya.

Naluri bertahan hidup memaksanya tersentak dan membuka mata.

Pemandangan asing langsung menyambutnya.

Tidak ada bau antiseptik. Tidak ada dinding putih rumah sakit.

Sebaliknya, ia berada di kamar luas dengan nuansa hangat dan elegan. Interiornya bergaya Eropa, dipenuhi furnitur mewah yang tampak mahal bahkan bagi orang awam.

'Di mana ini…?'

Yvaine mengerutkan kening, mencoba mengingat, namun pikirannya kosong.

Angin sepoi-sepoi meniup tirai di jendela berukir, membawa sinar matahari yang hangat ke wajahnya.

Ia sempat terlena… sampai..

Brak!

Seorang pelayan menjatuhkan baskom berisi air panas saat melihatnya terbangun.

“Nyonya sudah bangun! Cepat! Nyonya sudah bangun!”

“Nyonya…?”

Yvaine mengernyit, ia tanpa sadar meraba dadanya—tidak ada luka tembak.

Namun, tangan kirinya dibalut perban tebal, bercak darah samar terlihat di permukaannya.

Dan yang paling mengejutkan adalah itu bukan tangannya.

***

Tiga hari berlalu.

Yvaine akhirnya memahami kenyataan yang tak masuk akal ini.

Bahwa ia telah mati dan kini hidup kembali dalam tubuh orang lain, yakni seorang wanita dengan nama yang sama, lebih tepatnya hanya berbeda satu huruf.. tubuh ini bernama Vaine.

Pemilik tubuh ini telah bunuh diri dengan menggorok pergelangan tangannya. Seharusnya ia sudah mati, jika bukan karena jiwa Yvaine yang mengambil alih.

Dari ingatan yang tersisa, Yvaine mengetahui semuanya.

Wanita ini adalah istri dari Tobias Raguel—CEO berpengaruh di Kota S, sosok yang kerap muncul di majalah dan dikenal kejam serta tak tersentuh.

Pernikahan mereka bukan karena cinta.

Wanita ini menjebaknya, membuatnya mabuk, lalu hamil dan memaksa Tobias menikahinya.

Sejak itu, mereka hidup seperti orang asing.

Tobias tak pernah menyentuhnya lagi. Bahkan setelah anak mereka lahir, ia tetap mengabaikannya.

Lebih buruk lagi, ia berselingkuh secara terang-terangan dan bahkan meminta cerai.

Itulah yang mendorong wanita ini mengakhiri hidupnya.

Yvaine terdiam.

Jika itu dirinya dulu… mungkin dia juga akan marah.

Tapi dia bukan wanita lemah yang hanya bisa menangis dan mengakhiri hidup.

Wanita itu sudah mati.

Sekarang—yang hidup adalah Yvaine.

Dan dia tidak akan hidup sebagai korban.

***

Cahaya televisi memantul di wajahnya yang masih pucat.

Suaranya menarik perhatian Yvaine.

“Tiga hari lalu, terjadi penembakan di sebuah gudang di dermaga Kota S. Tim SWAT segera dikerahkan untuk mengamankan situasi… namun harus membayar harga yang tidak sedikit…”

Bab 3

Suara reporter masih terngiang di telinga Yvaine.

“Sejumlah perwira, termasuk seorang pemimpin tim, gugur saat menjalankan tugas. Penyebab penembakan masih dalam penyelidikan. Kami melaporkan langsung dari lokasi kejadian.”

'Gugur dalam tugas?'

Sudut bibir Yvaine terangkat tipis, membentuk senyum dingin yang hampir tak terlihat. Sebuah ejekan tanpa suara.

Ia tahu persis bagaimana ia “gugur”.

Saar itu dua telag peluru bersarang di jantungnya.

Satu datang dari belakang, jelas merupakan tembakan penembak jitu yang bersembunyi dalam gelap. Itu masuk akal. Itu sesuai dengan skenario pertempuran yang selama ini ia hadapi.

Namun yang satu lagi..

Yvaine mengingatnya dengan sangat jelas. Sudut tembakannya, arah anginnya, bahkan jeda sepersekian detik sebelum peluru itu menembus tubuhnya.

Dari arah jam dua.

Arah yang sebelumnya disebutkan oleh petugas kepolisian. Arah di mana tim bantuan berada. Tim yang dipimpin oleh Kapten Li.

Rekan sendiri.

Selama ini, Yvaine selalu membayangkan akhir hidupnya akan datang di tangan musuh. Ia siap mati di medan tugas, tertembak saat menjalankan misi berbahaya.

Namun ia tak pernah membayangkan bahwa peluru terakhirnya justru datang dari orang yang berdiri di pihak yang sama.

Bagi Yvaine, itu hal konyol yang pernah menimpanya, sebuah bentuk pengkhianatan yang bersih dan rapi.

Ekspresi wajah Yvaine yang semula datar sempat berubah, dalam sepersekian detik itu, ada kilatan dingin yang melintas di matanya.

Namun secepat itu pula, semuanya kembali seperti semula, ia kembali tenang dan mengontrol emosinya.

Ia sudah terbiasa menyembunyikan segalanya, dan untung saja, tak ada yang benar-benar akan bersedih atas kematiannya.

Ibu angkatnya telah meninggal lima tahun lalu. Orang tua kandungnya? Bahkan ia tak memiliki kenangan tentang mereka, seolah menghilang bersama tragedi masa lalu.

Ia sendirian dan akan selalu sendirian.

Jika ada satu orang yang mungkin akan menangis, itu pasti hanyalah Mork.

Yvaine menghela napas pelan.

'Hah.. Mork mungkin akan meratapi kepergianku untuk sementara waktu. Namun seiring berjalannya waktu, ia pasti akan bangkit kembali. Dunia tidak berhenti hanya karena satu orang pergi.'

Ibu Mork dan ibu angkat Yvaine adalah sahabat dekat. Mereka tumbuh bersama, saling menjaga. Karena itulah Yvaine memperlakukan Mork seperti adiknya sendiri.

Sayang sekali karna hubungan itu pun kini telah terputus oleh kematian.

Sementara itu, ada suara langkah kaki yang tiba-tiba terdengar dari luar pintu dan membuat Yvaine membuyarkan pikirannya

Pintu pun terbuka.

Seorang gadis berpakaian pelayan masuk sambil membawa nampan berisi makanan sederhana. Gerakannya kasar, dan ekspresi di wajahnya jelas menunjukkan ketidaksenangan.

Seolah-olah hanya dengan mengantarkan makanan saja sudah menjadi penghinaan baginya.

“Nyonya, sudah waktunya makan,” ucapnya singkat, nada suaranya datar namun tajam.

Tanpa menunggu respons, ia meletakkan nampan itu di meja dekat jendela dengan bunyi cukup keras.

Tidak ada rasa hormat ataupun kesopanan darinya.

Yvaine bisa melihat aura kebencian yang terang-terangan dari gadis itu

Mata Yvaine menyipit sedikit, ia langsung memahami situasinya.

Sikap dingin Tobias terhadap dirinya rupanya menjadi alasan bagi seluruh penghuni mansion untuk memandang rendah dirinya.

Ia bukan “nyonya” di mata mereka, melainkan hanya sebuah kesalahan yang terlanjur berada di posisi itu.

Apalagi setelah rumor menyebar bahwa ia adalah wanita dari keluarga bergengsi yang menipu Tobias agar tidur dengannya, demi mendapatkan posisi sebagai Nyonya keluarga Raguel.

Rumor kotor, namun cukup efektif untuk menghancurkan martabat seseorang.

Mereka tidak berani mengatakannya di depan. Tapi di belakang? Bisikan, ejekan, dan hinaan mengalir tanpa henti.

Yvaine masih ingat saat ia pingsan sebelumnya. Samar-samar ia mendengar jeritan para pelayan, bukan karena khawatir, melainkan karena takut terseret masalah jika ia benar-benar mati.

Baginya, mereka hanya peduli pada diri sendiri.

Dan selama ia belum mati, mereka merasa bebas untuk bersikap semaunya.

Tatapan Yvaine terangkat, menatap langsung pelayan di depannya.

Tobias bahkan tidak datang menjenguknya, padahal ia baru saja selamat dari percobaan bunuh diri.

Menggorok pergelangan tangan sendiri adalah sebuah tindakan putus asa yang seharusnya mengguncang siapa pun.

Namun bagi pria itu?

Seolah tak berarti apa-apa.

Dan sikap itulah yang memberi keberanian bagi para pelayan untuk mengabaikan hidup dan matinya sang nyonya.

Pelayan itu menyilangkan tangan, menatap Yvaine dengan tidak sabar.

Namun saat mata mereka bertemu, sesuatu dalam dirinya bergetar.

Ada yang berbeda.

Tatapan itu bukan tatapan wanita lemah yang ia kenal sebelumnya.

Ada sesuatu yang dingin dan mengintimidasi, namun keraguan itu hanya berlangsung sesaat.

Ia segera mengingat bagaimana pengecutnya Yvaine dulu.

Dengan cepat, ia menegakkan tubuhnya dan berkata dengan sinis, “Apa yang kamu lihat? Kalau tidak mau makan, ya sudah. Hidupmu saja sudah pemborosan.”

Tangannya bergerak, meraih nampan.

Jelas sekali ia berniat mengambilnya kembali.

Ini bukan pertama kalinya. Biasanya, Yvaine hanya akan diam dan menerima perlakuan itu.

Namun kali ini ia salah.

Mata Yvaine menyipit, dalam sekejap, tangannya terangkat.

Gerakannya sangat cepat.

“Ah—!”

Suara benturan keras disusul jeritan melengking memenuhi ruangan.

Pelayan itu terjatuh ke lantai, tubuhnya bergetar kesakitan. Makanan panas tumpah, membasahi pakaiannya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!