Hari ini tanggal 26 Februari 2017, hari yang seharusnya menjadi hari bahagia seorang anak lelaki. Berubah menjadi hari penuh duka, karena ia harus kehilangan kedua orang tuanya.
BRSSSSTTTT
Hujan turun begitu deras, membasahi tanah kota Bandung. Langit mendung, membuat suasana menjadi gelap. Padahal, waktu masih menunjukkan jam satu siang. Langit seolah ikut menangisi, kepergian sepasang suami istri. Yang harus meregang nyawa, di tangan sekelompok orang tak di kenal.
Anak lelaki, yang baru saja menginjak usia 9 tahun. Harus kehilangan kedua orang tuanya, secara bersamaan. Ghaffar Syarif Darmawan namanya, lahir tanggal 26 Februari 2008.
Anak yang memiliki wajah tampan itu, tengah duduk di antara jenazah kedua orang tuanya seorang diri. Tatapan mata, yang biasanya di penuhi binar kebahagiaan, berubah menjadi binar kekosongan. Jiwanya seolah tertelan, ke dalam kegelapan. Tak ada air mata, hanya tatapan kehampaan.
Mulai detik ini, hidupnya berubah drastis. Tak akan ada lagi, wanita cantik yang selalu membangunkannya di pagi hari. Wanita yang tak pernah lepas, dari senyuman di bibir tipisnya. Tak ada lagi suara cerewet, yang mengomelinya karena kejahilan dan kenakalannya.
Tak akan ada lagi pria berwibawa, yang akan memberinya petuah. Tentang hidup di dunia, yang begitu keras ini. Tak akan ada lagi pria, yang akan berdiri membelanya. Di saat ia terkena masalah, tak ada lagi pahlawan di hidupnya.
Kini statusnya adalah anak yatim piatu, harus hidup sebatang kara di usianya yang masih di bawah umur.
"Nak Ghaffar, apakah kedua orang tua nak Ghaffar akan dikebumikan sekarang?" tanya seorang ustad, yang bernama pak Husein.
Suara yang terdengar tenang itu, menarik kesadaran Ghaffar. Ia menoleh, menatap lama wajah teduh pak Husein. Lalu, ia pun mengangguk pelan.
"Mari bapak-bapak, kita akan mengantarkan jenazah pak Zayyan dan bu Yasmin ke tempat peristirahatan terakhirnya. Mohon dibantu.." pinta ustad Husein
Dengan sigap para pemuda langsung bangun, bahkan hampir berebutan ingin mengangkat kedua keranda tersebut. Ada segaris senyum di bibir mungil Ghaffar, melihat banyak yang antusias mengantarkan kedua orang tuanya.
Siapa yang tak mengenal Zayyan Darmawan dan Yasmin Darmawan, dua orang yang selama hidupnya begitu dermawan dan berbudi luhur. Selalu mengulurkan tangan, bagi siapapun yang memang membutuhkan pertolongan. Bahkan anak-anak muda, banyak yang sudah di bantu oleh keduanya.
Ghaffar berjalan pelan, di belakang iringan orang-orang yang mengangkat jenazah orang tuanya. Dengan memegang bingkai foto berwarna hitam, berisikan foto hitam putih.
Air mata Ghaffar, seolah telah habis. Ia terlihat dingin, meski mendengar bisikan tentangnya di belakang.
'Kasihan Ghaffar, di usianya yang masih kecil. Harus menjadi yatim piatu...' A
'Kamu benar, meski ia memiliki warisan dari kedua orang tuanya. Tapi untuk anak seusianya, mungkin itu merupakan beban.' B
'Parahnya, Ghaffar harus melihat dengan mata kepalanya sendiri. Bagaimana kedua orang tuanya meregang nyawa, menahan jeritan dan juga rasa takutnya. Aku hanya berharap, dia tidak sampai memiliki trauma yang bisa merusak mentalnya.' C
'Innalillahi... Apa benar, yang kamu katakan?' tanya A terkejut
'Apa menurutmu, hal seperti ini bisa di jadikan candaan?' jawab C, A dan B menggelengkan kepalanya
'Ghaffar menceritakan kejadian, saat polisi menginterogasinya. Aku yang sudah dewasa saja, tak sanggup bila harus kembali mengingat kejadian mengerikan itu. Apalagi Ghaffar...
Flashback
Saat itu, keluarga Ghaffar seperti biasa tengah berkumpul di ruang keluarga. Ghaffar duduk di antara kedua orang tuanya, menonton acara di yang tayang di malam itu.
"Sayang, bila di masa depan. Ayah dan ibu harus pergi sangat jauh, kami minta jangan pernah menangis ya. Kamu harus tetap kuat, menjalani hari-harimu." ucap sang ibu, membuat Ghaffar mengerutkan dahi
"Maksud ibu bicara seperti itu, apa? Memang kalian mau kemana? Kenapa Ghaffar tidak di ajak?" tanya Ghaffar beruntun
"Ini kan hanya obrolan boy, jadilah anak yang kuat. Yang bisa berdiri sendiri, tanpa harus bergantung pada orang lain. Berteman dengan siapa saja boleh, tapi kamu tidak bisa memberikan kepercayaan sepenuhnya. Karena orang yang akan menghancurkan kita, justru orang yang sangat dekat dengan kita." jawab sang ayah
"Maksud ayah?" tanya Ghaffar, yang masih belum mengerti
"Orang yang akan menusuk kita dari belakang, justru orang yang tau baik buruknya kita. Jadi, saat kamu mempercayai seseorang, jangan pernah sekalipun. Kamu menceritakan semua tentang kamu, maupun keluargamu." Ghaffar mengangguk paham
"Tapi... Ibu dan ayah, tidak akan kemana-mana kan?" tanya Ghaffar, tiba-tiba perasaannya tak nyaman. Seolah obrolan malam ini, adalah obrolan terakhir mereka
"Ya ga kemana-mana, emang mau kemana kita?" jawab Yasmin tersenyum
Tanpa tau, bila canda tawa, obrolan dan senyuman itu. Merupakan hal terakhir, sebelum tragedi berdarah itu terjadi.
Waktu menunjukkan pukul 20.48, Ghaffar terlihat beberapa kali menguap.
"Udah ngantuk boy, masuk kamar sana. Besok kamu harus berangkat sekolah pagi, jangan terlambat." titah sang ayah, Ghaffar mengangguk
"Ibu... Ayah... Ghaffar masuk kamar ya, mau tidur duluan." pamit Ghaffar, lalu ia mencium kedua pipi orang tuanya. Hal yang biasa dilakukan, sebelum dan saat ia bangun tidur.
"Hmm.. tidur yang nyenyak ya sayang, mimpi indah." jawab Yasmin, Ghaffar melangkahkan kakinya untuk naik ke lantai dua. Dimana kamarnya berada, bersebelahan dengan kedua orang tuanya.
.
.
Waktu terasa berjalan cukup lambat malam itu, jam di dinding menunjukkan pukul 01.25 WIB. Udara terasa begitu dingin, gerimis menemani malam saat itu.
"Far.. Ghaffar... sayang... bangun nak..." samar-samar terdengar suara sang ibu, membangunkan anak lelaki tampan itu. Merasa mimpi, ia kembali terlelap.
"Ghaffar, bangun nak. Sayang... " kembali terdengar, suara panik. Di tambah dengan guncangan pelan, pada tubuhnya. Lambat lain, Ghaffar membuka kedua matanya.
"IB.. MMMPPHH" ucapan Ghaffar terhenti, karena mulutnya yang langsung di bekap Yasmin
"Sayang, dengarkan ibu. Kamu masuk ke tempat persembunyian, yang sudah di buat ayah di dalam lemari. Apapun yang terjadi...
DOR
DEG
"I-ibu..." Yasmin menggigit bibir bawahnya, menahan tangisannya agar tidak sampai pecah.
"Pokok nya, apapun yang terjadi. Jangan keluar, harus tetap bersembunyi. Jangan mengeluarkan suara sedikit pun, jangan berteriak. Mengerti?" Ghaffar menggelengkan kepalanya, ia menggenggam erat tangan sang ibu.
"Lalu ibu mau kemana?" tanya Ghaffar, dengan suara bergetar. Nada ketakutan dan panik menjadi satu.
"Ibu harus menolong ayah, ingat nak. Jangan keluar dan bersuara, apapun tang terjadi. Cepat masuk.." Yasmin menarik kasar Ghaffar, bukan maunya. Tapi keadaan, keadaan yang mengharuskannya melakukan hal ini.
"Ibu... Hiks... Nggak bu..." Ghaffar menahan diri, agar sang ibu tak memaksanya masuk ke ruang persembunyian.
"Maafkan ayah dan ibu sayang, kamu harus ingat. Jadilah anak yang kuat, jangan biarkan siapa pun menindas mu." ucap Yasmin, ia mencium kening putranya. Sebelum ia memaksa putranya, untuk masuk ke ruang persembunyian.
"Maafkan kami nak, kami sangat mencintaimu." ucapan terakhir, sebelum pintu ruang rahasia terkunci secara otomatis. Yang hanya bisa dibuka, dari dalam.
BRAAKK
KYAAAAA
'IBUUUUUU'
...****************...
Semoga kalian suka yaaaa....
Jangan lupa like, komen, gift dan vote nya❤️❤️
BRAAKKK
"CARI WANITA ITU, AKU YAKIN DIA MENYEMBUNYIKAN PUTRANYA JUGA." teriak seorang pria, Yasmin menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Kini ia tengah bersembunyi, di bawah ranjang Ghaffar. Berdo'a pada sang Illahi, berharap dirinya tak di temukan.
Ghaffar bisa melihat semua itu, di tab miliknya yang ada di ruang kecil itu. Ia bisa melihat sang ibu, yang menahan tangis di sana.
'Ibu...' panggilnya dengan suara lirih, setelah sebelumnya ia mengirimkan pesan SOS pada ke kantor polisi.
Lalu lalang, para penjahat itu mencari keberadaan Yasmin dan Ghaffar. Sampai...
"KETEMU KAMU WANITA SIALAN .." pria itu menarik tangan Yasmin, dengan begitu kasarnya.
"KYAAAAA ... LEPASKAN" teriak Yasmin, ia terus berontak. Namun tenaga pria itu, lebih besar di bandingkan dengan dirinya.
"Cuih... Kamu pikir bersembunyi di bawah sana, tidak akan kami temukan." ucap pria itu
"SIAPA KALIAN, KENAPA KALIAN MASUK KE RUMAHKU. DAN MEMBUNUH ORANG-ORANG DI SINI, PERGIII!!!" teriak Yasmin lagi
PLAK
KYAAAA
Yasmin pun jatuh ke atas lantai, karena begitu kerasnya tamparan itu.
Grepp
Aaakhh
"Siapa kami, kamu tak perlu tau. Yang harus kamu tau, kami diminta membunuhmu dan keluarga kecilmu. Cukup itu saja yang kamu tau.." ucap pria itu, seraya menjambak rambut Yasmin
Yasmin meringis kesakitan, tapi tatapannya begitu memancarkan kebencian yang teramat sangat.
"Cih... Hahahahaha..." pria itu merasa murka, saat melihat Yasmin tertawa
"Apa yang kamu tertawakan? Nyawamu berada di tanganku, bahkan suamimu sudah mati di tanganku."
DEG
Bukan hanya Yasmin yang terkejut, Ghaffar pun merasakan hal yang sama.
'Ayah... Hiks...'
"BRENGSEK, IBLIS, KALIAN MEMANG TAK LAYAK UNTUK HIDUP DENGAN TENANG. TERMASUK ADIK TIRIKU, PASTI DIA YANG MENYURUHMU!!!" Pria itu tersenyum smirk
"Rupanya kamu sudah tau, siapa yang menyuruhku. Jadi... Ucapkan selamat tinggal..."
DOR
DOR
DOR
Ghaffar menutup mulutnya, agar tak mengeluarkan suara sama sekali. Ibunya tewas, karena pria itu menembak dua kali d jantung dan satu kali si kepala. Kedua mata sang ibu, menatap ke arah CCtv. Seolah mengatakan, agar Ghaffar diam di tempat. Sampai semua terkendali, juga aman.
"Bagaimana dengan anaknya??" tanya salah satu rekannya
"Biarkan saja, dia pasti tak ada di sini. Mungkin menginap di rumah temannya, buktinya sudah kita cari kemana-mana. Tetap tak menemukan keberadaan anak itu, kita pergi sekarang." jawab pria yang menghabisi Yasmin
Para pelaku pergi, tanpa memperdulikan jenazah yang sudah merek habisi.
Tanpa mereka tau, bila keputusannya membiarkan Ghaffar hidup. Adalah kesalahan terbesar, karena akan menjadi mimpi buruk mereka di masa depan.
Setelah di rasa aman, Ghaffar membuka kunci ruangan tersembunyi itu. Dengan merangkak, ia keluar dari sana. Tak sanggup untuk berdiri, tubuhnya terasa begitu lemas.
"Ibu... Hiks... Bangun bu... Jangan tinggalkan Ghaffar, Ghaffar sama siapa sekarang?"
Hening
Ghaffar tak mendengarkan suara, yang ia harapkan.
"Hwaaaaaaa.... Ibuuuuu..... Ibuuuu.... Huhu..." tangisan Ghaffar pun pecah
Dengan susah payah, Ghaffar berjalan ke arah kamar orang tuanya.
DEG
Seperti ibunya, kondisi ayahnya lun sama parahnya. Ada beberapa tembakan, di kepala dan juga tubuh sang ayah.
"HWAAAAAAAA .... AYAAAAAHHH.... " jerit Ghaffar
Barulah warga keluar, mereka berbondong-bondong ke rumah Ghaffar. Saat ada suara tembakan tadi, mereka takut untuk keluar dari rumah.
"Nak Ghaffar..."
Flashback off
Pemakaman telah selesai, Ghaffar masih berada di pemakaman. Duduk di antara kuburan orang tuanya, menatap kayu yang bertuliskan nama kedua orang tuanya.
'Ayah.... Ibu... Kalian tenang saja, saat Ghaffar sudah besar. Ghaffar akan membalas semua nya, membayar sepuluh kali lipat dari yang kalian rasakan. Adik tiri ibu, juga orang-orang itu... AKAN MATI DI TANGANKU!!!' ucapnya dalam hati, tangan Ghaffar mengepal erat
"Abang tau, apa yang kamu pikirkan. Dendam, takkan bisa membuat hidupmu tenang Ghaff." ucap pak Ustad Husein, namun Ghaffar tak peduli
Ia masih duduk membelakangi ustad Husein, dengan senyum menyeringai.
'Bahkan sejak malam itu, hidupku sudah tak tenang.' jawab Ghaffar dalam hati
"Ayo kita kembali" ajak ustad Husein, ia tau bila Ghaffar tak menerima ucapannya
Tapi, ia akan selalu berusaha. Membuat Ghaffar selalu di jalan yang benar, tak tersesat karena rasa dendam nya.
.
.
Pengacara duduk di depan Ghaffar, ia menjelaskan. Bila seluruh warisannya, akan turun saat usia Ghaffar menginjak 24 tahun.
Setiap bulan, Ghaffar akan mendapatkan kiriman 20 juta di ATM nya untuk uang jajan. Biaya sekolah terjamin, sampai ia kuliah. Sampai kapan pun itu, mau itu S2 atau pun S3.
Bahkan uang untuk bulanan rumah dan juga pelayan, sudah di pisahkan. Ghaffar hanya cukup sekolah dengan baik, menjalani hari-harinya.
Usaha yang tengah berjalan, akan di serahkan pada orang yang bisa di percaya tentunya. Ghaffar hanya mengangguk, wajahnya masih saja datar.
Namun ada satu hal yang berbeda sekarang, setelah ia melihat kematian sang ibu secara langsung. Ia jadi bisa melihat hal-hal, yang tidak bisa dilihat manusia pada umumnya.
MEREKA, orang-orang menyebutnya HANTU?? atau ARWAH GENTAYANGAN?
Tragedi yang terjadi pada orang tuanya, seolah menjadi tombol ON indera ke enam pada tubuhnya. Karena selain bisa melihat MEREKA, Ghaffar kini bisa mendengar isi hati orang lain.
.
.
Waktu berlalu, hari berganti hari. Minggu berganti minggu, bulan pun berganti bulan. Tak terasa sudah 9 tahun berlalu, sejak tragedi yang tak kan pernah dilupakan Ghaffar.
Pria kecil itu, kini sudah tumbuh menjadi remaja tampan. Yang di gandrungi banyak lawan jenis, parasnya yang rupawan dan auranya yang dingin. Membuat banyak perempuan, yang menjadikannya most wanted di sekolah.
Hanya bisa dilihat, tak bisa di sentuh.
Hari ini, tepat Ghaffar menginjak usia 18 tahun. Tak ada perayaan, ia menjalaninya seperti hari-hari biasa. Ujian kelulusan sudah semakin dekat, ia hanya membaca ulang buku yang sudah ia kuasai sepenuhnya.
Mudah baginya untuk lompat kelas, tapi ia hanya ingin menjalani semuanya seperti air mengalir. Selalu menjadi juara umum, membuat nilai plus. Bagi para orang tua siswi, berebut karena ingin menjadikan Ghaffar calon menantu. Selain rupawan, Ghaffar juga memiliki warisan yang tidaklah sedikit.
"Ari kamu teh ga bosen Ghaf, mojok mulu di perpus?" tanya Akbar, temannya sejak di bangku SD. Satu komplek, juga tetanggaan.
Sahabat yang begitu sabar, meski Ghaffar banyak berubah semenjak kepergian orang tuanya. Ghaffar yang ceria, jahil, dan selalu tersenyum. Kini menjadi Ghaffar yang pendiam, dingin, seolah tak tersentuh.
Ghaffar hanya diam, tak menanggapi pertanyaan Akbar. Akbar?? Dia tak peduli, hal ini sudah biasa baginya.
"Nanti pulangnya, kata ibu mampir ke rumah ya. Ibu teh bikin nasi kuning, kesukaan kamu." Ghaffar mengangguk, namun kedua matanya tetap fokus pada buku yang ia baca.
"Oya Ghaff... " Akbar celingukan ke kanan dan ke kiri
'Ada yang kirim pesan, kalo dia teh selalu mimpi buruk. Udah hampir seminggu ini, jadi dia ga konsen buat belajar.' bisik Akbar
Ghaffar menutup bukunya, ia taruh di atas meja.
"Anak mana?"
...****************...
Jangan lupa like, komen, gift dan vote nyaaaa.....🥰
"Anak mana?" tanya Ghaffar, dengan suara yang terdengar dingin tapi seksi. Seandainya para siswi mendengar, sudah pasti perpus langsung ramai.
"Anak IPS 5, dia ngajak ketemuan ntar malem. Gimana?? Kamu mau tolongin dia?" tanya Akbar, Ghaffr mengangguk setelah beberapa menit berpikir
"Ok, bilang kita akan ketemuan di kafe ZAYYAS. Di tempat biasa" Akbar mengangguk, ia mengambil ponselnya. Mengirim pesan pada salah satu klien nya, memberitahukan tempat dan waktu pertemuan.
ZAYYAS.... kafe yang Ghaffar bangun, sejak ia masih duduk di bangku 2 SMP. Bukan hanya manusia tamunya, tetapi juga arwah-arwah penasaran. Yang masih memiliki ganjalan, saat MEREKA masih hidup dulu. Dengan kata lain, kafe itu buka selama 24 jam. Ghaffar juga memilih untuk tinggal di kafe, selain lokasinya dekat dengan sekolah. Itu juga memudahkan dirinya, bertemu dengan 'MEREKA'.
Nama kafe yang merupakan gabungan, dari nama kedua orang tuanya. Zayyan dan Yasmin, nama orang penting dalam hidupnya.
"Beres ya udah atuh yuk kita ke kantin dulu. Masih cukup buat jajan mah, apa mau aku yang beliin?" Ghaffar menggelengkan kepalanya
Ia tak ingin memanfaatkan kebaikan sahabatnya, hanya perkara membeli makan di kantin.
"Ayo" Ghaffar pun bangun dari duduknya, Akbar menyusul dan kini berjalan di sampingnya.
"Loker kamu teh penuh Ghaf, sama surat cinta sama hadiah. Mau kamu kemanain?" Akbar memulai percakapan
"Suratnya buang, hadiahnya bagiin aja." jawab Ghaffar tanpa rasa bersalah, Akbar hanya mengangguk saja.
"Kamu teh ga takut gitu, kalo yang kasih surat pada sakit hati?" tanya Akbar, Ghaffar menggelengkan kepalanya.
"Lebih baik seperti ini, daripada memberi mereka harapan kosong." jawab Ghaffar, Akbar akhirnya paham
"Terus itu si Alexa, kamu teh mau diem aja. Dia suka nindas para siswi, yang suka sama kamu. Malah sekarang teh, ngaku-ngaku pacarnya kamu." Ghaffar menghela nafas
Perempuan itu benar-benar tak tau malu, wajahnya begitu tebal. Padahal Ghaffar sudah berkali-kali bilang, bila ia tak ada perasaan apapun padannya.
Bukan ia tak menghargai, semua yang sudah dilakukan perempuan itu selama ini. Selain karena ia tak suka perempuan agresif, ia juga tau bagaimana sifat dan watak Alexa. Perempuan yang akan menghalalkan segala cara, demi mendapatkan apa yang ia inginkan. Bahkan isi hatinya, begitu kotor dan buruk.
"Aku akan menekan orang tuanya, dia sangat mengganggu." jawab Ghaffar
"Setuju, kamu bisa menyembunyikan identitas kamu. Tapi kalo udah kaya gini mah, udah ga bener Ghaf. Banyak siswi yang di rugikan, bahkan ada yang sampe mau bunuh diri. Kamu tau kan berita itu..." Ghaffar mengangguk
'Benar, perempuan itu sudah melewati batas. Aku tak bisa terus membiarkannya, bisa jatuh korban meninggal dunia bila dibiarkan.' ucap Ghaffar dalam hati
Baru saja Ghaffar masuk pintu kantin, sorakan para siswi terdengar menggema. Ini yang tak di sukai Ghaffar, alasan ia malas pergi ke kantin.
"Kita langsung beli makanannya, terus langsung keluar." Akbar mengangguk
Mereka berjalan ke stand biasa, membeli 2 nasi bakar isi ayam rica dan 2 botol air mineral. Setelah selesai bayar, mereka gegas berjalan keluar. Lebih memilih makan di kelas, daripada di kantin.
"KAK GHAFFAR, TUNGGU" teriak seorang adik kelas. Akbar langsung berdiri di depan Ghaffar, seraya merentangkan salah satu tangannya. Bertujuan menghalangi siswi tersebut, agar tak mendekati sahabatnya. Bukan apa, Akbar hanya menghindari sikap Ghaffar yang mudah tersinggung. Ia tak suka, bila ada perempuan yang menyentuhnya.
"Ada apa?" tanya Akbar, wajah siswi itu terlihat langsung bete. Menatap tajam Akbar, namun pria itu tak peduli.
"Awas lo, gue mau bicara sama kak Ghaffar." ucap siswi yang bernama Lintang
"Mending kamu pergi, jangan ganggu waktunya. AWAS!!!" ucap Akbar, seraya mendorong lengan atas Lintang. Membuat siswi itu, harus menyingkir beberapa langkah ke samping.
Akbar dan Ghaffar melanjutkan langkahnya, mereka keluar dari kantin.
"CK.. AAAAAAAA... KESAAAALL" teriak siswi itu, tentu saja hal itu menjadi tontonan para siswa.
Ada yang menertawakannya, ada juga yang tak peduli.
"Ngeyel kamu tuh, udah di kasih tau juga. Kak Akbar, ga akan biarin siapapun deketin kak Ghaffar. Dia itu garda terdepan, yang ngejauhin cewe-cewe dari kak Ghaffar." ucap teman sekelasnya, yang bernama Maira
"Ck... Babunya berarti kan? Sombong banget.." balas Lintang
"Jangan kasar kamu, kalo kak Ghaffar denger. Kamu bisa habis di tangannya, gitu-gitu juga kak Ghaffar bakal bela orang-orang terdekatnya. Bahkan ada siswa yang tangannya patah, karena mengejek kak Akbar anak haram. Padahal kak Akbar itu hanya anak yatim, yang ditinggalkan ayahnya saat dia baru lahir. Ayahnya kak Akbar mengalami kecelakaan, lalu beliau meninggal di tempat." jelas teman lainnya, yang bernama Santi
"Lo tau banyak ya, lo suka ma si Akbar... Akbar itu..." balas Lintang tak suka, Maira dan Santi tertawa
"Semua murid di sini tau, kamu aja yang ga tau. Karena kamu anak pindahan, pokonya jangan macem-macem deh ma kak Ghaffar ma kak Akbar. Belum lagi, kamu juga harus hati-hati sama senior yang namanya kak Alexa." ucap Maira
"Mending jadi fans nya aja, menyukai kak Ghaffar dari jauh. Pria dingin tak tersentuh, namun memiliki aura yang luar biasa. Uhuuyyy..." sambung Santi
"Siapa lagi itu Alexa? Pacar kak Ghaffar??" tanya Lintang
"Bukan, tapi cuma cewe yang terobsesi. Yang ngaku-ngaku, jadi pacarnya kak Ghaffar. Padahal bukan sekali dua kali di tolak, tapi emang orang nya dableg. Banyak murid cewek, yang jadi korban bully nya. Hanya karena suka sama kak Ghaffar, aneh.." jawab Maira pelan
"Cih... Gue ga peduli ya, gue pasti bisa luluhin kak Ghaffar." ucap Lintang percaya diri
"Terserah kamu aja lah, kita mah udah peringatan. Ya udah ah, aku mau ke kelas duluan." ucap Santi, ia memilih menjauhi orang seperti Lintang ini
Keras kepala, egois, juga sombong. Untung cuma teman sekelas, si Lintang nya aja yang terus nempel. Calon biang masalah si Lintang tuh, mending jaga jarak.
"Aku juga ikut kamu ihh" Maira berlari menyusul Santi, membuat Lintang makin kesal
"KALIAN TUNGGUIN GUE.." teriaknya, yang juga ikut berlari
.
.
"Maaf, aku terlambat datang." ucap orang, yang mengirim pesan pada Akbar. Nampaknya benar, bila dia tak bisa istirahat dengan benar. Lingkar mata panda nya, terlihat begitu jelas. Sudah beberapa hari ini juga dia tak masuk sekolah. Tubuhnya semakin kurus, karena ia tak memiliki nafsu makan.
"Hmm" Akbar terkekeh, melihat reaksi orang yang mau di bantunya. Saat pria itu, mendengar jawaban singkat Ghaffar.
"Kenalin gue Akbar, dia Ghaffar" pria itu mengangguk
"Siapa yang tak mengenal kalian si sekolah, aku Damar." balas pria itu
"Siapa saja?" tanya Ghaffar, mengejutkan Damar
Padahal Ia belum cerita apapun, tapi Ghaffar sudah bertanya siapa saja?
"Mm.. itu.. aku dan sahabat ku Bayu." jawabnya
"Apa dia juga mengalami hal yang sama, dengan apa yang kamu alami?" tanya Ghaffar lagi, Damar mengangguk. Ghaffar menghela nafas, ia menatap lurus ke arah Damar.
Tapi... Bukan Damar yang ia tatap, melainkan sosok lain yang ada di belakang Damar.
"Mereka marah...
DEG
...****************...
Jangan lupa like, komen, gift dan vote nyaaaa.....🥰
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!