Indonesia
NovelToon NovelToon

Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

SARAPAN MENCEKAM DI DAPUR BERSAMA

“SINTING! SINTA SINTING! LU LIHAT APA YANG LU PERBUAT?!”

Suara bariton yang melengking itu memecah keheningan apartemen lantai 12 di pagi buta. Jingga berdiri di depan meja makan kayu minimalis dengan wajah yang lebih merah dari matahari terbit. Telunjuknya mengarah gemetar pada permukaan meja yang—menurutnya—adalah tempat kejadian perkara sebuah tindak kriminal tingkat tinggi.

Sinta, yang masih mengenakan daster satin warna navy dan handuk melilit di kepala, muncul dari balik pintu kamar mandi dengan wajah bantal yang sangat tidak bersahabat.

“Apaan sih, Jing?! Pagi-pagi udah teriak kayak anjing kejepit pintu! Berisik!” balas Sinta, tak kalah nyaring.

“Lu lihat ini!” Jingga menunjuk remah-remah roti gandum yang berceceran di atas meja. Tak hanya itu, ada tetesan selai kacang yang mulai mengering tepat di atas taplak meja mahal pemberian ibunda Jingga. “Gue udah bilang berapa kali? Makan itu pakai piring! Jangan langsung di atas meja kayak ayam lagi dipatokin!”

Sinta memutar bola matanya malas. Dia melangkah maju, merebut pisau selai yang masih tergeletak di sana, lalu sengaja menjatuhkan sisa remah roti di tangannya ke lantai. “Cuma remah roti, Jingga. Remah. Roti. Tinggal dilap pakai tisu juga hilang. Lu nggak usah lebay, deh. Kayak nggak pernah makan aja.”

“Ini bukan masalah makannya, ini masalah prinsip! Gue yang bayar iuran kebersihan apartemen ini lebih banyak, jadi gue punya hak buat rumah ini tetap steril dari remah-remah setan ini!”

“Iuran lebih banyak karena lu pakai listrik buat main game sampai jam tiga pagi!” Sinta berkacak pinggang, napasnya memburu. “Lagian, siapa yang suruh kita nikah, hah? Kalau bukan karena kakek lu yang maksa, gue juga ogah serumah sama cowok OCD kayak lu!”

Jingga mendengus, tawa sinis keluar dari mulutnya yang rapi. “Oh, jadi sekarang bawa-bawa kakek? Hebat. Lu pikir gue mau? Nikah sama cewek yang kalau tidur ngoroknya ngalahin suara traktor?”

“GUE NGGAK NGOROK, JING!”

“Tuh kan, lu manggil gue apa tadi?!”

“JINGGA! Maksud gue Jingga! Tapi kalau lu mau ngerasa terpanggil sebagai ‘Anjing’, ya silakan!” Sinta menyeringai puas melihat urat leher Jingga menonjol.

Pertengkaran pagi itu adalah rutinitas wajib. Sejak tiga bulan lalu, ketika surat nikah merah dan hijau itu terpaksa mereka tanda tangani di bawah ancaman pencabutan warisan, hidup mereka berubah menjadi medan perang. Di kantor, mereka adalah rekan divisi pemasaran yang saling bersaing. Di rumah, mereka adalah dua orang asing yang dipaksa berbagi oksigen.

Jingga melirik jam di dinding. Pukul 07.15 WIB. Matanya mendelik. “Kamar mandi! Gue harus mandi sekarang! Ada rapat penting sama klien jam delapan!”

Sinta yang menyadari hal yang sama, langsung melesat bagai anak panah. “Nggak bisa! Gue duluan! Rambut gue masih penuh sampo tadi!”

“Woi! Gue udah telanjang dada, Sin! Minggir!”

“Bodo amat! Siapa suruh lambat!”

BRAKK!

Pintu kamar mandi tertutup tepat di depan hidung Jingga. Dia bisa mendengar suara kunci diputar dari dalam.

“SINTA! Buka nggak?! Gue ada presentasi pagi ini! Kalau gue telat, bos Adrian bakal maki-maki gue!” teriak Jingga sambil menggedor pintu sekuat tenaga.

Dari dalam, Sinta tertawa jahat di bawah kucuran shower. “Biarin! Biar pacar gue makin benci sama lu! Lagian, enak aja lu mau mandi duluan. Gue ini istri lu secara hukum, hormati dikit kek!”

“Istri hukum, tapi hati lu buat Adrian, kan? Dasar istri durhaka! Cepetan, Sin! Gue hitung sampai tiga! Satu... dua...”

“Tiga! Tetep nggak bakal gue buka!”

Jingga mengerang frustrasi. Dia bersandar di pintu kamar mandi sambil memegangi handuknya yang hampir merosot. Di apartemen ini hanya ada satu kamar mandi di kamar utama yang bisa digunakan karena kamar mandi tamu sedang dalam perbaikan pipa. Benar-benar sebuah konspirasi alam semesta untuk menyatukan mereka dalam penderitaan.

Dua puluh menit berlalu dengan penuh sumpah serapah. Ketika pintu akhirnya terbuka, uap panas keluar bersamaan dengan sosok Sinta yang sudah terlihat segar dengan bathrobe-nya.

“Minggir, rakyat jelata,” ucap Sinta sombong sambil menepuk pipi Jingga dengan ujung jarinya yang basah.

Jingga tidak membalas. Dia langsung masuk, tapi sedetik kemudian teriakan lebih dahsyat terdengar.

“SINTA!!! KENAPA LU HABISIN SABUN MUKA GUE?!”

“Opsi darurat, Jing! Sabun muka gue habis!” teriak Sinta dari kejauhan, diiringi suara tawa yang sangat menyebalkan.

Pagi yang seharusnya tenang menjadi ajang balapan dengan waktu. Jingga mandi secepat kilat (bahkan mungkin ada bagian yang terlewat sabun), sementara Sinta sibuk menyetrika kemeja kerjanya dengan terburu-buru.

Saat mereka berdua berdiri di depan cermin besar di lorong, suasananya sangat canggung. Sinta sedang memasang anting, sementara Jingga sedang menyimpul dasi dengan gerakan kasar.

“Inget,” desis Jingga sambil menatap bayangan Sinta di cermin. “Turun di halte depan. Jangan sampai kita turun di lobi kantor barengan.”

“Lu pikir gue mau ketahuan nikah sama lu?” Sinta memoleskan lipstik merah menyala. “Adrian bisa mutusin gue kalau dia tahu gue satu atap sama saingan terberatnya.”

“Bagus kalau gitu. Gue juga nggak mau Luna tahu kalau cowok ganteng kayak gue udah punya 'beban' kayak lu di rumah.”

“Beban?!” Sinta berbalik, menatap Jingga tajam. “Lu yang beban! Lu nggak pernah buang sampah kalau nggak disuruh!”

“Sudah, diam! Ayo jalan!” Jingga menyambar kunci mobilnya. “Gue anter sampai halte. Cepat!”

Mereka keluar apartemen dengan jarak satu meter, seolah-olah tidak saling kenal. Di dalam lift, ada tetangga lantai sebelah, seorang ibu paruh baya bernama Bu RT yang selalu curiga.

“Lho, Mas Jingga sama Mbak Sinta berangkat bareng lagi?” tanya Bu RT dengan mata menyelidik.

Sinta langsung memasang senyum palsu paling manis sedunia. “Eh, Ibu. Iya nih, kebetulan tadi ketemu di depan lift. Searah kantornya, Bu, jadi lumayan hemat ongkos ojek online.”

Jingga hanya mengangguk kaku, hampir menyerupai gerakan robot. “Iya Bu, bantu sesama warga.”

Begitu pintu lift terbuka di lobi, senyum Sinta langsung hilang, digantikan oleh wajah datar. Mereka berjalan menuju parkiran basement dengan langkah lebar-lebar.

“Akting lu bagus juga, Sin. Cocok jadi pemain sinetron 'Istri yang Terzalimi Remah Roti',” sindir Jingga saat mereka masuk ke dalam mobil.

“Diem lu, Anjing!”

“Nama gue Jingga, Sinting!”

Mobil sedan hitam itu melesat membelah jalanan Jakarta yang mulai macet. Di dalam mobil, perang dingin berlanjut. Sinta sibuk membalas pesan WhatsApp dari Adrian dengan senyum-senyum sendiri, membuat telinga Jingga panas.

“Kenapa lu senyum-senyum gitu? Jijik gue lihatnya,” komentar Jingga ketus.

“Adrian bilang mau bawain gue sarapan nanti di kantor. Romantis banget, kan? Nggak kayak lu, pagi-pagi udah kasih sarapan remah roti sama omelan,” balas Sinta tanpa menoleh.

Jingga mencengkeram setir lebih kuat. “Cih, paling juga bubur ayam depan kantor. Luna malah mau ajak gue makan malam di restoran fine dining nanti malam. Kita bakal ngerayain proyek gue yang lebih sukses dari lu.”

“Jangan mimpi lu! Proyek itu bakal jatuh ke tangan gue!”

Begitu sampai di halte yang berjarak 500 meter dari kantor, Jingga menginjak rem dengan mendadak. CIIIITT!

“Turun,” perintah Jingga singkat.

“Nggak usah pakai ngerem kayak mau bunuh diri juga kali!” Sinta membuka pintu mobil, tapi sebelum turun, dia berbalik. “Eh, Jing. Inget, jemuran tadi pagi... lu yang angkat nanti malam kalau hujan. Jangan sampai daster gue basah lagi!”

“Angkat sendiri! Gue bukan babu lu!”

Sinta menutup pintu mobil dengan dentuman keras yang hampir membuat kaca mobil pecah. Jingga mengumpat pelan, lalu tancap gas menuju parkiran kantor.

Dia tidak tahu, bahwa hari ini bukan hanya soal remah roti atau rebutan kamar mandi. Di kantor nanti, sebuah kejutan besar sudah menanti mereka yang akan membuat pernikahan rahasia ini berada di ujung tanduk.

Jingga merapikan kerah kemejanya, menarik napas panjang, dan bergumam pada bayangan di spion tengah.

“Oke, Jingga. Saatnya pura-pura jadi jomblo berkualitas lagi.”

JEMURAN SUMPAH SERAPAH

Matahari Jakarta sore itu terasa lebih menyengat dari biasanya, seolah ikut memanaskan suhu hati Jingga yang baru saja mendapat teguran dari Adrian karena laporan mingguan yang dianggap ‘kurang greget’. Jingga membanting pintu apartemen dengan tenaga yang sanggup meruntuhkan pigura foto pernikahan palsu mereka di ruang tamu—yang untungnya hanya berisi foto pemandangan, karena mereka menolak berfoto berdua.

“SINTA! ANGKAT JEMURAN LU SEKARANG!” teriak Jingga tanpa melepas sepatu pantofelnya terlebih dahulu.

Hening. Tidak ada sahutan.

Jingga melongok ke ruang tengah. Kosong. Dia melangkah ke arah dapur, hanya menemukan sisa bungkus mi instan yang nampaknya dimakan Sinta sebelum berangkat kerja tadi pagi. “Dasar jorok. Cewek sinting itu bener-bener nggak ada fungsi estetikanya di rumah ini,” gerutunya sambil melempar tas kerja ke sofa.

Tiba-tiba, suara kunci diputar terdengar. Sinta masuk dengan napas terengah-engah, wajahnya ditekuk habis-habisan. Dia bahkan tidak melihat Jingga yang sedang berdiri berkacak pinggang di depan TV.

“Eh, Sin! Lu budek? Itu jemuran di balkon udah kering kerontang, bisa jadi kerupuk kalau lu biarin kelamaan!”

Sinta mendongak, matanya berkilat marah. “Berisik, Jing! Gue baru balik, habis kena semprot Adrian gara-gara lu yang sengaja naruh file salah di folder sharing! Lu mau sabotase karier gue, hah?!”

“File salah apaan? Lu-nya aja yang nggak teliti baca label! Dasar emosian!”

“Lu yang mancing!” Sinta melempar tasnya ke arah Jingga, yang dengan sigap ditangkis pria itu. “Lagian, kenapa lu nyuruh-nyuruh gue angkat jemuran? Kan jadwal lu yang nyuci dan jemur tadi pagi!”

Jingga terdiam sejenak. Otaknya memutar memori subuh tadi. Benar. Karena kalah hompimpa semalam, Jingga yang bertugas mencuci baju. “Ya... ya kan gue yang nyuci, otomatis lu yang angkat dong! Itu namanya pembagian kerja yang adil!”

“Adil pala lu peyang! Aturannya siapa yang jemur, dia yang angkat!”

Sinta berjalan menuju balkon dengan langkah yang menghentak-hentak bumi. Dia menyibakkan gorden dengan kasar, membiarkan cahaya oranye kemerahan masuk ke dalam ruangan. Jingga, yang tidak mau kalah, mengekor di belakangnya.

“Lu lihat itu! Gara-gara lu jemurnya nggak rapi, kemeja mahal gue jadi kusut!” protes Jingga sambil menunjuk deretan baju yang menggantung di hanger.

“Kemeja mahal tapi otaknya murah! Minggir!” Sinta mulai menarik baju-bajunya dari jemuran dengan gerakan brutal.

Namun, di detik itulah bencana terjadi.

Saat Sinta menarik salah satu daster satin tipisnya, ada sesuatu yang tersangkut. Sesuatu yang berwarna hitam, berbahan karet elastis, dan jelas-jelas bukan milik Sinta. Itu adalah celana dalam boxer milik Jingga. Dan malangnya, kaitan renda di daster Sinta entah bagaimana sudah membelit erat kawat jemuran sekaligus karet pinggang boxer Jingga.

“Eh, eh! Jangan ditarik paksa, Sin! Robek nanti kemeja gue!” teriak Jingga panik saat melihat dasternya Sinta menarik paksa jemuran.

“Ini nyangkut, Jing! Lu jemurnya gimana sih? Kenapa celana dalem lu bisa pelukan sama daster gue begini?!” Sinta berusaha melepaskan lilitan itu, tapi jari-jarinya yang gemetar karena emosi malah membuat simpulnya makin rumit.

“Sini, biar gue yang kerjain! Tangan lu itu kasar kayak parutan kelapa!” Jingga menepis tangan Sinta dan mencoba mengurai benang renda daster yang tersangkut di kancing boxer-nya.

Posisi mereka sekarang sangat konyol. Keduanya berhimpitan di balkon sempit lantai 12. Jingga membungkuk, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari tumpukan kain yang ‘bersatu’ itu, sementara Sinta menempel di punggungnya untuk melihat apa yang sedang terjadi.

“Buruan, Jing! Malu kalau ada tetangga lihat!” bisik Sinta dengan nada cemas yang tiba-tiba muncul.

“Makanya diem! Lu bikin gue nggak konsen!”

“Aduh, aduh... itu daster mahal gue! Jangan ditarik gitu!” Sinta tanpa sadar memegang bahu Jingga, mendorongnya lebih dekat ke arah pagar balkon.

Tepat saat itu, suara dehaman keras terdengar dari balkon sebelah.

“Ehem! Permisi... Mas Jingga, Mbak Sinta? Lagi ngapain ya sore-sore begini kok... mesra banget di balkon?”

Keduanya membeku. Suara itu tidak asing lagi. Itu adalah suara Pak RT, pria paruh baya yang punya hobi memata-matai warga dari balkon unitnya yang hanya terpisah sekat kaca tipis.

Jingga dan Sinta perlahan menoleh dengan leher yang terasa kaku. Mereka melihat Pak RT sedang memegang segelas kopi, menatap mereka dengan kacamata yang melorot ke ujung hidung.

“Eh... ini, Pak RT...” Sinta mencoba tertawa, tapi suaranya malah terdengar seperti ringkikan kuda yang sesak napas. “Kami lagi... anu... lagi belajar teknik jemur baju yang efektif!”

Jingga langsung menimpali dengan senyum palsu paling lebar yang pernah dia buat. “Iya, Pak! Ini namanya teknik cross-linking. Biar bajunya nggak terbang kalau ada angin kencang. Kebetulan Mbak Sinta lagi nanya gimana caranya, jadi saya praktekin.”

Pak RT menyipitkan mata. “Oalah... teknik jemur baju kok sampai nempel-nempel gitu badannya? Mas Jingga itu celana dalemnya kok kayak lagi ditarik-tarik sama Mbak Sinta?”

Sinta segera menarik tangannya dari bahu Jingga seolah-olah bahu pria itu baru saja dialiri listrik tegangan tinggi. “Enggak, Pak! Ini... ini kancingnya nyangkut! Iya, kancing!”

“Ooh, kancing,” Pak RT mengangguk-angguk, meski wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan total. “Hati-hati lho ya, Mas, Mbak. Di sini banyak angin. Jangan sampai 'barang-barangnya' jatuh ke bawah. Bahaya kalau kena kepala orang di lobi.”

“Siap, Pak! Aman!” sahut Jingga cepat.

Begitu Pak RT masuk kembali ke dalam unitnya, Jingga langsung berbalik dan menatap Sinta dengan tatapan membunuh. “Lu lihat?! Hampir aja reputasi gue hancur gara-gara lu!”

“Gara-gara gue?! Lu yang jemur baju kayak orang mabuk!” Sinta menarik daster dan boxer itu dengan satu sentakan kuat.

SREEEEKKKK!

Bunyi kain robek terdengar sangat jelas di telinga mereka. Keduanya terdiam. Sinta menatap dasternya yang kini memiliki lubang besar di bagian pinggang, sementara Jingga menatap boxer-nya yang karetnya sudah melar dan kancingnya hilang entah ke mana.

“Daster gue...” gumam Sinta dengan suara bergetar. “Ini daster hadiah dari Adrian, Jingga! Lu ngerusak daster dari pacar gue!”

Jingga, yang awalnya merasa bersalah, langsung berubah jadi sinis begitu mendengar nama Adrian. “Halah, daster gitu doang. Paling beli di pasar loak. Lagian, kenapa lu pakai daster pemberian selingkuhan lu di rumah gue?”

“Adrian bukan selingkuhan! Dia pacar gue! Lu yang selingkuhan di hidup gue karena lu suami paksa!” Sinta melemparkan boxer Jingga ke wajah pria itu. “Ganti rugi! Gue mau lu ganti daster ini sekarang juga!”

Jingga menangkap celana dalamnya dengan jijik. “Ogah! Beli sendiri! Duit lu kan banyak hasil dapet bonus dari 'menjilat' si Adrian di kantor!”

“Jaga mulut lu, Jing!” Sinta melangkah maju, tangannya sudah terangkat ingin mencubit lengan Jingga.

“Apa?! Mau apa lu?! Mau manggil gue 'Jing' lagi? Di depan Pak RT tadi lu manggil gue 'Mas', kan? Jijik banget gue dengernya!”

Sinta mendengus, napasnya memburu. “Itu akting, bego! Kalau gue nggak panggil lu 'Mas', si Pak RT bakal makin curiga kenapa ada cowok dan cewek tinggal satu atap tapi panggilannya kayak penghuni kebun binatang!”

Mereka berdua terengah-engah, berdiri di balkon yang kini sudah mulai gelap. Ketegangan di antara mereka bukan lagi sekadar soal jemuran, tapi soal ego yang terluka dan kecemburuan yang mereka tutupi rapat-rapat dengan kata-kata kasar.

“Denger ya, Sinting,” Jingga merendahkan suaranya, bicara tepat di depan wajah Sinta. “Besok, jangan pernah lagi jemur barang-barang lu deket kemeja kerja gue. Gue nggak mau bau parfum murahan lu nempel di baju gue saat gue ketemu Luna.”

Sinta tersenyum miring, sebuah senyum yang sangat menjengkelkan. “Oh, tenang aja. Gue juga nggak mau bakteri-bakteri dari badan lu nular ke baju-baju gue. Gue bakal kasih pembatas di jemuran ini. Sisi kanan punya gue, sisi kiri punya lu. Siapa pun yang ngelewatin garis, denda seratus ribu!”

“Deal!” Jingga menyambar jemuran bajunya yang tersisa. “Dan satu lagi. Jangan pernah lagi bahas daster dari Adrian itu di depan gue. Bikin mual.”

Jingga melangkah masuk ke dalam, membanting pintu balkon, dan meninggalkan Sinta sendirian di kegelapan sore.

Sinta menatap dasternya yang robek dengan perasaan campur aduk. Ada rasa kesal, tapi ada juga rasa aneh yang menggelitik di perutnya saat mengingat betapa dekatnya wajah Jingga tadi. Dia segera menggelengkan kepala kuat-kuat.

“Nggak mungkin. Gue pasti cuma laper. Iya, laper,” gumam Sinta sambil memeluk jemurannya.

Di dalam kamar, Jingga melempar boxer-nya yang rusak ke tempat sampah. Dia duduk di pinggir tempat tidur, menatap pantulan dirinya di cermin. Pikirannya melayang ke kejadian di balkon tadi. Kenapa dia merasa sangat kesal saat Sinta menyebut daster itu dari Adrian? Padahal dia sendiri punya Luna.

Jingga mengusap wajahnya kasar. “Sialan. Gara-gara remah roti sama jemuran, otak gue jadi ikutan sinting kayak dia.”

Malam itu, apartemen nomor 1205 kembali hening, tapi di balik pintu kamar yang tertutup masing-masing, ada dua orang yang sedang berpura-pura tidur sambil memikirkan bagaimana caranya agar tidak saling membunuh—atau saling jatuh cinta—esok hari di kantor.

TATAPAN ANEH DI KANTOR

Gedung perkantoran Sudirman yang menjulang tinggi itu selalu terasa seperti arena gladiator bagi Sinta. Namun pagi ini, udara di dalam lift terasa jauh lebih menyesakkan. Di sebelahnya, berdiri seorang pria dengan setelan jas abu-abu yang disetrika sangat rapi—hasil jerih payah pria itu sendiri setelah insiden jemuran semalam—yang tak lain adalah Jingga.

Mereka berdiri bersisihan, namun jarak di antara mereka terasa seperti bentangan Samudra Pasifik. Sinta sibuk mematut diri di dinding lift yang mengilap, sementara Jingga berpura-pura sangat sibuk memeriksa jam tangannya setiap lima detik.

Begitu pintu lift terbuka di lantai 15, Sinta melangkah keluar lebih dulu dengan tumit sepatu hak tingginya yang berbunyi klak-klik penuh percaya diri. Jingga menyusul beberapa detik kemudian, memastikan ada jeda waktu yang cukup agar orang-orang tidak mengira mereka berangkat bersama.

“Pagi, Sinta!” sapa sebuah suara bariton yang lembut.

Sinta langsung mengubah raut wajahnya. Wajah ‘garang’ yang tadi dia gunakan untuk menatap Jingga di mobil, kini berubah menjadi senyum manis nan ayu. “Pagi, Mas Adrian,” jawabnya manja.

Adrian, sang manajer divisi sekaligus kekasih Sinta, berdiri di depan meja kerjanya dengan segelas kopi mahal di tangan. Pria itu tampak sempurna dengan kemeja slim-fit putih yang memamerkan tubuh atletisnya.

Jingga, yang baru saja melewati meja mereka, mendengus pelan—suara yang hanya bisa didengar oleh Sinta. Sinta melirik tajam ke arah Jingga lewat ekor matanya, memberi kode ‘Diam lu, Anjing!’ lewat tatapan mata.

Jingga tidak peduli. Dia berjalan menuju kubikelnya sendiri yang hanya berjarak tiga meter dari meja Sinta. Di sana, seorang wanita cantik dengan rambut sebahu yang dicat cokelat madu sudah menunggunya dengan senyum lebar.

“Jingga! Kamu udah datang?” Luna, sahabat sekaligus kekasih Jingga, menyapa dengan riang.

“Hai, Lun. Udah dari tadi?” Jingga meletakkan tasnya dan langsung memberikan senyum terbaiknya—senyum yang menurut Sinta sangat menjijikkan karena terlihat sangat dibuat-buat.

“Baru aja. Oh iya, aku bawain kamu sarapan sandwich buatan Mama. Kamu pasti belum sarapan, kan?” Luna menyodorkan sebuah kotak bekal berwarna biru.

Jingga tertawa kecil, suara tawa yang sengaja dikeraskan agar terdengar sampai ke meja Sinta. “Wah, tahu aja aku lagi laper. Makasih ya, Lun. Kamu emang paling pengertian, nggak kayak... orang lain yang cuma tahu cara bikin keributan pagi-pagi.”

Sinta yang mendengar itu hampir saja mematahkan pulpen di tangannya. Sialan si Jingga! Nyindir gue ya lu?! batinnya berteriak.

“Sinta? Kamu kenapa?” tanya Adrian lembut, menyadari perubahan ekspresi kekasihnya.

“Eh, nggak apa-apa, Mas. Cuma... agak pusing dikit tadi malam kurang tidur,” dusta Sinta sambil memberikan senyum paling lemah lembut yang dia punya.

“Kurang tidur? Kamu ngerjain revisi laporan yang aku kasih kemarin ya? Maaf ya, aku nggak maksud bikin kamu lembur,” ucap Adrian penuh penyesalan. Dia kemudian duduk di pinggir meja Sinta, membuka sebuah kotak plastik berisi potongan buah mangga yang segar. “Nih, makan dulu. Biar seger. Aku suapi ya?”

Sinta terbelalak. Dia melirik ke arah Jingga. Benar saja, Jingga sedang menatap ke arah mereka dengan mata membelalak dan mulut yang sedikit terbuka. Ada rasa puas di hati Sinta melihat wajah kaget musuhnya itu.

“Aaaa...” Adrian menyodorkan sepotong mangga dengan garpu kecil ke arah mulut Sinta.

Sinta dengan sengaja membuka mulutnya lebar-lebar, memakan mangga itu sambil tetap menatap Jingga dengan tatapan kemenangan. Lihat nih, suami kontrak! Gue disuapi bos besar, lu cuma dapet sandwich basi!

Di seberang sana, Jingga merasa dadanya seperti baru saja disiram air mendidih. Dia tidak tahu kenapa dia merasa sangat panas melihat pemandangan itu. Bukannya dia benci Sinta? Bukannya dia ingin Sinta segera pergi dari hidupnya? Tapi melihat Adrian menyuapi istrinya—oke, istri rahasianya—membuat Jingga ingin melempar kotak bekal Luna ke arah kepala manajer itu.

“Jing? Kamu kok bengong?” Luna menyentuh lengan Jingga pelan.

Jingga tersentak. “Hah? Enggak, Lun. Itu... aku cuma heran aja, di kantor kok ada yang pacaran nggak tahu tempat gitu. Nggak profesional banget, kan?”

Luna menoleh ke arah Sinta dan Adrian, lalu tertawa kecil. “Ah, mereka kan emang udah lama pacaran, Jing. Wajar aja sih. Lagian Adrian kan manajernya Sinta, nggak ada yang berani negur juga.”

“Tapi tetep aja, Lun. Itu... itu merusak pemandangan!” gerutu Jingga.

Sepanjang pagi itu, suasana di kantor terasa sangat aneh. Jingga tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Setiap kali dia mendengar tawa Sinta atau suara Adrian yang memanggil Sinta dengan sebutan ‘Sayang’, hatinya bergejolak.

Untuk membalas dendam, Jingga sengaja bersikap lebih akrab dengan Luna. Dia tertawa lebih keras, menarik kursi Luna lebih dekat ke arahnya, dan bahkan membiarkan Luna merapikan rambutnya di depan semua orang.

“Lun, nanti makan siang bareng ya? Aku yang traktir,” ucap Jingga dengan volume suara yang cukup untuk didengar sampai ke lantai bawah.

“Tentu! Aku mau makan ramen di tempat baru itu ya?” sahut Luna senang.

Sinta yang sedang mengetik laporan, tanpa sadar menekan tombol backspace berkali-kali sampai satu paragraf tulisannya hilang. Dia merasa telinganya panas. Si Jingga bener-bener ya! Pamer banget sama si Luna. Mentang-mentang Luna cantik dan kalem, dia pikir dia menang?!

Konflik memuncak saat jam istirahat makan siang hampir tiba. Sinta sedang berjalan menuju pantry untuk mengambil air minum ketika dia berpapasan dengan Jingga di lorong sempit dekat ruang fotokopi. Tidak ada orang lain di sana.

“Puas lu pamer kemesraan sama Luna?” desis Sinta saat jarak mereka cukup dekat.

Jingga berhenti melangkah, menyandarkan bahunya ke dinding lorong dengan gaya angkuh. “Puas dong. Daripada lu, disuapi buah kayak monyet di kebun binatang. Lu nggak malu dilihatin anak-anak kantor?”

“Monyet?! Lu bilang gue monyet?!” Sinta maju satu langkah, menatap tajam mata Jingga. “Adrian itu romantis, nggak kayak lu yang cuma tahu cara ngomel soal remah roti!”

“Romantis? Lu yakin dia romantis? Dia cuma kasihan sama lu karena lu kelihatan kayak cewek kurang gizi yang nggak diurus suaminya!”

“Jingga! Jaga mulut lu!” Sinta mengangkat tangannya, ingin mencubit lengan Jingga seperti yang dia lakukan di balkon kemarin.

“Apa?! Mau nyubit lagi? Hati-hati, Sin. Kalau ada yang lewat dan lihat kita begini, mereka bakal mikir kita lagi selingkuh,” bisik Jingga sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Sinta. “Atau lebih parah lagi... mereka bakal tahu kalau kita ini suami istri yang hobi berantem.”

Sinta terdiam, napasnya terasa berat. Jarak yang sangat dekat ini membuatnya bisa mencium aroma parfum maskulin Jingga—parfum yang sama yang selalu memenuhi kamar mandi mereka setiap pagi. Aroma itu mendadak membuatnya bingung.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah lift.

“Sinta? Kamu di sana?” Itu suara Adrian.

Sinta langsung mendorong dada Jingga dengan kuat, membuat pria itu hampir terjungkal ke mesin fotokopi. Dia segera merapikan bajunya dan berteriak, “Iya, Mas! Aku lagi... lagi ngecek kertas fotokopi yang macet!”

Jingga hanya bisa mengumpal dalam hati sambil merapikan jasnya yang sedikit kusut. Dia segera meloyor pergi lewat pintu darurat sebelum Adrian melihatnya.

Di dalam tangga darurat, Jingga bersandar di pintu sambil memegangi dadanya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Bukan karena takut ketahuan, tapi karena ada sesuatu yang salah dengan perasaannya.

“Sial. Gue kenapa sih?” gumam Jingga pada kegelapan tangga darurat. “Kenapa gue jadi emosian tiap kali lihat si Sinting itu sama bos Adrian? Gue kan sayang sama Luna... iya, gue sayang sama Luna.”

Jingga mencoba meyakinkan dirinya sendiri, namun bayangan Sinta yang sedang tertawa manis bersama Adrian terus menghantui pikirannya.

Sementara itu, di meja kerjanya, Sinta juga tidak tenang. Dia menatap layar komputernya tanpa melihat apa pun. Sentuhan tangan Jingga di bahunya saat di lorong tadi seolah masih tertinggal di sana. Ada perasaan aneh yang bergejolak—perasaan yang tidak pernah dia rasakan saat bersama Adrian.

“Enggak, enggak. Gue cinta sama Adrian. Dia mapan, dia ganteng, dia manajer,” gumam Sinta pelan. “Si Jingga itu cuma musuh. Cuma partner nikah paksa yang menyebalkan.”

Namun, saat matanya kembali bertemu dengan mata Jingga dari kejauhan kubikel, ada tatapan aneh yang saling bertautan selama beberapa detik. Sebuah tatapan yang penuh amarah, namun di dalamnya tersimpan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kebencian.

Sesuatu yang mereka berdua belum berani beri nama.

Hari itu, suasana kantor divisi pemasaran tidak pernah sama lagi. Di permukaan, semuanya terlihat normal: Jingga dengan Luna, Sinta dengan Adrian. Namun di bawah permukaan, ada api kecil yang mulai menyala, siap membakar habis kontrak pernikahan rahasia yang mereka buat.

Dan puncaknya akan terjadi malam ini, saat jemuran di balkon kembali menjadi saksi bisu pertengkaran mereka yang semakin... pribadi.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!