Pagi itu tidak berbeda dari pagi-pagi sebelumnya di rumah besar keluarga Wijaya.
Mela bangun sebelum matahari sepenuhnya naik. Ia menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi, menyiapkan baju kerja dan dasi yang ia setrika rapi. Tidak lupa, sepasang sepatu dan kaos kaki serta tas yang biasa suaminya bawa.
Setelahnya ia turun, menyusun obat-obatan untuk mertuanya sesuai urutan jam, lalu ke dapur, memastikan sarapan tersaji rapi, memeriksa ulang meja makan, piring sejajar, sendok garpu mengilap, dan taplak tidak berlipat agar semua terlihat sempurna.
Dua puluh tahun. Ia telah melakukan semua ini selama dua puluh tahun, mengabdi pada suami dan ibu mertuanya, mencoba menjadi istri dan menantu yang sempurna. Tapi, semua tampak sia-sia.
Rahman turun dari tangga dengan kemeja kerja yang ia siapkan. Seperti biasa, Mela menyodorkan jas padanya, membenarkan kerah kemeja, dan merapikan kancing manset suaminya. Tangannya bergerak cepat, tanpa perlu berpikir ulang.
"Nanti, jangan menunggu ku. Aku pulang terlambat karena ada rapat," ucap Rahman sambil meraih ponselnya.
"Baik," jawab Mela singkat.
Tidak ada cemburu. Tidak ada pertanyaan, atau apa pun yang perlu dipastikan.
Mereka duduk di meja makan. Mertua Mela sudah lebih dulu berada di sana, menyantap bubur dengan wajah datar. Tidak berapa lama, putrinya, Lina datang dan langsung duduk di sisi ayahnya.
Mela melayani suami dan putrinya dengan begitu cekatan. Baru setelahnya, ia duduk di kursinya dalam diam.
Di antara bunyi sendok yang menyentuh porselen, Mela akhirnya angkat bicara dengan suara yang terdengar tenang.
"Aku ingin bercerai."
Udara sekitar seolah berhenti bergerak.
Rahman mendongak dengan alis yang berkerut tajam. "Apa?"
Mertua Mela meletakkan sendoknya dengan keras. "Kau bilang apa? Bercerai?" sentak nya.
Mela mengangkat wajahnya. Tatapannya lurus, wajahnya dingin, menantang. "Ya." Mela menatap Rahman. "Aku ingin kita bercerai. Aku sudah mengajukan permohonan ke pengadilan. Nanti, pengacaraku yang akan menghubungi mu."
Rahman tertawa pendek, seperti seseorang yang mendengar sebuah lelucon yang konyol. "Sudah tua begini masih suka bercanda?"
"Aku tidak bercanda."
Rahman berdiri. "Kalau ini karena aku pulang malam—"
"Bukan," potong Mela cepat. "Aku bahkan tidak peduli kau pulang atau tidak."
"Lalu, karena apa?" suara Rahman meninggi.
Mela menatap piringnya yang nyaris tidak tersentuh. "Aku hanya tidak ingin melanjutkan pernikahan ini."
Mertua Mela berdiri dengan wajah memerah. "Wanita tidak tahu diri! Setelah semua yang kami berikan, kau bicara cerai semudah itu?"
Mela berdiri, membungkuk sedikit. "Aku sudah menyiapkan semua kebutuhan hari ini. Obat ibu ada di meja kecil. Makan siang juga sudah aku buatkan." Ia berbalik pergi, meninggalkan meja makan yang kini dipenuhi amarah dan rasa bingung.
Di kamarnya, Mela duduk di tepi ranjang. Ia menghela napas panjang, mendongak sambil mengedipkan matanya. "Jangan menangis, Mela! Semua yang kau lakukan ini sudah benar," gumamnya pada diri sendiri.
Ia tidak ingin menangis lagi. Yang dia pikirkan sekarang adalah, bercerai dari suaminya dan memulai kehidupan yang baru. Tidak peduli, jika nanti dia kalah dalam hak asuh anak, tapi yang jelas, dia sudah memberikan yang terbaik untuk keluarga kecilnya.
...****************...
Sidang pertama akhirnya di laksanakan di pengadilan agama.
Mela hadir di temani kuasa hukumnya, sedangkan Rahman datang bersama ibu dan di dampingi dua kuasa hukumnya.
Hakim mengecek kehadiran pemohon dan tergugat, lalu meminta mediator untuk membimbing mediasi di antara kedua belah pihak.
Mereka duduk berhadapan. Pengacara Rahman berbicara panjang lebar tentang reputasi, kehormatan keluarga, dan usia pernikahan. Semua terdengar seperti pidato yang pernah Mela dengar berkali-kali, hanya kali ini, ia berada di sisi yang berlawanan.
"Kami hanya ingin tahu alasannya," ucap mertua Mela, menatapnya tajam. "Setidaknya agar keluarga ini tidak dipermalukan."
Semua mata tertuju padanya.
Mela menggenggam tangannya di atas pangkuan. "Tidak ada alasan yang pantas untuk didengar."
Rahman mendesah frustrasi. "Kau ingin pergi, silakan. Tapi, jangan membuat seolah aku bukan suami dan ayah yang baik untuk keluarga kita "
Mela tersenyum tipis. "Aku tidak pernah mengatakan kau tidak baik. Justru, kau sangat baik dan bertanggung jawab."
"Lalu, kenapa kau ingin bercerai, hah?"
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Mela menarik napas dalam sambil memejamkan mata, saat ingatan itu datang tanpa diundang.
Sepuluh hari yang lalu, ia masuk ke ruang kerja Rahman hanya untuk mengembalikan map klien yang tertinggal. Map kulit hitam itu terjatuh dan terbuka, memperlihatkan sebuah foto yang membuat jantung nya seolah berhenti berdetak.
Foto tersebut, Rahman terlihat dengan seorang wanita muda. Jari mereka saling bertaut dan Rahman tersenyum lebar, senyum yang tidak pernah Rahman berikan padanya.
Mela memungut foto itu dengan tangan gemetar. Tapi, ia tidak langsung marah ataupun berteriak. Ia membuka map itu dan menemukan lebih banyak hal yang seharusnya tidak ia lihat.
Mela membuka matanya perlahan, lalu mengangkat wajahnya. "Alasanku tidak penting, tapi keputusanku sudah final."
Lina yang sejak tadi diam akhirnya bersuara, bukan untuk bertanya ataupun membelanya, tapi justru menyudutkan nya. "Mama egois. Papa tidak melakukan apa-apa, kenapa mama begitu jahat?"
Mela menoleh, menatap putri semata wayangnya yang ia besarkan dengan sepenuh hati. Ia tersenyum miris, saat putrinya memandangnya seperti orang asing.
"Baik! Jika kalian ingin benar-benar tahu alasannya."
Babak ini bukan tentang pembelaan. Ini tentang keberanian untuk tidak lagi menjelaskan diri sendiri.
Mela mengeluarkan dokumen. Ia membukanya, meletakkannya di meja satu per satu. Mulai dari Foto-foto, kontrak pemberian hadiah properti, tanggal dan satu nama yang tidak asing bagi suami Mela.
"Hubungan ini sudah berjalan sepuluh tahun," ucap Mela pelan. "Wanita itu bernama Camila."
Ruangan mendadak ricuh setelah tahu alasan Mela menggugat cerai Rahman.
"Awalnya, aku sudah meminta pengacaraku untuk memberitahu mu alasannya, tapi kau selalu beralasan sibuk hanya sekedar untuk bertemu." Mela menaikkan sudut bibirnya. "Pasti, kau sibuk dengan wanita itu, bukan?"
"Itu tidak benar. Semua tidak seperti yang kau pikirkan!" Rahman bangkit berdiri dengan dada yang naik turun.
Sementara, Mertua Mela membaca kontrak dengan tangan gemetar, lalu melemparkannya ke meja. "Itu semua demi bisnis. Harusnya kau lebih paham! Sudah tua, tapi tidak fleksibel," ucap mertuanya dengan nada ketus. "Camila bisa membantu mengembangkan bisnis keluarga. Sedangkan, kau bisa apa, hah?"
Lina bahkan mengambil foto itu dan menatapnya lama. "Tante Camila baik padaku. Kenapa Mama begitu pada Tante Camila?"
Mela menarik napas panjang mendengar kalimat itu keluar dari mulut putrinya. Rasanya seperti belati yang menusuk lebih dalam daripada pengkhianatan mana pun. Tapi, anehnya, hatinya justru terasa kosong.
"Sepuluh tahun," ulangnya dengan suara rendah. "Itu bukan satu kesalahan atau sekedar khilaf."
Ia menatap Rahman. "Aku tidak akan menuntut apa pun darimu," lirihnya. "Aku hanya ingin pergi."
Ia berdiri, mengambil tas kecilnya. "Untuk selanjutnya, kalian bisa membicarakan semuanya dengan pengacaraku."
Mela berbalik, berjalan ke arah pintu tanpa ada satupun orang yang berniat menghentikannya. Namun, ia tiba-tiba berhenti di ambang pintu. "Aku berharap, kau menyetujui permohonan ku. Karena, jika aku bertahan, aku akan kehilangan diriku sendiri."
Pintu tertutup perlahan. Dan, untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, Mela melangkah tanpa menoleh ke belakang.
Ruangan sidang itu mendadak terasa lebih dingin dari biasanya. Tidak ada suara selain detak jam di dinding dan napas yang tertahan.
Hakim menunduk sejenak, membuka berkas di hadapannya, lalu mengangkat wajah dengan tatapan tegas, sebelum akhirnya membacakan keputusan perceraian.
"Demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa."
"Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya."
Di kursi penggugat, jemari Mela saling menggenggam erat, sampai-sampai buku jarinya memutih. Di seberang sana, Rahman, pria yang dulu ia panggil suami hanya menunduk dengan rahang mengeras.
"Menyatakan perkawinan antara Penggugat, Mela Agustina dan Tergugat, Rahman Arya Wijaya putus karena perceraian. Dan, menetapkan hak asuh anak jatuh kepada pihak tergugat.
Mela memejamkan mata dan menarik napas panjang, mencoba berlapang dada menerima keputusan tersebut. Karena, ia sudah menduga hak asuh anak akan jatuh ke tangan Rahman.
Beberapa detik berlalu sebelum hakim menutup berkasnya perlahan. Tatapannya menyapu ruangan, memastikan semua telah mendengar. Kemudian, tangannya meraih palu kayu di meja.
"Demikian diputuskan dalam musyawarah Majelis Hakim pada hari ini, Senin, 17 Maret 2025, dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum."
"Sidang dinyatakan selesai dan ditutup."
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan itu menggema, menjadi garis akhir dari sebuah kisah yang dulu dimulai dengan janji sehidup semati.
Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada tangisan. Hanya kalimat formal yang mengakhiri dua puluh tahun kehidupan bersama.
Mela duduk tenang di kursinya. Ia sudah membayangkan hari ini berkali-kali, namun ketika benar-benar tiba, perasaannya justru terasa hampa. Ia tidak merasa lega maupun sedih. Ia merasa seperti halaman buku yang sudah selesai ditutup.
Rahman menandatangani berkas terakhir dengan rahang mengeras. Mertuanya menghela napas berat, sementara Lina duduk membatu, matanya menatap lantai.
Setelah semua selesai, mereka keluar dari ruang sidang, dan langsung di sambut udara luar yang terasa menyengat.
Mela berbincang dengan kuasa hukumnya, lalu mereka saling berjabat tangan, sebelum berpisah.
Mela menatap punggung kuasa hukumnya yang semakin menjauh, lalu beralih ke arah langit yang cerah, terlalu cerah untuk sebuah perpisahan. Namun, detik berikutnya, sebuah senyuman tersungging di bibirnya.
"Sepertinya, kau sangat senang dengan perceraian ini."
Mela menoleh kearah sumber suara. Wajahnya datar, melihat mantan suaminya mendekat bersama ibu dan putri nya.
"Tentu saja dia senang," timpal Dyah, mantan ibu mertuanya. "Dia mendapatkan harta gono-gini yang cukup besar."
Mela menghela napas pendek. "Sejak awal, aku tidak pernah menuntut apapun," balas Mela tegas.
"Apa kau pikir aku bodoh?" seru Rahman. "Atau... Kau ingin orang-orang memandangku sebagai pria yang kejam karena tidak memberimu harta, hah?"
Rahman menaikkan sudut bibirnya. "Tapi, tidak masalah. Anggap saja, itu semua uang kompensasi karena kau sudah merawat kami selama ini."
Mela mendesah sambil tersenyum sinis. "Jadi, selama ini kau menganggap ku pengasuh?"
"Kau yang bilang," seru Rahman. "Sebelum kita menikah, kau hanya seorang pelayan. Bahkan sampai sekarang, hidupmu bergantung pada ku." Ia lalu mendekat, berbicara pelan dengan nada meremehkan. "Kita sudah bercerai dan kau tidak mempunyai sandaran hidup lagi. Aku penasaran, berapa lama kau akan bertahan hidup dengan uang itu."
Mela hanya diam tanpa niat untuk membalas. Memang benar, hidupnya dulu sangat pas-pasan. Tapi, bukan berarti setelah ia menikah dengan Rahman, yang merupakan seorang pengusaha terpandang, hidupnya justru bergelimang harta.
Dia hanya menjadi ibu rumah tangga pada umumnya. Mengurus rumah, melayani suami, merawat ibu mertuanya dan mengasuh putri semata wayangnya.
Dia selalu menggunakan uang yang Rahman berikan padanya untuk kebutuhan sehari-hari dan lebih mementingkan kebutuhan keluarga daripada dirinya sendiri.
Mungkin, itu sebabnya Rahman tidak pernah mengajaknya pergi ke pesta untuk sekedar menjadi pendampingnya saat bertemu dengan rekan bisnisnya. Rahman malu untuk membawanya karena ia tidak mengerti apapun.
Tapi, ia tidak pernah mempermasalahkannya karena pekerjaannya sudah cukup membuatnya lelah.
"Tidak perlu repot-repot memikirkan hidupku," ucap Mela datar. "Bisa bercerai denganmu, adalah berkah besar bagiku."
Rahman melotot tajam. Rahangnya mengeras. "Kau—"
Ucapannya terhenti, saat sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan tangga pengadilan.
Begitu pintu mobil terbuka, seorang wanita turun dengan gaun rapi dan sepatu hak tinggi. Rambutnya disanggul anggun, senyumnya lebar, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Dia adalah Camila.
Ia melangkah cepat ke arah Rahman, meraih lengannya, lalu mencium pipinya secara terang-terangan.
"Bagaimana hasil keputusan nya, sayang?" tanyanya manja.
Rahman tidak menepisnya. Bahkan tersenyum lebar. "Semua sudah beres. Kami resmi bercerai."
"Syukurlah kalau begitu."
Mela masih berdiri di sana, melihat semuanya dengan mata yang tenang. Ia berbalik, memilih pergi dari sana, daripada menjadi penonton drama pengkhianatan mereka.
Namun, Dyah bersuara cukup keras, seolah sengaja agar ia mendengarnya.
"Mulai sekarang, tidak perlu ada yang ditutup-tutupi lagi," ucap Dyah. "Kau lebih pantas menjadi pendamping Rahman. Tidak hanya membantu mengembangkan bisnis keluarga, tapi kau juga cantik dan berbakti, Camila."
Camila tersenyum, masih memeluk lengan Rahman. Sedangkan, Mela yang mulai menjauh hanya bisa tersenyum mendengarnya.
Lalu, Dyah menoleh pada Lina. "Mulai sekarang, kau harus memanggil Camila, mama."
Lina ragu sejenak. Ia menatap punggung Mela, sebelum beralih pada Camila dan berkata pelan, "Mama!"
Camila tersenyum lebih lebar, memeluk Lina. "Anak baik."
Langkah Mela terhenti. Namun, ia tidak menoleh. Tangannya mengepal erat, dadanya terasa sesak.
Lina memang dekat dengan Camila. Bahkan di saat seperti ini, putrinya itu memilih berdiri di pihak Camila hanya karena Camila sering memberinya barang mewah dan mengajaknya pergi ke tempat-tempat mewah. Tidak seperti dirinya yang selalu membatasinya.
Tapi, ia melakukan semua itu demi kebaikan Lina. Sayangnya, putrinya tidak mengerti dan justru menganggapnya kuno.
Dan sekarang, saat Mela mendengar putrinya memanggil wanita lain, mama, ia benar-benar mengerti. Bukan hanya pernikahannya yang berakhir, tetapi perannya sebagai istri dan ibu di keluarga itu telah sepenuhnya dihapus.
Ia tidak marah, tidak juga tersenyum. Ia hanya diam, lalu kembali menuruni tangga pengadilan sendirian. Dan kali ini, ia tidak merasa kehilangan apa pun.
Kereta bergerak perlahan meninggalkan kota.
Mela duduk di dekat jendela, kepalanya bersandar dan matanya terpejam. Ia menyimpan koper di bagasi atas tempat ia duduk dan meletakkan tas kecil di bawah kursi. Di dalamnya hanya ada pakaian secukupnya dan beberapa barang pribadi. Tidak ada perhiasan, tidak ada kenangan yang ingin ia simpan.
Perlahan, ia membuka matanya, menatap sebuah kunci tua berwarna kusam dan kartu pemberian Rahman.
Dia tersenyum miris, teringat saat membereskan barangnya dan hendak angkat kaki dari keluarga Wijaya.
Dengan angkuh, Rahman dan mantan ibu mertuanya terus meremehkan nya, menganggap ia tidak akan bertahan hidup tanpa mereka.
Terlebih lagi, saat Rahman ingin memberikan beberapa aset dan properti sebagai bagian harta gono-gini, Camila dan Dyah justru melarang dan menganggapnya tidak pantas mendapatkan nya, karena selama ia menjadi bagian keluarga Wijaya, ia tidak berkontribusi apapun.
Mela tersenyum sarkas. Dia tidak berkontribusi dalam keluarga? Lucu sekali.
Ia memang tidak membantu mengembangkan bisnis keluarga, mencari uang untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Tapi, ia yang sudah menjaga, merawat dan melayani keluarga Wijaya. Tidak hanya satu atau dua tahun. Tapi, selama dua puluh tahun. Dan, itu bukan waktu yang singkat.
Tanpa dirinya, apa Rahman bisa bekerja dengan tenang? Apa kondisi Dyah akan membaik? Dan, apa putrinya bisa tumbuh sehat seperti sekarang?
Mereka selalu menganggap remeh usaha dan pengorbanannya. Bahkan, sampai tega mengkhianatinya. Tidak hanya Rahman, tapi mantan ibu mertua dan juga putrinya sendiri membela orang luar.
Mela masih menatap dua benda itu. Meski, Camila dan Dyah melarang Rahman memberikan sebagian harta padanya, tapi Rahman tetap memberinya uang.
Ia akan menggunakannya dengan baik setelah sampai di tempat kelahirannya, di Desa Morana.
Mela mengambil tasnya, menyimpan kedua benda tersebut lalu, menatap keluar jendela.
Setiap kilometer yang dilewati terasa seperti lapisan beban yang terlepas dari dadanya. Gedung-gedung tinggi berganti sawah, suara bising berubah menjadi angin yang menyentuh jendela.
Ia teringat rumah itu, rumah dengan lantai kayu yang berderit, halaman kecil dengan pohon mangga tua, dan bau tanah basah setelah hujan. Tempat yang dulu ia tinggalkan demi menikah, demi kehidupan yang ia anggap lebih layak.
Tidak berapa lama, Kereta berhenti.
Mela bangkit, menenteng tas kecilnya lalu mengambil koper di bagasi atas. Perlahan tapi pasti, ia turun dari kereta, di sambut udara segar desa Morana dengan kesederhanaan yang nyaris Mela lupakan.
Ia berjalan menyusuri jalan desa, dengan koper yang ditarik pelan. Beberapa orang menoleh, sebagian mengenalinya, sebagian hanya tersenyum ramah.
Kini, ia sampai di depan Rumah kayu warisan orang tuanya yang masih berdiri, meski terlihat tua dan catnya mengelupas.
Mela memasukkan kunci lalu, membuka pintu perlahan dan di sambut debu bersama kesunyian yang tidak menakutkan.
Mela masuk perlahan, pandangannya menyapu seluruh ruangan. Lalu, ia meletakkan kopernya, berjalan perlahan dengan tangan yang menyentuh satu persatu perabotan yang tertutup kain putih yang berdebu tebal.
Ia lalu menarik salah satu kain. Debu langsung berterbangan, membuatnya batuk dan sesak. Lalu, ia duduk di kursi, menarik napas panjang dan tersenyum kecil.
"Akhirnya, aku pulang," bisiknya pada diri sendiri.
Mela akhirnya bangkit, menarik kopernya ke kamar. Saat membuka pintu, lagi-lagi debu menyambutnya. Dia meletakan koper di sudut ruangan, lalu mulai menggulung lengan bajunya, membersihkan rumah, di mulai dari kamarnya.
"Sepertinya, besok aku harus membeli alat kebersihan yang baru dan beberapa peralatan untuk membersihkan halaman dan kebun," gumam Mela.
Ia menyeka keringat, kembali menyapu, membersihkan sarang laba-laba. Lalu, berpindah di ruang tamu dan dapur.
Mela menarik napas dalam dengan tangan berkacak pinggang. Dapur yang sudah ia tinggalkan begitu lama, masih terlihat sama. Masih menggunakan kayu bakar dan peralatan seadanya.
Dia mulai membersihkannya, menyalakan kayu bakar di tungku untuk merebus air.
Tanpa terasa, hari sudah malam. Mela menutup pintu kayu, mematikan lampu ruang tamu dan memilih istirahat lebih awal.
Dia berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit dalam diam.
Kini, ia mulai merasakan kesunyian. Hanya suara hewan malam yang terdengar di luar. Namun, ia tidak takut sama sekali. Dan, ia harus membiasakan diri dengan kesendirian ini.
...****************...
Keesokan paginya di Morana, matahari masuk melalui celah kayu rumahnya. Namun, Mela tidak buru-buru bangun.
Ia masih berbaring di kasurnya, melihat jam di ponsel dan tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak perlu bangun lebih pagi dari siapa pun. Tidak perlu menyiapkan keperluan orang lain, tidak perlu melayani orang lain dan memikirkan jadwal obat orang lain.
Meski begitu, Mela akhirnya bangun ketika matahari sudah naik. Hari ini, ia akan pergi ke pasar, membeli beberapa peralatan kebersihan, kebutuhan dapur dan kamar mandi.
Ia segera membersihkan diri dan bersiap. Saat, ia keluar dari rumah, tetangga mulai memperhatikannya. Mereka hanya menyapa dengan senyuman, tanpa berani bertanya.
Namun, begitu ia berlalu, mereka mulai berkumpul.
"Bukannya itu Mela. Kenapa tiba-tiba dia pulang ke desa? Apa dia di usir suaminya yang kaya itu?"
"Hush! Jangan bicara sembarangan. Nanti, kalau Mela dengar bagaimana?"
"Memangnya, kamu tidak penasaran?"
"Ya... Penasaran, sih. Tapi, itu bukan urusan kita."
Mela yang berjalan belum terlalu jauh, samar-samar mendengar pembicaraan mereka. Namun, ia hanya tersenyum tanpa niat berhenti atau menjelaskannya.
Ia sudah menduga, kepulangannya akan menjadi bahan pembicaraan tetangganya. Apalagi, ia pulang seorang diri, setelah dua puluh tahun lamanya.
Namun, ia tidak peduli dengan penilaian mereka. Yang terpenting, ia akan menata hidupnya menjadi lebih baik, di tanah kelahirannya.
Tidak berapa lama, Setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan, Mela pulang menaiki mobil pickup kecil yang mengangkut barang belanjaannya.
Setelah semua barang di turunkan, ia langsung memasang kompor dan tabung gas, lalu memasak air untuk membuat teh hangat.
Setelahnya, ia menyapu halaman, membersihkan rumput liar, lalu duduk di teras sambil menikmati secangkir teh hangat.
Dia memejamkan matanya, menikmati udara sejuk tanpa ada suara keluhan dan tanpa ada perintah. Hanya burung dan angin yang terdengar.
"Sepertinya, aku harus merenovasi rumah dan membuat lahan untuk menanam sayur-sayuran," gumam Mela.
Hari-hari berikutnya berjalan sederhana. Ia mulai membersihkan rumah sedikit demi sedikit, mengganti papan yang lapuk, mengecat ulang dinding dengan warna netral, menanam cabai dan sayur di pekarangan.
Tetangga mulai memperhatikannya. Salah satunya, yang bernama Darmi, memberanikan diri untuk berkunjung ke rumah Mela.
"Apa yang kamu lakukan, Mel?" tanya Darmi.
Mela mendongak, lalu tersenyum. "Eh, mbak Darmi." Ia berdiri. "Aku hanya menanam sayuran saja. Ada apa mbak?"
"O-oh, tidak ada apa-apa. Hanya saja... Sudah beberapa hari yang lalu kamu pulang, tapi aku belum sempat menyapa mu," ujar Darmi.
Mela tersenyum. "Tidak apa-apa, mbak."
"Tapi... " Darmi sedikit mendekat. "Kalau boleh tahu, kenapa tiba-tiba kamu pulang? Maksud ku..." ia menoleh kearah dalam rumah Mela, lalu kembali menatapnya.
"Dimana Suami dan anakmu?"
Mela hanya terdiam. Tanpa sadar, tangannya mulai menggenggam erat peralatan yang ada di tangannya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!