Indonesia
NovelToon NovelToon

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

1. Ketika Takdir Memaksaku Menjadi Dia

Dina menutup halaman terakhir novel itu dengan keras.

“Belvina Laurent benar-benar bodoh,” gumamnya.

Buku itu ia lempar ke samping ranjang.

“Sudah punya segalanya…” ia mendengus pelan. “Masih saja mengejar pria yang jelas tidak menginginkannya.”

Nama itu terlintas begitu saja.

Alden Virel.

Dingin. Jelas. Tanpa usaha menyembunyikan penolakan.

Dina menyandarkan punggungnya.

“Kalau aku di posisinya, aku sudah pergi sejak awal.”

Lampu dimatikan. Malam menelan semuanya.

-

Keesokan harinya, saat Dina hendak pergi mencari kerja, kenyataan menampar lebih keras.

“Dina, mau lamar kerja lagi?” suara seorang ibu menyapanya dengan nada meremehkan. “Mending kerja di rumah Ibu saja. Daripada cari kerja, tapi tidak dapat-dapat.”

Dina menahan napas sejenak.

“Terima kasih, Bu,” ucapnya sopan. “Saya masih ingin mencoba di tempat lain.”

Ia berlalu.

"Dia pikir aku tidak tahu…" gumamnya dalam hati. "Dia ingin aku kembali supaya bisa tenang dengan wajahku yang seperti ini."

Dina pernah bekerja di rumah wanita itu. Suaminya dikenal tidak bisa menjaga jarak.

Para pembantu sering jadi sasaran. Beberapa bahkan pergi dengan masalah yang tidak pernah mereka ceritakan lagi.

Gajinya kecil. Alasannya selalu sama-- lebih baik daripada tidak punya apa-apa.

Dina memilih pergi.

Ia berjalan lagi hari ini. Dari satu tempat ke tempat lain.

Sejak keluar dari panti, tidak ada yang benar-benar menunggunya. Beasiswa membawanya sampai kuliah, tapi tidak cukup untuk membuat hidupnya lebih mudah.

Ia mengandalkan apa yang ia punya. Namun itu saja tidak pernah cukup.

Tatapan orang-orang selalu sama. Menilai. Meremehkan. Menolak, bahkan sebelum ia sempat membuktikan diri.

Hingga akhirnya—

“Maaf, kami mencari kandidat yang lebih… representatif.”

Kalimat itu lagi.

Dina hanya mengangguk. Tersenyum tipis, seolah sudah terbiasa.

Ia keluar tanpa berkata apa-apa. Langkahnya cepat. Terlalu cepat.

Tiiinnnn—

TERLAMBAT.

Matanya melebar. Sebuah mobil melaju kencang, dan—

BRUK!

Tubuhnya terpental, melayang sesaat sebelum jatuh keras di aspal.

Gelap.

Namun kesadarannya tidak benar-benar hilang.

Tanpa ia sadari, jiwanya telah berpindah… ke dalam tubuh wanita lain.

Belvina Laurent.

Suara gaduh menyusup perlahan. Bisik-bisik. Langkah kaki. Cahaya yang terlalu terang.

“Bukankah itu Belvina…?”

“Istri Alden, 'kan?”

“Ya ampun, dia jatuh…”

“Memalukan sekali.”

“Sejak dulu memang ceroboh.”

“Dia benar-benar tidak cocok berdiri di samping Alden.”

Dina mengerjap pelan.

Suara-suara itu terasa asing… namun entah kenapa menekan. Seolah-olah semua orang di ruangan itu, menertawakannya.

Dina menatap sekelilingnya.

Langit-langit tinggi. Lampu kristal berkilauan. Lantai marmer dingin menempel di pipinya.

"Ini ... lobby hotel?" pikirnya. "Bukankah tadi aku di jalan? Ditabrak mobil?"

Orang-orang mengelilinginya.

“Belvina!”

Suara itu tajam. Seseorang menarik tangannya kasar.

“Bisa tidak berhenti mempermalukan diri sendiri?” suara pria itu dingin menusuk. “Atau memang itu satu-satunya hal yang bisa kau lakukan?”

Dina tertegun. Ia menoleh. Wajah itu… Terlalu tampan. Terlalu dingin.

Alden Virel.

Napasnya tercekat.

“Siapa… kau?” tanyanya pelan, bingung.

Alden tersenyum sinis. “Setelah jatuh, sekarang pura-pura amnesia?”

“Lepas.” Dina menarik tangannya. Tatapannya lurus. Tidak mundur. “Jangan sentuh aku sembarangan.”

Alden menatapnya. Ada jeda singkat.

“Setelah jatuh, sekarang pura-pura tidak mengenal siapa pun?”

Dina mengernyit.

“Aku tidak peduli siapa kamu.” Suaranya tidak tinggi. Tapi cukup jelas. “Aku bukan sesuatu yang bisa kamu perlakukan sesukamu.”

Alden terdiam sepersekian detik.

Berbeda. Wanita ini… berbeda. Biasanya, Belvina akan merengek, berpura-pura lemah, mencari simpatinya. Bukan melawan seperti ini.

Rahangnya mengeras saat menyadari makin banyak orang yang memerhatikan.

“Ayo pulang. Jangan bikin masalah lagi,” ucapnya datar.

Ia menunduk sedikit, suaranya merendah di telinga wanita itu.

“Jangan paksa aku berbuat kasar, Belvina.”

Nada itu dingin. Berat. Membuat tubuh Dina refleks menegang.

Alden meraih tangannya lagi dan menariknya pergi.

"Tunggu…"

Dina membeku.

"Kenapa dia memanggilku Belvina?"

Jantungnya berdegup tak teratur.

“Apa… ini…”

Kepalanya tiba-tiba berdenyut hebat. Sakit yang tajam menjalar tanpa ampun.

Potongan-potongan ingatan menghantam kesadarannya—

Ballroom dipenuhi cahaya lampu kristal. Musik mengalun pelan, menahan percakapan dalam nada sopan yang terukur.

Malam itu adalah pesta pernikahan rekan bisnis penting Alden.

Alden berdiri tegap di tengah kerumunan. Setelan gelapnya rapi, sikapnya tenang seperti biasa. Terlalu tenang untuk suasana seperti ini.

Di sampingnya, Belvina tidak bergerak jauh. Gaun merah yang ia kenakan mencuri perhatian. Namun sorot matanya sesekali bergeser, menangkap sesuatu di antara keramaian.

Lalu pintu terbuka. Beberapa kepala langsung menoleh.

Seraphina melangkah masuk. Gaun putihnya sederhana, tapi kehadirannya seolah meredam seisi ruangan. Satu per satu orang mendekat, menyapanya dengan hangat.

Bisik-bisik mulai muncul, cukup pelan untuk dianggap sopan, cukup jelas untuk tetap terdengar.

Belvina tidak ikut menoleh lagi. Tangannya turun di sisi tubuh, lalu perlahan meraih lengan Alden. Genggamannya sedikit lebih kuat dari seharusnya.

Alden melirik sekilas. Tidak melepaskan, tapi juga tidak menanggapi.

Langkah Seraphina berhenti tepat di depan mereka.

“Alden,” sapanya lembut.

Alden mengangguk tipis. “Seraphina.”

Tak ada yang lebih dari itu. Namun jeda di antara keduanya terasa cukup panjang untuk menarik perhatian.

Seraphina kemudian mengalihkan pandangannya.

“Belvina,” ucapnya, tersenyum ringan. “Kamu terlihat sangat anggun malam ini.”

Belvina menatapnya sejenak, lalu mengangkat dagu sedikit.

“Terima kasih.”

Nada suaranya datar. Sopan, tapi jelas menjaga jarak.

Seraphina tidak berubah. Senyumnya tetap sama.

“Aku senang melihat kalian hadir.”

Belvina tidak langsung menjawab. Jarinya menggeser sedikit posisi di lengan Alden. Cukup untuk menunjukkan bahwa ia masih di sana.

Beberapa detik berlalu.

Seraphina melangkah setengah langkah lebih dekat.

“Ah—”

Tubuhnya condong ke depan.

Alden menangkap bahunya sebelum benar-benar jatuh. Gerakan yang cepat. Refleks. Namun posisi mereka terlalu dekat.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Alden singkat.

“Iya,” jawab Seraphina pelan, tersenyum tipis. “Sepertinya aku kurang fokus.”

Belvina melepaskan lengan Alden. Satu langkah maju.

“Kalau kehilangan keseimbangan,” ucapnya tenang, “sebaiknya cari tempat lain untuk jatuh.”

Beberapa orang berhenti bicara.

Seraphina tampak terdiam sesaat. “Aku tidak bermaksud—”

“Semua orang melihat,” potong Belvina, masih dengan nada yang sama. “Akan lebih baik kalau tidak memberi ruang untuk salah paham.”

Tatapannya tidak terangkat tinggi. Justru itu yang membuat ucapannya terasa lebih dingin.

Alden menoleh ke arah Belvina. Sekilas. Lalu kembali ke depan.

“Cukup,” katanya datar. “Kita tidak di sini untuk ini.”

...✨"Tidak semua kehidupan kedua adalah keberuntungan, kadang itu ujian untuk tidak mengulang kesalahan yang sama."...

..."Cinta yang dipaksakan bukan kebahagiaan, melainkan cara paling pelan untuk menghancurkan diri sendiri."...

..."Ia kehilangan segalanya di hidup lama, hanya untuk diberi kesempatan menolak hal yang sama di hidup baru"✨...

.

To be continued

2. Mulai Hari Ini, Bukan Belvina

Belvina tidak menjawab. Ia hanya mundur setengah langkah, kembali ke posisinya semula.

Namun kali ini, ia tidak menyentuh Alden lagi.

Senyum Seraphina memudar, tapi tidak benar-benar hilang.

“Aku hanya ingin menyapa dengan baik…”

Beberapa orang di sekitar mulai saling melirik.

"Ingin menyapa..." Belvina tersenyum sinis. "...atau ingin menjatuhkan diri ke pelukan suami orang?"

“Sudah cukup,” suara Alden tiba-tiba terdengar. Rendah. Dingin.

Belvina menoleh.

Tatapan pria itu tajam. Penuh peringatan.

“Kamu berlebihan.”

Belvina tidak langsung menjawab. Jarinya menegang di sisi tubuh.

“Dia yang—”

“Cukup, Belvina.”

Nada suaranya tidak naik. Namun tidak memberi ruang untuk membantah.

Beberapa orang berhenti bicara. Makin banyak tatapan yang mengarah ke mereka.

“Jadi kamu percaya dia?" Belvina menatap Alden tak percaya. " Lebih membela dia daripada istrimu sendiri?”

Alden tidak menjawab. Ia hanya menatapnya dengan tatapan datar.

Belvina terdiam.

Alden berbalik pergi tanpa menunggu. Tanpa menoleh.

Belvina terpaku beberapa detik. Lalu—

“Al—!”

Ia mengejar pria itu. Tumit tinggi itu beradu cepat dengan lantai marmer. Langkahnya tergesa. Napasnya mulai tidak teratur.

“Al— tunggu!”

Namun pria itu tidak berhenti. Tidak juga melambat. Belvina terus mengejarnya hingga di lobby.

Langkahnya terlalu cepat. Tumitnya terpeleset.

“Ah—!”

BRUK!

Tubuhnya jatuh.

Benturan itu memantul di lantai marmer. Beberapa orang tersentak.

Namun Alden tidak menoleh. Ia terus berjalan menuju pintu keluar.

Belvina terbaring di lantai dingin. Pandangannya kabur. Lampu di atasnya berputar. Suara-suara mulai menjauh.

“Kenapa…”

Suaranya nyaris tidak terdengar. Dadanya terasa sesak.

Pandangan itu semakin gelap. Semakin jauh. Dan di detik terakhir kesadarannya, semuanya… berhenti.

Gelap.

“Ah—!”

Dina meringis, memegangi kepalanya. Tubuhnya goyah. Ingatan pemilik tubuh asli itu terasa menusuk hati.

Alden langsung menghentikan langkahnya. Alis pria itu berkerut, melihat ekspresi kesakitan yang tak dibuat-buat.

“Belvina?”

Hangat. Cairan mengalir dari pelipisnya. Dina menyentuhnya. Darah. Napasnya memburu.

Lalu—

Potongan ingatan menyerbu.

Suara-suara.

“Perjodohan keluarga.”

“Untuk bisnis.”

“Aku tidak bisa hidup tanpa dia—”

Darah di pergelangan tangan.

Tangisan.

Lalu— kamar gelap.

Gaun tipis.

Penolakan.

Berulang.

Dina terdiam. Napasnya tertahan.

“Segila itu…” bisiknya lirih.

Potongan itu terasa… familiar. Terlalu familiar. Matanya membesar.

“Tidak mungkin… Ini... gak masuk akal."

Suara Dina nyaris tak terdengar.

“Ini bukan cerita…” napasnya tersendat. “Ini jebakan.”

Ia menatap, tangannya. Kulit halus. Jari-jari ramping. Bukan miliknya.

Ia menatap tubuhnya yang dibalut gaun mewah. Lalu menatap pria di depannya. Semuanya terasa asing… sekaligus nyata.

Kesadaran itu menghantam tanpa ampun. Ia tidak lagi berada di tubuhnya sendiri. Ia adalah, Belvina Laurent.

Dan satu hal langsung terpatri dalam benaknya, ia tidak akan hidup seperti wanita itu.

Belum sempat ia mencerna semuanya—

“Tsk.”

Tanpa banyak bicara, Alden mengangkat tubuhnya.

Belvina tersentak. “Apa yang kau lakukan?”

Alden mengabaikannya. Genggamannya justru semakin kuat.

“Kalau kau ingin berpura-pura berubah…” bisiknya dingin, “pastikan kau bisa mempertahankannya.”

Langkahnya tak berhenti.

Dan entah kenapa, ucapan itu terdengar seperti ancaman.

Belvina refleks menegang, namun tidak melawan. Rahangnya mengatup.

"Ini pria yang dikejar-kejar sampai segitunya?" batinnya.

Dari jarak sedekat ini, tatapannya menyapu wajah Alden tanpa ragu. Terlalu sempurna. Dan terlalu dingin.

Tapi bagi Belvina yang sekarang, sikapnya menjijikkan. Tatapannya dingin. Tidak berubah.

Sudut bibir Belvina bergerak tipis, nyaris tak terlihat.

"Belvina yang lama… benar-benar tidak waras. Kalau harus mengemis cinta pria seperti ini… lebih baik aku mati lagi," gerutu Belvina dalam hati.

Langkah Alden yang semula mantap… sedikit melambat. Alisnya berkerut samar. Wanita di pelukannya— diam.

Terlalu diam.

Tidak meronta. Tidak menangis. Tidak memohon. Tidak seperti biasanya.

Tatapannya turun sedikit. Dan untuk sesaat, mata mereka bertemu.

Dingin.

Bukan tatapan penuh harap yang biasa ia lihat. Bukan juga tatapan putus asa.

Tapi…

Tatapan datar. Kosong. Seolah-olah, ia tidak lagi peduli.

Rahang Alden mengeras. Ada sesuatu yang tidak beres.

"Apa lagi yang sedang ia rencanakan sekarang?" pikirnya.

Pintu mobil sudah terbuka. Sopir berdiri kaku di sampingnya.

Tanpa berkata apa-apa, Alden menurunkan tubuh Belvina. Tidak ada kelembutan.

Kaki Belvina hampir goyah saat menyentuh tanah, namun ia segera menyeimbangkan diri.

"Masuk.”

Satu kata perintah dari Alden. Dingin. Tegas.

Belvina menatapnya sekilas. Tatapan itu singkat, namun cukup untuk menunjukkan sesuatu yang berbeda.

Lalu ia masuk ke dalam mobil. Tanpa bantahan.

Pintu mobil tertutup. Suasana langsung hening.

Belvina menyandarkan kepalanya ke kursi. Matanya menatap lurus ke depan, kosong. Namun di dalam kepalanya, satu pikiran berputar jelas.

“Aku tidak akan hidup seperti ini lagi.”

Di sampingnya, tanpa ia sadari, Alden masih menatapnya.

Lebih lama dari yang seharusnya. Tatapannya perlahan berubah. Bukan lagi sekadar dingin.

Tapi… mengamati.

“Dia berubah. Sejak jatuh tadi. Jangan-jangan—”

Kalimat itu terputus. Alisnya berkerut tipis. Tatapannya turun ke pelipis wanita itu. Jejak darah masih terlihat samar di sana.

Alden mendecak pelan.

“Bersihkan lukanya.” Perintah singkat. Tanpa emosi.

Sopir di depan langsung menjawab, “Baik, Tuan.”

Belvina mengernyit.

"Apa maksudnya? Dia menyuruh sopir membersihkan lukaku?"

Pintu di sampingnya terbuka.

Sopir itu sudah berdiri di luar, kotak P3K di tangannya.

“Nyonya… izinkan saya.”

Belvina menatap Alden sekilas. Tatapannya tipis. Tidak senang. Tangannya mengepal. Lalu ia menoleh ke arah sopir.

“Tidak perlu.” Suaranya datar.

Ia mengambil kotak P3K dari tangan sopir, lalu meraih tisu di sampingnya. Dengan gerakan rapi, ia membersihkan darah di pelipisnya sendiri.

Tanpa meringis. Tanpa keluhan. Seolah luka itu… tidak berarti apa-apa.

Alden memerhatikan. Tidak ada tangisan. Tidak ada permohonan.

Aneh.

"Sejak kapan dia… setenang ini?"

 

...✨“Yang paling menyakitkan bukan ditinggalkan, tapi tidak pernah dipilih sejak awal.”...

...“Mengemis cinta dari pria yang tidak menginginkanmu bukan cinta. Itu penghinaan.”...

...“Wanita yang mencintainya sudah mati. Yang tersisa… tidak akan memohon lagi.”✨...

.

To be continued

3. Tidak Tertarik

Belvina menutup kotak P3K itu kembali, lalu menyerahkannya tanpa melihat.

Sopir segera menerimanya dan kembali ke kursi kemudi. Dalam hati ia bergumam,

"Malam ini... nyonya berbeda. Aku kayak gak kenal dia." Ia melirik Belvina dari kaca spion.

"Nyonya itu… diam."

Alden bersandar. Tatapannya masih tertuju pada wanita di sampingnya, sejenak lebih lama dari yang seharusnya.

“Jalan.”

Satu kata. Pendek. Tegas.

“Baik, Tuan.”

Mesin mobil berdengung pelan. Lampu kota melintas di balik kaca.

Belvina tidak menoleh. Tatapannya tetap lurus ke depan. Seolah pria di sampingnya… tidak ada.

Alden menyilangkan kaki, bersandar santai. Namun matanya tidak lepas dari wanita itu.

“Cukup dramanya?” Nada suaranya datar. Rendah. Tajam.

Tidak ada jawaban. Belvina bahkan tidak berkedip.

Alden tersenyum tipis. Sinis.

“Jatuh di depan banyak orang, lalu berpura-pura berubah?” ia memiringkan kepala sedikit. “Metode baru untuk cari perhatian?”

Belvina bergeming. Satu detik. Dua detik. Lalu—

“Kalau aku butuh perhatian,” jawab Belvina akhirnya, suaranya tenang, “aku tidak akan memilih cara yang mempermalukan diri sendiri.”

Alden terdiam. Singkat. Namun cukup untuk membuat udara di dalam mobil berubah.

Tatapan pria itu mengeras. “Berani sekali bicaramu hari ini.”

Dina akhirnya menoleh. Perlahan. Tatapannya bertemu langsung dengan Alden. Tidak goyah. Sedikit pun.

“Baru hari ini kamu sadar?” balasnya ringan.

Alden menatapnya beberapa detik lebih lama. Mencari sesuatu. Celah. Kepalsuan. Kepanikan.

Namun yang ia temukan-- tidak ada. Hanya ketenangan yang asing.

“Jangan lupa posisimu,” ucapnya dingin. Satu kalimat. Tapi penuh tekanan.

Belvina mengangguk kecil. Seolah mengerti. Namun yang keluar dari bibirnya—

“Sebagai istri?” Nada suaranya tipis. Hampir seperti mengejek. “Tenang saja. Aku tidak tertarik melanggar batas.”

Alis Alden bergerak tipis. “Aku juga tidak tertarik,” balasnya cepat.

Dina tersenyum samar. Kali ini benar-benar terlihat.

“Bagus,” katanya pelan. “Berarti kita sepakat.”

Alden mengalihkan pandangannya ke depan. Sejak ia mengenalnya, baru kali ini ia tidak bisa membaca wanita di sampingnya ini. Dan itu… mengganggunya.

Sang supir kembali melirik dari kaca spion. "Apa ini masih Nyonya Belvina yang aku kenal?" batinnya penuh tanya.

Sementara Belvina kembali menatap ke luar jendela. Lampu kota berpendar di matanya. Di balik ketenangannya, satu keputusan sudah bulat.

"Cukup."

Ia tidak akan menguranginya.

"Harga diriku terlalu mahal untuk mengemis cinta. Apalagi..." ia melirik Alden. "...padanya. Dia bukan satu-satunya pria tampan dan mapan di dunia.”

-

Mobil itu akhirnya berhenti di depan rumah besar bergaya modern klasik.

Pintu terbuka.

Alden turun lebih dulu tanpa menoleh.

Belvina keluar beberapa detik kemudian. Langkahnya pelan. Matanya terangkat, baru pertama kali ini ia melihat tempat itu.

Rumah itu besar. Terlalu besar.

Pilar tinggi. Lampu gantung berkilauan dari dalam. Halaman luas yang terawat sempurna.

"Ini rumah atau istana?"

Namun wajah Belvina tetap datar. Tidak ada kekaguman berlebihan. Tidak ada kegugupan.

Hanya… mengamati. Detail demi detail. Seolah sedang memetakan tempat yang akan ia tinggali.

Di dalam, para pelayan sudah berbaris rapi.

“Selamat datang, Tuan. Nyonya.”

Suara mereka serempak.

Beberapa pelayan saling melirik. Lalu diam.

Belvina berjalan lurus. Tenang. Menjaga jarak. Tanpa satu pun usaha mendekat. Langkahnya bahkan tidak menyesuaikan langkah Alden. Seolah, mereka bukan pasangan.

Alden juga menyadarinya. Namun ia tidak berkata apa-apa.

“Siapkan makan malam,” ucapnya singkat.

“Baik, Tuan.”

Belvina berhenti sejenak di tengah ruangan. Matanya kembali berkeliling.

Tangga besar di sisi kanan. Ruang keluarga di kiri. Lorong panjang menuju bagian dalam.

Potongan-potongan ingatan mulai muncul.

Kamar utama di lantai dua. Ruang kerja Alden, tidak boleh dimasuki sembarangan.

Area makan keluarga, tempat paling sering dipenuhi keheningan.

Ia mengerjap pelan. "Jadi… ini rumah Belvina."

Namun ia langsung meralatnya. Matanya melirik Alden sekilas. "Ah, tidak. Ini rumah si es balok arogan itu."

Di belakangnya, bisik-bisik mulai muncul, nyaris tak terdengar.

“Kenapa Nyonya diam saja…?”

“Biasanya langsung ke Tuan…”

“Aneh ya…”

Belvina mendengarnya. Namun tidak menoleh. Tidak peduli. Karena, Belvina yang sekarang tidak hidup untuk dilihat orang lain.

-

Makan malam disiapkan dengan cepat. Di atas meja panjang, hidangan lengkap.

Alden sudah duduk lebih dulu.

Belvina datang beberapa saat kemudian. Ia menarik kursi, dan duduk. Di seberang Alden.

Bukan di sampingnya.

Satu gerakan kecil. Namun cukup untuk membuat seorang pelayan hampir menjatuhkan gelas.

Alden mengangkat alis tipis. Sikap Belvina jelas menarik perhatiannya.

“Kenapa di sana?” tanyanya datar.

Belvina menatapnya sebentar. “Lebih nyaman.”

Jawaban singkat. Tanpa basa-basi. Tanpa senyum. Tanpa usaha menyenangkan.

Alden tidak langsung menjawab. Ia mengambil gelasnya, menyeruput pelan. Matanya tidak lepas dari wanita itu.

“Tidak ingin duduk di dekatku?” nada suaranya tipis, mengandung sesuatu yang sulit ditebak. Menguji.

Dulu, wanita ini akan langsung duduk di sampingnya tanpa diminta.

Sekarang?

“Tidak.”

Jawaban itu datang cepat. Tenang. Tanpa ragu.

Sendok di tangan pelayan berhenti sesaat.

Alden menyandarkan tubuhnya. Tatapannya menajam.

“Atau memang tidak berani?”

Serangan halus.

Belvina terdiam sejenak. Lalu, ia mengangkat kepalanya. Tatapan mereka bertemu.

“Tidak tertarik.”

Jawaban itu ringan. Namun seperti batu yang jatuh di keheningan.

Alden terdiam.

Sejak jatuh di lobby hotel tadi, tidak ada usaha dari Belvina untuk mendekat. Tidak ada obsesi. Tidak ada rasa ingin memiliki.

Dan justru itu, terasa jauh lebih mengganggu.

Alden meletakkan gelasnya pelan. Bunyinya kecil. Namun cukup jelas di tengah suasana yang menegang.

“Jangan main permainan yang tidak bisa kau selesaikan.” Nada suaranya turun. Lebih dingin. Lebih berat.

Belvina menatapnya beberapa detik. Lalu, ia tersenyum tipis. Bukan senyum manis. Bukan juga penuh arti.

Lebih ke… tajam.

“Tenang saja,” katanya pelan. “Aku tidak tertarik pada hal yang tidak bernilai.”

Satu detik. Dua detik. Tidak ada yang bergerak. Namun sesuatu berubah.

Jari Alden yang tadi bertumpu di meja berhenti. Tatapannya mengeras samar, garis rahangnya menegang tipis. Bukan marah yang meledak, lebih seperti ada bagian yang terusik.

Ia tidak langsung membalas. Hanya menatap wanita di depannya. Lebih lama. Lebih dalam. Seolah memastikan kalimat itu benar-benar keluar dari Belvina.

“Kau sekarang suka merendahkan sesuatu tanpa melihat cerminnya dulu?” ucapnya akhirnya, pelan. Tenang, tapi jelas bukan datar lagi.

 

...✨“Cinta yang harus diminta berulang kali… bukan cinta, tapi kebiasaan merendahkan diri.”...

...“Ketika perhatian berhenti, barulah rasa penasaran dimulai.”✨...

.

To be continued

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!