Cahaya lembut dari lampu meja sisi tempat tidur menerangi ruangan kamar yang biasanya sepi. Nara berdiri di depan cermin, matanya tak bisa lepas dari bayangan dirinya yang mengenakan lingerie merah yang memperlihatkan setiap lekukan bagian tubuhnya dengan sempurna. Siang tadi dia sengaja membeli lingerie itu untuk menggoda suaminya malam ini.
Suara tetesan air dari kamar mandi masih terdengar jelas. Tak lama kemudian Arga keluar dari kamar mandi dan langsung mendekatinya, melingkarkan tangannya di pinggangnya dan memeluknya dari belakang. Dia hanya memberikan ciuman singkat di kepala istrinya.
"Maaf ya, sayang, hari ini sangat melelahkan. Aku ingin tidur lebih awal supaya besok bisa bangun pagi." ucap Arga, perlahan dia melepaskan tangannya dan berjalan menuju ke sisi ranjang.
Senyum diwajah Nara seketika memudar, dia memutar badannya dan menghampiri suaminya yang siap berbaring di ranjang. "Sayang, sudah satu bulan kita tidak melakukannya, apa kamu tidak merindukanku?"
Arga tersenyum lembut, meraih tangan istrinya dan segera berdiri. Ciuman singkat dia sematkan di bibir Nara. "Aku merindukanmu, sayang. Selalu. Tapi sekarang aku benar-benar lelah. Akhir-akhir ini aku sedang sibuk dengan proyek baru, jadi tidak ada waktu untuk menemanimu dulu. Tidak apa-apa kan kamu cari kesibukan dengan teman-teman kamu dulu supaya tidak jenuh dirumah terus?"
Nara menatap tangan Arga yang masih menggenggam tangannya, harapan yang tadinya muncul jika malam ini dia bisa menghabiskan malam panjang dengan suaminya mulai sirna sedikit demi sedikit. Dia mengangguk pelan, mencoba menyembunyikan rasa kecewa yang muncul di dalam dadanya.
"Kamu sudah bekerja keras, aku bisa mengerti." Kata-katanya terdengar lebih lemah dari yang dia harapkan. Dia menarik tangannya dan berjalan mengitari ranjang, membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sampai ke perut.
Arga menyusul berbaring disampingnya, matanya yang lelah mulai mengantuk. "Besok pagi aku akan sempatkan sarapan denganmu. Kamu siapkan makanan kesukaanku ya,"
Ucapan itu terdengar seperti janji yang sudah sering dia dengar sebelumnya. Setelah memastikan suaminya terlelap, Nara berdiri dan melangkahkan kakinya menuju arah balkon. Udara malam yang sejuk langsung menyapa wajahnya begitu dia membuka pintu balkon.
Nara menyandarkan tubuhnya pada rel besi balkon. Rasa kesepian yang sudah lama mengendap di dalam hatinya kembali muncul dengan kuat. Sejak proyek baru Arga dimulai tiga bulan yang lalu, malam-malam seperti ini sudah menjadi kebiasaan, dia menghabiskan waktu sendirian, menunggu suaminya pulang hanya untuk melihatnya langsung terlelap di ranjang. Bahkan janji sarapan besok pagi saja tidak lagi membuatnya merasa haru seperti dulu.
Dia menutup mata sejenak, kemudian memutar sedikit tubuhnya untuk melihat Arga yang sudah terlelap. "Besok hari ulang tahunku, apa kamu akan ingat?"
-
-
-
Pintu lift terbuka lembut di lantai atas gedung perkantoran milik perusahaan keluarga Arga. Sebagai Direktur Utama, ruang kerja suaminya berada di lantai paling atas dengan pandangan kota yang luas. Nara menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah keluar, menyusuri koridor yang dihiasi lukisan-lukisan modern dengan langkah hati-hati dan senyum diwajahnya. Di tangannya ada rantang susun berisi makanan yang dia siapkan untuk makan siang suaminya.
"Selamat siang Bu Nara. Pak Arga sedang ada tamu, silakan Ibu masuk saja," ucap sekretaris dengan senyum ramah.
"Terimakasih, Alya." Nara menepuk lembut lengan Alya, kemudian melangkah ke arah ruangan kerja Arga.
Dia membuka pintu perlahan, dan langsung terdengar suara Arga yang sedang berbicara dengan seseorang. Saat Nara melangkah lebih jauh ke dalam ruangan, dua pria yang sedang duduk saling berhadapan diatas sofa itu langsung menoleh ke arahnya.
Arga segera berdiri dan menghampiri sang istri, "Sayang, kamu kenapa tidak bilang kalau mau datang kesini? Kalau begitu kan aku bisa jemput kamu."
Nara menyeringai lembut, mengangkat rantang susun di tangannya. "Aku ingin memberikan kejutan saja, sayang. Aku memasak makanan kesukaanmu dan sengaja mengantarkannya kemari karena aku tahu kamu tidak akan ada waktu untuk menjemputku jika aku bilang mau datang,"
Arga mengambil rantang itu dari tangan istrinya, kemudian mencium pipinya dengan lembut. "Makasih ya sayang, kamu adalah istri terbaik. Kebetulan aku juga sudah lapar." Dia menoleh ke arah pria yang masih duduk di sofa, wajahnya menunjukkan rasa senang. "Nara, kamu pasti sudah tahu kan siapa dia? Dia Rendra, sahabatku yang baru saja kembali dari luar negeri. Dua tahun lalu dia sempat datang ke pernikahan kita, lalu setelah itu dia menghilang dan pindah keluar negeri."
Rendra sudah berdiri, dia memberikan senyum hangat kepada Nara, tangannya sudah terulur untuk bersalaman. "Hai Nara. Sudah dua tahun tidak bertemu ya? Dan kamu tetap saja cantik seperti dulu."
Nara meraih tangan Rendra dengan senyum sedikit melebar diwajahnya. Dia memang tidak begitu mengenal Rendra dengan baik, tapi dia tahu jika Rendra adalah teman suaminya sejak SMA.
"Sayang, aku langsung pergi ya, aku ada janji ketemuan sama teman aku," ucap Nara, menoleh ke arah Arga yang berdiri di sampingnya.
"Kamu tidak mau makan bersama denganku dulu sayang? Biar sekalian Rendra cobain masakan kamu yang enak ini," ucapnya dengan nada yang sedikit kecewa.
Nara menggeleng pelan, "Maaf ya sayang, aku punya janji yang sudah tidak bisa ditunda lagi. Aku bawa makanan banyak, jadi kamu bisa makan sama Rendra saja ya. Dan malam ini... Malam ini kamu pulang lebih awal ya, aku punya kejutan untuk kamu."
Dia kemudian menoleh ke arah Rendra yang sedang berdiri diam dengan ekspresi yang sulit ditebak. "Maaf ya Rendra, aku tidak bisa menemani kalian makan. Semoga makanan yang aku masak sesuai dengan selera kamu ya."
Rendra memberikan senyum hangat kembali, mengangguk perlahan. "Tidak apa-apa, Nara. Kamu bisa pergi kalau ada urusan penting."
Arga mendekatkan wajahnya dan mencium keningnya dengan lembut. "Nanti aku pulang lebih cepat ya sayang, biar kita bisa makan malam bareng."
"Kalau begitu aku pergi dulu ya, nanti malam jangan lupa pulang cepat," pamit Nara.
Nara menoleh sebentar ke arah Rendra dan memberikan senyum singkat sebelum berbalik dan pergi meninggalkan ruangan. Setelah pintu ruangan tertutup, Rendra masih berdiri di tempatnya, matanya masih menatap pada pintu di mana Nara baru saja keluar. Ekspresi wajahnya yang tadinya senyum, kini perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam, campuran antara harapan dan kesedihan yang sudah lama dia sembunyikan.
Rendra menoleh ke arah Arga, kembali memberikan senyum ramah. "Kalau begitu aku sekalian pamit saja, Ga. Aku harus kembali ke perusahaan untuk mengurus beberapa berkas penting."
Arga yang baru saja duduk terlihat sedikit terkejut. "Kamu tidak mau makan dulu? Masakan istriku ini sangat enak, dijamin kamu pasti bakalan ketagihan kalau sudah mencicipinya."
Rendra menggeleng pelan dengan senyum yang tetap ramah. "Lain kali saja. Kapan-kapan aku akan datang berkunjung ke rumahmu untuk mencoba masakan istrimu,"
Arga mengangguk paham, kemudian kembali berdiri. "Baiklah kalau begitu. Jangan terlalu bekerja keras. Kamu baru saja kembali dari luar negeri, butuh istirahat juga."
"Terima kasih, Ga. Aku akan ingat itu." Rendra mengambil jasnya dari sandaran sofa dan mengenakannya kembali. Sebelum berjalan ke pintu, dia melirik sekali lagi ke arah meja dimana rantang susun yang dibawa Nara ada disana.
Seringai tipis muncul diwajahnya saat dia melangkah meninggalkan ruangan. Bukan hanya makanannya, tapi yang memasak makanan itu pun akan dia pastikan jatuh kedalam pelukannya.
-
-
-
Bersambung...
Rendra masuk kedalam kamar mandi, melepaskan bathrobe-nya dan menggantungkannya ditembok. Gambar wajah Nara saat tersenyum padanya tadi siang benar-benar mampu membangkitkan hasratnya, membuatnya sulit untuk berkonsentrasi kerja.
Air shower dengan suhu air dingin menyala dan mengguyur tubuh kekarnya yang begitu terawat, namun dinginnya air tetap tak mampu meredam ketegangan yang sudah tidak bisa diajak kompromi lagi dibalik celana boxer-nya. Pikirannya terus tertuju pada satu nama, yaitu Nara Kirana.
Tangan kanannya menyentuh tembok untuk menopang tubuhnya, sementara tangan kirinya merayap kebawah menyentuh kejantanannya yang sudah berdiri dengan tegak dan minta untuk segera dikeluarkan. Matanya terpejam erat, imajinasinya mulai bekerja liar, membayangkan bagaimana miliknya yang besar dan kokoh memasuki tubuh wanita pujaan hatinya.
"Nara... ah..." desah Rendra dengan suara parau yang tenggelam di antara suara air.
Nama Nara selalu terdengar lembut dan penuh damba setiap kali dia melakukan permainan solonya. Dua tahun dia memilih pergi untuk melupakan wanita itu tapi justru membuatnya semakin tersiksa dengan perasaan cinta dan hasrat yang selalu lapar untuk dituntaskan.
Rendra menggenggam kejantanannya dengan erat, gerakan tangannya mulai bergerak naik turun secara perlahan namun pasti. Setiap gerakan membawa bayangan lebih jelas tentang Nara, bagaimana rambutnya yang lembut akan tergeletak di atas bantal saat dia mencium lehernya yang harum, bagaimana tangan wanita itu akan menggenggam bahunya dengan erat saat dia memasuki dunia yang hangat dan menyambutnya.
"Sudah lama aku menunggu ini Nara..." gumamnya pelan, napasnya mulai menjadi tidak teratur. Dinginnya air yang terus menyiram tubuhnya seolah semakin mempertegas panas yang membara di dalam dirinya.
Bayangan Nara yang tersenyum padanya tadi siang kini berganti dengan gambarnya yang merentangkan tangan untuk menjemputnya, wajahnya penuh dengan kasih sayang dan keinginan yang sama kuatnya. Rendra merasakan tubuhnya mulai bergetar bukan karena dingin, melainkan karena gelombang kenikmatan yang mulai merambat dari bagian tengah tubuhnya ke seluruh tubuh.
Matanya masih terpejam erat sambil terus membayangkan setiap sentuhan yang ingin dia berikan pada wanita itu. Saat akhirnya dia mencapai titik puncak, suaranya menggeram dahsyat sebelum dia menundukkan kepalanya dengan napas terengah-engah.
Air shower masih terus menyala, mencuci setiap jejak dari permainan sendiriannya. Rendra menutup keran, kemudian mengambil handuk besar untuk mengeringkan tubuhnya. Dia menatap bayangannya di cermin, wajahnya masih menunjukkan kesenangan namun juga penuh dengan kepastian.
"Dua tahun sudah cukup lama untuk berlari," bisiknya seraya menyeringai. "Sekarang saatnya untuk menghadapi dan mengatakan semua yang aku rasakan. Aku tidak ingin lagi hanya membayangkan kamu dalam imajinasiku Nara."
-
-
-
Nara berdiri di depan cermin kamar, memeriksa penampilannya untuk yang kesekian kalinya. Rambutnya yang biasanya terurai kini diatur rapi dengan sedikit aksen bergelombang, wajahnya diberi riasan yang elegan namun tetap alami, dan tubuhnya tertutupi oleh gaun malam yang menonjolkan lekukan tubuhnya dengan anggun.
Dia mengambil tas kecil dan bergegas keluar dari rumah. Sopirnya sudah menunggu di depan pintu dan dengan cepat membuka pintu mobil begitu melihatnya datang.
"Kita pergi ke kantor Pak Arga, Pak Dadang," ucap Nara dengan suara lembut namun pasti.
Setelah beberapa menit berkendara, mobil akhirnya tiba di depan gedung perkantoran Arga. Nara menyuruh Pak Dadang untuk langsung pulang karena malam ini dia ingin mengajak suaminya untuk makan malam diluar. Nara sudah menyiapkan makan malam romantis di sebuah kafe yang sengaja dia booking untuk merayakan hari ulang tahunnya.
Nara menekan tombol lift menuju lantai atas. Begitu pintu lift terbuka tetap dilantai paling atas, Nara langsung berjalan perlahan menuju ruangan kerja Arga. Meja Alya bahkan sudah kosong, kemungkinan wanita itu sudah pulang karena ini sudah jam tujuh malam.
Matanya langsung beralih menatap pintu ruang kerja suaminya yang tertutup rapat, tangannya menyentuh pegangan pintu dan membuka pintu itu secara perlahan dan hati-hati supaya tidak mengeluarkan suara berisik untuk memberikan Arga kejutan. Namun, keheningan koridor lantai eksekutif yang sepi membuat pendengaran Nara menangkap sesuatu.
"Nggghhh... Arga... lebih cepat lagi, aku sudah mau sampai..."
Suara bisikan yang penuh hasrat itu seperti kilatan petir yang menusuk hati Nara. Tangannya yang masih menggenggam gagang pintu langsung membeku, dan wajahnya yang tadinya penuh senyum kini memucat. Dia tidak berani membuka pintu lebih jauh, tapi suara-suara yang terdengar jelas dari dalam ruangan sudah cukup untuk membuat semua harapannya hancur berkeping-keping.
"...sayangku Alya... permainanmu selalu membuatku gila..." suara Arga terdengar dengan nada yang penuh hasrat, diikuti dengan suara desahan dan jeda yang menunjukkan apa yang sedang mereka lakukan.
Nara merasa dadanya terasa sangat sesak, air mata mulai menggenang di sudut matanya tapi dia berusaha keras untuk tidak menangis. Gaun malam yang dia pilih dan riasan diwajahnya kini terasa seperti lelucon yang menyakitkan. Semua persiapan yang dia lakukan, dari booking kafe romantis hingga memilih hidangan kesukaan Arga, kini semuanya tampak sia-sia.
Nara menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan tangisan yang hampir keluar. Dia menutup pintu ruangan Arga dengan perlahan dan berbalik menjauh dari sana. Langkahnya sedikit goyah di koridor yang sepi, pikirannya masih terpaku pada suara-suara yang baru saja dia dengar, terutama saat Arga menyebut nama Alya, sekretarisnya yang selalu ramah padanya setiap kali dia datang ke kantor suaminya.
Dia melangkah ke arah pintu masuk gedung, matanya sudah mulai kabur karena air mata yang menetes tanpa bisa dia kendalikan. Di luar gedung, jalanan masih ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang, tapi tak satu pun taksi yang muncul saat dia membutuhkannya. Nara berdiri di trotoar, memegang erat gagang tasnya sambil menatap jalan dengan mata yang kosong.
"Tega sekali kamu mas... ulang tahunku kamu hadiahi dengan pengkhianatan seperti ini." bisiknya pelan, tubuhnya mulai merinding karena udara malam yang sejuk dan rasa sakit yang menusuk hati.
Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di depannya. Jendela samping mobil terbuka dan menampilkan wajah Rendra yang sedikit terkejut serta khawatir saat melihatnya berdiri sendirian.
"Nara? Apa yang sedang kamu lakukan sendirian disini?"
-
-
-
Bersambung...
Rendra langsung membuka pintu mobil dan turun dengan langkah cepat. Udara malam yang sejuk menerpa wajahnya, tapi perhatiannya tercurah pada sosok Nara yang berdiri di trotoar dengan tubuh yang sedikit gemetar dan wajah yang memucat.
"Nara, kamu menangis?" tanya Rendra dengan penuh kekhawatiran. Dia melihat air mata yang terus menetes di pipinya, pandangannya turun dan melihat tangan kanan Nara yang menggenggam erat gaun malam yang dikenakannya. "Ada apa? Kenapa kamu disini sendirian malam-malam seperti ini?"
Rendra membuka jaketnya dan memakaikannya untuk menutupi pundak Nara yang terbuka. Dia tidak ingin memaksa wanita itu untuk berbicara, tapi dia akan tetap ada di sana sebagai tempat yang bisa diandalkan
"Aku antar kamu pulang ya," ucapnya pelan sambil menatap sejenak pada jalan yang masih ramai oleh kendaraan, "Atau, kamu ingin aku antar ke kantor Arga?"
Mendengar Rendra menyebut nama Arga, Nara langsung mengangkat wajahnya cepat. Air mata yang sebelumnya hanya menetes perlahan kini mulai mengalir deras di pipinya, dia menggenggam bagian depan jaket Rendra yang menutupi pundaknya dengan erat, seolah itu adalah satu-satunya benda yang bisa dia gunakan sebagai pegangan untuk menguatkan dirinya.
"Tidak... jangan ke kantornya..." ucapnya dengan suara bergetar, "Aku ingin pulang saja."
Kata-katanya keluar pelan namun jelas. Dia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wajah Rendra, "Tolong antarkan aku pulang, Ren... aku mohon..."
"Baiklah, aku antar kamu pulang ya," ucap Rendra dengan nada menenangkan, tangannya menyangga punggung Nara untuk membantunya berjalan menuju mobil. Dengan hati-hati dia membantu wanita itu memasuki kursi penumpang, menutup pintunya dengan lembut sebelum berjalan ke sisi pengemudi.
Setelah masuk dan menghidupkan mesin mobil, Rendra menoleh ke arah Nara yang masih menunduk dengan bahu yang sedikit bergetar karena menangis. Tanpa banyak bicara, dia mulai mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.
Setelah beberapa menit berkendara, mobil akhirnya berhenti di depan gerbang rumah Nara. Rendra mematikan mesin dan segera turun untuk membuka pintu mobil bagi Nara.
Wanita itu mengangkat kepalanya, melihat rumah yang biasa terasa hangat kini seolah terlihat dingin dan sunyi. Dia turun dari mobil dan memaksakan sebuah senyuman diwajahnya pada Rendra.
Rendra mengangkat pandangannya ke arah halaman dalam rumah Nara dan melihat ada sebuah mobil yang terparkir disana, "Apa Arga sudah pulang?"
"Sepertinya belum," jawab Nara, matanya menatap mobil yang terparkir dengan tatapan kosong. "Tadi aku menyuruh pak Dadang untuk pulang setelah mengantarku. Dia mungkin sudah kembali dan memarkirnya di sana."
Dia menghela napas perlahan, "Rendra, terimakasih sudah mengantarku pulang."
"Tidak perlu berterima kasih, Nara," ucap Rendra. Dia melihat ke arah pintu rumah sejenak, lalu kembali menatap wajah Nara yang masih terlihat pucat dan lelah. "Sebaiknya kamu telefon Arga supaya cepat pulang dan bisa menemani kamu dirumah,"
"Ya sudah, kalau begitu aku pamit pulang. Kalau kamu butuh sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungiku ya," lanjut Rendra dengan nada hangat, tangannya menyentuh bahu Nara sebentar sebelum menariknya kembali.
Saat Rendra hendak berbalik menuju mobilnya, Nara dengan cepat menarik tangan pria itu. Matanya yang masih sedikit merah karena menangis kini menatapnya dengan pandangan yang penuh harapan.
"Tunggu, Ren..." ucapnya dengan suara lembut namun jelas. Dia menggenggam tangan Rendra lebih erat, seolah tidak ingin melepaskannya. "Hari ini aku ulang tahun, maukah kamu menemaniku makan malam dulu didalam?"
Nara memberikan senyuman yang lebih tulus dibanding sebelumnya. "Aku sudah menyiapkan makan malam untuk merayakannya," Dia menghela napas perlahan. "Aku tidak ingin menghabiskan malam ini sendirian. Bolehkah kamu masuk dan makan malam bersamaku? Sebagai teman saja..."
Rendra melihat tangan Nara yang masih menggenggam lengannya, kemudian menatap wajah wanita itu kembali dan mengangguk. "Tentu saja, Nara. Aku akan menemanimu."
Nara menurunkan tangannya dan mengajak Rendra untuk masuk. Rendra mengikuti di belakang, pandangannya menyelimuti sosok Nara yang berjalan di depannya. Berada di dekatnya seperti ini dan sikap yang wanita itu tunjukkan sekarang justru semakin membakar hasrat yang sudah dia tahan selama dua tahun ini.
-
-
-
Setelah suara desahan dan jeda terakhir mereda, Arga menundukkan kepalanya dengan napas terengah-engah dengan tubuhnya masih menempel pada Alya. Setelah beberapa saat, pria itu menarik diri dan mengambil tisu dari meja untuk membersihkan diri, kemudian memberikan beberapa lembar kepada wanita di hadapannya.
"Aku harus segera pulang," ucap Arga dengan napas yang masih belum teratur, dia mulai mengenakan pakaiannya dengan tergesa-gesa. "Hari ini ulang tahun Nara. Aku sudah berjanji akan pulang lebih awal."
Alya duduk di tepi sofa setelah memakai pakaiannya kembali, merapikan rambutnya yang berantakan sambil memberikan senyuman sinis. "Sudah enam bulan kita melakukan ini, Arga. Kapan kamu akan memberitahu dia? Atau kamu akan terus menyembunyikannya seperti ini?"
Arga berhenti sejenak saat mengenakan dasi, dia menghembuskan napas kasar. "Tidak ada yang perlu dikatakan. Aku mencintai Nara, Alya. Hubungan kita ini hanya sebuah kesalahan yang terulang berkali-kali."
"Kesalahan?" Alya berdiri dan mendekati pria itu, tangannya menyentuh dadanya sedikit kasar. "Kamu tahu kan, aku tidak hanya ingin menjadi teman kerja yang kamu gunakan ketika kamu bosan dengan istri kamu. Aku mencintaimu, Arga. Dan aku tahu kamu juga merasakan hal yang sama padaku."
Arga menarik diri dari sentuhan Alya, wajahnya kini penuh dengan ketegangan. "Jangan berkata seperti itu. Aku sudah menikah dengan Nara. Dia adalah istriku, dan aku akan selalu menjaganya."
Tanpa menunggu jawaban lagi, dia mengambil jasnya dan bergegas keluar dari ruangan, menyembunyikan rasa bersalah yang mulai muncul di dalam dirinya saat memikirkan wajah Nara yang selalu penuh senyum padanya.
Di luar ruangan, Arga melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Dia mengambil teleponnya untuk melihat apakah ada notifikasi dari Nara, namun layar ponselnya menunjukkan tidak ada panggilan atau pesan yang terkirim dari wanita itu.
"Tumben sekali dia tidak menghubungiku," bisiknya pelan sambil berjalan cepat menuju lift.
Setelah keluar dari lift, Arga segera menuju area parkir dan masuk kedalam mobilnya meninggalkan area kantor. Saat melihat sebuah toko bunga yang masih buka di sudut jalan, dia berhenti di depan toko untuk membelikan bunga untuk Nara.
"Permisi, saya mau beli buket bunga untuk istri saya," ucapnya langsung kepada penjaga toko yang sedang membersihkan meja depan. "Hari ini ulang tahunnya, saya ingin memberinya kejutan."
Penjaga toko menunjukkan beberapa pilihan buket, dan Arga memilih buket besar berisi mawar merah muda dan putih, bunga kesukaan Nara. Dia juga meminta untuk menambahkan sebuah kartu kecil dengan pesan singkat.
[ Untuk istriku tersayang, Nara. Selamat ulang tahun. Maaf aku terlambat. ]
Setelah membayar, Arga membawa buket bunga itu dan menaruhnya di kursi penumpang mobilnya. Dia mengemudikan mobilnya kembali dengan kecepatan yang cukup supaya bisa cepat sampai di rumah dan bisa merayakan ulang tahun istrinya.
Saat mendekati gerbang rumahnya, dari kejauhan dia melihat sebuah mobil terparkir di depan gerbang rumahnya. Wajahnya langsung menunjukkan ekspresi bingung dan sedikit cemas.
"Siapa yang sedang bertamu kerumah? Apa mungkin itu temannya Nara?"
-
-
-
Bersambung...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!