“Aku mencintaimu, Mey. Mari kita menikah.”
Ron mengecup kening putih mulus gadis di depannya. Mey tertegun. Apa benar yang baru didengarnya barusan? Pria ini meminangnya? Mereka baru tiga bulan menjadi kekasih. Setelah pertemuan pertama di tempat karaoke satu bulan sebelum Ron menyatakan cinta padanya!
“Kenapa diam saja, Mey? Kamu tidak mau menikah denganku?”
Wajah tirus itu mendongak, pandangannya fokus pada sorot mata sang kekasih. Ron mengangguk pelan. “Aku sungguh ingin memperistrimu, Mey. Umurku sekarang tiga puluh dua tahun. Lebih dari cukup untuk menikah. Penghasilanku memang belum besar, tapi sanggup menghidupi kita berdua dan seorang anak nantinya. Sebelum menikah, kita akan cari rumah kontrakan sederhana. Nanti pelan-pelan kita menabung supaya bisa membeli rumah sendiri.”
Mata bulat Mey berkaca-kaca. Tak diduganya hubungannya dengan Ron akan berujung ke pelaminan. Pria yang selama tiga bulan ini membiayai hidupnya di kamar kos putri sederhana seluas dua belas meter persegi, semenjak dirinya berhenti kerja sebagai LC alias ladies companion di tempat karaoke pria-pria hidung belang. Itu adalah syarat yang dulu diajukan Ron kalau Mey bersedia menjadi kekasihnya. Berhenti bekerja di tempat hiburan malam.
Dan kini pria yang mengentasnya dari lembah hitam ini melamarnya. “Aku...aku takut mengecewakan keluargamu, Bang,” ucap Mey jujur. Gadis berambut hitam panjang lurus itu bergidik. Dia tahu Ron yang lebih tua sebelas tahun darinya ini telah lama hidup mandiri merantau dari satu kota ke kota lain, tanpa campur tangan orang tua. Bisa dibilang mau menikah dengan siapa saja, orang tua Ron takkan menentang.
“Ah, Mey. Apa yang kamu takutkan? Kan sudah kubilang aku cuma punya ibu di kota Surabaya yang hidup sepenuhnya dari uang yang kukirim. Ayahku sudah dua puluh tahun menghilang entah kemana. Aku tak punya saudara. Jadi apalagi yang kamu kuatirkan, Sayang? Percayalah, Mey. Aku akan membuat hidupmu bahagia. Bukankah aku sudah membuktikan selama tiga bulan ini hidupmu tak kekurangan?”
Mey berkata lirih, “Lalu bagaimana dengan anakku yang tinggal di panti asuhan, Bang? Bisakah dia tinggal bersama kita? Aku sebenarnya ingin membawanya tinggal di kos ini sejak aku tidak bekerja tiga bulan yang lalu. Tapi aku kuatir dia sendirian pas malam hari karena kamu sering mengajakku pergi jalan-jalan....”
Ron menghela napas panjang. Ini agak sulit baginya. Dia tak mempermasalahkan masa lalu Mey yang dulu hamil tanpa suami, hingga anak di luar nikahnya itu dititipkan di panti asuhan. Ron pun tak keberatan uang yang diberikannya pada Mey sebagian dipakai untuk menghidupi anak itu. Tapi menerima anak yang bukan darah dagingnya dalam rumah tangga yang akan dibinanya bersama Mey...ah, tak semudah itu.
Kemudian pria bertubuh tinggi besar dan berkulit sawo matang itu berkata tegas, “Aku tak yakin bisa menganggapnya sebagai anak sendiri, Mey. Daripada nanti aku pilih kasih terhadap anak kandungku sendiri, lebih baik anakmu sejak awal tidak masuk dalam kehidupan rumah tangga kita. Tapi aku berjanji tak mempermasalahkan jika kamu mau membiayai hidupnya dari penghasilanku. Aturlah sebisamu, aku tidak perlu diberitahu detilnya. Asalkan kamu memprioritaskan kebutuhan keluarga kita sendiri. Bagaimana?”
Mey tertunduk. Hatinya bagai teriris sembilu. Dia mengerti tak semua pria mau menerima anak sambung, apalagi yang lahir di luar nikah. Tapi Liani adalah darah dagingnya. Masa dia tetap tinggal di panti asuhan sementara ibunya sudah menjalani hidup baru?
Ron berusaha membujuk sang kekasih. “Aku memang bukan penyuka anak kecil, Mey. Jadi daripada nanti aku tidak bisa memperlakukan anakmu dengan penuh kasih sayang, kasihan nanti hatinya terluka. Lebih baik dia tetap tinggal di panti asuhan. Aku berjanji takkan pernah melarangmu menemuinya. Tapi tolong jangan menghadirkannya dalam kehidupan rumah tangga kita. Karena yah, belum tentu ibuku akan menerimanya sebagai cucu sendiri. Aku nanti juga bingung bagaimana menjelaskan asal-usul anak itu pada ibuku. Kamu mengerti kan, Sayang?”
Mey paham Kekasihnya ini tak mungkin bercerita pada ibunya tentang pertemuan mereka pertama kali di tempat karaoke. Waktu itu Ron sedang menemani Pak Den, customer papan atas untuk bersenang-senang di tempat hiburan malam. Mereka datang bersama teman-teman hidung belang Pak Den. Mey merupakan salah satu LC yang ditugaskan menemani pria-pria mata keranjang itu minum dan menyanyi.
Ron menaruh hati pada pandangan pertama. Mey adalah LC termuda dan paling tidak genit diantara rekan-rekannya. Ternyata gadis itu baru bekerja selama empat bulan di sana dan terkenal paling alim. Dia tidak menerima job lain disamping menemani minum dan karaoke. Waktu menyanyi suaranya paling merdu. Hati Ron tergerak untuk mendekatinya. Satu bulan kemudian mereka resmi menjadi kekasih dan pria itu meminta Mey untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya.
“Mey, apa kamu tidak percaya padaku?” tanya Ron membuyarkan lamunan sang kekasih. “Atau kamu marah karena aku tak menyanggupi menerima anakmu?”
Dengan berat hati Mey berkata, “Aku takut, Bang. Kalau kita menikah nanti, kamu masih akan pergi ke tempat hiburan malam....”
Ron tertawa. “Jadi kamu tidak percaya aku bisa menjaga diri?”
“Pak Den kan nakal, Bang.”
“Buktinya aku selama ini cuma menemani dia minum dan karaoke saja, kan? Tak lebih dari itu. Coba kamu tanya eks mamimu di tempat karaoke, apa pernah aku pergi dengan cewek-cewek di sana setelah aku pacaran denganmu?”
Mey meringis. Dia sudah tak mau berhubungan dengan orang-orang dunia hiburan malam lagi. Semenjak mengundurkan diri dari tempat karaoke, Mey pindah kos dan ganti nomor ponsel. Gadis itu malah mulai rajin beribadah ke gereja. Tak henti-hentinya dia bersyukur Tuhan telah mengentasnya dari dunia hiburan malam melalui tangan Ron.
“Baiklah, Bang. Aku mau menjadi istrimu.”
Ron gembira sekali. Dipeluknya tubuh ramping sang kekasih erat-erat. “Aku berjanji akan membuatmu bahagia, Mey. Aku berjanji.”
Mey tersenyum. Saat ini saja hatinya sudah bahagia. Tak apalah anak kandungnya masih tinggal di panti asuhan. Yang penting dia masih diperkenankan menemui dan membiayai hidup anak itu dari uang yang diberikan Ron.
***
“Saya titip Liani ya, Bu,” ucap Mey dengan hati berat.
Bu Widya, pengurus panti asuhan, menghela napas panjang. Diperhatikannya Mey yang mengelus-elus rambut halus anak perempuan berusia satu setengah tahun yang tertidur pulas di atas ranjang. Bu Widya tahu Mey sangat menyayangi anaknya. Oleh karena itulah dia sampai rela menjadi LC di tempat karaoke demi membiayai kebutuhan Liani di panti. Karena Mey tak mau anaknya diadopsi. Akhirnya pemilik panti mengharuskan dia membiayai kebutuhan Liani selama dititipkan di sana.
Mey bekerja apa saja. Mulai dari tukang setrika di kios laundry kiloan, pelayan di kedai kopi, hingga penjaga toko kelontong. Tapi penghasilannya hanya tersisa sedikit untuk membiayai kebutuhan hidup Liani di panti, karena terpotong untuk biaya kos dan kebutuhan Mey sendiri. Bu Widya-lah yang diam-diam membantunya tanpa sepengetahuan pemilik panti. Perempuan baik hati itu menambahi uang yang diberikan Mey sehingga pemilik panti membiarkan Liani tetap tinggal di sana dengan status bukan calon adopsi.
Mey sangat berterima kasih atas bantuan Bu Widya. Tapi dia tak mau menggantungkan diri terlalu lama pada kebaikan janda tanpa anak itu. Akhirnya Mey menerima tawaran teman kosnya untuk bekerja sebagai LC di tempat karaoke. Teman kosnya itu bernama Shinta, sudah satu tahun bekerja di dunia hiburan malam.
Sejak saat itulah Mey mulai bisa membiayai kebutuhan hidup Liani di panti. Gadis itu tak menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya dari Bu Widya. Pun pengurus panti tersebut tak menghakimi jalan hidup yang dipilih Mey.
Tapi kali ini Bu Widya merasa kuatir. “Mey, apa kamu yakin akan menikah dan meninggalkan Liani di sini? Kalau calon suamimu itu benar-benar mencintaimu, kenapa dia tak menerima Liani sebagai anaknya?”
Mey tersenyum getir. “Bang Ron takut nanti pilih kasih kalau punya anak sendiri, Bu. Lagipula ibunya belum tentu mampu menerima keberadaan Liani. Nanti Bang Ron juga bingung bagaimana menjelaskan tentang keadaanku yang punya anak di luar nikah. Aku tak mau menyusahkan Bang Ron, Bu. Yang penting dia tidak keberatan aku masih menemui Liani. Bang Ron juga tak mempermasalahkan penghasilannya dipakai buat membiayai kebutuhan Liani, Bu.”
Bu Widya meringis. Dia tak tahu harus merasa senang atau prihatin. Senang karena Mey telah menemukan pasangan hidup yang akan melindunginya. Prihatin karena harga yang harus dibayar adalah tinggal terpisah dengan anak kandungnya sendiri entah sampai kapan.
***
“Mey, kenalkan ini ibuku.”
Sambil tersenyum ramah, Mey menyalami tangan calon mertuanya. “Selamat datang ke Bandung, Tante. Saya Mey.”
Perempuan tua bertubuh kecil di hadapannya mengangguk kecil. Diperhatikannya Mey dari ujung rambut hingga ujung kaki. Gadis itu bergidik. Tampang Bu Yuna terlihat galak. Mey takut membuat kesalahan di depan ibu kekasihnya itu. Dia jadi tak percaya diri dengan penampilannya. Padahal gaun lengan pendek berwarna biru muda dengan panjang selutut ini merupakan baju terbaiknya yang dianggap paling sopan untuk bertemu calon mertua.
“Kamu umur berapa, Mey? Kelihatan masih muda sekali.”
Si gadis menjawab grogi, “Saya umur dua puluh satu tahun, Tante Yuna.”
“Hmm..., beda sebelas tahun dengan Ron. Apa kamu yakin mau menikah dengan anakku? Tidak sayang dengan masa mudamu yang masih bisa buat senang-senang?”
Ron menatap ibunya tidak suka. “Sudahlah, Bu. Beda umur berapapun tak menjadi masalah. Yang penting kami berdua cocok. Mey juga bukan orang yang suka hura-hura. Dia hobi masak, bersih-bersih rumah, tipe gadis alim yang tidak neko-neko. Sesuai dengan kriteria istri yang kuidam-idamkan.”
Bu Yuna langsung diam. Sikap perempuan tua bertubuh pendek dan agak gemuk itu itu jadi canggung. Dia tak berani menatap Ron. Mey jadi heran. Masa Bu Yuna takut sama anaknya sendiri?
“Ayo sekarang kita makan di luar. Ibu pasti lapar. Sekalian kita ajak jalan-jalan melihat-lihat kota Bandung ya, Mey.”
Si gadis mengangguk. Di depan kamar kosnya terparkir mobil kantor yang dipinjam Ron untuk mengajak ibunya jalan-jalan. Tadi pria itu juga memakai mobil itu untuk menjemput Bu Yuna di stasiun. Kemudian mereka pulang ke tempat kos Ron untuk menaruh barang, lalu lanjut ke kos Mey.
Ron menggandeng tangan kekasihnya, mengajak keluar kamar. Tapi begitu sampai di teras, Mey baru sadar dan menoleh ke belakang.
“Bang, Tante Yuna ketinggalan di belakang. Biar kutemani.”
“Tidak usah, Mey. Ibuku biasa jalan sendiri. Dia sangat mandiri.”
Mey merasa heran. Dipandanginya sang kekasih. Ron tak peduli. Bu Yuna memecah keheningan. “Ron benar, aku biasa jalan sendiri. Sudahlah, ayo kita pergi.”
Mey merasa tidak enak. Dia kemudian bilang mau mengunci kamar kos. Dilepaskannya tangan Ron, lalu gadis itu berbalik ke arah pintu kamar. Setelah mengunci pintu, tangannya meraih lengan Bu Yuna. Perempuan tua itu tersenyum sopan sembari berkata, “Aku masih kuat, Mey. Biar aku jalan sendiri.”
Si gadis tak berkutik. Terpaksa dibiarkannya perempuan berambut ikal kelabu yang dipotong pendek seperti laki-laki itu berjalan sendiri menuju mobil. Mey melihat Ron langsung masuk ke dalam mobil, sama sekali tak membukakan pintu buat ibunya.
Mey merasa aneh melihat hubungan Ron dan ibunya tidak dekat. Terhadap Mey memang pria itu tak bersikap romantis seperti membukakan pintu kos ataupun mobil. Tapi ibunya kan sudah tua, meski masih terlihat bugar untuk nenek-nenek berumur enam puluh delapan tahun. Ron harusnya lebih perhatian, mengingat Bu Yuna satu-satunya orang tua yang dia miliki.
Tiba-tiba dahi Mey berkerut. Gadis itu teringat sesuatu. Berarti Bu Yuna melahirkan Ron waktu umurnya tiga puluh enam tahun. Hmm...usia yang terbilang tidak muda untuk generasinya.
Din, din!
Mey tersentak. Ron membunyikan klakson mobil sambil menoleh ke arahnya. Gadis itu bergegas menyusul ke mobil.
“Tante Yuna kenapa tidak duduk di depan?” tanyanya begitu melihat ibu Ron duduk di jok belakang.
“Ibu lebih nyaman duduk di belakang karena luas,” jawab Ron seolah tak memberi kesempatan pada ibunya untuk menjawab sendiri.
Mulut Mey membulat dan membentuk huruf “o” . Lalu gadis itu membuka pintu mobil depan duduk di sebelah sang kekasih.
Tak lama kemudian mobil meluncur. Bu Yuna memperhatikan anak dan calon menantunya dari belakang. Matanya berkaca-kaca. Dia bahagia sang putra akhirnya mendapatkan pasangan hidup.
***
“Tante Yuna tidak bisa makan masakan Jepang, ya? Kalau begitu kita pindah restoran saja,” ucap Mey begitu melihat calon ibu mertuanya tampak gelisah membolak-balik buku menu.
Ron menjawab, “Ah, Ibu bisa makan apa saja. Dia tidak rewel, kok. Aku sudah lama ingin makan di sini, Mey. Kamu kan, tahu itu.”
“Iya, tapi....”
Bu Yuna menengahi, “Sudahlah, Mey. Tante sudah tahu mau pesan apa, kok. Ini ada nasi sama ayam goreng tepung dipotong-potong tipis panjang. Dari fotonya kelihatan enak. Tante pesan ini saja.”
Ron langsung menimpali, “Nah, itu Ibu sudah nemu makanan yang mau dipesan. Kamu sendiri mau makan apa, Mey? Gimana kalau shabu-shabu dan yakiniku bareng aku?”
Mey mengangguk. Pelayan langsung mencatat pesanan. Setelah membacakan ulang untuk mengkonfirmasi pesanan dan disetujui oleh Ron, pelayan mempersilakan mereka menunggu sekitar dua puluh menitan. Ron mengangguk tanpa mengucapkan terima kasih.
Suasana menjadi lengang. Ron mengajak Mey bicara tentang rencana pernikahan mereka yang sederhana di gereja. Tak ada tamu undangan. Hanya Bu Widya yang datang sebagai saksi pernikahan.
Ibu Ron terkejut begitu mengetahui tak seorangpun anggota keluarga mempelai wanita yang hadir. “Jadi orang tuamu tidak hadir, Mey?”
Ron dengan sigap menjawab, “Mey sudah tidak punya orang tua, Bu. Dia sejak kecil tinggal di panti asuhan. Bu Widya itu pengurus panti yang sudah dianggap orang tua sendiri oleh Mey.”
Mulut Bu Yuna membulat membentuk huruf “o”. Mey tersenyum malu. Dalam hati dia berharap semoga perempuan itu mempercayai perkataan Ron. Mey sebenarnya tak ingin berbohong. Tapi kalau dia menceritakan pada Bu Yuna tentang kenapa keluarganya tak hadir, hal itu akan berlanjut pada kisah keberadaan Liani di muka bumi ini.
Ron tak ingin ibunya tahu bahwa Mey punya anak di luar nikah. Jadi sebaiknya tak perlu ada perkenalan keluarga. Lagipula Mey sudah tak berhubungan lagi dengan ayahnya di Jambi. Sejak ibu Mey, ayah gadis itu menikah lagi dengan perempuan yang umurnya jauh lebih muda dan pantas menjadi kakak Mey. Setahun kemudian si ibu tiri melahirkan anak laki-laki yang menjadi kebanggaan suaminya. Mey semakin kehilangan perhatian ayah tercinta.
Gadis tak beribu itu mulai mencari kasih sayang di luaran. Dia berpacaran dengan Boy, teman SMA-nya. Hubungan mereka terlalu bebas hingga akhirnya menumbuhkan janin dalam tubuh Mey. Boy tak mau bertanggung jawab. Pemuda itu menghilang. Menurut teman-temannya, Boy kuliah di Bandung. Mey percaya karena memang itulah cita-cita kekasihnya sejak dulu. Kuliah di ITB jurusan Desain Komunikasi Visual.
Berbekal uang tabungan dan perhiasan-perhiasan peninggalan ibunya, Mey minggat ke Bandung. Ditelusurinya segala penjuru kampus ITB, tapi tak ditemukannya sosok sang kekasih. Tak seorangpun di jurusan Desain Komunikasi Visual mengenal atau bahkan pernah mendengar nama Boy Dignita. Staf bagian administrasi yang ditemui Mey pun dengan tegas menyatakan bahwa nama itu tak terdaftar sebagai mahasiswa di kampus ITB jurusan manapun!
Mey syok. Dia sadar telah ditipu mentah-mentah oleh teman-teman Boy. Tentu saja mereka sudah diminta merahasiakan keberadaan pemuda itu. Mey frustasi. Setiap hari dia berdiam diri di kamar kos. Gadis itu hanya keluar untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Perutnya membesar dan uangnya mulai menipis. Dia melamar kerja dimana-mana, namun tak ada yang menerima.
Gadis itu melahirkan sendirian di rumah sakit. Semangat hidupnya yang meredup di bulan-bulan terakhir tiba-tiba naik kembali begitu mendengar suara tangisan bayi perempuan yang dilahirkannya. Bayi merah yang kemudian oleh perawat dipindahkan dalam pelukan Mey. Bayi itu diberi nama Liani, yang artinya penuh semangat. Mey jadi bergairah kembali. Dia bekerja pontang-panting mencari nafkah demi sang buah hati.
“Mey, kamu ngelamun apa? Ayo kita makan.”
Suara Ron membuat si gadis tersentak. Oh, shabu-shabu dan yakiniku sudah datang. Hmm, enak sekali kelihatannya. Sontak pandangan Mey beralih pada Bu Yuna. Perempuan tua itu tengah menyantap nasi dan ayam katsu.
“Enak, Tante?” tanya Mey ramah. Si ibu mengangguk. Dia makan lahap sekali, seolah-olah sudah kelaparan dari tadi.
Mey memasukkan kuah shabu-shabu beserta isinya seperti mie kuning, bakso, irisan halus daging, crab stick, dan sayuran ke dalam mangkuk kecil, lalu menghidangkannya tepat di depan Bu Yuna.
“Silakan, Tante,” ucap gadis itu ramah. Bu Yuna malah berkata, “Aku sudah cukup makan nasi dan ayam ini. Sop itu buat Ron saja.”
Tanpa ba-bi-bu, Ron langsung meraih mangkuk kecil isi shabu-shabu tersebut dan memakannya. Mey semakin heran. Tapi dia memutuskan untuk diam saja. Gadis itu merasa aneh kenapa Bu Yuna kelihatan takut terhadap anaknya. Ron sendiri tampak tak begitu peduli pada ibunya. Hmm....
***
Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu tiba. Mey dan Ron menikah. Mempelai wanita mengenakan dress putih polos tanpa lengan yang panjangnya selutut. Manik-manik kecil gemerlap berwarna putih dan silver menghiasi bagian leher dan perut Mey yang ramping. Gaun yang sederhana tapi tampak elegan itu dibelinya bersama Ron waktu berjalan-jalan di mal.
Mey langsung jatuh cinta begitu melihat dress itu membalut dengan anggun tubuh manekin di etalase. Dia tahu telah datang ke tempat yang tepat. Mal itu tidak mewah, banyak dikunjungi kalangan menengah ke bawah. Mey sengaja mencari gaun pengantin di sana karena ingin yang modelnya sederhana dan tidak mahal. Benar saja, gaun itu harganya cuma tujuh ratus ribu rupiah dan langsung dibayar tunai oleh Ron. Pria itu sendiri tidak membeli jas pengantin. Dia bilang pernah diberi setelan jas warna hitam bekas milik Pak Den.
“Masih bagus, kan? Layak pakai toh, buat pernikahan kita?” tanya Ron waktu memperlihatkan setelan jas yang dimaksud. Mey mengangguk setuju. Jas dan celana panjang warna hitam pekat yang bahannya agak tebal dan tidak mudah kusut. Pasti mahal harganya.
Di hari H, Bu Yuna sebagai ibu mempelai pria berpenampilan sederhana. Dia memakai kemeja lengan pendek warna biru muda dan celana panjang hitam. Bu Widya yang datang sebagai saksi nikah berpenampilan formal. Perempuan berumur empat puluh delapan tahun itu memakai blus lengan panjang berwarna putih gading dan rok panjang separuh betis berwarna hitam. Atas permintaan Mey, dia membawa teman perempuannya yang seumuran untuk menjadi saksi nikah juga.
Semula Pak Den yang diminta Ron untuk bersama Bu Widya menjadi saksi nikah. Tapi Pak Den berhalangan karena menemani istrinya berobat ke Malaysia. Jadi Ron meminta Mey mencarikan saksi nikah lain. Mey langsung minta bantuan Bu Widya. Dan seperti biasanya perempuan baik hati itu menjadi juruselamat Mey.
Pernikahan sederhana di gereja Kristen itu berjalan lancar. Bu Yuna menitikkan air mata tatkala Ron memeluknya mohon doa restu. Mey sendiri tak kuasa menahan haru ketika memeluk Bu Widya.
“Terima kasih banyak, Bu,” ucap mempelai wanita itu sembari berkaca-kaca. Bu Widya mengangguk tulus. Hatinya bahagia melihat gadis yang dulunya luntang-lantung ini akhirnya membina rumah tangga. Meskipun sebenarnya Bu Widya merasa sedikit miris karena Liani tak dihadirkan dalam pernikahan ini. Tapi ya sudahlah, yang penting Mey memenuhi janji takkan menelantarkan putri kandungnya.
Tak ada fotografer yang mendokumentasikan pernikahan itu. Hanya pegawai gereja yang dimintai bantuan untuk memotret dan membuat video sederhana lewat ponsel. Itu keputusan Ron yang disetujui oleh Mey. Kondisi keuangan mereka belum mapan, jadi sebaiknya tidak menghambur-hamburkan uang untuk bermewah-mewah. Bagi pasangan itu yang penting pernikahan mereka diakui secara agama dan hukum negara, itu sudah cukup.
Selanjutnya Ron dan Mey mengajak Bu Yuna dan Bu Widya makan di restoran. Pendeta, pegawai gereja, dan saksi nikah tidak ikut karena ada urusan lain. Ron memberi amplop tanda terima kasih pada mereka masing-masing.
Acara makan-makan di restoran berjalan dengan lancar. Mereka berempat menikmati kelezatan masakan Cina yang disediakan. Ron sesekali mengajak bicara Bu Widya. Lalu dia asyik menyantap hidangan di atas meja.
Mey beberapa kali mengambilkan makanan buat Bu Widya dan Bu Yuna. Dia bahagia melihat dua perempuan yang penting dalam hidupnya itu bisa nyambung ngobrolnya. Bu Yuna adalah ibu mertuanya, sedangkan Bu Widya sudah dianggap sebagai pengganti ibu kandung Mey yang telah tiada.
Selesai acara makan-makan, Bu Widya diantar pulang ke panti asuhan. Mey mengantar perempuan itu sampai pintu masuk panti, sementara Ron dan Bu Yuna menunggu di dalam mobil.
“Mey,” ucap Bu Widya pelan. “Tadi waktu Ibu pergi ke toilet restoran bersama Bu Yuna, dia mengatakan sesuatu yang aneh.”
“Oya? Apa itu, Bu?” tanya Mey ingin tahu.
Bu Widya berkata dengan hati-hati, “Ibu mertuamu itu bilang seandainya Jim masih hidup pasti akan bahagia melihat adiknya menikah.”
Mey tersentak. Jim? Siapa dia?
Bagaikan bisa membaca pikiran Mey, Bu Widya melanjutkan, “Kata Bu Yuna, Jim itu kakak kandung Ron. Ibu mertuamu keceplosan tadi. Dia takut dan minta supaya jangan cerita sama Ron. Suamimu itu tidak cocok dengan almarhum kakaknya.”
Mey bengong. Ron selalu bilang dirinya anak tunggal. Kenapa sekarang muncul nama Jim sebagai kakak kandungnya? Sudah meninggal pula. Apa yang sebenarnya disembunyikan pria yang telah resmi menjadi suaminya itu?
Bu Widya menyentuh tangan Mey. “Bukan maksud Ibu mencampuri hidup kalian, Mey. Cuma jujur Ibu tadi melihat Ron kurang perhatian terhadap ibu kandungnya. Pilih menu sendiri, tidak bertanya ibunya mau makan apa. Juga tak mengambilkan makanan, menawari ke toilet, ataupun menggandeng tangan ibunya. Malah kamu yang sibuk melayani Bu Yuna.”
“Bang Ron memeluk ibunya waktu pemberkatan pernikahan,” bela Mey. Dia berusaha menjaga nama baik suaminya meski dalam hati mengakui kebenaran kata-kata perempuan di hadapannya.
Bu Widya menghela napas dalam-dalam. Ditepuknya pelan bahu Mey. Dalam hati dia berdoa semoga perempuan yang sudah dianggapnya anak sendiri ini tak salah memilih pasangan hidup.
***
Mey menikmati malam pengantin yang penuh gairah dengan suaminya. Ron ternyata pria yang libidonya sangat tinggi. Mey berusaha mengimbanginya. Dia tak ingin suaminya kecewa. Mey melayani Ron semaksimal mungkin sesuai permintaan pria itu.
Ron benar-benar pemain di ranjang. Dia mengajak istrinya bercinta dengan berbagai gaya. Mey menurut saja demi kepuasan sang suami. Kebahagiaan Ron adalah kebahagiaannya juga.
Keasyikan memadu cinta membuat pasangan pengantin baru itu bangun kesiangan esok harinya. Saat membuka mata, Mey terkejut melihat jam dinding menunjukkan pukul sepuluh. Dia bergegas turun dari ranjang.
“Mau ke mana, Sayang?” tanya Ron yang masih menikmati berleha-leha di atas ranjang. Tangan kekar pria itu meraih Mey, menghalangi istrinya itu pergi.
Mey menjawab panik, “Sudah jam sepuluh, Bang. Ibu belum disiapin makanan. Kasihan.”
Tak peduli, Ron malah menarik tangan istrinya. Disentuhkannya pada bagian bawah tubuhnya yang berdiri minta perhatian. Mey meringis. Tadi malam mereka sudah main tiga ronde. Masa sekarang Ron minta dilayani lagi.
Apa mau dikata, Mey tak kuasa menolak hasrat suaminya. Dia tak ingin mengecewakan pria yang telah mengentasnya dari dunia malam dan memberinya hidup baru itu.
***
Tiga hari kemudian Bu Yuna pamit pulang ke Surabaya. Mey terkejut.
“Hah? Ibu mau pulang ke Surabaya? Kenapa, Bu? Ga betah tinggal di sini?” tanya Mey bertubi-tubi. “Maaf ya, Bu. Rumah ini kecil. Juga tidak ada AC. Ibu merasa tidak nyaman, ya?
Bu Yuna menggeleng. Dia tersenyum kecil. Menantunya ini orang baik. Terlihat jelas Mey ingin menyenangkan dirinya selama tinggal di Bandung.
“Rumah ini nyaman, Mey. Tidak perlu AC karena udara di kota ini sejuk, beda sekali dengan Surabaya yang panas. Tahu ga, bahkan di Surabaya pun Ibu tidak pakai AC. Ibu lebih suka pakai kipas angin. Kalau pakai AC, Ibu suka masuk angin.”
“Terus kenapa Ibu mau pulang? Apa tidak cocok dengan makanan di sini? Maaf ya, Bu. Mey ga pintar masak.”
“Ibu suka masakanmu, Mey. Enak. Cuma di sini Ibu nganggur. Ga ada teman, ga ada kegiatan. Di Surabaya ada saudara-saudara. Ibu suka membantu Tante Ika, adik Ibu, berjualan di pasar. Dia punya toko di sana. Jualannya keripik, roti, kue kering, dan kue basah. Kapan-kapan Mey main ke Surabaya, ya. Nanti Ibu kenalin sama saudara-saudara di sana.”
Mey mengangguk. Ron yang baru selesai makan kemudian nyeletuk, “Kalau begitu ayo Ibu kuantar sekarang ke stasiun. Aku sudah beli tiket online dan dapat jadwal keberangkatan kereta jam empat sore. Sekarang sudah jam satu, aku takut macet di jalan. Barang-barang Ibu sudah siap, kan?”
Bu Yuna mengangguk. Mey menatap suaminya heran. Kok sudah dipesankan tiket kereta? Berarti Ron sudah tahu ibunya mau pulang hari ini? Mey jadi merasa paling bego karena tahu belakangan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!