Setahun yang lalu, Anindia dan Keanu telah melangsungkan acara tasyakuran aqiqah anak pertama mereka, Shaka Zayn Pratama. Acara itu dihadiri oleh banyak orang, tak terkecuali sanak saudara dan teman-teman dekat mereka. Rasa bahagia masih begitu nyata di raut wajah keduanya ketika mengingat momen itu.
Kini, di dalam kamarnya, Anindia tengah memandikan bocah laki-laki itu. Shaka, yang baru berumur 1 tahun terlihat begitu aktif dengan gerakannya, membuat Anindia tertawa melihat tingkah lucunya. Seperti saat ini misalnya, baby Shaka menggenggam sabun dan hampir saja memasukkannya ke dalam mulut.
"Ta-ta-ta," oceh bayi laki-laki itu sembari menendang-nendang kakinya di dalam tempat mandinya.
"Ndak boleh sayang. Ini sabun, jangan di makan ya," ujar Anindia lembut sembari menarik tangan Shaka yang sedang menggenggam sabun.
Tidak menghiraukan, tiba-tiba saja Shaka memukul-mukul air di hadapannya, membuat percikan air muncrat kemana-mana. Bahkan, wajah Anindia basah oleh air mandi karena ulah anaknya sendiri.
"Hahaha, nak! Liat, bunda udah basah," ujar Anindia yang merasa gemas dengan putranya sendiri.
Anindia mengusap wajahnya dengan tangan, berusaha menghapus air yang membasahi wajahnya. Ia kemudian mengangkat Shaka dari tempat mandinya.
"Sudah mandinya sayang. Gantengnya anak bunda," ujar Anindia sembari mencium gemas pipi Shaka.
Anindia menggendong Shaka yang masih terus mengoceh. Lalu ia membalut tubuh putranya itu dengan handuk lembut.
"Wah-wah, anak ayah udah mandi."
Saat itu, terdengar suara Keanu yang baru saja selesai mandi dari kamar sebelah. Rambutnya basah dan terlihat acak-acakan, dengan handuk yang ia letakkan di atas pundaknya.
"Iya dong ayah, Shaka udah mandi, udah wangi," ujar Anindia yang menirukan suara anak kecil.
Keanu terkekeh, lalu berjalan mendekati Anindia yang masih mengurus baby Shaka. Ia duduk di tepi tempat tidur, tepat di sebelah anaknya.
Anindia mengusapkan minyak angin dan bedak pada tubuh Shaka, membuat aroma khas bayi terasa begitu kentara di indra penciuman mereka.
Tangan mungil Shaka yang masih basah, tiba-tiba saja memukul tangan Anindia yang sedang memegang bedak, membuat bedak itu terlempar dan tumpah ke wajah Keanu. Anindia langsung menertawai suaminya yang penuh dengan taburan bedak di wajahnya.
"Mas, muka kamu putih banget. Skincare aja kalah nih," gurau Anindia.
"Hahaha, nak! Kamu ini nakal banget ya? Anak siapa sih, hmm?" Ujar Keanu yang merasa gemas sembari menciumi pipi Shaka berkali-kali.
Anindia terkekeh melihat suami dan anaknya, terlebih Shaka yang tertawa khas ala bayi, sungguh menggemaskan sekali. Baginya, menikah muda itu begitu menyenangkan. Ia tidak pernah berpacaran, sekalinya bertemu dengan laki-laki langsung di jalur pernikahan. Puji syukur Anindia panjatkan karena Allah ingin menghindarinya dari zina.
"Shaka ganti baju dulu, ayah," ujar Anindia yang kembali menirukan suara anak kecil, sembari memakaikan baju untuk Shaka.
Keanu tersenyum tipis, lalu mengacak pucuk kepala Anindia. Suatu kebiasaannya yang tidak pernah berubah pada Anindia, meskipun statusnya sekarang sudah menjadi seorang ayah. "Iya, sayang. Shaka ganteng banget, nih," ujarnya.
"Mas, ingat! Udah jadi ayah, lho," ujar Anindia yang tersipu malu.
Anindia yang masih mengurus Shaka langsung menundukkan kepalanya, mencoba untuk menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. Ia merasa bahagia melihat Keanu masih memiliki kebiasaan lama yang membuatnya jatuh cinta setiap hari.
Keanu tertawa melihat reaksi Anindia. Ia menggelengkan kepalanya lalu menoleh ke arah Shaka yang berbaring di tempat tidur, dengan Anindia yang masih memakaikan pakaian untuknya.
"Shaka, sini cium dulu, emmuach!"
Bukannya mencium pipi Shaka, Keanu justru mencium pipi istrinya. Hal itu jelas saja membuat Anindia merasa panas di wajahnya. Ia memukul lengan Keanu pelan, terlihat jelas bahwa ia sedang salting.
"Mas, kebiasaannya gak pernah berubah!" Ujar Anindia.
Keanu hanya tertawa menanggapinya, tanpa kata ia langsung beranjak dan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Anindia hanya bisa memandangi Keanu dengan gelengan kepala, senyum tipis terukir di wajahnya.
Keanu sendiri langsung menyisir rambutnya setelah ia menjemur handuknya. Ia mengenakan kemeja yang yang rapi, siap untuk memulai aktivitasnya sebagai seorang mahasiswa. Setelah selesai, ia menghampiri Anindia untuk menggendong Shaka.
"Anak bunda udah ganteng. Shaka sama ayah dulu ya, nak? Bunda mau ganti baju dulu," ujar Anindia pada Shaka yang tangan mungilnya menyentuh wajah Anindia.
"Iya, nak. Ayo, Shaka sama ayah dulu," ujar Keanu sembari mengulurkan tangannya untuk menggendong Shaka.
Shaka langsung mengulurkan kedua tangannya, seolah mengerti bahwa sang ayah sedang mengajaknya. Keanu langsung menggendong Shaka, aroma khas bayi dari tubuh anaknya membuat Keanu merasa tenang.
"Sayang, aku tunggu di bawah ya," ujar Keanu lembut.
"Iya, Mas. Aku juga mau ganti baju dulu," ujar Anindia dengan seutas senyum.
Keanu mengangguk, lalu ia membawa Shaka turun ke bawah. Sementara Anindia langsung membereskan perlengkapan mandi Shaka, sebelum akhirnya ia beranjak ke arah lemari untuk mengambil pakaian ganti.
Setelah selesai dengan segala sesuatunya, Anindia juga menyusul ke ke arah ruang makan keluarga Bramantyo. Mahasiswi cantik itu tidak ingin melewatkan momen indah bersama keluarga kecilnya.
Anindia menuruni anak tangga. Saat menginjak anak tangga terakhir, ia bisa mendengar jelas suara kedua mertuanya yang sedang mengajak ngobrol Shaka, dengan Shaka yang tertawa menggemaskan. Ia menghentikan sejenak langkahnya, menatap ke kejauhan dengan penuh rasa bahagia.
"Alhamdulillah ya Allah. Terima kasih, engkau telah mentakdirkan aku menjadi bagian dari keluarga yang bahagia ini," ucap syukur Anindia, sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya menuju ke arah ruang makan.
"Cucu Oma udah mulai lasak, ya?" Ujar ibu Keanu pada cucu pertamanya.
"Cucu Opa pintar," ujar ayah Keanu yang tersenyum bangga ketika melihat cucunya itu yang lahap menikmati MPASI, dengan Keanu yang menyuapinya.
Keanu hanya tersenyum ketika memandang Shaka yang sedang makan bubur bayi. Ia memangku Shaka dengan satu tangan, sementara tangan yang lainnya menyuapi bayi laki-laki itu dengan sabar.
"Lahap banget makannya, nak. Enak ya?" Ujar Keanu lembut, sembari menyeka pipi Shaka yang kotor oleh bubur.
"Mas, kamu makan aja. Biar aku yang suapi Shaka," ujar Anindia yang langsung berjalan mendekat ke arah suami dan anaknya.
Keanu menoleh dengan seutas senyum tipis yang terukir di wajahnya. Ia menggelengkan kepalanya, menatap Anindia dengan tatapan lembut. "Gapapa sayang, gantian. Kamu setiap hari menyuapi Shaka sebelum pergi ke kampus. Kamu makan aja, ya?" Ujarnya.
Ayah dan ibu Keanu tersenyum melihat putranya yang benar-benar sudah dewasa, bahkan begitu menghargai istrinya. Keduanya saling bertukar pandang, merasa bahagia melihat kebahagiaan anak dan menantunya.
Anindia tersenyum, merasa terharu dengan perhatian Keanu. "Iya, Mas. Terima kasih," ujarnya dengan anggukan singkat.
Anindia duduk di sebelah Keanu, lalu mengambil piring dan menyuapi Keanu sebelum akhirnya ia menyuap nasi ke mulutnya sendiri.
Keanu tersenyum, menatap Anindia dalam. Perhatian Anindia untuknya selalu saja membuatnya merasa dicintai oleh istrinya sendiri. "Makasih, sayang," ujarnya.
"Sama-sama, Mas," ujar Anindia dengan seutas senyum manis, lalu menoleh ke arah Shaka yang wajahnya belepotan bubur. "Enak mamam nya ya, nak?" Lanjutnya sembari membersihkan wajah Shaka dengan tisu.
"Hmm... Udah punya anak romantisnya masih sama, ya?" Goda ibu Keanu, sementara ayah Keanu berpura-pura tidak melihat momen itu, dengan mengalihkan pandangannya pada secangkir kopi miliknya.
Anindia tersipu malu, wajahnya merona karena perkataan ibu mertuanya. "Ma, bisa aja deh," ujarnya.
"Iya dong, Ma. Mama sama Papa yang udah punya cucu aja makin romantis, kan?" Ujar Keanu santai, kembali menggoda ibunya.
Kedua orang tua Keanu tertawa, tidak menyangka dengan penuturan putranya. Sementara Anindia hanya tersenyum, menatap Keanu dengan gelengan singkat.
"Itu kunci langgengnya rumah tangga, nak," ujar ayah Keanu menimpali.
Mereka tertawa, merasa hangat dengan perbincangan dan canda pagi itu. Mereka kembali menikmati sarapannya, dengan Anindia yang makan sepiring berdua dengan Keanu.
"Ba-ba-ba!" Shaka yang berada di pangkuan Keanu pun langsung menarik perhatian dengan tingkahnya yang lucu, memukul-mukul tangan Keanu.
"Aktif banget ya cucu Oma ini," ujar ibu Keanu yang tersenyum melihat keaktifan cucu pertamanya.
Shaka, yang sedang berada di dalam pangkuan Keanu, tiba-tiba memukul piring yang di pegang Keanu. Mereka semua tertawa gemas melihat tingkah Shaka yang lagi aktif-aktifnya.
"Ya ampun nak, mau makan lagi?" Ujar Anindia dengan kekehan kecil.
Anindia mengambil alih Shaka dari pangkuan Keanu, membersihkan wajah anaknya dengan tisu basah. Bi Yeyen, membawa sebotol susu bayi untuk Shaka. Bayi laki-laki itu langsung memintanya dengan gerakan tangan dan ocehan yang tidak jelas.
"Non, ini susunya buat den muda Shaka," ujar Bi Yeyen sembari menyerahkan botol susu itu pada Anindia.
"Terima kasih ya, Bi," ujar Anindia sembari menerima botol susu itu.
Bi Yeyen mengangguk, lalu berpamitan kepada keluarga Bramantyo untuk kembali ke dapur. Shaka yang melihat botol susu di tangan Anindia langsung menggenggam botol susu itu dengan tangan mungilnya.
Anindia langsung membantu Shaka memegangi botol susu itu, dan Shaka langsung memasukkannya ke mulut dan meminumnya dengan lahap.
"Enak ya, nak? Pintarnya anak bunda, minum susu," ujar Anindia sembari mengusap kepala Shaka penuh kasih sayang.
"Perasaan baru kemarin kamu lahir, nak. Tau-tau udah gede aja," ujar Keanu dengan seutas senyum.
"Iya dong, ayah. Masa Shaka di suruh kecil terus, ya?" Ujar Anindia yang tatapannya fokus pada Shaka di pangkuannya.
Di rumah keluarga Bramantyo, semuanya terasa begitu berbeda semenjak kehadiran Shaka. Bayi kecil yang menggemaskan itu menambah suasana di antara mereka.
Sarapan pagi yang biasanya hanya terdengar perbincangan santai di antara mereka, kini terlihat lebih bahagia dengan kehadiran baby Shaka. Suara tawa dari Shaka membuat keempat orang dewasa itu merasa rileks setelah melewati aktivitasnya masing-masing.
Setelah selesai sarapan, Shaka langsung di ambil alih oleh ibu Keanu. Semenjak mereka memasuki dunia perkuliahan, Shaka di titipkan kepada sang ibu. Sebenarnya ayah Keanu menyarankan untuk diasuh oleh babysitter saja, tapi sang ibu menolak karena ia merasa mampu untuk mengasuh cucunya itu ketika Anindia dan Keanu sedang berada di kampus.
"Anak ganteng, bunda sama ayah pergi dulu ya? Shaka sama Oma dulu ya, nak," ujar Anindia sembari mengecup pipi gembul Shaka.
"Jangan nakal ya, nak. Jangan rewel, kasihan Oma," ujar Keanu yang juga mengecup pipi Shaka.
Ibu dan ayah Keanu sedang mengajak ngobrol Shaka, membuat Shaka tertawa. Anindia dan Keanu tersenyum ketika melihat Shaka yang begitu anteng bersama Oma dan Opa nya.
"Maaf ya, Ma. Nindi jadi ngerepotin Mama karena harus ngurus Shaka," ujar Anindia merasa tidak enak pada mertuanya itu.
Ibu Keanu menoleh, senyum manis terukir di wajahnya. "Tidak apa, sayang. Mama senang bisa mengurus Shaka. Kalian fokus kuliah aja, ya?" Ujarnya lembut.
"Mama sama sekali tidak merasa direpotkan, bagaimanapun Shaka kan cucu Mama," lanjut ibu Keanu.
"Benar nak, kalian fokus saja pada kuliah. Biar Mama yang mengurus Shaka," ujar ayah Keanu menimpali.
"Terima kasih, Ma, Pa," ujar Anindia dengan seutas senyum, merasa haru dengan perhatian kedua mertuanya.
"Kalau begitu kami berangkat dulu ya, Ma, Pa," ujar Keanu sembari mencium takzim tangan kedua orang tuanya, diikuti dengan Anindia yang melakukan hal yang sama.
"Iya, nak. Hati-hati di jalan," ujar ibu Keanu mengingatkan.
Anindia dan Keanu mengangguk serempak, setelah mengucapkan salam keduanya melangkahkan kakinya ke arah pintu.
Seperti masa-masa SMA, Keanu lebih memilih untuk menaiki motor sportnya dan menghabiskan waktu berdua bersama Anindia. Motor itu melaju membelah jalanan, angin yang berhembus menerpa wajah keduanya.
Keduanya sudah menikah dan sudah memiliki seorang anak. Tapi, ketika pergi ke kampus dengan motor seperti ini, mereka terkesan seperti sedang berpacaran. Wajar saja, karena keduanya masih berusia muda.
Tiba di parkiran kampus, keduanya langsung turun dari motornya. Mereka sama-sama kuliah di Universitas Trisakti Jakarta, dengan jurusan yang berbeda. Seperti yang telah mereka bahas sebelumnya, Anindia mengambil jurusan seni desain dan grafis, sementara Keanu mengambil jurusan manajemen bisnis.
"Semangat kuliahnya ya, my wife," ujar Keanu sembari mengacak pucuk kepala Anindia, ketika mereka hendak berpisah di koridor.
Anindia tersenyum, perhatian yang selalu diberikan oleh Keanu membuatnya merasa bahagia. "Semangat juga ya, my husband," ujarnya.
Keanu terkekeh, lalu keduanya berpisah menuju ke ruang kelas masing-masing. Mereka berdua menjalankan peran ganda, dimana ketika di rumah menjadi orang tua untuk Shaka, dan ketika di kampus mereka menjadi mahasiswa dan mahasiswi yang sedang memperjuangkan ilmu.
"Morning, Anindia," ujar suara seseorang, ketika Anindia hendak melangkahkan kakinya menuju ke ruang kelas.
^^^Bersambung...^^^
Mendengar suara seseorang yang memanggilnya, Anindia pun langsung menoleh. Pandangannya langsung bertemu pada sosok pemuda yang kini tepat berdiri di hadapannya, hanya berjarak beberapa langkah saja.
"Eh, pagi kak," ujar Anindia dengan senyuman ramah.
"Sorry, gue ganggu gak?" Ujar pemuda blasteran Indo-Perancis itu.
Pemuda yang dimaksud adalah Ardyan, sang Presma kampus. Matanya biru tajam, rambutnya tersisir rapi, senyumnya menawan, serta sikap yang percaya diri membuatnya sangat populer di kalangan mahasiswa. Ia juga memiliki kepribadian yang ramah, membuatnya mudah di sukai oleh orang lain.
Anindia yang memiliki kepribadian yang ramah, membuatnya cepat akrab dengan mahasiswa mahasiswi lainnya, meskipun ia baru masuk kuliah selama dua bulan terakhir.
"Enggak sama sekali, kak. Ada apa ya?" Ujar Anindia sopan.
"Ah, enggak," ujar Ardy sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, seutas senyum tipis terukir di wajahnya. "Gue cuma lagi nyari seseorang yang bisa bantu gue dengan proyek desain grafis untuk acara kampus. Lo kan jurusan desain, gue liat portofolio lo keren-keren. Mau bantu gue, gak?" Ujarnya yang langsung pada intinya.
Anindia terkejut, merasa heran dengan penuturan Ardy. Ia menunjuk dirinya sendiri, seakan tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar. "A-aku?" Ujarnya.
Ardy tersenyum lebih lebar, lalu mengangguk dengan antusias. "Iya, gue percaya lo bisa bantu gue dengan proyek ini, Anindia. Plus, gue butuh fresh ideas dari anak desain kayak lo," ujarnya.
"Maaf sebelumnya kak, bukan bermaksud untuk menolak. Tapi, kenapa harus aku ya, kak?" Ujar Anindia yang merasa ragu-ragu.
Ardy tertawa kecil, menganggap pertanyaan Anindia itu sangat wajar. "Hmm, gue pilih lo karena portofolio lo emang keren banget, Anin. Plus, gue butuh orang yang punya ide-ide kreatif. Dan ya, lo masuk kriteria itu," ujarnya.
Anindia terdiam untuk sejenak, seolah mempertimbangkan sesuatu. "Humm, oke deh, kak. Tapi, bisa liat dulu gak detail proyeknya?" Ujar Anindia pada akhirnya.
"Bisa banget, Anin. Gue ada ide buat acara ini, yuk kita cari tempat yang lebih santai buat bahas detailnya. Kafe depan kayaknya cocok tuh," ujar Ardy sembari menoleh ke arah kafe di seberang jalan.
Anindia merasa tidak enak dengan Keanu, ia yakin suaminya itu pasti akan salah paham jika Anindia menerima ajakan Ardy. Ia terdiam beberapa saat, memikirkan jawaban yang tepat untuk menolaknya.
"Ekhem!"
Di sela-sela keheningan, tiba-tiba saja terdengar suara deheman keras dari seseorang. Suara langkah kaki itu kian mendekat, membuat keduanya langsung menoleh ke arah suara.
"Ngapain harus di kafe?" Ujar Keanu dingin, ketika ia mendengar jelas penuturan Ardy.
Anindia langsung menoleh ke arah Keanu, sementara Ardy langsung tersenyum canggung. Anindia bisa melihat jelas rasa cemburu di raut wajah Keanu.
"Ma-mas? Kamu kok di situ?" Ujar Anindia sedikit gugup.
Keanu menatap tajam ke arah Ardy dengan penuh rasa posesif, lalu ia menoleh ke arah Anindia dengan tatapan yang hanya dipahami oleh istrinya itu.
"Tadinya aku mau antar hp kamu, tadi ada di jaket aku." Ujar Keanu sembari memberikan ponsel ke tangan Anindia. "Tapi, aku gak sengaja dengar laki-laki ini mengajak kamu ke kafe. Ada maksud apa?" Lanjutnya, berusaha menahan rasa cemburu.
Anindia menerima ponselnya dari tangan Keanu, senyum tipis terukir di wajahnya. Ia merasa bahwa posesifnya Keanu masih sama, dan ia yakin bahwa Keanu sedang merasa cemburu saat ini. Namun, Anindia memilih untuk bungkam, bukan karena ia tidak bisa berkata-kata, melainkan ingin melihat kecemburuan suaminya lebih lama.
"Eh Keanu, gue cuma..." Ujar Ardy sedikit gelagapan, ketika melihat Keanu yang menatapnya dengan tatapan tajam.
"Cuma apa? Lo mau deketin semua mahasiswi di sini?" Ujar Keanu kemudian. "Gue denger lo suka godain cewek-cewek," lanjutnya sedikit sarkastis.
Ardy langsung menyangkal, wajahnya memerah karena merasa tertuduh. "Gak, gue gak ada maksud apa-apa. Santai bro," ujarnya santai.
Keanu menatap Ardy dengan tatapan ragu-ragu, seakan tidak percaya dengan penuturan pemuda itu. "Hmm, gak ada maksud apa-apa ya? So, kenapa lo ajak Nindi ke kafe?" Ujarnya dengan nada dingin.
Anindia berusaha untuk menahan senyum, sifat Keanu yang posesif membuatnya merasa berbunga-bunga, terlebih ia memang merasa tidak nyaman jika berbicara dengan Ardy di kafe jika hanya berdua saja.
Ardy sendiri terlihat mengusap tengkuknya, ia merasa terjebak dalam perkataan Keanu. Baginya, usahanya untuk mendekati Anindia tidak semudah yang ia bayangkan sebelumnya.
"Ah itu..." Ujar Ardy setelah hening beberapa saat. "Come on bro, gue cuma pengen bahas tentang proyek kampus aja," lanjutnya sembari menepuk pundak Keanu.
Keanu melirik tangan Ardy di pundaknya, lalu menoleh ke arah Ardy sembari memicingkan mata, seakan tidak percaya dengan penuturan seniornya itu.
"Proyek kampus?" Ujar Keanu diikuti dengan deheman kecil, berusaha untuk membasahi tenggorokannya. "Lo bisa bahas di kampus, kak! Gak perlu di kafe," lanjutnya sembari menurunkan tangan Ardy di pundaknya.
"Bro, bro! Posesif banget lo!" Ujar Ardy dengan tawa kecil sembari menggelengkan kepalanya perlahan. "Menurut gue lebih enak bahas di kafe, bro. Lebih santai dan gak ada gangguan," lanjutnya.
Keanu merasa tensi di antara mereka mulai meningkat, bahkan ia bisa merasakan bahwa nafasnya mulai memburu karena perkataan Ardy. "Gue gak liat ada yang santai kalo lo bahas proyek kampus berdua dengan Nindi di kafe," ujarnya penuh penekanan.
Anindia yang melihat ketegangan di antara mereka langsung memegangi lengan Keanu. Ia tidak ingin terjadi pertengkaran di antara keduanya, terlebih ia tahu pasti bahwa Keanu cepat sekali terbawa emosi.
"Mas, udah ih!" Ujar Anindia yang sedari tadi diam.
Keanu menoleh ke arah Anindia, lalu ia menarik nafas panjang. Keanu merasa bahwa dirinya mudah sekali terbawa emosi, terlebih sejak hadirnya Shaka di dalam kehidupan mereka.
Anindia menepuk lengan Keanu pelan dengan anggukan singkat. Ia tidak membutuhkan kata-kata dari Keanu, karena ia sudah tahu apa yang ingin dikatakan oleh suaminya itu.
"Oke-oke, gue berubah pikiran. Bahas di kampus aja sama yang lain," ujar Ardy pada akhirnya.
"Iya kak, lebih baik bahas di kampus aja," ujar Anindia dengan seutas senyum.
Keanu menarik nafas dalam-dalam, berusaha untuk menenangkan diri. "Setuju, gue ikut. Ya, gue cuma ingin pastikan aja kalo lo gak lagi modus sama Nindi," ujarnya.
Anindia menggelengkan kepalanya, senyum tipis terukir di wajahnya. Sementara Ardy, pemuda itu langsung tertawa garing. Ia merasa terjebak dengan permainan yang ia ciptakan sendiri.
"Yaelah, aman bro. Gue serius ingin bahas proyek aja. Gue ajak yang lain juga, jadi gue gak cuma berdua sama Anindia," ujar Ardy kemudian.
"Oke," ujar Keanu singkat.
Anindia merasa bahagia dengan sifat Keanu yang masih sama seperti dulu. Ia memegangi tangan Keanu lembut, menunjukkan bahwa ia tidak marah dengan sikap posesif suaminya itu.
"Jadi gini ya rasanya punya suami yang posesif banget?" Batin Anindia.
"Okelah, gue pamit dulu mau ke kelas. Kita bahas proyek kampus setelah jam kuliah berakhir," pamit Ardy pada keduanya.
Keanu hanya menatap Ardy tanpa kata, sementara Anindia langsung menganggukkan kepalanya.
"Iya kak, sampai nanti," ujar Anindia.
Tanpa kata lagi, Ardy langsung melangkah pergi meninggalkan Anindia dan Keanu di tempat. Pandangan Keanu masih tertuju pada Ardy, hingga pemuda itu menghilang dari pandangan.
Anindia menatap Keanu dengan tatapan lembut, lalu memukul lengannya pelan. "Mas, kamu kok gak bisa santai sih?" Ujarnya.
Keanu menatap Anindia dalam, lalu mengambil tangan Anindia dan mengelusnya lembut. "Aku cemburu, sayang. Aku gak mau kamu pergi berdua sama laki-laki lain," ujarnya dengan suara yang sedikit berat.
"Ciee, ada yang cemburu nih!" Goda Anindia pada suaminya itu.
"Hmm, gimana ya?" Ujar Keanu yang mengambil jeda sejenak. "Cemburu itu wajar, sayang. Karena aku emang secinta itu sama kamu. Intinya kamu gak boleh pergi berduaan dengan laki-laki manapun. Jika memang penting, aku harus ikut buat pantau kamu. Paham sayang?" Lanjutnya dengan nada yang terdengar begitu serius.
Anindia mengulum senyum, ia merasa salah tingkah dengan kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Keanu. Ia menatap Keanu dengan perasaan cinta yang masih sama, membiarkan Keanu mengelus tangannya.
"Mas, kamu masih sama ya? Gak pernah berubah," ujar Anindia dengan nada yang sedikit menggoda. "Aku suka kok, kamu cemburu gini. Kamu lucu kalo lagi cemburu, Mas. Plus, semakin ganteng aja ayah Shaka ini," lanjutnya.
Keanu merasa salting, wajahnya sedikit memerah karena pujian dari Anindia. Ia mencoba untuk mempertahankan ekspresi serius, tapi ia tidak bisa menyembunyikan senyum yang mulai muncul di wajahnya.
"Hmm, kamu suka aku cemburu?" Ujar Keanu sedikit menggoda, sembari mendekatkan wajahnya ke arah Anindia. "Aku cemburu karena aku gak mau kehilangan kamu, sayang. Kamu milik aku, dan aku gak mau ada laki-laki lain yang mendekati kamu," lanjutnya dengan suara rendah dan berat.
Anindia terkekeh sembari memukul dada Keanu pelan. Ia membiarkan Keanu mendekatinya, merasakan kehangatan wajahnya yang dekat.
"Ututuuttuu, suami aku posesif banget sih?" Ujar Anindia sembari mencubit lengan Keanu pelan. "Tapi udah ada laki-laki lain yang mendekati aku, Mas. Gimana dong?" Lanjutnya berusaha menahan senyum.
Ekspresi wajah Keanu langsung berubah menjadi masam, matanya menatap Anindia tajam, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Hmm, udah ada cowok lain yang ngedeketin kamu?" Ujar Keanu yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Siapa?"
Anindia tidak bisa lagi menahan tawanya, ia langsung meledak dalam tawa lepas. "Hahaha, Mas! Aku cuma bercanda, ih! Langsung cemberut gitu," ujarnya sembari menyenggol lengan Keanu.
Keanu menatap Anindia dengan ekspresi yang masih sedikit masam, tapi ia tidak bisa menyembunyikan senyum yang mulai muncul di wajahnya. "Hmm, gitu ya?" Ujarnya sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Maaf Mas, aku cuma bercanda," ujar Anindia kemudian.
Keanu akhirnya tertawa dengan gelengan singkat. Ia tidak menyangka bahwa istrinya itu bisa mengerjainya pagi-pagi seperti ini, terlebih ia baru saja merasakan cemburu karena ulah Ardy.
"It's okay, sayang. Gapapa," ujar Keanu sembari mengelus rambut Anindia penuh kasih sayang.
Anindia tersenyum dan mengangguk, membiarkan Keanu mengelus rambutnya. Mahasiswa mahasiswi lainnya terlihat berlalu lalang, tapi mereka berdua tidak memperdulikan.
"Aku ke kelas dulu ya, Mas. Semangat buat hari ini, ayahnya Shaka," ujar Anindia setelah hening beberapa saat.
"Pasti sayang, semangat juga ya my wife," bisik Keanu tepat di telinga Anindia.
Tanpa kata lagi, Anindia melangkahkan kakinya menuju ke ruang kelasnya. Keanu menatap Anindia dengan senyum, hingga Anindia menghilang dari pandangannya.
Setelahnya, Keanu juga melangkahkan kakinya ke lain arah, menuju ke ruang kelasnya. Di dalam kelasnya, Keanu langsung duduk tenang di bangkunya, seolah memberi batasan kepada teman-teman barunya.
Sembari menunggu dosen memasuki ruangan, Keanu memilih untuk memainkan ponselnya sejenak. Sejak berpisah dengan Niko, Keanu sulit mendapatkan teman baru. Baginya, teman-temannya di kampus tidak se-frekuensi dengan dirinya.
Tapi, bagaimanapun juga Keanu tahu bahwa semua itu ada masanya. Teman-teman dekatnya juga sedang berjuang untuk masa depannya masing-masing. Ia hanya berharap bahwa mereka semua bisa sukses suatu hari nanti.
Sementara itu di dalam kelasnya, Anindia sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya. Canda tawa terdengar dari mereka, membuat suasana di ruangan itu menjadi lebih santai.
Bagi Anindia, memiliki banyak teman itu sangat menyenangkan, karena ia bisa berbagi cerita dan berbagi banyak hal dengan mereka.
Beberapa menit berlalu, seorang dosen memasuki ruangan. Hening, tidak ada yang berani berbicara ketika pria paruh baya berkacamata itu memasuki ruangan. Dosen itu memulai kuliah, membuat seisi kelas langsung memperhatikan dengan seksama.
Tak jauh beda dari kelas Keanu, ia juga melakukan hal yang sama. Keanu yakin bahwa ini adalah pilihan yang tepat untuk dirinya juga keluarga kecilnya. Tanggung jawab yang ia pikul kini bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga ada Anindia dan Shaka.
"Aku yakin bisa, demi Anindia dan Shaka," batin Keanu di sela-sela kuliah yang sedang berlangsung.
^^^Bersambung...^^^
Setelah jam kuliah berakhir, Anindia melangkahkan kakinya menuju taman kampus untuk menghadiri diskusi proyek kampus bersama sang Presma. Di sampingnya, Keanu setia menemani. Ia tidak ingin ada seorangpun yang berani bermacam-macam dengan istrinya itu.
Anindia membawa buku dalam dekapannya, layaknya mahasiswi lainnya. Sementara Keanu, ia berjalan santai dengan tangan yang ia sisipkan dalam saku celananya, suatu kebiasaan yang tidak pernah bisa hilang dari dirinya.
Baik di sekolah maupun kampus, mereka berdua begitu menarik perhatian orang lain. Keanu yang cool dan terkesan membatasi diri, terlihat begitu protektif jika di samping Anindia. Begitu juga dengan Anindia yang terkesan friendly, membuat banyak pasang mata tertuju pada mereka.
"Kira-kira Shaka udah tidur belum ya, Mas?" Ujar Anindia di sela-sela keheningan.
Keanu tersenyum lalu satu tangannya terulur untuk merangkul pundak Anindia. "Shaka anak yang pintar, sayang. Aku yakin dia udah tidur, dia kan gak mau repotin Oma nya," ujarnya lembut.
Anindia tersenyum manis mendengar perkataan Keanu. "Iya ya, Mas. Aku juga gak mau Shaka ngerepotin Oma nya," ujarnya.
Keanu hanya menganggukkan kepalanya, lalu ia menarik Anindia lebih dekat ke sisinya. Mereka berdua terus berjalan, menikmati suasana kampus yang mulai sepi.
Tiba di taman kampus, keduanya bisa melihat jelas beberapa orang sudah menunggu. Keanu menarik nafas lega sedikit, setidaknya kata-kata Ardy bisa ia dipercaya.
"Kirain gak jadi," celetuk Keanu ketika menghampiri mereka.
"Haha, jadi dong! Kami juga baru datang," ujar Ardy menimpali sembari menepuk pundak Keanu. "Ayo, kita mulai diskusi! Lo juga bisa ngasih saran, bro," lanjutnya sembari melirik Anindia yang berdiri di samping Keanu.
Anindia tidak menyadari tatapan itu, ia hanya menganggukkan kepalanya dengan seutas senyum. Lalu ia memilih duduk di samping salah seorang mahasiswi. Keanu yang menyadari hal itu langsung berdehem keras, lalu sengaja mendekat ke arah Ardy dan membisikkan sesuatu padanya.
"Bisa gak sih, gak usah ngelirik bini gue?" Bisik Keanu penuh peringatan.
Ardy tertawa pelan, berusaha menahan tawanya agar tidak terlalu keras. "Sorry-sorry, gue gak ada maksud apa-apa," bisiknya santai, masih dengan senyum tipis di wajahnya.
Keanu menatapnya tajam untuk beberapa detik, sebelum akhirnya ia menjauh tanpa kata. Ia memilih duduk di samping Anindia, seolah ingin menunjukkan dengan jelas batasannya.
"Ya udah, kita mulai aja, ya?" Ujar Ardy mencoba untuk mencairkan suasana.
Semua orang langsung fokus. Ardy langsung mulai menjelaskan konsep acara kampus yang mereka buat. Ia sesekali menunjuk buku catatan di tangannya, lalu melirik ke arah Anindia.
"Jadi, gue pengen konsepnya itu lebih fresh, lebih modern. Nah, di sini gue butuh banget sentuhan desain yang beda. Menurut lo gimana, Anin?" Ujar Ardy di sela-sela menjelaskan.
Anindia yang sedari tadi memperhatikan, merasa sedikit terkejut ketika namanya di panggil. Ia mengangkat wajahnya, lalu mengangguk pelan.
"Humm, menurut aku sih bisa dibuat lebih minimalis, tapi tetap menarik perhatian, kak. Mungkin dari segi warna bisa pakai tone yang lebih berani, biar kelihatan stand out," ujar Anindia mengutarakan pendapatnya.
Ardy tersenyum, merasa puas dengan jawaban Anindia. "Nah, itu dia yang gue maksud! Gue suka cara lo mikir, Anin," ujarnya sembari memetikkan jarinya.
Keanu yang duduk di samping Anindia langsung melirik Ardy sekilas, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Rahangnya mengeras, tapi ia mencoba untuk tetap santai.
"Kalau dari segi layout, mungkin bisa aku coba bikin beberapa alternatif lain dulu, kak. Nanti kita pilih mana yang paling cocok," lanjut Anindia.
"Perfect! Gue tunggu hasilnya, ya?" Ujar Ardy kemudian, diikuti anggukan anggota lainnya sebagai tanda setuju.
Diskusi terus berlanjut, beberapa dari mereka juga ikut memberikan pendapat. Namun di tengah itu semua, Keanu terlihat lebih banyak diam. Tatapannya sesekali tertuju pada Ardy, mengawasi gerak-gerik pria itu.
"Eh, Anin. Nanti kalau sempat, kita bisa bahas lebih detail, ya. Biar lebih dapet feel nya," ujar Ardy santai.
Anindia terdiam sejenak, ia bisa merasakan tatapan Keanu di sampingnya, membuatnya merasa sedikit gugup.
"Bisa kok, kak. Tapi... Mungkin bareng yang lain aja ya, biar sekalian diskusi bareng," ujar Anindia menimpali.
Keanu tersenyum tipis, merasa puas dengan penuturan Anindia. Ia menggenggam tangan Anindia di bawah meja taman, membuat Anindia langsung menoleh ke arahnya.
"Iya gapapa, kita atur aja nanti," ujar Ardy dengan anggukan singkat, meskipun ada sedikit kekecewaan yang ia sembunyikan.
Diskusi kembali berlangsung, hingga berjalan sekitar hampir satu jam. Ardy langsung menutup pertemuan itu.
"Oke, segitu dulu ya. Thanks semuanya udah mau bantu," ujar Ardy.
Mereka semua mengangguk, lalu satu-persatu mulai beranjak meninggalkan taman kampus. Anindia merapikan bukunya lalu berdiri, dibantu oleh Keanu yang kini berdiri di sampingnya.
"Kak, kami duluan ya?" Pamit Anindia sopan.
"Iya Anin, hati-hati," ujar Ardy dengan seutas senyum tipis.
Baru saja hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja Ardy kembali bersuara, membuat keduanya langsung menoleh.
"Anin," panggil lirih Ardy.
"Iya kak?" Ujar Anindia kemudian.
Ardy terdiam untuk beberapa saat, menatap Anindia lebih lama dari seharusnya. "Lo keren, gue gak salah pilih orang," ujarnya.
"Makasih kak," ujar Anindia dengan senyum canggung.
Keanu merasa semakin tidak nyaman, ia langsung menarik tangan Anindia pelan, seolah memberi kode untuk segera pergi.
"Ekhem, permisi," ujar Keanu singkat, sembari mengajak Anindia meninggalkan taman itu.
Sepanjang jalan, suasana mendadak menjadi hening. Anindia melirik Keanu sekilas, ia paham betul bahwa suaminya itu sedang menahan sesuatu.
"Mas?" Panggil Anindia lirih.
Keanu tidak langsung menjawab. Ia masih berjalan, kedua tangannya kembali masuk ke dalam saku celananya.
"Mas, kamu marah ya?" Ujar Anindia hati-hati.
Keanu menghela nafas berat, lalu menghentikan sejenak langkahnya dan menoleh ke arah Anindia. "Aku gak marah, sayang. Cuma..." Lanjutnya yang mengambil sedikit jeda.
"Cuma apa?" Tanya Anindia penasaran.
"Cuma gak suka aja cara dia liat kamu," ujar Keanu langsung pada intinya. "Aku laki-laki, sayang. Aku tau maksud tatapan dari laki-laki lain."
Jawaban itu langsung membuat Anindia terdiam. Ia tahu bahwa Keanu merasa cemburu, dan sifat Keanu saat ini membuatnya terasa Dejavu. Wajar saja, karena feeling Keanu begitu kuat dan nyata adanya. Hening kembali menyelimuti, keduanya kembali melanjutkan langkahnya.
"Mas, dia cuma ngajak kerja kelompok," ujar Anindia pada akhirnya.
Keanu kembali berhenti, kali ini menatap Anindia dengan tatapan yang dalam. "Aku percaya kamu," ujarnya lembut.
"Tapi aku gak percaya dia." Lanjut Keanu lalu mengusap pucuk kepala Anindia sejenak. "Aku cuma gak mau kamu kenapa-napa," ujarnya.
Anindia tersenyum, lalu mengangguk pelan. "Iya Mas," ujarnya.
Keanu tersenyum tipis, lalu menggenggam tangan Anindia lagi. "Ayo kita pulang, Shaka udah menunggu."
Anindia mengangguk, lalu mengikuti langkah Keanu menuju ke arah parkiran. Keanu menghidupkan mesin, lalu menunggu Anindia untuk naik. Setelahnya, ia melajukan motornya meninggalkan area kampus.
Ardy berdiri di kejauhan, menatap ke arah jalan yang baru saja di lewati oleh keduanya. Tangannya ia sisipkan ke dalam saku celana, tatapannya terlihat lebih serius dari sebelumnya.
"Dia udah ada yang punya, tapi..." Gumamnya lirih.
"Cara dia ngomong, cara dia mikir buat gue merasa tertarik," lanjutnya.
Ardy terdiam sejenak, seolah mengingat setiap detail diskusi sebelumnya. "Anindia, kayaknya gue bakal lebih sering butuh lo," ujarnya.
Ardy kekehan kecil, tapi kali ini senyumnya mengandung arti lain. Bukan sekedar urusan proyek, tapi sesuatu yang mulai melibatkan rasa.
Di lain sisi, motor Keanu membelah jalanan yang mulai ramai. Angin menerpa wajah mereka, namun kali ini tidak ada obrolan seperti biasanya.
Keanu fokus pada jalan, tapi pikirannya tidak benar-benar ada di sana. Ia mengingat tatapan Ardy untuk Anindia, hal itu jelas saja membuat rahangnya mengeras, tangannya mencengkram stang motor lebih kuat.
Keanu menghela nafas pelan, mencoba mengendalikan emosinya. Ia tidak ingin terlihat berlebihan, tapi perasaan itu sulit untuk di abaikan. Ia laki-laki, dan ia tahu betul bagaimana cara laki-laki memandang perempuan yang mereka inginkan.
Anindia sendiri masih mengingat perkataan Keanu. Awalnya ia menganggap itu hanya cemburu biasa. Ia mempererat pelukannya pada Keanu, ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul. Bulan karena Keanu, melainkan teringat kejadian masa lalu.
Tiba di rumah, Keanu langsung memarkirkan motornya di halaman rumah. Ia melepas helmnya, lalu membantu melepaskan helm pada Anindia setelah istrinya itu turun dari motor.
"Kamu capek?" Tanya Keanu pelan, penuh kasih sayang.
Anindia menggeleng. "Enggak, Mas," ujarnya dengan seutas senyum.
Keanu tersenyum, lalu ia menuruni motornya. Ia menatap Anindia lembut, dengan tatapan yang lebih tenang namun juga masih terasa berat. Tanpa kata lagi, keduanya berjalan memasuki rumah.
Begitu pintu dibuka, suara kecil langsung menyambut keduanya. "Ba... Ba... Ba!"
Shaka yang berada di ruang tengah bersama sang Oma, langsung mengoceh riang ketika melihat kedua orang tuanya pulang. Seketika, ekspresi Keanu langsung berubah. Ia langsung berjalan cepat, lalu mengambil alih Shaka dari pangkuan ibunya.
"Anak ayah kangen ya?" Ujar Keanu sembari menciumi pipi Shaka berkali-kali.
Shaka tertawa ala bayi, tangan mungilnya menyentuh wajah Keanu. Anindia tersenyum melihat pemandangan itu. Seberapapun rumit masalah yang ia hadapi di luar, rumah adalah tempat pulang ternyaman baginya.
Anindia menyalami tangan ibu mertuanya, lalu duduk di sisinya. Mereka bertiga berbincang santai, mengabaikan tentang Ardy untuk sejenak.
...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...
Malam harinya, kamar terasa hening. Shaka sudah tertidur pulas dalam box bayinya. Lampu kamar redup, hanya menyisakan cahaya lembut di latar belakang.
Anindia duduk di tempat tidur, memandangi Shaka yang tidur dengan tenang. Sementara Keanu berdiri di dekat jendela, menatap keluar. Perasaannya saat ini terasa kalut, bukan hanya sekedar rasa cemburu, melainkan rasa protektif karena trauma masa lalu.
"Apa yang Mas bilang itu, serius?" Ujar Anindia memecah keheningan.
Keanu menoleh dengan anggukan singkat, lalu ia berjalan menghampiri dan duduk di samping Anindia.
"Serius sayang," ujar Keanu lembut. "Aku tau cara pria liat wanita yang dia suka," lanjutnya.
"Aku ke toilet sebentar, ya?" Ujar Keanu sebelum Anindia sempat berkata-kata dan langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar mandi.
"Iya Mas," ujar Anindia dengan anggukan singkat.
Pintu tertutup pelan, diikuti suara gemericik air dari keran air. Anindia menghela nafas, lalu menoleh ke arah Shaka. Tanpa sadar, seutas senyum tipis terukir di wajahnya.
Ting!
Saat itu, tiba-tiba saja ponselnya bergetar menandakan adanya pesan masuk. Ia meraih ponselnya di atas meja, merasa penasaran dengan siapa yang mengiriminya pesan malam-malam begini.
"Anin, sorry ganggu malam-malam," isi pesan itu yang ternyata dari Ardy.
Anindia merasa tidak enak dengan Keanu, namun ia juga merasa tidak enak dengan seniornya itu. Dengan ragu, akhirnya ia mengetikkan balasan.
"Iya kak, gapapa. Ada apa, ya?" Balasnya.
Tak butuh waktu lama, balasan pesan langsung masuk. "Gue mau bahas sedikit tentang konsep tadi. Takut lupa aja."
Anindia membaca perlahan, masih sekitar proyek, terkesan masih masuk akal. Ia kembali mengetikkan balasan pesan.
"Iya kak, yang bagian mana ya?"
"Yang bagian visual utama, gue kepikiran konsep lo tadi," balas Ardy.
Percakapan berlanjut, mereka membahas tentang proyek kampus yang akan datang. Semuanya terlihat normal dan profesional, layaknya diskusi biasa. Namun, di sela percakapan itu...
"Btw, lo kalo lagi jelasin itu enak di dengar, enak di pandang. Serius, gue gak pernah nemu orang yang cara mikirnya sejalan," ujar Ardy.
Jari Anindia yang sedang mengetik langsung terhenti. Matanya terpaku pada layar, perasaannya berubah menjadi tidak nyaman. Memilih abai, Anindia langsung mematikan layar ponselnya. Ia menarik nafas dalam, dadanya terasa sesak, karena perkataan Keanu sepertinya benar adanya.
"Sayang, kamu kenapa?" Ujar Keanu yang baru saja keluar dari kamar mandi.
^^^Bersambung...^^^
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!