Memulai bisnis memanglah bukan jalan yang mudah untuk di lalui. Apalagi jika diri ini tidak memiliki bekal yang cukup tuk bertahan di tengah lebatnya badai. Akan tetapi, jika hanya meneruskan bisnis yang telah di mulai, itu mungkin tidak begitu sulit. Maka dari itu, pertimbangan yang matang telah di putuskan secara pasti. Dan siap menerima resiko di depan jalannya nanti.
Bangunan yang tidak begitu menjulang tinggi akan menjadi rumah kedua bagi sosok pria yang seharusnya berani menolak permintaan dari sang ayah. Jika alasan itu bukan sakit, mungkin saat ini pria itu masih sibuk dengan sketsa di atas lembar-lembar kerja putih miliknya.
Sayangnya__ statusnya sebagai anak pertama harus dia jalankan sesuai aturan yang sudah ditetapkan di dalam keluarga. Dan mau tidak mau, pria itu harus mengorbankan mimpinya demi impian ayahnya, yang ingin menuntaskan bisnisnya.
Melihat sekitar yang tidak mendapati satupun karyawan. Karena setelah peresmian itu, ayah dari sang pria jatuh pingsan. Alhasil, perusahaan ditutup sementara. Dan untungnya saat itu belum ada orang yang menawarkan diri untuk bekerja di tempat itu-- hingga membuat kelegaan menimpa benak seluruh anggota keluarga. Terutama pria itu.
"Dari mana aku harus memulai?" Gundahnya. Melangkah lebih masuk ke dalam perusahaan itu.
"Siapa yang harus aku hubungi lebih dulu?" Terus bergumam dalam keheningan yang tidak membuat pria itu memutar tumit untuk kembali ke posisi awalnya-- sebagai arsitektur.
"Tidak mungkin jika aku menjalankannya sendiri sampai akhir." Senyum getir terlihat jelas di wajahnya. "Sampai akhir-- hal seperti ini tidak akan ada akhirnya bukan?"
Melangkah pelan dengan pandangan mata melihat sekelilingnya untuk mengamati setidak sudut ruangan yang baru saja pria tampan itu lewati. "Semuanya memang tidak mudah, tapi aku harus tetap menjalaninya. Karena mungkin saja, hal-hal baik datang berurutan sebagai tamu."
Kepalanya mengangguk kecil, dan kembali melangkah ke arah ruang utama perusahaan berlantai tujuh itu.
Masuk ke dalam yang tidak mendapati siapapun, kecuali meja kursi kerja. Jendela besar menarik perhatian sang pria, melangkah mendekat untuk melihat pemandangan di luar sana.
Napas gusar yang sesekali keluar itu benar-benar menandakan, jika pria itu sebenarnya tidak memiliki kesanggupan untuk menyelesaikan tujuan ayahnya dengan tangannya sendiri. Akan tetapi, sebuah kepercayaan yang entah kenapa membuat sang empu yakin -- jika dirinya mampu.
"Aku harus meluangkan waktu ku untuk datang kesini. Apa yang kau inginkan?" Suara familiar yang menyapa pendengaran, membuat sang empu perlahan membalikkan tubuhnya.
"Bergabung lah dengan ku, aku akan memberi mu upah gaji yang lebih besar dari pada pekerjaan mu saat ini." Bukan hanya sekedar tawaran. Tapi pria itu benar-benar ingin sekali orang di depan matanya saat ini bekerja di bawah pengawasannya.
Kepalanya mengangguk kecil, sembari memainkan lidahnya sesaat di dalam mulut. Karena jiwanya sedikit tertarik dengan apa yang dicetuskan lawan bicaranya. Karena dirinya tahu, pria itu tidak akan pernah main-main dengan perkataannya sendiri. "Aku akan bergabung dengan mu setelah kau menyelesaikan urusan mu di negara orang. Jadi__ tuntaskan lah lebih dulu pekerjaan mu sebelum memulai perusahaan ini."
"Aku pasti menyelesaikan. Tapi kau juga harus menepati perkataan mu. Karena__ jika sampai kau mengingkarinya. Akan aku pastikan, hidupmu tidak lagi aman. Dan, tempat kerja mu saat ini akan memberi mu pesangon."
Niat awal datang ke kota yang sering sekali Sella kunjungi, hanya ingin mencari baju baru, ataupun melihat-lihat bangunan tinggi nan cantik itu. Akan tetapi sebuah pesan singkat dari seseorang, mengharuskan Sella menunda keinginannya.
"Jika pun aku kesal, tapi aku tidak bisa menolaknya."
Diam menyunggingkan senyum, berjalan beriringan dengan seseorang yang kini membalikkan tubuh untuk melangkah mundur, agar jelas melihat wajah cantik milik Sella. Tapi hal itu malah membuat Sella membuang napas pendek, akan tingkah konyol yang di lakukan temannya saat ini.
"Berjalanlah dengan benar, agar kau tidak jatuh." Pinta Sella yang benar-benar di abaikan oleh pria tampan itu.
"Kau pasti akan langsung menolong ku. Karena kau bukan tipe orang yang mengabaikan orang begitu saja. Apalagi__ jika orang itu sangat butuh bantuan mu." Tanpa ragu kalimat itu keluar dari mulut sang pria.
Tirtha Anreyasatria, pria tampan dermawan yang penuh wibawa mengerikan saat kedua bola mata hitam pekat itu bertemu dengan manik mahoni milik siapapun. Tapi saat beradu argumen bersama wanita cantik di hadapannya, Tirtha langsung merubah sorot matanya penuh ketulusan, kehangatan yang tidak semua orang dapatkan.
Ingat!! Mereka berdua hanya teman, tidak lebih dari itu. Karena Tirtha sendiri juga harus menjaga perasaan tetangga atas rumahnya yang mungkin saat ini tengah berbaring di atas kasur.
"Tapi tidak untuk kali ini Tirtha. Aku akan mengabaikan mu." Balas Sella, melangkah lebih cepat dari sebelumnya. Meninggalkan Tirtha yang kembali tersenyum, sebelum merubah posisi berjalannya untuk menjajarkan kedua kakinya dengan milik Sella.
"Jika kau mengabaikan ku, kau tidak akan datang menemui ku saat ini. Bukankah seperti itu?" Goda Tirtha yang memang senang menjahili Sella. Apalagi jika tetangga ada di sekitar mereka. Tapi sayangnya__ orang itu tidak ada disini.
"Aku datang ke kota ini tidak hanya sekali, tapi berulang kali. Hari ini aku berniat ingin shoping, merilekskan pikiran ku. Tapi kau malah melihat ku. Mau tidak mau, aku harus menemui mu, bukan?" Senyum kecil yang terlukis di wajah Sella, sebentar menoleh ke samping untuk melihat wajah Tirtha. Itu membuat Tirtha semakin sulit menyembunyikan lengkungan sempurna di mimik wajahnya.
Kepala Tirtha mengangguk, dan Tirtha juga tidak bisa membantah apa yang baru saja menyapa pendengarannya. Karena Tirtha tidak mau mendatangkan suasana tidak nyaman dibenak Sella. Dan akhirnya, Tirtha memilih untuk mencari topik lain, agar Sella bertahan lebih sedikit lebih lama lagi bersamanya hari ini.
"Kau ingin makan?" Tawar Tirtha sembari memelankan langkah kakinya, terhenti tepat di depan bistro yang belum pernah Sella kunjungi sebelumnya.
Tidak langsung memberi balasan, kedua mata Sella melihat ke arah bangunan sederhana di antara beberapa bangunan tinggi di sisi kanan dan kiri. "Aku tidak begitu lapar. Tapi aku akan menemani mu makan."
Tirtha yang mendengar penuturan dari Sella, hanya mengangguk kecil tanpa melunturkan senyumannya. Sebelum melangkah masuk lebih dulu ke dalam bistro, yang diikuti oleh Sella tanpa ragu. Karena Sella yakin, jika Tirtha tidak akan mengajaknya masuk ke tempat yang mahal harganya.
Jika pun tempat itu sangat sederhana, tapi mereka memiliki pengunjung yang tidak sedikit. Hal itu membuat Sella sadar, jika kenyamanan itu memang harus di prioritaskan. Seperti bistro yang Sella kunjungi hari ini .. benar-benar sangat nyaman. Rasanya Sella ingin berkunjung setiap hari. Tapi sepertinya itu sangat mustahil.
Bukan Tirtha namanya jika pria itu hanya memesan satu porsi untuk dirinya sendiri. Karena Tirtha tidak mau terlihat seperti pria yang mementingkan perutnya sendiri. Tanpa peduli jika kini Tirtha mendapat tatapan tidak sudah dari Sella.
"Bukankah aku sudah bilang padamu, jika aku tidak lapar sama sekali." Cetus Sella terdengar sangat rendah di telinga Tirtha.
"Aku dengar. Dan aku tidak mau kau hanya menemani ku, aku juga ingin aku makan. Entah nanti, kau akan menghabiskannya atau tidak itu terserah mu. Tapi yang jelas, jika saat makan bersama ku kau juga harus makan." Kalimat yang keluar dari mulut Tirtha memang sangat sederhana tapi setiap kata yang terucap sedikit terselip penekanan mendalam.
"Kau tidak berubah sama sekali. Kau selalu memberi makan teman-teman saat bersama mu." Pasrah Sella. Menyandarkan tubuhnya dengan napas pendek, pandangan melihat sekitar yang benar-benar masih asing di penglihatan Sella. Membiarkan Tirtha yang kini mulai sibuk dengan poselnya itu.
Sampai makanan yang di pesan Tirtha tiba di depan mata mereka, spontan tersenyum pada pelayan muda yang sungguh menarik perhatian Sella. Dan bukan berarti Sella menyimpan rasa kepada pria muda itu.
"Terima kasih." Ucap Sella yang hanya mendapat anggukkan kecil dari sang pelayan, dan senyum menawannya.
"Ada apa?" Tanya Tirtha melihat Sella, sebelum menoleh ke belakang untuk mengikuti arah pandang Sella sebentar. Dan kembali pada wanita cantik di depan matanya saat ini.
"Bukan apa-apa." Balas Sella tersenyum kecil.
"Kau mengenalnya?" Rasa ingin tahu itu semakin tinggi di jiwa Tirtha, kini muali menyumpal mulutnya. Karena perutnya sendari tadi minta untuk diisi.
"Tidak!!" Ucap Sella dengan gelengan kecil dari kepalanya. "Hanya saja-- sangat di sayangkan, wajah setampan itu menjadi pelayan di tempat ini. Seharusnya dia memanfaatkan wajahnya__"
Seketika Sella diam menutup mulutnya, karena sadar dengan apa yang baru saja Sella lontarkan. Tidak seharusnya Sella mengatakan hal itu, karena jalan hidup Sella juga tidak semulus jalan raya.
"Kenapa?" Kening Tirtha mengerut sama, menatap Sella dengan sorot mata khawatir, karena wanita itu tiba-tiba diam tidak menuntaskan perkataannya.
"Seharusnya aku tidak memberinya komentar, bukan?" Senyum nanar tercetak jelas di wajah Sella. Benar-benar merasa bersalah, dan tidak enak sendiri.
Tirtha menegak minumannya terlebih dahulu sebelum memberi balasan. "Hal itu sangat wajar. Dan kau pun juga tidak perlu merasa bersalah."
Diam sejenak, Tirtha menelan ludahnya. Beralih pada pelayan pria muda yang di maksud oleh Sella. "Benar apa yang kau katakan, seharusnya dia memanfaatkan wajahnya. Jika aku memberinya tawaran untuk bergabung di perusahaan ku, apa dia akan menerimanya?"
Kedua mata Tirta yang bertemu dengan milik Sella. Wanita itu hanya bisa bergumam secara spontan, karena tahu maksud di balik perkataan Tirtha. Apalagi lengkungan sempurna penuh arti itu membuat Sella kembali tersenyum nanar.
"Bagaimana? Apa yang kau lakukan di rumah kali ini?" Pertanyaan tidak terduga dari Tirtha, yang tidak lagi membuat Sella merasa heran ataupun terkejut.
"Tidur." Dengan asal Sella memberi sahutan. "Karena aku harus melakukannya, agar jiwaku tidak lelah."
"Apa kau tidak bosan melakukan hal itu setiap hari?" Bukan Tirtha namanya jika memilih jalan untuk menyerang, karena sulit mendapatkan wanita seperti Sella.
"Bosan itu pasti ada, tapi aku sangat-sangat menyukainya." Begitu riang dan senang hati, Sella melontarkan perkataannya, yang masih juga belum membuat Tirtha merasa bosan dengan sikap Sella.
"Benarkah??" Sebentar jari telunjuk tangan kanan Tirtha mengusap ujung hidungnya yang merasa gatal tanpa sebab. "Apa kau tidak ada niatan bergabung dengan perusahaan ku? Karena aku benar-benar membutuhkan teman untuk mengoperasikannya."
"Perusahaan mana yang kau maksud?" Tidak begitu cepat Sella menampilkan perkataannya.
"Aku sudah mengatakannya padamu bukan? Jika aku akan mengelola perusahaan ayah ku. Dan saat ini aku benar-benar butuh teman, agar semuanya berjalan tanpa hambatan." Mungkin kalimat yang dicetuskan Tirtha terdengar sedikit ambigu. Tapi hal itu dapat Sella mengerti tanpa banyak tanya.
...Kebaikan semesta hari ini,...
...mempertemukan ku dengan teman-teman lama...
...- Tirtha Anreyasatria -...
Bukan siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling beruntung. Karena mendapat teman tanpa adanya pengkhianatan, ataupun saling iri atas pencapaian satu sama lain. Tirtha kini masih berhadapan dengan wanita cantik yang dulu sempat menarik perhatian Tirtha. Dan mungkin saat ini pun Sella masih membuat Tirtha tertarik pada wanita itu. Tapi sayangnya, itu hanya sebatas teman. Karena Sella bukanlah wanita yang mudah untuk didekati, ataupun di miliki
"Sungguh? Kau tidak berniat ingin bergabung dengan perusahaan ku?" Terus bertanya, karena Tirtha yakin jika Sella akan menerima tawarannya. Tapi Tirtha juga harus ingat, saat ini Sella masih mengistirahatkan raga dan pikirannya. Karena Sella baru saja keluar dari tempat kerja wanita itu.
Senyum canggung tercetak tidak begitu jelas di wajah Sella. "Aku akan memikirkannya lagi." Hanya kalimat itu yang bisa Sella cetuskan kali ini.
"Kau selalu mengatakan hal yang sama." Tidak begitu cepat, Tirtha mencetuskannya dengan sedikit cemberut. Agar Sella mengasihaninya. Tapi nyatanya, Sella benar-benar tidak bisa di pengaruhi sedikit pun. Wanita itu sungguh memiliki prinsip yang sangat di idamkan banyak pria.
"Karena hanya itu yang bisa aku katakan saat ini. Apalagi__" diam sejenak, Sella menelan ludah getirnya. "Butuh waktu tiga jam aku sampai di kota ini. Karena kau tahu sendiri bukan, jika setelah lulus sekolah aku harus ikut orang tuaku kembali ke rumah mereka."
Kepala Tirtha mengangguk paham. Dan itu memang benar, Sella hanya pendatang di kota ini, karena pekerjaan orang tuanya. Setelah pekerjaan orang tua Sella selesai, mereka kembali membawa Sella ke tempat semula. Dan saat itu Tirtha juga tidak bisa menahan kepergian Sella. Karena, waktu itu Tirtha juga harus fokus pada pendidikan lanjutannya.
"Jika aku mencarikan mu tempat tinggal disini. Apa kau akan menyetujuinya?" Bukan Tirtha namanya jika pria itu menyerah begitu saja membujuk Sella. Jika pun banyak wanita di luar sana yang mungkin jauh lebih dari Sella. Tapi entah kenapa, Tirtha harus membawa Sella ke dalam perusahaan. Karena keteguhan Sella yang sejak awal sudah menarik perhatian Tirtha.
"Kau punya banyak uang ternyata." Senyum kecil yang begitu getir Sella perlihatkan. Wanita itu menegak minumannya dengan pandangan melihat ke sembarangan arah.
"Kau bisa menggantinya dengan uang gaji mu nanti." Tanpa ragu Tirtha melontarkan perkataannya dengan senyum tulus di wajahnya. Sebelum menoleh ke arah pintu masuk, karena seorang pelanggan yang baru saja tiba menarik kedua mata Tirtha.
Hal itu membuat Sella mengikuti arah pandang Tirtha yang menatap satu objek, di mana sosok familiar bagi mereka. "Rama? Benar bukan dia Rama?" Cetus Sella.
"Ohh__ benar, dia." Kepala Tirtha mengangguk kecil, sembari membenarkan posisi duduknya-- sebentar melihat Sella, sebelum beranjak dari duduknya untuk menghampiri Rama. Karena sudah lama sekali Tirtha tidak melihat temannya satu itu.
Tanpa ragu, Tirtha menepuk pelan sebentar pundak pria tampan bertopi hitam tidak lupa dengan kacamata bulatnya yang bertengger di tulang hidungnya. "Rama__" sangat pelan, karena Tirtha tidak mau mengejutkan temannya.
Perlahan dengan pasti, kepala Rama menoleh ke belakang dengan posisi tubuh begiti refleks berbalik. Mendapati seseorang yang sudah lama tidak Rama lihat. Tanpa ragu ataupun malu, Rama tersenyum hangat saat Tirtha memeluk tubuhnya.
"Bagaimana kabar mu?" Tanya Tirtha sembari melepas pelukannya. Wajah Tirtha benar-benar terlihat sangat senang sekali, bertemu dengan teman lamanya.
"Baik." Balas Rama seraya mengangguk kecil. "Bagaimana dengan mu sendiri? Apa sekolah mu lancar?"
"Seperti yang kau lihat saat ini, aku bisa kembali ke Indonesia dengan selamat." Tidak begitu cepat Tirtha mengatakannya.
"Apa kau sudah makan?" Pertanyaan biasa dari Tirtha itu sangat hangat di pendengaran Rama.
"Aku akan memesannya." Ucap Rama yang tidak melunturkan senyumannya.
"Kau juga harus menyapa Sella. Dia ada disini juga." Perlahan Tirtha melihat ke arah Sella yang spontan melambaikan sebentar tangan kanannya pada Rama, saat kedua mata hitam pekat itu saling berkontak.
Rama yang melihat hanya tersenyum dengan kepala mengangguk kecil, sebelum beralih pada Tirtha. "Aku akan datang kesana."
Setelah mendengar penuturan dari Rama, kini Tirtha kembali melangkah di mana Sella berada dengan senyum yang penuh menyimpan sejuta kebahagiaan mendalam. Hingga siapapun sulit untuk merangkainya sebagai kalimat sempurna.
"Kau tidak menyuruhnya kesini?" Tanya Sella, saat Tirtha kembali duduk di depan matanya saat ini.
"Dia akan menyapamu. Kau harus menunggunya." Balas Tirtha diiringi senyum kebahagiaan. Benar-benar merasa bersyukur, karena telah diberi kesempatan untuk melihat teman-temannya lagi. Jika pun itu tidak lengkap, tapi Tirtha akan menerimanya saat ini.
Dan ada janji yang tidak siapapun ketahui, jika Tirtha akan mengumpulkan teman-temannya lagi. Orang-orang baik yang Tirtha kenak, harus ada di depan matanya mulai detik ini. Apapun itu halangannya, Tirtha harus menuntaskan tujuan awalnya. Walau, pekerjaan itu bukan keinginan Tirtha sejak kecil.
Tapi dengan adanya perusahaan itu Tirtha mampu membantu orang-orang baik yang sempat hadir di hidupnya. Mungkin, Tirtha akan tetap menjalankannya tanpa menyesalinya karena merasa tidak adil . Karena telah menyisihkan mimpinya. Dan bukan berarti, Tirtha melupakan profesinya sebagai arsitek.
"Sella, bagaimana kabar mu? Apa kau baik-baik saja?" Cetus Rama yang baru saja tiba dengan nampan makanannya. Duduk di samping kanan Tirtha, pandangan matanya tertuju pada wanita cantik di depannya.
"Aku sangat baik. Kau bisa melihatnya saat ini. Tapi__ bagaimana dengan mu sendiri?" Ucap Sella yang penuh dengan kekhawatiran. Karena saat kenaikan kelas tiga, Rama harus mengakhiri pendidikannya. Dan itu sangat-sangat di sayangkan. Tapi Sella juga tidak bisa membuat Rama untuk bertahan sedikit lagi hingga lulus sekolah.
"Aku baik-baik saja." Balas Rama dengan senyumannya yang tidak benar-benar membuat benak Sella merasa tenang.
"Di mana kau tinggal saat ini?" Pertanyaan konyol dari Tirtha yang hanya ingin memastikan, jika Rama tidak pindah posisi rumah.
Menelan lebih dulu makanannya, kini Rama memberi balasan. "Di dekat rumah mu. Tepat di depan rumah mu"
"Dekat rumah ku?" Ulang Tirtha yang tidak begitu cepat, dengan kening mengerut samar. Karena merasa bingung sendiri.
"Aku tidak tahu apa yang sempat kau katakan pada ayah mu. Dia mencari ku, meminta ku untuk tinggal di dekatnya. Karena dia tidak mau melihat Yumna tidak melanjutkan pendidikannya." Tanpa adanya keraguan sama sekali, Rama mencetuskannya. Karena Rama bukan pria yang senang berbohong. Apalagi jika sudah berhadapan dengan teman-temannya, terutama Tirtha.
Tirtha yang mendengar penuturan dari Rama-- pria itu diam sesaat, dengan kening yang sesekali mengerut samar. Mengingat kembali akan dirinya yang mungkin memang pernah berbagi cerita soal Rana kepada ayahnya. Tapi Tirtha juga tidak berekspetasi, jika ayahnya mencari Rama dan meminta temannya itu tinggal di dekat rumahnya.
Apa ayahnya sempat melihat penderitaan Rama?
"Terus__ apa yang kau kerjakan saat ini?" Keraguan itu terselip di setiap kata dari mulut Tirtha. Karena Tirtha tidak mau menyinggung perasaan Rama.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!