Indonesia
NovelToon NovelToon

MISTERI DESA GETIH

Awal

Alawiyah baru saja turun dari taxi yang ditumpanginya. Mobil itu tak dapat membawanya ke desa tujuan, dengan alasan yang cukup membuat ia merasa sangat nelangsa.

"Tolonglah, Kang. Antarkan saya sampai ke Desa Getih. Saya tidak mungkin naik ojek. Ongkosnya saya tambahi lagi, dua kali lipat." Alawiyah mencoba memaksa sang sopir taksi online untuk mengantarkannya.

Wajahnya sudah cukup kelelahan, dan hal itu disebabkan karena perjalanan yang cukup jauh, dan ditambah lagi dengan kondisinya yang hamil besar.

Perutnya terasa begah, dan pinggangnya terasa panas, ditambah lagi pergerakan aktif sang janin yang tak mau diam, seolah tak sabar ingin segera melihat dunia.

"Maaf, Mbak. Bukan saya tidak mau, tetapi desa Getih yang Mbak sebutkan itu tidak terbaca oleh maps, dan itu artinya tidak ada terdata di administratif pemerintahan Jawa Timur." sahut sang Sopir menjelaskan.

Pria itu berulangkali mengetik nama desa yang disebutkan oleh Alawiyah, tetapi hasilnya tetap sama saja, tidak terbaca.

"Gak terdata gimana—sih, Kang?" Alawiyah mengerutkan keningnya, sebab ia tidak mungkin salah, karena suaminya pernah mengatakan dirinya berasal dari Desa Getih, dilereng gunung Kawi—tepatnya.

Ia menganggap jika sopir taksi itu hanya mencari alasan saja, dan tidak memiliki empati pada wanita hamil sepertinya.

"Maaf, Mbak. Saya gak bisa antar sampai kesana, cari saja ojek." tolak sang sopir dengan yang tak kalah bersikeras.

"Sudahlah, Kang. tidak ada gunanya juga berdebat," Alawiyah akhirnya mengalah, lalu menyerahkan uang tagihan dari jasa yang sudah digunakannya.

Sejujurnya, hatinya sangat nelangsa. Sebab ia tidak tahu benar dimana alamat Bayu—suaminya. Tetapi yang ia ingat, hanya nama 'Desa Getih' yang disebutkan oleh suaminya.

Taaak

Pintu mobil ditutup. Alawiyah mengambil koper berisi pakaian yang tidak begitu terlalu banyak.

Tangannya yang tampak kurus, menyeret koper dengan cepat, lalu berdiri mematung menatap rimbunan pohon yang berbaris dijalanan.

Sesekali ia menarik nafasnya yang terasa sangat sesak.

"Ya, Allah, semoga aku bisa menemukan Mas Bayu," ucapnya lirih. Ia hanya punya harapan, meskipun begitu sangat kecil.

"Kita cari bapakmu—ya, Nak." Alawiyah mengusap perutnya yang membuncit, dan calon bayinya bereaksi kecil, memberikan tendangan, sebagai jawaban dari interaksi mereka..

Ia masih mengingat saat tiga bulan yang lalu, Bayu—Suaminya berpamitan pulang ke kampung halaman, dan janji akan kembali lagi karena ingin mencari biaya untuk persalinannya.

"Dik, Mas balik kampung dulu, mau cari uang buat biaya kelahiran anak kita," suara Bayu terdengar penuh meyakinkan.

Hal itu membut Alawiyah merasa pasrah, meskipun tak rela melepaskannya, ada perasaan berat mengganjal dihatinya.

"Aku ikut kamu, Mas. Aku tidak mau kalau kamu tinggal," Alawiyah memohon agar dibawa serta. Tetapi Bayu tampak berubah rona wjahnya, seperti ada sesutu yang sedang disembunyikannya.

"Jangan, kamu disini saja. Mas janji—jika uangnya sudah terkumpul, Mas akan segera kembali, dan kita tinggal disini selamanya, bersama-sama,"

Bayu tampak gelisah, tatapannya seperti menerawang, membuat hati Alawiyah semakin tak tenang.

"Aku seperti ragu melepaskanmu. Dimana desa kamu sebenarnya, Mas?" kali ini, Alawiyah mendesak suaminya. Sebab pria itu selalu saja mengalihkan pembicaraan, setiap kali ia bertanya dimana desa tempat tinggal suaminya.

Bayu mengamit pundak istrinya, lalu mengusapnya dengan lembut.

"Desa Getih, tepatnya dilereng Gunung Kawi,"

Wajah pria itu terlihat sangat jujur, dan mustahil jika menipunya.

Akan tetapi, sudah tiga bulan lamanya, dan kelahiran putera mereka sudah mendekati sebulan lagi perkiraan dari Dokter, tetapi tak ada kabar yang didapatnya.

Setelah kepergian Bayu yang tak juga kunjung kembali, membuat ia mengambil keputusan, meskipun harus ditentang oleh keluarganya.

"Wiyah, kamu beneran mau nyusul Bayu ke Gunung Kawi?" tanya Rahayu seminggu yang lalu, sebelum Alawiyah memutuskan untuk pergi. Beliau adalah bibinya, sebab ia sudah yatim piatu.

"Iya, Bi. Bentar lagi aku mau lahiran, gak mungkin aku terus menunggu tanpa kepastian, aku harus menyusul Mas Bayu," ia bersikeras dengan keinginannya.

Rahayu merasa iba melihat sang keponakan. Hidupnya terus saja dirundung duka, dimana kedua orangtuanya sudah meninggal dunia, dan kini suami yang ia jadikan sandaran hati juga pergi meninggalkannya tanpa kabar.

"Bibi gak merasa direpotkan kalau kamu melahirkan tanpa Bayu. Tapi kalau kamu harus ke lereng Gunung Kawi, bibi merasa berat melepaskanmu,"

Rahayu sangat khawatir. Ia berharap jika Alawiyah mengurungkan niatnya, sebab bagaimanapun, Alawiyah adalah satu-satunya saudara yang ia punya.

"Jangan takut, Bi. Aku bisa jaga diri." sangkal Alawiyah, mencoba meyakinkan wanita yang selama ini sudah mengasuhnya sedari kedua orangtuanya meninggal dunia.

"Terserah kamu saja, tapi jika kamu menemui masalah, kembali lah ke rumah ini, Bibi siap menerimamu," wanita itu menawarkan sebuah ketulusan yang tak dapat dinilai oleh apapun.

"Mbak, mau ojek!" seru seorang pria yang membuyarkan lamunan Alawiyah.

"Hah!" Alawiyah tersentak kaget. Lalu mengulas senyum ramah. "Iya, Kang. Saya mau ke Desa Getih, kira-kira berapa ongkosnya?" ia langsung menanggapinya. Sebab melihat hari semakin sore, ia sangat takut kemalaman.

Pria yang menggunakan topi berwarna hitam itu terdiam sejenak. Lalu menatap sang wanita, dan pandangannya berhenti pada perut Alawiyah yang sudah membuncit sangat besar.

"Serius mau ke sana? Gak takut? Apalagi mbaknya sedang hamil begini, loh?" pria itu tampak ragu dengan apa yang dikatakan oleh calon penumpangnya.

Bahkan ia melupakan harga ongkos yang ditanya oleh sang wanita barusan.

Ia menelisik wajah Alawiyah yang sangat kelelahan, dan sedikit merasa iba.

"Iya, Kang. Saya mau nemui suami saya. Memangnya ada apa—ya, Kang?" tanya Alawiyah dengan rasa penasaran.

Pria itu tampak sedang berfikir keras untuk menjawab pertanyaan dari calon penumpangnya. "Mbak. Desa itu terisolasi, gak ada yang mau kesana, baiknya mbak batalin saja, deh." pria itu mencoba mengingatkan.

Ia berharap jika Alawiyah kembali berfikir ulang, lalu membatalkan niatnya.

"Gak bisa, Kang. Saya harus ketemu suami saya, perasaan saya gak enak." Alawiyah bersikeras dengan apa yang akan dilakukannya.

Pria itu menarik nafasnya dengan berat. "Tapi ingat pesan saya, saat disana nanti, jangan banyak tanya dengan warganya, kalau ada yang tanya nama kamu, jangan pernah beritahu yang asli dan juga jangan lupa baca doa," pesannya pada sang wanita.

Alawiyah semakin merasakan hal yang sangat janggal, dan hatinya tak tenang. Tetapi ia semakin merasa penasaran, dan ingin mencari tahu, apa yang membuat desa itu sangat begitu misteri.

"Sudah, saya antar, nanti keburu malam." pria itu memberikan helm kepada Alawiyah yang masih tampak berfikir.

 "Dipakai, Mbak." ia mengingatkan kembali, dan tak ingin membuat calon penumpangnya banyak tanya. Kemudian bersiap untuk membawa wanita itu ketujuannya.

Alawiyah meraihnya, lalu mengenakan helm tersebut.

Sepanjang perjalanan, Alawiyah merasakan seperti sebuah bisikan-bisikan yang samar, dimana memintanya untuk membatalkan perjalanan dan ada juga bisikan yang memintanya untuk meneruskan niatnya.

Semua itu, membuatnya semakin gelisah yang bercampur rasa penasaran.

Jalanan yang berbatu, membuat ia memegangi perutnya terguncang, menahannya agar tidak mengalami masalah yang serius pada janinnya.

"Masih lama, Kang?" tanya Alawiyah, rasanya ia sudah tidak lagi sanggup berada diatas kendaraan bermotor, rasa mual dan keram menjadi satu.

"Kan—sudah saya katakan, jangan pergi, tapi—Mbaknya tetap memaksa," pria itu menanggapinya dengan dingin.

"—Tapi, Kang. Saya—" Alawiyah menghentikan ucapannya, saat melihat pemandangan yang tak biasa.

Penampakan

Belum sempat Alawiyah kembali meneruskan kalimatnya, Kang Ojek menghentikan kendaraannya.

Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, akhirnya mereka tiba disebuah pintu gerbang yang terbuat dari tumpukan batu dan tidak ada nama desa tersebut.

"Kang, ini beneran desanya?"Alawiyah turun dari ojek yang membawanya. Ditangan kanannya ia menarik koper.

"Kan—desa Getih yang dilereng Gunung Kawi, ya ini." pria itu kembali menekan ucapannya.

"Ya, sudah. Berapa ongkosnya, Kang?"

"Seratus ribu saja,"

Tak ingin berdebat, Alawiyah membuka dompetnya, lalu menyerahkan uang tersebut kepada kang ojek.

Pria tampak melirik kearah rumah warga yang memiliki bangunan cukup luas dan juga mewah.

"Hiiih!" pria itu bergidik ngeri, lalu tancap gas, dan menuju pulang dari arah yang berlawanan.

Alawiyah kembali bingung dengan sikap yang ditunjukkan oleh pria tersebut. "Aneh," gumamnya lirih, sembari menatap kepergian pria tersebut.

"Doain kita segera ketemu sama ayahmu, ya, Nak." bisiknya dengan lembut, sembari mengusap perutnya yang membuncit.

Ia menghela nafasnya dengan berat, lalu menatap gerbang tanpa nama itu dengan perasaan yang tak nyaman.

Entah aura apa yang datang, ia merasakan bulu kuduknya meremang, serta suara-suara samar yang seolah memanggil namanya.

Bahkan ia merasa jika terdapat banyak pasang mata sedang memperhatikannya.

"Perasaanku kenapa gak enak—ya?" Alawiyah menyapu tengkuknya, dan desiran-desiran dialiran darahnya seolah berpacu cukup kencang.

Tatapan masih menyapu setiap rumah yang ada di sepanjang jalanan desa.

Rasa takjub, dan juga merasa penasaran membuatnya berdecak heran.

"Katanya desa terisolasi, tetapi kenapa rumah-rumah mereka sangat mewah?" Alawiyah merasa bingung dengan kondisi yang tidak sesuai ekspektasinya.

Sebab Kang Ojek mengatakan desa terisolasi, maka dalam bayangannya adalah desa dengan kehidupan yang cukup memprihatikan, dan rumah-rumah yang berdinding reot.

Tetapi tidak bagi Desa Getih, dimana rumah-rumah warga cukup mewah, bangunan gedung bertingkat hampir menyeluruh rumah dan itu yang berada ditepian jalan, serta mobil semua warga memilikinya.

Alawiyah melangkahkan kakinya memasuki gerbang. Ia ingin bertanya, tetapi pada siapa? Sebab tidak mungkin mengetuk pintu rumah pagar.

Wuuuuuussh

Desiran angin menyapanya, dan membuat bulu kuduknya kembali meremang.

"Alawiyah, pergi, pergilah, jangan masuk desa ini," sebuah bisikan yang seolah begitu jelas ditelinganya, tetapi tidak berwujud.

"Astaghfirullah," ia terkejut dengan bisikan tersebut. Jantungnya berdegub lebih kencang, dan membuatnya memegangi dada kirinya.

Ia mencari siapa yang berbisik padanya, tetapi tak ia temukan, semua terasa sepi.

"Mungkin hanya halusinasiku saja," ia menepis semua keraguan yang datang mengingatkannya.

Ia menghela dengan berat, lalu memaksakan tekadnya untuk masuk ke dalam, dan bertanya pada siapa saja nanti yang ditemuinya dijalan. Ia mengingat, jika nama ibu mertuanya adalah Ratih.

"Alawiyah, pergi, pergi selamatkan bayimu dan juga nyawamu!" bisikan itu semakin bergema ditelinganya, membuat ia dilema , sebab ia harus mencari suaminya.

Ia yang mendengar suara seruan tak berwujud itu langsung menutup telinganya dan melanjutkan perjalanannya.

Baru saja ia melangkah memasuki pintu gerbang. Ia harus syok dengan apa yang disaksikan.

"Hah!" tiba-tiba ia dikejutkan oleh penampakan aneh diatas genteng warga, dimana seekor kera dengan kepala manusia tampak bertengger disana.

 "Astaghfirullah!" pekiknya dengan rasa keterkejutan, saat menyaksikan kejanggalan yang dilihatnya. Ia meneoan salivanya, seolah semua itu membuatnya seperti dehidrasi.

Jantungnya berdegub kencang, dan ia mencoba mengedipkan kedua matanya, menganggap jika apa yang dilihatnya hanyalah sebuah ilusi belaka.

"Apa aku salah lihat—Ya?" ia kembali bergumam, lalu melihat ke atas genteng itu lagi.

Alih-alih hanya sebuah ilusi, tetapi ia masih tetap melihat wujud Kera berkepala manusia tersebut.

"Jadi, ini semua beneran ada?" ia bertanya pada dirinya sendiri, dan masih dalam tatapan rasa takut, sosok Kera berkepala manusia itu menatapnya dengan wajah sangat dingin, dan tampak bulir bening jatuh disudut matanya, entah apa yang membuatnya tampak begitu sedih.

"Kenapa setannya jadi mellow?" Alawiyah merasa bingung, apakah ia harus takut, atau mesti kasihan pada sosok tersebut.

Perlahan perutnya mendadak keram, mungkin disebabkan ia terlalu jauh menempuh perjalanan.

"Astaghfirullah ... Sakit banget," Alawiyah mengeluh sakit, ia mencari tempat untuk dijadikannya beristirahat sejenak, dan keringat dingin mulai mengalir disudut pelipisnya.

Nafasnya mulai terasa berat, janin didalam perutnya tampak menendang-nendang dengan gerakan yang halus.

Ia mengalihkan pandangannya ke sisi kanan, terlihat rumah berlantai tiga yang tak kalah megahnya, dan digarasi yang pintunya terbuka, terlihat tiga buah mobil mewah berjejer dengan menampilkan kemewahan duniawi.

"Kok bisa ada, ya? Desa terisolasi, tetapi penduduknya sangat kaya raya?" Alawiyah tampak takjub. Tetapi—lagi ada bisikan yang datang, mengharuskannya untuk pergi.

Baru saja ia merasa kagum, kini ia kembali dikejutkan dengan penampakan yang tak kalah menyeramkan dari rumah disisi kiri, dimana sosok makhluk setengah ular melingkar diatas salah satu mobil mewah tersebut.

"Astaghfirullah," Alawiyah kembali terpekik, dan wajahnya memucat, semakin lama ia melihat rumah-rumah mewah warga, semakin membuatnya merasakan sakit dan keram dibagian perutnya.

"Mengapa rumah mewah mereka dihuni berbagai makhluk mengerikan?" Alawiyah semakin bingung, dan niatnya ingin beristirahat, terpaksa ia urungkan, dan memilih melanjutkan perjalanannya.

"Aduuh, perutku sakit banget," rintihnya dengan wajah menahan sakit. Langkahnya tertatih. Tetapi ia tidak berani sekedar untuk bertanya dimana rumah Bayu—suaminya, pada warga pemilik rumah mewah.

Ia mengedarkan pandangannya ke arah jalan, berharap ada yang melintas, sebab rumah-rumah mewah itu berpagar semuanya, seolah saling berlomba, siapa diantara mereka yang paling kaya.

Wajahnya semakin pucat, dan janin dalam kandungannya terys saja aktif, seolah merasakan sesuatu yang tak wajar.

"Nak, jangan nakal—ya. Ibu harus ketemu rumah ayahmu, kita harus kumpul kembali," Alawiyah mengusap perutnya yang menegang.

"Mas Bayu. Kamu dimana—sih? Apakah kamu tidak merasakan getaran yang sama, tentang arti kerinduan, dari aku adan juga anakmu," Alawiyah merasakan dadanya semakin sesak. Ada gejolak emosi yang terpaksa ia keluarkan.

Bulir bening jatuh sudut dimatanya. Ia merasa jika dirinya sangat rapuh, dan bertemu dengan Bayu adalah harapan yang sedang ia bangun.

Tanpa sadar, ia tersedu. Ia tidak tahu, apakah langkahnya salah, tetapi ia berharap, jika semua ini adalah gerak yang dituntun oleh Sang Maha Kuasa.

Wuuuuussh

Desiran angin kembali berdesir, dan menghantarkan aroma yang cukup beragam.

Dari bau amis dan anyir darah, bau bangkai, bau Tai kering, bahkan aroma melati, dan bau busuk berpadu menjadi satu.

Mbok Ratih

"Mengapa setiap rumah warga menyebarkan aroma yang sangat aneh?" Alawiyah menutup hidungnya dengan ujung hijabnya.

Rasa mual terkadang membuat peruknya serasa seperti diaduk.

Akan tetapi, Alawiyah memaksakan kakinya yang sudah terasa pegal untuk terus melangkah, meskipun rasa sakit kadang datang dan hilang begitu saja.

Sesekali ia menarik nafasnya yang terasa berat, tendangan-tendangan kecil dari calon bayinya, seperti isyarat, agar ibunya tetap tegar.

"Kemana aku harus bertanya? Semua pintu rumah tertutup." keluhnya, sembari mengamati seluruh rumah yang tampak mewah.

Ia merasa, jika rumah-rumah warga tidak ada satupun yang sederhana seolah sebuah parodi kemewahan yang saling berlomba—siapa yang paling kaya.

"Sebenarnya apa usaha mereka?" rasa penasaran terus bergelayut dibenaknya, dan membuat ia seperti berada dilorong surga duniawi.

Sepanjang mata memandang, ia disuguhkan dengan kemegahan dan kemewahan. Bahkan ditempat asalnya ia tidak pernah melihat semua itu.

Setelah jauh berjalan, ia melihat ada perkampungan lain didalamnya, tepatnya berada dilereng-lereng gunung, dan itu sangat kontras dengan rumah dibagian tepi jalan, dan berjarak hingga lima ratus meter, yang semuanya serba mewah, tetapi tidak dibagian rumah ini.

"Ternyata ada juga rumahnya yang biasa saja, ku kira semua mewah." ucapnya dengan lirih.

Tetapi disisi bagian kiri, semua warganya sudah hidup lebih dari berkecukupan, sedangkan di sisi kanan rumah-rumah warga masih sederhana, dengan bangunan semi permanen bahkan ada yang terbuat dari dinding papan yang sudah tampak rapuh dengan cat memudar dan kusam.

Saat menatap rumah itu, ia merasakan sesuatu yang berbeda, dimana hatinya begitu damai meski jauh mewah dari rumah yang lainnya.

"Tapi kenapa lebih adem liat rumah yang paling buruk diantara yang lainnya, ya?" Alawiyah kembali berguman.

Ia memutar pandangannya ke sisi kiri. Sebuah rumah megah dengan bangunan tiga lantai, dengan cat berwarna hitam.

Rumah itu cukup luas. Bahkan Alawiyah memperkirakan, lebarnya saja mencapai tiga puluh meter, dan panjangnya yang juga sama, membuat ia melongo.

Aura rumah tersebut, membuat Alawiyah merasakan bulu kuduknya meremang.

Ia bergidik ngeri, menyapu punggungnya, seolah ada yang terus saja mengawasi—perutnya.

"Kenapa kelihatan serem‐ya?" ia memindai rumah mewah tersebut, hingga melihat sesuatu diatas bubungannya, terdapat sosok yang membuat bulu kuduk Alawiyah meremang.

"Apa itu?" ia menyipitkan matanya, memindai sosok makhluk berwarna hitam, dengan bulu tebal, dan taring yang mencuat di sudut mulutnya.

"Astaghfirullah ...." Alawiyah terlonjak kaget, ia memegang dadanya yang bergemuruh, dimana sosok itu menatap tajam padanya.

Aroma singkong bakar menguar hingga terendus ke indera penciumannya.

Alawiyah merasakan gemuruh dadanya yang menderu, dan ia mersa semakin aneh dengan desa yang disebut suaminya sebagai 'Desa Getih'.

"Kamu sedang apa, Mbak?" suara seorang gadis berambut lurus panjang sepunggung, membuyarkan lamunan Alawiyah.

"Astaghfirullah, kamu ngagetin saya saja," Alawiyah kembali beristihfar, sembari mengusap dadanya yang bergemuruh, dan ia memindai wajah gadis yang menyapanya, sedang menggunakan sepeda motor matic dengan keluaran terbaru.

"Mbak, barusan ngucapin apa—ya?" ia kembali bertanya, sebelum Alawiyah sempat menjawab pertanyaan pertama, sembari mengerutkan keningnya.

Baginya, kalimat istghfar yang diucapkan oleh Alawiyah sangatlah asing baginya.

Kali ini, Alawiyah yang melongo. "Maaf, memangnya agama kamu apaan, Dik?" ia bertanya, sebab merasa jika pertanyaan gadis itu sangatlah terlalu berlebihan.

"Di kolom KTP, tertulis Islam." jawabnya dengan santai. Ia menenteng kantong kresek berwarna putih, didalamnya terdapat dua ekor ayam berbulu hitam, yang biasa disebut ayam cemani.

Alawiyah kembali melongo, dan lelucon apa yang disuguhkan dihadapannya.

Bagaimana tidak, orang non muslim saja tentu mengenal ucapan istighfar, lalu bagaimana dengan ia yang mengaku Islam?"

"Serius, Islam?" Alawiyah masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Ya, dan ucapan Mbak barusan, membuat rumah kami bergetar kuat, dan memberikan hawa panas," gadis itu menjelaskan kembali, dan menegaskan, jika Alawiyah dilarang mengucapkan kalimat-kalimat suci.

"Novita, masuk!" suara seorang wanita menghentikan pembicaraan keduanya.

Wanita berambut panjang yang di sanggul, dengan perhiasan yang cukup mencolok, banyak melingkar ditangan dan lehernya.

Ia lebih mirip dengan julukan toko mas berjalan.

Wajah wanita itu tampak menatap dingin dengan kehadiran Alawiyah. Tetapi hanya sesaat, sebab senyumnya merekah, saat melihat perut yang membuncit

Teriakan barusan, membuat gadis itu bergegas masuk dengan mengendarai motornya, tanpa ucapan pamit, meski berbasa-basi—melewati pintu pagar yang berlapis emas.

Saat Novita turun dari motornya, sosok berbulu hitam dengan taring mencuat, serta matanya yang merah menyala, mengikuti gadis itu dari arah belakang.

Ia seperti seorang bodyguard, yang terus saja mengawasinya.

Belum sempat Alawiyah mencerna semuanya, ia kembali dikejutkan oleh suara teriakan menggema diudara.

"Tolong ...., tolong saya!" pekik seorang wanita dengan suara lantang.

Pakaiannya sangat sederhana, rambut beruban, dan disanggul layaknya para ibu-ibu didesa, dan wajahnya tampak pucat, lelah, dan juga lesu, serta ada ketakutan yang cukup kentara diwajahnya.

Alawiyah berdiri mematung, ia juga bingung, apakah harus menghampiri wanita itu, atau diam tanpa melakukan apapun sebab saat ini, ia juga sedang membutuhkan pertolongan.

Hatinya tergerak, ia melangkah menghampiri, dengan langkahnya yang tertatih.

Saat bersamaan, wanita pemilik rumah mewah dengan cat berwarna hitam, membuka pintu pagar rumahnya, dan bergegas menuju rumah wanita berdinding reot tersebut.

"Heemm ... Ternyata ia memiliki jiwa sosial tinggi, pantas saja diberi kekayaan yang berlimpah," gumam Alawiyah, saat melihat wanita dengan perhiasan emas yang hampir memenuhi tubuhnya.

Alawiyah mencoba berfikir positif, dengan apa yang dilihatnya, meski hatinya merasa janggal.

Tak berselang lama, warga mulai mengerumuni rumah reot tersebut.

Pintu-pintu yang tadinya tertutup, perlahan terbuka, mereka seolah ingin memberikan pertolongan dan bantuan kepada pemilik rumah yang paling miskin, dan sudah memasuki rumah.

Saat berada dikerumunan itu, Alawiyah semakin terbengong, karena baik laki-laki dan perempuan, semuanya menggunakan perhian emas yang mencolok.

Bahkan ada seorang pria yang membuat rompi dengan bahan emas dua puluh empat karat.

Alawiyah melongo, menatap satu persatu para warga yang hadir, seolah saling berlomba dengan siapa yang memiliki emas paling banyak.

"Ada apa lagi, Mbak Ratih?" tanya seorang wanita yang sebaya dengan wanita pemilik rumah.

Ia tak lain adalah tetangga yang berada disisi kanan wanita itu—wanita pemilik rumah megah, yang tadi menatap Alawiyah dengan dingin.

Sedangkan Novita, ikut bersama ibunya, melongok melihat kondisi seseorang yang terbaring tanpa daya diatas kasur yang melepek.

Pakaian gadis itu sangat mencolok, dan hanya menggunakan tank top, serta celana cukup pendek sebatas paha, dan ia menatap lekat wajah seorang pria yang terbujur disana.

Ia tampak gelisah, dan tatapannya tak lepas dari wajah pria tersebut.

"Gak tau, Mbak. Tiba-tiba muntah lagi," jawab Ratih dengan lirih. Dadanya bagaikan terhimpit beban yang cukup berat, sehingga menarik nafas saja harus membutuhkan tenaga yang cukup.

Alawiyah menoleh ke arah wanita pemilik rumah, ia ingin melihat siapa sebenarnya yang sakit, sebab merasa sangat penasaran.

"Rini, tolong panggilkan Ki Priyono, Bayu kembali muntah darah," suara wanita itu lirih, dan tampak ketakutan.

"Hah, Bayu, jangan-jangan itu Bayu suamiku." Alawiyah bergegas menyibak kerumunan—tak.peduli dengan tatapan liar dari orang-orang sekitarnya.

Ia bahkan tak peduli, jika ia orang asing, sebab rasa penasaran cukup besar didalam hatinya.

"Bayu, Bayu, sadarlah." Ratih terlihat panik, ia melihat puteranya sudah terbaring dengan mata tertutup.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!