Indonesia
NovelToon NovelToon

10th Anniversary

Anniv 1. Sebuah Berita

Senyum manis tiada henti mengembang di bibir Ganis kala kue black forest yang ia buat sudah tersaji di atas meja. Sedari tadi wanita berusia tiga puluh lima tahun itu sibuk di dapur toko kue miliknya untuk membuat kue spesial yang akan ia berikan untuk sang suami malam nanti.

"Untuk acara apa sih Bu kue itu? Kok kami sama sedari tadi tidak diperbolehkan untuk membantu bu Ganis dalam membuatnya?"

Pertanyaan dari Rani, salah satu karyawan yang ada di toko kue miliknya membuat perhatian Ganis sedikit terpecah. Tatapan matanya yang sejak tadi fokus pada kesempurnaan black forest yang ia buat kini teralih pada pertanyaan sang karyawan.

"Untuk acara anniversary ku bersama mas Krisna, Ran. Hari ini tepat sepuluh tahun kami menikah. Dan rencananya malam nanti aku akan memberikan kue ini untuk mas Krisna," ucap Ganis dengan wajah yang berbinar.

Pikiran wanita itu sudah berkelana jauh, membayangkan bagaimana bahagianya malam nanti ketika ia merayakan anniversary ke sepuluh tahun bersama sang suami.

"Waahhh... Ternyata bu Ganis mau merayakan anniversary?" Rani mendekat ke arah Rengganis dan ia ulurkan tangannya. "Selamat ya bu Ganis, semoga pernikahan bu Ganis senantiasa dicurahi oleh kebahagiaan dan keberkahan dari Allah, dan semoga cepat dika....."

Rani memangkas ucapannya. Kedua bola matanya terbelalak ketika ia menyadari akan satu hal.

"Emmmm... Maaf Bu Ganis, saya tidak bermaksud untuk..."

Ganis terkekeh pelan. "Kenapa doamu tidak dilanjutkan Ran?"

"Maaf Bu, saya tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan bu Ganis. Saya khawatir kalau doa saya nanti justru membuat bu Ganis semakin sedih," ucap Rani seraya menundukkan wajahnya.

Ganis tersenyum simpul. Ia paham betul apa yang ditakutkan oleh Rani. Rani pasti merasa tidak enak hati jika doa semoga segera diberikan momongan akan melukai hati pejuang garis dua seperti dirinya ini. Ganis menepuk pundak Rani yang mendadak menunduk dalam.

"Tidak apa-apa Ran. Lanjutkan saja doamu, siapa tahu doa darimu lah yang diijabah oleh Allah."

Rani mengangkat wajahnya. "Serius bu Ganis tidak marah?"

"Untuk apa marah, Rani? Aku dan mas Krisna sudah berdamai dengan keadaan. Sudah pasrah sama takdir Allah, kapan Dia akan ngasih kepercayaan kepada kami."

"MashaAllah bu Ganis.... Semoga Allah benar-benar segera menitipkan malaikat kecil dalam rahim bu Ganis ya."

Ganis menganggukkan kepala. "Aamiin Ran. Terima kasih atas doa-doa baik yang sudah kamu panjatkan untukku."

"Sama-sama Bu..."

"Oh iya, bagaimana stok kue di depan? Apa masih banyak yang belum sold?"

"Masih lumayan Bu. Bagaimana? Apa perlu kita refil lagi?"

Ganis sejenak berpikir. "Tidak perlu Ran. Untuk hari ini kita habiskan saja stok yang ada di display ya. Tapi kalau sampai jam lima sore stok di display belum habis boleh kalian bawa pulang. Khusus hari ini kita buka sampai jam lima sore saja."

"Kok tumben Bu?" tanya Rani dengan kerutan di kening.

"Anggap saja kalian ikut merayakan kebahagiaanku dengan berkumpul bersama keluarga lebih awal, Ran."

"MashaAllah... Terima kasih banyak bu Ganis. Ibu benar-benar berhati malaikat. Pak Krisna pasti beruntung sekali memiliki istri seperti bu Ganis," puji Rani.

"Jangan berlebihan, Rani. Aku ini hanya manusia biasa."

"Tepatnya manusia berhati malaikat, Bu," pungkas Rani seraya melenggang pergi dari hadapan Ganis.

Ganis hanya menggeleng-gelengkan kepala. Seharusnya ia yang bersyukur karena mendapatkan suami seperti Krisna. Sosok seorang suami yang penuh dengan kelembutan dan kesabaran. Selama sepuluh tahun pernikahan, lelaki itu selalu memperlakukannya dengan baik. Dan yang paling membuatnya bersyukur adalah ketika Krisna tidak terlalu mempermasalahkan pernikahannya yang sampai saat ini belum juga diberikan keturunan.

Sosok lelaki yang sangat langka di zaman sekarang ketika melihat istrinya belum bisa memberikan keturunan. Biasanya lelaki di luar sana memilih menceraikan atau mencari madu demi keturunan yang diinginkan. Namun hal itu tidak terjadi pada Krisna. Sampai menginjak usia pernikahannya sepuluh tahun, lelaki itu selalu berperilaku baik dan tidak pernah mempermasalahkan perihal keturunan.

Ganis melirik jam dinding yang menempel di satu sudut dinding dapur toko kue miliknya. Hari masih siang, dan seutas senyum terbit di bibirnya.

Sepertinya tidak terlalu buruk jika aku mampir ke panti terlebih dahulu sekaligus memberikan beberapa kebutuhan anak-anak yang ada di sana.

***

Mobil warna putih yang dikemudikan oleh Rengganis tiba di pelataran sebuah panti asuhan yang berada di kota ini. Wanita itu turun dari mobil. Sebuah bangunan yang tak begitu luas dengan pelakat bertuliskan Panti Asuhan 'Kasih Bunda' berdiri kokoh di hadapan Ganis. Dengan langkah perlahan, Ganis memasuki panti asuhan ini.

"Mbak Ganis!"

Suara seorang wanita paruh baya terdengar lembut menyambut kedatangan Ganis. Wanita berusia enam puluh tahun dengan mengenakan jilbab berwarna cokelat nampak begitu ceria melihat Ganis yang berkunjung ke pantinya.

"Bu Ambar..," sapa balik Ganis seraya mengulurkan tangannya.

"MashaAllah... Mimpi apa saya semalam? Hari ini tiba-tiba kedatangan tamu istimewa," ucap Ambar dengan gelak tawa kecil yang keluar dari bibirnya.

"Tamu istimewa apa sih Bu? Biasa saja," kilah Ganis merasa ucapan Ambar ini terlalu berlebihan. "Oh iya, di bagasi ada beberapa kebutuhan yang saya belikan untuk anak-anak panti, Bu. Bisa minta tolong pak Dirman untuk mengambilnya?"

"Nah ini yang saya maksud tamu istimewa karena setiap kali mbak Ganis kemari selalu saja membawa kebahagiaan," ucap Ambar mengemukakan argumennya. Wanita itupun mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Pak Dirman!"

Dirman yang tengah menyiram taman samping bergegas menghampiri Ambar dan juga Ganis.

"Iya bu Ambar," ucap Dirman. "Loh, mbak Ganis tidak ikut suaminya ke Magelang kah?"

Dahi Ganis mengernyit. Merasa sedikit aneh dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Dirman. Sejatinya pengurus panti tidak ada yang mengetahui jika sang suami sedang berada di Magelang, namun mengapa pria berusia lima puluh tahun ini tahu kalau suaminya sedang berada di Magelang.

"Loh, pak Dirman kok tahu kalau suami saya sedang berada di Magelang?"

"Kemarin lusa saya pulang kampung di Magelang, Mbak. Kebetulan saat itu saya ada di pusat perbelanjaan yang ada di kota dan saya bertemu dengan mas Krisna."

"Pak Dirman sempat berbincang dengan suami saya?" tanya Ganis penasaran.

"Itu dia Mbak. Waktu itu saya bertemu di pelataran parkiran. Saya sempat memanggil-manggil mas Krisna tapi tidak dengar dan di samping kursi kemudi, saya lihat ada seorang wanita, saya kira itu mbak Ganis."

Tubuh Ganis sedikit terhenyak mendengar penuturan Dirman. Suaminya berada di Magelang, berbelanja di pusat perbelanjaan dan bersama seorang wanita. Sungguh sebuah kabar yang sangat sukar untuk ia mengerti. Tanpa sadar, Ganis malah nampak bengong dan hanyut dalam pikirannya sendiri.

"Ah bisa jadi kamu salah lihat, Pak. Mana mungkin itu pak Krisna? Jelas-jelas mbak Ganis ada di Jogja. Aku yakin kamu salah lihat, Pak," ucap Ambar mencoba untuk mematahkan penglihatan Dirman setelah raut wajah Ganis yang sedikit berubah.

"Tapi mobil yang dipakai sama dengan mobil yang sering dibawa mas Krisna dan mbak Ganis kemari, Bu," ujar Dirman semakin menguatkan argumennya.

Ambar melirik ke arah Ganis. Wanita itu masih menampakkan ekspresi wajah yang dipenuhi oleh tanda tanya besar akan apa yang disampaikan oleh Dirman. Ambar paham betul apa yang saat ini dirasakan oleh Ganis.

"Mbak sudah, jangan dipikirkan ucapan pak Dirman, saya yakin pak Dirman salah lihat," ucap Ambar sembari memegang lengan tangan Ganis. "Pak, tolong barang-barang yang ada di bagasi mobil mbak Ganis dibawa ke ruangan saya ya."

"Siap Bu."

Dirman mengayunkan tungkai kakinya. Lelaki paruh baya itu nampak bersemangat tatkala menghampiri barang-barang yang di bawa oleh donatur yang pastinya bermanfaat banyak untuk kebutuhan anak-anak panti.

"Mbak Ganis, mari ke ruangan saya," ajak Ambar sembari menggandeng tangan Ganis.

Tubuh Ganis sedikit terkesiap. Tidak ia sadari jika sudah lumayan lama ia termenung sendiri. Wanita itupun mengekor di belakang tubuh Ambar dengan pikiran yang melanglang buana sampai mana-mana.

Siapa wanita itu? Apakah ia salah satu rekan kerja mas Krisna?

.

.

.

Anniv 2. Menunggu

Ganis memasuki sebuah ruangan di mana terdapat beberapa box anak berjajar di sana. Hatinya mendadak mengharu biru kala ia lihat wajah bayi-bayi tak berdosa itu tengah tertidur begitu lelap. Bahkan bayi-bayi yang terbangun pun mereka nampak begitu tenang dengan botol susu yang diberikan oleh pengasuh yang ditugaskan di panti ini.

"Bayi ini baru sepuluh hari yang lalu kami temukan di sebuah kardus yang di letakkan di depan gerbang panti, Mbak."

Pandangan Ganis tertuju pada bayi kecil yang digendong oleh Ambar. Bayi prempuan dengan bola mata lebar dan berbulu mata lentik. Nampak cantik sekali.

"Boleh saya gendong, Bu?" tanya Ganis meminta izin.

"Tentu boleh, Mbak."

Ambar memberikan bayi yang berada dalam gendongannya kepada Ganis. Wajah Ganis nampak begitu bahagia melihat wajah bayi kecil ini lebih dekat.

"MashaAllah... Cantik sekali kamu, Nak."

"Betui Mbak, di antara bayi-bayi yang ada di panti ini, bayi inilah yang paling cantik."

"Kalau saja mas Krisna mengizinkan saya untuk mengadopsi anak, pilihan saya pasti akan jatuh pada bayi ini, Bu," ucap Ganis lirih dengan pandangan yang meremang.

"Memangnya mas Krisna tidak mengizinkan mbak Ganis untuk mengadopsi bayi ya?" tanya Ambar dibalut dengan rasa penasarannya. "Padahal kalau kata orang-orang zaman dulu, mengadopsi anak itu bisa sebagai pancingan untuk mendapatkan keturunan lho Mbak."

"Hah... Entahlah Bu, dulu sempat ada pembicaraan kami perihal adopsi bayi, tapi enam bulan terakhir ini ketika saya membuka obrolan lagi tentang adopsi anak, mas Krisna dengan lantang menolak. Katanya ia hanya mau mengurus anak yang berasal dari darah dagingnya sendiri."

Tatapan mata Ganis menerawang, teringat kembali apa yang menjadi pembahasannya bersama sang suami beberapa bulan yang lalu. Entah mengapa kala itu respon sang suami terlihat tidak senang kala mendengar kata adopsi. Sangat jauh berbeda dari tahun-tahun awal mereka memasuki usia pernikahan.

"Oh begitu ya Mbak? Kalau memang seperti itu ya jangan dipaksakan untuk adopsi anak, takutnya malah menimbulkan masalah," ucap Ambar mengemukakan pendapatnya.

"Selain itu mas Krisna juga khawatir akan nasab dari si anak yang akan kami adopsi, Bu. Takutnya anak yang kami adopsi berasal dari orang tua yang memiliki akhlak kurang baik."

"Hmmmmmm ya sudah Mbak, apapun keputusan dari mbak Ganis dan mas Krisna semoga setelah ini Allah segerakan menitipkan amanah di dalam rahim mbak Ganis."

"Aamiin, amiin, Bu. Sambung doa ya."

"Sudah pasti itu Mbak. Mbak Ganis itu salah satu donatur tetap di panti ini, hal itu menunjukkan kalau mbak Ganis adalah sosok yang tidak perhitungan dalam memenuhi kebutuhan anak dan siap juga layak untuk mendapatkan keturunan. Saya yakin Allah pasti segera menitipkan amanah di dalam rahim mbak Ganis."

"Aamiin.. Amiin... Amiin..."

Ganis kembali menatap mata bulat bayi cantik yang ada di dalam gendongannya ini. Merasakan sensasi rasa bahagia di saat ia bisa menggendong anak seperti yang selama ini ia dambakan.

Di antara tujuh puluh tujuh pertanyaan itu, mengapa kamu tidak memilih aku saja yang menjadi orang tuamu, Nak? Mengapa justru kamu memilih rahim dari seorang ibu yang sama sekali tidak mau bertanggungjawab atas kelahiranmu.

*****

Ganis mematut tubuhnya di depan cermin. Melihat dengan seksama pantulan wajah yang tercetak di sana. Wajah yang ia poles dengan riasan tipis namun tidak meninggalkan kesan cantik natural. Senyum penuh kebahagiaan tergambar jelas di wajahnya. Senyum penuh rasa syukur karena ia mendapatkan sosok seorang suami seperti Krisna.

Sosok lelaki sholeh yang selama ini sudah menjadi imam yang baik untuknya. Sosok lelaki yang senantiasa bersikap lembut dan tak pernah sekalipun bermain tangan ataupun berkata dengan nada kasar. Dan seorang suami yang setia berada di sisinya meskipun sampai saat ini masih belum ada riuh suara tangis dan gelak tawa seorang anak yang menghiasi rumah tangganya. Ganis merasa ada banyak hal yang harus selalu ia syukuri dalam pernikahannya bersama Krisna meskipun perihal keturunan ia memang belum beruntung.

"Kok sudah jam segini mas Krisna belum sampai rumah juga?"

Ganis meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam namun sang suami sepertinya belum menunjukkan tanda-tanda akan tiba di rumah. Ia buka fitur chat sang suami dan dahinya sedikit mengernyit kala last seen di whatsapp sang suami menunjukkan pukul 18.40.

"Last seen 18.40, jika di jam itu mas Krisna dalam perjalanan pulang ke rumah, masa iya sampai jam segini mas Krisna belum sampai juga? Padahal jarak Jogja-Magelang hanya kisaran satu sampai satu setengah jam saja."

Ganis berkata lirih sembari menatap lekat layar gawai. Bermacam-macam pertanyaan muncul memenuhi isi kepala dan membuat perasaan gundah di dalam hati. Tak ayal membuat prasangka-prasangka buruk juga turut merajai.

Ganis mengayunkan tungkai kaki menuju jendela kamar yang tirainya sengaja ia buka lebar-lebar. Ia biarkan cahaya lembut sang rembulan menelusup masuk ke dalam kamar hingga suasana hangat terasa membelai kulit tubuhnya.

Ganis berdiri di balik jendela. Wajahnya mendongak, melihat ke angkasa. Nampak hamparan langit malam menyapa para penghuni bumi dengan begitu ramah. Cahaya rembulan yang terasa begitu lembut dengan dihiasi goresan awan tipis seakan menjadi lukisan malam terindah dari Yang Maha Pencipta.

Hati yang sebelumnya dipenuhi oleh kuncup-kuncup rasa bahagia dan tinggal menunggu mekarnya menyambut perayaan ke sepuluh ulang tahun pernikahan bersama sang suami, nampaknya kini sedikit berubah menjadi benih-benih prasangka buruk yang siap bersemi. Membawanya dalam perasaan kalut yang mungkin tak bertepi.

Ganis menghela napas dalam-dalam untuk kemudian ia hembuskan kasar. Merasa bosan karena terlalu lama berada di dalam kamar, pada akhirnya wanita itu memilih untuk turun ke lantai bawah.

"Loh, bu Ganis belum tidur?"

Suara Maryati, asisten rumah tangga di rumah Ganis terdengar lirih menyambut Ganis yang baru saja akan menuju ruang makan.

Ganis tersenyum kecut dengan hati yang terasa kalut. Ia geser kursi makan dan ia daratkan bokongnya di sana.

"Belum Bu, aku masih menunggu mas Krisna. Bu Mar belum tidur juga?"

"Saya tadi sudah tidur Bu, tapi tiba-tiba terbangun dan teringat pintu belakang belum dikunci, maka dari itu saya bangun untuk mengunci pintu belakang."

"Oh begitu. Ya sudah, bu Mar lebih baik lanjut tidur, sudah malam soalnya."

"Bu Ganis sendiri masih menunggu pak Krisna kah? Atau perlu saya temani sembari menunggu pak Krisna sampai rumah?" tawar Maryati.

Ganis menggeleng. "Tidak perlu Bu. Bu Mar istirahat saja. Sebentar lagi mas Krisna sampai rumah kok."

"Baiklah kalau begitu Bu, saya kembali ke kamar ya."

"Silakan Bu."

Maryati kembali ke kamar dan meninggalkan Ganis yang duduk termenung sendirian di meja makan. Di hadapannya sudah ada kue yang siang tadi ia buat yang rencananya ingin ia potong bersama sang suami.

Malam kian merangkak larut. Bola mata yang sebelumnya membulat sempurna perlahan mulai sayu dan terasa begitu berat. Ganis meletakkan kepalanya di atas meja makan. Sesekali wanita itu menguap, sebagai isyarat benteng pertahanannya dalam menunggu kepulangan sang suami sudah berada pada batasnya. Dan benar saja, tak memerlukan waktu lama, wanita itu perlahan mulai tenggelam dalam lautan mimpinya.

.

.

.

Anniv 3. Maaf

Nyaring dering alarm ponsel di atas nakas membangunkan Krisna yang tengah larut dalam buaian mimpi. Kedua bola mata pria itu seketika terbuka kala suara nyaring alarm ponsel miliknya terdengar memekak telinga hingga menembus alam bawah sadarnya. Tubuhnya bergeliat dan nampak di samping tubuhnya seorang wanita cantik juga tengah tertidur pulas. Perlahan, Krisna menggeser posisinya, ia sandarkan punggungnya di head board ranjang dan ia raih ponsel yang sejak beberapa saat yang lalu seakan berteriak meminta untuk dijamah olehnya.

"Hah astaga, aku lupa!!!"

Seketika tubuh Krisna terperanjat kala ia lihat notifikasi alarm ponsel miliknya. 10th anniversary, itulah notifikasi yang terbaca. Satu notifikasi yang mungkin terlihat biasa-biasa saja namun tidak bagi seseorang yang saat ini tengah menunggu kepulangannya.

Krisna menyibak selimut tebal yang masih membungkus bagian bawah tubuh yang hanya terdapat sepotong boxer yang menutupi bagian inti miliknya. Lelaki itu bangkit dari posisinya dan cepat-cepat mengenakan pakaian yang berserakan di lantai kamar.

"Astaga, gara-gara Dinda menggodaku ketika mau pulang, aku jadi terlambat pulang seperti ini."

Krisna bergumam lirih sembari merapikan pakaian dan juga rambutnya. Ingatannya tiba-tiba tertuju pada saat ia berniat untuk pulang di jam delapan malam, namun secara tiba-tiba Dinda mengenakan lingerie yang sangat menggoda. Sampai akhirnya lelaki itu tergoda dan lupa jika ia harus segera pulang.

"Mas, mau ke mana malam-malam seperti ini?"

Dinda yang merasakan ada sebuah pergerakan di kamar miliknya turut membuka mata. Dahi wanita itu sedikit mengernyit kala melihat lelakinya sudah rapi dengan pakaian yang dikenakan.

"Aku harus pulang, Din. Aku lupa jika malam ini aku harus merayakan anniversary bersama Ganis. Dia pasti sudah menungguku."

"Ckkcckkkckkk... Jadi hanya perkara perayaan anniversary itu sampai membuatmu tergesa-gesa ingin pulang seperti ini?" tanya Dinda dengan nada sedikit kesal.

"Bukan tergesa-gesa, Dinda... Sudah sejak semalam aku berniat untuk pulang, tapi kamu terus saja menggodaku, akhirnya sampai kebablasan seperti ini."

Bibir Dinda mengerucut, kepalanya menunduk, ia elus-elus perutnya yang sudah nampak sedikit buncit.

"Nak, ternyata keberadaanmu tidak lantas membuatmu menjadi prioritas papamu. Lihatlah, papamu bahkan memilih untuk pulang sekarang daripada menemanimu di sini."

Krisna menghela napas panjang kemudian ia hembuskan kasar. Jika sang istri sudah melibatkan anak yang berada dalam kandungannya seperti ini, pertanda harus ada sesuatu yang ia berikan untuk membujuk agar tidak semakin merajuk.

Tungkai kaki Krisna terayun. Ia dekati wanita cantik yang di dalam perutnya sudah ada calon anak yang berasal dari darah dagingnya. Ia berjongkok sembari mengelus-elus perut istrinya yang tengah merajuk ini dan ia ciumi berkali-kali.

"Malam ini Papa pulang dulu ya Sayang. Dua minggu yang akan datang Papa janji akan nengokin kamu lagi. Kamu mau minta apa saja Papa turuti, oke?"

Mendengar ucapan Krisna membuat senyum bahagia merekah di bibir Dinda. Perasaan kesal dan marah karena melihat Krisna yang memutuskan untuk pulang secara tiba-tiba seketika menguap begitu saja. Tergantikan perasaan bahagia yang tiada terkira.

"Benarkah itu? Aku boleh minta apa saja?" tanya Dinda manja.

"Tentu Sayang. Apa yang kamu mau pasti akan aku belikan."

Dinda nampak berpikir sejenak. Tak berselang lama seutas senyum kembali terbit di bibirnya.

"Aku mau kalung berlian yang dijual oleh temanku boleh?"

Tanpa berpikir panjang, Krisna menganggukkan kepala. Ia berpikir semakin cepat ia bernegosiasi dengan Dinda maka ia bisa cepat kembali ke Jogja.

"Boleh Sayang. Aku janji dua minggu yang akan datang aku akan membelikannya untukmu."

"Makasih Sayang."

Dengan hati yang dipenuhi oleh kebahagiaan, Dinda memeluk erat tubuh Krisna. Entah mengapa ia merasa begitu dicintai oleh lelakinya ini.

"Terima kasih Sayang."

"Sama-sama Sayang. Kalau begitu aku pulang ya. Dua minggu mendatang kita bertemu lagi."

Dinda melepaskan pelukannya dari tubuh Krisna. "Hati-hati Sayang. Aku tunggu dua minggu mendatang."

Sebuah kecupan penuh cinta Krisna daratkan di bibir Dinda. Sebuah kecupan yang seakan mengisyaratkan berapa bahagianya ia saat ini memiliki seorang istri yang tengah mengandung darah dagingnya.

Tak ingin berlama-lama lagi yang bisa jadi membuat dirinya semakin terlambat tiba di rumah istri pertama, Krisna bergegas keluar kamar dan melajukan kuda besi miliknya, meninggalkan halaman rumah sang istri kedua.

"Semoga Ganis tidak curiga dan berpikir macam-macam perihal ini," ucap Krisna lirih merapalkan doa.

***

Rintik air hujan mengiringi laju mobil yang dikemudikan oleh Krisna di dini hari ini. Akhirnya, setelah hampir dua jam ia menempuh perjalanan, pria itu berhasil tiba di rumah dalam keadaan selamat. Perjalanannya kali ini sedikit lebih lama dari biasanya. Hal itu dikarenakan di tengah perjalanan ada pohon tumbang yang sedikit mengganggu pengguna jalan.

Perlahan, Krisna menarik tuas pintu depan. Dahi lelaki itu mengernyit mendapati pintu rumah ini sama sekali tidak terkunci. Ia paham jika semalaman, sang istri menunggu kepulangannya. Dengan langkah kaki pelan dan mengendap-endap layaknya seorang pencuri yang sedang menyatroni rumah kosong, Krisna menyusuri area dalam rumahnya ini.

Tiba-tiba langkah kakinya terhenti ketika manik matanya menangkap sosok wanita yang tengah tertidur pulas dengan meletakkan kepalanya di atas meja makan. Di hadapan wanita itu sudah terhidang kue black forest dengan lilin angka 10 yang masih belum dinyalakan.

Melihat pemandangan yang tersaji, membuat hati Krisna sedikit ngilu. Ada satu rasa yang sulit untuk ia ungkapkan yang mendadak memenuhi kalbu.

"Sayang... Bangun!"

Dengan penuh kelembutan, Krisna mengusap kepala Ganis, mencoba untuk membangunkannya. Sesekali lelaki itu mengecup pucuk kepala sang istri yang mungkin sebagai salah satu isyarat permintaan maafnya.

"Ssssttt... Sayang, bangun! Aku sudah pulang."

Krisna mencoba sekali lagi untuk membangunkan sang istri. Nampaknya istrinya ini begitu kelelahan menunggunya pulang sampai-sampai untuk dibangunkan pun sangat susah sekali. Seperti seseorang yang menahan rasa lelah bercampur kantuk yang tiada terperi.

"Eghhhhhmmmmm..."

Tubuh Ganis menggeliat dengan eraman lirih yang keluar dari bibirnya. Dua bola matanya berputar ke sembarang arah meski kelopaknya masih tertutup sempurna. Tak berselang lama kelopak mata itu terbuka dan wajah sang suami sudah ada di depan matanya.

"Mas.. Kamu pulang? Aku kira kamu tidak pulang."

Ganis mencoba menegakkan kepala. Tubuh yang sebelumnya meringkuk, kini duduk tegak di kursi. Dengan senyum yang dipenuhi oleh kebahagiaan, wanita itu menyambut kepulangan sang suami.

"Maafkan aku Sayang, aku terlambat pulang. Di perjalanan aku menemui kendala. Di Magelang hujan lebat sampai ada pohon tumbang sehingga mengganggu perjalanan."

Krisna berjongkok dan memeluk tubuh Ganis. Memeluknya dengan erat sebagai permohonan maaf karena sedikit berbohong. Berbohong karena bukan perkara pohon tumbang yang membuatnya terlambat pulang namun karena istri keduanya.

Ganis mengusap-usap punggung Krisna. "Tidak apa-apa Mas. Yang penting kamu bisa pulang dalam keadaan selamat tanpa kurang satu apapun. Karena keselamatanmu jauh lebih berharga dari apapun."

Krisna mengurai pelukannya. Ia tatap lekat wajah Ganis dan ia ciumi setiap sudut wajah sang istri.

"Happy anniversary Sayang. Maaf jika aku masih banyak kurangnya sebagai suami."

Ganis meraih telapak tangan Krisna dan ia kecup berkali-kali.

"Sama-sama Mas, aku juga minta maaf jika banyak kurangnya. Semoga kamu tetap menjadikan aku satu-satunya pendamping hidup meskipun aku belum bisa memberikan keturunan."

Krisna terhenyak. Lelaki itu seperti kesusahan menelan salivanya ketika doa-doa itu dipanjatkan oleh Ganis.

Maafkan aku Ganis, karena permintaanmu itu tidak bisa aku penuhi. Aku sudah menikah dengan wanita lain dan saat ini aku tengah menanti kelahiran darah dagingku.

.

.

.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!