Lettu Sus Ardana, S.Psi., Psikolog, berdiri tegap di depan kaca, merapikan kerah seragam lorengnya untuk yang terakhir. Punggungnya yang lebar, memberi kesan betapa gagah dan tampannya pria itu. Seragam loreng yang kini melekat di tubuhnya, mengkilap terkena pantulan cahaya lampu, di langit-langit kamar. Menandakan begitu rapi dan licin seragamnya bak kaca tanpa goresan.
Nayra berdiri di belakangnya, memegang salah satu sepatu lars yang baru saja selesai ia semir sampai mengkilap, sembari menatap punggung itu lalu mengukir senyum bangga dan penuh cinta. Sikap seperti itu yang sering Nayra perlihatkan, ketika melihat suaminya sudah siap dengan seragam kerjanya.
Sepatu lars itu ia letakkan di lantai dengan hati-hati, lalu ia mendekat dan perlahan memeluk Ardana penuh kelembutan dan kerinduan.
"Mas Ardana...." bisiknya lembut, berharap pelukan itu mendapat balasan.
Ardana meraih pelan lengan kanan Nayra, lalu melepaskannya pelan juga. "Nayra, seragamku bisa kusut, dong," tegurnya sembari memutar tubuhnya perlahan.
Nayra buru-buru menjauhkan kedua tangannya dari Ardana, ia seperti baru sadar kalau suaminya memang sangat ingin terlihat perfect dengan penampilannya. Terlebih dengan seragam yang kini melekat di tubuhnya.
"Oh, maaf. Nay lupa."
"Jangan dibiasakan," tegurnya lagi dingin, sembari meraih sepatu lars atau sepatu PDL yang sudah disemir mengkilap oleh Nayra.
Ardana selesai menggunakan sepatu PDL nya, ia dengan cepat membalikkan badan menuju pintu kamar, diikuti Nayra. Tiba di pintu depan, Nayra segera meraih tangan Ardana seperti biasa. Meskipun Ardana selalu terlihat enggan Nayra melakukan itu.
"Mas...."
"Tidak perlu ada kejutan apa-apa, aku tidak suka. Lagipula aku pastikan pulang larut malam. Jadi, kamu tidak perlu menunggu. Ada pasien gangguan mental yang perlu aku tangani sore nanti di RSAU," ujarnya menyambar kalimat yang tadinya mau Nayra ucapkan.
Nayra terpaku, matanya tertunduk ke bawah, wajahnya mendadak murung seketika. "Iya, Mas. Tidak apa-apa. Tapi, nanti bisa dipastikan akan pulang jam berapa?"
"Aku tidak tahu. Ya sudah, aku harus segera berangkat," ujarnya lalu bergegas menuju mobilnya.
Tanpa aba-aba atau kode apapun, Ardana pergi begitu saja, membawa mobilnya membelah jalanan kota menuju kesatuan di SeskoAU.
Nayra menatap kepergian mobil berwarna navy itu dengan kecewa. Kecewa yang entah keberapa kali, ia pun tidak sempat menghitungnya.
Helaan napas dalam terdengar, Nayra menutup kembali pintu depan itu perlahan.
"Non Nayra, tamannya bisa saya bersihkan sekarang, kan?" Tiba-tiba sebuah suara perempuan paruh baya terdengar, menahan langkah kaki Nayra.
"Bi Mimin? Boleh Bi, lagian tamannya sudah banyak ditumbuhi rumput liar. Taman belakang saja dulu, Bi," balas Nayra dengan sikap ramah.
Bi Mimin merupakan ART paruh waktu, yang dibutuhkan sewaktu-waktu saja. Atau setiap dua minggu sekali diperbantukan di rumah ini untuk membantu Nayra membersihkan rumah. Sedangkan memasak dan mencuci pakaian serta menyetrika baju, Nayralah yang melakukan. Termasuk seragam loreng milik Ardana tadi.
"Baik, Non." Bi Mimin segera bergegas menuju samping kanan rumah, menuju taman belakang.
Nayra kembali melanjutkan langkahnya, ia menaiki tangga menuju kamarnya.
Nayra termenung di bibir ranjang, hari ini adalah tepat tiga tahun usia pernikahannya bersama Ardana. Dulu, satu dan dua tahun usia pernikahan, Nayra selalu memberikan kejutan anniversary terhadap Ardana. Membuat kue anniversary berkarakter cinta dengan lilin berwarna pink di atasnya, kemudian menyiapkan makan malam romantis atau candle light dinner berdua.
Namun, di kedua anniversary itu, sikap Ardana sama saja. Sama sekali tidak memperlihatkan bahagia. Ia tidak suka dengan surprise yang dianggapnya hanya buang-buang waktu dan tenaga. Nayra pikir, Ardana memang bukan tipe suami romantis, ia tidak suka merayakan moment penting, seperti ulang tahun pernikahan. Dia menganggapnya terlalu lebay.
Dan tahun ini, tahun ketiga pernikahan mereka. Tidak ada lagi kejutan itu, yang biasa Nayra lakukan.
"Aku tidak butuh kejutan seperti itu, hanya buang waktu dan duit. Mending kalau kamu beri aku kejutan, kehamilan misalnya," cetus Ardana tahun lalu dengan wajah tetap tidak berubah, dingin.
Hati Nayra tercubit, entah yang keberapa kalinya Ardana membahas tentang kehamilan yang tidak kunjung datang. Padahal baik dirinya dan Ardana dinyatakan sehat.
"Bagaimana bisa kehamilan itu cepat terjadi, kalau hubungan saja kami jarang?" curhatnya suatu kali di sebuah buku diary. Nayra tidak pernah bercerita mengenai masalah rumah tangganya pada siapapun, termasuk pada kedua orang tua maupun kakaknya. Baginya pantang bercerita urusan rumah tangga, toh yang menjalankan adalah mereka berdua.
Siang berganti senja, saat Bi Mimin berpamitan karena pekerjaannya sudah purna. Taman belakang dan depan sudah dibersihkannya dari rumput liar.
"Non Nayra, Bi Mimin pulang dulu. Terimakasih makanannya," ucap Bi Mimin berpamitan dengan bahagia, terlebih di tangannya selain memegang uang ia juga memegang kantong kresek berisi makanan dari Nayra.
Malam pun datang. Tepat jam sembilan malam, Nayra yang belum bisa memejamkan mata, menuruni ranjang. Ia bergegas menuju dapur karena kehausan. Nayra tidak sedang menunggu Ardana, sesuai pesan pria itu.
Setelah rasa haus itu hilang, sebelum tubuhnya berbalik menuju ruang tengah, Nayra mendengar deru halus mobil milik suaminya di halaman depan. Nayra terkejut, tadinya ia berpikir Ardana akan pulang lebih larut, tapi nyatanya tidak. Langkah Nayra memelan, bahkan ia sengaja membiarkan agar Ardana sampai lebih dulu di ruang tengah.
Suara Ardana terdengar, seperti sedang menerima sebuah panggilan.
Nayra berjalan mendekati tangga. Untuk menuju tangga, ia melewati ruang makan dan tengah. Saat suara Ardana semakin jelas di ruang tamu, tiba-tiba Nayra tergelitik penasaran, ingin menguping apa yang suaminya katakan.
"Besok bisa berjumpa lagi di jam istirahat. Mas istirahat dulu, ya. Bye Tiana," ujarnya, mengakhiri sambungan telpon itu dengan bahagia. Kemudian ponsel yang sudah Ardana jauhkan dari telinganya itu, ia tatap dalam-dalam dengan senyum yang merekah di bibirnya.
"Tiana...." desahnya penuh kerinduan.
Nayra menutup mulutnya kuat-kuat, dadanya bergemuruh hebat dan jantungnya berdetak kencang, air matanya tiba-tiba jatuh begitu saja.
Baginya, kalimat yang suaminya ucapkan pada sosok Tiana itu seperti tidak biasa. Sementara ia, selama ini belum pernah mendapat perlakuan manis dari Ardana. Jangankan senyuman, sapaan lembut saja belum pernah.
"Siapakah Tiana?" gumamnya lirih, bertanya pada dirinya sendiri dengan perasaan sangat sedih.
"Nayra, kamu di sini? Kan sudah aku bilang tidak perlu menunggu aku pulang. Kamu ini keras kepala," ucap Ardana tiba-tiba.
Nayra sempat kaget, karena ia tidak sadar kalau Ardana sudah berada di ruang tengah. Ardana berlalu begitu saja setelah ia menyapa Nayra barusan. Tidak ada sikap manis apapun yang dilakukan Ardana, kecuali dingin.
Hari ulang tahun pernikahan yang ketiga ini, sepertinya tidak berbekas sama sekali bagi Ardana. Dia bahkan melewati Nayra begitu saja.
NB: Hai...selamat datang di karya baru saya. Pasti kalian bertanya-tanya, kenapa belum selesai kisah Syafira dan Haraz, sudah bikin karya baru?
Saya jawab, ya: "Kisah Syafira akan tetap saya upload sampai retensi benar-benar tercapai, sementara di statistik per bab 20, Noveltoon dengan cepat sudah menampilkan retensi karya saya dengan jumlah 0,57. Jauh dari kata terjangkau, harusnya 0,65. Selisihnya banyak banget, sehingga saya pesimis karya itu bakal lolos bab 20 terbaik.
Seandainya dalam tiga hari ke depan retensi masih jeblok, maka saya menyerah. Karena jujur saja, karya saya akan sia-sia dan tidak akan mendapatkan reward, meskipun kalian masih setia membaca.
Sebagai penulis yang pembaca dan pengikutnya masih minim kaya saya, sedih melihat ini. Bukan saya tidak mau bertanggung jawab pada kalian sebagai pembaca, tapi saya sebagai penulis butuh penghargaan dari Noveltoon. Bisa sih saya lanjutkan kisah itu sampai 80 bab, tapi jujur saja, saya hanya akan buang-buang kuota begitu saja. Terlebih kuota IM3, saat ini sangat mahal. Ya Allah, sampai segitunya saya curhat.
Tapi tenang, karya Syafira kalau masih belum tercapai retensi juga, maka insya Allah akan saya pindahkan ke akun saya yang lain, tapi menunggu satu bulan, baru saya up kembali di akun saya yang satunya lagi. Mohon pengertian kalian. Saya hanya seorang penulis yang masih minim pembaca, yang berharap karya saya ini dihargai Noveltoon.
Tolong, dukung karya baru saya, ya. 🙏🙏🙏🙏😢😢😢😢
Mereka masuk ke dalam kamar yang sama. Suasana kamar yang harusnya hangat, tidak membuat sikap Ardana menghangat. Padahal hanya mereka berdua di dalam sana. Sikap seperti ini memang sudah lama berlangsung, Nayra pikir memang seperti itu watak Ardana, dingin dan kalau bicara seperlunya saja. Namun, sudah sejak beberapa minggu terakhir ini, sikap dingin Ardana kian bertambah. Nayra bisa merasakannya, sejak Ardana sering melakukan tugas ke RSAU.
"Sebetulnya, sejak awal sikap Mas Ardana memang seperti ini. Tapi, aku tidak terlalu memikirkannya, mungkin karena aku terlalu menghargai dan mencintainya, kecurigaanku tidak sampai menjadi-jadi," tulisnya lagi di dalam sebuah catatan kecil buku diarynya.
Nayra segera meraih seragam loreng Ardana yang sudah berserakan di atas ranjang, ia punguti lalu ia gantung dengan hanger. Biasanya, Ardana bisa menggunakan kembali seragam loreng itu sebanyak dua kali, kecuali kalau seragam itu terlalu kotor, Ardana akan minta seragam yang baru.
Harum parfum lain tiba-tiba tercium dari atasan seragam loreng milik Ardana. Wanginya lembut dan berbeda, seperti parfum yang pantas digunakan oleh kaum perempuan.
Sejenak Nayra mendengus-dengus, menciumi seragam atas Ardana. Dan wangi parfum itu lebih terasa jelasnya di area bahu kanan Ardana. "Wangi parfum yang berbeda. Lembut dan...atau ini hanya perasaanku saja." Nayra langsung membatin, tapi langsung ia tepis saat itu juga perasaan curiga itu.
Nayra bangkit, mencoba menelan pahitnya kecurigaan yang baru saja menyesaki hatinya. Ia mencoba bersikap seperti biasanya. "Mas, mau Nay buatkan teh hangat? Biar tidurnya lebih nyenyak," tawar Nayra, suaranya sedikit bergetar namun tetap diusahakan lembut.
"Tidak usah. Aku lelah, mau langsung tidur," jawab Ardana singkat. Pria itu merebahkan tubuhnya, membelakangi sisi ranjang tempat Nayra berada.
"Atau, Mas Arda mau Nay pijat dulu? Lengannya mungkin terasa pegal, atau punggungnya bisa Nay urut biar rileks." Lagi-lagi Nayra menawarkan diri. Kali ini sebuah pijatan yang sering Nay lakukan apabila Ardana mulai berbaring.
Biasanya Ardana akan menjawab dengan 'hemmm' saja, pertanda ia mempersilahkan Nayra memijatnya. Namun, kali ini tidak ada deheman atau sahutan apa-apa.
"Gimana, Mas....?" Nayra keukeuh.
Ardana membalikkan badan perlahan, ia mendongak setengah badan lalu menatap Nayra kesal. "Nayra, bisa tidak kamu tidak merecoki aku saat aku mau istirahat? Aku ini sudah ngantuk tahu. Kalau tidak ada respon dari aku, sebaiknya kamu diam dan cukup paham."
Suaranya sedikit meninggi dan ada bentakan di sana, meski nyaris tipis, tapi Nayra merasakan kalimat itu langsung menusuk ke ulu hati. Nayla tersentak, mukanya langsung memerah dan panas.
Ardana kembali ke posisi semula, seakan tidak terjadi apa-apa terhadap Nayra setelah ia menegurnya barusan.
"Iya, maaf, Mas," ucapnya sedih. Dadanya langsung sesak. Sikap Ardana seperti ini tidak pernah Ardana lakukan, meskipun sehari-hari selalu dingin dan datar. Tapi, kini sangat berbeda.
Nayra menarik napas panjang, lalu perlahan ikut berbaring. Ia menatap punggung tegap suaminya yang tertutup selimut. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter, namun rasanya seperti ada jurang yang memisahkan. Nama 'Tiana' yang tadi didengarnya kini kembali berdengung di telinga, seperti kaset rusak yang menyiksa batinnya.
"Siapa Tiana, Mas? Kenapa Mas Arda bisa tersenyum menyebut namanya, sementara untukku hanya ada tatapan dingin?" Pertanyaan itu hanya tertahan di ujung lidah. Nayra memilih memejamkan mata, membiarkan air mata yang tersisa membasahi bantalnya dalam diam.
Keesokan paginya, Ardana sudah bangun lebih dulu, bersiap untuk kembali menuju kesatuan. Saat pria itu masuk ke ruang ganti untuk memakai seragamnya, ponselnya yang diletakkan di atas nakas tiba-tiba bergetar.
Drrrrttt...drrrtttttt....
Nayra buru-buru bangkit dari tidurnya, ia langsung merapikan selimutnya. Biasanya, ia tidak pernah berani menyentuh barang pribadi suaminya. Namun, rasa penasaran yang memuncak selama tiga tahun ini seolah memberi keberanian yang kuat.
Dengan tangan gemetar, ia meraih ponsel itu. Layarnya menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan singkat.
Sebuah nama tertera di sana, nama Tiana. Nama yang ia dengar semalam saat suaminya menerima panggilan dari seseorang.
"Terima kasih untuk waktu istirahatnya yang singkat kemarin ya, Mas. Semangat bertugas hari ini. Jangan lupa sarapan pagi."
Jantung Nayra seolah berhenti berdetak. Kata 'Mas' dan perhatian kecil itu terasa seperti sembilu yang menyayat dadanya. Selama ini, Nayra-lah yang selalu mengingatkan Ardana untuk makan, yang selalu menyiapkan segala kebutuhannya, namun respon yang didapat hanyalah gumaman dingin atau teguran karena dianggap terlalu ikut campur.
"Sedang apa kamu?"
Suara berat dan dingin itu menggelegar dari arah pintu ruang ganti. Nayra tersentak hebat, ponsel di tangannya hampir saja terjatuh. Ia menoleh dengan wajah pucat pasi, mendapati Ardana berdiri menatapnya dengan tatapan tajam yang menghakimi.
"I~ini...tadi... ponsel Mas Arda bergetar. Nay, bermaksud ingin memberikannya pada Mas Arda," ujarnya memberi alasan dengan gugup.
Ardana segera meraih ponsel itu dengan sedikit kasar. Nayra tersentak untuk yang kedua kali.
"Pergilah, jangan ikut campur atau mau tahu isi dari barang pribadiku. Kamu bukannya baru bangun dan belum ke kamar mandi, kan?" peringatnya keras, memperlihatkan rasa tidak suka saat Nayra ketahuan memegang ponselnya.
Nayra mengangguk, lalu ia buru-buru bergegas ke kamar mandi. Ia menyesal kenapa tadi penasaran dan ingin melihat ponsel suaminya.
Beberapa saat kemudian, di dapur. Harum kopi hitam pekat racikan Nayra sudah menguar di udara. Nayra meletakkan cangkir kopi hitam itu di atas meja makan, disertai tatakan yang senada.
Ardana muncul dari ruang tengah menuju dapur. Nayra sudah siap menyambutnya.
"Mas Arda, ini kopinya."
Ardana menduduki salah satu kursi makan, meletakkan ponselnya yang sejak tadi menyala, lalu meraih cangkir kopi di atas meja. Untuk sejenak ia menikmati seduhan kopi hitam yang wangi itu. Saking menikmatinya, ia terlihat memejamkan mata.
Ardana akui, kopi racikan Nayra memang paling pas dan begitu enak saat dinikmati. Berbeda dengan kopi hitam sachet yang sudah tinggal seduh. Racikan yang dibuat Nayra benar-benar belum pernah sekalipun mengecewakan Ardana.
"Mas sarapannya sudah Nay buatkan nasi goreng spesial hari ini," ucap Nayra memecah keheningan di antara mereka berdua.
Ardana menoleh lalu menatap Nayra. "Aku tidak jadi sarapan di rumah. Aku buru-buru harus segera ke kantor," ujarnya sambil meraih cangkir kopi yang masih tersisa setengahnya. Ardana menikmati kopi itu sampai habis, lalu ia bangkit.
"Tapi, Mas...."
"Kamu makan saja sendiri, buat tubuhmu lebih berisi lagi sedikit. Sudahlah, aku tidak punya banyak waktu," tepisnya dan mulai bergegas.
Nayra terdiam, tapi ia segera mengikuti Ardana dari belakang. "Mas, tunggu Mas...siapa itu Tiana, Mas....?"
Pertanyaan itu mampu membuat kaki Ardana terhenti lalu membalikkan badan. Ardana menatap Nayra tajam. "Sudah aku katakan tadi, jangan pernah campuri urusanku. Kamu cukup duduk diam saja di rumah, melakukan pekerjaan rumah seperti yang biasa kamu lakukan, merajut, menulis atau merangkai bunga dan menikmati nafkah yang aku berikan. Apa nafkah yang aku berikan tidak cukup?"
Kalimat itu terasa menyentak hati Nayra, tapi Nayra buru-buru menggeleng.
"Lalu kenapa? Aku sudah memberikan kamu nafkah lahir dan ba...batin. Kalau masih kurang, nanti aku tambah," lanjutnya lagi masih menatap Nayra tajam.
"Tidak Mas, tapi...."
"Nafkah batin maksudmu? Aku minta maaf, harusnya kamu paham sendiri. Aku pulang sudah terlanjur lelah, mana bisa di rumah harus lembur lagi?" ketusnya seraya berlalu.
Nayra menatap kepergian Ardana sedih, bahkan mencium tangan Ardana saja ia belum sempat, karena saking shocknya dengan kalimat yang Ardana katakan barusan.
Jangan lupa, bagi Readers yang belum follow, follow Author ya. Selamat membaca.
Kain hasil rajutan tangan Nayra tergantung cantik di dinding. Digantung dengan hanger yang dikaitkan ke atas paku. Ia menatapnya lama. Betapa ia mengagumi hasil karyanya sendiri. Seorang bocah perempuan tersenyum memegang sekuntum bunga dahlia kesukaan Nayra.
"Kapan kamu hadir, Nak? Mama sudah ingin ditemani kamu, untuk menemani Mama menyulam, menulis atau sekedar mencurahkan isi hati Mama?" gumamnya bertanya pada gambar wajah bocah perempuan yang berhasil ia gambarkan dari hasil kolaborasi beberapa benang rajutannya.
Bocah dalam kain rajutan itu seperti tersenyum, ia seakan berkata 'sabar Mama, aku sedang berjalan menuju Mama'.
Lamunan Nayra buyar begitu saja, ia buru-buru mengucap istighfar. Nayra sadar, ia sudah terlalu jauh. Mengajaknya bicara gambar dalam rajutan itu, sudah salah. Ia seperti mulai terobsesi dan merasa jenuh harus menunggu dua garis merah itu muncul di alat tes kehamilan.
"Ya Allah, maafkan hamba," ucapnya lirih sembari menyeka air mata yang mulai turun.
"Kapan rahim ini ditumbuhi janin? Jangan sampai perempuan yang bernama Tiana itu merebut hati Mas Arda. Seandainya aku sudah hamil, mungkin saja Mas Arda akan berubah sikap. Aku yakin, Mas Arda akan menghangat. Sebab dia sudah beberapa kali mempertanyakan kehamilanku."
"Kapan dong rahim kamu hamil?" ulangnya lagi mempertanyakan pertanyaan yang sama pada rahim yang saat ini diusapnya. Air mata Nayra kembali menetes. Ia tidak sanggup menahan perasaan sedih karena harus menunggu kapan ia akan hamil.
"Ting."
Notifikasi pesan WA berdering, Nayra segera meraih ponselnya lalu membuka aplikasi hijau itu.
Pesan dari Nepa tertera di sana.
"Nay, besok sore ada halal bihalal alumni Unikom, kamu datang ya. Dekat kok di kafe sebelah Aoka."
Nayra berpikir sejenak, lalu ia mulai membalas pesan dari Nepa salah satu teman terdekatnya sejak SMP.
"Aku nggak janji, ya, Nep. Kalau ada izin dari suami, aku pasti datang. Tapi kalau nggak, jangan ditungguin ya."
"Ok. Ajak saja suami kamu sekalian. Banyak kok yang bawa pasangannya." Nepa membalas.
"Baiklah, kita lihat saja besok, ya."
Balasan terakhir itu menjadi penutup pesan WA antara Nayra dan Nepa. Nayra meletakkan ponselnya di atas meja. Nayra kembali dengan kesibukannya. Kini ia mulai menulis, menulis sebuah kisah yang persis dengan apa yang dirasakan saat ini.
Bahkan dari hobby menulis itu, Nayra sudah berhasil menerbitkan buku. Namun hanya dicetak untuk pribadi saja, tidak untuk disebarluaskan.
Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 12.00 siang, Nayra bangkit. Sebelum meninggalkan ruangan yang ia beri nama Sanggar Mini, yang luasnya kurang lebih 4x4 itu, ia kembali menatap gambar di dalam kain hasil rajutannya tadi. Gambar bocah perempuan yang tersenyum padanya dengan sekuntum bunga dahlia di tangan. Tanpa sadar, tangannya kembali merayapi perut rampingnya, yang entah kapan akan ditumbuhi janin.
***
Malam mulai merayap, jam di dinding sudah menyentuh angka sepuluh. Nayra gelisah, sebab suaminya masih belum pulang. Tidak ada pesan apa-apa dari Ardana seperti saat di hari anniversary yang ketiga. Berhubung Nayra belum bisa memejamkan mata, ia kembali keluar kamar, menuruni tangga untuk menuju ruang tamu. Di sana ia membuka gorden sedikit, mengintip siapa tahu suaminya sudah menunjukkan tanda-tanda pulang.
Lima menit kemudian, suara deru mobil Ardana mulai terdengar. Benar saja, itu mobil Ardana. Ia menuruni mobil, lalu membuka pagar rumah, tidak lupa tangan kanannya memegang ponsel yang ia tempelkan di daun telinga kanan.
Nayra saat itu bingung, apakah ia harus menyambutnya atau tidak? Sementara Ardana selalu membawa kunci rumah sendiri dan selalu berpesan kalau pintu cukup dikunci saja lalu kuncinya harus dicabut dari lubang kunci. Nayra mematuhi semua perintah Nayra. Dan saat ini, dia sedang bingung. Apa yang harus dia lakukan?
Namun, ketika tubuh Ardana sudah berada di depan pintu, Nayra segera menjauh lalu buru-buru menuju kamar. Di sana ia membaringkan tubuh, pura-pura tertidur pulas. Bahkan napasnya sejenak ia atur, supaya benar-benar seperti orang tidur.
"Krietttt...."
Suara pintu kamar terdengar dibuka, derap langkah kaki Ardana mulai mendekat.
Ardana berdiri menatap tubuh yang terbaring di atas ranjang. Nayra terlihat sudah tertidur pulas di sana. Sementara itu, ponsel Ardana masih menyala.
"Gimana, tadi hasilnya sudah bagus belum?" Ardana berbicara dalam telpon.
"Lumayan, Mas. Tapi, kenapa tadi Mas Arda tidak bisa menemui aku?" sambut suara di ujung telpon sana. Meski tidak diloudspeaker, tapi Nayra mampu mendengarnya.
"Tiana, Mas tadi ada juga pasien di klinik Sesko. Ada calon penerbang yang mesti di cek kesiapan psikologis dan mentalnya. Besok ketemu, ya. Mumpung Mas week end," balasnya mesra.
"Ok deh Mas, aku tunggu."
"Baik belahan jiwa. Sampai jumpa besok." Ardana mengakhiri percakapannya di dalam telpon. Kemudian ia melangkah menuju ruang ganti untuk membuka seragamnya di sana. Seharian ini, ia sungguh lelah dengan pekerjaan, banyak siswa calon penerbang yang dievaluasi psikologis.
Nayra yang sejak tadi hanya pura-pura tidur, menangis dalam diam ketika ia mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Ardana di telpon pada seseorang. "Belahan jiwa?". Sementara dirinya, sepertinya hanya dianggap bayangan yang numpang tinggal di rumah ini oleh Ardana.
Sakitttt sekali, hati Nayra benar-benar sakit. Tapi, ia mencoba menahan semua. Dia tetap berpura-pura tertidur pulas.
Lima belas menit kemudian, Ardana mulai menaiki ranjang. Ia mendekat, lalu meraih bahu Nayra. Wajahnya sedikit menunduk, mengintip wajah Nayra yang diduganya pulas. Hati Ardana tiba-tiba berdesir hebat, ketika melihat wajah Nayra terlihat sangat sedih. Ia seakan baru melihat kesedihan di wajah Nayra.
Ardana kembali ke posisi semula, ia membaringkan tubuhnya dan berusaha memejamkan mata.
Keesokan harinya. Sikap Nayra berusaha biasa, ia menyiapkan sarapan pagi seperti biasanya. Kebetulan hari ini Ardana juga libur akhir pekan, Sabtu dan Minggu. Nayra selalu bersemangat jika akhir pekan, melayani Ardana dengan pelayanan terbaiknya, meskipun Ardana tetap bersikap dingin dan datar.
"Mas, nanti siang sekitar jam dua, Nay ada acara halal bihalal bersama teman alumni kampus, Mas Arda bisa temani Nay, tidak?" tanya Nayra sesaat setelah mereka menyudahi sarapan pagi.
"Apa, halal bihalal? Jam dua? Aku sepertinya tidak bisa, aku ada janji dengan salah satu pasien di RSAU."
"Bukannya, Mas Arda libur?" Nayra masih menyimpan penasaran, padahal ia sudah tahu jawaban apa yang akan Ardana berikan.
"Iya, tapi aku terlanjur ada janji. Kamu pergi halal bihalal saja sendiri. Aku tidak akan sempat untuk menemani kamu. Lagian, tumben-tumbenan kamu ada acara seperti itu di luar rumah, biasanya juga tidak?" balas Ardana.
"Oh, ya, sudah kalau Mas Arda tidak bisa. Berarti nanti Nay boleh pergi, Mas?" tanyanya meyakinkan.
"Kan sudah aku bilang, pergi saja. Di mana acaranya?"
"Dekat, Mas. Di samping Aoka," sahut Nayra dengan wajah menunduk, ia kecewa ternyata Ardana lebih memilih pergi dengan orang yang berada di dalam percakapan telponnya.
"Apalagi dekat. Buat apa harus ditemani aku?" dengusnya sambil berlalu.
Nayra tercenung sedih. Ajakannya tidak berarti apa-apa dibanding ajakan dari seseorang yang disebut Ardana 'belahan jiwa'.
Jangan lupa dukungan dan ingat, bagi pembaca baru maupun lama yang belum follow Author, silahkan follow ya. Selamat membaca.
Bagaimana di bab 3 Nayra sudah sangat menyedihkan belum ya?
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!