"Mau mana sudah malam seperti ini?" Bu Narti menegur sang anak yang sedang bersiap.
"Aku mau melihat organ tunggal, Bu." Mirasih menjawab sambil membalur wajahnya dengan bedak.
"Jangan pulang terlalu malam karena itu tidak bagus untuk seorang gadis." pesan Bu Narti kepada sang anak.
"Paling lama nanti sekitar pukul dua belas, sebab kalau sudah jam segitu baru terasa ramai dan banyak anak muda yang berjoget di sana." Mirasih menatap Bu Narti dengan mata sayu.
"Itu tidak pantas untuk seorang gadis bila keluar dan pulang di jam segitu, Ibu tidak akan mengizinkan Kau pergi." Bu Narti jadi emosi kepada sang anak.
Mirasih menjadi tambah kesal saja karena dia merasa terkekang dan tidak di berikan kebebasan sama sekali, padahal banyak gadis lain yang tetap bisa pulang atau bahkan mereka memilih untuk tidak pulang ke rumah bila sedang ada hiburan seperti itu di desa mereka, sedangkan dia untuk pulang sekitar jam dua belas saja sudah tidak boleh.
Kalau mendapat larangan seperti ini maka hati Mirasih kian merasa kesal saja kepada Bu Narti, mereka adalah orang yang tidak berpunya dan kadang juga mendapat hinaan dari beberapa warga karena hidup yang begitu sengsara dan kadang untuk makan begitu sulit sekali sehingga Mirasih harus mau bekerja sebagai pembantu.
Jadi gadis ini merasa dia perlu untuk keluar malam untuk menghibur pikiran dan tidak terlalu stres memikirkan semua masalah ini, namun Bu Narti malah tidak mengizinkan dia pulang malam, sebab menurut orang tua itu jelas gadis akan di pandang hina bila memiliki kebiasaan untuk pulang malam seperti itu saat sedang ada hiburan.
Anak orang lain mungkin tidak akan masalah karena tidak ada yang membicarakan kelakuan mereka semua, justru yang miskin seperti Mirasih ini akan terus di perbincangkan karena mereka menganggap bahwa gadis itu tidak tahu diri dan tidak sadar bahwa mereka adalah orang susah tapi tetap saja banyak tingkah.
Namun kadang Mirasih ini yang membuat Narti menjadi bingung sendiri Karena dia sudah berusaha untuk memberi peringatan, namun sang anak tetap saja keras kepala dan bila ada kegiatan seperti sekarang maka dia ingin selalu ikut, tidak mungkin juga keluar dari rumah tanpa membawa uang karena pasti ingin membeli sesuatu.
Narti memang golongan orang yang sangat tidak punya sehingga kadangkala untuk makan saja mereka sangat susah sekali, harus menjadi buruh cuci atau kadang juga menanam padi di sawah, dengan begitu maka mereka baru memiliki uang yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan bahkan juga untuk membeli baju untuk Mirasih itu.
Mirasih adalah anak gadis sehingga wajar saja bila dia harus membeli baju untuk menarik perhatian dari lawan jenis, beda dengan Narti yang bahkan kadang menerima baju pemberian dari orang lain yang bisa dikatakan sudah tidak layak pakai, namun untuk ganti maka dia tetap menerima itu semua dengan hati yang lapang tanpa ada rasa kecewa.
"Aku minta uang untuk beli makan saja tidak, Ibu harusnya bersyukur karena aku tidak pernah merepotkan untuk hal itu." Mirasih berkata sambil menyambar tas.
"Lalu dari mana kamu mendapatkan uang?" Narti segera mengejar sang anak.
"Ibu tidak usah mau tahu aku dapat uang dari mana, tapi yang jelas aku bisa mencari uang sendiri." seru Mirasih.
"Jangan kamu pikir Ibu tidak tahu bahwa kamu mengambil uang dari Jarwo." Narti langsung emosi karena dia mengetahui bahwa sang anak telah memiliki hubungan dengan seorang pria.
"Lalu memangnya kenapa bila Mas Jarwo memberi aku uang itu? Dia memberi aku dengan ikhlas dan tidak pernah mengungkit seperti Ibu!" Mirasih berkata dengan sangat kasar.
Narti yang mendengar ucapan itu tentu saja hanya bisa terdiam karena sang anak telah berani membantah dengan ucapan yang sangat kasar, selama ini dia terus saja berusaha untuk menasehati agar Mirasih tidak bersikap demikian dan bahkan jangan sampai menerima uang dari seorang pria.
Namun itu semua sama sekali tidak didengar oleh Mirasih karena dia merasa Jarwo lebih mampu memberi nafkah, padahal Narti hanya cemas bila nanti Jarwo akan memiliki keinginan lain terhadap Mirasih karena dia merasa telah memberikan banyak uang untuk gadis itu, tidak ada laki-laki yang masih pacaran tapi dengan ikhlas memberikan uang.
"Kenapa lagi to, Buk?" Hamdan keluar dari dalam kamar sambil membungkuk dan wajah yang sangat pucat.
"Mirasih ingin pergi nonton organ tunggal." ujar Narti pelan.
"Ya tidak masalah karena dia juga anak muda sehingga wajar bila ingin mencari hiburan." Hamdan berkata dengan suara yang sangat pelan.
"Aku tidak melarang bila dia memang ingin pergi menonton, tapi setidaknya harus tahu waktu dan pulang pun jangan terlalu malam." Narti berkata dengan suara begitu iba.
"Apa Mirasih membuat hati kamu terluka?" Hamdan bertanya dengan sangat lembut karena dia mengetahui bahwa Narti telah bersedih.
"Tidak, dia pasti hanya kecewa saja karena memiliki orang tua seperti aku." ujar Narti sambil mengusap air mata yang meluncur.
Sebagai orang tua maka dia merasa sangat gagal karena tidak bisa memenuhi kebutuhan sang anak dari ujung kepala hingga ujung kuku, malah sekarang yang ada Mirasih justru bergantung kepada Jarwo karena merasa pria itu lebih bisa memberikan dia banyak uang dan hidup terjamin.
"Bila kamu sedang merasa enak maka tolonglah nasehati Mirasih agar jangan terlalu dekat dengan Jarwo." Narti berkata kepada sang suami.
"Apa hubungan mereka semakin dekat saja sekarang?" tanya Hamdan.
"Benar, bahkan Mirasih sendiri yang mengatakan bahwa Jarwo selalu memberi dia uang." Narti mengangguk pelan.
Hamdan terdiam juga karena dia sebagai seorang Ayah emang sudah sangat jarang bisa mencari uang karena kondisi dia yang sakit seperti ini, jadi keuangan mereka memang hanya di tampung oleh Narti saja sebagai buruh cuci serta buruh menanam padi di sawah milik orang lain, memang mata uang mereka hanya tinggal satu saja dan itu semua karena Hamdan yang sakit kanker paru-paru.
"Nanti kalau dia sudah merasa sedikit tenang maka aku pasti akan menasehati ini Mirasih." janji Hamdan.
"Kalau sudah menikah dan memberi uang itu adalah hal yang wajar, ini mereka masih pacaran dan aku tahu pikiran seorang pria pasti akan sangat buruk terhadap gadis itu." lirih Narti.
"Jarwo juga anak orang kaya dan kita tentu tidak sepadan dengan dia, mungkin memang lebih baik bila Mirasih menjaga jarak dengan Jarwo." angguk Hamdan.
"Orang sini sudah banyak yang mengatakan tentang hal itu Dan aku juga sudah menasehati Mirasih agar dia menjauh dari Jarwo, tapi tetap saja Mirasih memang sangat keras kepala." sahut Narti.
Perbedaan kedua keluarga ini jelas begitu besar karena keluarga Jarwo adalah orang sangat kaya di desa ini, sedangkan arti hidup yang sangat pas-pasan dan kemungkinan besar keluarga Jarwo tidak akan pernah bisa menerima Mirasih untuk masuk ke dalam keluarga itu.
Narti juga sudah mencoba untuk memberi pengertian kepada Mirasih agar gadis itu merasa sadar diri, tapi lagi-lagi Mirasih tidak pernah mendengar dan dia terus saja membuat pula sehingga orang tua ini merasa begitu pusing memikirkan kelakuan sang anak yang kian menjadi setiap hari.
Selamat siang, jumpa lagi kita di karya baru othor ini ya.
"Sudah pukul dua pagi, Mirasih belum juga pulang." Narti dengan cemas menunggu di depan rumah karena sang anak tak kunjung muncul.
"Kemana perginya Mirasih ini." Hamdan juga bingung karena sang anak belum kembali.
"Mas kamu jaga rumah saja dulu ya karena aku akan mencari Mirasih di tempat organ sana." Narti ingin menyusul Mirasih saja.
"Tapi ini juga sudah malam aku takut nanti malah kamu ada apa-apa di jalan." Hamdan juga bingung karena dia sebagai suami malah tidak bisa bertanggung jawab.
"Tenang saja, aku sudah tua dan tidak ada yang naksir dengan aku." Narti masih bisa bergurau walau sebenarnya saat ini dia sangat pusing.
Hamdan menatap Narti yang sudah keluar dari dalam rumah dan menuju tempat hiburan itu berada, tentu sebagai orang tua rasa cemas di dalam hati sangat berlebihan karena mereka agak takut juga bila nanti ternyata Mirasih justru mendapat celaka ketika sedang bermain dengan teman yang lain di desa ini.
Kadang kalau sudah memiliki anak gadis dan menanjak remaja seperti itu maka mereka harus sekuat tenaga menjaga mereka semua, ini Hamdan malah sakit keras seperti itu dan kadang peran dia sebagai kepala keluarga bisa di ganti oleh Narti, Untung dia memiliki istri yang bisa cepat tanggap dan tidak pernah banyak tingkah.
Narti sebenarnya adalah wanita yang cantik dan bila dia berdandan maka masih ada pria yang tertarik dengan kecantikan wanita Madura itu, namun Narti tidak pernah berpikir untuk mencari pria lain dalam hidup ini, menurut dia menikah hanya sekali dan walau saat ini suami sedang sakit keras tapi tetap saja dia tunggu.
Kesetiaan yang jarang di miliki oleh wanita lain karena mereka terkadang memilih untuk menyerah saja ketika sang suami sudah tidak mampu untuk mencari nafkah, Hamdan memang sudah lama sakit kanker paru-paru seperti itu namun dia tak kunjung sehat dan kadang dalam pikiran Hamdan juga ingin kematian saja.
Rasa putus asa karena terus saja menyusahkan sang istri dan tidak bisa membahagiakan anak beserta dengan istri, walau selama ini Narti tidak pernah mengeluh tentang keberadaan dia yang hanya menyebabkan beban namun tetap saja Hamdan terkadang merasa rendah diri dan tidak sanggup untuk berbicara banyak kepada Narti.
Terlebih ketika Mirasih sudah berulah seperti ini maka Hamdan yang merasa paling malu, bukan hanya malu tapi juga merasa tidak berguna sebagai seorang Ayah, seperti saat ini contohnya ketika nanti memilih untuk keluar sendiri tanpa ada yang menemani hanya karena dia ingin mencari sang anak yang entah ada di mana sekarang.
Andai Hamdan sehat maka pasti dia yang bisa keluar dari rumah ini untuk mencari keberadaan Mirasih lalu membawa anak gadis mereka pulang ke rumah, ini malah sang istri yang keluar tengah malam dan tidak peduli dengan rasa takut yang timbul di dalam hati ini karena suasana di desa ini juga cukup gelap bila sudah malam hari.
"Maafkan aku, Narti." Hamdan sangat menyesal sekali.
"Andai aku sehat maka aku tidak akan membuat kau sengsara seperti itu, aku belum bisa membuat kau bahagia." isak Hamdan di depan rumah.
"Ngapain duduk depan rumah malam begini, Ham?" tegur Arifin yang baru pulang ronda.
"Ini aku sedang menunggu Mirasih pulang." jawab Hamdan.
"Mirasih kemana memang nya?" Arifin agak kaget juga.
"Tadi berpamitan ingin menonton organ tunggal, tapi sampai sekarang malah tak kunjung kembali." cemas Hamdan.
"Loh sudah pukul dua lewat ini, kau tidak berpesan apa kalau pulang harus jam segini." Arifin juga ikut cemas sekarang karena dia masih sepupu Hamdan.
Hamdan menarik nafas panjang karena sebenarnya dia juga sudah berpesan kepada sang anak agar segera pulang ketika sudah selesai, ini malah sudah tengah malam begini Dan hampir subuh tapi Mirasih tak kunjung kembali sehingga sudah pasti sebagai orang tua timbul rasa cemas dalam hati yang begitu besar.
"Ya sudah kalau begitu aku akan mencari dulu keberadaan dia." Arifin tak jadi pulang ke rumah.
"Tadi Narti juga pergi mencari dia ke arah kulon." ujar Hamdan.
"Ya Allah sudah malam begini malah membuat orang tua susah saja kau ini Mirasih." kesal Arifin karena dia juga agak tahu bagaimana tabiat gadis itu.
"Tolong bantu Narti ya, Fin." pinta Hamdan memelas.
Arifin mengangguk dan memang dia tidak jadi pulang ke rumah karena kasihan juga melihat Hamdan yang sedang sakit tapi duduk di depan teras seperti itu karena menunggu sang anak, malah yang lebih parah lagi Narti sudah pergi untuk mencari keberadaan Mirasih yang saat ini entah ada di mana.
...****************...
"Massss aaaaahhh."
Seorang gadis menggeliat di atas ranjang ketika menikmati sentuhan dari tangan kekasih nya, Jarwo sendiri sudah tidak tahan dan ketika mendengar Mirasih mendesah seperti itu maka dia semakin tidak terkendali saja, mana dalam pengaruh alkohol sehingga sudah pasti nafsu yang ada di dalam diri begitu kencang.
Cup.
Cup.
"Aaaaahh geli mas." Mirasih agak mendorong kepala Jarwo ketika dia meninggalkan cupang pada bagian leher.
"Sayang aku mau." Jarwo menatap Mirasih dengan tatapan begitu sayu.
"Tapi nanti kamu jangan tinggalin aku kalau aku sudah tidak perawan lagi ya." Mirasih juga takut bila nanti dia akan di tinggal oleh Jarwo.
"Tidak akan, aku pasti akan segera menikahi kamu." janji Jarwo sambil meremas gunung kembar yang masih begitu kenyal.
"Aaaah aaaah." Mirasih sendiri sudah terbuai karena dia menikmati belaian yang begitu lembut.
"Aku sangat mencintai kamu, Mirasih!" bisik Jarwo sambil menjilat telinga mungil gadis ini.
Tentu saja Mirasih menjadi begitu terbuai dan keputusan dia untuk menyerahkan mahkota yang selama ini telah dia jaga menjadi begitu bulat, sebab dalam hati dia sangat yakin bahwa Jarwo pasti akan segera menikahi ketika mereka telah bersetubuh seperti saat ini, justru bila dia tidak menuruti keinginan Jarwo maka takut nanti pria itu akan mencari gadis lain.
"Eeemmmp kau wangi sekali, sayang." bisik Jarwo menjilat put*Ng Mirasih.
"Aaaah geli, Mas." Mirasih tidak pernah merasakan sensasi seperti ini sehingga dia mengelijang.
"Nikmati saja ya, nanti sebentar akan terasa sakit tapi setelah itu kita akan merasakan sensasi yang begitu luar biasa." bisik Jarwo sambil mengeluarkan senjata dia.
Mirasih hanya tertegun karena ada rasa takut namun ada juga rasa yakin untuk memberikan hal ini kepada Jarwo, setan dalam kepala terus saja berbisik bahwa setelah dia melakukan persetubuhan ini maka Jarwo akan menikahi dan mereka bisa hidup bahagia bersama lalu Mirasih mendapatkan hidup yang enak.
Selamat pagi besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
"Aku sudah berusaha mencari tapi ternyata bagian sana juga sama sekali tidak ada." Arifin pulang ketika sudah sekitar pukul tujuh pagi.
"Ya Allah jadi ini ke mana Mirasih kok sama sekali tidak ada kabar." Narti terduduk lemas di atas lantai.
"Lah aku juga sudah keliling loh di tempat organ tunggal itu tapi memang tidak ada Mirasih atau Jarwo di sana." ujar Arifin dengan nada begitu bingung.
"Jadi mana sebenarnya Mirasih ini pergi kok sama sekali tidak ada kabar dan sampai sekarang."Hamdan ikut panik.
"Para teman juga sama sekali tidak mengetahui keberadaan mereka, berarti mereka berdua tidak ada pergi dengan yang lain." Arifin sudah mulai berpikiran buruk.
Bukan karena mereka menilai Jarwo adalah pria yang kurang ajar tapi selama ini memang mereka mengetahui bahwa sepak terjang Jarwo bukan pria yang benar, anak pria paling kaya di desa ini memang selalu saja ada tingkah Dia setiap saat dan justru Mirasih jatuh cinta kepada pria tersebut.
Jarwo juga menunjukkan rasa suka yang begitu besar terhadap Mirasih walau selama ini banyak yang mengatakan bahwa itu semua hanya kepalsuan semata, mungkin dalam waktu satu bulan maka Jarwo bisa berganti pasangan sebanyak empat atau sampai lima kali karena dia memang begitu menyukai wanita cantik dan juga muda.
Mirasih jatuh cinta kepada Jarwo karena dia merasa pria itu memang mencintai dia seperti pasangan lain pada umum nya, meski banyak juga yang menghujat dan mengatakan bahwa Mirasih adalah gadis matre sehingga dia terus saja mengejar Jarwo dengan berbagai macam cara agar bisa mendapatkan harta yang di miliki oleh Pak Sarbeni.
Perbedaan ekonomi yang begitu jauh membuat para warga yang ada di sekitar sana merasa julit dan terus saja membicarakan hubungan antara Mirasih dan juga Jarwo, bahkan bisa dibilang bahwa seluruh warga yang ada di sini seolah sangat menantikan bagaimana nanti Mirasih akan di buang oleh Jarwo begitu saja ketika pria itu sudah merasa bosan.
Narti juga sebenarnya tidak setuju bila sang anak memiliki hubungan dengan pemuda itu, sebab menurut dia Jarwo itu bukan lah pria yang baik sehingga tidak pantas bila bersama dengan Mirasih, kalau tidak kaya seperti Jarwo nama setidaknya memiliki tindak tanduk yang baik dan sopan terhadap orang tua.
Sedangkan Jarwo hanya fokus kepada alkohol dan menikmati hidup dengan berbagai macam cara sambil menghamburkan uang juga, tidak pernah bekerja karena merasa nanti Pak Sarbeni akan memberikan apa saja yang dia mau karena Jarwo adalah anak yang sangat di sayangi oleh pria berperut buncit berambut putih itu.
"Tunggu agak siang nanti biar kita bisa melihat siapa yang sudah membawa Mirasih pergi." ujar Arifin.
"Kenapa orang pada berlarian itu?" Hamdan melihat keluar dan seluruh warga menjadi begitu sibuk.
"Kok sepertinya ada kehebohan itu sehingga semua ingin melihat." Arifin juga bergegas keluar dari rumah.
"Ya allah semoga tidak ada sangkut paut dengan Mirasih ini." Narti sudah selalu saja berpikiran ke sana.
"Jangan berkata demikian karena siapa tahu saja itu ada sesuatu yang terjadi tapi tidak bersangkutan dengan Mirasih." Hamdan masih berusaha untuk menenangkan sang istri.
"Aku akan ikut dengan para warga untuk melihat ke arah sana." Narti segera pergi.
Maka Arifin dan Narti segera berlari mengikuti arah para warga yang sedang sibuk karena melihat sesuatu, ini mereka berdua juga tidak sempat bertanya ada apa karena keadaan memang terlihat begitu mendesak dan di bagian ujung dekat pohon yang begitu besar sudah terjadi teriakan serta berbagai macam bisikan dari mulut para warga.
Narti tadi berlari begitu kencang namun semakin mendekati pohon itu kaki ini seolah terasa semakin lemah saja, entah kenapa dalam hati ini terasa begitu berbeda dan seolah ada sesuatu yang memaksa dia untuk berhenti dan tidak perlu mendekat Karena bila mendekat maka batin dia tidak akan sanggup menyaksikan ini semua.
"Kenapa, Mbak?!" Arifin kaget karena mendadak saja Narti terduduk lemas.
"Ak...aku." Narti bingung untuk menjelaskan perasaan dia saat ini bagaimana.
"Kenapa Narti ini?" Mak Jem bertanya dan sambil mendekat.
"Dia tadi ikut berlari ingin melihat keadaan yang ada di sana tapi mendadak saja jadi lemas begini." Arifin bingung dan dia tidak mungkin menyentuh istri sepupu dengan leluasa.
"Gusti ini tubuh kamu kok adem sekali." Mak Jem saja sampai kaget melihat keadaan Narti yang begitu pucat.
"Aku lemas sekali karena takut itu di depan ada apa, Mak." lirih Narti pucat pasi Karena rasa takut yang timbul di dalam hati.
Arifin tidak ingin menunggu terlalu lama dan dia segera pergi meninggalkan Narti bersama dengan orang lain, sebab entah kenapa dia juga mulai merasakan rasa takut di dalam hati ini sehingga Arifin bergegas untuk mendatangi pohon besar yang saat ini sedang di kerumuni oleh para warga karena telah terjadi sesuatu yang sangat mengerikan sekali.
Mak Jem sedikit membaca doa untuk Narti agar wanita ini bisa kembali bangkit dan berjalan untuk melihat keadaan di depan sana, setelah menunggu agak lama maka Narti pun bisa segera bangkit walau saat ini dia masih untuk berjalan pun terasa begitu lemas karena kaki ini telah kehilangan tenaga.
"Ya Allah siapa yang tega melakukan hal seperti itu?" para warga menutup mulut karena kaget dan juga merasa ngeri.
"Aku tidak sanggup membayangkan ketika ajal datang menjemput, pasti dia sangat kesakitan sekali." timpal yang lain sambil melihat sosok tergantung di atas pohon.
"Usus dan juga jeroan bagian dalam sudah keluar semua seperti itu, Kenapa harus membunuh dengan cara yang demikian sadis?" Pak RT juga ikut kaget.
"Sungguh manusia biadab tidak memiliki perasaan." para warga sangat ketakutan dan sangat ngeri.
"Iya, ini darah sudah sampai mengering yang ada di atas tanah." tunjuk salah satu warga ketika melihat darah yang menetes dari tubuh gadis itu.
"Wajah nya hancur seperti itu dan kita harus menunggu polisi untuk menurunkan tubuh dia dari atas." Pak RT sudah sangat sibuk untuk mengurus mayat si gadis.
"Semoga bukan anak ku, Ya Allah." Narti berdoa di dalam hati.
"Dia masih diperkosa terlebih dahulu dan kemudian baru dibunuh dengan cara yang sangat sadis." teriak warga sambil berjalan menjauh.
Narti di bawah pohon besar dan dia berdiri mematung sambil menatap pemandangan yang begitu mengerikan di depan mata ini, rasa ingin menjerit namun ada di dalam hati rasa ingin membantah juga karena dia tidak percaya bahwa yang tergantung dengan tubuh mengerikan itu adalah sang anak.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!