Indonesia
NovelToon NovelToon

AXELLE

1

..

..

  Langit Bandung malam ini seolah tumpah. Hujan deras yang turun sejak sore tadi belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mereda, menyisakan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di tengah kepungan air dan kabut tipis di daerah pinggiran kota, sebuah motor sport hitam pekat mendadak terbatuk-batuk sebelum akhirnya mati total tepat di depan deretan ruko tua yang sudah lama tutup.

"Sialan! Gak sekarang juga kali!" gerutu Axelle Aididev Atharic dari balik helm fullface-nya.

Cowok itu turun, menuntun motor beratnya ke teras ruko yang sedikit menjorok ke dalam agar tidak terlalu basah kuyup. Axelle melepas helmnya, menyeka air yang menetes dari rambut hitamnya yang berantakan. Dia baru saja pulang dari markas tongkrongannya, dan nasib sial justru menjemputnya di jalanan sepi ini.

Saat dia mencoba mengutak-atik mesin motornya, sudut mata Axelle menangkap siluet seseorang di ujung teras ruko yang gelap. Seseorang yang duduk memeluk lutut dengan seragam yang basah kuyup.

"Siapa di sana?" suara Axelle berat, sedikit waspada.

Siluet itu bergerak, lalu mendongak. Di bawah cahaya lampu jalan yang remang dan berkedip, Axelle tertegun. Wajah yang kaku, kacamata yang sedikit berembun, dan tatapan yang selalu memancarkan otoritas di sekolah.

"Rea Zelene Xavandra?" Axelle mengernyit. "Ngapain lo di sini? Anak emas sekolah kok keluyuran malem-malem, ujan begini lagi?"

Rea tampak terkejut, namun dengan cepat dia berusaha menguasai diri meski giginya gemeretak kedinginan. "Ban sepeda gue bocor. Ponsel gue mati kena air hujan pas tadi mau pesen ojek online."

Axelle mendengus pelan, hampir tertawa kalau saja situasinya tidak semenyedihkan ini. "Nasib kita sama-sama busuk ternyata."

Axelle melepas jaket kulit hitamnya yang bagian dalamnya masih terasa hangat, lalu melemparkannya ke arah Rea tanpa kata. Rea sempat ragu, tapi rasa dingin Bandung yang menusuk membuatnya terpaksa memakai jaket beraroma parfum maskulin milik Axelle itu.

Mereka duduk bersandar di pintu ruko yang digembok, dipisahkan jarak sekitar satu meter. Keheningan yang canggung menyelimuti, hanya ada deru hujan yang memekakkan telinga. Rea adalah ketua OSIS yang sangat ambisius, sedangkan Axelle adalah definisi masalah berjalan di SMA Galaksi. Mereka adalah dua kutub yang tidak seharusnya berada dalam satu frame.

Namun, rencana untuk sekadar berteduh itu hancur dalam sekejap.

Tiba-tiba, sorot lampu senter yang sangat kuat menyambar wajah mereka. Disusul suara beberapa motor dan satu mobil patroli warga yang berhenti mendadak di depan ruko.

"Woi! Keluar kalian! Berani-beraninya berbuat mesum di sini!" teriak sebuah suara lantang yang memecah keheningan malam.

Axelle dan Rea tersentak berdiri serempak. Dalam hitungan detik, mereka sudah dikepung oleh sekitar lima orang warga lokal dan dua petugas keamanan lingkungan yang wajahnya tampak sangat tidak bersahabat.

"Pak, tunggu dulu. Kami cuma berteduh karena motor mogok!" Axelle mencoba menjelaskan, suaranya naik satu oktav.

"Halah! Alasan klasik! Anak sekolah jaman sekarang emang gak tahu malu. Berteduh kok di ruko kosong yang gelap begini? Lihat itu, bajunya saja sampai basah dan acak-acakan!" bentak seorang bapak-bapak dengan sarung melilit lehernya.

Rea maju selangkah, wajahnya pucat pasi. "Pak, kami tidak melakukan apa apa. Kami benar-benar hanya berteduh—"

"Gak peduli mau apa! Di daerah ini sudah sering kejadian yang macam-macam. Bawa mereka ke kantor RW sekarang! Panggil orang tua mereka!"

Situasi berubah menjadi kacau. Axelle mencoba melawan saat lengannya ditarik paksa, tapi dia sadar jika dia memukul warga sekarang, urusannya akan semakin panjang dan Rea akan semakin terseret. Akhirnya, mereka berdua digiring menuju kantor RW yang jaraknya tak jauh dari sana.

Di dalam ruangan kantor RW yang pengap, suasana semakin mencekam. Ketua RW, pria paruh baya dengan wajah tegas, duduk di depan mereka.

"Hubungi orang tua kalian. Sekarang," perintah Pak RW singkat.

Rea menunduk, tangannya gemetar hebat saat memegang ponselnya yang baru saja diisi daya sedikit oleh petugas. Dia tahu, begitu papa nya yang keras itu datang, reputasinya sebagai anak teladan akan tamat. dan pasti memalukan papanya ke kolega bisnis , bayangkan saja putri membanggakan xavandra tersandung kasus asusila, itu sungguh sangat sangat memalukan

"Orang tua saya lagi di luar negeri, Pak. Mommy sama Daddy saya masih di Inggris," ucap Axelle datar, mencoba menghubungi nomor luar negeri orang tuanya tapi nihil karena perbedaan waktu yang jauh. "Gak mungkin mereka bisa ke sini sekarang."

"Di luar negeri?" Pak RW menatap Axelle tajam. "Lalu siapa yang mau tanggung jawab atas kelakuan kalian malam-malam begini? Kamu tahu, warga sini sangat sensitif dengan hal-hal yang melanggar norma."

"Kami tidak melakukan apa-apa!" bela Axelle lagi, namun suaranya tenggelam oleh desas-desus warga di luar ruangan yang mulai memanas. Kata 'penggerebekan' dan 'asusila' mulai terbawa angin sampai ke telinga mereka.

Tiba-tiba pintu terbuka. papa Rea, Ardan xavandra masuk dengan wajah merah padam, diikuti sang mama Yara di belakang. Dia tidak bicara sepatah kata pun, hanya menatap Rea dengan pandangan yang dingin. Lalu dia beralih pada Axelle, dan terakhir pada Ketua RW.

"Saya tidak ingin berita ini menyebar dan merusak nama besar keluarga saya," suara papa Rea terdengar dingin dan berwibawa. "Apa solusinya agar masalah ini selesai malam ini juga tanpa ada polisi atau pihak sekolah yang tahu?"

Ketua RW berdeham, melirik ke arah warga yang masih berkerumun. "Warga menuntut tanggung jawab, Pak. Jika tidak ingin ini dibawa ke jalur hukum atau dilaporkan ke sekolah, mereka harus diikat secara sah. Nikahkan mereka malam ini juga, atau berita ini akan ada di koran besok pagi."

Dunia seolah berhenti berputar bagi Axelle. Dia menatap Rea yang mulai terisak tanpa suara. Mommy dan Daddy-nya jauh di London, tidak ada yang bisa membantunya membela diri di sini. Kecelakaan konyol karena motor mogok di tengah hujan Bandung ternyata berakhir pada sebuah penjara bernama pernikahan.

"Oke," ucap papa Rea tiba-tiba, membuat semua orang di ruangan itu tersentak.

"Nikahkan mereka sekarang."

Malam itu, di bawah saksi lampu neon yang redup dan suara hujan yang belum juga reda, Axelle Aididev Atharic resmi kehilangan kebebasannya. Dia terjebak dalam sebuah nikah kilat dengan gadis yang paling ia hindari di sekolah.

   perasaan nya merasa tak enak membayangkan bagaimana kecewanya sang mommy dan daddy melihat anak kesayangan mereka berbuat ulah, lagi.

 "mom, dad.. help me.. aku gak mau nikah mudah" batin nya miris, namun membantah juga gak bisa apalagi melihat wajah garang nya tuan xavandra

2

....

 Langit London malam itu sangat tenang, kontras dengan badai yang baru saja menghancurkan hidup Axelle di Bandung. Di sebuah apartemen mewah dengan pemandangan Sungai Thames, Elgard Atharic baru saja menyesap wine-nya saat ponsel di atas meja bergetar hebat.

Ada belasan panggilan tak terjawab dari nomor tidak dikenal dan satu pesan suara (VOICE NOTE) dari ketua RW di lingkungan ruko tua itu.

"Siapa, El? Ganggu waktu kita aja," gumam Anya, istrinya, yang tampil elegan dengan gaun beludru hitam.

Elgard mengernyit. "Nomor Indo. Kayanya darurat."

Elgard menekan tombol play pada pesan suara itu. Suara bising hujan dan teriakan warga langsung memenuhi indra penglihatan mereka, disusul suara berat Pak RW yang terdengar sangat menghakimi.

"Halo, selamat malam. Benar ini orang tua dari Axelle Aididev Atharic? Saya Ketua RW 05 Bandung. Anak Bapak tertangkap warga sedang berduaan di ruko kosong yang gelap dalam kondisi basah kuyup bersama seorang siswi. Warga sudah emosi dan menuntut pertanggungjawaban karena dianggap melanggar norma. Karena Bapak tidak bisa dihubungi untuk hadir, pihak keluarga perempuan sudah memutuskan untuk menikahkan mereka malam ini agar tidak jadi fitnah berkepanjangan. Mohon segera kembali ke Indonesia."

Prang!

Gelas wine di tangan Elgard hampir saja terlepas kalau dia tidak sigap menaruhnya. Wajahnya yang biasanya tenang dan berwibawa langsung berubah kaku, rahangnya mengeras hingga urat lehernya menonjol.

Sementara Anya? Dia menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca seketika. "El... Axelle... anak kita..."

"Bajingan kecil itu!" desis Elgard. Suaranya rendah tapi mematikan. "Aku kirim dia ke sekolah buat belajar, bukan buat kawin di ruko kosong!"

"Enggak mungkin, El! Axelle emang nakal, tapi dia nggak mungkin seceroboh itu. Pasti ada yang salah!" Anya mulai panik, tangannya gemetar mencari tiket pesawat di ponselnya. "Kita harus pulang Sekarang!"

Elgard langsung berdiri, mengabaikan makan malam mahal yang belum tersentuh. Dia segera menelepon asisten pribadinya. "Siapkan jet pribadi sekarang. Kita ke Bandung malam ini juga. Jangan ada yang tahu soal ini, tutup mulut semua media!"

Di dalam mobil menuju bandara, suasana sangat mencekam. Elgard terus-menerus mencoba menghubungi ponsel Axelle, tapi hanya dialihkan ke kotak suara.

"Dia benar-benar sudah gila," gumam Elgard sambil memijat pelipisnya. "Menikah? Dengan anak siapa dia berurusan sampai keluarga perempuannya segalak itu?"

Anya hanya bisa menangis sesenggukan di sampingnya. Dia membayangkan anak kesayangannya, anak tunggal yang manja tapi pemberontak itu, kini sudah menyandang status suami di umur yang bahkan belum legal untuk membeli minuman keras.

  tak bisa Anya pungkiri, axel jadi begitu karena Anya dan elgard sibuk mengurusi bisnis yang membuat mereka tak punya waktu.

  ini berawal dari kakek dan nenek axel kecelakaan mobil waktu axel baru memasuki SMP, kasih sayang full yang biasa dia dapat dari orang tuanya dan kakek nenek hilang sepenuhnya, membuat axel jadi pemberontak kayak sekarang

"Kalau sampai ini cuma akal-akalan dia buat cari perhatian, aku sendiri yang akan mematahkan motor sport kesayangannya itu," ancam Elgard dingin.

Namun jauh di dalam lubuk hatinya, Elgard merasa bersalah, sebab dia tau kenapa anaknya menjadi seperti itu. Dia tahu Axelle keras kepala, tapi dia juga tahu putranya punya harga diri. Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar 'penggerebekan' di balik semua ini.

"Siapkan mentalmu, Anya," ucap Elgard saat mereka melangkah masuk ke dalam pesawat. "Besok pagi, kita tidak akan menemui anak sekolah lagi. Kita akan menemui seorang kepala keluarga". jokes elgard kali ini tak mampu membuat Anya tertawa tapi mendengus kesal karena ucapan suaminya

 Jet pribadi itu mendarat mulus di Bandara Husein Sastranegara saat azan subuh baru saja berkumandang. Elgard melangkah turun dengan setelan jas yang masih rapi meski matanya menyiratkan kelelahan dan amarah yang tertahan. Di belakangnya, Anya menyusul dengan langkah terburu-buru, wajahnya pucat karena tidak bisa tidur sepanjang penerbangan London-Bandung.

Sebuah mobil hitam mewah sudah menunggu di depan pintu keluar bandara. "Ke alamat kantor RW itu. Sekarang. Jangan sampai ada satu pun wartawan yang mencium bau ini," perintah Elgard dingin kepada sopirnya.

Sepanjang perjalanan, Anya meremas jemarinya. "El, tolong... jangan langsung marahi Axelle. Kita dengarkan dia dulu."

Elgard hanya menatap keluar jendela, melihat jalanan Bandung yang masih basah. "Dia sudah dinikahkan, Anya. Itu bukan masalah kecil yang bisa selesai dengan pelukan."

Begitu sampai di depan kantor RW, suasana masih tampak tegang. Beberapa warga masih terlihat berjaga. Mobil mewah Elgard yang kontras dengan lingkungan sekitar langsung menjadi pusat perhatian.

Saat pintu kantor RW terbuka, Elgard dan Anya langsung disambut pemandangan yang menghancurkan hati mereka. Di sudut ruangan yang pengap, Axelle duduk di lantai, bersandar pada dinding kusam. Wajahnya kacau, rambutnya berantakan, dan dia masih mengenakan kemeja sekolah yang lembap. Di sampingnya, seorang gadis—Rea—tertidur dengan posisi duduk, kepalanya terkulai lemas, masih terbalut jaket kulit milik Axelle.

"Axelle..." suara Anya pecah. Dia langsung lari memeluk putranya.

Axelle tersentak bangun. Matanya yang merah menatap sang Mommy dengan tatapan yang sangat rapuh. "Mom... aku nggak ngapa-ngapain, Mom. Sumpah..." bisiknya serak.

Anya terisak, menciumi kening anaknya. "Iya, Sayang. Mommy tahu."

Namun, momen itu terputus saat suara langkah sepatu pantofel yang tegas bergema. Elgard berdiri di depan mereka, menatap Axelle dengan pandangan menghunus. "Berdiri," perintahnya singkat.

Axelle berdiri perlahan, mencoba tegar di depan Papanya. "Dad, motor aku mogok, terus—"

"Aku tidak butuh alasan motormu," potong Elgard tajam. "Aku butuh penjelasan kenapa pewaris Atharic bisa berakhir di kantor RW seperti ini dengan status suami orang?"

Tiba-tiba, Tuan Xavandra—Papa Rea—muncul dari ruangan dalam dengan wajah yang tak kalah angkuh. Dia menatap Elgard dari atas sampai bawah. "Jadi Anda orang tuanya? Baguslah. Silakan bawa anak Anda, tapi ingat, putri saya sekarang adalah tanggung jawabnya secara sah di mata agama. Saya tidak akan membiarkan nama Xavandra dicoreng lebih jauh."

Elgard berbalik, menatap Tuan Xavandra dengan senyum sinis yang merendahkan. "Xavandra? Jadi Anda yang memaksa pernikahan ini tanpa menunggu saya sampai?"

"Warga yang menuntut, atau putri saya hancur!" balas Tuan Xavandra keras.

"Putri Anda hancur karena Anda tidak punya telinga untuk mendengar, Tuan Xavandra," sahut Elgard dingin. "Sekarang, karena anak saya sudah 'membeli' putri Anda dengan harga dirinya, saya yang akan mengatur sisanya."

Elgard kembali menatap Axelle yang hanya bisa tertunduk. "Bawa istrimu. Kita pulang ke rumah. Dan kau, Axelle... bersiaplah. Kebebasanmu benar-benar mati hari ini."

Rea terbangun, menatap Anya dan Elgard dengan ketakutan. Dia tidak pernah menyangka, di balik Axelle yang berandalan, ada orang tua yang auranya begitu menekan.

Malam yang panjang itu berakhir dengan iring-iringan mobil mewah yang meninggalkan kantor RW, membawa dua remaja yang masa depannya baru saja "dibunuh" oleh keadaan.,

3

 ..

 Suara pintu smart lock berdenting pendek, lalu terkunci otomatis dengan bunyi klik yang final. Axelle melemparkan kunci apartemennya ke atas meja marmer, menciptakan denting nyaring di tengah ruangan yang sunyi.

Apartemen ini luas, mewah, dengan kaca jendela besar yang memperlihatkan kerlip lampu Bandung dari ketinggian lantai 12. Tapi bagi Rea, tempat ini terasa lebih sempit dari sel isolasi.

"Gak usah celingak-celinguk. Gak ada orang tua gue di sini. Puas?" suara Axelle berat, dia langsung melepas sepatu ketsnya asal-asalan.

Rea masih berdiri kaku di dekat pintu, memeluk tas sekolahnya seolah itu adalah satu-satunya pelindung yang dia punya. "Gue tidur di mana?"

Axelle menoleh, menatap Rea dengan pandangan malas. "Kamar cuma satu. Dan itu kamar gue."

Wajah Rea mendadak memerah, antara marah dan takut. "Maksud lo, kita... satu kasur?"

Axelle mendengus pelan, hampir tertawa sinis. Dia berjalan mendekat, mengikis jarak sampai Rea terpojok ke pintu. Bau parfum maskulin Axelle yang kuat bercampur aroma sisa hujan langsung memenuhi indra penciuman Rea.

"Lo pikir gue nafsu sama cewek kaku kayak lo? Hah?" bisik Axelle tepat di depan wajah Rea. "Gue tidur di sofa ruang tengah. Lo pakai kamar gue. Tapi jangan harap lo bisa kunci pintunya, karena kuncinya sengaja gue simpen. Paham?"

Rea hanya bisa mengangguk pelan, jantungnya berdegup kencang karena posisi mereka yang terlalu dekat. Begitu Axelle menjauh dan masuk ke dapur untuk mengambil minum, Rea buru-buru masuk ke kamar.

Kamar itu sangat maskulin, didominasi warna gelap. Di atas meja belajar, ada foto Axelle kecil bersama kakek-neneknya yang sudah meninggal—foto di mana Axelle terlihat tersenyum tulus, di sebelahnya lagi. ada foto axel bersama kedua orang tuanya, dan tatapan Rea berpinda ke foto yang lebih besar dimana foto axel sekitaran berumur tiga tahunan bersama banyak orang disana ada el dan anya yang tampak masih muda. mungkin saja itu teman orang tuanya, Rea menghela napas seolah masuk ke dunia axel kecil yang tampak menyenangkan dikelilingi orang orang yang menyayanginya.

Pukul 02.00 WIB

Rea tidak bisa tidur. Suara petir di luar dan bayangan ayahnya yang murka terus menghantuinya. Dia keluar kamar dengan langkah pelan untuk mengambil air minum. Namun, langkahnya terhenti di ruang tengah.

Axelle sedang duduk di balkon, hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong hitam. Di tangannya ada sebuah pemantik api yang dia mainkan terus-menerus—bunyi klik-klik itu terdengar kesepian di tengah malam.

"Belum tidur, Xavandra?" tanya Axelle tanpa menoleh. Dia tahu itu Rea dari suara langkah kakinya yang ragu-ragu.

"Gue... haus," gumam Rea. Dia berdiri di ambang pintu balkon. "Lo sendiri kenapa belum tidur?"

Axelle menatap langit malam yang mendung. "Gue benci sunyi. Biasanya jam segini anak-anak masih main PS di rumah gue yang lama. Tapi sekarang... gara-gara kejadian konyol semalam, gue berasa kayak tahanan kota."

Rea memberanikan diri mendekat. "gue juga benci situasi ini Axel. Kalau aja sepeda gue nggak bocor..."

Axel menoleh, menatap Rea cukup lama. Di bawah cahaya bulan yang redup, wajah Rea terlihat sangat rapuh tanpa kacamata besarnya. "Bukan salah lo doang. Nasib kita aja yang lagi busuk."

Axelle berdiri, berjalan melewati Rea menuju sofa. "Besok jam 6 kita berangkat. Lo yang nyetir mobil gue, gue mau tidur di jalan."

"Tapi gue nggak lancar bawa mobil sport, Axelle!"

"Belajar sekarang atau gue cium lo sekarang?" ancam Axelle asal, sukses bikin Rea bungkam seribu bahasa dan lari masuk ke kamar.

Axelle merebahkan tubuhnya di sofa yang terlalu pendek untuk kakinya yang panjang. Dia menatap langit-langit apartemen. Menikah? Dengan musuh bebuyutannya sendiri? Axelle memejamkan mata, membayangkan betapa gila hari esok saat mereka harus akting jadi "orang asing" lagi di SMA Galaksi.

...----------------...

Alarm ponsel Rea menjerit pukul 05.00 WIB. Dia terbangun dengan jantung berdebar, butuh waktu lima detik untuk sadar kalau dia tidak di kamarnya yang penuh piala, melainkan di kamar bernuansa hitam milik Axelle Aididev Atharic.

Rea keluar kamar dengan seragam yang sudah dia setrika rapi—untungnya ada fasilitas laundry kilat di apartemen itu. Di ruang tengah, Axelle masih mendengkur halus di sofa. Kakinya yang panjang menggantung di ujung sofa, dan wajahnya kalau lagi tidur... jujur saja, kelihatan jauh lebih manusiawi.

"Axel! Bangun! Sudah jam setengah enam!" Rea mengguncang bahu Axelle.

Axelle mengerang, membuka matanya yang merah. "Berisik, Xavandra. Lima menit lagi."

"Nggak ada lima menit! Gue nggak mau telat dan ngerusak rekor kehadiran gue gara-gara lo!" Rea menarik selimut Axelle paksa.

Axelle terduduk, rambutnya berantakan total. Dia menatap Rea dengan pandangan death glare. "Lo sadar nggak sih? Kita baru tidur jam tiga pagi gara-gara drama bokap lo. Sekarang lo mau gue balapan sama tukang bubur?"

"Buruan mandi atau gue bakar motor kesayangan lo" ancam Rea.

"Coba aja kalau berani.," sahut Axelle santai sambil jalan ke kamar mandi, meninggalkan Rea yang mematung kesal.

Pukul 06.45 WIB, sebuah Porsche 911 hitam metalik berhenti sekitar 200 meter dari gerbang SMA Galaksi.

"Turun di sini," perintah Axelle.

Rea mengernyit. "Kenapa? Tanggung, tinggal dikit lagi sampai gerbang."

Axelle menoleh, menatap Rea seolah dia baru saja mengatakan hal paling bodoh sedunia. "Lo mau satu sekolah tahu kalau Ketua OSIS paling suci sedunia berangkat bareng troublemaker nomor satu pake mobil sport yang harganya bisa buat beli ginjal sekelas? Mikir, Rea."

Rea terdiam. Benar juga. "Oke. Gue turun. Lo masuk lima menit setelah gue."

Rea keluar dari mobil, merapikan roknya, dan berjalan dengan gaya angkuh khasnya. Tapi langkahnya terhenti saat sebuah motor Ninja hijau berhenti di sampingnya. Itu Bagas, wakil ketua OSIS yang sudah lama naksir Rea.

"Rea? Tumben jalan kaki dari arah sana? Mobil jemputan lo mana?" tanya Bagas heran.

Wajah Rea pucat pasi. "Eh... itu... ban mobil Papa bocor, jadi gue turun di depan komplek tadi."

Di saat yang sama, Porsche Axelle lewat dengan suara mesin yang sengaja digeber kencang, membuat debu jalanan mengenai sepatu Bagas.

"Sialan si Axelle! Belagu banget itu anak!" maki Bagas. "Lo nggak apa-apa, Re? Cowok kayak dia emang sampah sekolah, nggak punya aturan."

Rea cuma bisa tersenyum kaku. Sampah sekolah itu suami gue sekarang, Gas, batinnya miris.

Di kelas, suasana makin panas. Vanya, cewek paling populer sekaligus mantan Axelle yang masih terobsesi, masuk ke kelas Rea dengan wajah penuh selidik.

"Re, gue denger semalam ada penggerebekan di daerah ruko tua Bandung Timur. Katanya ada anak SMA Galaksi yang kena," ucap Vanya sambil duduk di meja Rea.

Jantung Rea rasanya mau copot. "Masa? Gue nggak tahu. Gue di rumah semalam, ngerjain tugas olimpiade."

"Oh ya? Tapi kok jaket kulit limited edition punya Axelle yang biasa dia pake balapan... ada di tas lo, ya?" mata Vanya tertuju pada ujung jaket hitam yang menyembul dari tas Rea yang belum tertutup rapat.

Rea membeku. Dia lupa mengembalikan jaket itu semalam karena terlalu panik.

"Itu..." Rea gagap.

Tiba-tiba, sebuah tangan besar merampas tas Rea. Axelle berdiri di sana dengan gaya santai, menyampirkan tas Rea di bahunya sendiri seolah itu miliknya.

"Jaket gue ketinggalan di perpus kemarin, dan si Ketua OSIS rajin ini nemuin. Dia mau balikin ke gue tapi malu, ya kan, ketos?" Axelle mengedipkan sebelah matanya ke arah Rea.

 tengil memang, si brandalan sekolah ini.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!