Perjalanan dari Bandung menuju rumah di pinggiran kota kecil Jawa Barat terasa lebih panjang dari biasanya. Biasanya tiga jam, malam ini terasa seperti tiga tahun.
Rafiq Al Farisi menatap jalanan gelap di depan matanya, sesekali menyeka keringat dingin yang membasahi dahinya, meskipun suhu di dalam Fortuner hitam itu dingin karena AC dinyalakan penuh.
Mimpi itu masih membekas jelas di pelupuk matanya. Mimpi yang sama, untuk kesekian kalinya dalam setahun terakhir. Ia melihat rumahnya—rumah yang ia bangun dengan jerih payah bersama istrinya—berada dalam kegelapan total, dan dari dalam rumah itu terdengar suara-suara yang tidak bisa ia jelaskan.
Suara yang membuat bulu kuduknya berdiri. Tapi malam ini berbeda. Malam ini, ia tidak hanya bermimpi. Ia merasakannya. Firasat yang begitu kuat, seperti ada tangan dingin yang mencengkeram jantungnya dan memaksanya untuk pulang.
Istri tercinta, Aisyah, sudah setahun belakangan ini menunjukkan perubahan. Awalnya Rafiq pikir itu hanya ujian dalam rumah tangga. Aisyah menjadi lebih pendiam, lebih sering menyendiri, dan yang paling mengganjal adalah tatapan matanya yang kadang terasa kosong, seperti sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh Rafiq.
Rafiq, sebagai suami yang agamis dan berusaha menjalankan syariat dengan baik, selalu mencoba mendekati istrinya dengan lembut. Ia mengajak bicara, ia berusaha menghidupkan kembali kehangatan yang dulu selalu ada di antara mereka.
Namun Aisyah selalu mengelak. "Tidak apa-apa, Mas. Aku hanya lelah."
Begitu terus. Bulan demi bulan.
Tono. Sahabatnya sejak bangku SMA. Mereka berdua, bersama-sama dari nol, merintis perusahaan konstruksi kecil yang kini mulai berkembang pesat. Tono adalah orang yang selalu ada untuk Rafiq dalam suka dan duka.
Mereka berbagi mimpi, berbagi keringat, bahkan di awal pernikahan Rafiq, Tono-lah yang paling sibuk membantu persiapan.
Hubungan Tono dengan Aisyah pun akrab, wajar karena Tono sering datang ke rumah untuk diskusi pekerjaan atau sekadar ngopi bersama.
Rafiq menarik napas panjang saat mobilnya mulai memasuki jalanan kampung yang semakin sempit. Pepohonan rindang di kiri kanan jalan menciptakan bayangan-bayangan aneh yang bergoyang diterpa angin malam.
Jarum jam di dashboard menunjukkan pukul 23.47 WIB. Setengah jam lagi menuju tengah malam.
Ia seharusnya baru pulang besok pagi. Ada urusan proyek yang belum selesai di Bandung. Namun sekitar pukul 20.00 tadi, setelah Isya, ia kembali mendapatkan mimpi buruk itu meskipun hanya terlewat sejenak saat beristirahat di hotel. Kali ini berbeda.
Dalam mimpinya, ia mendengar suara Aisyah. Bukan suara lembut yang biasa ia dengar setiap pagi. Suara yang aneh. Suara yang bercampur antara tangisan dan tawa. Dan ada suara lain. Suara yang familiar. Suara Tono.
Rafiq menggelengkan kepala, mencoba membuang pikiran-pikiran buruk itu.
"Astaghfirullah," gumamnya. "Jangan berpikiran buruk pada istri sendiri. Jangan berpikiran buruk pada sahabat sendiri."
Tapi firasat itu tidak bisa ia bohongi. Setahun terakhir, ia merasa ada yang ganjil. Panggilan telepon yang sering kali tidak dijawab Aisyah ketika ia sedang di luar kota. Kedatangan Tono ke rumah yang semakin sering, bahkan ketika tidak ada urusan pekerjaan.
Dan yang paling mengganggu adalah tanda-tanda tak lazim yang ia rasakan—seperti ada energi negatif yang menyelimuti rumahnya setiap kali ia pulang, meskipun ia selalu berusaha membacakan ayat-ayat suci sebelum memasuki rumah.
Fortuner itu akhirnya melambat. Rumahnya sudah terlihat dari kejauhan. Rumah permanen berlantai satu dengan cat krem yang dulu begitu hangat dipandang, kini di tengah malam seperti terlihat asing. Rafiq tidak langsung memarkirkan mobil di halaman depan seperti biasa.
Ia mematikan lampu mobil, memundurkan sedikit, dan memarkirkan kendaraannya di bawah pohon rindang milik tetangga yang jarang ditempati, sekitar lima puluh meter dari rumahnya.
Ada sesuatu yang membuatnya enggan terlihat. Firasatnya berkata: jangan masuk dengan cara biasa.
Ia turun dari mobil dengan gerakan pelan, membuka pintu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Udara malam dingin menusuk pori-porinya. Mengenakan kemeja putih lengan panjang yang sudah sedikit kusut dan celana bahan hitam, Rafiq terlihat seperti pria metropolitan yang kelelahan.
Wajahnya yang tirus dengan jenggot yang terawat kini tampak tegang. Matanya yang biasanya teduh ketika membaca Al-Qur'an, malam ini menyala dengan kegelisahan yang sulit dijelaskan.
Ia berjalan menyusuri pinggir jalan, langkahnya pelan dan senyap. Sandal kulitnya ia lepas dan genggam di tangan kiri. Kaus kakinya yang tipis meredam langkah di aspal kasar. Setiap langkah terasa berat, seperti kakinya diikat oleh beban yang tak terlihat.
Rumah itu semakin dekat. Lampu teras masih menyala, seperti biasa. Lampu berwarna kuning hangat yang selalu ia pasang untuk menerangi jalan pulang Aisyah jika ia sedang di luar kota. Tapi malam ini, lampu itu tidak terasa hangat. Cahayanya seperti pucat, seperti menerangi sesuatu yang seharusnya tidak diterangi.
Rafiq berhenti sejenak di depan pagar. Matanya mengamati setiap sudut rumahnya. Daun jendela kamar tamu terbuka sedikit, padahal ia yakin sebelum berangkat ia menutup rapat semua jendela. Pintu depan—ia melihatnya dari kejauhan—tampak tidak terkunci rapat. Ada celah kecil antara daun pintu dan kusennya.
Tidak mungkin Aisyah lupa mengunci pintu. Ia selalu mengunci pintu setiap malam, apalagi ketika aku sedang tidak di rumah.
Dadanya berdebar semakin keras. Ia bisa merasakan detak jantungnya hingga ke ujung jari-jari kaki.
Keringat dingin kembali membasahi punggungnya. Rafiq membuka pagar pelan-pelan, engsel pagar yang biasanya berdecit anehnya malam ini diam seribu bahasa. Seperti alam pun ikut mendukung misinya untuk tidak terdeteksi.
Halaman depan terasa lebih gelap dari biasanya. Tanaman hias yang biasa ia rawat bersama Aisyah setiap Sabtu pagi kini terlihat seperti semak-semak tak beraturan. Rafiq melangkah melewati teras. Ia memegang gagang pintu depan—dingin, sangat dingin. Ia tekan perlahan. Pintu terbuka. Tanpa suara.
Tidak terkunci.
Rafiq menelan ludah. Ia melangkah masuk ke dalam. Kegelapan menyambutnya. Ruang tamu yang biasa ia gunakan untuk mengaji bersama Aisyah setelah Maghrib kini gelap gulita.
Hanya ada cahaya tipis dari lampu teras yang masuk melalui jendela, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang bergoyang seolah-olah ada sesuatu yang bergerak di sudut-sudut ruangan.
Ia tidak menyalakan lampu. Instingnya berkata untuk tetap dalam kegelapan.
Sepatu kets yang ia kenakan sudah ia lepas di teras. Kini hanya dengan kaus kaki, ia melangkah menyusuri lorong menuju kamar tidur utama.
Setiap langkah terasa seperti melangkah di atas bara api. Kakinya terasa panas, tapi juga dingin. Sensasi yang membingungkan.
Dan kemudian ia mendengarnya.
Suara itu. Dari kamar utama.
Desahan.
Rafiq membeku di langkah ketiga. Tangannya yang memegang tembok mulai gemetar. Kepalanya terasa berdenyut. Telinganya seperti ingin menolak suara yang masuk, tapi suara itu terus menusuk gendang telinganya.
Desahan nikmat. Suara yang ia kenal dengan sangat baik. Suara yang biasanya ia dengar di telinganya ketika malam-malam penuh cinta bersama istrinya. Suara yang selalu membuatnya merasa menjadi suami yang paling beruntung di dunia.
Tapi malam ini, suara itu terasa seperti belati yang menikam dadanya berulang-ulang.
"Hmm... iya... di situ..."
Suara Aisyah. Jelas. Tidak mungkin salah.
Dan kemudian tawa. Tawa bahagia, ringan, seperti tawa Aisyah ketika sedang sangat menikmati sesuatu. Tawa yang dulu hanya ia dengar ketika ia membelai rambut panjang istrinya sambil membisikkan kata-kata cinta.
Tapi tawa malam ini bukan untuknya.
Rafiq merasakan dadanya sesak. Matanya mulai panas. Ada sesuatu yang mengalir di pipinya—air mata, yang jatuh tanpa izin. Ia menggigit bibir bawahnya hingga hampir berdarah. Jantungnya seperti diremas-remas oleh tangan tak kasat mata.
Pergi saja. Kamu tidak perlu melihat ini. Cukup kamu tahu. Pergi, Rafiq. Pergi dan jangan pernah kembali.
Suara di dalam kepalanya berteriak. Rasa sakit yang menusuk ingin membuatnya berlari keluar, masuk ke mobil, dan melaju kencang tanpa arah. Tapi kakinya tidak bergerak. Ada sesuatu yang lebih kuat dari rasa sakit—kebutuhan untuk melihat.
Bukan untuk menyakiti dirinya sendiri lebih dalam, tapi untuk memastikan. Untuk tidak hidup dalam kebohongan. Untuk tidak menjadi suami yang bodoh yang terus menerus dimanfaatkan.
Ia butuh melihat.
Setiap langkah yang ayunkan terasa seperti mendaki gunung dengan seribu kilo beban di pundaknya. Suara itu semakin jelas. Desahan. Tawa. Bisikan-bisikan mesra yang membuat bulu kuduknya berdiri karena ia tahu—ia tahu persis—bibir siapa yang membisikkan kata-kata itu.
Dan satu suara lagi. Suara pria. Suara yang familiar seperti suaranya sendiri karena telah ia dengar sejak belasan tahun lalu. Suara yang pernah menjadi tempatnya berbagi mimpi, berbagi suka duka, berbagi roti di masa-masa sulit membangun perusahaan dari nol.
Suara Tono.
"Kamu cantik sekali malam ini, Ay."
Panggilan itu. Ay. Panggilan sayang yang selama ini hanya Rafiq yang berhak mengucapkannya. Kini keluar dari mulut sahabatnya sendiri.
Rafiq sampai di ujung lorong lantai atas. Kamar tidur utama ada di ujung sana. Daun pintu kamar itu tidak tertutup rapat. Ada celah sekitar sepuluh sentimeter, dan dari celah itulah cahaya redup lampu tidur menyembur keluar, menciptakan garis cahaya tipis di lantai kayu lorong.
Ia mendekat. Langkahnya kini seperti hantu—tanpa suara, tanpa napas, seolah-olah ia sendiri sudah mati saat itu juga. Jantungnya berdegup kencang, tapi tubuhnya terasa kosong. Seperti ada yang mencabut seluruh isi dirinya dan menyisakan hanya cangkang.
Rafiq berdiri di depan pintu. Tangan kanannya terangkat, gemetar, dan menyentuh permukaan kayu pintu. Dingin. Sama dinginnya dengan pintu depan.
Ia mendorong. Perlahan.
Pintu terbuka lebih lebar.
Dan ia melihat.
Kamar itu—kamar yang ia desain sendiri bersama Aisyah, dengan tempat tidur berukuran king yang mereka beli dari hasil tabungan pertama pernikahan, dengan sprei warna krem kesukaan Aisyah, dengan rak buku kecil di pojok kanan yang berisi kitab-kitab dan buku-buku Islami—kini menjadi tempat yang sangat asing.
Cahaya lampu tidur berwarna oranye samar menyinari pemandangan di depan matanya.
Di atas tempat tidur itu, Aisyah—istrinya, wanita yang pernah ia cintai dengan segenap hati, wanita yang pernah ia pandang sebagai penyejuk matanya—berbaring telentang.
Rambut panjang hitamnya terurai di atas bantal, sedikit basah oleh keringat. Wajahnya... Ya Tuhan, wajahnya...
Ekspresi Aisyah adalah sesuatu yang tidak pernah Rafiq lihat sebelumnya.
Matanya terpejam setengah, bibirnya terbuka sedikit, dan di sudut bibir itu ada senyum—bukan senyum lembut yang biasa ia lihat ketika Aisyah memasak sarapan di pagi hari.
Ini adalah senyum yang penuh dengan kenikmatan duniawi yang tak terkendali. Senyum yang membuat Rafiq ingin muntah.
Aisyah mengenakan daster tidur panjang berwarna pink muda yang kini terbuka di bagian bahu hingga memperlihatkan kulit putih bersihnya. Daster itu naik hingga atas paha, memperlihatkan kakinya yang terbuka lebar.
Dan di antara kakinya, di atas tubuhnya, Tono.
Sahabatnya.
Tono—pria yang selalu ia anggap seperti saudara sendiri, yang selalu ia percaya, yang selalu ia ajak berbagi rezeki dan doa—kini tanpa celana, hanya mengenakan kaus oblong hitam yang menggantung di tubuhnya yang kekar.
Keringat membasahi dahi Tono, rambutnya yang sebentar lagi gimbal karena keringat. Wajahnya—wajah yang biasanya ramah dan selalu tersenyum ketika bertemu Rafiq—kini meringis dengan kenikmatan yang sama seperti Aisyah.
"Kencang... jangan pelan-pelan..." bisik Aisyah dengan suara parau.
Tono menuruti. Gerakannya semakin cepat. Tempat tidur berderit pelan mengikuti ritme yang mereka ciptakan.
Rafiq berdiri di ambang pintu. Ia tidak bergerak. Ia tidak bersuara. Darahnya seperti berubah menjadi es. Pikirannya kosong, tapi pada saat yang sama terlalu penuh dengan sejuta pertanyaan yang tidak bisa ia susun menjadi kalimat.
Mengapa?
Mengapa Aisyah?
Mengapa Tono?
Mengapa di rumahnya? Di kamarnya? Di atas tempat tidur yang ia beli dengan keringatnya sendiri?
Mengapa ketika ia sedang berjuang di luar kota untuk membangun masa depan bersama mereka berdua?
Ia melihat tangan kanan Tono meraih tangan kiri Aisyah. Mereka saling menggenggam.
Jari-jari mereka bertautan. Gerakan Tono melambat, berubah menjadi gerakan yang lebih lembut, lebih mesra. Seperti dua orang yang saling mencintai. Bukan sekadar hubungan terlarang. Bukan sekadar nafsu sesaat.
Tono menunduk, mengecup kening Aisyah. Kemudian pipinya. Kemudian bibirnya.
"Aku cinta kamu, Ay," bisik Tono. Suaranya serak tapi penuh dengan sesuatu yang Rafiq kenal betul. Ketulusan.
Dan Aisyah menjawab dengan bisikan yang membuat dunia Rafiq runtuh seketika.
"Aku juga cinta kamu, Ton. Aku cinta kamu lebih dari apapun."
Rafiq merasakan sesuatu patah di dalam dadanya. Bukan hanya hatinya. Seluruh dirinya. Tulang-tulangnya. Sendi-sendinya. Semua yang membuatnya berdiri tegak sebagai manusia, sebagai suami, sebagai pria yang selalu berusaha menjalankan perintah agama dengan baik.
Ia ingin berteriak. Ia ingin menerobos masuk, meraih kerah Tono, dan menghantamkan tinjunya ke wajah sahabatnya itu berulang-ulang hingga darah dan air mata bercampur menjadi satu. Ia ingin meraih Aisyah, memegang pundaknya, dan membentaknya dengan pertanyaan yang selama setahun ini mengganggu pikirannya:
"Mengapa kau lakukan ini padaku? Apa salahku? Apa kekuranganku? Bukankah aku sudah berusaha menjadi suami terbaik untukmu?"
Tapi ia tidak bergerak.
Rafiq hanya berdiri di sana. Matanya terus menatap. Air mata mengalir deras di pipinya, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Seperti ada yang membekukan tenggorokannya. Seperti ada yang merenggut haknya untuk bersuara.
Tangan kirinya yang memegang gagang pintu mulai gemetar hebat. Kayu pintu terasa dingin, tapi telapak tangannya panas membara.
Dan pada saat itulah, mungkin karena gerakannya yang gemetar, atau mungkin karena takdir yang sudah dituliskan, gagang pintu itu bergerak. Menimbulkan bunyi klik kecil.
Suara sekecil itu, tapi di dalam keheningan malam yang hanya diisi oleh desahan dan gerakan tubuh di atas tempat tidur, bunyi itu terdengar seperti petir di langit cerah.
Gerakan Tono berhenti seketika.
Kepala Tono menoleh ke arah pintu.
Mata mereka bertemu.
Tono membeku. Wajahnya—yang sedetik sebelumnya masih merah karena nafsu—kini berubah pucat seketika. Matanya membelalak. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia seperti kehilangan kemampuan untuk bernapas.
Aisyah, yang masih dalam posisi terlentang dengan mata terpejam, merasakan perubahan pada tubuh Tono. Ia membuka matanya.
"Apa... ada apa, Ton?" suaranya masih setengah sadar, masih terbuai oleh kenikmatan yang baru saja ia rasakan.
Ia menoleh mengikuti arah pandangan Tono.
Dan kemudian Aisyah melihat.
Wajahnya—wajah yang sedetik sebelumnya dipenuhi kebahagiaan dan kenikmatan—berubah dalam sekejap. Dari merah karena birahi menjadi pucat seperti mayat. Matanya membelalak dengan ekspresi yang tidak bisa Rafiq jelaskan.
Apakah itu ketakutan? Apakah itu penyesalan? Apakah itu keterkejutan karena ketahuan?
Atau—dan ini yang paling menyakitkan—apakah itu kekecewaan karena kebahagiaan terlarangnya terganggu?
"A-Ab... Abi..." bisik Aisyah. Suaranya hanya berbisik, tapi di tengah keheningan yang mematikan itu, bisikan itu terdengar sangat jelas.
Panggilan itu. Abi. Panggilan yang biasa Aisyah gunakan ketika mereka sedang mesra. Panggilan yang dulu selalu membuat hati Rafiq meleleh.
Kini panggilan itu terasa seperti ludah yang dimuntahkan ke wajahnya.
Rafiq tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana. Matanya beralih dari Aisyah ke Tono, bergantian. Tidak ada kata-kata yang bisa ia ucapkan. Tidak ada teriakan. Tidak ada amarah yang meledak-ledak seperti yang biasa digambarkan dalam film-film.
Yang ada hanya keheningan.
Keheningan yang begitu pekat, begitu berat, seperti seluruh alam semesta sedang berhenti berputar untuk menyaksikan kehancuran seorang pria.
Tono akhirnya bergerak. Dengan gerakan lambat seperti robot yang kehabisan baterai, ia menarik tubuhnya dari atas Aisyah.
Celananya yang melorot di mata kaki ia tarik naik dengan tangan gemetar. Ia duduk di tepi tempat tidur, menunduk, tidak berani menatap Rafiq lagi.
Aisyah juga bergerak. Ia merapikan daster pink mudanya yang terbuka, menutupi bahu dan lehernya yang masih basah oleh keringat dan mungkin oleh bekas ciuman Tono.
Rambutnya yang terurai ia sisir dengan jari-jari gemetar. Matanya tidak lepas dari sosok suaminya yang berdiri di ambang pintu.
"Abi... aku..." suara Aisyah pecah. Air mata mulai mengalir di pipinya.
Tapi Rafiq tidak melihat penyesalan di sana. Yang ia lihat adalah kepanikan. Ketakutan karena ketahuan. Bukan ketakutan karena telah melakukan dosa besar.
Rafiq akhirnya membuka mulut. Suaranya keluar, tapi bukan suara yang ia kenal. Suara itu parau, kering, seperti suara orang yang sudah mati namun masih bisa berbicara.
"Seberapa lama?"
Hanya tiga kata. Tiga kata yang keluar dengan susah payah dari tenggorokannya yang terasa terbakar.
Aisyah menunduk. Bahunya bergetar. Air matanya jatuh ke pangkuannya yang masih basah oleh keringat.
"Jawab."
Kali ini suara Rafiq lebih keras. Masih tidak berteriak, tapi ada nada yang membuat seluruh ruangan bergetar. Nada seorang pria yang sudah kehilangan segalanya dan tidak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan.
Tono yang sejak tadi menunduk, akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya merah, tapi Rafiq tidak tahu apakah itu karena menahan tangis atau karena efek dari apa yang baru saja mereka lakukan.
"Raf..." suara Tono serak. "Gue..."
"Jangan panggil gue Raf!" bentak Rafiq tiba-tiba. Suaranya memecah keheningan malam. Tangannya yang memegang gagang pintu kini mencengkeram erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Lu tidak berhak panggil gue Raf. Lu tidak berhak panggil gue apapun. Jawab pertanyaan gue. Seberapa lama?"
Tono menunduk lagi. Ketika ia berbicara, suaranya hampir tidak terdengar.
"Setahun."
Dunia Rafiq kembali runtuh. Setahun. Selama setahun ini, setiap kali ia meninggalkan rumah untuk urusan pekerjaan, setiap kali ia berjuang di luar kota untuk membangun masa depan mereka berdua, di sinilah mereka. Di rumahnya. Di kamarnya. Di atas tempat tidurnya.
Setahun.
Selama setahun ia merasakan ada yang ganjil. Selama setahun ia mendapat mimpi-mimpi buruk. Selama setahun firasatnya berteriak bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Dan selama setahun pula ia memilih untuk percaya, untuk tidak berprasangka buruk, untuk terus berusaha menjadi suami yang baik.
Dan inilah balasannya.
Rafiq tersenyum. Bukan senyum bahagia. Senyum yang membuat Aisyah merinding. Senyum yang membuat Tono bergidik. Senyum seorang pria yang baru saja kehilangan semua yang ia cintai dalam sekejap mata.
"Setahun," ulang Rafiq pelan. "Setahun kalian main di belakang gue. Di rumah gue. Di tempat tidur gue. Dengan istri gue."
Ia menoleh ke arah Aisyah. Matanya—yang biasanya teduh ketika memandang istrinya—kini kosong. Kosong seperti lubang sumur yang tak berdasar.
"Aisyah."
Istrinya itu tersentak mendengar namanya disebut. Ia mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.
"Abi... aku minta maaf... aku..."
"Jangan minta maaf," potong Rafiq datar.
"Maaf tidak akan mengembalikan apa yang sudah kalian hancurkan."
Ia melangkah mundur satu langkah. Kemudian dua langkah.
"A-Abi! Abi jangan pergi!" Aisyah berusaha turun dari tempat tidur, tapi kakinya terasa lemas. Ia hampir jatuh jika Tono tidak menangkapnya.
Rafiq melihat Tono memegang lengan istrinya. Dan untuk pertama kalinya malam itu, api di dadanya mulai menyala. Bukan api amarah biasa. Api yang lebih gelap. Api yang membakar semua kebaikan yang pernah ia tanam selama ini.
"Jangan pegang dia," kata Rafiq dengan suara rendah. "Jangan pernah pegang dia lagi di depan gue."
Tono melepaskan tangannya seolah tersengat listrik.
Rafiq menatap mereka berdua untuk yang terakhir kalinya. Di matanya, tidak ada lagi air mata. Air mata sudah habis. Yang tersisa hanya kegelapan.
"Gue akan ingat malam ini," katanya pelan.
"Gue akan ingat setiap detailnya. Wajah kalian. Suara kalian. Pemandangan di atas tempat tidur itu. Gue akan ingat semuanya. Dan suatu hari nanti..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya tersenyum lagi—senyum yang sama, senyum yang membuat bulu kuduk Aisyah dan Tono berdiri.
Kemudian Rafiq berbalik.
Ia melangkah keluar dari kamar itu. Setiap langkahnya di lorong terasa seperti langkah seorang pria yang sedang berjalan menuju jurang.
Dari belakang, ia mendengar suara Aisyah yang mulai menangis tersedu-sedu, suara Tono yang mencoba menenangkannya dengan bisikan-bisikan.
Bisikan yang dulu mungkin pernah ia lontarkan pada Aisyah di malam-malam yang berbeda.
Rafiq menuruni tangga. Ia mengambil sepatunya di teras, tapi tidak memakainya. Ia hanya menggenggamnya di tangan kanan. Kaki berkaus kakinya menapaki halaman yang gelap.
Ia berjalan menuju Fortuner hitamnya yang masih terparkir di bawah pohon rindang. Udara malam terasa lebih dingin dari sebelumnya. Angin bertiup kencang, menerbangkan beberapa helai daun kering yang berputar-putar di depannya.
Ketika ia membuka pintu mobil dan duduk di kursi pengemudi, untuk pertama kalinya malam itu ia membiarkan dirinya menangis.
Tangis yang ia tahan sejak pertama kali mendengar desahan dari lantai atas itu kini keluar dengan keras. Ia membenturkan keningnya ke setir mobil berulang-ulang, menangis seperti anak kecil yang kehilangan segalanya.
Tapi di antara tangisnya, ada sesuatu yang mulai terbentuk di dalam hatinya.
Bukan kesedihan.
Bukan kekecewaan.
Bukan bahkan amarah.
Itu adalah sesuatu yang lebih gelap. Lebih dingin. Lebih mematikan.
Rafiq mengangkat kepalanya. Matanya menatap rumah yang masih menyala redup di kejauhan. Rumah yang dulu ia bangun dengan cinta dan doa. Rumah yang kini menjadi saksi bisu pengkhianatan paling keji dalam hidupnya.
Ia menyalakan mesin mobil. Dan dalam gelapnya malam di pinggiran kota kecil Jawa Barat itu, seorang pria yang dulu agamis, yang dulu suka dengan ketenangan, yang dulu menghindari keramaian kota, memulai perjalanan menuju sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia bayangkan sebelumnya.
Malam itu, Rafiq Al Farisi mati.
Dan dari abu kehancurannya, lahirlah sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Fortuner hitam itu baru melaju beberapa meter ketika kaki Rafiq menginjak pedal rem secara tiba-tiba. Ban mobil mengeluarkan suara decitan keras yang memecah kesunyian malam. Dadanya naik turun. Tangannya yang menggenggam setir gemetar hebat.
Anakku.
Seperti ada yang menyambar kesadarannya yang sempat hancur berkeping-keping. Di tengah pusaran amarah dan sakit hati yang membakar setiap serabut sarafnya, tiba-tiba muncul wajah mungil dengan senyum manis yang selalu ia sapa setiap pagi sebelum berangkat kerja.
Muhammad Al Fatih. Putra semata wayangnya. Usia empat tahun. Anak yang selalu ia gendong ketika pulang kerja, yang selalu ia ajak mengaji sebelum tidur, yang selalu tertawa renyah ketika Rafiq menggelitik perutnya.
"Fatih..." bisik Rafiq dengan suara parau.
Ia menoleh ke arah rumah. Lampu teras masih menyala kuning. Jendela kamar utama tempat ia baru saja menyaksikan pemandangan paling menyakitkan dalam hidupnya kini gelap kembali.
Tono mungkin sudah pergi melalui pintu belakang—pengecut, seperti yang ia duga.
Tapi Rafiq tidak peduli dengan Tono sekarang. Yang ia pikirkan hanya satu: di mana Fatih?
Fatih seharusnya ada di rumah. Fatih seharusnya tidur di kamarnya. Rafiq ingat dengan jelas—pagi sebelum berangkat ke Bandung, ia sempat menggendong Fatih yang masih mengantuk, mengecup keningnya, dan berbisik, "Tunggu Abi pulang ya, Nak. Abi bawain mainan."
Dan Fatih, dengan mata masih setengah terbuka, menjawab lirih, "Iya, Abi."
Tapi malam ini, ketika ia memasuki rumah, ketika ia menaiki tangga menuju kamar utama, ketika ia melihat semua yang tidak seharusnya ia lihat—tidak sekalipun ia mendengar suara Fatih.
Tidak sekalipun ia melihat cahaya dari kamar anak yang berada di ujung lorong sebelah kiri, berseberangan dengan kamar utama.
Biasanya, lampu tidur Fatih selalu menyala. Anak itu takut gelap. Rafiq selalu memastikan lampu tidur berbentuk pesawat terbang kesayangan Fatih menyala setiap malam sebelum ia tidur.
Tapi malam ini, lorong gelap. Kamar Fatih gelap.
Rafiq mematikan mesin mobil yang baru saja menyala. Tangannya membuka pintu Fortuner dengan gerakan yang tergesa, hampir membuatnya terjatuh karena kakinya masih belum memakai sepatu—hanya kaus kaki tipis yang kini basah oleh embun malam.
Ia berlari. Berlari menembus kegelapan halaman. Berlari melewati teras yang dingin. Berlari masuk ke dalam rumah yang masih terasa asing. Pintu depan masih terbuka seperti saat ia tinggalkan beberapa menit lalu.
"Aisyah!" teriaknya. Untuk pertama kalinya malam itu, suaranya meninggi. Bukan karena amarah pada perselingkuhan. Tapi karena kepanikan yang merayap di dadanya. "Fatih! Di mana Fatih?!"
Ia melangkah berjalan cepat. Kakinya yang berkaus kaki hampir terpeleset di anak lantai itu, tapi ia tidak peduli. Lorong lantai itu masih gelap. Ia menyalakan sakelar di dinding, dan lampu lorong menyala dengan cahaya putih pucat.
Kamar utama tertutup rapat. Rafiq mengabaikannya. Ia berlari menuju ujung lorong sebelah kiri, tempat kamar Fatih berada.
Ia membuka pintu kamar anak itu dengan gerakan membanting.
"Fatih!"
Kosong.
Tempat tidur anak berbentuk mobil-mobilan itu masih rapi. Selimut bergambar karakter kartun kesukaan Fatih masih terlipat rapi di ujung tempat tidur. Lampu tidur berbentuk pesawat terbang tidak menyala. Mainan kesayangan Fatih—boneka jerapah kecil berwarna kuning—masih tergeletak di lantai dekat bantal.
Tapi Fatih tidak ada.
Rafiq merasakan dadanya seperti dihantam palu godam. Ia berbalik. Kakinya membawanya kembali ke lorong, lalu ke kamar utama. Kali ini ia tidak mengetuk. Ia langsung membanting pintu hingga terbuka lebar.
Aisyah masih di dalam. Ia sudah mengganti daster pink mudanya dengan gamis panjang berwarna hijau tua. Wajahnya masih basah oleh air mata. Rambutnya yang tadi terurai kini diikat asal-asalan.
Ia sedang duduk di tepi tempat tidur, tubuhnya gemetar, tangan kanannya memegang ponsel yang baru saja ia letakkan di pangkuan.
Tono sudah tidak ada. Hanya aroma parfum pria yang masih tertinggal di udara, bercampur dengan aroma keringat dan sesuatu yang tidak ingin Rafiq identifikasi lebih jauh.
"Di mana Fatih?!" Rafiq tidak membuang waktu. Ia melangkah masuk, berdiri tepat di depan istrinya dengan tubuh yang gemetar bukan karena dingin, tapi karena amarah yang kini berganti wujud menjadi ketakutan.
Aisyah mendongak. Matanya yang sembab menatap Rafiq dengan ekspresi yang sulit diartikan—antara ketakutan, rasa bersalah, dan kebingungan.
"Fa-Fatih..." suara Aisyah terputus-putus.
"Fatih... dia..."
"DI MANA FATIH?!" Rafiq membentak.
Suaranya menggema di seluruh ruangan. Tubuh Aisyah tersentak kaget hingga ponsel yang ada di pangkuannya jatuh ke lantai karpet.
"Fatih... dia dibawa Mama..." jawab Aisyah dengan suara nyaris berbisik.
"Tadi sore... Fatih demam tinggi... aku minta Mama jemput... dia bawa Fatih ke rumah sakit..."
Rafiq terdiam. Matanya membelalak. Demam tinggi. Anaknya demam tinggi. Dan ia—sebagai ayah—tidak tahu. Ia sedang di Bandung. Ia sedang sibuk dengan urusan proyek yang katanya mendesak. Sementara anaknya sakit.
Dan Aisyah—istrinya—mengirim anak itu ke mertua. Mengirim anak satu-satunya ke orang lain.
"Kenapa?" suara Rafiq turun. Dari teriakan menjadi bisikan yang nyaris tak terdengar. Tapi di bisikan itu ada nada yang jauh lebih mengerikan dari teriakan.
"Kenapa kau kirim Fatih ke Mamamu? Kenapa tidak kau rawat sendiri? Kenapa tidak kau kabari aku?"
Aisyah menunduk. Bahunya bergetar lebih hebat. Tangisnya pecah kembali.
"Aku... aku panik, Abi. Fatih tiba-tiba demam
tinggi setelah Maghrib. Aku coba kompres, tapi panasnya tidak turun. Aku mau telepon Abi, tapi..."
"Tapi apa?!"
Aisyah mengangkat wajahnya. Air mata membasahi pipinya yang pucat. Dan Rafiq melihatnya. Di mata wanita yang pernah ia cintai itu, ada kejujuran yang menyakitkan.
"Tapi Tono ada di sini, Abi. Dia datang sebelum Maghrib. Aku... aku tidak bisa..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu. Rafiq sudah mengerti.
Tono datang sebelum Maghrib. Mereka bersama. Mereka melakukan itu. Sementara anaknya demam tinggi di kamar sebelah.
Dan ketika anaknya semakin sakit, Aisyah—ibunya—memilih untuk menelepon mamanya, meminta tolong menjemput Fatih, mengirim anak itu pergi, agar ia bisa terus bersama Tono. Agar tidak ada yang mengganggu kebersamaan terlarang mereka.
Rafiq merasakan dadanya seperti diremas oleh tangan raksasa. Bukan hanya sakit hati karena perselingkuhan. Ini lebih dari itu. Ini adalah kelalaian. Ini adalah pengabaian. Ini adalah seorang ibu yang memilih kekasih gelapnya di atas keselamatan anak kandungnya sendiri.
"Kau..." Rafiq menggigit bibir bawahnya hingga hampir berdarah. Matanya yang tadinya kosong kini menyala dengan api yang berbeda. Api kemarahan seorang ayah yang anaknya diabaikan.
"Kau lebih memilih bersenang-senang dengan pria itu daripada mengurus anak kau sendiri yang sedang sakit?!"
"Aku tidak—aku tidak berniat—"
"DIAM!"
Bentakan Rafiq membuat Aisyah membeku. Mulutnya terkunci. Matanya terpaku pada suaminya yang berdiri di depannya dengan tubuh gemetar hebat. Kemeja putihnya yang tadi rapi kini kusut. Wajahnya pucat pasi.
Matanya merah, tapi bukan merah karena menangis—merah karena amarah yang menumpuk dan mencari celah untuk meledak.
"Kau tahu, Aisyah?" suara Rafiq turun lagi. Kini menjadi bisikan yang dingin, dingin seperti es kutub.
"Gue pikir sakit hati karena kau selingkuh adalah yang terburuk malam ini. Tapi ternyata tidak. Yang jauh lebih buruk adalah kau tega mengabaikan anak kau sendiri.
"Anak kau, Aisyah. Daging darah kau. Yang kau kandung sembilan bulan. Yang kau susui dua tahun. Yang setiap malam kau peluk dan kau cium sebelum tidur."
"Kau tega mengirimnya pergi ketika dia sakit, hanya karena kau ingin bersama pria simpanan kau."
"Tono bukan pria simpanan..." Aisyah berbisik, nyaris tak terdengar.
Rafiq tersenyum. Senyum yang sama seperti di lorong tadi. Senyum yang membuat darah Aisyah membeku.
"Oh, bukan? Lalu apa? Sahabat suami kau? Rekan bisnis suami kau? Atau—tunggu, biar gue tebak—kekasih gelap yang kau sembunyikan selama setahun di belakang suami kau sendiri, di rumah yang suami kau bangun, di tempat tidur yang suami kau beli, sementara anak kau terbaring sakit di kamar sebelah?"
Aisyah tidak bisa menjawab. Tangisnya semakin menjadi. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya tersedu-sedu.
"Maaf... maaf, Abi... maaf..."
"Jangan minta maaf padaku," potong Rafiq dingin.
"Minta maaf pada anak kau. Tapi sepertinya kau bahkan tidak punya nyali untuk itu."
Ia berbalik. Tidak ingin melihat wajah Aisyah lagi. Tidak ingin mendengar tangisnya lagi. Tidak ingin menghirup udara yang sama dengan wanita yang telah memilih untuk mengabaikan darah dagingnya sendiri demi kenikmatan sesaat.
Tapi ketika ia melangkah menuju pintu—
BZZT. BZZT.
Suara getaran ponsel.
Bukan dari ponselnya. Dari lantai karpet dekat kaki Aisyah. Ponsel Aisyah yang tadi jatuh.
Rafiq berhenti. Matanya beralih ke ponsel yang bergetar di lantai. Layarnya menyala, memperlihatkan nama yang tertera di sana.
Mama.
Rafiq tidak berpikir dua kali. Ia membungkuk, mengambil ponsel itu, dan menggeser layar hijau.
"Bu?" suaranya terdengar terburu-buru. "Bu, ini Rafiq. Fatih gimana?"
Di ujung sana, suara mertuanya—Bu Hj. Sumarni—terdengar panik. Suaranya terputus-putus, seperti sedang menahan tangis.
"Ra-Rafiq? Nak, kamu di mana? Fatih... Fatih sedang kami bawa ke rumah sakit. Demamnya tinggi sekali, Nak... kami sudah di jalan. Kami lewat jalan raya selatan, mau ke RS Islam..."
"Baik, Bu. Saya akan menyusul. Tolong jaga Fatih."
"Ya, Nak... kamu cepat ya. Fatih terus teriak-teriak minta Abinya..."
Rafiq menutup telepon. Matanya beralih ke Aisyah yang masih duduk di tepi tempat tidur, kini memandangnya dengan mata penuh ketakutan dan penyesalan.
Ia tidak mengatakan apa-apa. Tidak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan apa yang ia rasakan saat ini. Ia hanya menatap Aisyah—istrinya, ibu dari anaknya—selama beberapa detik.
Di detik-detik itu, Aisyah melihat sesuatu yang membuatnya merinding. Di mata Rafiq, tidak ada lagi cinta. Tidak ada lagi kasih sayang. Tidak ada lagi harapan. Yang ada hanya kehampaan. Kehampaan yang begitu dalam, begitu luas, seperti jurang yang tidak berdasar.
"Kau tahu, Aisyah?" suara Rafiq keluar pelan, nyaris berbisik.
"Dari semua yang kau lakukan malam ini—selingkuh, berbohong, menghianati—yang paling tidak bisa gue maafkan adalah kau mengabaikan Fatih. Anak kita, Anak kau. Anak yang setiap malam berdoa sebelum tidur, 'Ya Allah, lindungi Abi di perjalanan. Lindungi Umi di rumah. Jadikan kami keluarga yang sakinah.' Itu doanya setiap malam, Aisyah. Setiap malam ia berdoa untuk kita berdua. Tapi kau—"
Ia tidak melanjutkan. Ia hanya menggelengkan kepala pelan.
"Kau tidak pantas menjadi ibunya."
Kalimat itu keluar begitu saja. Lembut, tapi menghancurkan.
Rafiq berbalik dan melangkah keluar. Ia tidak mendengar jeritan Aisyah yang memanggil namanya. Ia tidak mendengar suara Aisyah yang jatuh dari tempat tidur dan merangkak ke lorong sambil menangis.
Ia hanya fokus pada satu tujuan: anaknya. Fatih. Muhammad Al Fatih yang berusia empat tahun yang sedang demam tinggi di dalam mobil bersama kakek dan neneknya.
Ia berlari. Kakinya yang berkaus kaki terpeleset, membuatnya jatuh tersungkur di lantai keramik ruang tamu. Sakit. Tapi ia tidak merasakan apa-apa. Ia bangkit, meraih sepatu ketsnya yang masih ada di dekat pintu, dan tanpa sempat memakainya dengan benar, ia berlari keluar rumah.
Halaman terasa lebih gelap dari sebelumnya. Angin bertiup kencang, membawa aroma tanah basah seperti akan turun hujan. Rafiq membuka pintu Fortuner, duduk di kursi pengemudi, dan menyalakan mesin dengan gerakan yang kasar.
Mesin menderu. Lampu mobil menyorot jalanan yang gelap.
Rafiq menginjak pedal gas. Fortuner melaju kencang meninggalkan rumah yang kini terasa seperti kuburan bagi semua mimpi-mimpinya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!