Tolong!!...
Tolong!!
Teriak seorang warga yang baru saja akan mencari rumput di tepi jalan raya tersebut.
"Ada orang!! Tolong ada mayat!!"teriak pria lanjut usia yang sering dipanggil Mbah Aden tersebut.
Sontak orang-orang yang mendengar teriakkan minta tolong tersebut berlarian menghampiri pria yang terlihat sangat shock dan ketakutan tersebut.
"Ada apa Mbah, kenapa berteriak di siang bolong begini?"ucap para warga yang hampir bersamaan.
"Ada orang buat mayat, saya kira mobil itu berhenti ingin buang sampah seperti yang sering dilakukan oleh yang lainnya. Tapi saat saya dekati ternyata mereka membuang mayat disana!"ujar pria yang tidak pernah sekalipun menemukan hal ekstrim seperti yang sering beredar di media sosial atau tv.
"Ayo semua kita cek bersama, jika benar itu adalah mayat segera cari bantuan untuk melapor ke pihak berwajib. tapi jika masih hidup bersiap untuk membawanya ke rumah sakit."ucap salah seorang pria paruh baya yang merupakan warga lama kampung tersebut.
Mereka pun ikut berbondong-bondong menghampiri penemuan Simbah Aden tersebut, dan saat didekati mereka begitu terkejut saat melihat seorang pria berlumuran darah dari bagian kepala dan wajah juga dadanya yang kini masih diborgol menggunakan tali.
"Dia masih hidup segera bawa ke rumah sakit, kita disini semua adalah saksinya. Jika ada tuntutan dari pihak manapun"ucap salah satu warga yang memang tidak pernah mau berurusan dengan pihak berwajib yang terkadang membuat nyawa orang lenyap karena prosedur yang mereka terapkan saat menemukan korban kecelakaan di jalan raya.
Tanpa pikir panjang pria itu langsung pergi mengambil mobil tua nya yang sering digunakan untuk mengangkut hasil panen para warga disana.
Dia adalah pak Hasan yang selama ini memiliki jiwa empati yang sangat besar terhadap sesama. Sementara yang lain sibuk mengangkat dan melepaskan ikatan pada tangan dan kaki dari pria yang terlihat bukan pria sembarangan.
Dia memiliki tubuh yang sempurna raut wajah tampan meskipun tersembunyi karena darah yang hampir menutupi seluruh wajah nya itu. Tidak lupa dengan pakaian yang mahal yang ia kenakan, dan semuanya masih lengkap.
"Ayah mau kemana aku ikut?"ucap seorang gadis cantik yang kini berlari mengejar mobil yang dikendarai oleh ayahnya itu.
Gadis cantik dengan pakaian lusuh karena baru selesai mencari sayur liar di pematang sawah itu, memang selalu mengikuti sang ayah untuk bekerja dengan mobil tua peninggalan kakeknya itu.
Seketika itu mobil pun berhenti. "Ayo cepat kita harus segera menyelamatkan orang"ucap pak Hasan yang kini membuka pintu untuk putri semata wayangnya itu.
Adalah Dian, putri satu-satunya pak Hasan sebelum dia menikah dengan seorang janda satu anak dan anak sambung pak Hasan seusia Dian.
Pak Hasan pun kembali melanjutkan perjalanan nya setelah putrinya duduk dengan nyaman di jok mobil yang penuh dengan tambalan tersebut.
"Cepat pak dia sepertinya hampir kehabisan darah!"ucap para warga yang lainnya yang kini sudah menggotong tubuh pria tampan itu untuk dinaikan kedalam mobil.
"Ayah darah!" teriak Dian yang kini terlihat sangat shock dan ketakutan karena trauma berat yang dialami nya dulu.
"Jangan lihat pejamkan mata mu nak, biar mereka yang lihat"ucap pak Hasan yang kini dituruti oleh Dian meskipun dalam keadaan gemeteran.
"Lima orang lainnya ikut saya ke rumah sakit, dan yang lainnya lapor polisi atau keamanan setempat"ucap pak Hasan.
Mereka pun menuruti perkataan pak Hasan, sebagian orang menjaga pria itu dibelakang. Tepatnya di bak mobil pick up yang terbuka tersebut, ada yang memayungi dengan sehelai kain, ada juga yang mencoba berbicara pada pria yang masih terus merintih kesakitan tersebut meskipun terdengar lirih.
Sesampainya di rumah sakit, pak Hasan dan yang lainnya langsung dibantu oleh para petugas medis yang siaga. Beruntunglah rumah sakit tersebut tidak mengutamakan biaya, tapi keselamatan, soal biaya bisa diurus belakangan.
Administrasi pun atas nama pak Hasan selaku penanggung jawab, dia bahkan tidak pernah berpikir bahwa akan ada biaya yang dibebankan padanya setelah perawatan nantinya.
Pak Hasan hanya peduli pada keadaan anak muda yang dia tolong itu. Semua orang menunggu diluar, dan tidak lama dokter pun memanggil pak Hasan lewat salah satu perawat yang kini menunjukkan jalan pada pak Hasan.
"Bapak pasien kehilangan banyak darah, dan golongan darah pasien cukup langka, dan kemudian stok darah disini sudah habis untuk golongan darah AB"ucap seorang dokter yang kini tengah bersiap untuk melakukan observasi.
"Golongan darah putri saya juga AB dok, saya akan berusaha untuk membujuknya untuk mendonorkan darah nya, karena dia sangat takut melihat darah"ucap pak Hasan.
"Baiklah itu bisa diatasi, pastikan dia dalam kondisi yang sehat, dan tidak memiliki riwayat penyakit apapun"ucap sang dokter yang kini berjalan menuju ruang IGD.
Saat ini pria yang masih tidak diketahui namanya itu pun sedang menjalani pemeriksaan luar dan dalam setelah dokter menghentikan pendarahan di bagian kepala dan dada yang terdapat luka robekan yang cukup dalam tersebut.
Sementara Dian yang kini sudah bersedia mendonorkan darahnya pun sudah menggunakan penutup mata agar tidak melihat darah yang diambil oleh perawat yang kini tengah sibuk membetulkan posisi kantung darah nya agar Dian tidak melihat itu.
Setelah berkutat hampir tiga jam, akhirnya pria itu bisa diselamatkan. Beruntung luka-luka di kepala dan tubuhnya tidak terlalu parah, dan kini dia sudah dipindahkan ke ruang rawat inap meskipun di bangsal umum karena tidak punya banyak biaya.
Dompet yang ditemukan di dalam sakunya pun hanya ada uang kes sebesar tiga juta, dan berbagai kartu ATM dan identitas diri yang kini diserahkan pada pak Hasan yang hanya menyimpan rapi semua itu didalam kantung kresek berisi pakaian yang digunakan oleh pria itu berikut dengan atribut nya.
"Sus boleh tau berapa biaya yang harus saya bayarkan"ucap pak Hasan terlihat lesu.
"Sembilan juta tujuh ratus pak, jika bisa sebelum keluar rumah sakit anda harus segera melunasi nya"ucap perawat yang kini berada di tempat administrasi rumah sakit tersebut.
"Baik sus pulangnya masih dua hari lagi kan sus, saya titip dulu pasien, ini KTP saya saya akan mencari uang tambahan untuk biaya rumah sakit nya"ucap pak Hasan dengan sopan.
"Baik pak, semoga dilancarkan, bapak orang baik"ucap seseorang yang sudah mengenal pak Hasan yang sering membantu orang lain yang masuk rumah sakit tersebut.
Dian yang melihat raut wajah sang ayah dari kejauhan pun kini menghampiri nya, dan bertanya."Ada apa ayah, apa ada masalah?"kata Dian.
"Tidak ada nak, ayo pulang... Putri ayah belum mandi bau asem hehe"ucap pak Hasan yang tidak ingin membagi beban hidup nya pada putrinya yang selama ini selalu ada untuknya.
...*****...
Waktu pun sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Dian yang kini kehausan pun berjalan menuju keluar kamar untuk ke dapur yang terhalang oleh ruang keluarga.
Namun saat dia tiba di ruang keluarga, langkahnya terhenti kala melihat sang ayah kembali melamun sendirian tanpa ibunya.
"Ayah tumben belum tidur?" tanya Dian yang kini menghampiri sang ayah.
"Ayah tadi terbangun nak, kamu juga belum tidur?"balas sang ayah.
"Dian kehausan yah, lupa bawa air minum"balas gadis cantik itu.
"Hm... Apa Nina sudah tidur?" tanya pak Hasan lagi.
"Hm... Nina sudah tidur sejak kita pulang tadi Yah..."jawab Dian.
"Dia lelah mungkin karena harus sekolah dan belajar, nak, apa kamu tidak ingin kuliah"ucap pak Hasan lagi.
"Tidak Yah, Dian ingin bekerja saja agar ayah tidak perlu lagi nguli"ucap Dian.
"Kamu masih sangat muda nak, ayah ingin putri ayah menjadi anak yang sukses, dengan begitu jika suatu saat nanti ayah dipanggil oleh yang maha kuasa, ayah sudah tenang"ucap pak Hasan yang kini membuat Dian menitikkan air mata namun langsung dia usap.
"Dian mungkin tidak kuliah seperti Nina yah, tapi ayah tidak usah khawatir Dian tetap akan jadi orang sukses untuk ayah"ucap gadis cantik yang justru malah kembali dan memeluk sang ayah dari belakang.
Dan usapan tangan lembut sang ayah selalu jadi obat untuk luka di hati Dian yang selama ini selalu mengalah demi kebaikan rumah tangga sang ayah dengan ibu sambung nya yang terkadang menuntut lebih dari apa yang suaminya berikan.
Gadis cantik itu bahkan rela berpanas-panasan di perkebunan milik orang lain untuk membantu sang ayah mengangkut hasil panen orang lain, gadis tangguh itu bahkan bisa memikul padi satu karung beras berisi lima puluh kilo gram.
Gadis cantik itu pun langsung bergegas pergi menuju dapur setelah dia memenangkan pikiran sang ayah.
Dian mengambil sebotol air dari dalam lemari es yang dia isi ulang dengan botol air mineral ataupun botol bekas minuman bersoda yang ia bersihkan terlebih dahulu.
Saat Dian hendak kembali ke kamarnya, dia mendengar keributan dari kamar yang ia lewati, dimana ibu sambungnya tengah marah besar pada sang ayah yang berani menolong orang lain tanpa memikirkan resiko yang akan dia tanggung.
"Mas sebaiknya cari pinjaman uang ke orang lain saja, uang yang ibu pegang untuk biaya semester Nina tahun ini... atau pinjam kalung Dian, lagipula Dian tidak sekolah, dan tabungan nya pasti sudah terkumpul"ucap seseorang yang tidak lain adalah ibu sambung Dian.
"Ayah," lirih Dian yang kini merasa kasihan terhadap ayahnya. Dian tidak menyalakan kebaikan sang ayah, dia tau perbuatan baik itu akan dibalas berkali-kali lipat oleh sang pencipta, meskipun tidak secara langsung.
Dian pun langsung pergi menuju kamar nya, dimana disana juga Nina berada. saudara sambung nya yang kini merebut semua yang seharusnya menjadi miliknya itu pun tengah terlelap dalam tidurnya yang sangat nyenyak.
Sementara Nina yang selama ini harus puas tidur di kasur busa yang sempit pun terkadang harus pindah ke kamar bekas gudang, karena Nina selalu membawa temanya menginap di kamar mereka.
Keesokan paginya, Dian bangun lebih awal seperti biasanya sebelum pergi nguli, Dian selalu membantu pekerjaan rumah ibu sambung nya yang selama ini selalu meminta tolong ini dan itu.
Setelah pekerjaan rumah selesai, Dian pun pamit untuk kepasar , dia tidak bilang ingin membeli apa yang jelas dia meminjam mobil ayahnya yang masih tertidur karena semalaman begadang.
Sesampainya di pasar, tepatnya di depan toko emas yang selama ini menjadi tempat warga lokal membeli dan menjual emas yang mereka miliki. Dian pun menghampiri salah satu pelayan toko tersebut.
"Permisi mbak, saya mau menjual kalung"ucapnya yang menyodorkan kalung dengan selembar kertas yang merupakan sertifikat dari kalung tersebut.
"Baiklah, semua lima belas juta rupiah, apa anda tidak ingin mengganti kalung itu dengan yang baru nona?"ucap pelayan toko tersebut.
"Tidak mbak, saya sedang butuh uang"ucap gadis cantik itu yang akhirnya pamit meninggalkan toko perhiasan tersebut tanpa melirik kearah kalung yang selama ini merupakan hasil kerja keras nya itu.
"Semoga uang ini bisa meringankan beban ayah,"lirihnya.
Gadis cantik itu pun kembali mengendarai mobil yang sudah terisi penuh dengan bahan bakar dari sebagian uang penjualan kalung tersebut, dia juga membeli pakaian baru untuk pria yang entah siapa, dia hanya sempat melihat postur tubuhnya meskipun tidak melihat wajah nya yang dipenuhi oleh darah tersebut.
Dian membelikan celana jeans dan t-shirt, juga satu celana bahan dari chinos juga pakaian dalam yang juga dia kira-kira bersama dengan jaket dan kemeja.
"Semoga ini bermanfaat"ucap gadis cantik yang kini membeli kue basah dan juga buah karena rencananya ingin menjenguk pria itu bersama sang ayah yang mungkin tengah khawatir karena dia pergi menyetir sendiri.
"Ayah Dian pulang"ucap Dion yang kini memarkirkan mobilnya di halaman rumah nya yang kosong melompong.
"Darimana nak, ayah sangat khawatir?"ucap sang ayah yang kini menghampiri putrinya yang terlihat sibuk mengeluarkan barang belanjaannya.
"Dari pasar sebentar yah, tadi ada yang harus dibeli untuk orang yang ayah tolong.... kemarilah Yah, ini uang yang ayah butuhkan semoga cukup. Jangan bertengkar lagi dengan ibu, Dian tidak mau mendengar ibu mencaci-maki ayah, ayah terlalu berharga untuk Dian"ucap gadis cantik yang kini menyerahkan satu gepok uang dalam kantung keresek pada sang ayah yang kini menatap kearah putri kesayangannya itu.
"Nak, jangan bilang kamu menjual satu-satunya tabungan mu?"ucap sang ayah yang kini merutuki ketidak berdayaan nya.
"Jangan pikirkan itu ayah, yakinlah bahwa kebaikan itu akan membuahkan kebaikan pula. Dian bangga sama ayah, ayah adalah malaikat penolong dan kebanggaan Dian, semoga ayah selalu panjang umur dan bahagia selama-lamanya"ucap Dion yang kini membetulkan kerah kemeja sang ayah.
"Kamu adalah kebanggaan ayah dan kebahagiaan ayah, terimakasih karena kamu telah menjadi putri ayah"ucap pria paruh baya yang kini memeluk erat putrinya itu.
"Mas, pihak rumah sakit menghubungi mas, katanya orang yang mas tolong sekarang sudah siuman"ucap ibu Arini.
"Baik mas akan segera kesana, ayo nak,"ucap pak Hasan.
"Ya ayah.
Keduanya pun bergegas menuju rumah sakit dengan mobil tersebut, setelah pak Hasan membawa barang-barang pribadi milik pria itu.
Sesampainya di rumah sakit, pak Hasan meminta Dian untuk pergi terlebih dahulu ke ruang rawat inap yang kini ditempati oleh laki-laki yang telah ditolong nya. sementara pak Hasan langsung mengurus administrasi rumah sakit tersebut.
Sesampainya di ambang pintu, terlihat deretan ranjang pasien yang terdiri dari tiga ranjang saling berhadapan dan hanya terhalang oleh gorden.
Diam sendiri sempat mematung saat ini karena dia sendiri tidak tau pasti orang yang telah ayahnya tolong kemarin karena kondisinya dalam keadaan berlumuran darah.
"Maaf nona anda cari siapa?" tanya salah satu keluarga pasien yang kini menghampiri Dian yang terlihat celingukan.
"Saya mencari pria yang kemarin mengalami kecelakaan dan ayah saya yang menolong nya"ucap Dian yang sebenarnya tidak tahu kronologi kejadian tersebut.
"Oh yang kecelakaan itu, nona disana," ucap salah seorang lainnya yang kini menujuk kearah ranjang yang ada di sebelah kiri dari deretan ranjang pasien tersebut.
Dian pun mengangguk pelan dan berjalan melewati pasien lainnya sampai dia tiba di ranjang yang kini menunjukkan keberadaan seorang pria tampan yang terdapat lilitan perban di bagian kepala nya sedang menatap kearah nya.
"Maaf saya anak dari bapak yang menolong anda kemarin"ucap Dian yang kini meletakkan buah tangan, berikut dengan handbag.
Pria tampan itu pun mengangguk pelan, sambil bertanya kepada Dian dengan pertanyaan yang sungguh membuat Dian bingung setengah mati.
"Boleh saya tahu saya ini siapa?" tanya pria tampan itu.
"Astaghfirullah, apa yang saya dengar tidak salah tuan. Apa anda benar-benar tidak mengingat tentang siapa anda?"ujar Dian yang kini menatap kearah lain, karena pria tampan yang ada di hadapannya terus menatap lekat kearahnya saat ini.
"Saya tidak ingat apa-apa bahkan nama saya sendiri pun tidak tahu"ucap nya yang kini terlihat sangat putus asa.
"Anda bisa tunggu bapak saya, mungkin bapak bisa bantu anda mengingat semuanya"ucap Carolina.
"Ada apa nak?"ujar pak Hasan yang baru saja masuk kedalam ruangan tersebut.
"Ayah tuan ini sepertinya hilang ingatan, dia tidak mengingat apapun tentang dirinya"ucap Dian.
"Astaghfirullah, maaf tuan muda saya pun tidak tau apa yang terjadi pada anda karena yang pertama kali menemukan anda di tepi jalan adalah Mbah Aden yang melihat anda dibuang oleh beberapa orang dari sebuah mobil yang melintas dalam keadaan terikat dan berlumuran darah. Tapi perawat yang menangani anda pertama kali menemukan ini di saku celana yang anda kenakan mungkin ini bisa sedikit membantu"ucap pak Hasan yang kini memberikan dompet dengan isi yang utuh sesuai dengan yang dia terima dari perawat tersebut.
Pria tampan itu pun langsung membuka dompet tersebut dan melihat kartu identitas dirinya. Dan benar saja foto dari identitas itu sama persis dengan dirinya yang sempat bercermin di dalam toilet sebelum mereka datang dengan bantuan perawat.
"Gideon Alexander Tama"lirih nya.
"Ya, tuan, mungkin dengan itu anda bisa mencari tahu tentang Anda karena saya pun belum memberikan barang bukti tersebut pada polisi karena takut anda mencarinya. Semua masih utuh tuan muda, saya tidak mengambil apapun dari sana dan untuk biaya rumah sakit sudah diselesaikan oleh putri saya, mungkin nanti sore kita bisa pulang dan untuk sementara sebelum keluarga anda datang untuk mencari anda, sebaiknya anda tinggal di rumah kami dulu" ucap pak Hasan.
"Terimakasih banyak tuan, saya tidak tau jika anda tidak menolong saya"ucap nya lirih.
"Tidak apa-apa tuan muda, bukankah sesama manusia kita harus saling tolong menolong,"balas pak Hasan sambil menepuk bagian kaki pria tampan itu dengan pelan.
"Eum... tuan, saya tadi belikan bubur. Mungkin ini bukan menu kesukaan anda tapi setidaknya anda harus mengisi perut anda agar obat cepat direspon tubuh dan anda bisa segera pulih. Dan ini, saya tidak tahu apa itu cocok dengan anda atau tidak. Tapi setelah ini anda juga butuh pakaian, meskipun itu barang murah tapi itu baru, maaf tuan saya hanya mampu belikan itu untuk anda"ucap gadis cantik itu.
"Terimakasih banyak nona, maaf merepotkan Anda"ucap pria tampan itu.
"Boleh saya panggil tuan muda dengan panggilan tuan Alex, maaf jika saya lancang"ucap pak Hasan.
"Panggil saja saya Alex, jangan ada kata tuan muda nya. Saya sendiri bingung dengan semua ini"ucap pria tampan itu dengan sopan.
"Ya nak Alex, perkenalkan nama bapak Hasan, dan ini putri pertama bapak, namanya Diandra, tapi orang-orang sering panggil dia Dian, usianya 20 tahun dan ulang tahun nya tinggal satu bulan lagi, dia adalah anak saya satu-satunya, tapi dia memiliki adik sambung yang juga seusianya bernama Nina. Maaf jika kepanjangan semua saya lakukan karena saya tidak ingin anda bingung saat tiba di rumah kami nanti"ucap pak Hasan sambil tersenyum kecil.
"Nona, terimakasih untuk semuanya. Saya janji suatu hari nanti saya akan membalas kebaikan anda"ujar Gideon Alexander Tama.
"Tidak usah pikirkan itu, tuan yang terpenting sekarang anda baik-baik saja, dan simpan semua itu untuk bukti bahwa anda selamat dari kecelakaan maut itu"ucap Dian.
"Beruntung ayah tidak langsung lapor polisi saat itu, Dian yakin bahwa tuan ini adalah korban pembunuhan yang terselamatkan. Dan kalau ada yang tau bahwa dia selamat di media massa atau cetak atau apapun itu. pasti pembunuh nya akan mencarinya kembali"ucap Dian dengan lirih meskipun masih bisa didengar dengan jelas oleh pria yang sedang dia bicarakan dan pria itu pun menatap kagum pada gadis cantik itu.
"Pak Hasan pun membantu pria tampan itu untuk makan, mengingat tangan pria itu masih terdapat bekas luka dan di perban, sementara tangan kirinya masih terdapat jarum infus.
"Ayah Dian pergi kerja dulu, sebaiknya ayah disini jaga tuan ini, biar Dian saja yang beroperasi hari ini"ucap Dian yang kini melihat kearah handphone nya.
"Tidak nak, sebaiknya batalkan saja. Jalur yang akan dilalui hari ini cukup curam, apalagi muatan full"ucap pak Hasan.
"Tidak apa-apa pak, Dian bisa atasi itu, bapak doakan saja agar semua lancar dan dian bawa setoran banyak hari ini"ucap Dian yang tetap kekeuh untuk narik hasil panen orang-orang desa saat ini.
"Kamu memang putri ayah yang paling baik, tapi ingat jangan memikul padi atau apapun, ingat bahu mu baru sembuh dari cedera"ucap pak Hasan yang kini membuat Alex merasa bersalah.
...*****...
Sore hari pun tiba, Alex dan juga pak Hasan sudah tiba di rumah, dan Nina terlihat sangat senang menyambut pria tampan yang pernah dia lihat di beberapa acara TV dan sosial media tersebut.
Nina yakin kedua orang tuanya tidak tahu itu, bahwa pria yang telah sang ayah selamatkan adalah seorang pengusaha muda sukses dengan harta tidak terhitung.
Gadis cantik itu langsung memasang wajah ramah dan lemah lembut, karena dia tau bahwa saat ini pria itu tengah dicari oleh semua orang di kota besar sana.
"Nina, apa kakak mu sudah pulang?"tanya pak Hasan yang tidak melihat keberadaan putrinya itu.
"Ah ayah, kaya yang baru kenal kakak saja. Dia kalau sudah bawa mobil mana bisa pulang cepat, paling juga mampir ke tempat lain ke rumah sesama tukang kuli"ucap Nina yang kini tengah membantu sang ayah untuk membawakan barang-barang milik Alex masuk.
"Kalian sudah tiba, ibu baru dari pasar, soalnya Nina ingin makan malam dengan rendang"ucap wanita paruh baya yang kini terlihat bahagia saat melihat pria tampan yang mungkin akan cocok untuk menjadi calon mantu nya.
"Bu, ini tuan Alex yang ayah selamatkan bersama warga kemarin, silahkan duduk tuan, saya akan siapkan kamar untuk anda istirahat"ucap Nina yang kini dibalas anggukan pelan oleh Alex.
"Bu, apa Dian tidak menghubungi ibu, kenapa jam segini belum kembali"ucap pak Hasan yang kini terlihat gelisah.
"Oh tadi dia titip pesan pada Afandi, dia bilang masih nguli, mungkin sedikit pulang terlambat."ucap wanita yang kini membawa belanjaan tersebut menuju dapur.
"Nak, nak, kamu itu selalu seperti ini... andaikan saja dulu kamu kuliah mungkin tidak akan seperti ini. Maafkan ayah,"lirih pria paruh baya tersebut.
"Boleh saya tahu Dian kerja apa pak?"ucap Alex.
"Dia selama ini kerja serabutan nak, kadang nanam padi di sawah, kuli panggul padi dan terkadang jadi kernet bapak saat angkut hasil panen orang. Putri bapak tidak pernah bisa diam, dia juga selalu membantu perekonomian keluarga"ucap pak Hasan.
"Lalu sekarang kenapa belum kembali, ini sudah larut sore?"ucap pria tampan yang kini ikut khawatir pada gadis baik itu.
"Dia ngangkut hasil panen orang-orang di desa sebelah, menggantikan bapak yang tidak bisa pergi. Mungkin saat ini dia sedang kesulitan karena jalanan cukup terjal dan extreme"ucap pak Hasan yang kini bangkit dari duduknya.
"Nina ayah pinjam motor mu dulu, ayah mau nyusul kakak mu"ucap pak Hasan.
"Ya ayah,"balas Nina dari arah kamarnya.
"Nak saya tinggal dulu ya, obat-obatan ada di tas yang dibawa Nina jika bapak terlambat pulang"ucap pria paruh baya itu.
"Iya pak terimakasih, hati-hati dijalan semoga semua lancar"ucap Alex.
"Terimakasih na, Nina jaga nak Alex sampai ayah kembali nanti"pesan pak Hasan.
"Ya ayah jangan khawatir, Nina juga sudah selesai menyiapkan tempat istirahat untuk tuan Alex"balas Nina yang sudah tidak didengar oleh pak Hasan.
Sementara itu di jalanan perkebunan, Dian tengah sibuk memikul padi yang akan dia angkut ke mobil bersama yang lain berikut dengan pemilik padi.
Siang ini Nina sudah tiga kali mengangkut padi dan pisang milik orang yang selama ini selalu berlangganan pada ayahnya.
Gadis cantik itu bahkan sudah tidak peduli dengan peluh yang membanjiri wajah dan tubuhnya. Baginya tidak ada kata menyerah pada rasa lelah selagi masih ada pekerjaan yang bisa ia kerjakan untuk mengais rezeki yang halal.
Handphone nya pun habis baterai dan terletak di dalam dasbor penyimpanan, dia tidak tau kalau sang ayah menghubungi nya.
Sampai pukul delapan malam, setelah pak Hasan bolak-balik mencari keberadaan putrinya yang tidak kunjung ditemukan pun akhirnya suara deru mesin mobil pick up pun terdengar, saat ini semua orang sudah berada di ruang TV sedang menunggu kehadiran nya.
Pak Hasan langsung bangkit dan berjalan keluar rumah menyambut putrinya yang sudah membuat dia khawatir setengah mati.
"Ayah Dian pulang,"ucap nya sambil tersenyum manis meskipun raut wajah lelah dan keringat bercucuran di dahinya itu masih terlihat jelas.
"Nak, kamu darimana saja ayah sangat khawatir. Kamu tidak bisa dihubungi"ucap pak Hasan yang kini terdengar pelan oleh Alex yang sedang berada didalam rumah.
"Tadi ada dua rit tambahan yah, dan Alhamdulillah semua lancar berkat doa ayah, sepertinya besok kita bisa rawat si Optimus"ucap gadis cantik itu sambil berjalan masuk kedalam.
"Nak seharusnya kamu jaga tubuh mu baik-baik jangan terlalu lelah dalam bekerja, kamu masih sangat muda dan itu bukan pekerjaan untuk mu nak, ayah khawatir kamu kenapa-napa"ucap pak Hasan yang kini mengusap bahu putrinya itu.
"Justru karena Dian masih muda, Dian harus bekerja keras untuk membantu ayah, mungkin setelah menikah Dian tidak akan bisa melakukan itu lagi. Ayah jangan khawatirkan Dian yah, Dian akan baik-baik saja berkat doa ayah.
"Ah iya ini hasil narik hari ini"ucap Dian yang kini menyerahkan dompet setoran yang selama ini selalu menjadi tempat penyimpanan upah milik pak Hasan dan juga Dian.
"Nanti saja nak, sebaiknya kamu bersih-bersih dulu setelah itu makan dan istirahat"ucap sang ayah.
"Baik ayah, tapi ini terima dulu, Dian mau langsung mandi"ucap gadis cantik dengan t-shirt panjang yang lusuh dan juga celana jeans robek-robek yang selama ini menjadi pakaian dinas nya. Tidak lupa dengan topi yang masih bertengger di puncak kepala nya.
"Eh ratu nguli sudah pulang?"ujar Nina dengan sengaja.
"Hm..."balas Dian malas sambil berjalan meninggalkan mereka.
"Minta ganti ya, bensin aku habis gara-gara ayah bolak-balik nyariin kamu"ucap Nina.
"Minta sama ayah, dasar perhitungan"ujar Dian yang kini membuat seseorang menatap lekat punggung gadis cantik yang kini terlihat dekil itu.
"Tuan Alex, bagaimana rendang buatan ibu enak bukan?"ujar Nina sambil duduk di tepi sofa.
"Hm..."lirih Alex yang kini menatap kearah lain.
Dian sendiri kini melihat bekas luka lecet di pundak nya setelah memikul padi hampir dua puluh karung, mungkin luka itu tidak seberapa dibanding dengan lukanya saat melihat ketidakberdayaan sang ayah saat kedua wanita itu menuntut nafkah berlebih darinya.
"Ini tidak seberapa Dian, kamu harus kuat"ucap Dian pada dirinya sendiri.
"Wow, hebat juga dia cari uang"ucap Nina yang kini melihat beberapa juta uang yang ada di dalam dompet tersebut.
"Dia pasti kuli pikul lagi, karena kalau hanya ngangkut, uangnya dapat segini"ucap pak Hasan.
Sementara Alex merasa kasihan pada nasib dari gadis malang itu.
Dian terlihat begitu fresh setelah mandi, meskipun dia tidak menggunakan pakaian yang baru seperti yang Nina kenakan.
Gadis cantik itu pun duduk sendirian di depan meja makan untuk mengisi perut nya yang terasa perih karena terlambat makan.
"Kak aku minta uang nya sekarang ya?"ujar Nina yang kini kembali membahas tentang uang ganti rugi untuk bensin yang habis karena ayah Dian pergi mencari Dian dengan menggunakan motor miliknya.
"Kan sudah aku bilang, minta sama ayah, aku tidak pegang uang"ucap Dian yang kini masih mengaduk makanan di piring nya dengan tangan nya sendiri.
"Mas berikan uang nya pada Nina, lebihkan sedikit, dia pasti butuh buat keberangkatan nya besok"ucap sang istri.
"Tidak Bu, ini uang Dian, kita sudah terlalu banyak bergantung padanya dia juga butuh modal untuk masa depannya nanti. bukankah uang saku sudah bapak berikan kemarin?"ujar pak Hasan.
"Bapak ini begitu perhitungan mentang-mentang Dian sudah bisa cari uang, bapak membedakan mereka"ucap wanita itu tidak terima.
"Bu, apa selama ini pengorbanan Dian masih kurang? Dia sudah merelakan diri untuk tidak kuliah dan lebih memilih untuk mencari uang untuk membantu kita menyekolahkan Nina dan membantu keuangan di rumah ini. Tidakkah ibu kasihan padanya?"ucap pak Hasan yang kini tidak bisa mengendalikan emosi nya.
"Ayah tidak usah ribut, malu dengan tamu kita... Tidak apa-apa jika ayah tidak bisa memberi uang itu pada Nina"ucap Nina yang kini berpura-pura mengalah.
"Yah ambil saja, Dian bisa cari lagi besok, doakan saja Dian sehat agar bisa cari rezeki"ucap Dian dengan lembut.
"Baiklah ini untuk bensin, dan ini untuk uang jajan mu Minggu ini jangan bilang kamu ada keperluan lainnya lagi nin, bapak tidak sebodoh itu" ucap pak Hasan yang kini dibalas anggukan kepala oleh Nina dan istrinya pun akhirnya tersenyum.
Sementara pandangan mata Alex terus tertuju pada gadis cantik yang beberapa kali mengusap-usap bajunya.
"Nak ini sisanya kamu simpan saja"ucap pria paruh baya itu.
"Ayah pegang saja, gunakan untuk perawatan Optimus, kasihan dia sudah bekerja keras tapi belum mendapatkan perawatan, besok Dian kerja bareng Nadhif, ada job di desa sebelah upahnya lumayan "ucap Dian.
"Bahu kamu baru sembuh nak, jangan nguli lagi"ucap pak Hasan.
"Tidak apa-apa ayah, Dian sudah sembuh kok"ucap nya berbohong.
Alex pun pamit untuk istirahat di kamar tamu yang memang tersedia khusus untuk tamu.
"Saya permisi dulu pak, saya ingin istirahat"ucap pria itu.
"Ya nak, maaf ya, jika kamu harus menyaksikan perdebatan kecil dari kami semua,"ucap pak Hasan.
"Tidak apa-apa pak, semua itu wajar namanya juga keluarga. Mungkin keluarga saya jauh lebih parah dari itu hingga saya berakhir seperti ini"ucap Alex.
"Hm... Semoga saja tidak nak, mungkin saja keluarga mu sedang mencari keberadaan mu... Tapi bapak tidak mungkin mengumumkan penemuan mu di sosial media, bapak takut orang yang telah menganiaya mu kembali mencari mu. Maka dari itu biar kamu pulih dulu setelah itu baru kita bisa mencari keberadaan keluarga mu"ucap pak Hasan yang kini membantu Alex duduk di tepi ranjang.
" Terimakasih pak, saya pasti merepotkan bapak dan keluarga. Apa tidak sebaiknya kita cek kartu-kartu ini, siapa tau ada banyak uang didalamnya untuk membantu bapak dan keluarga "ucap Alex.
"Tidak nak, simpan saja semuanya itu. Bapak masih bisa memberi mu makan meskipun hanya seadanya. bapak minta maaf jika keadaan disini tidak senyaman di tempat mu"ucap pak Hasan.
"Tidak apa-apa pak, saya sangat bersyukur bisa bertemu bapak dan keluarga. Semoga saya bisa membalas kebaikan bapak dan putri bapak"ucapnya.
"Doakan saja semoga semua baik-baik saja dan nak Alex bisa segera bertemu keluarga"ucap pak Hasan.
Pak Hasan pun berpamitan setelah mereka selesai mengobrol, Alex masih membuka mata sambil memegang dompetnya. Didalam sana ada uang sebesar tiga juta. dia berencana untuk memberikan uang itu pada Dian besok pagi.
"Semoga kamu bisa menerima ini gadis baik,"lirih nya.
Sementara Dian sendiri kini tengah menyalakan musik di handphone nya. Musik pengiring tidur yang sering dia gunakan untuk mengusir rasa lelahnya dan dia pun menggunakan headset bluetooth agar tidak membuat orang lain terganggu apalagi Nina yang besok akan kembali ke kota untuk melanjutkan kuliah nya.
Perlahan tapi pasti gadis cantik itu terlelap dalam tidurnya di kasur sempitnya yang terbalut seprei usang.
Gadis cantik itu tetap bisa bersyukur setidaknya dia masih memiliki tempat untuk bernaung, meskipun di rumah peninggalan sang ibu dia tetap tidak mendapatkan keadilan.
Sampai keesokan paginya Dian seperti biasanya bangun pagi untuk menunaikan ibadah dan setelah itu dia pun membantu ibu sambung nya beres-beres dan memasak sarapan pagi.
Saat ini Dian membuat nasi goreng seafood, dia sedang ingin makan makanan itu setelah lima tahun kepergian ibunya.
Hari ini terlihat begitu spesial di meja makan tersebut, ada ayam goreng kremes ada nasi goreng seafood dan rendang buatan ibu sambung Dian kemarin.
Sementara Dian sudah memasukkan bekal makan siang nya kedalam tas ransel nya yang kini ia simpan dengan jaket lusuh yang belum sempat ia cuci.
Dian pun sarapan pagi lebih dulu bersama sang ayah yang juga akan pergi untuk melakukan perbaikan pada mobil tuanya itu dengan uang pemberian Dian kemarin.
"Nak hati-hati jangan terlalu lelah bekerja, bapak tidak ingin kamu kenapa-napa"ucap pak Hasan.
"Ya pak doakan saja semoga Dian selalu sehat dan semangat"ucap Dian yang kini menyudahi sarapan pagi nya.
"Bu titip mas Alex ya, Dian akan beli daster baru untuk ibu nanti" ucap Dian sambil tersenyum.
"Tidak perlu kalian titip juga ibu akan rawat dia , siapa tau dia berjodoh dengan Nina, karena sepertinya dia adalah orang kaya"ucap wanita paruh baya itu tanpa dia sadari bahwa Alex sudah berada tidak jauh dari area ruang makan dan sudah mendengar percakapan mereka.
"Ibu jangan sembarangan bicara, nanti nak Alex dengar"ucap pak Hasan.
"Iya bu, kalau bermimpi itu jangan terlalu tinggi, kalau jatuh sakit loh bu"ucap Dian dengan sengaja.
"Ah kalian memang selalu iri sama Nina, putri ibu kan anak kuliahan, dia bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik, tidak seperti Dian yang hanya berteman dengan tukang kuli"ucap wanita paruh baya itu.
Dian pun sempat terdiam, tapi diamnya kali ini bukan karena dia sakit hati dengan ucapan ibu tirinya. Tapi karena dia melihat pria tampan itu ada di sana.
"Tuan, sarapan pagi dulu sebelum minum obat. Saya pergi dulu"ucap Dian dengan lembut.
"Terimakasih Di, nanti saya sarapan pagi, boleh ikut saya sebentar?"pinta Alex.
"Hm..."lirih Dian yang kini mengikuti dan membantu Alex berjalan, karena kaki kirinya masih belum sembuh dari cedera yang rencananya akan diurut setelah luka jahitan nya sembuh.
"Tuan apa ini?"ucap Dian yang kini menerima uang dari Alex yang disodorkan padanya.
"Gunakan ini untuk tambahan modal, mungkin tidak seberapa, tapi setidaknya kamu bisa berhenti bekerja berat Di, kamu itu wanita, apalagi kata bapak bahu mu baru sembuh dari cedera"ucap Alex.
"Tidak tuan, simpan saja uang ini, suatu saat nanti anda pasti membutuhkan itu. Jangan khawatir saya masih bisa mencari uang"ucap Dion.
"Di, aku salut padamu. Kamu begitu baik hati dan pekerja keras, semoga kamu sukses"ucap Alex.
"Terimakasih tuan, oh iya jika tidak ada baju ganti nanti saya minta bapak beli di pasar"ucap Dian dengan ramahnya.
Gadis cantik yang kini menggunakan celana jeans panjang dengan sobekan di bagian lutut dan pahanya itu pun, kini pamit pergi dengan membawa ransel berisi bekal makan siang dan juga perlengkapan sholat dan juga handphone nya.
...******...
Sepanjang hari Dian pun semangat bekerja bersama kelima teman laki-laki sebayanya. diantara mereka berenam hanya Dian gadis satu-satunya yang melakukan pekerjaan berat seperti kelima teman nya itu.
Mereka pun sering merasa iba pada Dian, tapi mereka sama-sama orang susah yang juga akan mencari makan dengan menjadi buruh kuli.
Alhasil mereka hanya bisa membantu alakadarnya seperti membantu Dian mengangkat karung padi sebelum akhirnya dipikul oleh Dian yang terkadang kesulitan.
Mereka akan istirahat bersama ibadah bersama dan makan siang bersama. Seperti saat ini semuanya bertanya tentang pria yang telah diselamatkan oleh pak Hasan.
Dian pun menjawab seadanya, karena sejak pertama kali mereka bertemu pun, Dian tidak pernah punya waktu untuk tinggal di rumah, dan Dian ingin bapak nya istirahat dengan uang yang tersisa dari penjualan kalung nya itu, dan juga hasil nguli kemarin.
Dan saat ini pak Hasan begitu shock saat dia mendapati tumpukan uang receh dan lembaran di bawah jok mobil nya itu. Dia tau itu adalah milik putrinya yang diam-diam ia tabung disana, karena disana adalah tempat yang tepat untuk menabung tanpa harus ketahuan oleh ibu tirinya itu.
Pak Hasan pun mengambil tas usang yang ada di atas dasbor karena saat ini jok mobil itu akan dilapisi dengan pembungkus jok yang baru.
Pria itu dengan sangat hati-hati memasukkan seluruh uang tersebut kedalam tas yang kini hampir penuh.
Sampai saat notifikasi pesan masuk dari Dian yang meminta pak Hasan untuk membeli baju baru untuk Alex, karena sudah dipastikan bahwa dia butuh itu, gadis cantik itu bahkan memberitahu secara detail ukuran baju dan juga toko baju yang ada di pasar.
Sementara untuk uang itu, Dian meminta ayahnya untuk menyimpan nya kembali di tempat rahasia nya itu.
Dian bilang nanti setelah service mobil selesai, Dian ingin nabung untuk beli motor untuk ayahnya dan dirinya agar tidak meminjam motor milik Nina, meskipun motor itu juga dibeli oleh pak Hasan.
Pak Hasan hanya bisa berdoa didalam hatinya untuk putri tercintanya itu, agar Dian bahagia dan panjang umur.
Waktu pun terus berlalu, Dian kini masih menyetir mobil bergantian dengan Afandi sahabatnya dan ditemani kelima teman laki-laki nya yang tinggal di belakang bersama tumpukan padi.
Kali ini bukan mobil pick up yang Dian kemudikan, tapi mobil truk milik Afandi yang selama ini selalu mengajari nya mengemudikan mobil tersebut.
Dian yang kini melintas di jalan depan rumah nya pun menyempatkan diri untuk berhenti sejenak dan turun untuk mengambil minum, karena perjalanan masih jauh.
"Ya ampun nak kamu bawa truk , kemana Afandi kenapa kamu yang bawa nak?"ucap pak Hasan yang kini dibuat khawatir.
"Bos di dalam Yah, ayah tidak usah khawatir Dian bisa kok, doakan saja semoga selamat sampai tujuan, mungkin Dian kembali larut malam. Dian mau ngambil bekal minum"ucap Dian yang kini tengah ditatap oleh Alex dari teras rumah.
"Ini nak, cukup kan, makasih dasternya ya"ucap Arini yang langsung sigap memberikan botol air mineral sebanyak sepuluh botol berukuran besar dalam kardus.
"Sama-sama bu, doakan Dian banyak uang, nanti Dian belikan ibu kalung baru"ucap gadis cantik itu yang kini kembali menggunakan masker nya sambil melirik kearah Alex dan mengangguk pelan lalu pergi.
Dian pun melempar botol-botol itu pada teman-temannya yang ada di belakang, yang sibuk menangkap nya. Tidak lama dia langsung naik dan masuk kedalam mobil seakan itu adalah mobil mainan.
Alex pun melihat Dian mengemudikan mobil tersebut secara langsung sampai mobil itu berlalu membawa tumpukan padi yang membumbung tinggi.
Sungguh rasa khawatir pak Hasan bisa ia rasakan saat ini. Tapi dia bisa apa bahkan dia tidak bisa mengingat siapa dirinya sampai detik ini.
Sampai pukul sepuluh malam rumah itu sudah sangat sepi, menyisakan pak Hasan yang masih menunggu putrinya pulang dengan harapan tentang keselamatan putrinya itu.
Sampai saat suara mobil truk itu kembali terdengar dan suara Afandi yang kini meminta Dian untuk istirahat lebih awal agar besok pagi dia sudah siap untuk kembali berangkat nguli bersama mereka.
"Syukurlah kamu sudah pulang nak, masuklah dan langsung bersih-bersih setelah itu makan"ucap pak Hasan yang teramat khawatir terhadap putrinya itu.
"Ya ayah, Dian akan laksanakan. ayah pasti belum tidur, pergilah istirahat jangan cemaskan Dian... berkat doa ayah Dian selamat. Terimakasih ayah Dian sayang ayah. Ini untuk ayah"ucap Dian yang memberikan uang sebesar satu juta hasil bagi rata hari ini.
"Jangan nak simpan saja, ayah masih ada uang kok, lagipula besok ayah mulai bekerja lagi, kamu sebaiknya mandi dulu setelah itu lihat si Optimus"ucap sang ayah sambil mengusap puncak kepala Dian.
"Oke, Dian masuk dulu ya ayah asalamualaikum"ucap Dian yang kini langsung masuk kedalam kamar nya.
Gadis cantik itu pun merasa lega karena saat ini ranjang nya sudah bisa kembali padanya sampai Nina kembali nanti.
Dian pun selesai mandi dengan cepat, dia juga buru-buru menggunakan pakaian santai nya. Dan bergegas keluar kamar untuk bertemu dengan sang ayah lagi untuk melihat si Optimus mobil kesayangannya itu.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!