Indonesia
NovelToon NovelToon

Transmigrasi Ke Tubuh Istri Gendut Sang CEO

Bab 1. Mayat Hidup

Seorang wanita cantik berpakaian serba hitam, berjalan terhuyung sembari memegang bagian perut sebelah kanan. Nampak cairan merah pekat merembes di antara sela-sela jarinya. Rambut panjangnya yang diikat, bergerak-gerak diterpa angin malam.

Yvone Faranes adalah seorang pemimpin Klan Mafia Phoenix. Klan yang menguasai separuh wilayah bagian barat San Diego. Kini ia mendesis, mengumpati rasa sakit yang perlahan menggerogoti kesadarannya.

“Sialan, beraninya mereka menghianatiku!” umpatnya.

Yvone telah berada di ujung tanah yang ia pijak. Di bawah sana, nampak riak air bergerak pelan menabrak dinding karang. Dari tempatnya berdiri, Yvone dapat mencium aroma air asin.

Sekali lagi ia mengumpat.

“Sial!”

Lalu suara lain menggema, memecah keheningan.

“Kau tidak bisa lari lagi, Sayang!”

Yvone berbalik, dan melihat pria yang paling ia percaya, kini menodongkan senjata ke arahnya.

“Jackson…kau!” Dengan separuh kekuatan yang ia miliki, Yvone mengangkat tangannya, mengacungkan senjatanya ke arah pria yang kini berdiri tak jauh darinya, mencoba memberikan perlawanan.

Sudut matanya memerah, kilatan amarah terpancar jelas di kedua bola mata birunya.

“Kenapa kau melakukan ini padaku?” Suara Yvone terdengar sangat angkuh. Kendati terluka, ia tetap tidak menurunkan kewaspadaannya.

Jackson menyunggingkan senyum sinis, lalu berkata, “Aku tidak suka terus menerus berada di bawah bayang-bayangmu, Yvone. Kau sangat angkuh, terlalu mendominasi. Aku butuh wanita yang patuh!”

“Seperti aku!” Seorang wanita muncul. Sama seperti Yvone, wanita itu juga mengenakan pakaian serba hitam. Senjata api terselip di balik jaketnya.

Lucia Hawkins, adalah anggota klan Phoenix, juga salah satu orang kepercayaan Yvone. Wanita itu berdiri di dekat Jackson, sangat dekat seolah menunjukkan hubungan yang mereka rajut secara diam-diam di belakang Yvone.

“Wanita murahan!” umpat Yvone. Lantas pandangannya kembali mengarah pada Jackson. “Asal kau tahu, aku berencana menyerahkan kepemimpinan klan padamu setelah kita menikah, tapi kau malah menunjukkan sifat aslimu!”

“Kau terlalu banyak bicara, sebaiknya kau serahkan pada kami catatan racikan obat itu!” seru Lucia yang hanya ditanggapi senyum tipis oleh Yvone.

Sebagai pemimpin Klan, Yvone memiliki keahlian meracik obat-obatan terlarang yang kini laku keras di dunia perdagangan gelap.

“Jangan mimpi!”

Dorrr!

Satu tembakan kembali melesat, tepat mengenai dada kanan.

Yvone termundur ke belakang, nyaris terjatuh. Namun, ia masih cukup kuat menahan tubuhnya untuk tetap berdiri tegak.

Jackson yang semakin muak, hendak kembali melesatkan tembakan. Namun, Lucia menahannya.

“Tahan, Sayang. Serahkan semua padaku!”

Lucia menyunggingkan senyum tipis, lantas menarik senjatanya. Belum sempat ia melepaskan tembakan, Yvone lebih dulu menarik pelatuknya.

Dorr!

Sayangnya tembakan Yvone meleset dan hanya mengenai lengan Lucia. Secara otomatis senjata di tangannya terlepas.

“Ouh, shit!” umpat Lucia.

“Lucia…kau tidak apa-apa?” Jackson semakin murka ketika melihat Lucia terluka dan itu membuat Yvone tertawa sinis. Lebih tepatnya menertawai diri sendiri. Bisa-bisanya ia percaya kepada pria seperti Jackson.

“Kalian semua bajingan!” Tangan Yvone yang memegang senjata, kembali terangkat.

Namun kali ini ia kalah cepat dari Jackson yang lebih dulu melesatkan tembakan sebanyak dua kali sebagai bentuk pembalasan bagi Lucia.

Dorr

Dorr

Yvone termundur ke belakang setelah peluru menembus perut dan dada. Tatapannya kosong lalu mengabur. Langkahnya terus mundur hingga kakinya tergelincir dan akhirnya terjatuh.

Yvone merasa tubuhnya melayang sebelum akhirnya menghantam lautan yang dalam.

Byuurrr

Kedua mata Yvone terbuka. Ia masih bisa melihat bagaimana air laut menenggelamkan dirinya. Dan saat itu, ia merasa tidak bisa bergerak. Tubuhnya kaku, namun ia masih berharap untuk hidup.

“Jika aku diberi kesempatan untuk hidup. Aku bersumpah akan membalas mereka semua!”

Di sebuah kamar mewah dengan nuansa gold. Seorang wanita bertubuh gendut tergeletak tak sadarkan diri di atas ranjang king size. Wajahnya pucat, tubuhnya dingin. Sementara selimut bulu tebal menutup sebagian tubuhnya.

Seorang pelayan mendekat dengan penuh rasa takut. Berniat untuk menaikkan selimut untuk menutupi semua bagian tubuh wanita gendut itu hingga sampai kepala.

“Kau yakin dia sudah meninggal?” Seorang pelayan lainnya bertanya.

Pelayan yang sedang hendak meraih selimut itu menoleh. “Bukankah Dokter sudah memastikannya?”

“Bagaimana jika dia tiba-tiba bangun?” goda pelayan itu lagi.

“Jangan membuatku takut. Sebaiknya kau cepat bereskan kamar ini, sebentar lagi jenazah ini akan segera dipindahkan ke bawah untuk dimandikan.”

“Ya, ya baiklah.”

Tepat saat pelayan menutup semua tubuh wanita gemuk itu dengan selimut, tiba-tiba tubuh itu bergerak dan membuat pelayan tersentak.

“Argghhh!” teriak kedua pelayan itu histeris ketika melihat tubuh itu tiba-tiba bangun. Satu di antara mereka bahkan sampai pingsan. Sementara satu pelayan lainnya segera berlari keluar kamar.

“Mayat hidup!”

Wanita gendut itu terduduk sembari menatap heran ke arah sekitar. Ruangan ini sangat asing baginya. Sekali lagi, ia melihat seisi kamar.

“Apa yang terjadi? Kenapa aku…” Yvone membeku sesaat. Mencoba mencerna tragedi yang ia alami saat ini.

Bagaimana ia bisa sampai di kamar mewah ini? Samar-samar Yvone melihat sebuah bayangan. Dengan segera ia meraba tubuhnya, tidak ada luka bekas tembak, tidak ada darah.

Semua utuh.

Hanya saja ada satu hal yang membuat Yvone merasa heran. Ia melihat kesepuluh jarinya yang membesar. “Kenapa jariku jadi jempol semua?” batin Yvone.

Dengan cepat ia menyibak selimut, ia merunduk, tatapannya tertuju pada perut dan kakinya yang terlihat tiga kali lipat lebih besar dari biasanya.

Seketika bola matanya membesar.

“Ada apa dengan diriku?” Yvone melihat sekujur tubuhnya. Gaun tidur longgar yang ia kenakan pun tak dapat menutupi lemak yang menempel di tubuhnya. “Kenapa aku tiba-tiba jadi gendut?”

Yvone sepertinya masih belum mengerti bila jiwanya telah berpindah ke tubuh orang lain. Yvone lantas melompat turun dari atas kasur. Ia merasa tubuhnya menjadi berat. Yvone lantas berjalan menuju ke cermin dan melihat tubuhnya sendiri.

“Astaga!” Yvone menutup mulutnya dengan kedua tangan. Langkahnya mundur ke belakang. “Kenapa tubuhku jadi bengkak begini?” Bukan hanya tubuhnya, tetapi juga wajahnya.

Wajah ini memang cantik, kulitnya putih bersih. Hanya saja semua serba besar. Yvone meraba wajahnya sendiri lalu mencubit pipinya yang gembung. Saat itu ia sadar bahwa tubuh ini bukan miliknya.

Lalu sebuah ingatan muncul saat-saat terakhir ia meregang nyawa. Bayangan wajah Jackson dan Lucia berkelebat. Yvone mengepalkan kedua tangannya.

“Pengkhianat!”

Detik selanjutnya, bayangan muncul dari dalam cermin di hadapannya. Wajah dan tubuh yang sangat mirip dengan dirinya saat ini.

“Selamat datang di keluarga Reinhart, mulai hari ini, kau adalah Nyonya Reihart!”

“Apa? Kau siapa?”

“Mulai sekarang kau adalah Rose. Semua ingatan dalam diriku adalah milikmu. Dan kau harus membalas semua orang-orang yang menyakitiku,” ucap wanita itu.

“Tapi kenapa aku?”

Belum sempat menjawab, sebuah derap langkah kaki terdengar. Yvone menoleh dan melihat seorang pria tampan.

“Rose…kau bangun?”

Bab 2. Jadi Dia Pelakornya

“Siapa pria itu?” batin Yvone. “Dia sangat tampan” 

Sesaat Yvone segera tersadar, ia mengalihkan pandangannya dari pria tampan itu ke arah cermin, hendak menanyakan sesuatu. Akan tetapi, bayangan itu telah menghilang. 

Yvone merasa bingung. 

Lalu sebuah ingatan kembali berlomba-lomba memenuhi isi kepala. Pernikahan, bulan madu, kebersamaan, dan pertikaian. Wajah pria itu berulang kali berkelebat, dan wajah-wajah lain yang sangat asing. 

Seorang wanita paruh baya, wanita muda cantik, serta wanita cantik lainnya, tetapi usianya lebih dewasa. Semua interaksi wanita bernama Rose dengan orang-orang itu terus berputar di kepala Yvone. 

“Apa dia suamiku?” batin Yvone setelah tersadar dari ingatan tersebut. 

Ia menggeleng cepat. “Tidak, dia bukan suamiku, melainkan suami wanita gendut ini.” 

Dirinya bahkan belum menikah, bagaimana bisa ia menyebutnya suami. Tetapi saat ini dirinya berada di dalam tubuh wanita gendut ini. Wanita bersuami, dan wajah pria ini sama dengan pengantin pria yang ada dalam bayangan tadi.

Itu artinya pria ini memang benar suaminya. Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa pria setampan ini mau menikah dengan wanita gendut seperti Rose? 

“Rose, apa kau baik-baik saja?” 

Pria itu mendekat, mengulurkan tangan hendak menyentuh Rose. 

Yvone refleks menarik pergelangan tangan pria itu, lalu memelintirnya ke belakang. 

“Arrghhh!” erang pria itu. 

Tak lama kemudian, beberapa wanita memasuki kamar. Seorang wanita paruh baya dengan rambut disanggul berteriak, “Aaa…Arsen…hei apa yang kau lakukan terhadap suamimu?” 

Menyadari sesuatu. Yvone segera melepaskannya. Ia tertegun beberapa saat, spontanitas yang ia lakukan adalah kebiasaan dari dirinya jika merasa terancam. Dan itu membuat terkejut semua orang. 

Jika tidak salah, Yvone mendengar wanita setengah baya itu menyebut pria ini sebagai suaminya? Tidak salah lagi. Yvone menatap pria yang kini memegangi lengannya. Ia yakin, pria itu cukup kesakitan saat ini, karena ia menggunakan tenaga penuh. 

“Jadi namanya adalah Arsen?” ucap Yvone dalam hati. 

“Kak Rose kenapa kau hidup lagi? Emm…maksudku bukannya kau sudah mati?” Seorang gadis cantik yang berdiri di dekat wanita paruh baya bersuara. 

Yvone menatapnya. Dalam ingatan pemilik tubuh, dia adalah adik perempuan suaminya. Namanya Alexa. Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh gadis itu, membuat Yvone keheranan.

Lalu wanita paruh baya itu adalah Brighita, ibu mertuanya. Dilihat dari tatapannya saja sudah sangat tidak suka. Yvone memberikan tatapan tajam, sebelah sudut bibirnya ditarik ke samping. 

Sedikit banyak ia mulai mengerti dengan situasinya. Sepertinya Rose memang tidak disukai oleh keluarga suaminya. 

“Kenapa? Apa kalian tidak suka aku hidup lagi?” Yvone pun segera menutup mulutnya dengan jari. Suara wanita ini memang sangat lembut. Padahal ia sudah berbicara sesinis mungkin. 

“Bukan begitu, kami hanya khawatir saja,” jawab Alexa. Jelas saja itu bohong. 

Yvone menatap semua orang yang ada di dalam ruangan. Semuanya terlihat penuh dengan kepalsuan, sementara beberapa pelayan tampak ketakutan.

“Rose, apa kau baik-baik saja?” Meski merasa heran dengan sikap istrinya, Arsen tetap menahan diri. Saat mendengar istrinya kembali terbangun dari kematian, ia sangat terkejut. 

Ia segera berlari menuju ke kamar untuk memastikannya sendiri, dan benar saja, Rose telah terbangun. Rupanya wanita itu telah mati suri. 

“Kau lihat tubuhku masih utuh ‘kan?” Yvone berusaha sesinis mungkin. 

Dan itu membuat Brighita dan Alexa merasa kesal. 

“Karena kau sudah siuman, sebaiknya kau segera meminum obat,” ucap Brighita. Ia lantas memberi perintah kepada pelayan. “Ambilkan obat untuk Nyonya Muda.” 

“Baik, Nyonya.” 

Yvone menatap Brighita. “Obat?” 

Lalu sebuah ingatan kembali muncul. Semasa hidup, Rose mengkonsumsi obat-obatan. Dan obat itu adalah rekomendasi yang diberikan oleh Brighita. Wanita itu berkata bahwa obat itu adalah vitamin untuk kesuburan. 

Akan tetapi, setelah memakan obat itu, bukannya mendapat keturunan, nafsu makannya justru semakin bertambah. 

Tak lama kemudian, seorang pelayan muncul dengan nampan kecil berisi obat dan segelas air putih. Pelayan itu mendekat, dan dengan takut-takut memberikannya pada Yvone yang berada dalam tubuh Rose. 

“Silakan diminum, Nyonya,” kata pelayan dengan suara bergetar. 

Yvone menatap obat itu. Keningnya mengkerut. Ia lantas meraih obat dalam bentuk pil dan kapsul, mengamatinya dengan seksama, mengendusnya, dan meneliti bentuknya. 

Obat dalam bentuk kapsul dibuka, lalu mengeluarkan isinya. Aromanya sangat khas. Meski Yvone adalah seorang ahli obat-obatan, ia tidak akan meminum obat sembarangan. Detik selanjutnya ia melempar obat itu ke atas nampan. 

“Aku tidak mau!” tolaknya yang membuat semua orang membulatkan mata. 

“Apa? Bukannya kau ingin segera pulih?” protes Brighita.

Yvone melipat kedua tangan di dada. Bibirnya mendecak samar. Jika Rose akan diam saja saat ditindas, tapi tidak dengan dirinya. Kemudian dengan santai ia berkata, “Pulih? Memangnya aku sakit apa?” 

Tatapan Brighita semakin membesar, begitu juga dengan Alexa, keduanya lantas saling berpandangan. “Apa kau lupa? kau itu obesitas, obat itu untuk menekan nafsu makanmu.” 

“Aku tidak yakin itu obat diet.” Tatapan Rose semakin tajam. “Mertua jahat sepertimu tidak mungkin seperhatian ini padaku ‘kan?” 

“Apa? Kau memanggilku apa?” Brighita berkacak pinggang. 

Yvone tidak bisa menahan diri untuk tidak berkata buruk. “Ini belum seberapa,” batinnya. 

Arsen yang melihat sikap istrinya merasa aneh. Biasanya Rose akan bersikap lembut, sopan, dan santun. Bahkan wanita itu terbilang terlalu patuh. Ia kembali menatap istrinya, mengamati wajah wanita itu. 

Tidak ada yang berubah, hanya sedikit lebih garang. Apa ini efek dari mati suri yang dialaminya? 

“Untuk memastikan kondisimu, aku akan memanggil Dokter,” kata Arsen yang membuat atensi Yvone teralih pada pria itu. 

Ia memperhatikan Arsen, gerakannya sangat elegan saat meraih ponsel. Pria itu bahkan tidak marah setelah ia memelintir tangannya tadi. Akan tetapi, sikapnya terkesan dingin. 

Arsen menutup panggilan setelah Dokter menyanggupi permintaannya. 

Tak lama kemudian, seorang wanita cantik memasuki kamar. Semua mata tertuju padanya. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan setelan jas formal dan rok span di atas lutut. Tubuhnya tinggi, pinggangnya ramping, kakinya jenjang. 

Langkahnya sangat elegan, setiap gerakannya begitu berwibawa dan terstruktur. Wanita itu berhenti tepat di dekat suaminya, lalu membisikkan sesuatu di telinga pria itu. 

Melihat itu, Yvone membulatkan matanya. Ia menajamkan pendengarannya, akan tetapi tetap saja ia tidak dapat mendengar. 

“Sialan, apa yang dia katakan?” 

Detik selanjutnya Arsen mengangguk. “Baiklah, setelah ini kita pergi.” 

“Apa? di saat seperti dia malah ingin pergi? Dengan wanita itu?” 

Arsen menatap Rose. “Setelah ini Dokter akan datang untuk memeriksa kondisimu, pelayan akan menemanimu.” 

“Lalu kau mau ke mana?” tanya Yvone sambil melipat kedua tangan di depan dada. 

“Aku ada urusan dengan Renata,” jawabnya lantas berbalik. Langkahnya perlahan menjauh. 

Wanita bernama Renata mengulas senyum tipis, sebelum akhirnya turut berbalik dan menyusul Arsen. 

Yvone teringat sesuatu. Wajah itu ada dalam ingatan asli pemilik tubuh ini, detik itu juga ia menyadari sesuatu, kemudian tersenyum. 

“Jadi dia pelakornya?” 

Bab 3. Pelayan Setia

Sebuah ingatan kembali mencuat. Renata adalah sekretaris pribadi Arsen, sahabat sekaligus teman masa kecil pria itu. Tentu saja banyak hal yang telah mereka lalui bersama.

Melihat gerak-gerik wanita tadi, Yvone jadi curiga bila wanita itu memiliki perasaan terhadap Arsen, suaminya.

Andai dirinya berada di dalam tubuh ini sejak dulu, sudah pasti kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Terlebih membiarkan wanita lain berada di dekat suaminya.

“Kenapa kau diam saja? Kau pasti iri kan melihat bentuk tubuh Renata yang ramping seperti model. Tidak seperti tubuhmu yang seperti gentong,” cibir Brighita.

Tatapan Yvone tajam menusuk. Andai ia berada di dunianya, sudah pasti akan menembak kepala wanita itu. Sayangnya ia berada di dunia yang berbeda, dunia atas, dunia yang taat hukum.

“Mama benar. Kasihan Kak Arsen punya istri gendut seperti dia.” Alexa melirik ke arah Yvone. “Padahal ada Kak Renata, dulu mereka sangat dekat, gara-gara kau mereka jadi renggang,” ledek Alexa.

“Aku?” Yvone tidak tahu bagaimana kehidupan Rose dan Arsen sebelum menikah. Dalam ingatan pemilik tubuh ini, hanya terlihat saat-saat pernikahan.

“Apa benar yang dikatakan gadis itu?” batin Yvone.

“Dengar, kalau kau ingin langsing sebaiknya minum obatnya,” bujuk Brighita lagi.

Yvone melotot, ia hendak menyanggah ucapan mereka saat tiba-tiba seorang pria dengan jas putih memasuki kamar.

“Selamat malam,” ucap pria berkacamata itu.

“Dokter Darwis, kau sudah datang,” sapa Brighita.

Dokter itu tersenyum. Ia lantas menatap ke arah Rose. “Apa yang terjadi? Aku dengar kau bangkit dari kematian?”

Darwis Medlein adalah Dokter pribadi keluarga Reinhart. Darwis adalah teman masa sekolah Arsen, itu sebabnya saat ini ia menjadi dokter pribadi keluarga Reinhart.

Yvone menatap Dokter itu. Tidak ada ingatan khusus tentang pria ini. Jadi ia tidak bisa memastikan apakah pria itu orang baik atau justru sebaliknya.

“Berbaringlah, aku akan memeriksamu.”

Tatapan Yvone menyipit, saat hidup di dunianya, Yvone selalu bersikap waspada terhadap orang yang baru dikenalnya. Satu tangannya meraba pinggang, mencari senjata yang biasa terselip di belakang tubuhnya. Akan tetapi ia segera tersadar bahwa dirinya bukan lagi Yvone Faranes, sang ketua Mafia.

“Ah, sial!” batin Yvone. Pada akhirnya ia harus pasrah dengan keadaan.

Dengan keras ia menjatuhkan bobot tubuhnya di atas kasur. Lalu berbaring perlahan. Matanya tertutup sebentar, mengatur napas. Yvone mencoba beradaptasi dengan keadaan.

Dokter Darwis mengeluarkan stetoskop lalu menempelkan ujungnya pada beberapa bagian tubuh Yvone terutama dada.

“Apa yang kau rasakan?” tanya Dokter Darwis.

Yvone terdiam, entah mengapa pria ini berbicara dengan bahasa yang tidak formal. Apa sebenarnya antara dirinya dan Dokter itu memiliki kedekatan khusus?

“Aku tidak merasakan apa pun?” jawab Yvone acuh tak acuh.

Meski merasa aneh, Dokter Darwis tetap diam, dan berusaha memeriksa kondisi tubuh Rose secara mendetail. Ia mengambil senter kecil dari dalam tas lalu mengarahkannya pada kedua kornea mata Rose secara bergantian.

“Ini aneh,” batin Darwis. Setelah memeriksa detail, Darwis segera memberikan laporan terkait hasil pemeriksaannya. “Semua baik-baik saja, kau sehat. Tapi untuk memeriksa bagian vital secara detail kau harus datang ke rumah sakit. Oh ya, di mana Arsen? Kenapa aku tidak melihatnya?”

Darwis menatap Brighita dan Alexa yang masih berdiri di tempatnya. Kemudian salah satu dari mereka menjawab, “Arsen sedang ada urusan bisnis bersama Renata.”

Dokter Darwis menghela napas panjang. Ia tidak bereaksi apa pun. Tetapi raut wajahnya menggambarkan sesuatu. Ia kembali fokus kepada wanita di hadapannya.

“Besok kau harus datang ke rumah sakit,” kata Dokter Darwis.

“Tidak perlu!” seru Rose sarkas. Ia merapatkan jubah tidurnya kemudian bangkit. “Aku baik-baik saja. Sebaiknya kau pulang saja. Dan kalian…” Tatapan Rose tertuju pada Brighita dan Alexa. “Keluar dari sini!”

Mereka seketika saling melempar pandang, mendengkus kesal. “Beraninya kau mengusir kami!” protes Brighita.

“Aku bahkan berani melempar kalian…” sahut Yvone yang berada di tubuh Rose. Jujur saja, tangannya sudah gatal ingin memberi perhitungan kepada dua wanita munafik itu.

“Kau…” Brighita mengepalkan tangannya. Ingin mendebat, namun suara Dokter Darwis lebih dulu menyela.

“Bibi, sebaiknya kita memberi waktu kepada Rose untuk beristirahat,” ucapnya.

Rose menatap Dokter Darwis, mencoba memahami isi pikiran pria itu. Panggilan bibi menunjukkan betapa dekatnya hubungan pria itu dengan keluarga ini. Rose terus memperhatikan pria itu, tetapi hanya keraguan yang menguasai dirinya.

“Kau juga pergilah. Aku ingin sendiri.” Untuk saat ini, Yvone memang tidak ingin diganggu. Ia ingin memikirkan cara bagaimana ia menyesuaikan diri dengan situasi ini. Terlalu banyak hal yang membuatnya shock berat, terutama dengan kondisi tubuhnya sendiri.

Dokter Darwis menjadi orang terakhir yang hendak meninggalkan kamar Rose. Sebelum benar-benar pergi, pria itu berpesan, “Jika kau perlu sesuatu, kau bisa menghubungiku.”

Rose tidak merespon, justru membiarkan Dokter muda itu berlalu begitu saja dari hadapannya. Setelah pria tampan itu keluar dari kamarnya, Rose menatap ke arah pintu di mana baru saja Dokter Darwis menghilang.

Dalam hati ia menggumam, “Apa laki-laki itu bisa dipercaya?”

Keesokan harinya, saat Yvone bangun, ia masih mendapati dirinya berada di tubuh yang sama. Padahal ia sangat berharap untuk bisa kembali ke tubuh aslinya. Akan tetapi, jika dipikir, tubuhnya yang asli telah tenggelam ke dasar lautan.

Yvone yang berada dalam tubuh Rose pun terdiam. “Apa aku sungguh akan berada dalam tubuh ini selamanya?”

Rose berbicara dengan dirinya sendiri. “Apa tidak ada yang menyadari keberadaan tubuh asliku?” Yvone masih bertanya-tanya.

Masih banyak bawahannya yang setia. Dan ia yakin mereka pasti menyadari ketiadaan dirinya. Akan tetapi, ia lupa akan sesuatu, bahwa saat ini klan miliknya telah dikuasai oleh pengkhianat.

“Ah sialan!” Rose bangkit dari tempat tidur. Ia merasa tubuhnya sangat berat untuk berjalan, meski begitu ia memaksa untuk bergerak. Perlahan ia kembali mendekati cermin dan melihat kembali bentuk tubuhnya.

“Gendut sekali. Pantas saja Arsen tidak menyukainya. Kira-kira berapa berat badan wanita ini ya?” Rose celingukan, mencari sesuatu. Hingga kedatangan seseorang mengalihkan perhatiannya.

“Nyonya! Anda sudah bangun?”

Rose menoleh dan melihat seorang pelayan muda, dengan tubuh mungil datang dengan nampan di tangan. Rose hanya meliriknya sekilas, kemudian kembali fokus mencari sesuatu. Hingga suara Isak tangis membuatnya terkejut.

“Nyonya…saya pikir Nyonya tidak akan bangun lagi.”

Yvone tertegun untuk beberapa saat. Dalam hati bertanya-tanya. Mengapa pelayan itu tiba-tiba menangis? Sementara kemarin beberapa pelayan justru takut padanya.

“Kau…kenapa menangis? Memangnya kau siapa?” tanya Rose keheranan.

“Nyonya…apa Anda lupa dengan saya?”

Rose mengerutkan keningnya. Raga asli pemilik tubuh ini memang mengatakan bahwa sepenuhnya ingatan pemilik tubuh ini adalah miliknya. Tetapi ia justru tidak mengingat apa pun.

“Kau siapa?” tanya Rose lagi.

Kemudian pelayan itu menjawab, “Saya ada Sui, pelayan setia Anda!”

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!