Indonesia
NovelToon NovelToon

SATU NAMA YANG TERHAPUS

Bocah di Balik Kabut

Udara dingin lereng Gunung Gede menusuk hingga ke tulang, membuat Arifin (18) merapatkan jaket denimnya yang mulai lembap oleh embun pagi. Ia berdiri di depan sebuah rumah panggung tua milik almarhum neneknya yang sudah bertahun-tahun tidak terawat.

Arifin baru saja lulus SMA, dan alih-alih merayakan kelulusan bersama teman-temannya di Jakarta, ibunya justru mengirimnya ke sini.

"Arifin, ada 'sesuatu' yang ditinggalkan nenekmu di sana. Ibu tidak bisa ke sana sekarang. Tolong lihat kondisinya, ya?"

Itu kata ibunya sebulan yang lalu. Arifin mengira "sesuatu" itu adalah kebun teh yang terbengkalai atau mungkin kucing tua. Tapi, saat ia melangkah ke halaman belakang yang berbatasan langsung dengan hutan pinus, ia mendengar suara dahan patah.

Krak!

Arifin menoleh cepat. Di balik semak-semak lebat, ia melihat sepasang mata tajam yang bersinar di tengah remang kabut.

"Siapa di sana?" seru Arifin. Suaranya sedikit bergetar.

Bukannya jawaban, sesosok bayangan kecil tiba-tiba melesat keluar. Itu bukan hewan. Itu adalah seorang anak laki-laki. Rambutnya gondrong tak beraturan, penuh ranting dan daun kering. Ia tidak memakai baju, hanya celana pendek kumal yang robek di sana-sini. Yang paling mengejutkan adalah kakinya yang telanjang, penuh luka goresan namun tampak kokoh menginjak tanah yang dingin.

"Hei! Tunggu!" Arifin mencoba mendekat.

Anak itu menggeram—suara rendah yang keluar dari tenggorokannya seperti seekor kucing hutan yang merasa terancam. Ia bersiap lari kembali ke dalam hutan.

"Tunggu, jangan takut! Aku... aku cucunya Nek Salamah. Aku yang punya rumah ini," ujar Arifin pelan, mencoba menenangkan. Ia mengeluarkan sebungkus roti sobek dari tas kecilnya. "Kamu lapar?"

Anak itu berhenti. Hidungnya kembang-kempis, mengendus aroma roti dari kejauhan. Matanya yang liar perlahan menatap wajah Arifin. Ada rasa ingin tahu di sana, tapi kewaspadaannya jauh lebih besar.

"Namaku Arifin," ucap Arifin sambil meletakkan sepotong roti di atas tunggul kayu, lalu ia mundur beberapa langkah. "Siapa namamu?"

Anak itu diam membeku. Setelah merasa aman, ia menerjang roti itu dengan kecepatan yang tidak wajar. Ia memakannya dengan rakus, seolah-olah belum makan selama berhari-hari.

"Namanya Ren," tiba-tiba sebuah suara berat muncul dari belakang Arifin.

Seorang laki-laki tua, tetangga sebelah rumah neneknya, muncul sambil memikul kayu bakar. "Dia anak yang dibesarkan di hutan oleh orang gila di atas bukit sana. Sejak orang gila itu meninggal, dia berkeliaran sendiri. Nenekmu dulu sering memberinya makan, makanya dia sering datang ke sini."

Arifin menatap anak bernama Ren itu dengan iba. Ren sekarang sedang menjilati sisa selai cokelat di jarinya, masih menatap Arifin dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Ren?" panggil Arifin lembut.

Anak itu tersentak mendengar namanya dipanggil. Ia menatap Arifin cukup lama, seolah sedang mencoba merekam wajah pemuda di depannya itu ke dalam ingatannya. Tanpa sepatah kata pun, Ren berbalik dan menghilang ke dalam rimbunnya pohon pinus secepat kilat.

Arifin menghela napas panjang, menatap tangannya yang tadi sempat gemetar. "Jadi, ini 'sesuatu' yang Ibu maksud?" gumamnya. "Bocah liar?"

Arifin tidak tahu, bahwa musim panas ini akan menjadi awal dari segalanya.

...----------------...

Sudah tiga hari sejak pertemuan pertama itu, dan Ren selalu muncul di waktu yang sama: saat matahari tepat di atas kepala. Ia tidak pernah mendekat ke teras, hanya berjongkok di balik pohon nangka besar di sudut halaman, mengawasi Arifin yang sedang menjemur kasur tua peninggalan neneknya.

Arifin berpura-pura sibuk, meski sudut matanya terus memantau bocah itu. "Ren, sini," panggil Arifin tanpa menoleh.

Tidak ada jawaban. Ren hanya memiringkan kepalanya, rambutnya yang kotor menutupi sebagian wajahnya.

Arifin masuk ke dalam rumah dan keluar membawa sebuah piring seng berisi nasi hangat dan sepotong ikan asin goreng. Aromanya terbawa angin, langsung menuju hidung Ren. Arifin meletakkan piring itu di undakan tangga teras, lalu ia sendiri duduk agak jauh, di kursi rotan yang sudah reyot.

"Makan di sini. Jangan lari ke hutan lagi," ucap Arifin lembut.

Ren bergerak ragu. Ia merangkak pelan, gerakannya lebih mirip predator daripada manusia. Begitu sampai di depan piring, ia tidak menggunakan sendok. Ia menciduk nasi itu dengan tangan kosong dan melahapnya dengan rakus.

"Pelan-pelan... nggak akan ada yang ambil," gumam Arifin. Ia merasa dadanya sesak melihat pemandangan itu. Bagaimana bisa seorang anak kecil dibiarkan hidup seperti ini di zaman sekarang?

Setelah piring bersih, Ren tidak langsung pergi. Ia menatap Arifin dengan rasa ingin tahu yang lebih berani. Arifin memanfaatkan momen itu. Ia mengambil handuk bersih dan sabun batang yang baru dibelinya dari warung bawah.

"Ren, kamu bau. Bau matahari, bau tanah... bau hutan," kata Arifin sambil tersenyum tipis. "Sini, abang mandikan."

Ren langsung waspada begitu mendengar kata "mandi". Ia mundur dua langkah, giginya sedikit menyeringai. Air adalah hal asing baginya kecuali air hujan atau sungai yang dingin.

"Nggak sakit, kok. Segar. Lihat," Arifin menyiramkan sedikit air dari gayung ke tangannya sendiri. "Dingin, kan?"

Ren menatap air yang jatuh ke tanah. Ia tampak bimbang. Arifin tidak memaksa. Ia hanya meletakkan gayung itu dan mendekat perlahan, setapak demi setapak. Saat jarak mereka tinggal satu meter, Arifin bisa mencium aroma tubuh Ren yang asam dan kotor.

Arifin mengulurkan tangan, kali ini bukan untuk memberi makan, tapi untuk menyentuh. "Boleh?" bisiknya.

Ren membeku. Saat jemari Arifin yang halus menyentuh puncak kepala Ren yang kasar dan penuh kotoran, bocah itu gemetar hebat. Ia belum pernah disentuh dengan kelembutan seperti itu. Biasanya, orang-orang desa akan melemparinya batu jika ia ketahuan mencuri jemuran atau makanan.

Sentuhan Arifin hangat. Berbeda dengan hawa gunung yang menggigit.

Ren tidak kabur. Ia justru memejamkan mata, membiarkan telapak tangan Arifin mengusap kepalanya perlahan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang liar, Ren merasakan sesuatu yang disebut rasa aman.

"Nah, gitu..." Arifin tersenyum lega. "Besok kita coba pakai air, ya?"

Ren hanya mengeluarkan suara dengkuran halus dari hidungnya, sebuah tanda bahwa ia mulai menerima kehadiran Arifin.

Tanpa mereka sadari, di langit yang cerah itu, takdir sedang menghitung mundur hari-hari sebelum semuanya direnggut dari ingatan Arifin.

#BERSAMBUNG

Sarang Burung di Gunung Sakti

Seminggu di desa, Arifin mulai terbiasa sama pemandangan bocah dekil yang jongkok di bawah pohon nangka tiap siang. Tapi ada satu hal yang bikin Arifin gatel banget tiap kali ngeliat Ren: rambutnya.

Gila, itu rambut udah kayak sarang burung beneran. Isinya ranting, daun kering, bahkan mungkin ada kutu atau kecoa saking awut-awutan dan gimbalnya.

"Ren, sini deh. Gue nggak bakal gigit," panggil Arifin sambil nenteng gunting dapur sama sisir plastik yang dia temuin di laci meja neneknya.

Ren langsung masang tampang waspada. Dia ngeliat gunting di tangan Arifin kayak ngeliat taring macan. "Grrr..."

"Nggak usah pake geram-geram segala. Rambut lo itu udah nutupin mata, entar lo nabrak pohon gimana?" Arifin duduk di undakan teras, nepuk-nepuk lantai di sampingnya. "Sini. Abang mau rapihin dikit doang. Janji deh nggak bakal sakit."

Ren diem lama banget. Matanya bolak-balik ngeliat gunting terus ngeliat muka Arifin. Entah kenapa, tiap kali ngeliat muka Arifin yang tenang, Ren ngerasa pertahanannya runtuh. Pelan-pelan, dia jalan mendekat—masih dengan gaya merangkak yang belum hilang total—terus duduk di bawah kaki Arifin.

"Nah, gitu dong. Kan ganteng kalau nurut," gumam Arifin.

Begitu Arifin nyentuh rambut Ren, dia langsung meringis. "Gila... ini rambut apa kawat duri? Lengket banget lagi."

Arifin mulai motong bagian yang paling gimbal dulu. Crak, crak. Tiap kali bunyi gunting kedengeran, bahu Ren langsung tegang. Dia gemeteran, tangannya nyengkeram celana jeans Arifin kenceng banget.

"Santai, Ren. Nggak apa-apa," Arifin ngelus tengkuk Ren sebentar buat nenangin. "Lo laper ya? Tadi Abang gorengin bakwan, tuh di piring. Makan aja sambil abang potongin."

Ren langsung nyambar bakwan jagung di piring tanpa babibu. Dia ngunyah kenceng banget, suaranya crunchy sampe Arifin ketawa kecil.

Sambil Ren asyik makan, Arifin mulai telaten motongin rambut yang berantakan itu. Pelan-pelan, wajah asli Ren mulai kelihatan. Ternyata anak ini punya garis muka yang tegas, hidungnya mancung, dan matanya... matanya itu bening banget kalau nggak lagi ketutupan rambut.

"Nah, cakep kan kalau begini," kata Arifin pas udah selesai. Dia ngambil cermin kecil, terus dipasang di depan muka Ren.

Ren kaget. Dia belum pernah liat mukanya sendiri sejelas itu. Dia megang pipinya sendiri, terus megang rambutnya yang sekarang udah pendekan dan nggak gatel lagi. Dia natap bayangannya di cermin, terus natap Arifin.

Tiba-tiba, Ren narik kaos Arifin pelan. Dia nunjuk dadanya sendiri, terus nunjuk Arifin.

"A... A... Pin?" suaranya serak banget, kayak orang yang udah bertahun-tahun nggak pake pita suaranya.

Arifin bengong. Dia kaget setengah mati. "Kau... manggil namaku?"

Ren ngangguk pelan. "A... pin."

Arifin langsung senyum lebar banget sampe matanya nyipit. Dia ngacak-ngacak rambut Ren yang baru dipotong itu. "Bukan Apin, Ren. Arifin. Panggil 'Abang' aja kalau susah. A... bang. Coba?"

Ren ngerutin dahi, kelihatan mikir keras. "...Bang?"

"Nah! Pinter!" Arifin ngerasa seneng banget, padahal cuma dipanggil 'Bang' doang. Rasanya kayak menang lotre.

...----------------...

Pagi itu kabut masih tebal di halaman belakang. Arifin sudah bangun sejak subuh buat nimba air di sumur. Suara derit katrol sumur itu rupanya ngebangunin Ren yang tidur di tumpukan kain sarung di pojok ruang tamu.

Begitu Arifin bawa ember penuh air ke arah kamar mandi terbuka di belakang rumah, dia ngeliat Ren udah jongkok di sana. Matanya ngantuk, tapi tetep waspada.

"Nah, pas banget udah bangun. Sini, waktunya mandi beneran," panggil Arifin. Dia udah nyiapin sabun batang warna hijau sama botol sampo kecil.

Ren geleng-geleng kepala. Dia mundur dua langkah, matanya ngeliat air di ember kayak ngeliat musuh. "Dingin... Bang," gumamnya pelan. Suaranya masih serak banget.

Arifin ketawa kecil. "Ya emang dingin, namanya juga air gunung. Tapi kalau nggak mandi, badan kamu gatel-gatel terus nanti. Sini, Abang bantuin."

Arifin nggak maksa. Dia cuma nyiduk air sedikit pake gayung, terus disiramin ke kaki Ren pelan-pelan. Ren kaget, dia lompat kecil, tapi nggak lari. Rasanya ternyata nggak seburuk yang dia bayangin.

"Tuh, nggak apa-apa kan? Segar," kata Arifin. Pelan-pelan, dia nyiram punggung Ren.

Begitu kena air, kulit Ren yang tadinya kusam karena debu mulai kelihatan warna aslinya. Arifin lalu gosok sabun ke telapak tangannya sampai berbusa banyak. Dia usap busa itu ke bahu Ren.

Ren bengong. Dia megang busa putih di badannya, terus matanya berbinar. "Apa... ini?"

"Ini namanya sabun. Biar wangi, biar kuman-kumannya hilang," jawab Arifin sambil mulai ngegosok punggung Ren pake waslap pelan-pelan. "Tahan ya, agak geli sedikit."

Ren diem aja, dia kayak lagi ngerasain sensasi baru. Bau sabun itu wangi banget, beda sama bau tanah yang biasa dia cium. Pas Arifin keramasin rambutnya pake sampo, Ren malah merem. Dia kayaknya mulai menikmati pijatan tangan Arifin di kepalanya.

"Nah, sekarang bilas. Tarik napas ya, satu... dua... tiga!"

Byur!

Arifin nyiram air seember penuh ke kepala Ren. Ren gelagapan sebentar, batuk-batuk kecil sambil ngusap mukanya yang basah kuyup. Tapi setelah itu, dia malah ketawa. Itu pertama kalinya Arifin denger Ren ketawa—suara tawa yang pendek dan malu-malu.

"Wah, pinter. Gitu dong," Arifin langsung nyelimutin badan Ren pake handuk kering begitu selesai. Dia gosok-gosok rambut Ren biar cepet kering.

Ren ngendus-ngendus bau tangannya sendiri. Bau lemon. Dia kelihatan seneng banget sampai nggak berhenti nyiumin lengannya sendiri.

"Bang... wangi," ucap Ren sambil natap Arifin.

Arifin senyum sambil ngerapiin kerah kaos bekas yang dia kasih buat Ren. "Iya, wangi. Jadi jangan main di lumpur lagi ya habis ini? Nanti siang kita belajar baca sebentar, mau?"

Ren nggak ngerti apa itu "belajar baca", tapi selama itu bareng Arifin, dia cuma ngangguk mantap. Dia ngerasa, selama dia ada di dekat pemuda ini, dunia yang biasanya keras dan dingin jadi terasa sedikit lebih hangat.

Arifin ngelihat Ren dengan rasa sayang yang makin tumbuh.

#BERSAMBUNG

Coretan di Atas Kertas

Matahari sore itu nggak terlalu terik, pas banget buat duduk-duduk di teras. Arifin bawa buku tulis garis-garis sama pensil yang udah diraut tajam. Dia duduk lesehan, terus nepuk lantai di sampingnya biar Ren deketan.

"Sini bentar, Ren. Jangan main tanah mulu," panggil Arifin.

Ren yang tadinya lagi asyik ngeliatin semut baris, langsung nyamperin. Dia duduk mepet banget sama Arifin, sampe bahu mereka nempel. Ren emang gitu, makin ke sini dia makin nempel kayak perangko, seolah takut kalau jauh dikit Arifin bakal ilang.

"Nih, liat ya," Arifin mulai nulis huruf kapital gede-gede di kertas. "Ini namanya A. A buat Abang. Coba ikutin."

Ren ngerutin dahi. Dia megang pensil itu kayak megang ranting pohon, kaku banget. Tangannya yang kecil dan agak kasar itu gemeteran pas nyoba bikin garis miring.

"Pelan-pelan aja, nggak usah buru-buru," kata Arifin sabar. Dia megang tangan Ren dari belakang, nuntun jari-jari bocah itu buat ngebentuk huruf A yang bener.

Ren nahan napas. Dia ngerasa tangan Arifin anget banget pas ngebungkus tangannya. Wangi sabun dari badan Arifin bikin Ren ngerasa tenang, beda banget sama bau hutan yang selama ini dia tau.

"Bisa?" tanya Arifin pas satu huruf udah jadi.

Ren ngangguk pelan. Dia natap huruf A itu lama banget. "A... Bang?"

"Iya, bener banget. Terus yang ini..." Arifin nulis huruf R. "Ini R. R buat Ren. Nama kamu."

Ren kaget. Dia ngetuk-ngetuk huruf R itu pake ujung jarinya. "Ren?"

"He-eh. Itu nama kamu. Bagus, kan?" Arifin senyum, terus dia ngacak-ngacak rambut Ren yang udah rapi. "Kalau kamu udah pinter baca, nanti Abang ajak jalan-jalan ke kota. Di sana rame, banyak lampu, banyak mainan juga."

Ren diem bentar. Dia nggak terlalu peduli soal kota atau mainan. Dia cuma peduli sama satu hal. "Bang... di kota... bareng?"

Arifin ketawa kecil, suaranya kedengeran adem banget di telinga Ren. "Iya, bareng dong. Masa kamu Abang tinggal di sini sendiri? Kan Abang udah janji mau jagain kamu."

Ren nggak jawab lagi, tapi dia nunduk dalem-dalem buat lanjut nulis huruf R berkali-kali di kertas itu. Dia pengen cepet-cepet pinter, biar janji itu beneran kejadian. Dia belum tau kalau jalan menuju kota itu bakal panjang banget.

"Capek nggak?" tanya Arifin pas ngeliat Ren fokus banget.

Ren geleng kepala. "Lagi... mau lagi."

"Dikit-dikit aja belajarnya, biar nggak pusing. Sekarang kita makan sore dulu yuk, Abang udah masak sayur asem," ajak Arifin sambil nutup buku itu.

Ren ngikutin Arifin masuk ke dalem rumah, tapi matanya masih nempel ke buku tulis tadi. Di dalem kepalanya, cuma ada dua huruf yang dia inget banget: A buat Abang, dan R buat Ren. Dua huruf yang menurut dia nggak boleh kepisah, gimana pun caranya.

...----------------...

Pagi itu Arifin lagi asyik nyapu halaman depan yang penuh daun kering. Ren ada di deketnya, lagi jongkok sambil ngeliatin lubang semut—hobi barunya sejak dia tau kalau semut itu punya "rumah" di dalem tanah.

Tiba-tiba, ada suara motor butut berhenti di depan pagar kayu mereka. Seorang bapak-bapak pake topi caping, namanya Mang Jaka, turun sambil bawa keranjang bambu berisi telur sama sayuran.

"Permisi, Mas Arifin!" seru Mang Jaka dari depan pagar.

Arifin langsung berenti nyapu. "Eh, Mang Jaka. Mari Mang, masuk dulu."

Tapi begitu Mang Jaka melangkah masuk ke halaman, suasana yang tadi tenang langsung berubah drastis. Ren yang tadinya diem, tiba-tiba berdiri tegak. Badannya tegang banget, matanya tajem natap Mang Jaka, persis kayak kucing hutan yang mau nerjang mangsa.

"Grrr..."

Suara geraman rendah itu keluar dari tenggorokan Ren. Dia melangkah pelan, berdiri di depan Arifin seolah-olah mau jadi tameng. Tangannya ngepal kenceng, dan giginya sedikit kelihatan.

Mang Jaka langsung berenti jalan, mukanya kelihatan kaget campur takut. "Aduh, ini bocah liar itu ya? Masih galak aja ternyata."

"Ren, jangan gitu!" Arifin kaget liat reaksi Ren. Dia buru-buru megang bahu Ren, nyoba buat nenangin. "Ini Mang Jaka, dia temen Abang. Dia mau bawain makanan buat kita."

Tapi Ren nggak dengerin. Dia makin ngerendahin badannya, siap-siap mau nerjang kalau Mang Jaka maju satu langkah lagi. Buat Ren, siapa pun yang asing itu adalah ancaman buat Arifin.

"Ren, dengerin Abang!" Arifin kali ini agak tegas, dia narik pelan tangan Ren. "Nggak apa-apa, Mang Jaka orang baik. Sini, balik ke belakang Abang."

Ren noleh dikit ke Arifin. Matanya yang tadi penuh amarah perlahan mulai melunak, tapi dia tetep nggak mau pindah dari posisinya. Dia cuma diem, tapi matanya nggak lepas dari tiap gerak-gerik Mang Jaka.

"Maaf ya Mang, dia emang agak kaget kalau ada tamu," kata Arifin nggak enak hati. Dia nyamperin Mang Jaka buat ngambil belanjaan, sementara Ren tetep nempel di belakang Arifin, megangin ujung kaosnya kenceng banget.

Mang Jaka geleng-geleng kepala. "Hati-hati, Mas Arifin. Anak begini kalau nggak diajarin bener bisa bahaya. Namanya juga anak hutan, instingnya masih tajam banget."

Arifin cuma senyum tipis. Dia tau Mang Jaka nggak bermaksud jahat, tapi denger Ren dibilang "bahaya" bikin hatinya agak sesek.

Setelah Mang Jaka pergi, Arifin duduk di kursi teras. Dia narik Ren biar berdiri di depannya. "Ren, kenapa tadi gitu? Kasihan Mang Jaka jadi takut."

Ren nunduk, dia nggak berani natap mata Arifin. Dia cuma nggumam pelan, "Orang... asing... bahaya buat Bang Arifin."

Arifin diem bentar. Dia baru sadar kalau ketakutan Ren itu bukan buat dirinya sendiri, tapi buat Arifin. Ren takut kalau ada orang lain yang bakal misahin mereka atau nyakitin Arifin.

"Denger ya, Ren. Nggak semua orang itu jahat," Arifin ngelus kepala Ren lembut banget. "Nanti di kota, bakal banyak orang yang kamu temuin. Kamu nggak bisa gerem-gerem terus kayak gitu. Kamu harus belajar percaya sama Abang, ya?"

Ren cuma diem, tapi dia nyembunyiin mukanya di perut Arifin, meluk pinggang Arifin erat banget seolah nggak mau lepas. "Cuma Bang Arifin... yang Ren mau."

Arifin ngehela napas panjang sambil bales meluk bahu kecil itu. Dia ngerasa tanggung jawabnya makin gede. Dia harus pelan-pelan ngajarin Ren soal dunia, sebelum waktu mereka di desa ini habis.

#BERSAMBUNG

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!