Indonesia
NovelToon NovelToon

Istri Kedua Mafia

Bab 1 Awal

"Aku tidak peduli apa kata ibumu, Dom! Tubuhku adalah asetku. Sekali aku hamil, kontrakku dengan Vogue dan Paris Fashion Week hancur. Kau mau aku jadi ibu rumah tangga yang membosankan dan kehilangan bentuk tubuh?" Suara Clara melengking tajam seperti belati yang menyayat keheningan ruang kerja itu.

Clara berdiri di tengah ruangan, masih mengenakan gaun sutra merah darah yang membalut tubuh rampingnya dengan sempurna. Tidak ada gurat keibuan di sana, hanya ambisi yang menyala-nyala.

Dominic tidak bergeming dari kursi kebesarannya. Ia menyesap wiski di gelas kristalnya, matanya yang sedingin es menatap lurus ke arah istrinya.

"Lima tahun, Clara. Lima tahun aku memberimu ruang untuk mengejar ambisimu. Tapi ibuku benar, sebuah imperium tanpa pewaris hanyalah menunggu waktu untuk runtuh."

"Oh, jadi sekarang kau mulai mendengarkan ocehan wanita tua itu?" Clara tertawa sinis, lalu melangkah mendekat dan menopang tangannya di meja kerja Dominic. "Ibumu hanya ingin boneka baru untuk dididik menjadi monster sepertimu. Aku bukan pabrik bayi, Dom!"

Prak!

Gelas di tangan Dominic menghantam meja dengan keras. Isinya muncrat ke atas dokumen-dokumen penting, tapi ia tidak peduli.

Dominic berdiri, membuat Clara refleks mundur selangkah karena intimidasi yang terpancar dari tubuh tegap pria itu.

"Jangan pernah menyebut ibuku seperti itu lagi," desisnya sembari melangkah memutari meja, menyudutkan Clara hingga punggung wanita itu menabrak rak buku. "Kau tahu persis siapa aku saat kau menerima cincin ini. Kau tahu bahwa dalam duniaku, kesetiaan dan keturunan adalah mata uang tertinggi. Kau menikmati fasilitas sebagai istri seorang Dominic, kau menikmati perlindungan namaku, tapi kau menolak kewajibanmu?"

Clara mendongak, mencoba mempertahankan harga dirinya meski napasnya mulai memburu.

"Aku istrimu, bukan pelayanmu! Karirku sedang di puncak, Dom. Aku baru saja terpilih menjadi brand ambassador internasional. Kau pikir aku akan membuang semua itu hanya untuk muntah-muntah di pagi hari dan perut buncit?"

"Lalu sampai kapan aku harus menunggu?" tanya Dominic, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Clara. "Sampai kau keriput dan tidak ada lagi kamera yang mau melirik mu? Saat itu mungkin rahimmu sudah terlalu tua untuk memberi apa yang aku butuhkan."

"Kalau begitu cari saja wanita lain untuk melakukannya!" Clara berteriak, frustrasi. "Sewa rahim, atau tidur dengan siapa pun yang kau mau. Aku tidak peduli, asal jangan ganggu hidupku!"

Dominic menatap Clara dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara penghinaan dan kekecewaan yang mendalam.

"Kau baru saja memberikan izin yang tidak akan bisa kau tarik kembali, Clara," ucap Dominic tenang. Terlalu tenang, dan itu jauh lebih menakutkan daripada kemarahannya.

"Apa maksudmu?"

Dominic tidak menjawab. Ia berbalik, mengambil ponselnya di meja. "Pergilah. Aku ada pertemuan yang harus diselesaikan."

"Kita belum selesai bicara!"

"Aku bilang pergi!" bentak Dominic.

Clara tersentak, matanya berkaca-kaca karena marah, tapi ia tahu kapan harus berhenti sebelum Dominic benar-benar meledak.

Dengan geraman rendah, ia menyambar tasnya dan keluar dari ruangan itu, membanting pintu hingga getarannya terasa sampai ke tulang.

Dominic menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak menyangka pernikahan yang awalnya ia kira akan menjadi aliansi yang kuat justru menjadi beban yang menyesakkan.

Pikirannya beralih pada ibunya yang tadi sore kembali menelpon, menangis, memohon agar ia segera memberikan cucu karena kesehatannya yang mulai menurun.

Tok! Tok!

Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya.

"Masuk " perintah Dominic.

Marco, tangan kanan sekaligus orang kepercayaannya, melangkah masuk dengan raut wajah serius. Ia memegang sebuah map tipis.

"Tuan, ada masalah di klab malam milik keluarga nona Clara," lapor Marco singkat.

Dominic menaikkan sebelah alisnya. Ia jarang berurusan dengan keluarga tiri istrinya yang ia anggap parasit. "Apa urusannya denganku?"

"Mereka mencoba menjebak seseorang untuk menutupi hutang kasino mereka. Seseorang yang tampaknya punya nilai jual tinggi di pasar gelap. Namanya nona Keyla."

Dominic terdiam sejenak. Nama itu asing, namun instingnya bereaksi. "Keyla? Siapa dia?"

"Adik tiri nona Clara. Yang selama ini mereka sembunyikan di rumah belakang."

Dominic menyandarkan punggungnya, lalu menyalakan sebatang cerutu. "Kirim orang ke sana. Aku bosan dengan drama Clara malam ini. Mungkin melihat kekacauan di keluarganya bisa menjadi hiburan tersendiri untukku."

"Baik, Tuan."

Dominic tidak tahu, bahwa keputusannya untuk melihat kekacauan itu akan membawanya pada pertemuan dengan seorang gadis yang akan mengubah seluruh rencananya.

*

*

"Tolong, Ibu... Aku mohon, jangan lakukan ini. Aku akan kerja apa saja, cuci piring, bersih-bersih klub setiap hari, tolong jangan jual aku!" tangis gadis itu pecah dan terdengar menyesakkan dada.

Ia bersimpuh di lantai, meremas ujung gaun merah pendek yang dipaksa melekat di tubuhnya.

Gaun itu terlalu terbuka, memamerkan kulit beningnya yang kini gemetar hebat.

Siska, ibu tirinya, hanya menyesap rokok tipis di jemarinya sambil menatap Keyla dengan pandangan jijik.

"Kerja apa? Gaji cuci piring tidak akan cukup membayar hutang kasino keluargamu, Keyla. Tubuhmu itu aset, satu-satunya hal berharga yang kamu punya."

"Ayah... Ayah, tolong Keyla..." mata sembab Keyla beralih pada sosok pria paruh baya yang berdiri mematung di sudut ruangan.

Pria itu, ayahnya sendiri, hanya menunduk dalam. Tangannya mengepal, tapi mulutnya terkunci rapat. Ia tak berani menatap mata putrinya.

"Jangan berharap pada ayahmu. Dia sudah setuju," potong Siska dingin. Ia memberi isyarat pada dua pria berbadan besar di belakangnya. "Pegang dia!"

"Tidak! Kumohon!" Keyla meronta, namun lengannya dicengkeram kuat hingga memerah.

Siska mendekat, membawa sebuah gelas berisi cairan bening dengan aroma alkohol yang tajam. Di dalamnya, sebuah pil kecil sudah melarut sempurna.

"Minum ini. Biar kau tidak terlalu tegang saat melayani tamu spesial kita nanti," ucap Siska dengan senyum iblis.

"Nggak mau... tolong, jangan... hiks... aku mohon..." Keyla menggeleng kuat, air matanya membanjiri pipi.

"Buka mulutnya!" bentak Siska.

Salah satu pria menjambak rambut Keyla ke belakang, memaksa wajahnya mendongak sementara pria lain menjepit rahangnya hingga terbuka.

Keyla terdesak, napasnya tersengal karena ketakutan yang luar biasa.

"Telan atau keluargamu akan kupastikan membusuk di penjara malam ini juga!" ancam Siska tepat di depan wajah Keyla.

Cairan pahit dan panas itu dipaksa masuk ke kerongkongan Keyla. Ia terbatuk-batuk hebat saat rasa panas mulai menjalar dari tenggorokan menuju perutnya.

"Bagus. Sekarang kunci dia di kamar 404. Sebentar lagi tamunya datang," perintah Siska tanpa perasaan.

Kesadaran Keyla mulai hilang. Rasa panas yang tidak wajar pun membakar dadanya, membuat jantungnya berdegup tidak karuan.

"Kalian semua jahat..." isak Keyla saat pintu kamar tertutup rapat, meninggalkannya seorang diri.

Bab 2 Masih Pera-wan?

"Tuan, ini kamarnya. Nomor 404," ucap Marco sambil menunduk hormat, tangannya memegang kunci kartu elektrik yang baru saja ia terima dari resepsionis.

Dominic berdiri di depan pintu dengan wajah datar dan rahangnya mengeras. "Kau yakin ini cara yang benar, Marco? Membeli wanita dari keluarga tidak jelas itu?"

Marco mengangkat bahu tipis. "Anda butuh pelampiasan, Tuan. Dan jujur saja, setelah mendengar nona Clara berteriak tadi, saya rasa anda butuh sesuatu yang jauh lebih tenang daripada seorang model yang terlalu banyak bicara."

"Wanita tetaplah wanita, Marco. Mereka semua sama. Hanya menginginkan uang dan kuasa," desis Dominic dingin. Ia menyambar kartu itu dari tangan Marco. "Tunggu di sini. Jangan biarkan siapa pun mengganggu, termasuk istriku jika dia menelepon."

"Dimengerti, Tuan. Selamat menikmati malam anda."

Pintu pun terbuka. Dominic melangkah masuk ke dalam kegelapan yang hanya diterangi lampu remang-remang di sudut ruangan.

Awalnya, ia berniat untuk sekadar duduk, merokok, dan membiarkan wanita di dalam sana meringkuk di pojokan. Karena ia tidak tertarik pada pemuasan nafsu sesaat.

Namun, suara rintihan kecil dari atas tempat tidur menghentikan langkahnya.

"Panas... tolong aku.. siapapun... ini sangat panas..."

Dominic mendekat. Di sana, di atas seprai putih yang kini berantakan, seorang gadis meringkuk dengan tubuh gemetar hebat.

Rambut panjangnya menutupi wajah, namun kulit bahunya yang terekspos tampak memerah, seolah-olah ada api yang membakar dari dalam.

"Ada apa denganmu?" tanya Dominic.

Gadis itu mendongak. Matanya berubah sayu dan berkaca-kaca karena pengaruh obat yang dipaksakan ibu tirinya.

Saat melihat sosok pria tinggi tegap di hadapannya, Keyla tidak lari. Alih-alih takut, ia justru merangkak mendekat, tangannya yang mungil meraih ujung kemeja mahal Dominic.

"Tolong... bantu aku... aku tidak tahan..." rintih Keyla dengan serak dan penuh penderitaan sekaligus gai-rah yang tak terkendali.

Dominic menatapnya dengan pandangan menghina. "Jadi ini caramu merayu pelanggan? Dengan akting kepanasan, hum?"

"Bukan... hiks... mereka memberiku sesuatu... tolong, kepalaku mau pecah..."

Tanpa aba-aba, tangan Keyla yang gemetar mulai menarik ritsleting gaun merahnya. Dengan gerakan kasar dan putus asa, ia melepaskan kain tipis itu hingga jatuh ke lantai, menyisakan tubuh polosnya.

Keyla tidak peduli dengan rasa malu, ia hanya ingin rasa terbakar di kulitnya hilang.

Dominic menelan ludah. Matanya yang biasanya sedingin es tiba-tiba menangkap sesuatu yang berbeda. Ia menatap mata Keyla, mata yang jernih meski sedang dikaburkan obat, mata yang memancarkan kesedihan mendalam sekaligus kepolosan yang belum pernah ia temui.

Sesuatu di dalam dada Dominic meledak. Itu bukan sekadar nafsu, tapi dorongan posesif yang liar.

Pikirannya melayang pada Clara, wanita yang selalu menolaknya, yang egois, yang dingin. Dan sekarang, di depannya, ada seorang gadis yang memohon bantuannya dengan cara yang paling primitif.

"Kau tidak tahu apa yang kau minta, Gadis Kecil," desis Dominic. Ia mencengkeram rahang Keyla, memaksanya menatapnya.

"Lakukan... apa saja... asalkan rasa panas ini hilang..." Keyla berbisik lirih, air matanya jatuh mengenai ibu jari Dominic.

"Aku harus melayani mu... supaya keluargaku selamat... kumohon..."

Mendengar kata melayani dan keluarga, amarah Dominic memuncak. Ia benci bagaimana dunia ini bekerja, dan ia benci bagaimana ia tiba-tiba merasa begitu menginginkan gadis ini.

Dengan satu sentakan kasar, Dominic mendorong Keyla kembali ke tempat tidur dan menindihnya.

Pria itu membungkam bibir Keyla dengan ciuman yang brutal. Ia me-lumatnya, menyesap setiap sisa rasa alkohol dan keputusasaan di sana.

Keyla menjerit dalam ciuman itu, tangannya mencengkeram bahu kokoh Dominic, mencoba mencari pegangan di tengah badai yang menghantamnya.

Saat Dominic memasukinya dengan sekali sen-takan kuat, sebuah jeritan kesakitan yang menyayat hati memenuhi ruangan.

"Aakh! Sakit... berhenti... tolong sakit sekali..." Keyla terisak, tubuhnya menegang kaku. Darah segar merembes di atas seprai putih itu.

Dominic membeku. Napasnya memburu di ceruk leher Keyla. "Kau masih pera-wan?"

Selama hidupnya, Dominic tidak pernah menyentuh wanita lain kecuali istrinya. Dan ia tahu persis bahwa Clara tidak pernah memberikan hadiah pertama spesial seperti ini padanya.

Gadis ini adalah yang kedua, namun dia adalah yang pertama yang benar-benar memberikan mahkotanya tanpa syarat, meski di bawah paksaan.

"Hiks... sakit... tapi jangan berhenti..." Keyla meracau, pengaruh obat itu membuatnya kehilangan akal sehat. "Lanjutkan..."

Dominic tidak bisa menahan diri lagi. Rasa sempit yang menjepit miliknya seolah-olah mengunci jiwanya.

Ia bergerak dengan ritme yang semakin cepat, melampiaskan seluruh kekesalannya pada Clara, pada ibunya, dan pada dunia lewat tubuh kecil Keyla.

Setiap erangan Keyla menjadi candu baru baginya.

Ia merasa haus, sangat haus, dan hanya gadis di bawahnya ini yang bisa memuaskannya.

*

*

Sementara itu, di luar pintu, Marco bersandar di dinding sambil memainkan ponselnya. Tiba-tiba, benda itu bergetar hebat.

Dan nama Clara muncul di layar.

Marco menghela napas panjang, lalu menggeser tombol hijau.

"Ya, Nona Clara?" ucap Marco dengan nada yang dibuat-buat sopan.

"Marco! Di mana Dominic?! Kenapa dia tidak mengangkat teleponku? Berikan ponselnya padanya sekarang!" teriak Clara bahkan tanpa perlu fitur loudspeaker.

Marco menjauhkan ponsel itu sedikit dari telinganya, lalu meringis. "Aduh, Nona. Tuan Dominic sedang... ah, dia sedang ada rapat dadakan. Sangat mendadak. Dan tidak bisa diganggu."

"Rapat apa jam begini?! Aku tahu dia marah soal tadi, tapi jangan kekanak-kanakan! Suruh dia pulang sekarang!"

"Wah, saya rasa rapat kali ini butuh waktu semalam suntuk, Nona. Maklum, banyak masalah teknis yang harus diselesaikan secara manual," jawab Marco sambil menahan tawa.

Ia membayangkan wajah Clara yang mungkin sedang memakai masker wajah seharga puluhan juta namun hatinya terbakar cemburu.

"Kau bicara apa, Marco? Kau pikir aku bodoh?! Katakan di mana kalian!"

"Kami di... aduh, sinyalnya jelek sekali, Nona. Kresek... kresek... Sepertinya saya masuk ke area tanpa jangkauan. Sampai jumpa besok pagi!"

Klik!

Marco mematikan sambungan itu dan langsung memblokir nomor Clara untuk sementara. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding, mendengar sayup-sayup suara rintihan dari balik pintu 404.

"Kasihan sekali nona model itu," gumam Marco sambil menggeleng-geleng. "Disentuh suaminya saja tidak mau, sekarang suaminya sedang mencicipi hidangan penutup yang jauh lebih manis. Memang benar kata orang, jangan sombong kalau punya barang berharga, nanti dipinjam orang lain tanpa izin."

Bab 3 Kita Akan Menikah

Keyla membuka mata, tubuhnya seakan remuk, seolah setiap inci tulangnya dipatahkan dan disatukan kembali secara paksa.

Ia melirik seprai putih yang kini menyisakan noda merah yang telah mengering, saksi bisu kehormatan yang ia tukar dengan tumpukan hutang kasino keluarganya.

Di sampingnya, pria itu masih terlelap. Wajahnya yang tegas dengan bayangan bulu halus di rahangnya tampak begitu tenang, sangat kontras dengan kegilaan yang ia ciptakan semalam.

Keyla menahan napas, berusaha bangkit perlahan tanpa suara.

"Aku harus pergi. Ibu harus tahu kalau tugas ini sudah selesai. Aku bebas," batinnya.

Namun, baru saja kakinya menyentuh lantai, sebuah suara berat yang serak khas bangun tidur menghentikan gerakannya.

"Mau kemana kau?"

Keyla tersentak, refleks menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Ia menoleh dan mendapati pria itu sudah menumpu kepala dengan lengannya, menatapnya tajam.

"Aku... aku mau pulang. Bukankah tugasku sudah selesai?" jawab Keyla lirih, suaranya hampir hilang di tenggorokan.

Dominic mendengus sinis, ia bangkit duduk, membiarkan otot-otot dadanya yang kokoh terekspos. "Siapa bilang tugasmu sudah selesai? Bersihkan dirimu. Aku tunggu di bawah dalam tiga puluh menit."

Keyla mengerutkan kening, bingung sekaligus takut.

"Maksud Tuan apa? Aku tidak mau lagi berurusan dengan Tuan. Hutang keluargaku sudah lunas, kan?"

Keyla tahu watak ibu tirinya. Jika ia terus berhubungan dengan pria ini, Siska pasti akan terus memerasnya, menjadikannya sapi perah tanpa henti.

Keyla hanya ingin kembali ke kehidupannya yang normal. Kuliah, belajar, dan melupakan mimpi buruk ini.

Dominic berdiri, melangkah mendekat dengan aura intimidasi yang membuat oksigen di ruangan itu seolah menipis. "Kita akan menikah."

"A–apa? Menikah?" pekik Keyla dengan matanya membulat sempurna. "Tuan gila? Aku tidak mau menikah denganmu! Aku masih kuliah, aku punya masa depan, dan... dan aku juga punya kekasih!"

Mendengar kata kekasih, sudut bibir Dominic terangkat, membentuk senyum kecut yang menghina.

"Kekasih? Gadis mana yang punya kekasih tapi mau menjual dirinya pada pria asing sepertiku demi uang?" Dominic meraih dagu Keyla, memaksanya mendongak.

"Kekasihmu itu pasti akan sangat kecewa jika tahu apa yang kita lakukan berkali-kali semalam, bukan? Dia tidak akan sudi menyentuh barang bekas dariku," lanjutnya.

Deg!

Jantung Keyla seolah berhenti berdetak. Kata-kata itu menghujam tepat di ulu hatinya.

Benar, jika pacarnya tahu, dunia mereka akan hancur. Tapi menikah dengan pria asing ini? Itu sama saja masuk ke lubang singa yang lain.

"Jangan banyak protes lagi. Aku paling tidak suka menunggu. Cepat masuk ke kamar mandi atau aku sendiri yang akan menyeretmu ke sana," ucap Dominic dingin, lalu ia mulai memakai pakaiannya seolah keberadaan Keyla di sana hanya angin lalu.

Bagi Dominic, prinsip hidupnya sederhana namun kaku. Ayah dan ibunya mendidiknya dengan kode kehormatan yang keras, jika kau merusak sesuatu, kau harus bertanggung jawab.

Dan semalam, ia tidak hanya merusak, ia mengambil sesuatu yang tak bisa dikembalikan.

Jika ibunya tahu ia menelantarkan gadis perawan yang telah ia tiduri, kepalanya bisa benar-benar dipenggal oleh tradisi keluarga besarnya.

"Sial! Harusnya aku tidak terjebak dengan gadis ini," gumam Dominic pelan sambil memijat keningnya saat ia keluar dari kamar.

Tapi dalam hati kecilnya, ia tak bisa memungkiri bahwa aroma tubuh Keyla dan rintihan gadis itu semalam telah menjadi candu yang mulai meracuni logikanya.

*

*

Di luar kamar, Marco berdiri tegak dengan setelan jas yang sedikit kusut. Matanya yang merah dan kantung mata hitam yang menggantung menunjukkan bahwa ia benar-benar tidak tidur semenit pun.

"Anda sudah selesai, Tuan? Mari kita pulang sekarang sebelum saya pingsan karena kurang kafein," ucap Marco dengan suara lemas.

Dominic mengeluarkan cerutunya, menyalakannya dengan tenang. "Bodoh. Harusnya kau bisa menunggu di kamar lain dan menikmati para wanita di klub ini, bukannya berdiri seperti patung di depan pintu."

Marco memutar bola matanya malas. "Yah, saya tidak suka jajan sembarangan, Tuan. Prinsip saya itu exclusive. Kalaupun mau melakukannya, saya ingin dengan wanita yang saya sukai, dan yang paling penting, wanita yang juga menginginkan saya, bukan yang harus dijaga pintunya agar tidak kabur."

"Simpan omong kosong mu. Siapkan saja berkas. Aku akan menikahi gadis di dalam itu."

Langkah Dominic tiba-tiba terhenti dan reflek Marco menabrak punggungnya dengan cukup keras.

"Aduh! Hidung saya... Tunggu, apa? Anda bilang apa tadi?" Marco mengerjapkan matanya yang mengantuk, mendadak segar karena kaget. "Anda serius mau menikahinya? Menjadikannya istri kedua? Apa anda masih waras, Tuan? Bagaimana kalau nona model em maksud saya, istri anda tahu soal ini? Dia bisa mengubah rumah anda jadi medan perang dunia ketiga!"

"Dia yang memberiku izin kemarin, bukan? Mengatakan aku boleh tidur dengan siapa saja asal tidak mengganggunya," jawab Dominic enteng sembari melanjutkan langkahnya menuju lift. "Jadi sayang jika lampu hijau darinya aku sia-siakan begitu saja."

"Lalu, kalau orang tua anda tahu? Ini bukan soal izin istri, ini soal membawa wanita asing masuk ke dalam silsilah keluarga, Tuan!" Marco mengejar di sampingnya dengan langkah tergesa.

"Urusan mereka pikirkan nanti!" Dominic menghentikan langkah di depan pintu lift, menatap Marco dengan tajam. "Yang terpenting sekarang, gadis itu harus mengandung benihku. Dia punya apa yang tidak dimiliki Clara, kepatuhan dan kesucian. Itu sudah cukup."

Marco hanya bisa ternganga. Ia memandangi punggung tuannya dengan perasaan campur aduk.

Dominic yang dulu dikenal sangat memuja Clara, kini rela mendua dan mengambil risiko sebesar ini hanya demi seorang pewaris.

"Astaga... duniaku benar-benar akan kiamat," gumam Marco sambil mengusap wajahnya. "Habis ini aku harus menyiapkan surat nikah, lalu besok mungkin aku harus menyiapkan surat cerai, atau lebih buruk menyiapkan peti mati untuk diriku sendiri kalau mereka berdua mulai jambak-jambakan atau mungkin adu tembak. Gaji ajudan memang tidak sebanding dengan beban mental ini!"

Dominic tidak peduli dengan gumaman sang asisten. Pikirannya sudah tertuju pada satu hal, Keyla. Gadis yang akan menjadi tempat pelariannya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!