"Selamat pagi pak." Ucap seorang karyawan ketika bos nya baru saja sampai di perusahaan.
Tak ada respon dari si bos besar, tapi mereka sudah biasa melihat bos nya yang dingin.
Andreas Bramawijaya nama nya, seorang CEO di perusahaan terbesar di kota nya. Terkenal sangat kaya dan tampan, juga berwibawa di setiap kalangan.
Dulu dia tak sedingin dan secuek sekarang, tapi keadaan yang membuat dia jadi sangat berubah.
Keluarga Bramawijaya sangat banyak konflik didalam nya, mungkin di luar terlihat sangat rukun dan harmonis, tapi ternyata di dalam nya, sangat sekali banyak konflik. Andreas sudah sangat capek dengan keluarga nya, ada nya skandal perselingkuhan, menghamili anak orang, bahkan pembunuhan, tapi semua nya ditutupi dengan uang.
Andreas sudah tak mau lagi terlibat dengan keluarga nya yang sama sekali tidak peduli padanya, yang hanya memikirkan tentang uang dan harta kekayaan.
Andreas duduk di kursi nya, dia merenungi kenapa nasib nya seperti ini. Dia punya banyak uang, tapi istri dan anak nya malah pergi meninggal kan nya, keluarga nya tidak ada yang mau menanyakan kabar tentang dirinya.
Drrtttt.... Telepon berdering, dilihat nya ternyata nama Bu Stella tertera dilayar hp nya.
"Iya bu ada apa?"
"Tuan, kenapa ini makanan nya tidak tuan bawa? Tadi juga tuan tidak makan sedikitpun."
"Maaf bu saya lupa."
"Ya ampun tuan, ibu kan sudah bilang, minimal tuan makan yang teratur supaya tuan tetap sehat dan bisa pergi ke kantor."
"Iya lain kali saya ingat."
"Mmmm ya sudah nanti ibu suruh pak Feri anterin makanan nya ya kesana. Awas jangan lupa tuan harus makan, kalo gak, ibu bakal pergi dari rumah tuan."
"Ya bu." Andreas menutup telepon nya.
Dia terdiam memandangi layar, hanya sedikit percakapan, tapi lumayan bisa membuat dia sedikit tergerak. Hanya bu Stella lah yang sangat perhatian padanya.
Bu Stella adalah pengasuh di rumah Andreas sejak Andreas baru lahir. Sekarang Stella sudah menjadi kepala pembantu di rumah Andreas. Segala kebutuhan dan keperluan dirumah, diatur oleh Stella, bahkan Andreas pun sudah menganggap dia sebagai ibu angkat nya. Begitupun Stella, sudah menganggap Andreas sebagai anak nya.
"Ya ampun Tuan Andreas, selalu aja gak mau makan, untung aja dia rajin olahraga jadi badan nya tetep ke urus." Stella bicara sambil mengantarkan makanan untuk dibawa pak Feri ke kantor.
"Pak Feri seperti biasa, tolong antarkan makanan ini ya ke tuan Andreas. terus bilangin harus ada laporan nya ya ke saya, kalo gak ada, saya mau pulang aja ngurus anak saya di rumah."
"Oh siap Bu, kalo udah ada ancaman gitu sih, Tuan Andreas pasti mau makan bu."
"Ya sudah semoga saja. Tolong anterin sekarang ya pak."
"Siap bu." Akhir nya pak Feri pergi mengantarkan makanan nya.
Sampailah di kantor.
"Permisi mbak, seperti biasa saya mau mengantarkan makanan ini ke tuan Andreas." sapa Pak Feri kepada mbak resepsionis yang sedang berjaga.
"Oh iya pak sebentar ya, saya telepon dulu pak Andreas nya."
Pak Feri mengangguk.
"Silahkan pak, kata pak Andreas nya langsung saja antarkan ke atas."
" Oh iya kalau begitu terima kasih ya mbak." pak Feri akhirnya langsung pergi ke ruangan Andreas.
Tok..tok..tok.. Suara pintu diketuk
Terdengar suara dari dalam "Silahkan masuk."
"Permisi tuan, maaf ya saya disuruh bu Stella, ini makanan nya. Oh iya tuan, tadi kata bu Stella pas tuan makan, harus ada laporan nya, kalo nggak, bu Stella mau pulang aja kata nya ke rumah nya, ngurus anak semata wayang nya."
"Hmm ya." Andreas hanya menjawab singkat.
"Kalo begitu, saya permisi ya tuan." Andreas hanya mengangguk. Pak Feri sampai berkeringat melihat tatapan dan mendengar jawaban Andreas.
"Ya ampun aku kok ketakutan gini ya ngelihat tuan Andreas, aura nya beda banget." Feri bergumam sendiri sambil berjalan ke luar kantor.
"Bu Stella terima kasih." Andreas bergumam sambil memandangi makanan nya. Lalu Andreas memakan makanan yang sudah di bawakan pak Feri tadi.
Andreas sudah menyelesaikan makan nya. Tidak lupa ia mengirim foto tempat makan yang sudah kosong kepada bu Stella.
"Bagus tuan Andreas, kalau begitu ibu tidak akan jadi pergi." Stella tersenyum melihat foto yang di kirim Andreas.
"Ya." Hanya itu balasan Andreas, tapi bu Stella sama sekali tidak marah, dia tetap tersenyum, setidak nya tuan nya mau makan.
"Syukur lah tuan masih mau makan dan makanan nya habis. Setidaknya dia harus punya tenaga untuk menjalani hari hari nya." Stella kembali melakukan tugas nya.
Drttt.. Drrttt... suara telepon bu Stella berdering.
"Haloo ibu, apa kabar?" Ternyata anak semata wayang nya yang menelpon.
"Hai sayang, seperti biasa kabar ibu baik. Bagaimana ujian nya sayang? Apakah semua nya lancar?"
"Tentu saja lah bu semua nya lancar berkat do'a ibu juga kan?"
"Iya sayang syukurlah. Oh iya bisakah besok kita ketemu?"
"Hah kenapa bu? Ada apa? Ibu beneran gak sakit kan? Kok mendadak ibu mau bertemu?"
"Gak papa sayang serius ibu sehat, tapi ada sesuatu yang ingin ibu bicarakan."
"Ya sudah kalau gitu, besok sepulang sekolah, aku langsung ke sana ya bu."
"Iya, ibu tunggu ya sayang." Bu Stella menutup telepon nya.
Savanna Zelindra nama nya, anak semata wayang bu Stella. Dia ditinggalkan ayah nya sejak bayi, sehingga bu Stella harus bekerja demi kebutuhan sehari hari nya.
Semenjak bu Stella bekerja, Savanna diasuh oleh nenek nya sampai sekarang. Tapi, komunikasi antara Bu Stella dan Savanna tetap berlangsung dengan baik, sehingga sampai sekarang pun, walau jarak mereka terpisah, tapi hubungan mereka tetap sangat baik.
"Hmm ada apa ya ibu tiba tiba minta ketemu, biasa nya juga kan suka awal bulan pas gajian kita ketemu nya." Savanna bergumam sendiri.
"Ah gak papa lah, lagian sekolah kan udah selesai, besok sekalian aku mau minta jalan jalan ah sama ibu." kata Savanna lagi.
Andreas sudah selesai dari pekerjaan nya. Dia tak buru buru pulang, dia pergi dulu ke suatu tempat.
Sampai lah di area pemakaman. Ternyata Andreas pergi ke makam istri dan anak nya.
"Hai istriku, maaf aku lupa membawa bunga kesukaan mu, aku sangat tidak fokus hari ini. Banyak sekali yang aku fikirkan. Walaupun sudah 5 tahun kamu meninggal kan ku, rasa nya aku tidak bisa lupa akan kehadiran mu dan anak kita. Apa kamu disana melihat aku sangat sengsara di sini?"
"Hahhhh." Andreas menghela nafas.
"Disaat orang lain berkata lupakan semua masalalu, aku sangat ingin merobek mulut nya yang seakan tidak mengerti perasaan ku. Mereka tak akan tahu apa yang aku rasakan, setiap hari nya aku ingin saja menyusul kalian. Kenapa rasa nya dunia sangat tidak adil untuk kita."
"Sayang, seandai nya kamu di sini, ingin sekali aku memeluk dan menciummu. Aku ingin sekali bercerita tentang segala nya kepadamu. Aku harus bagaimana sekarang untuk melanjutkan hidupku? Datanglah kemimpi ku sayang, aku sangat sangat merindukan mu." Andreas mengusap pusara istri nya.
"Aku pulang dulu ya sayang, aku akan selalu mengunjungi kamu dan anak kita."
"Nak, maafkan papa ya, kamu adalah anugerah yang terindah untuk papa, kamu jangan lupa jaga mama ya disana, papa sangat menyayangi kalian."
Andreas akhirnya pergi meninggalkan pemakaman dengan perasaan sedih yang sangat mendalam.
Dia sangat rindu terhadap istri dan anak nya, masih tak ada sosok yang bisa menggantikan istri nya di hati Andreas. Dia tidak peduli berapa banyak yang mendekati nya, dia masih sangat mencintai istri nya yang telah tiada.
Kehilangan telah membuat dia menjadi sangat dingin terhadap apapun dan siapa pun. Awalnya Andreas adalah lelaki yang sangat ramah, pintar, dan sudah pasti sangat tampan.
Ketika di sekolah, dia sangat berprestasi dalam segala bidang. Wajah nya yang tampan, membuat semua perempuan sangat memperebutkan diri nya.
Waktu itu, ketika Andreas kuliah, dia bertemu dengan seseorang, Meyra Azania nama nya, perempuan berambut panjang, berkulit putih, pintar dan juga ramah, tapi dia jarang berbicara dan susah bergaul, mereka tak sengaja bertemu di perpustakaan.
Kala itu Meyra sedang ingin mengambil buku tentang bisnis, karena buku nya berada di lemari atas dan agak tinggi, Meyra mengambil kursi untuk naik.
"Akhirnya bisa diambil juga." kata Meyra senang setelah bisa mengambil buku nya. Tapi tak di sangka ketika ingin turun, kursi nya malah bergoyang, hampir saja Meyra jatuh, tapi untung nya seseorang sigap menolong nya.
"Awww." Meyra memejamkan mata nya, dia takut sampai terjatuh ke lantai.
"Tenang aja, kamu gak papa, buka matamu." ternyata Andreas lah yang menolong nya.
"Ya ampun, maaf, eh terima kasih." Buru buru Meyra pergi meninggalkan Andreas yang telah menolong nya.
Meyra sangat gugup, dia malu karena dia malah memejamkan mata nya dengan sangat lama.
"Astaga Meyra, malu nya." Meyra bergumam sambil berjalan cepat meninggalkan perpustakaan.
Andreas masih mematung di tempat, dia masih speechless dengan kejadian tadi, dan dia malah jadi kepikiran perempuan tadi.
"Baru kali ini ada perempuan yang cuek ditolongin aku, siapa ya dia, kok aku jadi penasaran." Andreas lari keluar perpustakaan mencari cari perempuan yang ditolong nya tadi.
Tapi tidak ada, Andreas tidak menemukan perempuan itu.
"Kemana ya dia? jurusan apa ya dia kuliah nya? Eh siapa ya nama nya? semoga nanti aku bisa ketemu dia lagi." kata Andreas bergumam sambil pergi ke ruangan kelas nya.
Mungkin Meyra dan Andreas sudah ditakdirkan berjodoh, karena setelah pertemuan di perpustakaan itu, mereka jadi sering bertemu. Awal nya, Meyra sangat risih karena Andreas terus saja mengejar ngejar dirinya. Tapi lama kelamaan, hati nya luluh juga.
Keluarga Andreas sangat tidak setuju dengan hubungan dia dengan Meyra tentu nya karena perbedaan kasta nya. Tapi Andreas tidak mendengarkan keluarga nya, dia tetap saja memperjuangkan cinta nya kepada Meyra, hingga akhirnya mereka bisa menikah.
Pernikahan mereka sangat bahagia, Bu Stella adalah saksi bahwa Andreas sangat bahagia bersama Meyra. Setelah 1 tahun pernikahan, akhir nya mereka mempunyai buah hati. Ares Mahesa Bramawijaya namanya, cucu pertama keluarga Bramawijaya.
Kebahagiaan mereka jadi sangat lengkap dengan adanya Ares, tapi ketika Ares berusia 1 tahun, kala itu Meyra membawa Ares, di suruh menyusul Andreas ke Villa keluarga Bramawijaya. Sayang nya diperjalanan, kecelakaan tak terelakkan, mobil yang dinaiki mereka tertabrak truk bermuatan besar, membuat Meyra dan Ares tak terselamatkan.
Begitu terpukul nya Andreas dengan kejadian itu. Setelah kejadian itu, dunia nya tampak hancur, dia sangat merasa bersalah karena telah menyuruh istri dan anak nya menyusul menemui dia, bukan nya dia yang menjemput dulu istri nya.
Andreas pun berusaha menyakiti dirinya sendiri, dengan cara mabuk berat, minum obat obatan, melukai tangan nya dengan pisau, tapi tetap, mungkin maut belum berpihak padanya, dia masih tetap hidup sampai saat ini.
Sebenar nya Andreas hidup hanya untuk menunggu kematian sekarang, tak ada lagi semangat dalam hidup nya, dia pun saat ini bekerja hanya untuk melanjutkan hidup nya yang berantakan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!