Pukul lima sore, langit di luar kafe mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan.
Di dalam ruangan ber-AC yang sejuk itu, Aluna Putri sedang berjuang melawan rasa pening yang tiba-tiba menyerang pangkal hidungnya.
Napasnya terasa berat dan kedua kakinya yang terbungkus sepatu kets usang terasa seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum.
"Satu ice americano dan satu croissant cokelat atas nama Kak Desta!" seru Aluna dengan suara yang berusaha tetap ceria meski tenggorokannya terasa kering kerontang.
Aluna mengusap keringat di pelipisnya menggunakan punggung tangan, hari ini adalah hari yang luar biasa panjang.
Kuliah pagi dari jam delapan dilanjutkan dengan asistensi di perpustakaan dan sekarang ia sudah berdiri di balik meja bar kafe selama hampir lima jam.
Seharusnya ia punya waktu istirahat tiga puluh menit tapi karena rekan kerjanya sedang izin sakit dan Aluna terpaksa merangkap tugas.
"Al muka kamu pucat banget, kamu sudah makan?" tanya Mila, rekan kerjanya yang baru saja selesai mengantarkan pesanan ke meja nomor tujuh.
Aluna memaksakan sebuah senyuman kecil untuk meredam kekhawatiran orang-orang kepada dirinya.
"Tadi pagi sudah makan roti mil, aman kok tinggal dua jam lagi sebelum shift selesai." seru Aluna.
"Dua jam itu lama kalau kondisi kamu kayak gini, mending kamu duduk dulu di belakang sebentar, biar aku yang pegang kasir." tawar Sarah khawatir.
Aluna menggeleng tegas, ia tidak ingin merepotkan orang lain apalagi ia butuh bonus lembur minggu ini untuk menutupi kekurangan biaya kontrakan yang akan jatuh tempo dalam tiga hari.
Menjadi yatim piatu sejak usia tujuh belas tahun mengajarkan Aluna satu hal yaitu dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena dia merasa lelah.
Jika dia berhenti, maka hidupnya juga akan ikut berhenti dan Aluna tidak akan membiarkan hal tersebut.
Di sudut lain kafe, pintu kaca terbuka dan denting bel di atas pintu berbunyi nyaring.
Sosok gadis cantik dengan pakaian bermerek dan tas mungil yang harganya setara dengan biaya kuliah Aluna satu semester masuk dengan langkah riang.
Itu Raline Madhava, sahabat baik Aluna sejak semester pertama hingga sekarang yang masih mau berteman dengannya.
"Aluna!" panggil Raline setengah berteriak sembari melambaikan tangan.
Aluna refleks tersenyum tulus, Raline adalah satu-satunya warna cerah di hidupnya yang abu-abu.
Meskipun berasal dari keluarga Madhava yang kekayaannya tidak berseri tapi Raline tidak pernah memandang Aluna sebelah mata.
Baginya, Aluna adalah pahlawan yang bisa bertahan hidup sendirian di kota besar.
"Eh Lin? Kok ke sini? Bukannya hari ini kamu ada acara keluarga?" tanya Aluna saat Raline sampai di depan meja kasir.
"Dibatalkan sepihak sama om Kayvan, biasa orang sibuk mah bebas jadi aku mampir ke sini deh mau culik kamu makan malam setelah selesai kerja." ucap Raline sambil mengerucutkan bibirnya.
"Aku masih ada shift sampai jam tujuh Lin, terus habis itu aku harus ke rumah murid privatku di sektor lima." tolak Aluna halus.
Raline menghela napas panjang, selalu saja sahabatnya itu sibuk dan sampai lupa akan merawat kesehatan tubuhnya sendiri.
"Al, kamu itu bukan robot. Lihat deh matamu sudah sayu banget, jangan sampai pingsan ya, nanti aku yang diamuk Opa kalau tahu sahabatku sakit gara-gara kerja rodi." seru Raline.
Aluna tertawa kecil dengan suara tawanya terdengar agak serak.
"Enggak akan pingsan, tenang saja." ucap Aluna menenangkan Raline.
Namun seolah-olah semesta ingin membuktikan bahwa Aluna salah, pandangannya tiba-tiba mengabur.
Lampu-lampu kafe yang tadinya terang kini tampak berputar-putar, suara bising mesin kopi dan obrolan pelanggan perlahan menjauh berganti dengan denging nyaring di telinganya.
"Al? Aluna, kamu kenapa?" Suara Raline terdengar panik.
Aluna mencoba berpegangan pada pinggiran meja kasir tapi tangannya terasa lemas.
Kakinya seolah kehilangan tulang penyangga dan dunia menjadi gelap dalam sekejap.
Di luar kafe, sebuah sedan hitam mewah berhenti tepat di depan pintu masuk.
Pria di balik kemudi mengamati jam tangannya dengan raut wajah datar.
Kayvan Dipta Madhava, pria berusia tiga puluh dua tahun yang dikenal sebagai mesin uang keluarga Madhava, sedang menghela napas tidak sabar.
Harusnya ia sudah berada di kantor untuk meninjau laporan akuisisi lahan namun ayahnya yaitu Baskara Madhava memaksanya untuk menjemput Raline.
Alasannya sepele yaitu sopir pribadi Raline sedang pulang kampung dan Tuan Baskara tidak ingin cucu perempuannya naik taksi sendirian di jam sibuk.
Kayvan baru saja akan menekan klakson saat ia melihat kerumunan orang di dalam kafe bergerak panik ke arah meja kasir.
Matanya yang tajam menangkap sosok Raline yang sedang berteriak meminta tolong sambil memegang tubuh seorang gadis yang ambruk ke lantai.
Tanpa pikir panjang, Kayvan mematikan mesin, keluar dari mobil dan melangkah lebar masuk ke dalam kafe.
Kehadirannya seketika membuat suasana yang gaduh menjadi sedikit sunyi, auranya yang dingin dan berwibawa membuat orang-orang secara tidak sadar memberi jalan.
"Raline, ada apa?" suara rendah Kayvan menggelegar di tengah keributan.
"Om! Aluna pingsan! Tolong Om, badannya panas sekali!" tangis Raline pecah.
Kayvan berlutut di samping gadis yang kini terbaring lemah di lantai kayu kafe.
Ini bukan pertama kalinya Kayvan melihat Aluna, ia sering melihat foto gadis ini di ponsel Raline atau mendengar cerita keponakannya tentang Aluna yang hebat.
Namun melihatnya langsung dalam kondisi se-rapuh ini memberikan sensasi aneh di dada Kayvan yang biasanya kaku.
Wajah gadis itu sangat pucat, kontras dengan rambut hitamnya yang sedikit berantakan. Kayvan menyentuh dahi Aluna sebentar. Panas. Sangat panas.
"Minggir." perintah Kayvan singkat kepada orang-orang di sekitarnya.
Dengan gerakan yang efisien dan mantap, Kayvan menyelipkan satu tangannya di bawah leher Aluna dan tangan lainnya di bawah lutut gadis itu.
Ia mengangkat Aluna dengan mudah seolah berat badan gadis itu tidak ada artinya bagi lengan kekarnya.
"Bawa tasnya Raline, kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Kayvan sambil melangkah keluar menuju mobilnya.
Raline segera menyambar tas usang Aluna dan mengikuti Omnya dengan langkah seribu.
Di dalam mobil, Kayvan membaringkan Aluna di kursi belakang dengan kepala bersandar di pangkuan Raline.
Sepanjang perjalanan Kayvan sesekali melirik melalui spion tengah, ia melihat jemari Aluna yang kasar dan terdapat bekas luka kecil yang kemungkinan karena sering mencuci piring atau terkena uap panas mesin kopi.
Gadis semuda ini banting tulang hingga pingsan sementara banyak gadis di luar sana yang hanya tahu cara menghabiskan uang orang tua.
Ada secuil rasa hormat yang muncul di hati pria kaku itu meski ia belum benar-benar mengenal siapa Aluna Putri.
Rumah Sakit Madhava Medical Center
Aluna mengerjapkan matanya, bau karbol yang menyengat adalah hal pertama yang menyambut indra penciumannya.
Ia mencoba menggerakkan tangannya tapi terasa berat karena ada selang infus yang tertancap di sana.
"Al? Kamu sudah bangun?" ucap Raline dengan khawatir namun juga lega secara bersamaan.
Aluna menoleh ke samping dan melihat Raline yang duduk di kursi penunggu dengan wajah sembab.
"Lin... aku di mana? Jam berapa sekarang? Aku harus ke rumah murid privatku..." Aluna mencoba bangkit tapi kepalanya kembali berdenyut hebat.
"Sstt! Diem dulu Al! Kamu itu pingsan karena tipes gejalanya sudah mulai muncul dan kelelahan akut, kamu di rumah sakit Omku." ujar Raline sambil menekan bahu Aluna agar kembali berbaring.
Aluna memejamkan mata dan merasa bodoh karena tubuhnya menyerah di saat yang tidak tepat.
"Biayanya Lin... aku nggak punya uang buat bayar rumah sakit sebagus ini." tutur Aluna dengan khawatir.
"Jangan dipikirin, semuanya sudah diurus." sebuah suara berat dari arah pintu membuat Aluna tersentak.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
YEYYY AKHIRNYA UPLOAD CERITA BARU NIHHHH....
JANGAN LUPA MAMPIR BACA, FAVORITKAN, JANGAN LUPA VOTE JUGA, ULASAN BINTANGNYA, LIKE, KOMEN SAN HADIAH BIAR TAMBAH SEMANGAT BUAT UPDATE BAB SELANJUTNYA
JANGAN LUPA MAMPIR KE IG AKU YAAA DI
@Lala_Syalala13
Jangan lupa beri aku dukungannya ya biar semangat buat upload kelanjutan Babnya....
Dan jangan lupa follow IG @LALA_SYALALA13 ada banyak rekomendasi cerita seru aku lainnya di sana....
Seorang pria jangkung dengan kemeja hitam yang lengannya masih tergulung masuk ke dalam ruangan.
Aluna terpaku, ia mengenali pria ini. Ini adalah Om Raline yang sering diceritakan sebagai sosok bos besar yang menyeramkan, namun di mata Aluna saat ini pria itu tampak seperti sosok yang sangat berwibawa.
"Aluna ini Om Kayvan dan dia yang tadi gendong kamu dari kafe sampai ke sini." bisik Raline.
Aluna merasa pipinya sedikit memanas karena malu.
Kayvan berdiri di ujung tempat tidur dan memasukkan kedua tangannya ke saku celana bahan yang ia kenakan.
Matanya menatap Aluna dengan intens membuat gadis itu merasa seolah sedang diinterogasi.
"Terima kasih Om Kayvan, terima kasih sudah menolong saya, saya akan segera mengganti biaya rumah sakitnya setelah saya keluar." ucap Aluna dengan nada yang tetap sopan tapi penuh harga diri.
Kayvan menaikkan sebelah alisnya, ia jarang menemukan orang yang dalam kondisi lemah masih memikirkan soal utang dan harga diri.
Kebanyakan orang akan langsung merasa lega jika dibantu oleh keluarga Madhava.
"Fokus saja pada kesehatanmu, masalah biaya bukan hal yang harus dibahas sekarang." kata Kayvan singkat.
"Raline ayo pulang, biar perawat yang menjaga dia karena kamu harus istirahat karena besok ada kuliah pagi." ajak Kayvan kepada ponakannya itu.
"Tapi Om...." rengek Raline tidak mau.
"Tidak ada bantahan Raline, Aluna butuh ketenangan bukan ocehanmu." potong Kayvan telak.
Raline cemberut tapi akhirnya menurut, sebelum keluar ia membisikkan sesuatu pada Aluna.
"Nanti aku balik lagi ya, jangan khawatir Om Kayvan itu cuma luarnya saja yang kayak es kutub aslinya dia orangnya... ya tetap kaku sih tapi baik kok." bisik Raline.
Aluna hanya bisa tersenyum lemah, sepeninggal mereka ruangan menjadi sangat sunyi.
Aluna menatap langit-langit kamar rumah sakit yang putih bersih, ia merasa sangat kecil di tengah kemewahan ini.
Ia tidak tahu bahwa kejadian sore ini adalah awal dari sebuah rencana besar yang sudah disiapkan oleh takdir atau lebih tepatnya, disiapkan oleh seorang pria tua di kediaman Madhava yang sedang tersenyum licik sambil memegang foto Aluna di tangannya.
"Gadis yang mandiri, dia cocok untuk menjinakkan si kaku Kayvan." gumam Tuan Baskara Madhava di rumahnya sembari menyeruput teh hangat dengan wajah yang sama sekali tidak terlihat sedang sakit jantung.
...****************...
Pagi itu, sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden kamar rumah sakit kelas VIP yang ditempati Aluna.
Ruangan itu sangat luas bahkan lebih luas daripada seluruh petak kontrakan Aluna di pinggiran kota.
Harum bunga lili segar di atas meja nakas sempat membuat Aluna bingung saat pertama kali membuka mata.
Ia terbiasa bangun dengan suara bising knalpot motor tetangga dan aroma lembap dari dinding kamarnya bukan kesunyian yang mewah seperti ini.
Aluna mencoba duduk perlahan, rasa pusingnya sudah jauh berkurang meski badannya masih terasa agak pegal.
Ia menatap selang infus yang masih terpasang di punggung tangannya, pikirannya langsung melayang pada satu hal yaitu biaya.
"Rumah sakit ini... pasti mahal sekali." gumamnya pelan dengan penuh khawatir.
Pintu ruangan terbuka sedikit, Aluna mengira itu adalah perawat yang datang untuk memeriksa suhu tubuhnya namun ternyata sosok pria jangkung dengan kemeja putih bersih yang bagian lengannya digulung rapi muncul dari balik pintu.
Kayvan Dipta Madhava, pria itu membawa sebuah tas kertas kecil bermerek restoran ternama.
Aluna sempat tertegun sesaat, Kayvan tampak berbeda dari kemarin sore.
Wajahnya tetap kaku dan tidak berekspresi namun entah kenapa kehadirannya yang mendominasi ruangan tidak lagi terasa semenakutkan saat di kafe kemarin.
"Sudah bangun?" suara Kayvan terdengar rendah, mengisi kesunyian kamar.
"Sudah Om..." jawab Aluna canggung.
Kayvan tidak membalas sapaan itu dengan senyuman, ia hanya berjalan mendekat dan meletakkan tas kertas itu di meja lipat di atas tempat tidur Aluna.
"Raline sedang ada kelas pagi, dan dia tidak bisa datang sekarang jadi dia menitipkan ini, katanya kau benci bubur rumah sakit yang hambar." ucap Kayvan dengan dingin.
Aluna melihat isi tas itu, ada semangkuk sup ayam hangat dan jus buah segar.
Matanya sedikit berkaca-kaca. Perhatian kecil seperti ini adalah hal yang sangat mewah baginya.
"Terima kasih banyak Om, tapi sebenarnya Om tidak perlu repot-repot..." ucap Aluna sudah terpotong oleh ucapan Kayvan.
"Jangan banyak bicara, makan saja. Kau harus segera pulih agar tidak merepotkan Raline terus-menerus." potong Kayvan.
Kalimatnya terdengar ketus namun ia justru membantu membukakan tutup mangkuk sup itu untuk Aluna.
Aluna terdiam dan merasa sedikit tertohok dengan kata merepotkan.
Ia memang paling takut menjadi beban bagi orang lain, dengan tangan yang sedikit gemetar Aluna meraih sendok dan mulai menyuap sup itu perlahan.
Kayvan tidak pergi tapi ia justru duduk di sofa tunggal di sudut ruangan sambil membuka tablet kerjanya seolah-olah ia sedang menunggu Aluna selesai makan.
Suasana menjadi sangat sunyi hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan mangkuk porselen.
Aluna merasa sangat tidak nyaman diperhatikan seperti itu, ia memberanikan diri untuk memecah keheningan.
"Om Kayvan... soal biaya rumah sakit ini apakah saya bisa mencicilnya?" tanya Aluna dengan suara pelan namun tegas.
Ia tidak ingin Kayvan menganggapnya sebagai gadis yang hanya ingin menumpang kekayaan keluarga Madhava.
Kayvan mengalihkan pandangannya dari tablet ke arah Aluna, matanya yang tajam menatap Aluna lurus-lurus.
"Mencicil? Kau tahu berapa biaya satu malam di kamar ini?" tanya Kayvan terdengar sedang menyindir Aluna.
Aluna menelan ludah karena dia tahu harganya pasti tidak akan murah apa lagi kamar yang dia tempati begitu mewah.
"Saya tahu itu pasti mahal, tapi saya punya tabungan sedikit dan saya bisa bekerja lebih keras lagi setelah sembuh, saya tidak mau punya utang budi yang terlalu besar." ucap Aluna.
Kayvan menutup tabletnya dengan bunyi klik yang cukup keras, ia berdiri dan melangkah menuju tempat tidur Aluna dan membuat Aluna refleks menarik punggungnya lebih mundur.
Kayvan bersedekap dan menatap gadis di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kau punya harga diri yang tinggi Aluna dan itu bagus." ujar Kayvan datar.
"Tapi terkadang harga diri tidak bisa membayar tagihan rumah sakit atau biaya kuliahmu yang sudah menunggak dua bulan bukan?"
Aluna tersentak, bagaimana pria ini bisa tahu? apalagi dia tidak pernah mengatakan hal tersebut kepada siapapun bahkan kepada Raline sebisa mungkin Aluna akan diam namun karang Raline juga menyadari itu.
"Om... memeriksa latar belakang saya?"
"Itu prosedur standar keluarga Madhava sebelum membawa orang asing ke fasilitas pribadi kami." jawab Kayvan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Kau mahasiswi berprestasi tapi kau memaksakan diri bekerja di tiga tempat sekaligus, itu bodoh bukan mandiri dan kau menghancurkan tubuhmu sendiri." seru Kayvan.
Aluna mengepalkan tangannya di balik selimut dan ia merasa telanjang di depan pria ini, semua rahasia kemiskinannya terungkap begitu saja.
"Saya tidak punya pilihan lain Om, saya tidak punya siapa-siapa lagi."
Melihat gurat kesedihan sekaligus keras kepala di wajah Aluna, ada sesuatu yang berdenyut di dada Kayvan.
Ia teringat percakapannya dengan sang ayah tadi malam yaitu ayahnya, Tuan Baskara Madhava secara terang-terangan memuji Aluna dan memintanya untuk terus memantau gadis itu.
Kayvan awalnya menganggap itu hanya keinginan aneh ayahnya yang sedang mencari hiburan di masa tua tapi setelah melihat Aluna secara langsung seperti ini dan ia mulai mengerti apa yang dilihat ayahnya.
"Habiskan makanmu, setelah ini dokter akan memeriksamu sekali lagi, dan jika sudah stabil kau boleh pulang." ucap Kayvan mengalihkan pembicaraan agar suasana tidak semakin tegang.
"Benarkah? Saya sudah boleh pulang hari ini?" tanya Aluna dengan mata berbinar, ia sangat merindukan pekerjaannya di kafe.
"Pulang ke rumah Raline, bukan ke kontrakanmu yang tidak layak itu." tegas Kayvan.
"Apa? Tidak Om! Saya tidak bisa tinggal di rumah Raline, itu terlalu berlebihan. Saya punya tempat tinggal sendiri!" protes Aluna.
Kayvan menatapnya dengan tatapan jangan-membantah yang biasa ia gunakan di ruang rapat.
"Ini perintah dari Ayah saya dan beliau ingin bertemu denganmu secara langsung, Raline sudah menyiapkan semuanya dan kau tidak punya hak untuk menolak tamu yang sudah membiayai pengobatanmu." seru Kayvan.
Aluna terdiam seribu bahasa ia merasa terpojok, di satu sisi ia sangat ingin menolak tapi di sisi lain ucapan Kayvan soal utang budi benar-benar menusuk hatinya dan pada akhirnya ia hanya bisa mengangguk pasrah.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
Sore harinya, sebuah mobil mewah berwarna perak menjemput Aluna.
Aluna mengenakan baju paling rapi yang ia miliki yaitu sebuah kemeja flanel sederhana dan celana bahan yang sudah mulai pudar warnanya, ia merasa sangat kontras dengan kemewahan interior mobil itu.
Sesampainya di kediaman besar keluarga Madhava, Aluna merasa seperti masuk ke dalam istana di buku dongeng.
Halamannya sangat luas dengan rumput yang dipangkas rapi dan bangunan rumahnya bergaya klasik modern yang megah.
"Aluna! Akhirnya sampai juga!" Raline berlari keluar dari pintu utama dan langsung memeluk sahabatnya itu dengan hati-hati.
"Ayo masuk! Opa sudah nungguin kamu dari tadi, beliau bahkan minta koki masak besar hari ini." seru Raline begitu gembira karena sahabatnya datang ke rumahnya.
Aluna berjalan masuk dengan langkah ragu, di ruang keluarga yang luas, seorang pria tua dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya namun masih tampak segar sedang duduk di kursi goyangnya.
Itu adalah Tuan Baskara Madhava, begitu melihat Aluna wajah tua itu langsung cerah.
"Oh jadi ini Aluna? Gadis yang selalu Raline ceritakan?" tanya tuan Baskara dengan suara yang hangat dan jenaka.
Aluna membungkukkan badannya dengan hormat dan begitu segan dengan kakek dari Raline.
"Iya tuan, nama saya Aluna Putri. Mohon maaf jika kedatangan saya merepotkan keluarga Madhava." ucap Aluna dengan formal.
"Panggil Opa saja sama seperti Raline." sahut tuan Baskara.
"Merepotkan apa? Rumah ini terlalu sepi, Aluna, hanya ada aku yang sudah tua ini dan anak kaku itu." Opa menunjuk Kayvan yang baru saja masuk ke ruangan dengan dagunya.
Kayvan hanya memutar bola matanya malas dan duduk di sofa seberang ayahnya.
"Dia baru sembuh pa, jangan diajak mengobrol terlalu banyak dulu." seru Kayvan.
"Kau ini dingin sekali pada tamu, sini Aluna duduk di dekat Opa," ajak tuan Baskara Madhava sambil menepuk kursi di sebelahnya.
Malam itu Aluna merasakan kehangatan yang sudah lama hilang dari hidupnya.
Meskipun ia merasa canggung karena status sosial mereka yang berbeda jauh tapi tuan Baskara Madhava memperlakukannya dengan sangat baik.
Beliau menanyakan soal kuliah Aluna, hobinya, hingga makanan kesukaannya.
Sementara itu, Kayvan lebih banyak diam namun Aluna sesekali menangkap basah pria itu sedang memperhatikannya dari balik cangkir kopinya.
Setiap kali mata mereka bertemu, Kayvan akan segera membuang muka atau kembali menatap tabletnya.
Aluna merasa pria itu sangat misterius, di balik sikap cueknya Kayvan adalah orang yang menggendongnya saat ia pingsan dan orang yang memastikan ia makan dengan benar di rumah sakit.
Setelah makan malam selesai, Raline mengantar Aluna ke kamar tamu yang sudah disiapkan.
Kamar itu sangat cantik, dengan balkon yang menghadap ke arah taman belakang.
"Al, kamu menginap di sini beberapa hari ya sampai benar-benar sehat, jangan mikirin kerjaan dulu, aku sudah bilang ke manajer kafe kalau kamu izin sakit seminggu." kata Raline sambil merapikan bantal untuk Aluna.
"Lin makasih ya, aku nggak tahu harus balas kebaikan kalian gimana." ucap Aluna tulus.
"Balasnya gampang kok, kamu sehat aja aku udah senang." balas Raline riang sebelum keluar dari kamar.
Aluna berdiri di balkon kamarnya dan menatap bulan yang bersinar terang.
Di bawah sana, ia melihat bayangan seseorang sedang berjalan di taman.
Itu Kayvan, pria itu tampak sedang menelepon seseorang, suaranya terdengar tegas saat membicarakan masalah bisnis.
Tiba-tiba, Kayvan mendongak dan pandangan mereka bertemu di bawah cahaya bulan.
Aluna terpaku, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang tanpa alasan yang jelas.
Kayvan tidak mengalihkan pandangannya kali ini, ia menatap Aluna selama beberapa detik lalu memberikan sebuah anggukan kecil yang sangat tipis sebelum berbalik masuk ke dalam rumah.
Aluna masuk kembali ke kamarnya dengan perasaan campur aduk, ia tidak tahu bahwa di ruang kerja lantai bawah Tuan Baskara Madhava dan Kayvan sedang terlibat pembicaraan serius.
"Dia gadis yang baik Kay, berhenti menatapnya seperti kau ingin memecat karyawan." tegur Tuan Baskara pada putranya.
"Aku tidak menatapnya seperti itu pa." sanggah Kayvan dingin.
"Aku tahu kau mengamatinya sejak lama Kay, sejak Raline pertama kali menunjukkan fotonya padamu setahun yang lalu. Jangan kira aku tidak tahu alasan kenapa kau tiba-tiba rajin menjemput Raline ke kafe belakangan ini." ujar Tuan Baskara sambil tersenyum penuh arti.
Kayvan terdiam, ia tidak menyangkal tapi juga tidak membenarkan, ia hanya menatap pintu ruang kerjanya yang tertutup rapat dan membayangkan gadis yatim piatu yang kini tidur di bawah atap yang sama dengannya.
Gadis yang tampak begitu rapuh namun memiliki binar mata yang sanggup mengusik ketenangan hatinya yang selama ini membeku.
Malam itu, Aluna tertidur dengan perasaan asing yaitu perasaan aman yang selama tiga tahun ini tidak pernah ia rasakan sejak orang tuanya tiada.
Ia tidak menyadari bahwa di balik pintu mewah yang tertutup ada sebuah jaring takdir mulai ditenun oleh keluarga Madhava untuk mengikatnya selamanya.
...****************...
Suasana pagi di kediaman besar keluarga Madhava sangat kontras dengan hiruk-pikuk kos-kosan sempit tempat Aluna tinggal.
Jika di kosan ia harus mengantre kamar mandi dengan suara bising air dari ember plastik, di sini hanya ada keheningan yang elegan.
Aluna terbangun pukul lima pagi yaitu kebiasaan tubuhnya yang sudah disetel untuk segera bersiap bekerja namun ia sempat terpaku menatap langit-langit kamar tamu yang dihiasi lampu kristal kecil yang cantik.
Ia segera bangkit dan merapikan tempat tidur hingga tak ada satu pun lipatan yang tersisa.
Aluna merasa tidak enak jika harus merepotkan pelayan di rumah ini.
Setelah mandi dan mengenakan kemeja katun biru langit miliknya yang sudah dicuci bersih, ia melangkah keluar kamar dengan ragu.
Harum kopi yang sangat kuat dan aroma roti panggang mulai tercium saat ia menuruni tangga melingkar yang megah.
Di ujung tangga, ia melihat seorang pria tua sedang duduk santai sambil membaca koran fisik, itu Tuan Baskara Madhava, ayah dari Kayvan.
"Eh, sudah bangun, Cah Ayu?" sapa tuan Baskara dengan senyum lebar yang membuat kerutan di wajahnya tampak ramah.
"Sini sini, jangan berdiri di situ seperti patung selamat datang, duduk sebelah Opa." ujar Tuan Baskara.
Aluna tersenyum canggung dan mendekat kearah tuan Baskara.
"Selamat pagi Opa, maaf kalau saya bangunnya kesiangan."
"Kesiangan apa? Ini baru jam enam kurang, si Kayvan saja baru selesai olahraga di belakang." jawab Tuan Baskara sambil melipat korannya.
"Gimana tidurnya? Nyenyak? Kasurnya nggak keras, kan?" tanya Tuan Baskara dengan penuh perhatian.
"Sangat nyenyak Opa, malah saya merasa ini kasur paling empuk yang pernah saya tiduri." jawab Aluna jujur yang mengundang tawa kecil dari pria tua itu.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki yang mantap, sosok jangkung muncul dari arah taman belakang.
Kayvan Dipta Madhava masuk dengan kaos olahraga hitam yang sedikit basah oleh keringat.
Handuk kecil tersampir di lehernya dan rambutnya yang biasanya tertata rapi kini sedikit berantakan jatuh menutupi sebagian dahinya.
Aluna refleks menunduk karena merasa tidak sopan menatap pria itu terlalu lama.
Namun ia bisa merasakan kehadiran Kayvan yang mendominasi ruangan.
"Pagi pa." sapa Kayvan singkat pada ayahnya, kemudian matanya kemudian beralih pada Aluna.
"Sudah lebih baik?" tanyanya dengan dingin namun perhatian.
"Sudah Om, terima kasih." jawab Aluna sopan.
Kayvan tidak membalas dan ia hanya mengangguk tipis lalu berjalan menuju lantai atas untuk bersiap-siap ke kantor.
"Jangan hiraukan dia Aluna, anak itu memang irit bicara kalau pagi, mungkin baterainya belum terisi penuh kalau belum minum kopi." bisik Opa sambil terkekeh dan membuat Aluna ikut tersenyum kecil.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!