Indonesia
NovelToon NovelToon

Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Bab 1 kelahiran Marsha valerine

Nama Selena Ardith pernah berdiri di puncak.

Di dunia yang dipenuhi kilau lampu runway dan gemuruh tepuk tangan yang tak kunjung reda, ia adalah sosok yang tak tergantikan. Rancangannya bukan sekadar pakaian melainkan pernyataan. Setiap helai kain yang disentuhnya seolah memiliki napas, memiliki cerita, memiliki jiwa.

Orang-orang menyebutnya sempurna dan Selena mempercayainya, hingga suatu hari, segalanya berubah, bukan karena kesalahan, bukan karena kegagalan, melainkan sesuatu yang, bagi banyak orang, justru dianggap sebagai anugerah terbesar kehamilan.

Awalnya, kabar itu disambut dengan senyum dan ucapan selamat yang tak putus-putus, karangan bunga memenuhi setiap sudut rumah, pesan-pesan hangat berdatangan tanpa henti, seolah kebahagiaan itu benar-benar utuh, Namun, hanya sedikit yang tahu bahwa di balik senyum tipis Selena, ada sesuatu yang perlahan runtuh.

Di minggu-minggu pertama, ia masih berusaha bertahan masih menghadiri pertemuan penting, masih berdiri tegak di hadapan para klien, masih mencoba menjadi dirinya yang dulu versi terbaik yang selalu ia banggakan, namun tubuhnya tidak lagi berpihak padanya, rasa mual datang tanpa aba-aba, pusing membuat pandangannya berkunang-kunang, tenaganya terkuras, seolah setiap hari ada bagian dari dirinya yang perlahan diambil, tanpa bisa ia cegah.

“Selena, kamu harus istirahat.” Suara Andreas Halvard selalu terdengar tenang, mencoba meredam kekacauan yang mulai terlihat di permukaan. “Aku bisa mengurus sisanya.”, namun bagi Selena, kalimat itu bukanlah bantuan melainkan pertanda, bahwa ia mulai kehilangan kendali.

Hari demi hari berlalu…

Dan perlahan, satu per satu hal yang dulu ia genggam erat, mulai terlepas dari tangannya, kontrak besar dibatalkan, undangan fashion show dialihkan, klien-klien setia mulai menoleh ke arah lain, hingga suatu siang, asistennya datang dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. “Nyonya… klien dari Milan memutuskan bekerja sama dengan desainer lain.”

Selena tidak langsung merespons, ia hanya duduk diam, menatap sketsa di tangannya sebuah rancangan yang belum sempat ia sempurnakan. “Desainer baru?” tanyanya pelan Asisten itu mengangguk.

Tidak ada amarah, tidak ada bentakan, hanya keheningan yang terasa jauh lebih berat dari kata-kata, sejak saat itu, nama Selena mulai memudar, bukan karena ia berhenti berkarya, melainkan karena dunia tidak lagi menunggunya.

Di waktu yang sama, sosok baru mulai mencuri perhatian seorang desainer muda segar dan penuh energi, selalu hadir di waktu yang tepat, di panggung yang tepat, Selena melihat wajah itu terpampang di halaman majalah dan senyumnya cerah, sorotan kamera seolah mencintainya.

Tanpa sadar, jemari Selena mengencang di atas kertas.

Lembaran sketsa itu sedikit terlipat di ujungnya sementara dirinya hanya bisa berbaring di kamar, dengan tubuh yang semakin melemah dan perut yang kian membesar, untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia merasa tertinggal.

Malam itu, kamar terasa lebih sunyi dari biasanya lampu redup, tirai tertutup rapat, hanya ada dirinya dan pikirannya sendiri, Selena duduk perlahan, satu tangannya menyentuh perutnya, tidak ada kelembutan dalam sentuhan itu. “Sejak kamu datang…” suaranya nyaris tak terdengar. “…semuanya berubah.” ia tidak melanjutkan kalimatnya.

Namun dalam diam, sebuah perasaan mulai tumbuh pelan hampir tak terasa, namun semakin hari semakin nyata, bukan kasih sayang dan bukan pula harapan, melainkan penolakan, waktu terus berjalan, tanpa pernah menunggu siapapun.

Dan hari itu pun tiba…

Tangisan bayi memenuhi ruangan, suara yang biasanya membawa haru kelegaan kebahagiaan.

Perawat tersenyum hangat. “Selamat, bayinya sehat.” namun di atas ranjang itu Selena hanya menatap kosong ke langit-langit. “Apakah Anda ingin menggendongnya?”

Tidak ada jawaban. “Setidaknya… melihatnya?”

Hening…

Beberapa detik berlalu terasa jauh lebih panjang dari seharusnya, Lalu, dengan suara pelan yang nyaris tanpa emosi “Tidak perlu.”

Perawat itu terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk perlahan bayi kecil itu pun dibawa pergi, tanpa pernah benar-benar disambut ia diberi nama Marsha Valerine.

Sejak awal ia tidak pernah berada di tempat yang seharusnya, hari-hari berlalu, tahun pertama, tahun kedua, Marsha tumbuh namun bukan dalam pelukan ibunya, Ia lebih mengenal tangan pengasuh, lebih akrab dengan suara orang lain, daripada suara yang seharusnya memanggil namanya dengan penuh kasih.

Rumah itu besar, megah, namun terasa dingin dan asing, Selena kembali bekerja, perlahan, ia membangun kembali namanya. Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah, ia tidak pernah benar-benar melihat anak itu, seolah keberadaan Marsha tidak pernah ia izinkan untuk menjadi bagian dari hidupnya.

Suatu sore yang tenang langkah kecil terdengar di sepanjang lorong, Marsha, yang belum genap tiga tahun, berjalan perlahan, tangannya menyusuri dinding, menjaga keseimbangan, matanya berbinar seolah menemukan sesuatu yang ingin ia capai.

Di ujung lorong pintu ruang kerja Selena terbuka sedikit dengan dorongan kecil, pintu itu terbuka lebih lebar. Selena, yang duduk di balik meja, mengangkat pandangannya dan untuk sesaat mata mereka bertemu anak kecil itu tersenyum. Polos dan tulus. “Ibu…” satu kata sederhana.

Namun cukup untuk membuat waktu terasa berhenti sejenak Selena tidak langsung berbicara, Ia hanya menatap dengan tatapan yang datar tanpa kehangatan, hanya ada kebencian yang terus terasa. “Jangan masuk.” teriaknya, namun cukup untuk menghentikan langkah kecil itu.

Namun justru itulah yang membuat jarak itu terasa begitu nyata, Marsha tidak sepenuhnya mengerti, hanya menunduk dan memundurkan langkahnya, namun ia merasakan sesuatu sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak dengan cara yang belum bisa ia pahami, senyumnya perlahan memudar ia tidak menangis ataupun memaksa.

Hanya berdiri diam beberapa detik lalu berbalik, langkah kecilnya menjauh, pelan dan hampir tanpa suara. Dan sejak saat itu tanpa ada yang benar-benar menyadari sebuah jarak telah terbentuk, bukan karena pertengkaran, bukan karena kesalahan melainkan karena tidak pernah ada penerimaan.

Bab 2 Masih tidak diterima

Waktu terus berjalan…

Rumah itu tetap berdiri megah, tak berubah sedikitpun dari luar indah, rapi, sempurna, namun di dalamnya ada sesuatu yang tumbuh dengan cara yang tidak seimbang. Valerina Halvard, nama itu perlahan mengisi setiap sudut rumah, tangisnya selalu disambut dengan pelukan dan tawanya dirayakan dengan senyum yang hangat.

Langkah kecilnya diabadikan dalam bingkai-bingkai foto yang kini menghiasi dinding, Ia hadir dengan semua hal yang tidak pernah dimiliki oleh Marsha, tanpa ada yang benar-benar menyadari sejak kapan Selena berubah.

Di hadapan Valerina, ada kelembutan yang dulu tak pernah terlihat senyumnya bukan lagi sekadar formalitas, tatapannya mengandung kehangatan bahkan kebanggaan, Dan hal-hal kecil yang bagi orang dewasa mungkin tak berarti justru menjadi segalanya bagi seorang anak.

Suatu pagi, seorang desainer butik datang membawa beberapa kotak besar. “Koleksi terbaru, Nyonya. Kami siapkan khusus untuk Nona Valerina.”

Kotak-kotak itu dibuka satu per satu, gaun kecil dengan renda halus yang jatuh sempurna dan sepatu mungil dengan pita lembut di atasnya, aksesori kecil yang dirancang dengan detail, seolah memang ditujukan untuk seorang putri. Valerina berdiri di depan cermin, berputar pelan.

“Mama, ini cantik sekali…” suaranya penuh kegembiraan.

Selena tersenyum senyum yang tulus. “Kamu memang pantas mendapatkannya.” Di ambang pintu Marsha berdiri diam, tidak ada yang memanggilnya dan tidak ada yang menyadari kehadirannya, matanya tertuju pada gaun-gaun itu, bukan karena ia ingin memilikinya melainkan karena ia mulai memahami sesuatu bahwa ia tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari dunia itu.

Beberapa hari kemudian, pengasuhnya datang membawa beberapa pakaian.“Ini untuk Nona Marsha dari lemari Nona Valerina yang sudah tidak dipakai.” bajunya masih sangat layak, bersih, rapi dan bahkan hampir seperti baru.

Namun tetap saja itu bukan miliknya Marsha menerimanya tanpa sepatah kata, Jemarinya , kain itu perlahan, seolah memastikan sesuatu yang sebenarnya sudah ia pahami, tidak ada keluhan ataupun pertanyaan. seakan-akan ia sudah terlalu sering berada di posisi itu, hingga tak lagi merasa perlu berharap lebih.

Hari-hari berlalu dengan pola yang sama.

Jika Valerina terjatuh Selena akan segera menghampiri, memeluknya, menenangkan dengan suara lembut yang nyaris berbisik, Namun ketika Marsha terluka “Pengasuh, tolong lihat anak itu.” Tidak pernah lebih dari itu.

Jika Valerina menginginkan sesuatu keinginannya hampir selalu terpenuhi, bahkan sebelum sempat ia ulangi, namun jika Marsha hanya berdiri sedikit lebih dekat “Jangan mengganggu.” tidak ada nada tinggi tapi matanya menatap penuh kebencian.

Suatu sore, hujan turun perlahan di balik jendela besar rumah itu, Valerina duduk nyaman di pangkuan Selena, sebuah buku cerita terbuka di tangan mereka, suara kecilnya mengalun riang, membaca dengan terbata namun penuh semangat, sesekali ia tertawa dan Selena ikut tersenyum.

Sementara itu di sudut ruangan, Marsha duduk diam Ia memeluk boneka lama boneka yang dulunya juga milik Valerina, matanya sesekali melirik ke arah mereka ada sesuatu di sana, sebuah keinginan kecil yang tak pernah benar-benar ia ucapkan, perlahan, ia berdiri langkahnya ringan dan hati-hati, seolah takut suara sekecil apa pun akan mengganggu momen itu.

“Mama…” Suaranya lembut dan ragu.

Selena menjawab tanpa menoleh.

“Iya, Valerina?”

Marsha terdiam sesaat.

“…aku Marsha.”

Baru saat itu Selena menoleh tatapannya turun sekilas lalu kembali pada buku di tangannya, “Ada apa?” jawabnya dengan sangat dingin.

Marsha menggenggam ujung bajunya. “Aku… boleh ikut?”

Hening…

Beberapa detik yang terasa lebih panjang dari seharusnya Valerina hanya melirik sebentar, lalu kembali tenggelam dalam ceritanya, Selena menarik nafas pelan. “Valerina sedang belajar. Jangan mengganggu.”

Namun cukup untuk meruntuhkan sesuatu yang bahkan belum sempat tumbuh utuh, Marsha mengangguk kecil. “…iya.” tidak ada protes dan tidak ada air mata, ia berbalik, langkah kecilnya mulai menjauh pelan, hampir tanpa suara. Namun kali ini tidak seperti biasanya, jika dulu ia masih menoleh masih menyimpan harapan kecil untuk dipanggil kembali kali ini tidak, Ia berjalan lurus dan tanpa menoleh lagi.

Malam itu, untuk pertama kalinya Marsha tidak datang ketika waktu makan tiba, pengasuh menemukannya di kamar, duduk di sudut tempat tidur, memeluk lututnya sendiri. “Non, ayo makan ya…”

Marsha menggeleng pelan.

“Aku tidak lapar.”

Padahal perutnya berbunyi pelan namun ada rasa lain yang jauh lebih besar daripada lapar.

Sejak hari itu Marsha mulai berubah lebih banyak menghabiskan waktu didalam kamarnya, Ia tidak lagi mencoba mendekat dan tidak lagi memanggil “Ibu”. tidak lagi berdiri di ambang pintu, menunggu dilihat.

Ia menjadi lebih diam dan terlalu diam untuk anak seusianya dan tanpa ada yang benar-benar menyadari jarak itu tidak lagi sekadar ada, Ia mulai mengeras, Perlahan namun pasti menjadi dinding yang suatu hari nanti tidak akan mudah dihancurkan.

Musim berganti tanpa benar-benar terasa Marsha tumbuh lebih cepat dari yang seharusnya, bukan karena waktu yang mempercepatnya melainkan keadaan yang memaksanya, Di usia lima tahun, ia sudah terlalu terbiasa mengurus dirinya sendiri, sudah sangat mandiri makan tanpa harus disuapi, bermain tanpa harus ditemani, bahkan terjatuh tanpa benar-benar berharap akan ada yang datang.

Namun hari itu tubuh kecilnya akhirnya menyerah demam datang sejak pagi, awalnya hanya hangat lalu perlahan meningkat, Pengasuhnya menyadari perubahan itu saat Marsha tidak menyentuh sarapannya. “Non… tidak mau makan?”

Marsha menggeleng pelan. “Aku tidak lapar…” suaranya lemah, tidak seperti biasanya,

Pengasuh itu mendekat, menyentuh keningnya dan seketika raut wajahnya berubah, terlalu panas untuk ukuran anak seusianya. “Ya Tuhan…” Ia segera membawakan kompres, memberi obat penurun demam, mencoba menenangkan.

Namun menjelang siang keadaan tidak membaik tubuh kecil itu justru semakin lemah, nafasnya mulai berat, matanya setengah terpejam dengan panik, pengasuh itu mencoba menghubungi Selena. Namun jawabannya hanya singkat. “Aku sedang ada meeting penting. Urus saja dulu.” tidak ada pertanyaan lanjutan ataupun kekhawatiran yang terdengar.

Pengasuh itu menahan nafas sejenak tangannya menggenggam ponsel sedikit lebih erat.

“Baik, Nyonya…” Namun hatinya terasa jatuh, ia juga merasakan sakitnya karena dirinyalah yang mengasuh Marsha sejak bayi.

bab 3 anak yang tidak di inginkan

Sore harinya, Marsha akhirnya dibawa ke rumah sakit, tubuh kecil itu terbaring di atas ranjang putih, dengan selang infus yang terasa terlalu besar untuk tangannya yang mungil, Pipi yang biasanya pucat kini memerah karena demam, bibirnya kering dan matanya terbuka sesekali namun tidak benar-benar fokus. “Bibi…” Suaranya hampir tak terdengar.

Pengasuh itu segera mendekat, menggenggam tangannya.

“Iya, Non… Bibi di sini.”

Marsha terdiam beberapa detik seolah mengumpulkan sisa tenaga yang ia miliki.

“…Mama… tahu?” Pertanyaan itu begitu pelan, begitu sederhana.

Namun cukup untuk membuat dada pengasuh itu terasa sesak Ia tidak langsung menjawab.

Jemarinya mengusap lembut punggung tangan kecil itu. “Tahu, Sayang… Mama tahu.” sebuah kebohongan kecil yang terpaksa diucapkan, demi menjaga hati seorang anak.

Marsha tidak bertanya lagi Ia hanya mengangguk lemah. “…oh…” satu respon singkat, tanpa tuntutan dan tanpa kekecewaan yang ditunjukkan, Seolah ia sudah tahu bahkan sebelum bertanya.

Malam mulai turun lampu kamar rawat redup, suara mesin monitor berdetak pelan, menjadi satu-satunya suara yang menemani keheningan, Marsha terbangun sesaat matanya bergerak pelan, mencari sesuatu. “Mama…?” hanya satu kata.

Namun kali ini tidak ada yang menjawab, pengasuhnya menunduk, menahan air mata yang mulai menggenang. “Iya, Non… Bibi di sini.”

Marsha menatapnya sebentar lalu perlahan mengangguk. “…iya.” seolah ia menerima kenyataan itu begitu saja, tanpa protes ataupun menangis dan justru itulah yang terasa paling menyakitkan. Anak seusianya seharusnya menangis dan merengek, seharusnya mencari ibunya tanpa henti, namun Marsha tidak, seolah ia sudah belajar, bahwa memanggil pun tidak akan mengubah apa-apa.

Pintu kamar terbuka pelan menjelang larut malam, langkah kaki terdengar terburu namun tertahan. Andreas Halvard. ia berdiri di ambang pintu, nafasnya sedikit tidak teratur, matanya langsung tertuju pada ranjang kecil itu, Dan untuk sesaat raut wajahnya berubah.

Ada sesuatu di sana penyesalan, karena memang dirinya sedang ada proyek yang membuatnya sering pergi keluar kota, ada kemarahan pada keadaan dan rasa bersalah yang terlambat.

Ia mendekat perlahan.

Duduk di samping ranjang, tangannya yang besar menggenggam tangan kecil itu dengan hati-hati, seolah takut menyakitinya. “Marsha…” suaranya jauh lebih lembut dari biasanya.

Marsha membuka matanya perlahan, butuh beberapa detik sebelum ia benar-benar fokus.

“…Papa?” mata Marsha berkaca-kaca melihat kehadiran ayahnya.

Andreas tersenyum tipis.

“Iya… Papa di sini.”

Untuk pertama kalinya malam itu ada sesuatu yang berubah di wajah kecil itu, bukan senyum penuh, Namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia merasa sedikit tidak sendiri, Andreas mengangkat tubuh kecilnya dan memeluknya. “Papah telat ya… papah minta maaf ya sayang” bisik Andreas pelan.

Marsha menggeleng lemah. “…nggak apa-apa, papah harus bekerja.” jawaban yang terlalu dewasa untuk anak berusia lima tahun, itu membuat hati Andreas terluka.

Andreas menunduk tangannya mengusap lembut rambut anak itu. “Ayah di sini temani kamu, pekerjaan papah sudah selesai dengan sangat cepat”

Marsha tidak menjawab namun jemarinya sedikit menggenggam balik tangan Andreas kecil dan lemah, namun nyata. Dan di balik itu ada sesuatu yang tidak bisa diabaikan, bahwa di usia sekecil itu, Marsha sudah belajar untuk tidak berharap terlalu banyak.

Di luar ruangan, pengasuh itu berdiri diam.

Matanya memerah hatinya terasa sesak, bukan karena ia lelah, melainkan karena ia tahu anak sekecil itu, seharusnya tidak berjuang sendirian seperti ini.

Pagi datang perlahan, membawa cahaya yang menyusup lembut melalui celah tirai. Di atas ranjang kecil itu, Marsha masih terbaring dengan wajah pucat, nafasnya mulai teratur meski tubuhnya masih lemah, tangannya tetap berada dalam genggaman Andreas, seolah sepanjang malam pria itu tidak pernah benar-benar melepaskannya.

Andreas tertidur dalam posisi duduk di kursi samping ranjang, kepalanya sedikit tertunduk, namun jemarinya masih menggenggam tangan kecil itu dengan erat seakan takut kehilangan sesuatu yang baru saja ia sadari begitu berharga.

Pintu kamar terbuka pelan, Selena masuk dengan langkah tenang, rapi seperti biasanya, tidak ada jejak kepanikan di wajahnya, tidak pula terlihat kelelahan karena malam yang panjang, tatapannya jatuh pada sosok kecil di atas ranjang, berhenti sejenak, cukup untuk melihat namun tidak cukup untuk merasakan.

Pergerakan kecil itu membuat Andreas terbangun. Ia mengangkat kepalanya, pandangannya langsung menemukan Selena. “Kamu datang,” ucapnya pelan.

Selena hanya mengangguk singkat. “Bagaimana keadaannya?”

“Semalam tinggi. Sekarang mulai turun,” jawab Andreas, matanya masih menatap wanita itu, seolah menunggu sesuatu yang tidak kunjung muncul.

Selena mengangguk. “Bagus.” satu kata sederhana, namun terasa begitu ringan terlalu ringan untuk situasi seperti ini.

Marsha bergerak pelan, matanya terbuka perlahan, masih dipenuhi sisa lelah, pandangannya berkeliling sebelum akhirnya berhenti pada satu sosok yang jarang ia lihat berada sedekat ini.

“…Mama?” suara itu lirih, hampir seperti hembusan nafas.

Selena menoleh tatapan mereka bertemu, dan untuk sesaat ada sesuatu yang samar di mata Marsha sebuah harapan kecil yang rapuh. Selena melangkah mendekat, namun berhenti sebelum benar-benar sampai di sisi ranjang. “Kamu sakit?” tanyanya datar.

Marsha mengangguk pelan. “…iya.”

Tidak ada tangan yang menyentuh keningnya. Tidak ada pelukan. Tidak ada nada lembut yang menenangkan. “Istirahat saja. Jangan banyak bergerak,” lanjut Selena singkat, kalimat yang benar, namun terasa begitu jauh.

Marsha tidak menjawab lagi pandangannya perlahan turun, dan harapan kecil itu pun menghilang tanpa sempat bertahan lebih lama. Andreas yang sejak tadi memperhatikan akhirnya berdiri. Gerakannya tenang, tapi rahangnya mengeras.

“Apa hanya itu?” suaranya rendah.

Selena menoleh. “Maksudmu?”

“Anakmu sakit,” lanjut Andreas, menatapnya lekat.

“Aku tahu.

“Dia semalaman di sini.” Selena tidak menjawab. “Aku yang menemaninya,” tambah Andreas.

“Lalu? Kamu pikir aku peduli.” balas Selena singkat, satu kata itu cukup membuat udara di ruangan terasa berubah.

Andreas menarik nafas panjang, berusaha tetap tenang. “Dia memanggilmu semalam.”

Selena diam. “Dia bertanya apakah kamu tahu,” lanjutnya, suaranya lebih pelan, namun jelas.

Selena mengalihkan pandangannya sejenak. “Aku datang sekarang.”

Andreas tersenyum tipis, tanpa kehangatan. “Sekarang… setelah semuanya terlewat?”

“Aku punya pekerjaan,” jawab Selena datar dan kalimat itu akhirnya meruntuhkan sisa kesabaran yang ada.

“Dia anakmu, Selena,” suara Andreas sedikit naik, meski masih tertahan.

“Aku tidak mengabaikannya.”

“Tidak?” Andreas menatapnya tajam. “Lalu apa yang kamu lakukan selama ini?”

Hening sejenak.

Selena tetap berdiri tegak. “Aku memastikan semuanya tetap berjalan.”

“Termasuk hidupnya?” tanya Andreas pelan.

Selena menatap lurus. “Dia baik-baik saja.”

Andreas menggeleng, suaranya kini lebih dalam, lebih berat. “Tidak. Dia tidak baik-baik saja.”

Tidak ada jawaban. “Andaikan kamu melihatnya semalam… kamu tidak akan berkata seperti itu.”

Kali ini Selena terdiam lebih lama, namun bukan karena tersentuh melainkan karena ia tidak merasa perlu membantah. Di atas ranjang, Marsha terbaring diam. Matanya terpejam, namun ia belum benar-benar tertidur. Suara-suara itu masih sampai ke telinganya, samar namun cukup untuk ia mengerti.

Seperti biasa, ia tidak bergerak, tidak memanggil, tidak mencoba menghentikan, ia hanya diam, seolah keberadaannya memang tidak seharusnya menjadi pusat dari apapun. Di ruangan itu, bukan hanya udara yang terasa dingin. Namun sesuatu yang lebih dalam perlahan retak, tanpa suara dan tanpa peringatan. Dan mungkin tanpa kesempatan untuk kembali utuh.

Hari-hari setelah itu berlalu tanpa perubahan yang berarti, tidak ada kehangatan yang tumbuh, tidak ada penyesalan yang datang terlambat yang ada justru sebaliknya sesuatu di dalam diri Selena perlahan mengeras ia kembali pada dunianya.

Runway, pertemuan, kontrak, perjalanan semuanya kembali berjalan seperti semula, seolah tidak pernah ada celah yang sempat mengganggu, namun dibalik keteraturan itu, ada satu hal yang berubah. Andreas pria itu tidak lagi sama.

Jika dulu ia masih menyempatkan diri duduk bersamanya, berbagi percakapan meski singkat kini semuanya terasa lebih jauh, lebih singkat dan lebih dingin. “Besok aku pulang malam,” ucap Andreas suatu sore, tanpa benar-benar menatap.

Selena hanya mengangguk ringan. “Seperti biasa.” tidak ada yang menahan dan tidak ada yang bertanya. Percakapan itu berakhir bahkan sebelum benar-benar dimulai.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!