“Yang itu letakkan di tengah. Hati-hati, jangan sampai miring.”
Suara lembut itu terdengar jelas di antara para pelayan. Xu Natalia berdiri di tengah aula, mengenakan hanfu biru sederhana yang justru menonjolkan kecantikannya. Wajahnya tampak antusias, hari ini, suaminya akan pulang setelah enam bulan pergi berperang, dan kini membawa kemenangan.
Sejak semalam, ia hampir tidak beristirahat. Semua ia siapkan sendiri, memastikan tak ada yang kurang.
Di sampingnya, Wulan, pelayan pribadinya, menatap dengan khawatir.
“Nyonya Muda, sebaiknya Anda beristirahat dulu. Anda belum tidur sejak semalam,” ujarnya pelan.
Xu Natalia menoleh dan tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja, Wulan. Lagi pula, semuanya hampir selesai.”
Wulan menghela napas, tahu ia tak akan bisa membujuk nyonyanya. Ia pun memilih membantu tanpa berkata lagi.
Tak lama, suasana mendadak berubah saat langkah kaki terdengar dari luar aula. Nyonya Tua Li Anna masuk dengan anggun, diikuti putrinya, Karina, dan menantu pertamanya, Lusi. Tatapan mereka langsung jatuh pada Xu Natalia dengan wajah dingin.
“Natalia,” panggil Li Anna dengan nada dingin dan memerintah. “Pergi ke paviliun belakang. Ambilkan barang-barangku.”
Xu Natalia sedikit terkejut, namun tetap menunduk hormat. “Baik, Ibu. Aku akan menyelesaikan ini dulu, setelah itu—”
“Apa kau membantah?” potong Li Anna tajam. “Berani sekali kau menunda perintah ibu mertuamu!”
Suasana langsung hening. Para pelayan menunduk, tak berani bersuara.
Xu Natalia terdiam. Wajahnya tetap tenang, seolah sudah terbiasa menerima perlakuan seperti itu.
Karina mendengus pelan. “Dasar pemalas. Hal sekecil itu saja masih harus ditunda.”
Lusi ikut tersenyum sinis. “Memang begitu kalau asal-usulnya tak jelas. Tak tahu etika.”
Wulan mengepalkan tangannya, menahan amarah. Namun Xu Natalia hanya mengangguk pelan.
“Baik, Ibu. Aku akan segera ke sana.” Ia berbalik dan berjalan menuju paviliun belakang, diikuti Wulan yang masih menahan kesal.
Begitu Xu Natalia pergi, Li Anna mencibir. “Cih, dasar yatim piatu. Sudah jelas hanya ingin menumpang hidup di keluarga Li.”
Karina tertawa kecil, sementara Lusi menutup mulutnya, menahan senyum.
Namun suasana berubah seketika saat seorang pengawal bergegas masuk dan berlutut.
“Nyonya Tua! Rombongan Tuan Muda Li Adrian sudah tiba di depan gerbang!”
Wajah Li Anna langsung berseri-seri.
“Benarkah?!”
“Iya, Nyonya!”
“Cepat, kita sambut!” serunya penuh antusias.
Tanpa memedulikan yang lain, mereka segera berbalik menuju gerbang utama, meninggalkan aula yang masih dipenuhi sisa persiapan. Mereka bahkan tak berniat memanggil Natalia kembali.
*
*
Di paviliun belakang kediaman, terlihat Natalia dan Wulan sibuk mencari barang milik mertuanya itu.
Tapi gerakan tangan Xu Natalia terhenti sejenak saat seorang pelayan bergegas menghampirinya di paviliun belakang.
“Nyonya Muda, Tuan Muda Li telah datang,” lapor pelayan itu sambil menunduk.
Mata Natalia langsung berbinar. “Benarkah?”
Pelayan itu mengangguk cepat. “Benar, Nyonya. Tapi, Tuan—”
Belum sempat kalimat itu selesai, Natalia sudah berbalik dan bergegas pergi. Senyum manis menghiasi wajahnya, langkahnya ringan penuh harap.
Di belakangnya, pelayan itu hanya bisa terdiam kaku, seolah ingin mengatakan sesuatu namun tak mampu.
Natalia berjalan cepat menuju gerbang utama. Namun, langkahnya tiba-tiba melambat saat suara yang begitu dikenalnya terdengar jelas.
“Andrian, kau tahu? Selama kau pergi, istrimu itu tidak melakukan apa-apa,” ujar Li Anna dengan nada penuh sindiran. “Bahkan semua persiapan ini kami yang susah payah mengurusnya. Dia? Hanya diam di paviliunnya sepanjang hari.”
Langkah Natalia terhenti sepenuhnya. Dadanya terasa sesak. Ia berdiri di balik pilar, tak berani melangkah lebih jauh. Padahal dialah yang mengurus semuanya.
Di sampingnya, Wulan mengepalkan tangan, rahangnya mengeras menahan amarah. Namun Natalia hanya menunduk, berusaha tetap tenang meski hatinya terasa diremas. Meski begitu, Natalia tidak akan marah.
Lalu suara Li Anna kembali terdengar, kali ini penuh rasa penasaran. “Lalu siapa wanita ini, Andrian?”
Suara pria itu, suara yang begitu Natalia rindukan akhirnya terdengar.
“Dia istriku, Ibu. Gu Lilith, putri dari keluarga bangsawan Gu.”
Deg!
Dunia Natalia seakan berhenti. Tubuhnya membeku.
“Istri?” lirih Natalia tak percaya.
Perlahan, dengan langkah berat, ia menampakkan dirinya dari balik pilar.
Semua orang langsung menoleh.
Di sana, ia melihat Li Andrian berdiri tegap dengan pakaian perang yang megah. Namun yang membuat hatinya hancur adalah wanita di sampingnya.
Seorang wanita cantik dalam hanfu merah muda, menggandeng erat lengan suaminya dengan senyum manis.
Napas Natalia tercekat. “Suamiku .…” suaranya lirih, nyaris tak terdengar. “Siapa dia?”
Li Andrian menatapnya datar, tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Ini istriku. Lilith.”
Kata-kata itu menghantam seperti petir. Tangan Natalia mengepal kuat, kukunya nyaris melukai telapak tangannya sendiri.
Gu Lilith tersenyum lembut, melangkah sedikit mendekat. “Salam kenal, Kakak,” ujarnya manis. “Mulai sekarang, semoga kita bisa bersama-sama melayani suami kita. Tapi ....”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Andrian dengan lembut sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit.
Hati Natalia terasa seperti ditusuk ribuan jarum.
Li Andrian maksud dari istri keduanya itu, akhirnya ia pun melanjutkan dengan nada dingin, seolah membicarakan hal sepele.
“Natalia, Lilith sedang mengandung anakku. Karena itu, mulai sekarang dia akan menjadi istri sah. Sedangkan kau cukup menjadi selir.”
Duar!
Segalanya runtuh dalam sekejap. Air mata jatuh tanpa bisa ia tahan. Dunia di sekitarnya terasa kabur. Namun tak seorang pun peduli.
“Benar! Kak Lilith ini seorang bangsawan, tidak pantas dia menjadi seorang selir,” sela Karina tanpa memikirkan perasaan kakak iparnya.
Bukannya menegur putrinya, Li Anna justru tersenyum lebar, penuh kebanggaan. Ia segera menggandeng tangan Lilith.
“Ayo, kita ke aula. Ibu sudah menyiapkan pesta penyambutan untuk kalian,” ujarnya hangat, perlakuan yang tak pernah diberikan pada Natalia. “Ayo, menantuku.”
Rombongan itu pun berjalan pergi, meninggalkan Natalia berdiri sendirian. Tak ada yang menoleh padanya bahkan bersimpati sedikitpun.
Sampai akhirnya, lutut Natalia tak lagi mampu menopang tubuhnya. Ia jatuh terduduk di tanah.
“Nyonya!” Wulan berlari menghampiri, wajahnya panik.
Natalia terisak pelan, air matanya jatuh tanpa henti. “Apa … salahku, Wulan?” suaranya bergetar. “Apa aku kurang baik sebagai istri? Aku telah mengobarkan semuanya.”
Wulan menggigit bibirnya, menahan tangis. Ia memeluk Natalia erat. “Bukan salah Nyonya mereka saja yang tidak tahu diri.”
Namun bagi Natalia, kata-kata itu tak lagi mampu mengobati luka.
Hari yang seharusnya penuh kebahagiaan justru menjadi awal dari kehancuran hatinya.
Selama lima tahun, Xu Natalia mengabdikan dirinya sepenuh hati pada keluarga Li, menahan hinaan, menelan luka, dan tetap berdiri sebagai istri yang setia. Tapi yang ia dapatkan hari ini hanyalah pengkhianatan.
Tubuhnya yang lemah masih terjatuh di gerbang kediaman. Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan lagi, bahunya bergetar hebat. Air mata terus mengalir, membasahi pipinya yang pucat.
Semua usaha, semua pengorbanan seakan tak pernah berarti. “Apa … semua itu sia-sia?” lirihnya dengan suara parau.
Suasana aula utama kediaman keluarga Li begitu meriah. Para tamu mulai berdatangan, suara tawa dan percakapan memenuhi ruangan. Di tengah kemegahan itu, Nyonya Li Anna berdiri dengan wajah sedikit gelisah, matanya menyapu ke sekeliling.
“Di mana Natalia?” tanyanya, nadanya terdengar tak sabar. “Apa yang dia lakukan?”
Li Andrian yang berdiri di samping Gu Lilith menjawab santai, seolah tak ada yang perlu dipermasalahkan.
“Biarkan saja dia, Ibu.”
Nyonya Li Anna langsung mengerutkan kening, jelas tidak puas.
“Bagaimana bisa dibiarkan?” suaranya meninggi. “Seharusnya dia berdiri di sini menyambut para tamu! Apa kata orang nanti? Istri dari Adipati Li tidak muncul saat penyambutan? Terlebih lagi di hari kau membawa Lilith pulang?”
Ia mendengus pelan. “Sungguh memalukan.”
Gu Lilith yang berdiri anggun di samping Andrian segera menunduk sedikit, suaranya lembut dan penuh kepura-puraan.
“Ibu, sudahlah,” katanya halus. “Biarkan Kak Natalia sendiri dulu. Mungkin dia masih terkejut dan sedih melihat kedatanganku bersama Andrian.”
Ia menatap ke arah pintu seolah penuh empati. “Aku akan pergi mencarinya dan membujuknya kembali.”
Lilith baru saja hendak melangkah ketika sebuah tangan menahan pergelangannya.
“Tak perlu.”
Suara Andrian tegas. Ia menatap Lilith dengan lembut, jauh berbeda dari tatapannya pada Natalia sebelumnya.
“Kau sedang hamil. Jangan memikirkan hal seperti itu,” ujarnya pelan. “Biarkan saja dia. Tidak perlu dijelaskan apa pun. Dia pasti akan mengerti sendiri.”
Li Anna mengangguk setuju. “Benar. Untuk apa kau merendahkan dirimu? Dia hanya perlu tahu posisinya.”
Andrian menarik Lilith sedikit lebih dekat, seolah melindunginya. Dalam pikirannya, semuanya terasa sederhana. Natalia mencintainya, ia tahu itu. Bahkan terlalu yakin.
Selama ini, wanita itu selalu diam, selalu menurut, selalu menerima apa pun yang ia berikan atau bahkan yang ia abaikan. Jadi kali ini pun, Andrian percaya Natalia akan melakukan hal yang sama, menerima, mengalah dan diam.
Di sisi lain kediaman, Paviliun Mawar milik Xu Natalia tampak sunyi. Aroma bunga mawar yang biasanya menenangkan kini terasa hambar.
Natalia duduk diam di kursi kayu, menatap kosong ke taman di depannya. Air matanya sudah berhenti, namun bekasnya masih jelas terlihat di pipinya.
Lima tahun lalu, keluarga Li hanyalah rakyat biasa. Ingatan itu kembali berputar di benaknya.
Saat itu, ia bertemu Li Andrian di hutan, pria itu terluka parah setelah diserang harimau. Tubuhnya penuh luka, nyaris tak bernyawa. Dan Natalia yang kebetulan melintas, menyelamatkannya tanpa ragu.
Andrian saat itu hanyalah pria miskin yang mencari kayu bakar untuk bertahan hidup. Namun dari pertemuan itu tumbuh perasaan. Cinta pada pandangan pertama.
Natalia membantu Andrian bangkit. Ia memberikan harta miliknya agar pria itu bisa mengikuti ujian istana. Ia mendukungnya hingga menjadi sarjana, bahkan mengorbankan banyak hal tanpa pernah meminta balasan.
Bahkan kediaman keluarga Li juga berasal dari mahar yang ia berikan saat pernikahan mereka. Ia menemani Andrian dari nol, dari tidak memiliki apa-apa. Hingga berdiri di puncak. Namun kini semua itu seolah tak berarti. Ia diduakan, dikhianati dan dilupakan.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Suara dingin itu memecah keheningan.
Natalia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang.
“Andrian,” gumamnya pelan, lalu berdiri perlahan.
Pria itu masuk ke dalam paviliun dengan wajah tidak senang.
“Semua tamu bertanya-tanya,” lanjut Andrian tajam. “Apa kau tidak tahu? Mereka mencibir Lilith karena kau tidak muncul di aula.”
Natalia menoleh. Wajahnya kini dingin, tanpa emosi. Jadi bukannya untuk meminta maaf dan menjelaskan apa yang Andrian lakukan. Ia justru membela wanita lain.
“Apa hubungannya denganku?” tanya Natalia datar. “Jika selir kesayanganmu itu dicibir?”
Tatapannya tajam. “Bukankah itu memang pantas ia dapatkan? Sebagai orang ketiga dalam pernikahan kita.”
“Natalia!” bentak Andrian.
Ia mengerutkan kening, jelas tidak suka dengan sikap itu.
“Seorang bangsawan wajar memiliki lebih dari satu wanita,” lanjutnya dingin. “Kau seharusnya mengerti.”
Natalia tersenyum tipis, senyum yang penuh ejekan.
“Kau lupa janjimu, Andrian?” suaranya pelan, dan menusuk. “Sebelum kita menikah, kau berjanji tidak akan pernah mengambil selir ataupun wanita lain.”
Ia menatap langsung ke mata pria itu. “Dan sekarang kau sendiri yang mengingkarinya.”
Andrian terdiam. Ia memalingkan wajah, tak ingin menatap Natalia. Ada banyak alasan di balik keputusannya.
Gu Lilith adalah putri bangsawan, seorang jenderal tingkat tiga, sesuatu yang langka di Kekaisaran Pedang Langit. Dengan Lilith, posisinya akan semakin kuat. Jalan menuju kekuasaan lebih terbuka. Sebentar lagi ia akan diangkat menjadi Adipati.
Sementara Natalia, hanya yatim piatu, tanpa latar belakang yang jelas. Tanpa kekuatan, meski Natalia jauh lebih cantik, tapi percuma jika tidak bisa membawa dirinya menuju puncak kejayaan.
“Berhenti bersikap kekanak-kanakan,” kata Andrian akhirnya. “Pergi ke aula. Katakan pada semua orang bahwa kau menerima Lilith. Jika tidak .…”
Natalia mengangkat dagu sedikit. “Jika tidak apa?”
Sejenak, Andrian ragu, namun egonya lebih besar. “Kita bercerai saja.”
Suasana berubah hening. Namun tak seperti yang ia bayangkan Natalia tidak menangis apalagi memohon.
Ia hanya menatapnya dengan dingin. “Baik,” jawabnya singkat. “Kita bercerai.”
Deg!
Mata Andrian langsung melebar, ia terkejut dan tidak percaya. Ini bukan reaksi yang ia harapkan.
Ia pikir Natalia akan panik, memohon, atau setidaknya mencoba mempertahankan pernikahan mereka, seperti biasanya.
Namun wanita di hadapannya kini berbeda.
“Natalia, kau—” Andrian terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Sepertinya kau perlu berpikir dengan tenang.”
Ia mengerutkan kening. “Besok, aku tidak ingin kau bersikap seperti ini lagi.”
Tanpa menunggu jawaban, Andrian berbalik dan pergi.
Tangan Xu Natalia mengepal kuat di sisi tubuhnya. Selama ini ia sudah terlalu sabar menghadapi sikap dingin Li Andrian, menahan segala luka tanpa pernah mengeluh. Padahal dulu, sebelum menikah, pria itu begitu hangat dan penuh cinta padanya.
Namun semua berubah setelah pernikahan itu terjadi. Di malam pertama mereka, Natalia bahkan ditinggalkan sendirian tanpa penjelasan. Sejak saat itu, sikap Andrian perlahan menjadi dingin dan jauh.
Napas Natalia bergetar pelan, namun matanya perlahan mengeras. Ia menatap ke arah pintu tempat Andrian pergi tadi, seolah menegaskan sesuatu dalam hatinya.
“Kalau kau mengancamku dengan perceraian maka aku akan mengabulkannya, Andrian,” gumamnya lirih.
Pintu paviliun terbuka perlahan, dan Wulan masuk dengan wajah cemas. Ia segera menghampiri Natalia yang masih berdiri kaku.
“Nyonya, Anda tidak apa-apa?” tanyanya pelan.
Natalia menoleh, tatapannya kini jauh lebih tenang, meski menyisakan dingin yang asing. Ia menggeleng kecil, mencoba menenangkan pelayannya.
“Aku tidak apa-apa, Wulan.”
Wulan masih menatapnya khawatir, jelas tidak sepenuhnya percaya. Ia tahu betapa dalam perasaan Natalia terhadap Andrian selama ini.
“Nyonya .…” panggilnya ragu.
Natalia menarik napas dalam, lalu berkata dengan suara tegas. “Persiapkan dirimu, Wulan. Mungkin beberapa hari ke depan, kita akan pergi dari sini.”
Wulan tertegun, matanya membesar karena terkejut. Ia tak pernah menyangka akan mendengar kata-kata itu dari Natalia.
“Pergi? Maksud Nyonya meninggalkan kediaman Li?” tanyanya tak percaya.
Natalia mengangguk pelan, tanpa ragu sedikit pun. Wajahnya tetap tenang, namun keputusan itu sudah bulat.
“Ya. Kita pergi.”
Wulan terdiam, hatinya campur aduk antara terkejut dan lega. Ia tahu, selama ini nyonyanya terlalu banyak menahan luka.
“Baik, Nyonya, ke mana pun Anda pergi, saya akan ikut,” ucapnya akhirnya dengan mantap.
Pagi itu, Paviliun Mawar tampak tenang. Xu Natalia duduk di dekat jendela, merajut sapu tangan dengan gerakan perlahan. Wajahnya sudah kembali tenang, seolah tak ada lagi sisa tangis semalam.
Langkah kaki terdengar mendekat, diiringi suara kain bergesekan. Natalia mengangkat pandangannya saat Gu Lilith masuk bersama beberapa pelayan. Wajah wanita itu tampak angkuh, matanya menilai sekeliling paviliun.
“Aku ingin menempati paviliun ini,” ujar Lilith tanpa basa-basi. “Jadi, silakan kau cari tempat lain.”
Natalia meletakkan rajutannya dan berdiri perlahan. Tatapannya datar, tanpa emosi.
“Kau punya hak apa menyuruhku pergi?”
Lilith tersenyum tipis, penuh kemenangan. “Aku istri sah Andrian sekarang. Sedangkan kau hanya selir.”
Alis Natalia sedikit terangkat, ia tak tersinggung sama sekali. “Kalau aku tidak mau?” suaranya dingin. “Kenapa aku harus menuruti gundik sepertimu?”
Wajah Lilith langsung berubah. Amarah memenuhi matanya saat ia mengangkat tangan, berniat menampar Natalia.
“Kurang ajar!”
Tapi sebelum tangan itu mendarat, Natalia menangkap pergelangannya. Dengan satu gerakan tegas, ia menghempaskan tangan Lilith hingga terlepas.
Lilith mundur selangkah, mengepalkan tangan dengan wajah merah padam.
“Dasar yatim piatu! Kau benar-benar tidak tahu diri,” desisnya. “Pantas saja Andrian tidak pernah berselera menyentuhmu.”
Tatapan Natalia berubah tajam. “Lebih tidak tahu diri mana?” balasnya tenang. “Aku yang mempertahankan hakku atau seorang wanita yang melemparkan dirinya ke ranjang pria yang sudah beristri?”
Lilith semakin murka. Ia langsung melayangkan pukulan, namun kembali Natalia menahannya dengan mudah.
“Jangan pernah berani menyentuhku dengan tangan kotormu,” ucap Natalia dingin.
“Berani sekali kau—”
“Ada apa ini?”
Suara itu memotong pertikaian. Lilith dengan cepat melepaskan diri dan berpura-pura terhuyung. Tubuhnya condong ke belakang seolah terdorong.
“Andrian .…” lirihnya.
Li Andrian segera berlari dan menangkap tubuh Lilith sebelum jatuh. Wajahnya penuh kekhawatiran.
“Lilith! Kau tidak apa-apa?”
Lilith menggeleng lemah, berpura-pura tegar. “Aku baik-baik saja hanya saja, Kak Natalia sepertinya membenciku,” ucapnya lirih. “Aku hanya meminta paviliun ini dengan baik, tapi Natalia langsung mendorongku.”
Tatapan Andrian langsung berubah tajam ke arah Natalia.
“Beraninya kau menyakiti Lilith!” bentaknya. “Dia sedang mengandung anakku. Kau benar-benar jahat.”
Natalia tidak terkejut. Ia hanya tersenyum tipis. “Aku menyakitinya?” ujarnya santai. “Jenderal tingkat tiga bisa tertindas oleh wanita yang bahkan tak punya kemampuan bela diri?”
Ia melangkah mendekat, menatap Lilith lurus. “Aku yang kuat atau kau yang pura-pura lemah?”
Tangan Lilith kembali mengepal, namun Andrian langsung berdiri di depannya.
“Apa salahnya kau memberikan paviliun ini?” katanya dingin. “Lilith sedang hamil. Kau seharusnya mengalah.”
Belum sempat Natalia menjawab, langkah kaki lain terdengar mendekat. Li Anna, Karina, dan Lusi masuk dengan wajah tidak senang.
“Apa yang terjadi?” tanya Li Anna.
“Ibu .…” Lilith langsung mendekat dengan wajah sedih. “Aku hanya ingin paviliun ini, tapi Kak Natalia tak ingin memberikannya. Padahal aku sedang ngidam, dan sangat menyukai suasana paviliun ini,” ujarnya lagii sambil mengelus perutnya.
Natalia menatap tajam dan berkata, “Jangan mencoba membawa anak dalam—”
“Cukup!” potong Li Anna tajam, menatap Natalia penuh kebencian. “Kau ini benar-benar tidak tahu diri!”
Karina mendengus. “Dasar yatim piatu. Sudah dipungut, masih berani melawan.”
Lusi ikut menyahut sinis. “Jangan-jangan dia ingin menguasai semua yang dimiliki Andrian. Benar-benar tidak tahu diri, hanya menumpang bersikap seenaknya.”
Natalia yang semula diam, perlahan mengangkat kepalanya. Tatapannya kini dingin dan tajam.
“Aky ingin menguasai?” ulangnya pelan. Ia lalu menatap Andrian lurus. “Apa kau tidak ingin menjelaskan dari mana kediaman ini berasal?”
Andrian langsung terdiam. Wajahnya menegang.n“Kau ingin mengingkari lagi janjimu?” lanjut Natalia.
Li Anna mengerutkan kening.n“Apa maksudmu? Semua ini hasil kerja keras putraku!”
Natalia tersenyum tipis. “Oh, benarkah?” katanya santai. “Kalau begitu mari kita tanya langsung padanya.”
Semua mata langsung tertuju pada Andrian. Pria itu tampak gelisah, jelas tidak siap.
Selama ini, ia selalu mengaku sebagai pemilik segalanya, bahkan menjadi sarjana karena biaya sendiri. Padahal kenyataannya semua berasal dari Natalia. Bahkan surat kepemilikan kediaman ini atas nama wanita itu.
Dulu saat Andrian meminta pada keluarganya, keluarganya justru tidak memiliki biaya dan tentu lagi-lagi Natalia yang membantunya.
“Andrian?” desak Li Anna.
Andrian menarik napas, lalu berusaha tersenyum.
“Sudahlah, Bu. Tidak perlu dibahas,” katanya cepat. Ia menoleh ke Natalia. “Kau pindah saja ke paviliun lain. Tidak perlu memperbesar masalah.”
Natalia langsung menggeleng. “Aku tidak akan pergi.”
Wajah Li Anna langsung memerah. “Kurang ajar!” bentaknya. “Dasar wanita pembangkang!”
Karina dan Lusi ikut menyerang dengan kata-kata tajam.
“Lebih baik ceraikan saja wanita swperti ini, kak. Perempuan mandul,” ejek Karina.
“Benar! Hanya menjadi beban keluarga.”
Lilith berdiri di belakang Andrian, menatap Natalia dengan senyum tipis penuh kemenangan.
Nyonya Li Anna ikut kembali membuka mulutnya.
Namun tiba-tiba Andrian mengangkat tangan. “Ibu, sudah,” katanya cepat. “Mari kita pergi dulu. Natalia hanya sedang banyak pikiran.”
Li Anna menatapnya tak percaya. “Apa maksudmu? Wanita seperti ini harusnya langsung diceraikan!”
Andrian terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Jika ia menceraikan Natalia sekarang. Maka kediaman ini dan semua yang ada di dalamnya akan kembali pada pemilik aslinya, Xu Natalia.
Satu-satunya cara adalah mengambil kediaman ini lebih dulu. Baru setelahnya mendepak Natalia pergi.
Akhirnya mereka berbalik pergi dengan wajah masam begitu melihat wajah Andrian.
*
*
Setelah perdebatan itu, Xu Natalia memilih keluar dari kediaman keluarga Li. Langkahnya tenang, namun pikirannya penuh dengan gejolak yang tak ia tunjukkan. Wulan mengikuti di belakang, wajahnya masih dipenuhi amarah.
“Benar-benar keterlaluan!” gerutu Wulan tak henti-henti. “Mereka tidak tahu malu, Nyonya. Semua itu jelas milik Anda, tapi mereka malah bertingkah seolah-olah itu milik mereka!”
Natalia tidak langsung menjawab. Ia hanya terus berjalan hingga akhirnya berhenti di depan sebuah toko pakaian yang cukup besar. Tanpa banyak bicara, ia masuk ke dalam.
Di dalam toko, suasana jauh lebih tenang. Natalia mulai melihat-lihat deretan hanfu dengan berbagai warna dan corak. Sudah lama ia tidak memanjakan dirinya sendiri.
“Yang ini bagus,” gumamnya pelan sambil menyentuh kain lembut berwarna biru tua. “Dan yang itu bungkus juga.”
Wulan masih menggerutu pelan di sampingnya.
“Nyonya, kenapa kita yang harus pergi nanti?” katanya kesal. “Itu kediaman milik Nyonya. Seharusnya mereka yang keluar, bukan kita.”
Tangan Natalia yang sedang memilih kain tiba-tiba terhenti. Ia terdiam sejenak, mencerna kata-kata itu.
Benar. Kenapa harus dirinya yang pergi?
Perlahan, Natalia mengangkat wajahnya dan menatap Wulan. Ada sesuatu yang berubah dalam tatapannya semakim dingin.
“Kau benar, Wulan,” ucapnya pelan namun pasti.
Wulan tertegun, menatap nyonyanya dengan heran.
Natalia tersenyum tipis. Namun kali ini, senyumnya bukan lagi kelembutan seperti dulu.
“Yang seharusnya pergi bukan kita. Tapi mereka.”
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!