"Pelayan, tambah lagi twak nya..!!! "
Seorang pemuda tampan dengan tubuh tegap dan pakaian bangsawan, berteriak sambil melemparkan kendi kosong ke lantai tempat hiburan terbesar di barat Kotaraja Watugaluh. Wajahnya memerah karena mabok berat.
Dua orang perempuan muda nan cantik dengan pakaian nyaris memamerkan bagian tubuh, menggelayut manja di kedua sisi badannya. Dengan genit keduanya terus menggesek-gesekkan payudara nya pada sang pemuda tampan ini.
Di belakang pemuda ini, Warak dan Ludaka dua pengawal berbadan gempal dan kekar dengan tampang sangar berdiri waspada.
Pemuda tampan ini adalah Mapanji Wijaya, putra kedua. Maharani Sri Isyana Tunggawijaya, penguasa Kerajaan Medang yang dikenal sebagai seorang pecundang besar daripada sebagai calon pewaris takhta. Tak satupun dari guru di Kotaraja Watugaluh mau menerima dia sebagai murid.
Teriakan keras Mapanji Wijaya terdengar ke seluruh penjuru rumah pelacuran ini. Seorang lelaki muda dengan tergesa-gesa mendekati meja Pangeran Mapanji Wijaya dan meletakkan kendi berisi minuman keras yang diminta sang pangeran.
"Mohon ampun Gusti Pangeran..
Ini sudah kendi ke 4, sebaiknya Gusti Pangeran....", nasehat lelaki berpakaian pelayan itu dengan wajah ketakutan.
" Hemmmm..
Kau berani mengatur ku?!! Warak, tampar mulut kurang ajar ini!!!", bentak Pangeran Mapanji Wijaya sembari bangkit dari tempat duduknya.
Warak yang berbadan gempal langsung maju dan mencengkeram baju si pelayan rumah hiburan ini. Tubuh ceking si pelayan langsung diangkat ke atas. Jari jemari Warak yang sebesar pisang klutuk siap melayang ke pipi si pelayan yang ketakutan saat seorang perempuan paruh baya berdandan menor datang dan langsung menghormat pada Mapanji Wijaya.
"Gusti Pangeran, mohon hentikan..
Si Madangkungan ini pelayan baru, kurang mengerti tata krama. Mohon Pangeran bersedia untuk memaafkannya. Kalau Pangeran mau memaafkan Madangkungan, nanti Gusti Pangeran akan hamba akan menyuruh Si Tunjung, primadona rumah hiburan ini untuk menemani Gusti Pangeran malam ini", ucap perempuan yang masih terlihat cantik ini segera.
Pangeran Mapanji Wijaya segera mengangkat tangannya tepat sesaat sebelum telapak tangan Warak menempeleng pipi si pelayan rumah hiburan yang bernama Madangkungan ini. Tentu saja melihat isyarat itu, Warak yang sudah hafal semua sikap majikannya, dengan patuh menghentikan pergerakannya. Dia langsung menurunkan tubuh Madangkungan yang gemetaran karena takut dan segera melepaskan nya.
"Hehehehe...
Aku suka dengan sikap mu ini, Nyai Kantil. Sekarang ayo antar aku ke kamar Si Tunjung, aku sudah tidak sabar untuk bermesraan dengan nya", ujar Pangeran Mapanji Wijaya sembari meletakkan dua kepeng perak di atas meja.
" Mari kita kesana, Gusti Pangeran.. ", sahut Nyai Kantil, mucikari sekaligus pemilik rumah pelacuran itu sambil tersenyum bahagia.
Keduanya segera pergi meninggalkan meja itu sementara dua pelacur yang menemani minum segera berebut kepeng perak yang ditinggalkan.
Ekor mata Pangeran Mapanji Wijaya melirik ke dekat pintu lorong kanan dan senyuman tipis tersungging di sudut mulutnya. Ia terus mengikuti Nyai Kantil diikuti oleh Warak dan Ludaka.
"Benar benar sampah!!
Orang seperti dia tidak pantas menjadi seorang pangeran dari Istana Kotaraja Watugaluh. Ini benar benar memalukan. Dia harus ku beri pelajaran..", geram seorang lelaki berusia antara 3 dasawarsa dengan pakaian bagus dan bertubuh kekar seperti seorang perwira prajurit. Tangannya memukul kayu tiang penyangga bangunan dengan sedikit keras.
Dia adalah satu dari dua orang yang sedari tadi mengawasi gerak-gerik Pangeran Mapanji Wijaya.
Dua hari yang lalu, dua pengawal pribadi Pangeran Mapanji Wijaya Si Warak dan Ludaka menghajar adiknya Wismaya hanya karena menyenggol si pangeran yang sempoyongan berjalan setelah banyak menenggak minuman keras. Bagi yang sering datang ke rumah pelacuran Nyai Kantil, hal ini sudah biasa mereka lihat. Sang Pangeran Medang yang satu ini memang suka bersikap seperti ini, menindas orang seenaknya.
"Jangan bertindak gegabah, Jantaka...
Bagaimanapun juga, ia putra Yang Mulia Maharani Sri Isyana Tunggawijaya. Kita akan menjadi buronan jika sampai melukai nya", nasehat kawan nya yang berada di sisi dekat pintu lorong kanan rumah hiburan.
" Aku tak peduli, Mangir!!
Malam ini dia harus merasakan bagaimana rasanya terluka dengan senjata rahasia ku. Adik ku masih terkapar akibat kesombongannya, ia harus membayarnya ", jawab si pemuda bernama Jantaka ini berbalik arah. Melihat Jantaka bergerak, Mangir tersenyum licik. Dia segera berbalik arah meninggalkan tempat itu untuk melakukan rencana nya sendiri.
Nyai Kantil segera membawa Pangeran Mapanji Wijaya ke bilik di salah satu sudut bangunan rumah pelacuran ini. Bilik ini adalah bilik mewah yang cuma digunakan sebagai tempat tinggal primadona pelacuran itu.
Begitu pintu bilik dibuka, seorang gadis cantik dengan rona wajah penuh ketakutan meringkuk di atas ranjang. Dia segera bangun dari tempat tidur nya dan duduk sambil menangis sesenggukan.
"Gusti Pangeran, ini Tunjung Biru. Dia baru saja masuk ke rumah hiburan ini, mohon sedikit bersabar dengan nya ya hehehe..
Dia masih perawan loh, jadi harga nya sedikit mahal hihihihi", tawa genit Nyai Kantil terdengar.
Ada kilat aneh di mata Pangeran Mapanji Wijaya melihat keadaan Tunjung Biru yang sedemikian rupa. Tetapi ia cepat-cepat membalut perasaannya dengan seringai lebar seorang lelaki hidung belang.
Pangeran Mapanji Wijaya segera merogoh kantong baju nya dan memberikan kantong kain berisi duit pada Nyai Kantil. Mucikari itu segera membukanya dan mata nya melebar seketika melihat puluhan kepeng emas ada disana.
"Selama aku belum bosan bermain dengan nya, jangan sekali-kali membiarkan nya bermain dengan orang lain. Uang itu semuanya boleh kau ambil.. ", tutur Pangeran Mapanji Wijaya yang membuat senyuman Nyai Kantil merekah seketika.
" Hamba patuh pada perintah Gusti Pangeran. Selamat bersenang-senang malam ini ", ucap Nyai Kantil sembari berlalu pergi dari kamar tidur ini.
Pangeran Mapanji Wijaya segera memberikan isyarat kepada Warak dan Ludaka agar mereka juga keluar. Dengan patuh, keduanya segera keluar sambil menutup pintu.
" M-mau apa kau hah?! Jangan harap bisa menyentuh ku!! "
Tunjung Biru segera mengeluarkan sebilah pisau yang ia simpan di balik selimut tidur nya.
"Kucing liar rupanya hehehe..
Aku jadi semangat ingin bercinta dengan mu. Ayo sini mendekat sama aku", ucap Pangeran Mapanji Wijaya seraya berjalan mendekati ranjang tidur. Ketakutan dengan sikap tak peduli Pangeran Mapanji Wijaya, Tunjung Biru melompat dari tempat tidur dan berlari ke arah pintu kamar.
Atap bangunan yang terbuat dari daun alang-alang kering perlahan di singkap dari atas dan sesosok bayangan hitam perlahan memasukkan ujung sumpit bambu dari luar. Perlahan ia memasukkan sebuah jarum berwarna biru dan begitu sasaran sudah ditentukan, si bayangan hitam segera meniupnya sekuat tenaga.
Puuuuuuuuhhhhh...
Shhrriiiiiinnngggggg!!!!
Ujung telinga Pangeran Mapanji Wijaya bergerak mendengarkan sesuatu membelah udara. Dia pun. dengan segera melihat ujung sumpit bambu tersembul dari langit-langit bilik. Maka dengan gerakan yang halus, ia menghindari serangan sumpit beracun ini. Dengan cepat ia meraih pergelangan tangan Tunjung Biru yang memegang pisau sesaat sebelum perempuan cantik itu mencapai gagang pintu.
Segera ia meremas pergelangan tangan Tunjung Biru yang membuat perempuan cantik itu kesakitan dan melepaskan pisau di tangan kanannya. Pisau meluncur ke bawah dan menancap di lantai.
Sementara sosok bayangan hitam yang melihat serangannya gagal, mendengus dingin sambil mengulangi serangannya. Kali ini ia mengerahkan tenaga dalamnya untuk menyumpit Pangeran Mapanji Wijaya.
Shhrriiiiiinnngggggg..!!!
Pangeran Mapanji Wijaya yang sudah mengetahui bahwa ia sedang diincar seseorang, dengan santai nya merangkul pinggang ramping Tunjung Biru dan mendorong nya ke meja kecil di samping tempat tidur.
Lagi-lagi serangan sumpit ini hanya menancap pada dinding kamar tidur. Tetapi Pangeran Mapanji Wijaya tak bisa berdiam diri lagi. Dia dengan cepat menghentakkan kaki nya ke ubin bilik hingga pisau milik Tunjung Biru terangkat ke udara. Lalu dengan sebuah gerakan cepat, kaki nya menendang pisau itu ke arah sumpit.
Dhhaaaassssss shhrreeeeeeeeettttt!!!!
Kecepatan tinggi yang dimiliki oleh pisau itu melesat cepat bagaikan mata anak panah, merobek kain hitam yang menutupi wajah si bayangan hitam.
Uuuuuuggghhhh!!!
Jerit kecil tertahan langsung keluar dari si bayangan hitam yang tak lain adalah Jantaka. Pisau yang ditendang Pangeran Mapanji Wijaya tak cuma melepas penutup wajahnya tetapi menciptakan luka memanjang pada pipi kiri nya.
Menyadari bahwa dirinya sudah ketahuan, Jantaka langsung melarikan diri dari tempat itu. Sementara itu di bawah, Pangeran Mapanji Wijaya hanya tersenyum sedikit sembari berkata dengan nada dingin,
"Huh dasar tikus kecil.. "
"Lepaskan aku bajingan!! Aku tak sudi melayani nafsu bejat mu!!! "
Tunjung Biru meronta kuat ingin melepaskan diri dari pelukan Pangeran Mapanji Wijaya. Yang tidak ia sangka sang pangeran malah tak berusaha mengekang nya hingga akhirnya perempuan cantik itu akhirnya jatuh terjerembab ke lantai kamar.
Rasa sakit karena jatuh sendiri hampir membuat Tunjung Biru, sang primadona rumah hiburan Nyai Kantil, memaki Pangeran Mapanji Wijaya yang menurutnya sengaja melepaskan nya agar jatuh.
Namun niat itu diurungkan Tunjung Biru.
Apa penyebabnya??!!
Sebuah jarum berwarna biru menancap di lantai hampir seruas jari tepat di hadapannya. Ia pun langsung menyadari sesuatu. Ini jelas jarum beracun yang ditembakkan dari atas.
"Sudah lihat kan? ", tanya Pangeran Mapanji Wijaya sembari mendudukkan pantat nya di tepi ranjang dengan acuh tak acuh.
" K-kau kapan menyadari ada orang yang ingin mencelakai kita? ", Tunjung Biru balik bertanya. Dia bangkit dari tempat jatuhnya dan menatap Pangeran Mapanji Wijaya penuh tanya.
" Sejak awal kita masuk kesini, orang itu sudah ada di atap bangunan ini. Sewaktu aku mengejar mu tadi, dia menembakkan dua kali jarum beracun itu. Masih tak percaya? Lihat yang di dinding sebelah sana.. ", Pangeran Mapanji Wijaya menunjuk ke arah dinding di sebelah kanan Tunjung Biru.
Perempuan cantik itu buru-buru berlari dan melihat ke arah dinding sambil membawa salah satu lampu penerangan kamar tidur itu. Dan semua yang diucapkan oleh Pangeran Mapanji Wijaya benar adanya.
"Kau apakah masih Pangeran Mapanji Wijaya yang pecundang itu?! ", seru Tunjung Biru setengah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
" Itulah aku... ", jawab Pangeran Mapanji Wijaya dengan santai.
" Tidak mungkin. Hanya seorang pendekar berilmu tinggi yang bisa melakukan hal seperti ini ( menghindari serangan sumpit di waktu malam gelap gulita).
Kau yang hanya seorang pecundang yang suka berfoya-foya tak mungkin bisa melakukannya", lanjut Tunjung Biru masih tetap tak percaya.
Sebagai bekas putri seorang pimpinan perguruan silat di wilayah Kambang Putih, dia sedikit banyak tahu dunia kependekaran. Meskipun akhirnya ia menjadi budak yang diperjualbelikan ke rumah hiburan karena kesalahan ayahnya yang membantu pemberontakan Adipati Hujung Galuh, Tunjung Biru tahu betul bahwa hanya seorang pendekar berilmu tinggi saja yang bisa menghindari serangan senjata rahasia di malam hari.
"Itu tidak penting...
Aku sudah membayar biaya pelayanan mu selama disini. Kau harus melakukan sesuatu untuk ku.. ", ucap Pangeran Mapanji Wijaya yang membuat Tunjung Biru segera menyilangkan kedua tangannya ke depan dada.
" M-mau apa kau hah?! Jangan macam-macam.. ", hardik Tunjung Biru segera.
" Haeehhhhh, aku tak tertarik untuk bercumbu dengan mu. Dada rata belum tumbuh begitu apanya yang menarik?! ", karuan saja omongan Pangeran Mapanji Wijaya membuat Tunjung Biru marah.
" Kau.... !!! "
"Kau apanya yang kau....!
Sudahlah aku tidak tertarik untuk berdebat dengan mu. Aku butuhkan kerjasama mu. Jadi begini selama aku datang kesini, kau akan mencari mu. Kau cukup berpura-pura melakukan itu dengan ku disini. Buat suara yang genit dan heboh, agar mereka percaya aku adalah si bajingan mesum. Aku berjanji tak akan menyentuh mu sama sekali. Bagaimana? Bisa kita kerjasama? ", Pangeran Mapanji Wijaya menatap wajah Tunjung Biru yang kebingungan.
" Kau membayar mahal-mahal hanya untuk terus terlihat sebagai seorang hidung belang?!
Gusti Pangeran, kau sudah gila ya?!! ", sergah Tunjung Biru tak percaya.
" Jangan banyak bicara. Bisa tidak?! Kalau tidak bisa aku bisa mencari orang lain yang mau melakukan nya. Dan kau huh siap-siap saja melayani para pria hidung belang itu selamanya ", tekan Pangeran Mapanji Wijaya penuh kemenangan.
Tunjung Biru terdiam sejenak untuk berpikir. Saat Pangeran Mapanji Wijaya hendak beranjak pergi, dia buru-buru menahannya.
" Baiklah baiklah, aku setuju dengan mu... ", jawab Tunjung Biru segera.
" Sepakat!
Ini sudah cukup malam. Waktunya aku untuk pulang ke istana. Selamat malam... "
Setelah bicara demikian, Pangeran Mapanji Wijaya segera melangkah keluar dari dalam bilik Tunjung Biru. Meninggalkan Tunjung Biru yang masih bertanya-tanya dalam hati.
Semua lelaki yang ada di dalam rumah pelacuran Nyai Kantil menatap ke arah Pangeran Mapanji Wijaya dengan rasa iri karena sudah mendapatkan perempuan secantik Tunjung Biru. Menggunakan kereta kuda mewah, Pangeran Mapanji Wijaya meninggalkan tempat itu menuju ke arah Istana Kotaraja Watugaluh bersama dua orang pengikut setia nya Warak dan Ludaka. Mereka menyusuri jalanan yang sepi di barat kota.
Begitu memasuki istana, Pangeran Mapanji Wijaya segera menuju ke arah Keputran yang menjadi tempat tinggal nya. Di sudut timur keputran Watugaluh, di sebuah puri indah, ia melangkah dengan gontai seperti habis menenggak minuman keras.
Dua penjaga puri Pangeran Mapanji Wijaya hanya menghormat pada sang empunya tempat tanpa bicara sepatah katapun. Mereka tahu salah sedikit saja, pasti kena hajar.
Ludaka dan Warak langsung kembali ke tempat tinggal mereka yang ada di luar ruang peristirahatan Pangeran Mapanji Wijaya.
Sesampainya di tempat tidur, bukannya merebahkan tubuh Pangeran Mapanji Wijaya malah duduk bersila dengan kedua tangan menangkup di depan dada. Tak lama kemudian...
Clliiiiiinngggg!!!
Seorang lelaki sepuh dengan janggut putih panjang muncul di hadapan Pangeran Mapanji Wijaya. Kemunculan pria tua ini membuat Pangeran Mapanji Wijaya menghentikan semedi nya dan langsung berjongkok sambil menyembah pada orang tua itu.
"Guru, kau sudah datang.. "
Hemmmmmmmmm...
"Aku melihat kau sudah cukup siap untuk menerima ilmu dari ku, Wijaya..
Aku akan membawa mu ke suatu tempat. Pejamkan mata mu", ucap lelaki sepuh berpakaian serba putih itu sambil memegang pergelangan tangan Pangeran Mapanji Wijaya. Sang putra kedua dari Maharani Sri Isyana Tunggawijaya ini dengan patuh memejamkan mata dan di kejap waktu berikutnya mereka sudah menghilang dari tempat itu.
Sementara itu, di timur tembok istana...
Mangir berjalan sambil tersenyum lebar. Dengan berhasil menghasut Jantaka untuk memberi pelajaran pada Pangeran Mapanji Wijaya, ia mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Dia tidak perlu memberikan upah yang dititipkan pada nya sekaligus juga sudah berhasil menjalankan perintah.
Dia menuju ke sebuah rumah besar yang dipagar tembok tinggi, mirip dengan istana hanya dalam bentuk yang lebih kecil. Itu adalah kediaman Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana, pelaksana tugas yang bertanggungjawab langsung pada Maharani Sri Isyana Tunggawijaya.
Dua prajurit yang berjaga di pintu gerbang rumah hanya menganggukkan kepala saat Mangir masuk. Sepertinya mereka memang saling mengenal satu sama lain.
Seorang lelaki paruh baya dengan pakaian bangsawan sedang berbincang-bincang dengan seorang perwira yang lebih muda. Pembicaraan mereka langsung terhenti saat Mangir masuk.
"Bagaimana, Ngir? Beres?? ", tanya lelaki paruh baya itu begitu Mangir duduk bersila di hadapan nya.
" Ampun Gusti Rakryan Kanuruhan...
Saat ini Pangeran Mapanji Wijaya sedang bersenang-senang di rumah hiburan Nyai Kantil. Saat ini orang suruhan hamba pasti sudah bertindak ", lapor Mangir sambil menghormat.
" Kau yakin orang ini bisa diandalkan? ", tegas lelaki paruh baya itu seraya menatap ke arah Mangir.
" Hamba mengenal nya sudah lama, tahu bagaimana kemampuan nya. Masalah ini Gusti Rakryan Kanuruhan tak perlu cemas", balas Mangir sembari tersenyum.
" Bagus!
Si pecundang itu akhirnya mendapatkan balasan dari perbuatan bejat nya. Aku sudah lama tidak suka dengan sepak terjang nya selama ini. Dengan begini jalan bagi Gusti Mahamantri I Hino Pangeran Mapanji Jayanegara akan semakin mudah dengan berkurangnya satu pesaing untuk menjadi Yuwaraja Kerajaan Medang.
Akhirnya hari ini tiba juga hahaha... ", tawa lepas lelaki paruh baya yang bernama Mpu Kertawahana ini terdengar keras.
" Tapi Gusti Rakryan Kanuruhan..
Bukankah masih ada Pangeran Mapanji Setyaki? Dia sekarang saja sudah diangkat oleh Maharani Sri Isyana Tunggawijaya sebagai Mahamantri I Halu. Menurut hamba, dia juga pantas kita waspadai ", ujar seorang lelaki yang duduk bersila di samping Mpu Kertawahana.
Ckckckck...
" Kau berpikir terlalu pendek, Tumenggung Mpu Kandadaha. Mapanji Setyaki hanya anak seorang selir. Sekalipun ia putra tertua Sri Lokapala yang terkenal pintar dan berbudi luhur seperti Pangeran Mapanji Jayanegara, tetapi Maharani Sri Isyana Tunggawijaya tak mungkin memilihnya sebagai penerus tahta Kerajaan Medang ini. Penguasa kerajaan ini tetap Maharani Sri Isyana Tunggawijaya sekalipun ia sepenuhnya bergantung pada kebijaksanaan Sri Lokapala di belakang nya. Dan aku tahu Sri Lokapala sudah menyerahkan sepenuhnya urusan Yuwaraja Kerajaan Medang pada Maharani Sri Isyana Tunggawijaya. Dia tidak akan ikut campur sedikitpun", Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana menghela nafas sejenak sebelum kembali melanjutkan omongan nya,
"Satu-satunya pesaing utama perebutan tahta kerajaan ini,
Hanya pangeran bejat itu.. "
"Reputasi Pangeran Mapanji Wijaya, sudah sedemikian buruk di mata masyarakat dan kerabat istana, Gusti Rakryan Kanuruhan...
Seorang pangeran yang gemar berbuat tak senonoh tak mungkin lagi di pilih oleh Maharani Sri Isyana Tunggawijaya sebagai Yuwaraja. Untuk apa kita capek-capek mencelakai nya? Danghyang Resi Panawaja dari Perguruan Harinjing saja yang biasanya tidak menolak untuk mengajar calon punggawa istana, tidak mau menerima Pangeran Mapanji Wijaya sebagai murid. Lantas buat apa kita bersusah payah seperti ini? ", tanya Tumenggung Kandadaha dengan mimik wajah keheranan.
" Aku tahu kau pasti akan berpikir seperti itu, Kandadaha..
Tapi aku curiga ia sengaja melakukan hal ini untuk menutupi ambisi nya. Hanya sayang, aku belum bisa membongkar kebusukannya. Dia terlalu pintar menyembunyikan setiap ambisi dalam balutan tingkah konyolnya ", sahut Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana sembari mengusap jenggotnya.
" Aku yakin jawaban untuk semua pertanyaan mu ini hanya ada dua, Gusti Rakryan Kanuruhan..
Yang pertama, Pangeran Mapanji Wijaya terlalu pintar berpura-pura menjadi seorang bajingan. Sedangkan yang kedua, ini hanya ketakutan pribadi mu yang menganggap Pangeran Mapanji Wijaya terlalu tinggi. Dia cuma pangeran bejat yang suka bersenang-senang tapi kau menganggapnya sebagai ancaman.
Sudahlah, aku tidak mau bersusah payah mengurusi Pangeran Mapanji Wijaya yang urakan itu. Sudah cukup malam, aku harus segera pulang. Aku permisi Gusti Rakryan Kanuruhan ", pungkas Tumenggung Kandadaha sembari bangkit dari tempat duduknya dan menghormat sebelum memutar badannya.
" Tapi... "
Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana tak meneruskan omongan nya setelah melihat Tumenggung Kandadaha melambaikan tangannya.
Meskipun jabatan Tumenggung Kandadaha hanya seorang tumenggung yang menguasai keprajuritan di barat Kotaraja Watugaluh, dia masih kerabat dekat istana Medang karena dia adalah sepupu Maharani Sri Isyana Tunggawijaya dari pihak ibu. Dia juga dihormati oleh sang penguasa Kerajaan Medang sebagai seorang yang dituakan. Walaupun kadang ia sedikit keras kepala, tetapi pengaruhnya dalam ketatanegaraan cukup besar dan bisa sangat berarti jika Pangeran Mapanji Jayanegara dicalonkan sebagai Yuwaraja. Karena itu, mau tidak mau Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana harus sedikit bersabar menghadapi orang ini.
"Mangir..!! "
Yang dipanggil segera menghormat sebelum berbicara.
"Hamba Gusti Rakryan Kanuruhan... "
"Laporkan apapun yang terjadi pada Pangeran Mapanji Wijaya, jangan sampai ada yang terlewat.
Kalau perlu, kelompok telik sandi Gagak Ireng kau libatkan. Berikan ini pada Rampal, dia akan segera memenuhi apa yang kau inginkan", ucap Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana seraya menyerahkan sebuah lencana perunggu berukir tengkorak manusia bermata tiga menggigit bulan sabit pada sang abdi yang segera menyimpan nya di balik baju.
"Kalau begitu, hamba permisi Gusti Rakryan Kanuruhan", Mangir menghormat sebelum beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Sembari menatap ke arah perginya Mangir, Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana mengepalkan tangannya erat-erat sembari menggumamkan sesuatu.
"Pangeran Mapanji Wijaya, sebaiknya kau tak ketahuan niat busuk mu.. "
*****
Sementara itu, di sisi utara Gunung Lawu...
Pangeran Mapanji Wijaya duduk bersila di atas batu pipih sembari menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada. Matanya terpejam rapat sementara keringat dingin bercucuran membasahi tubuhnya. Sepertinya ia sedang menahan sesuatu yang sangat berat.
Di depan nya, lelaki tua berjanggut putih panjang berpakaian serba putih yang membawanya dari Keputran Istana Kotaraja Watugaluh berdiri sambil meletakkan tapak tangan nya pada ubun-ubun sang pangeran Medang.
Zzrrrrrtttttttttttthhh!!!!!
Cahaya merah menjalar dari tangan lelaki sepuh ini, menyebar ke seluruh tubuh Pangeran Mapanji Wijaya. Menelusup ke setiap titik di bagian tubuh putra kedua Maharani Sri Isyana Tunggawijaya dan Sri Lokapala ini, menyebabkan rasa sakit yang luar biasa. Tetapi Pangeran Mapanji Wijaya tetap bertahan dibawah siksaan rasa sakit yang kini mendera tubuh nya.
Setelah merasa cukup, lelaki sepuh ini melepaskan telapak tangannya dari ubun-ubun Pangeran Mapanji Wijaya sambil menghela nafas panjang. Dia menatap ke arah Pangeran Mapanji Wijaya yang mulai membuka mata dengan nafas tersengal.
"Separuh bagian dari Ajian Segara Geni sudah ku turunkan kepada mu, Wijaya...
Ingat, sebelum mencapai tahap sempurna kau tak boleh menggunakannya sembarangan. Tubuh mu tidak akan kuat dengan kekuatan nya yang merusak. Saat ini tenaga dalam mu baru mencapai tahap ke enam, belum bisa menggunakan ajian ini dengan sempurna. Camkan itu baik-baik..! ", peringat orang tua itu yang membuat Pangeran Mapanji Wijaya menganggukkan kepalanya.
" Saya mengerti Eyang Guru...
Tubuh saya memang lemah, harus setahap demi setahap agar bisa mencapai tahap sempurna. Terimakasih Eyang Guru sudah membantu saya sejauh ini ", ucap Pangeran Mapanji Wijaya sembari menghormat.
" Bocah ini memang pandai bicara, tapi aku suka hehehe...
Aku menerima mu sebagai murid karena aku adalah paman guru ayah mu, Wijaya. Hehhh, aku ingin mewariskan ilmu kanuragan ku sebelum aku mati agar tidak ada penyesalan ", ucap lelaki sepuh itu sambil memejamkan matanya rapat sembari menghirup nafas dalam-dalam.
" Maksud Eyang Guru adalah Eyang Guru ini paman guru dari kanjeng Romo Sri Lokapala?
Kok Kanjeng Romo tidak pernah menceritakan nya? ", tanya Mapanji Wijaya keheranan.
" Itu bukan sesuatu yang penting, Wijaya..
Ilmu kanuragan ku adalah pengembangan dari ilmu yang sama dari punya ayah mu. Ajian Sepi Angin adalah pengembangan dari Ajian Langkah Dewa Angin yang dimiliki Lokapala, hanya sedikit berbeda pada cara lelaku dan hasilnya. Sedangkan Ajian Segara Geni adalah ilmu yang aku kembangkan sendiri dengan menyerap inti api dari sisa potongan besi pembentuk Pedang Naga Api yang menjadi senjata andalan ayah mu.
Terus tingkatkan olah tubuh mu, Wijaya. Satu purnama lagi Ajian Segara Geni dan Ajian Sepi Angin akan bisa menyatu sempurna dengan tubuh mu", perintah lelaki sepuh itu yang membuat Pangeran Mapanji Wijaya segera menghormat.
"Baik Guru... "
Hemmmmmmmmm...
"Ini sudah hampir pagi. Kita harus segera kembali ke Istana Kotaraja Watugaluh. Ayo pergi.. "
Setelah bicara demikian, lelaki sepuh itu segera meraih tangan Mapanji Wijaya dan detik waktu berikutnya mereka sudah menghilang dari tempat itu.
Mentari pagi mulai menampakan diri di cakrawala timur, membangunkan seisi bumi dengan kehangatan sinarnya yang terang. Kehidupan Kotaraja Watugaluh yang semalam terlelap dalam buaian mimpi dan malam yang gelap, berangsur-angsur bangun dan menggeliat.
Lalu lintas jalanan kotaraja mulai dipadati para pencari penghidupan. Mereka umumnya para pedagang yang berangkat menuju pasar besar dan para petani yang bersiap untuk menggarap sawah. Selain mereka ada juga para pengelana dari luar kota yang ingin melihat kemajuan ibukota baru Kerajaan Medang setelah berpindah dari Tamwlang.
Sementara Kotaraja Watugaluh mulai menggeliat dengan segala kesibukannya, di keputran Istana Kotaraja Watugaluh, Warak dan Ludaka mondar-mandir di depan pintu kamar tidur Pangeran Mapanji Wijaya. Matahari sudah sepenggal naik ke langit timur dan sebentar lagi pisowanan akan segera dimulai sedangkan orang yang ditunggu masih belum juga nampak batang hidung nya.
"Bagaimana ini Lu?
Sebentar lagi pisowanan akan segera dimulai, tapi Gusti Pangeran masih belum juga bangun. Aduhh bagaimana ini? Pasti Gusti Maharani akan marah lagi.. ", ucap Warak sambil memukuli telapak tangannya sendiri. Dia benar-benar terlihat khawatir.
" Aku juga tidak tahu, Rak....
Membangunkan Gusti Pangeran Mapanji Wijaya saat ini sama juga cari mati. Kau saja yang bangunkan dia, aku masih mau hidup ", seru Ludaka sembari mundur selangkah dari depan pintu kamar.
" Apa kau pikir aku juga berani?
Bekas luka di wajah ku saja masih belum sembuh benar karena dipukuli dia. Kalau sampai dia marah lagi, pasti habis aku di tangan nya", jawab Warak dengan cemas.
"Ada apa ini?!! "
Suara berat nan berwibawa itu sontak membuat Warak dan Ludaka menoleh ke sumber suara dan melihat seorang lelaki paruh baya dengan kumis tebal dan janggut yang mulai ditumbuhi uban berdiri disana. Meskipun sudah berumur, masih terlihat jelas sisa sisa gurat ketampanan di wajah lelaki yang mengenakan pakaian bangsawan ini. Ludaka dan Warak langsung membungkuk hormat pada lelaki paruh baya itu.
"Hormat kami Gusti Lokapala... "
Lelaki tua yang tak lain adalah Sri Lokapala atau semasa muda nya dikenal sebagai Panji Rawit ini mengangkat tangannya sebagai tanda penerimaan. Sekalipun ia bukan raja de facto Kerajaan Medang tapi secara de jure ia lah penguasa Medang yang sebenarnya. Status nya hanya pendamping Maharani Sri Isyana Tunggawijaya, tetapi segala keputusan besar tetap berasal dari dirinya.
"Anak sialan itu masih belum bangun?", tanya Sri Lokapala yang langsung membuat Warak dan Ludaka saling pandang sebelum kompak menggelengkan kepala.
" Dasar pemalas...!!
Sudah siang begini masih bisa tidur nyenyak? Kurang ajar, aku harus memberinya pelajaran! "
Sambil mengomel tak karuan, Sri Lokapala langsung menendang pintu kamar tidur Pangeran Mapanji Wijaya dengan kuat.
Brruuuuuuaaaaaakkkkk!!!!
Suara keras berbarengan dengan mencelat nya daun pintu yang jatuh di dekat ranjang tidur sontak membuat Pangeran Mapanji Wijaya yang masih terlelap langsung bangun dengan wajah masam.
"Bangsat!! Siapa yang berani mengganggu ketenangan ku?!!! ", teriak Pangeran Mapanji Wijaya sembari melompat turun dari ranjang.
Belum genap 2 langkah dari ranjang tidur, Sri Lokapala muncul dengan wajah gusar sambil berkata,
" Aku..!! Kenapa? Ada masalah?!! "
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!