Indonesia
NovelToon NovelToon

Lumpuhkan Aku Di Ranjangmu, Tuan!

Tuan Frost & The Gladiators

Bip. Bip.

Sepertinya Raymon masih hidup. Dia mencoba membuka mata, tapi tidak berhasil. Efek anestesi tampaknya mulai hilang. Setidaknya, rasa sakitnya sudah tidak ada lagi. Dari sisi kiri, terdengar suara-suara samar. Lembut, dan entah kenapa terasa familiar, tapi dia tidak bisa mengenalinya.

Bip. Bip.

“Dia bisa denger kita?”

“Enggak. Dia masih dibius berat.”

Bip.

“Dia bakal hidup?”

“Iya... Sayangnya. Luka di dadanya nggak separah itu. Mereka berhasil nyelamatin dia.”

“Kita bisa coba lagi nanti. Serang orang itu lagi.”

“Terlalu berisiko. Orang-orang loyal sama Pimpinan. Kalau ada yang curiga sama aku, aku bakal berakhir di kuburan.”

Bip.

“Mungkin masih ada harapan. Pecahan Bom itu bikin lututnya hancur.”

“Terus?”

“Dokter bilang dia nggak bakal bisa jalan lagi. Kalau ada orang yang lebih mampu menggantikannya... orang-orang, se-loyal apa pun mereka, pasti bakal mikir dua kali buat mempertahankan Presiden cacat yang duduk di kursi roda.”

“Ya, berarti kita nggak gagal-gagal amat.”

Terdengar dua pasang langkah kaki menjauh, lalu pintu tertutup.

...***...

Tiga Bulan Kemudian ....

Tidak pernah ada kata cukup untuk narkoba.

Raymon meletakkan selembar kertas penuh catatan ke tumpukan dokumen di mejanya, lalu memusatkan perhatian pada angka-angka di layar laptop.

“Telepon Darius.”

Dia menyandarkan tubuh di kursi rodanya dan menatap Troy yang duduk di seberang meja.

“Aku mau dia atur dua pengiriman tambahan bulan ini.”

“Dia sudah nego jumlahnya sama Alfredo buat satu kuartal. Aku nggak yakin orang Meksiko bisa langsung mendobel secepat itu.”

“Mereka bakal bisa. Sekarang, jelasin ke aku apa yang sebenarnya terjadi, karena aku tahu kelihatannya baik-baik aja, dan aku juga tahu aku nggak bakal suka jawabannya.”

“Antonius Ducker ngambil tiga juta dolar. Uang kita.”

Raymon menghela napas pelan, lalu menggeleng. “Siapa Antonius Ducker, kenapa dia bisa akses uang kita, dan gimana caranya dia ngelakuin itu?”

“Perantara properti kita. Uang itu buat beli dua lahan lagi di dekat gudang utara. Ducker mikir dia bisa minjem uang kita seminggu buat investasi yang ternyata skema ponzi.”

Sebodoh apa orang itu sampai berani mencuri dari Pimpinan Tertinggi Mafia?

Kadang Raymon masih heran dengan kebodohan manusia.

“Dia bisa balikin?”

“Nggak.”

“Bunuh dia. Jadikan contoh buat yang lain.”

“Aku punya ide lain. Orang-orang… mereka mulai ngomongin kamu, Raymon. Kita butuh pengalihan. Aku rasa Ducker bisa jadi pengalihan itu.”

“Oh? Mereka ngomongin apa?”

Raymon sudah mengenal Troy sejak pria itu mulai bekerja untuk ayahnya dua puluh tahun lalu, sebagai prajurit lapangan. Pimpinan tertinggi saat itu tidak pernah bisa melihat potensi seseorang.

Menyia-nyiakan orang seperti Troy di pekerjaan lapangan adalah salah satu dari banyak kesalahan yang Raymon perbaiki begitu dia menjadi Pemimpin dua belas tahun lalu. Tak lama setelah dia membunuh bajingan itu.

“Kamu. Masih lajang.”

Itu bukan kabar baru.

“Tapi bukan cuma itu, kan? Apa lagi?”

Raymon menyipitkan mata ke arah Troy. Pria itu tidak menatapnya, pandangannya tertuju pada sesuatu di dinding di belakang Raymon.

“Ada rumor kalau kamu nggak bakal bisa mimpin Organisasi lebih lama lagi, dan bakal ada orang lain yang gantiin. Seseorang yang… lebih mampu secara fisik.”

“Dan kamu setuju sama mereka?”

“Jangan gitu, Raymon. Kamu tahu aku selalu di pihak kamu, dan aku bakal terus begitu. Walaupun aku nggak nganggep kamu Presiden paling hebat yang pernah Gladiators punya. Tapi kamu ngurung diri di sini sudah tiga bulan. Kamu nggak datang ke klub kita buat ngecek operasional, seperti biasanya minimal sebulan sekali sebelum ledakan itu. Dan kamu juga nggak pernah kelihatan bareng sama perempuan.”

“Jadi, status kehidupan seks aku lebih penting buat jadi ukuran kemampuan aku memimpin Gladiators dibanding fakta kalau kita melipatgandakan keuntungan dalam dua bulan terakhir?”

“Orang butuh rasa stabil, Raymon. Mereka masih ingat gimana ayah kamu ngambil alih posisi Presiden sebelumnya dan kekacauan yang terjadi setelahnya. Gladiators kehilangan lebih dari lima puluh orang karena konflik internal, dan bisnisnya hancur. Mereka perlu tahu itu nggak bakal kejadian lagi. Seorang istri berarti ada pewaris yang siap gantiin kamu nanti, tanpa perang internal atau kematian.”

Raymon menggeleng pelan.

“Aku nggak bakal ngiket diri ke perempuan sembarang cuma buat nenangin barisan kita.”

“Coba lihat ini.”

Troy mengambil ponselnya dan mulai menggulir layar.

“Anak aku dulu satu sekolah sama anaknya Antonius. Mereka nggak dekat banget sih, tapi sering nongkrong bareng. Aku ingat dia pernah nunjukin video yang dia buat. Aku minta dia kirim salah satunya tadi malam, mengingat apa yang dilakukan Antonius Ducker.”

Raymon mengernyit.

“Apa hubungannya video anak remaja sama kemampuan aku memimpin Gladiators?”

“Dia bukan remaja lagi sekarang. Gweneverre Ducker lulus dari The Art Institute di Chicago cuma dalam dua tahun, bukan empat ya ... dan sekarang dia jadi seniman muda paling dicari di negara ini. Lukisannya laku sampai ribuan dolar per karya.”

“Terus? Kita mau nyuruh dia melukis foto keluarga kita?” Raymon mencubit pangkal hidungnya. “Umur kamu belum lima puluh, tapi udah pikun duluan?”

“Kita nggak mau nyuruh dia melukis foto. Kita bakal ngeblackmail dia. Nyawa ayahnya ditukar sama jasanya.”

“Buat apa?”

“Buat nikah sama kamu, Raymon. Ya, sementara aja.”

Raymon menatap wakilnya beberapa detik, lalu tertawa. “Kamu udah gila.”

“Aku?” Troy menyilangkan tangan dan bersandar. “Terus, apa kata terapis kamu? Soal kaki itu.”

“Dia berharap aku bisa pulih sampai delapan puluh persen.”

“Itu maksudnya apa?”

“Artinya pakai kruk di kondisi terburuk. Tongkat di kondisi terbaik.”

“Itu bagus. Berapa lama? Sebulan?”

Raymon menatap lurus ke matanya, rahangnya mengeras. “Minimal enam bulan lagi fisioterapi.”

“Sial, Raymon.” Troy mengusap pelipisnya. “Kita nggak bisa nunggu selama itu. Kita butuh sesuatu sekarang, atau bakal ada kekacauan.”

Raymon menoleh ke jendela, menghela napas panjang. Troy hampir selalu benar.

“Jadi maksud mu, aku harus punya dua kaki yang berfungsi atau seorang istri? aku nggak bakal bisa jalan dalam waktu dekat, Troy.”

“Kalau gitu, kita cari istri dulu sampai kamu bisa.”

“Itu konyol. aku nggak mungkin ngeblackmail perempuan yang bahkan aku nggak kenal buat pura-pura jadi istri aku selama enam bulan. Apalagi dia nggak ada hubungannya sama dunia kita. Dia pasti ketakutan. Nggak ada yang bakal percaya.”

“Lihat ini,” kata Troy sambil menyodorkan ponselnya.

Video itu agak goyang, mungkin direkam bertahun-tahun lalu, tapi pencahayaannya cukup baik. Terlihat sebuah ruangan dengan beberapa remaja duduk setengah melingkar, membelakangi kamera. Satu-satunya wajah yang terlihat adalah seorang gadis berambut gelap yang duduk bersila di depan mereka.

Kamera mendekat, memperjelas fitur wajahnya yang tidak biasa. Mungkin ada darah Asia dalam keluarganya karena matanya sedikit miring, membuatnya tampak seperti kucing. Raymon sempat bertanya-tanya seperti apa gadis itu sekarang.

“Kamu bisa niru Mrs. Nolan?” seseorang dari lingkaran itu bertanya. “Yang suka ngomongin kucingnya?”

“Kalian mau lagi?” Gweneverre Ducker muda mengeluh. “Gimana kalau yang lain? Mungkin politisi?”

Terdengar suara penolakan serentak.

“Mrs. Nolan!”

Gweneverre menggeleng, lalu tersenyum dan memejamkan mata. Beberapa detik kemudian, saat dia membuka mata dan mulai bicara, Raymon tanpa sadar menarik ponsel itu lebih dekat.

Dia memang berbicara, tapi Raymon tidak benar-benar mendengarkan kata-katanya. Perhatiannya sepenuhnya tersedot pada ekspresi wajah gadis itu. Cara kelopak mata kanannya sedikit bergetar saat berbicara, bagaimana dia menekankan kata-kata. Dalam sekejap, dia seperti berubah menjadi orang lain, menjadi Mrs. Nolan.

“Dia umur berapa di video ini?” tanya Raymon tanpa mengalihkan pandangan.

“Empat belas. Gila, kan?”

Di video, seseorang meneriakkan nama lain dan menunjuk seorang gadis di ujung lingkaran. Gweneverre tertawa, menutup mata sejenak, lalu memulai lagi.

Sekali lagi, dia berubah total. Posturnya, gerakan tangannya saat berbicara, semuanya berbeda. Gadis yang ditiru itu menontonnya, lalu tertawa sambil menutup wajahnya.

Gweneverre menirukan gerakan itu dengan sangat detail, bahkan sampai cara bahu gadis itu sedikit terangkat saat tertawa.

Raymon merasa belum pernah melihat sesuatu seperti ini. Dia mengangkat pandangan dan mendapati Troy tersenyum puas.

“Seperti yang kamu lihat, nggak bakal ada masalah buat dia pura-pura jadi apa pun yang kamu butuhkan. Dia pandai menirukan orang lain.”

“Kamu serius soal ini?”

Bagi Raymon, ide ini tetap terdengar bodoh.

“Situasi genting butuh cara ekstrem, Raymon. Kita harus menghentikan rumor itu, dan kita harus melakukannya sekarang.”

Raymon menutup laptopnya dengan keras.

“Kalau gitu… Aku pilih istri.”

“Sial.”

Utang Tiga Juta Dolar

Gweneverre meletakkan tasnya di atas kursi, lalu berdiri memandangi ruang tamu. Sudah berbulan-bulan sejak terakhir kali dia pulang, tapi tidak ada yang berubah. Tirai putih yang sama, karpet putih, furnitur putih dan krem, dinding putih kosong.

Terlalu banyak putih. Terasa dingin, hampir seperti ruang steril.

Dia selalu membencinya. Tidak heran, uang besar pertama yang dia dapatkan langsung dipakai untuk menyewa apartemen sendiri dan kabur dari tempat ini.

“Aku pulaaaaaang!”

Beberapa detik kemudian, terdengar suara hak sepatu mendekat. Ibunya keluar dari dapur dan berjalan cepat ke arahnya, tangan bertumpu di pinggang.

Virginia Ducker adalah kebalikan total dari Gwen. Tinggi, pirang, riasan sempurna, dan mengenakan gaun yang disetrika rapi.

Suka dengan warna Putih.

Suka dengan pakaian selembut Sutra.

Gwen ingin mengeluh.

“Kamu telat tiga jam, aku udah bilang—”

Ibunya langsung berhenti di tengah kalimat.

“Ya Tuhan… kamu apain badan kamu sendiri?”

“Bisa lebih spesifik?”

“Benda logam di hidung kamu itu.”

“Itu namanya piercing, Ma.”

“Orang bisa kena penyakit dari itu, Gwen. Kalau Papa kamu lihat, dia bisa kena serangan jantung.”

“Aku udah dua puluh empat tahun. aku bebas ngapain aja sama tubuh aku. Dan ini udah lama, cuma biasanya aku lepas kalau ke sini biar Mama nggak ribut. Hari ini aku lupa.”

“Terus kenapa kamu pakai baju hitam semua? Ada yang meninggal?”

Sebagian sel otaknya, mungkin.

“Aku lagi fase dark bulan ini.” Gwen mengangkat bahu.

Ibunya memang suka klise. Mungkin itu membuat dia merasa lebih nyaman, terutama kalau berhadapan dengan Gwen. Sampai sekarang pun, pilihan karier Gwen masih sulit diterima olehnya.

Mungkin akan lebih mudah kalau Gwen menggambar bunga atau anak rusa.

Gwen sempat bertanya-tanya apa reaksi ibunya kalau melihat karya terbarunya. Masih dalam proses, tapi jelas tidak ada bunga atau rusa di dalamnya.

“Kenapa sih kamu harus selalu aneh?”

“Lumayan ampuh buat narik cowok, Ma!” Gwen tersenyum. “Cowok suka cewek aneh.”

“Aku nggak yakin soal itu, sayang.”

Ya Tuhan, bahkan sarkasme pun tidak masuk ke kepalanya.

“Waktu Papa telepon, katanya penting. Dia di mana?”

“Di ruang kerja. Beberapa hari ini dia aneh. Kayaknya ada hubungannya sama pekerjaan, tapi dia nggak mau cerita. Rasanya… kayak dia takut sama sesuatu.”

Ayah Gwen bergerak di bidang properti. Tidak banyak hal yang seharusnya membuatnya takut.

Gwen berjalan ke lorong di sebelah kiri dan mengetuk pintu ruang kerja ayahnya, tanpa tahu bahwa hidupnya akan berubah total begitu dia masuk.

Setengah jam kemudian, Gwen duduk di kursi malas di sudut ruangan, menatap Papanya dengan mulut sedikit terbuka.

“Ini bercanda, kan?”

“Bukan.”

Ayahnya menurunkan bahu, lalu menyisir rambut abu-abunya dengan tangan.

“Oke, aku coba pahami. Papa ambil uang orang Rusia, terus hilang, dan sekarang Papa minta aku nikah sama Pemimpin mafia Rusia?”

“Papa nggak nyuri apa-apa, Gwen.” Dia mengangkat tangan, berdiri, lalu berjalan mondar-mandir di belakang meja. “Papa cuma minjam beberapa hari buat nutup kebutuhan bisnis. Papa nggak pernah nyangka orang itu penipu atau bakal kabur bawa uangnya.”

“Kamu ambil uang mereka dan nggak bisa balikin. Gimana bisa kamu sampai terlibat sama mafia Rusia? Apa sih yang kamu pikirin, Pa?”

“Jangan ngomong kayak gitu!” Dia menunjuk Gwen. “aku Papa Mu!”

“Kamu lagi nyuruh aku nikah sama penjahat buat nyelamatin diri kamu sendiri. Jadi ya, aku rasa aku bebas mau ngomong apa aja.”

“Gwen…”

“Mereka beneran minta aku nikah sama Pemimpin mereka? Serius?”

“Cuma sementara.” Dia melambaikan tangan seolah itu hal sepele.

“Tapi kenapa? Nggak ada anak-anak perempuan dari mafia-mafia itu yang ngantri buat nikah sama dia? Harusnya itu impian mereka, kan? Kenapa harus aku?”

“Mereka nggak jelasin. Orang-orang itu nggak pernah jelasin apa pun. Mereka cuma bilang kamu harus ngapain, dan kalau kamu nggak nurut, Papa bakal mati.”

Gwen menatapnya tajam.

“Kamu beneran percaya mereka bakal membunuh Papa?”

“Ya. Aku malah heran mereka belum ngelakuin itu.” Dia berhenti berjalan dan menatap Gwen. “Kalau kamu nggak nurut, Papa mati.”

Gwen menarik napas dalam, lalu mencengkeram rambutnya sendiri, seolah itu bisa membantu menemukan solusi dari kekacauan ini. Karena dia tidak akan menikah dengan siapa pun.

“Oke, kita pikirin. Pasti ada cara buat benerin ini. Aku punya tabungan, mungkin lima puluh ribu. Pameran aku berikutnya sebulan lagi, dan aku bisa dapet dua puluh ribu lagi kalau lima belas karya itu selesai dan semuanya laku. Rumah bisa dijual berapa?”

“Mungkin delapan puluh ribu. Atau sembilan puluh kalau furniturnya ikut dijual. Mobil bisa nambah sepuluh ribu.”

“Bagus. Berarti total sekitar seratus tujuh puluh ribu. Cukup nggak? Papa utang berapa ke mereka?”

“Tiga juta.”

Gwen terpaku. Sejenak dia merasa seperti baru kena stroke ringan, karena tidak mungkin dia benar-benar mendengar angka itu.

“Bisa ulangin?”

“Papa utang tiga juta dolar.”

Gwen menatap Papanya dengan mulut terbuka.

“Ya Tuhan, Pa…”

Dia menunduk, menempelkan dahi ke lutut, berusaha mengatur napasnya.

Dia bukan tipe orang yang akan dinikahi siapa pun. Tidak ada orang waras yang mau menukar tiga juta dolar hanya untuk enam bulan pernikahan. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan.

“Dia umur sembilan puluh, ya?” gumamnya pelan.

“Aku nggak tahu umur Pimpinan mereka, tapi jelas bukan sembilan puluh.”

“Delapan puluh, kalau gitu. Syukurlah.”

Gwen menelan ludah. Rasanya ingin muntah.

“Mereka bilang ini cuma pernikahan di atas kertas. kamu nggak perlu… ya, kamu tahu.”

“Tidur sama dia? Kalau dia delapan puluh, berarti dia mungkin udah nggak bisa tegak kan. Bagus. Delapan puluh itu bagus.”

“Gwen… aku minta maaf. Kalau kamu nggak mau, nggak apa-apa. Papa bakal cari jalan lain.”

Gwen mengangkat kepala dan menatap ayahnya. Pria itu sekarang duduk terkulai di kursinya, rambutnya berantakan, matanya merah.

Tiba-tiba dia terlihat sangat tua. Sangat rapuh.

“Kecuali Papa mau lapor polisi, memang ada pilihan lain?” tanya Gwen.

“Kamu tahu Papa nggak bisa laporin mafia ke polisi. Mereka bakal bunuh kita semua.”

Tentu saja Mafia akan membunuh mereka.

Gwen memejamkan mata, lalu menghela napas panjang. “Oke. Aku lakuin.”

Ayahnya menatapnya beberapa detik, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan dan mulai menangis.

Gwen juga ingin menangis, tapi itu tidak akan mengubah apa pun. “Kayaknya mereka bakal ngatur pertemuan buat bahas detailnya.”

“Udah. Kita ketemu Pemimpin-nya satu jam lagi.”

Gwen menatap Papanya, lalu kembali mencengkeram rambutnya. “Bagus banget. Aku ke kamar mandi dulu buat muntahin makan siang aku, lima menit lagi aku tunggu di depan.”

Kita Sepakat

Seorang gadis datang membawa minuman, meletakkannya di meja di depan Raymon, lalu tanpa menatapnya langsung berbalik dan buru-buru kembali ke dapur.

Raymon menyapu pandangan ke sekeliling, memperhatikan taplak meja yang kusam dan kursi-kursi yang tidak serasi. Tempat ini berantakan. Tutup bulan lalu, dan itulah alasan dia memilihnya untuk pertemuan ini.

Suara ponsel berdering memecah keheningan.

“Mereka sudah datang,” kata Troy dari posisinya di belakang. “Dia datang sama Papanya.”

“Biarkan gadisnya masuk. Papanya tunggu di luar.”

Raymon meneguk wiski, lalu memusatkan pandangannya ke pintu kaca di seberang ruangan.

Terdengar ketukan. Anak buahnya yang berjaga di pintu membukakan, membiarkan gadis itu masuk. Entah kenapa, Raymon membayangkan dia akan lebih tinggi.

Gadis itu kecil, tidak lebih dari sekitar satu setengah meter. Rambut hitam panjangnya dikepang dua di sisi wajah. Kalau mengabaikan lekuk tubuhnya, dia bisa saja dikira remaja. Pakaiannya pun seperti itu, jeans hitam robek, hoodie hitam, dan sepatu boots hitam seperti yang sering dipakai anak emo.

Raymon memejamkan mata sejenak dan menggeleng. Ini tidak akan berhasil.

Dia hampir menyuruh Troy untuk mengusir gadis itu saat gadis itu menoleh ke arahnya, dan kata-kata itu langsung mati di tenggorokannya.

Wajah itu masih memiliki ciri yang sama seperti di video, tapi kesan kekanak-kanakannya sudah hilang. Pipi bulatnya tidak lagi dominan.

Yang berdiri di depannya sekarang adalah seorang perempuan yang sangat cantik, menatapnya dengan sesuatu yang mirip kemarahan. Tatapan mereka bertemu, dan alis hitamnya terangkat, menantang.

“Nona Ducker,” kata Raymon sambil menunjuk kursi kosong di seberang meja. “Silakan duduk.”

Dia mengira gadis itu akan gentar, mungkin dia akan mundur. Tapi tidak ada tanda-tanda itu.

Gadis itu mendekat, tetap menatap Raymon tanpa putus. Dia tidak mengambil kursi seperti yang diminta, melainkan berdiri tepat di depan Raymon dan menatapnya.

Raymon sengaja memusatkan perhatian pada wajahnya, menunggu reaksinya saat melihat kursi roda.

Tidak ada.

“Kamu gak seperti yang aku bayangkan, Tuan Frost,” katanya.

Raymon harus mengakui, gadis ini punya nyali.

“Maksudnya?”

“Aku kira kamu berusia delapan puluh tahun.” Dia mengerucutkan bibir.

Raymon mengamatinya. Tenang, nyaris tanpa celah. Apakah ini dirinya yang asli, atau hanya akting lagi?

Kalau ini akting, dia sangat meyakinkan.

“Umur aku tiga puluh lima.” Raymon menyesap minumannya. “Sekarang itu sudah jelas, kita bahas bisnis. Papa kamu sudah jelasin apa yang diharapkan dari kamu?”

“Sudah. Dan aku punya beberapa pertanyaan.”

Dia memainkan ujung kepangnya, melilitkannya di jari. Jadi tidak setenang yang dia tampilkan.

“Dan karena kita menyebut ini transaksi bisnis, aku punya satu syarat.”

“Syarat? Kamu nggak ada posisi buat nego, Nona Ducker. Tapi silakan.”

“Kamu harus ngelepasin Papa aku. Transaksi ini cuma antara aku sama kamu.”

“Oke. Akan aku pikirkan. Sekarang pertanyaannya.”

“Kenapa kamu butuh istri palsu?”

“Itu bukan urusanmu. Dan ini bukan pernikahan palsu. Pertanyaan berikutnya.”

Dia menyipitkan mata. “Setelah enam bulan, apa yang terjadi?”

“Kamu bakal dapet surat cerai dan kamu bebas.”

“Pernikahannya gimana? Kita cuma datang dan tanda tangan?”

Raymon bersandar di kursinya, menatapnya lebih lama. “Kita harus lurusin satu hal, Nona Ducker. Aku nggak butuh istri cuma di atas kertas. Kalau ada yang curiga ini cuma sandiwara, Papa kamu akan mati. Dan kamu juga akan menyusul.”

Gwen berkedip, kebingungan jelas terlihat di wajahnya.

“Kamu mau kita tinggal bareng selama enam bulan?”

“Jelas. Gimana lagi orang mau percaya?”

Akhirnya ada sesuatu yang menggoyahkan dirinya. Dia hanya berdiri di sana, menatap Raymon dengan mata melebar, tidak berkata apa-apa.

“Akan ada pesta hari Sabtu,” lanjutnya. “Kamu datang sama Papamu. Kita ketemu, pura-pura jatuh cinta. Malam itu aku bawa kamu pulang, dan kita nggak keluar dari kamar aku selama dua hari.”

Gwen menatapnya. “Jadi aku harus tidur sama kamu?”

Dia mengatakannya dengan suara tenang. Tapi Raymon melihatnya jelas di matanya, ketakutan yang ditahan.

Mungkin orang lain tidak akan menyadarinya, karena dari luar Gwen tampak begitu tenang dan terkendali. Tapi menanamkan rasa takut pada orang lain adalah sesuatu yang sudah biasa dilakukan Raymon, dan dia mengenalinya dengan sangat jelas.

Gadis itu ketakutan.

“Gak,” kata Raymon, lalu memutuskan untuk sedikit mengguncangnya. “Kecuali kalau kamu mau, tentu saja.”

“Terima kasih atas tawarannya, Tuan Frost, tapi aku harus nolak.”

Gwen melepaskan kepangnya dan memasukkan tangan ke saku belakang jeansnya. Raymon sudah menduga dia akan menolak, tapi entah kenapa, jawaban itu tetap terasa mengganggu.

“Terus kita bakal ngapain dua hari di kamarmu, Tuan Frost?”

“Di mata orang lain, kita bakal sibuk banget… ya, kamu tahu.” Raymon mengangkat tangan santai. “Padahal kamu bebas ngapain aja. Nonton Netflix, main teka-teki silang, terserah kamu. Aku juga harus kerja.”

“Menarik. Terus setelah dua hari ‘maraton’ itu?”

“Aku bakal kelihatan tergila-gila sama kamu. Kita nikah beberapa minggu kemudian.”

Raymon mengangkat bahu.

“Setelah itu, kamu tinggal mainin peran sebagai istri yang jatuh cinta sama aku. Di waktu luang, terserah kamu, asal kamu tetap jalanin peranmu.”

“Terus? Cuma itu?”

“Itu aja.”

“Kamu serius mikir kalau orang bakal percaya?”

“Itu tergantung kamu, Nona Ducker. Nyawa Papamu taruhannya.”

“Kalau kamu? Kamu bisa jalanin peran kamu?”

“Peran yang mana?”

“Jadi laki-laki yang tergila-gila sama istrinya. Soalnya kamu nggak kelihatan seperti tipe cowok kayak gitu.”

Raymon tersenyum tipis. “Kayaknya kamu harus lihat sendiri nanti.”

Dia menatap Gwen lebih dalam. “Jadi, kita sepakat, Nona Ducker?”

Raymon hampir bisa melihat pikirannya bekerja, menimbang pilihan, mencari celah, jalan keluar. Tapi tidak ada. Dan mereka berdua tahu itu.

Raymon menangkap momen saat Gwen akhirnya menerima keadaan. Hanya perubahan kecil di rahangnya, mengeras saat dia mengatupkan gigi.

“Kita sepakat, Tuan Frost.”

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!