Indonesia
NovelToon NovelToon

Putri Pengganti

PP Bab 1 - Putri Pengganti

“Aluna, jangan makan coklat, Sayang. Jesselyn bahkan tidak pernah menyentuhnya.”

Suara lembut itu seketika membuat Aluna terdiam. Tangannya yang kecil langsung berhenti di udara. Coklat yang baru saja akan ia gigit itu perlahan ia letakkan kembali ke atas meja, seolah benda itu adalah sesuatu yang terlarang baginya.

“Iya, Ma,” jawab Aluna pelan, dia bahkan menjauhkan tubuhnya dari meja dan menatap ke sembarang arah, agar tak melihat coklat dan banyak makanan enak dalam acara yang mereka hadiri sekarang.

Sejak usianya sembilan tahun, hidup Aluna berubah sepenuhnya. Ia diadopsi oleh keluarga Myles yang kaya raya dan kehilangan putri mereka, Jesselyn. Semua orang mengatakan Aluna sangat beruntung.

Dari panti asuhan sederhana, kini ia tinggal di rumah besar, memiliki kamar luas, pakaian indah, dan pendidikan yang terbaik.

Namun, tak ada yang tahu bahwa Aluna tidak pernah benar-benar menjadi dirinya sendiri. Sebab dia harus selalu menjadi seperti Jesselyn.

“Aluna, duduk yang tegak, Jesselyn tidak pernah membungkuk seperti itu," bisik Mama Sarah.

Aluna segera membenarkan posisi duduknya, tapi tak berselang lama perintah yang lain ia dapatkan lagi...

“Aluna, jangan tertawa terlalu keras, Sayang. Jesselyn itu sangat anggun, saat dia tertawa dia menutup mulutnya,”

“Aluna, Gunakan tangan kiri saat memegang gelas. Itu kebiasaan Jesselyn selama ini.”

"Baik, Ma," jawab Aluna yang hanya mampu untuk selalu patuh. Dia tak boleh menolak agar tak dikembalikan ke panti asuhan.

Setiap hari, setiap detik Aluna terus diingatkan bahwa dirinya bukanlah dirinya, ia adalah putri pengganti.

Bukan anak yang sesungguhnya dan hanya bayangan dari seseorang yang bahkan tidak pernah Aluna kenal.

"Aluna tersenyum lah saat kita pamit pulang, senyum tipis jangan terlalu lebar. Ingat itu ya."

"Baik, Ma," jawab Aluna lagi.

Setibanya di rumah Aluna pun tak bisa langsung beristirahat, ia harus pergi ke perpustakaan yang ada di rumah dan membaca buku beberapa lembar. Kebiasaan seperti ini selalu Jesselyn lakukan dulu dan ibu angkat Aluna ingin ia pun melakukan hal yang sama.

Karena apa? Agar semua kenangan Jesselyn tak pernah benar-benar hilang dari rumah ini.

Tepat jam 9 malam barulah pelayan membuka pintu perpustakaan tersebut. "Nona, sekarang anda boleh beristirahat," ucap pelayan tersebut.

Aluna hanya diam dan mengangguk kecil, dia pun dilarang bicara dengan para pelayan karena dinilai tak pantas. Setelah menjadi putri pengganti di keluarga Myles, Aluna harus selalu memposisikan dirinya. Bahwa dia bukan lagi anak biasa, melainkan anak keluarga konglomerat.

Tiba di kamarnya Aluna berdiri di depan cermin besar. Ia mengenakan gaun putih yang dipilihkan Mama, gaun dengan warna yang katanya dulu adalah favorit Jesselyn.

Rambutnya ditata dengan cara yang sama. Bahkan cara ia tersenyum pun sudah dilatih. Aluna menatap pantulan dirinya sendiri lama.

“Apa aku sudah seperti Jesselyn?” gumamnya.

Aluna selalu berusaha menjadi anak yang baik dan penurut. Ia harus bisa mengikuti semua aturan dan menekan semua keinginannya sendiri. Bahkan rasa sukanya terhadap coklat pun harus ia kubur dalam-dalam karena Jesselyn tidak menyukainya.

"Aku tidak boleh membantah, aku harus bisa menjadi seperti Jesselyn. Agar aku tidak dibuang lagi," ucap Aluna. Ucapannya begitu miris, namun dia tersenyum kecil seperti yang diajarkan oleh sang mama.

Aluna tidak ingin kembali menjadi anak yang tidak diinginkan.

Hari-hari berlalu dan tahun demi tahun pun terlewati. Aluna tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, anggun, dan sempurna di mata orang lain.

“Aluna,” panggil Papa Peiter, saat ini mereka tengah berada di ruang keluarga. Beberapa saat lalu Aluna baru saja memainkan piano untuk membuat kedua orang tuanya terkesan.

“Iya, Pa,” jawab Aluna lembut, seperti yang selalu ia latih.

“Kamu sudah dewasa sekarang, Nak. Tahun ini usiamu 23 tahun.”

Aluna mengangguk pelan, waktu telah berlalu begitu jauh. Sampai kini Aluna sendiri tak mengenali siapa sebenarnya dia, Aluna atau Jesselyn?

“Sudah waktunya kamu mulai memikirkan masa depan, Sayang,” ucap papa Pieter.

Jantung Aluna berdetak sedikit lebih cepat. Entah kenapa firasatnya terasa tidak nyaman. Karena tiap kali ayahnya bicara serius seperti ini maka ada hal lain yang harus Aluna lakukan untuk bisa menjadi seperti Jesselyn.

Padahal telah banyak hal yang Aluna lakukan, tapi rasanya selalu kurang untuk kedua orang tuanya. Entah sampai kapan Aluna hidup seperti ini, baginya menjadi diri sendiri adalah sesuatu hal yang sangat mustahil untuk dia lakukan.

Mama tersenyum pula, menatap Aluna dengan penuh harap seperti biasa.

“Kami sudah memikirkan yang terbaik untukmu Sayang, juga terbaik untuk keluarga kita," ucap Papa lagi.

Aluna mengepalkan tangannya di atas pangkuan, hanya gerakan kecil agar tak disadari oleh kedua orang tuanya. Jantungnya berdegup cepat namun wajahnya selalu nampak tenang, Aluna adalah anak yang sangat penurut. Dia telah dididik seperti itu dalam ketakutan dalam hatinya sendiri.

“Ada seorang pria yang dulu sangat disukai oleh Jesselyn. Dia berasal dari keluarga terpandang. Sukses, tampan, dan memiliki masa depan cerah.”

Aluna menelan ludahnya dengan kasar, menahan sesuatu yang tiba-tiba terasa sesak di dadanya. 'Pria?' batin Aluna, firasatnya semakin buruk memikirkan tentang hal itu.

“Namanya adalah Davion Harold.”

Hening, detik terasa begitu panjang pagi Aluna.

“Dan kami ingin kamu menikah dengannya.”

Deg! Aluna terdiam, jantungnya yang sejak tadi berdegup cepat kini mulai terasa nyeri. Pada akhirnya tentang hal ini semua pun atas pengaturan mereka.

Tangan Aluna yang sejak tadi saling menggenggam di atas pangkuan kini mulai mengeluarkan keringat dingin.

'Davion Harold,' Batin Aluna, dia bahkan tak mengenal siapa pria itu. Tak pernah ada pertemuan yang nyata.

Aluna sangat ingin melayangkan protes, tapi seperti biasa ia kembali menurunkan pandangannya dengan anggun. Semua reaksi yang terlalu berlebihan memang tidak pernah diizinkan.

“Pria itu dulu sangat disukai oleh Jesselyn. Keluarga Harold juga sangat terpandang. Ini akan menjadi hubungan yang sempurna untuk mu dan keluarga kita," ucap Papa lagi.

“Iya, Pa. Aku mengerti," jawab Aluna yang akhirnya tersenyum kecil, senyum yang dimiliki oleh Jesselyn.

Tidak ada yang bertanya apakah ia siap.

Tidak ada yang bertanya apakah ia mau.

Mama bahkan tampak sangat senang setelah mendengar jawaban Aluna . Matanya berbinar, sesuatu yang jarang Aluna lihat jika itu bukan tentang Jesselyn.

“Mama tahu kamu anak yang baik,” ucap mama Sarah lembut sambil meraih tangan Aluna. “Kamu pasti bisa membuat pernikahan ini sempurna, seperti yang Jesselyn inginkan.”

Aluna hanya mampu mengangguk dan saat itu juga Mama Sarah mulai mengatur segalanya. Memanggil pihak butik langganan mereka untuk mengirim beberapa gaun ke rumah.

Dalam hitungan menit ruang tengah tersebut telah penuh dengan puluhan gaun yang tergantung rapi.

Berbagai warna dan berbagai model, semuanya tampak mahal dan elegan. Seolah sebuah butik dipindahkan begitu saja ke dalam rumah mereka.

Mama berdiri di tengah-tengahnya dengan wajah berbinar.

“Bagaimana? Cantik kan Sayang?” ucapnya penuh antusias.

Aluna hanya bisa mengangguk pelan. “Iya, Ma. Sangat cantik.”

“Kita akan segera bertemu dengan keluarga Harold, jadi kamu harus tampil dengan sempurna.”

Mama Sarah mengambil satu gaun berwarna putih lembut, dengan potongan sederhana namun anggun. “Yang ini,” ujarnya. “Jesselyn pasti akan menyukainya.”

Aluna menatap gaun itu, lagi-lagi gaun berwarna putih yang mamanya pilihkan.

“Ma...” Panggil Aluna, suaranya pelan ragu untuk pertama kalinya.

“Ada apa, Sayang?”

“Hari ini… Hari ini apa boleh aku memilih gaunku sendiri?” tanya Aluna.

Kalimat itu keluar sangat hati-hati, ia sendiri sangat takut dengan apa yang ia katakan.

Hening.

Mama Sarah menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum kecil. “Aluna... tarik kembali ucapanmu Sayang. Di rumah ini kamu adalah Pengganti Jesselyn dan Jesselyn tak pernah sekalipun menolak pilihan Mama."

Tatapan mama Sarah membuat tubuh Aluna jadi gemetar, dia akhirnya mengangguk dan menerima uluran gaun putih tersebut.

"Pakailah, sebelum jam makan malam keluarga Harold akan datang ke rumah kita."

PP Bab 2 - Patuhi Aku

Di dalam kamarnya Aluna berdiri cukup lama tanpa bergerak. Tatapan mama Sarah yang tajam masih melukai hatinya hingga sekarang, tatapan yang membuat Aluna semakin menyadari bahwa ia hanyalah orang asing di rumah ini. Padahal sungguh, Aluna telah sangat menyayangi mama Sarah dan papa Pieter sebagai kedua orang tuanya sendiri.

Tapi sayangnya perasaan tulus Aluna belum mampu menyentuh hati keduanya.

Gaun putih itu masih berada dalam genggaman Aluna, kainnya lembut dan jatuh dengan anggun, begitu indah hingga mata siapa pun yang melihatnya pasti akan terpukau. Namun di mata Aluna, gaun itu bukan sekadar pakaian melainkan sebuah beban yang perlahan menekan dadanya.

Aluna menatap gaun itu tanpa berkedip, pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan yang tak berani ia ucapkan bahkan pada dirinya sendiri.

Pernikahan.

Kata itu terasa begitu asing dan menakutkan.

Selama ini hidupnya hanya berkutat pada satu hal, yaitu menjadi seperti Jesselyn. Ia tidak pernah diajarkan untuk memiliki keinginan sendiri, apalagi menentukan masa depan. Bahkan untuk hal kecil seperti memilih makanan atau pakaian saja, Aluna tidak memiliki hak.

Lalu bagaimana dengan pernikahan ini? Apa yang harus Aluna lakukan?

“Apakah dia bersedia menerimaku?” ucap Aluna lirih.

Nama itu kembali terngiang di kepalanya, Davion Harold.

Tubuh Aluna sedikit gemetar. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan perasaan yang tiba-tiba membuncah di dalam dadanya.

“Apa aku boleh menjadi diriku sendiri dalam pernikahan ini?” gumamnya pelan, hampir seperti sebuah doa yang ia tahu tidak akan pernah dikabulkan.

Namun hanya beberapa detik.

Aluna perlahan menggelengkan kepalanya sendiri. Ekspresi yang awalnya penuh harap minu kembali berubah jadi dingin.

“Tidak, aku tidak boleh berharap.”

Karena Aluna tahu betul , sejak awal ia ada di rumah ini bukan karena dirinya adalah Aluna. Melainkan karena ia harus menggantikan Jesselyn.

Dan seorang pengganti tidak pernah memiliki hak untuk diinginkan.

Dengan gerakan perlahan Aluna akhirnya mengenakan gaun putih itu. Kainnya menyentuh kulitnya yang lembut, Aluna berdiri di depan cermin dan menatap pantulan dirinya sendiri.

Begitu malam semakin larut, kediaman keluarga Myles tampak lebih riuh dari biasanya. Lampu-lampu besar menyala terang, memantulkan kemewahan di setiap sudut ruangan.

Para pelayan bergerak cepat memastikan tidak ada satu pun yang terlewat dari persiapan malam ini. Bahkan kedua kakak Aluna pun pulang untuk menghadiri pertemuan tersebut.

Satu per satu mobil mewah mulai memasuki halaman rumah, keluarga Harold akhirnya tiba.

Di ruang tengah, Papa Pieter menyambut mereka dengan penuh kehormatan. Senyumnya lebar dan sikapnya hangat, mencerminkan betapa pentingnya pertemuan ini bagi dirinya.

“Selamat datang, Tuan Aston Harold. Kami merasa terhormat bisa menyambut Anda di sini,” ucapnya diiringi senyuman.

Aston Harold menerima penyambutan ini dengan tangan terbuka. Di sampingnya seorang wanita elegan tersenyum anggun, memancarkan kelas dan ketenangan yang sama, yaitu sang istri Ivana Harold.

Namun di antara mereka ada satu sosok yang langsung menarik perhatian semua orang. Seorang pria muda dengan postur tubuh tinggi dan tegap. Wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas, matanya tajam, namun terlihat dingin.

Dialah Davion Harold.

"Ayo kita duduk, pelayan akan memanggil Aluna untuk turun," ucap mama Sarah pula.

Sementara itu di lantai atas, Aluna masih duduk di depan meja riasnya saat pintu kamar akhirnya terbuka, pelayan masuk dan langsung menunduk hormat padanya.

“Nona, keluarga Harold sudah tiba. Anda diminta untuk segera turun,” ucap pelayan itu dengan sopan.

Aluna mengangguk pelan. Terus menunjukkan ketenangan meskipun hatinya telah berantakan. Belum berdiri namun tangan Aluna sudah terasa dingin dan jantungnya berdetak lebih cepat.

Namun seperti yang selalu ia lakukan, Aluna tak boleh kalah dengan rasa takutnya sendiri. Aluna bangkit dan merapikan gaunnya, memastikan tidak ada satu pun lipatan yang salah, lalu menegakkan bahu dan segera keluar dari kamar ini.

Senyum tipis kembali ia bentuk di bibirnya, menciptakan kesan seolah malam ini bukan hanya spesial bagi kedua orang tuanya, tapi juga merupakan malam yang Aluna inginkan.

Langkahnya mulai bergerak menuju tangga besar. Setiap langkah yang Aluna ambil rasanya berat sekali, namun ia tetap berjalan dengan anggun seperti yang telah diajarkan kepadanya.

Saat ia mulai menuruni anak tangga, suara percakapan di ruang tengah perlahan mereda. Satu per satu orang mulai menoleh ke arahnya.

Dan dalam sekejap semua perhatian tertuju padanya.

Gaun putih yang ia kenakan membuatnya tampak begitu bersinar di bawah cahaya lampu. Rambutnya tertata rapi dan wajahnya cantik sekali dan senyumnya begitu menawan. Aluna tampak seperti seorang putri dari negeri dongeng.

Atau lebih tepatnya seperti Jesselyn.

Mama Sarah menatapnya dengan penuh bangga, sorot matanya merasa puas karena berhasil membesarkan Aluna dengan baik. Anak yang dia pungut di panti asuhan beberapa tahun lalu kini benar-benar memerankan Jesselyn dengan sangat baik.

Andai Jesselyn masih bersamanya sekarang, pasti Jesselyn akan tumbuh sempurna seperti Aluna.

Namun di antara semua tatapan itu ada satu tatapan yang terasa berbeda bagi Aluna, semua orang menyambut kedatangannya dengan senyum tapi pria itu terus menatapnya dingin.

Saat kaki Aluna mencapai anak tangga terakhir, tanpa sadar ia mengangkat pandangannya. Dan di saat itulah akhirnya tatapan mereka saling bertemu seperti garis lurus

Seseorang yang sangat Aluna yakini sebagai Davion Harold.

'Ya Tuhan,' batin Aluna lirih.

"Ini adalah putriku satu-satunya, Aluna Myles," ucap papa Pieter tak kalah bangga dengan mama Sarah.

"Cantik sekali, aku dengar Aluna belum lama ini memenangkan piano competition di Paris, dia sangat berbakat," sahut Ivana.

"Benar, cita-cita Aluna memang menjadi seorang pianis yang terkenal," jawab Sarah bohong, karena sebenarnya cita-cita itu adalah milik Jesselyn, bukan Aluna. "Dan sekarang dia sudah mencapainya."

"Cukup, sekarang ayo kita duduk dan membicarakan tentang perikanan," potong Pieter dan membuat semua orang di sana tertawa kecil, termasuk Aluna dan kecuali Davion.

Selama pembicaraan Aluna berulang kali mengangguk setuju, tiap hal yang mama Sarah ucapan Aluna pasti akan langsung mengiyakannya.

Bukannya terlihat sebagai anak yang patuh, Davion justru melihatnya lain. Di matanya gadis bernama Aluna sangat bodoh. Mereka semua tahu bahwa pernikahan ini hanyalah bentuk lain dari kata bisnis. Namun Aluna bersikap seolah semuanya karena cinta.

Dimatanya Aluna telihat seperti gadis bermuka dua.

Setelah pembicaraan keluarga selesai, kini Aluna dan Davion dibiarkan duduk bersama di ruang tengah tersebut, sementara keluarga yang lain mulai berpindah ke meja makan.

Aluna memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Davion yang dingin. Dengan suara gemetar dia bahkan memberanikan diri untuk bicara lebih dulu.

"Dav, kuharap pernikahan kita akan berjalan dengan baik," ucap Aluna.

Davion tersenyum miring, "Tentu saja, pernikahan kita akan berjalan dengan baik selama kamu tetap jadi gadis yang penurut. Patuhi aku seperti kamu mematuhi kedua orang tuamu."

PP Bab 3 - Calon Menantu Yang Sempurna

Aluna sampai tergugu saat mendengar jawaban Davion tersebut. Belum lagi tatapan pria itu membuatnya tak berkutik. Tatapan yang membuat Aluna seketika tak berdaya. Sama seperti tatapan mama Sarah saat memintanya untuk patuh.

Hati Aluna yang sempat menghangat kini kembali merasakan nyeri.

Padahal saat Aluna bicara dengan mommy Ivana wanita itu sangat tulus dan bahkan menatapnya dengan lembut.

Bahkan Daddy Aston juga berulang kali mengatakan pada Aluna untuk menganggapnya sebagai Ayah sendiri, tapi Davion justru bersikap sedingin ini.

Satu kalimat itu membuat Aluna sadar bahwa pernikahan ini tak sepenuhnya diinginkan oleh Davion, atau bahkan pria itu pun menganggap dirinya sebagai seseorang yang tak diinginkan.

Tatapan Davion membuat Aluna merasa semakin hina, benarkah ia tak pantas mendapatkan kebahagiaan di dunia ini? Apakah Aluna benar-benar tak pantas hidup dengan layak?

Sementara Davion makin tersenyum sinis saat melihat Aluna yang hanya diam saja. Pernikahan ini jelas bukanlah sesuatu yang Davion inginkan. Satu kesalahannya di masa lalu membuat Davion tak bisa menolak keinginan kedua orang tuanya untuk menikahi wanita tersebut.

Baginya kini pernikahan hanyalah pernikahan tanpa makna apapun.

"Tuan, Nona, jika bicaranya sudah selesai silahkan menyusul ke meja makan. Semua keluarga sudah menunggu," ucap seorang pelayan yang datang memecah keheningan.

Karena setelah bicara tajam Davion tak lagi mengucapkan sepatah katapun, sementara Aluna tak kuasa untuk bicara lagi. Kata-kata Davion yang memintanya untuk patuh membuat Aluna seketika terdiam seribu bahasa.

Davion kemudian bangkit lebih dulu dan Aluna pun mengikuti. Berjalan dengan anggun di belakang tubuh pria tersebut.

'Ya Tuhan,' batin Aluna yang sungguh tak kuasa untuk melakukan apapun.

Begitu sampai di ruang makan, suasana kembali terasa hangat dan penuh percakapan. Semua anggota keluarga sudah duduk rapi di meja panjang yang dipenuhi berbagai hidangan. Keluarga Myles benar-benar melakukan yang terbaik untuk pertemuan malam ini.

Langkah Aluna dan Davion kini sejajar.

Aluna kembali memasang senyum tipisnya, senyum yang telah ia latih selama bertahun-tahun. Senyum yang tidak pernah menunjukkan apa pun selain kesempurnaan.

“Sayang, duduklah di samping Mommy,” panggil Ivana Harold dengan suara lembut yang penuh kehangatan.

Aluna sedikit terkejut saat mendengarnya, namun ia segera mengangguk patuh. “Iya, Mom,” jawabnya pelan, lalu berjalan menuju kursi yang telah disiapkan.

Sejak awal Ivana memang tak bisa menyembunyikan rasa sukanya pada Aluna. Dalam pandangannya, gadis itu begitu anggun, tutur katanya halus, sikapnya sopan, dan yang paling penting ia sangat penurut. Sosok yang menurut Ivana paling sempurna untuk mendampingi sang anak, Davion.

Ivana tersenyum lembut saat Aluna duduk di sampingnya. “Kamu terlihat sangat cantik malam ini,” ucapnya tulus, bahkan tangannya menyentuh punggung tangan Aluna dengan hangat.

Aluna tertegun dengan perlakuan ini, bahkan rasanya mama Sarah tak pernah sedalam ini memperlakukannya.

“Terima kasih, Mom,” jawab Aluna pelan, matanya selalu nampak teduh.

Untuk sesaat hatinya yang tadi terasa dingin kembali mendapatkan sedikit kehangatan karena perlakuan mommy Ivana. Meski Aluna tahu ini hanya kebahagiaan semu saja. Aluna merasa dia tak mungkin disayang jika belum berusaha keras. Baginya kasih sayang tak ada yang gratis.

Sepanjang makan malam, Ivana beberapa kali memperhatikan Aluna dengan penuh perhatian. Ia memastikan piring Aluna terisi, bahkan sesekali mengambilkan makanan untuknya.

“Kamu harus makan yang cukup, Sayang. Tubuhmu terlalu kurus,” ujar Ivana dengan nada khawatir yang tulus. Berat ideal Aluna memang selalu dijaga oleh mama Sarah.

Aluna hanya bisa mengangguk kecil. “Iya, Mom.”

Sikap itu membuat Ivana semakin yakin bahwa pilihannya tidak salah.

“Aluna benar-benar gadis yang sempurna,” gumamnya pelan pada suaminya, Aston, yang hanya tersenyum menyetujui.

Mama Sarah yang mendengar itu terkekeh kecil. “Kami juga berpikir begitu, Ivana. Aluna memang selalu menjadi kebanggaan kami.”

Aluna menunduk sedikit, menyembunyikan perasaan yang entah kenapa terasa aneh saat mendengar kalimat itu. Aluna tidak tahu apakah harus merasa bahagia atau justru semakin nelangsa.

“Aku sudah tidak sabar menunggu hari pernikahan mereka,” lanjut Ivana dengan nada penuh antusias. “Rasanya ingin segera melihat mereka berdiri di altar.”

Mama Sarah tersenyum, lalu menggeleng kecil. “Sabar, Ivana. Semua harus dipersiapkan dengan matang, kita tidak bisa terburu-buru.”

“Sebulan,” sahut Papa Pieter, “Dalam satu bulan ke depan, semuanya harus selesai. Pernikahan ini akan menjadi acara terbesar tahun ini.”

Ivana mengangguk cepat, jelas setuju. “Tentu saja. Kita harus membuatnya sempurna."

Sepanjang makan malam berlangsung, Aluna hanya diam dan sesekali mengangguk atau menjawab seperlunya. Ia memainkan perannya dengan sangat baik sebagai putri yang anggun, sebagai calon menantu yang sempurna.

Namun di seberang meja Davion terus menatapnya dingin. Seumur hidup Davion ia tak pernah bertemu wanita sebodoh Aluna yang hanya bisa patuh. dalam hatinya ia yakin betul bahwa wanita itu adalah wanita yang munafik.

Apa yang Aluna tunjukkan sekarang hanyalah topeng belaka, entah seperti apa sifat aslinya.

Aluna merasakannya, setiap kali ia melihat Davion tatapan itu selalu menusuknya dengan tajam.

Dan setiap kali itu pula hatinya terasa semakin kecil.

Makan malam akhirnya selesai.

Percakapan perlahan mereda, digantikan oleh suasana formal saat keluarga Harold bersiap untuk pamit.

“Terima kasih atas jamuannya,” ucap Aston dengan sopan.

“Justru kami yang berterima kasih,” balas Pieter.

Ivana menghampiri Aluna dan menggenggam tangannya dengan lembut. “Jaga dirimu baik-baik, Sayang. Kita akan segera bertemu lagi.”

Aluna mengangguk pelan. “Iya, Mom.”

Senyum itu masih ada di bibirnya, namun tak disadari oleh semua orang bahwa sebenarnya sorot mata Aluna meredup. Pernikahan telah benar-benar disepakati dan Aluna masih belum bisa menebak apa yang akan ada dalam pernikahannya nanti.

Aluna hanya ingin diterima, tapi apakah Davion bersedia?

Para orang tua segera menyingkir, terus memberi kesempatan pada Davion dan Aluna untuk bicara berdua. Namun bukannya merasa beruntung, Davion justru menghela nafasnya dengan kasar saat dihadapanya hanya ada Aluna. Sikap penurut Aluna sedikitpun tidak membuatkan kagum, justru benci kenapa gadis ini lugu sekali.

"Dav," panggil Aluna lirih, dia tak tahu apa yang harus diucapkan sekarang. Tapi jika tak bicara tatapan Davion seperti bisa membunuhnya.

"Jangan jadi manusia munafik Aluna, kita sama-sama tidak menginginkan pernikahan ini," ucap Davion.

Aluna menelan ludahnya dengan kasar. "Aku memang tidak menginginkan pernikahan ini, Dav. Tapi aku tidak bisa menolak keinginan kedua orang tuaku," jawab Aluna jujur, dia merasa tak ada yang harus ditutupi dari Davion.

"Tapi Dav, kamu bisa menolaknya andai kamu keberatan. Katakan pada mereka bahwa kamu tidak ingin menikahi aku," timpal Aluna lagi, bicara dengan kedua tangan yang mengepal menahan gugup. Bahkan setelah mengucapkan kalimat itu, Aluna kembali menelan ludahnya dengan kasar.

Meskipun selalu patuh namun Aluna adalah wanita yang berpendidikan dan memiliki wawasan luas, dia gugup juga takut, tapi bukan berarti hanya diam saja. Dengan keanggunannya Aluna juga bisa melindungi dirinya sendiri. Karena dia dididik untuk menjadi nona muda keluarga Myles.

Namun bagi Davion ucapan Aluna sangat bertolak belakang dengan sikap yang dia tunjukkan sekarang, kata-katanya mengandung penolakan namun diucapkan dengan begitu lembut.

Davion sampai tak habis pikir.

"Dengar aku baik-baik," ucap Davion setelahnya. "Kita akan tetap menikah, tapi jangan berharap apapun. Ada saatnya nanti kita akan berpisah."

Aluna langsung menganggukkan kepalanya mendengar kalimat tersebut. Gerakan kecil yang entah kenapa membuat Davion makin benci saat melihatnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!