Hujan turun pelan sore itu.
Bukan hujan deras yang mengamuk, bukan juga gerimis yang nyaris tak terasa. Tapi hujan yang… cukup untuk membuat jalanan basah, cukup untuk membuat orang-orang memilih berteduh, dan cukup untuk membuat suasana terasa lebih sepi dari biasanya.
Keira berdiri di bawah atap sebuah ruko yang sudah tutup.
Napasnya masih belum teratur.
Dadanya naik turun pelan, tapi terasa berat. Tangannya sedikit gemetar, entah karena dingin atau karena sesuatu yang sejak tadi ia tahan.
Ia melirik ke belakang.
Sepi.
Tidak ada siapa-siapa.
Tapi perasaan dikejar itu… masih ada.
Masih menempel di kulitnya. Masih membuatnya sulit untuk benar-benar merasa aman.
Keira menelan ludah.
“Aku nggak bisa pulang…” bisiknya pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Hujan semakin rapat.
Rintiknya mulai mengenai ujung sepatu Keira. Air merembes masuk perlahan, membuat kakinya dingin. Tapi ia tidak bergerak.
Seolah kakinya terpaku di sana.
Seolah pikirannya sedang berlari ke banyak arah… tapi tubuhnya tertinggal.
Ia menarik napas dalam.
Lalu menghembuskannya pelan.
“Aku cuma butuh tempat… sebentar aja.”
Matanya menyapu sekitar.
Jalanan itu tidak terlalu ramai. Beberapa motor melintas, tapi kebanyakan orang sudah memilih berteduh. Lampu-lampu mulai menyala, memantul di jalan yang basah, menciptakan kilau yang aneh… indah, tapi juga terasa dingin.
Lalu—
Tatapannya berhenti pada sebuah rumah.
Tidak terlalu besar. Pagar besinya tertutup, tapi tidak terkunci rapat. Catnya sedikit pudar, dan halaman depannya tampak kosong.
Seperti… tidak berpenghuni.
Keira mengernyit.
Ia menatap rumah itu cukup lama.
Ada ragu.
Jelas ada.
Ini bukan hal yang seharusnya ia lakukan.
Masuk ke rumah orang lain—meskipun kosong—bukan sesuatu yang bisa dibenarkan dengan mudah.
Tapi…
Ia menoleh lagi ke belakang.
Perasaan itu datang lagi.
Menekan.
Mendesak.
Seolah mengatakan bahwa ia tidak punya banyak pilihan.
Keira menggigit bibir bawahnya.
“Aku cuma numpang bentar…” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.
Langkahnya mulai bergerak.
Pelan.
Hati-hati.
Ia mendekati pagar itu, mendorongnya sedikit.
Ckrek…
Suara kecil itu terdengar.
Keira langsung berhenti.
Jantungnya berdegup lebih kencang.
Ia menahan napas, menunggu beberapa detik.
Tidak ada apa-apa.
Tidak ada suara lain.
Tidak ada orang keluar.
Ia kembali bernapas.
Pelan.
Lalu mendorong pagar itu sedikit lebih lebar, cukup untuk tubuhnya masuk.
Halaman rumah itu terasa… dingin.
Rumputnya sedikit liar, seolah sudah lama tidak dirawat. Ada beberapa daun kering berserakan, basah oleh hujan.
Keira melangkah pelan.
Sepatunya menimbulkan suara kecil saat menyentuh tanah yang lembap.
Ia berhenti di depan pintu.
Tangannya terangkat.
Ragu lagi.
Selalu ragu.
“Aku nggak punya pilihan…” bisiknya.
Tangannya menyentuh gagang pintu.
Dan—
Klik.
Tidak terkunci.
Keira terdiam.
Beberapa detik.
Seolah menunggu sesuatu terjadi.
Tapi tidak ada.
Hanya suara hujan di luar yang terdengar samar.
Dengan hati-hati, ia mendorong pintu itu.
Pintu terbuka perlahan, menimbulkan suara gesekan yang pelan tapi cukup membuat bulu kuduk meremang.
Ruangan di dalam gelap.
Hanya sedikit cahaya dari luar yang masuk, cukup untuk memperlihatkan siluet perabotan sederhana—sofa, meja kecil, dan beberapa benda lain yang tertutup kain tipis.
Bau rumah kosong langsung menyambutnya.
Pengap.
Sedikit berdebu.
Keira melangkah masuk.
Perlahan.
Seolah takut setiap langkahnya akan memanggil sesuatu.
Pintu ia tutup kembali, tapi tidak sepenuhnya.
Menyisakan sedikit celah.
Seperti… jalan keluar.
Ia berdiri di tengah ruang tamu itu.
Diam.
Sunyi.
Hanya suara napasnya sendiri yang terdengar.
Dan detak jantungnya.
Kencang.
Terlalu kencang.
Tangannya meremas ujung jaket yang ia kenakan.
Matanya mulai menyesuaikan diri dengan gelap.
“Aman…” bisiknya pelan.
Entah untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Ia berjalan ke arah sofa.
Membersihkan sedikit debu di sana dengan tangannya, lalu duduk perlahan.
Tubuhnya langsung terasa lemas.
Seolah semua tenaga yang tadi ia pakai untuk bertahan… habis begitu saja.
Ia menunduk.
Rambutnya yang sedikit basah jatuh menutupi sebagian wajahnya.
Keira memejamkan mata.
Dan untuk pertama kalinya sejak tadi—
Ia membiarkan dirinya diam.
Benar-benar diam.
Tanpa lari.
Tanpa berpikir terlalu jauh.
Hanya… bernapas.
Namun—
Bruk!
Suara sesuatu jatuh dari dalam rumah membuat Keira tersentak.
Matanya langsung terbuka.
Jantungnya kembali berdegup kencang.
“Apa itu…?” bisiknya pelan.
Ia menoleh ke arah dalam rumah.
Gelap.
Lebih gelap dari ruang tamu.
Tangannya perlahan mencengkeram sisi sofa.
Napasnya tertahan.
Beberapa detik berlalu.
Tidak ada suara lagi.
Sunyi kembali.
Tapi sekarang… sunyinya terasa berbeda.
Lebih berat.
Lebih menekan.
Keira berdiri perlahan.
Kakinya terasa sedikit lemas, tapi ia tetap melangkah pelan, menuju sumber suara tadi.
“Ada orang…?” suaranya kecil, namun terselip keraguan di dalamnya.
Tidak ada jawaban.
Hanya sunyi.
Ia terus berjalan.
Pelan.
Hingga—
Tiba-tiba—
Klik.
Lampu menyala.
Keira terlonjak kaget.
Matanya langsung menyipit karena cahaya yang tiba-tiba.
Dan di ambang pintu—
Seorang pria berdiri di sana.
Tinggi.
Rapi.
Dengan tatapan yang langsung tertuju padanya.
Waktu seolah berhenti.
Keira membeku di tempat.
Pria itu juga tidak bergerak.
Mereka saling menatap.
Asing.
Canggung.
Dan penuh tanya.
“...Kamu siapa?”
Suara pria itu akhirnya memecah sunyi.
Tenang.
Tapi tegas.
Keira menelan ludah.
Bibirnya terbuka, tapi tidak langsung mengeluarkan suara.
Beberapa detik berlalu.
Sebelum akhirnya ia menjawab—
dengan suara yang hampir tidak terdengar.
“Aku… cuma numpang…”
"Hayo!! Kalian ketahuan buat mesum di sini!"
Deg
Deg.
Suara itu keras.
Dan terlalu tiba-tiba.
Dan… terlalu dekat.
Keira membeku.
Tubuhnya yang tadi sudah tegang, kini terasa benar-benar kaku. Jantungnya yang sejak tadi berdegup cepat… sekarang seperti ingin melompat keluar dari dadanya.
Matanya membesar.
Pelan… ia menoleh ke arah sumber suara.
Di depan pintu—
beberapa orang berdiri.
Dua pria. Satu wanita. Dengan ekspresi yang sama—curiga… sekaligus yakin.
“Hayo!! Kalian ketahuan buat mesum di sini!”
Kalimat itu menggantung di udara.
Terlalu kasar. Terlalu tiba-tiba.
Dan… terlalu tidak masuk akal.
“Apa?” Keira reflek bersuara pelan, nyaris tidak terdengar.
Otaknya seperti butuh waktu untuk mencerna.
Mesum?
Dengan… siapa?
Ia bahkan baru saja bertemu pria di depannya ini.
Baru beberapa detik yang lalu.
Keira menoleh cepat ke arah pria itu—yang tadi menyalakan lampu.
Tatapan mereka kembali bertemu.
Sama-sama bingung.
Sama-sama… tidak siap dengan situasi ini.
Pria itu mengernyit pelan. Rahangnya mengeras sedikit, tapi ia tidak langsung bicara.
Sementara salah satu pria di depan pintu melangkah masuk.
Langkahnya cepat.
Penuh tekanan.
“Jangan pura-pura nggak tahu!” katanya dengan nada tinggi. “Kami udah lama ngawasin rumah ini! Dan sekarang malah dipakai begituan!”
Keira langsung menggelengkan kepalanya cepat. “Nggak! Bukan—bukan gitu!” suaranya keluar lebih panik dari yang ia kira.
Tangannya terangkat sedikit, seperti ingin menjelaskan… tapi tidak tahu harus mulai dari mana. “Aku cuma—”
“Kamu diem dulu!” Ucapan itu memotongnya.
Keira langsung terdiam.
Napasnya tercekat di tenggorokan.
Sementara wanita di belakang ikut melangkah masuk, matanya menyapu Keira dari atas sampai bawah.
Tatapan yang… menghakimi.
“Keliatan kok,” katanya sinis. “Masuk rumah kosong berduaan. Terus bilang bukan apa-apa?”
Keira menelan ludah.
Tangannya perlahan turun, dingin langsung melingkupinya. Ia ingin menjelaskan. Ingin sekali. Tapi semua terasa berantakan di kepalanya. Ia tidak tahu harus bilang apa dulu. Tentang hujan?
Tentang ia yang hanya ingin sembunyi?
Atau tentang… pria di depannya ini yang bahkan belum sempat ia kenal?
Sementara itu—
pria di sampingnya akhirnya bergerak.
Satu langkah ke depan.
Tenang.
Tidak terburu-buru.
Tapi cukup untuk menarik perhatian.
“Maaf,” suaranya keluar rendah, sangat terkontrol. “Sepertinya ada kesalahpahaman di sini.”
Nada bicaranya tidak tinggi.
Tidak juga memohon.
Tapi… cukup untuk membuat suasana sedikit mereda.
Sedikit saja.
“Kesalahpahaman apanya?” pria tadi menyahut cepat. “Kami lihat sendiri!”
“Lihat apa?” balasnya tenang.
Hening sejenak, hanya suara rintik hujan yang masih terdengar di sana.
Pria itu tampak kesal.
“Ya… kalian berdua di sini! Di rumah kosong!”
“Dan itu langsung berarti kami melakukan hal yang Anda tuduhkan?” Kalimat itu diucapkan tanpa emosi berlebih. Tapi justru itu yang membuatnya terasa… menekan.
Keira melirik pria itu diam-diam.
Ada sesuatu di cara bicaranya.
Tenang dan terlalu santai. Seolah ia terbiasa menghadapi situasi seperti ini.
Berbeda jauh dengan Keira yang bahkan masih berusaha mengatur napasnya.
Wanita tadi mendecih pelan.
“Sudahlah. Nggak usah muter-muter. Kalau nggak salah, kenapa kalian sembunyi di sini?”
Pertanyaan itu seperti menampar.
Keira terdiam lagi.
Salah satu tangannya tanpa sadar meremas ujung jaketnya. Ia ingin menjawab.
Tapi… lagi-lagi, kata-kata itu tidak mau keluar.
Karena kalau ia jujur— semuanya akan semakin rumit.
Pria di sampingnya menoleh sekilas ke arah Keira. Singkat tapi cukup.
Seolah membaca… bahwa gadis ini tidak akan mampu menjelaskan apa pun sekarang.
Ia kembali menghadap ke depan.
“Saya ke sini untuk survei rumah ini.”
Jawaban itu sederhana dan cukup jelas.
Dan… masuk akal.
Ketiga orang di depan tampak sedikit terdiam.
“Survei?” pria itu mengulang.
“Iya. Saya diminta teman saya untuk melihat kondisi rumah ini. Dia berencana membelinya.”
“Terus dia?” pria itu menunjuk ke arah Keira.
Keira langsung menegang lagi.
Semua mata kembali tertuju padanya.
Ia menelan ludah.
Pelan.
Sebelum sempat bicara—
pria di sampingnya menjawab lebih dulu.
“Saya juga tidak mengenalnya.”
Keira menoleh cepat.
Matanya membesar sedikit.
Ada sesuatu di dalam dadanya… yang ikut tersentak.
Tidak mengenal.
Kalimat itu benar.
Tapi tetap saja—
rasanya aneh mendengarnya diucapkan seperti itu.
Seolah mereka benar-benar… tidak ada hubungan apa-apa.
Dan memang tidak ada.
Harusnya.
“Dia tiba-tiba sudah ada di dalam saat saya masuk,” lanjutnya.
Semua kembali hening.
Penjelasan itu—
tidak sepenuhnya meredakan kecurigaan.
Tapi juga… tidak bisa langsung disalahkan.
Wanita tadi mengernyit.
“Jadi kalian nggak kenal?”
“Tidak.”
Jawaban itu cepat dan sangat tegas.
Keira menunduk sedikit.
Tangannya makin dingin.
Ia merasa seperti… seseorang yang sedang diadili.
Padahal ia hanya—
ingin berteduh. Hanya itu.
Pria di depan menghela napas kasar.
“Kalau gitu, tetap aja aneh. Cewek sendirian masuk rumah kosong. Terus ketemu laki-laki. Terus kebetulan banget?”
Nada suaranya masih penuh curiga.
Keira menggigit bibir bawahnya, terasa sakit.
Tapi ia tidak peduli.
Ia tahu… dari sudut pandang mereka, ini memang terlihat salah. Dan tidak ada penjelasan sederhana yang bisa memperbaikinya.
Hening lagi.
Lebih panjang.
Lebih berat.
Sampai akhirnya— pria di samping Keira kembali bicara.
Kali ini… sedikit lebih pelan.
“Tapi tetap saja, menuduh tanpa bukti juga bukan hal yang benar.”
Nada suaranya tidak berubah.
Tapi ada sesuatu yang lebih tegas di sana.
Seolah memberi batas.
Ketiga orang itu saling pandang. Namun salah satunya menggelengkan kepalanya seperti memberikan sebuah kode.
"Halah itu hanya alasan klise! Mana mungkin hal ini terjadi hanya sebuah kebetulan semata. Pasti kalian memang mau macam-macam di sini kan? Jangan mengelak lagi." Ucap wanita itu sambil terus menyudutkan.
Pria itu menghela nafasnya kasar. "Saya sudah katakan sebelumnya, kami memang tidak saling mengenal."
"Pembohong! Ayo, bawa mereka ke KUA, kita nikahkan saja mereka. Jangan sampai karena ulah kedua orang ini tempat tinggal sekitaran sini jadi sial." Ucap salah satu bapak-bapak itu, ia langsung melangkah masuk dan memegang tangan pria tadi.
Keira tersentak, ia memberontak saat seorang wanita menarik tangannya. "Bu, saya berani bersumpah, jika saya dan mas ini nggak melakukan apapun. Kami nggak bohong, kami memang ketemu pas di sini."
"Kalau sudah ketahuan memang semua pasti akan mengatakan itu. Kalau belum saja pasti melakukan hal terlarang! Sudah jangan banyak alasan, kamu harus nikah sekarang juga sama pria itu. Jangan bodoh dek, dia udah dapat enaknya, masa' kamu mau di buang begitu saja? Nanti kalau kamu hamil bagaimana dek?" Sang wanita itu malah ceramahin Keira.
"Tapi buk –"
Tidak memperdulikan permohonan Keira lagi, wanita itu langsung menarik tangan Keira pergi dari tempat itu...
“Tapi buk—”
Kalimat itu tidak pernah benar-benar selesai.
Tangan Keira sudah lebih dulu ditarik sangat kencang. Tidak kasar… tapi cukup kuat untuk membuatnya kehilangan keseimbangan sesaat.
“Udah! Nggak usah banyak alasan!” suara wanita itu kembali memotong. “Kalau memang nggak salah, kenapa takut?”
Takut? Keira bahkan belum sempat memahami apa yang sedang terjadi.
Langkahnya terseret keluar dari rumah kosong itu. Udara dingin langsung menyambut wajahnya. Hujan masih turun perlahan, rintiknya membasahi rambut, pipi, dan ujung bajunya yang sudah setengah lembap sejak tadi.
Ia menoleh ke belakang mencari sosok pria itu. Dan benar saja, pria itu juga ikut ditarik. Oleh salah satu bapak-bapak tadi.
Namun berbeda dengan Keira yang terlihat panik, pria itu justru… tetap tenang.
Terlalu tenang. Langkahnya tidak memberontak. Tidak juga mengikuti dengan sukarela. Ia hanya berjalan. Dengan wajah yang datar. Dengan mata yang sedikit menyipit, seperti sedang berpikir.
Keira menatapnya beberapa detik.
Hatinya terasa aneh.
Kenapa dia… setenang itu?
“Bu, tolong… ini salah paham…” suara Keira mencoba lagi, kali ini lebih pelan, hampir seperti memohon.
Wanita itu tidak menoleh.
“Semua juga bilang gitu kalau udah ketahuan,” jawabnya cepat sama sekali tidak mau mendengar penjelasan apapun.
Langkah mereka semakin jauh dari rumah itu.
Melewati pagar karat, keluar ke jalan yang ada di depan itu. Beberapa orang mulai melirik.
Ada yang berhenti.
Ada yang berbisik pelan.
Tatapan-tatapan itu sungguh menusuk.
"Jadi itu pasangan yang setiap hari buat mesum di rumah tua itu?"
"ck, nggak nyangka aja, bisa ke tangkep hari ini."
"syukuri!! Mangkanya jangan buat hal gila. Kalau bisa di arak aja di pinggir jalan, kasih slogan besar, 'Pasangan mesum' biar malu sekalian."
"Ganteng pisan, mana tetehnya geulis juga, tapi ya... Mesum. Saya tidak suka."
"Dasar nggak tau malu... Huuuuu... Nggak bisa nyewa hotel apa ha?"
"Ya Tuhan, istighfar, nggak ingat azab apa."
Beberapa umpatan dan cacian maki terdengar begitu saja saat Keira dan pria itu berjalan melewati kerumunan para warga.
Keira rasanya ingin menangis saja saat sekarang ini, karena malunya sungguh sangat luar biasa.
Ia ingin menjelaskan toh percuma, karena mereka juga tidak akan percaya apapun yang di katakan olehnya.
Keira menunduk. Dadanya terasa semakin sesak. Ini… terlalu cepat. Terlalu tiba-tiba.
Ia bahkan belum sempat mencerna satu kejadian… sudah dilempar ke kejadian lain yang jauh lebih besar.
“Nggak… nggak seperti itu…” gumamnya lirih.
Tapi suaranya tenggelam oleh suara hujan… dan langkah kaki yang terus bergerak.
Di belakangnya— pria itu akhirnya bicara lagi.
“Kita bisa selesaikan ini tanpa harus terburu-buru,” katanya tenang. Tapi kali ini… sedikit lebih dalam. Seolah ia mulai benar-benar terlibat.
“Sudah! Jangan banyak bicara!” sahut pria yang menariknya. “Kalian harus bertanggung jawab!”
“Tanggung jawab atas apa?” balasnya. "Bahkan kalian menuduh tanpa bukti yang cukup jelas. Kalian bisa kami pidanakan." Ucap pria itu.
Bapak-bapak tadi tertawa. "Kurang jelas apa lagi mas? Semuanya sudah cukup sangat jelas. Berawal beberapa hari yang lalu anda datang kemari dan tidak lama suara desahan itu terdengar. Dan hari ini... hari apes anda sudah tertangkap basah. Sudah jangan banyak membela diri. Kalian harus menikah juga hari ini" ucap pria itu kembali menarik pria itu kasar.
Mereka membawa pria itu dan Keira ke KUA yang kebetulan tidak jauh dari sana.
"Nama masnya siapa? Mbaknya siapa ini?" Tanya bapak penghulu sambil menatap keduanya yang sudah duduk saling berdampingan.
"Nama saya Muhammad Zayn Athalla."
"Mas Zayn ya... dan mbaknya?"
"Keira Dinda." Sahut Keira dengan tangan yang bergetar hebat. Ia tidak menyangka sebentar lagi statusnya akan berubah begitu saja menjadi seorang istri seseorang?
Seseorang yang sama sekali tidak ia kenal sebelumnya? Bahkan ia tidak tau sifat pria itu. Bisa jadi dia seorang berandalan dan psikopat. Bagaimana ini??
"Baiklah siapa ayahmu?"
"Bagas"
"Mas Zayn bagaimana? Mahar apa yang akan anda berikan untuk mbak Keira?"
Zayn menghela nafasnya kasar, ia mengambil dompet yang ada di saku celananya. Tidak banyak uang di sana hanya ada satu lembar ratusan ribu. Ia memang belum sempat menarik uang di ATM.
"Saya cuman punya ini."
Bapak penghulu menganggukkan kepalanya. Meletakkan uang itu di atas meja.
Sedangkan Keira terbelalak. "Astoge!!! Gue nikah sama orang miskuin?" Batinnya menangis pilu. "Ini mah gue bakalan hidup melarat. Papa sama mama mana mungkin mau kasih kehidupan sama gue kalau gue ketahuan nikah... Huhuhu nasib mu jelek banget Keira..." Batin Keira lagi.
"Ikutin saya ya pak Zayn?"
Zayn menganggukkan kepalanya singkat, ia menjabat tangan bapak penghulu itu.
Sedangkan Keira menggigit bibirnya dengan kencang. "Ayo putar otak kamu Keira, kamu harus kabur dari sini." Ucapnya di dalam hati.
"Saya nikahkan –"
"Pak!!! Saya kebelet pipis. Mau pipis dulu deh " Ucap Keira tiba-tiba membuat semuanya menoleh ke arahnya.
Mereka semuanya menyipitkan mata mereka penuh curiga.
"Ini udah di ujung, kebelet banget." Ucap Keira sambil ekting.
Mereka semuanya malah tak percaya, terlebih bapak penghulunya. "mbaknya sabar dulu ya, ini cuman sebentar aja kok."
"Tapi pak–"
"Saya nikahkan Muhammad Zayn Athalla dengan Keira Dinda binti Bagas dengan mas kawin berupa uang seratus ribu rupiah di bayar tunai."
"Saya terima nikah Keira Dinda binti Bagas dengan mas kawin tersebut... Tunai."
"Bagaimana para saksi?"
"Sah"
"SAHHHH"
Brugh
Tiba-tiba tubuh Keira limbung seketika...
"Eh mbaknya pingsan..."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!