Indonesia
NovelToon NovelToon

Geminiorum Pendekar Sayap Putih

BAB 1: Warisan yang Terlupakan

Langit di atas benua Elarion tidak pernah berwarna biru murni seperti pada dunia biasa. Saat fajar mulai merayap perlahan membelah kegelapan malam, cakrawala itu justru memancarkan gradasi magis antara ungu tua yang pekat dan biru safir yang dingin. Pemandangan itu indah, namun ada sesuatu yang menyakitkan di dalamnya—seperti sebuah luka besar yang telah berusaha sembuh selama ribuan tahun, namun bekasnya tak pernah benar-benar hilang, dan lukanya tak pernah benar-benar tertutup rapat. Cahaya matahari—atau apa pun yang menjadi sumber penerangan di alam semesta ini—menembus lapisan atmosfer dengan susah payah, seolah berjuang menembus selimut tebal yang menahan kehangatan agar tidak sampai ke permukaan.

Di ketinggian yang tak terjangkau oleh kaki manusia, jauh di atas hamparan awan putih yang bergulung seperti kerajaan kapas yang tak kasat mata, berdiri sebuah struktur yang megah dan abadi. Itu adalah Istana Celestia. Bukan sekadar bangunan dari batu dan emas, melainkan perwujudan dari hukum alam itu sendiri. Pilar-pilarnya terbuat dari kristal hidup yang memancarkan cahaya batin, dindingnya tembus pandang namun kokoh, membiarkan penghuninya melihat hamparan realitas yang terbentang luas di bawah kaki mereka. Di sinilah tempat para makhluk bersayap, para penjaga keseimbangan, memerintah dan mengawasi jalannya waktu, ruang, dan kehidupan.

Namun, pada hari itu, udara terasa berbeda. Ada ketegangan yang menggantung, samar namun menusuk, seperti keheningan panjang sebelum badai yang sebenarnya pecah. Suasana damai yang selama ini terjaga terasa rapuh, seolah sebuah piringan tipis yang diletakkan di ujung jarum.

Di balkon terluar istana, yang lantainya terbuat dari kaca kristal bening, berdiri seorang sosok yang menjulang tegak. Ia adalah Altharion, sang Penjaga Hukum Bintang. Pakaiannya berwarna perak dan putih, mengalir lembut tertiup angin kosmik yang berhembus kencang namun tidak pernah mampu menggerakkan tubuhnya. Rambutnya berwarna putih keperakan, jatuh membelah bahu, berkilau seolah tersusun dari butiran-butiran cahaya bintang yang terkumpul menjadi wujud fisik.

Matanya yang tajam namun penuh kebijaksanaan menatap lurus ke depan, menembus batas pandang biasa. Ia tidak melihat keindahan dunia di bawah sana. Pandangannya tertuju pada satu titik tertentu di langit yang jauh—sebuah garis tipis, hampir tak terlihat oleh mata biasa, namun bagi Altharion, garis itu bersinar terang seperti luka bernanah.

Itu adalah retakan.

Bukan retakan pada langit secara harfiah, melainkan retakan pada struktur realitas itu sendiri. Sebuah celah mikroskopis yang memisahkan dunia yang teratur dengan kekacauan purba yang ada di luarnya.

“Aku merasakannya lagi…” gumam Altharion pelan. Suaranya rendah, namun bergema dengan getaran energi yang kuat, seolah berbicara langsung dengan angin dan ruang.

Dadanya terasa sesak. Bukan karena rasa sakit fisik, melainkan sebuah getaran aneh yang berasal dari dalam inti keberadaannya. Sebuah dentuman samar, irama yang tidak sinkron, yang mengganggu harmoni yang seharusnya selalu ada. Bagi makhluk sepertinya, langit bukan hanya tempat di mana bintang-bintang bertengger atau tempat awan berarak. Langit adalah sebuah sistem. Ia adalah struktur yang kompleks, sebuah jaringan energi yang hidup yang menopang seluruh eksistensi. Ia adalah hukum yang menjaga agar api tetap membakar, air tetap mengalir, dan waktu terus berjalan maju.

Dan sekarang, sistem itu mulai goyah.

Altharion mengangkat tangannya yang panjang dan anggun, membiarkan angin kosmik menyapu kulitnya. Ia bisa merasakan getaran itu semakin kuat. Energi yang seharusnya mengalir lancar seperti sungai besar kini terasa berputar-putar, menciptakan pusaran yang tidak wajar. Ada sesuatu yang bocor. Sesuatu yang seharusnya tetap terkunci di luar batas-batas realitas kini mulai menemukan celah untuk masuk.

Ia teringat pada dongeng-dongeng kuno, pada catatan sejarah yang tersimpan di perpustakaan terdalam Celestia—tentang masa ketika keseimbangan belum tercipta, tentang era di mana Kehampaan masih menjadi penguasa segalanya. Para generasi muda mungkin menganggap itu hanya mitos, cara untuk menjelaskan ketakutan akan hal yang tidak diketahui. Namun Altharion tahu, bahwa apa yang disebut legenda sering kali adalah kebenaran yang terlupakan, terdistorsi oleh waktu.

“Apakah ini awal dari akhir?” bisiknya pada kehampaan.

Tidak ada jawaban. Hanya angin yang menjawab dengan desiran yang semakin dingin. Di kejauhan, sekelompok burung surgawi—makhluk kecil yang menjadi indikator kesehatan alam—terlihat terbang panik, berputar-putar tanpa arah seolah kehilangan kompas mereka. Itu adalah pertanda buruk. Jika bahkan makhluk sesederhana itu bisa merasakan ketidakseimbangan, maka masalahnya sudah sangat serius.

Altharion menundukkan kepalanya, memejamkan mata. Ia mencoba menghubungkan kesadarannya dengan inti istana, dengan denyut nadi alam semesta ini. Gambar-gambar bermunculan di benaknya—bintang-bintang yang berkedip tidak beraturan, aliran energi yang tersendat, dan di balik semua itu… sebuah kegelapan yang menunggu. Kegelapan yang bukan sekadar ketiadaan cahaya, melainkan sebuah entitas yang memiliki kesadaran, yang memiliki nafsu.

Retakan itu kecil sekarang. Hanya garis tipis. Tapi ia tahu, seperti retakan pada kaca yang paling kecil sekalipun, jika dibiarkan tanpa perbaikan, ia akan merambat, membesar, dan pada akhirnya menghancurkan seluruh benda itu menjadi kepingan-kepingan yang tak dapat disatukan kembali.

Hari ini, ketenangan telah berakhir.

Perlahan, Altharion membuka matanya kembali. Kekhawatiran yang tadi terlihat jelas di wajahnya perlahan berganti menjadi ketegasan baja. Ia adalah penjaga. Dan tugas penjaga adalah melindungi, apa pun risikonya.

Ia berbalik badan, memunggungi langit yang mulai menampakkan wajah aslinya yang menakutkan. Sayap besarnya yang berwarna putih bersih terbentang sebentar, memantulkan cahaya fajar sebelum akhirnya ia lipat kembali ke punggungnya.

Waktunya telah tiba untuk memanggil Dewan. Para Penguasa Langit harus tahu. Keseimbangan yang telah dijaga selama eon kini berada di ujung tanduk, dan warisan yang mereka pegang erat-erat mungkin akan segera menjadi kenangan belaka.

Di dalam istana yang megah itu, bayangan panjang mulai terbentuk, dan di sanalah pertarungan terbesar dalam sejarah keberadaan akan segera dimulai.

BAB 2: PARA PENGUASA LANGIT

Di jantung Istana Celestia, berdiri sebuah ruangan yang tak terhingga luasnya, namun terasa begitu intim bagi mereka yang memijaknya. Itu adalah Aula Cahaya—tempat di mana takdir alam semesta dirumuskan, tempat di mana hukum-hukum dasar realitas ditetapkan dan dijaga. Lantai aula ini bukan terbuat dari marmer atau emas, melainkan dari cermin cair yang memantulkan cahaya bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya, seolah-olah para penghuninya sedang berdiri tepat di tengah-tengah galaksi yang berputar.

Di sana, di bawah kubah langit yang terbuka lebar, sembilan sosok telah berkumpul.

Mereka bukanlah raja biasa yang duduk di atas tahta karena kekuasaan atau warisan darah. Mereka adalah manifestasi dari konsep-konsep tertinggi. Mereka adalah Dewan Seraph—sembilan penjaga eksistensi, yang kehadirannya saja mampu membuat waktu berhenti sejenak dan ruang bergetar hormat.

Saat mereka berdiri berbaris, sayap-sayap megah mereka terbentang penuh, menciptakan siluet-siluet agung yang membelah cahaya. Setiap pasang sayap memiliki warna, tekstur, dan aura yang berbeda, mencerminkan esensi dari kekuatan yang mereka pegang. Di hadapan mereka, segala hal yang kecil dan remeh tampak semakin tidak berarti, namun di saat yang sama, kehidupan di seluruh dunia terasa terlindungi di bawah naungan kekuatan mereka.

Altharion, yang baru saja tiba dari balkon, mengambil tempatnya di posisi tengah. Ia adalah penguasa bintang dan energi kosmik. Di sebelahnya, udara terasa berdenyut dengan ritme yang tak terlihat.

Di sisi kanannya berdiri Seraphel. Sosok ini memancarkan aura yang kuno dan tak terhingga. Di tangannya, ia menggenggam sebuah tongkat kayu yang dihiasi dengan roda-roda mekanis yang terus berputar tanpa henti, melacak detik-detik yang belum terjadi dan momen-momen yang telah lewat. Ia adalah penjaga waktu, dan matanya mampu melihat ke belakang, ke depan, dan ke segala kemungkinan yang ada di antara keduanya.

Di sebelah Seraphel ada Elyndra. Kehadirannya bagaikan matahari pagi yang pertama kali menampakkan diri setelah malam yang panjang. Aura hangat memancar dari setiap pori-pori tubuhnya, membawa aroma kehidupan dan harapan. Rambutnya berwarna keemasan yang bergerak seolah ditiup angin, meskipun di aula ini angin tak berhembus. Ia adalah cahaya kehidupan, sumber dari segala yang tumbuh, bernapas, dan merasa.

Di sisi lain, berdiri Vaelion. Berbeda dengan Elyndra yang terang, Vaelion tampak seperti terbungkus dalam bayangan yang elegan. Pakaiannya berwarna hitam pekat yang menyerap cahaya di sekitarnya, namun matanya bersinar tajam seperti dua buah lubang menuju dimensi lain. Ia adalah pengendali ruang dan kehampaan, yang mampu melipat jarak seolah melipat selembar kain, dan membuka pintu menuju tempat-tempat yang bahkan pikiran pun sulit menjangkaunya.

Tepat di depan, berdiri sosok yang paling menjulang dan kokoh: Kaelthar. Ia adalah jenderal perang, pelindung garis depan realitas. Tubuhnya diselimuti armor biru gelap yang dipahat dari bintang-bintang yang telah mati, memancarkan kekuatan yang keras dan tak tertembus. Tangannya yang kokoh menggenggam gagang tombak besar yang bersinar samar, siap untuk membelah apa pun yang berani mengganggu keseimbangan.

Di dekat Vaelion, ada Isriel. Penjaga jiwa ini memiliki penampilan yang paling halus. Sayapnya tidak terbuat dari bulu, melainkan dari kristal transparan yang membiarkan cahaya menembusnya, menciptakan pelangi-pelangi kecil di lantai aula. Tatapannya dalam, seolah mampu melihat bukan hanya ke dalam hati, melainkan ke dalam aliran abadi dari mana segala jiwa berasal dan kembali.

Duduk sedikit di belakang, dengan mata yang selalu terpejam atau menatap ke tempat yang tak terlihat, adalah Lunareth. Ia adalah peramal, sang pelihat takdir. Udara di sekitarnya terasa kabur dan samar, seolah ia sendiri bukanlah bagian dari masa kini yang pasti, melainkan sekilas bayangan dari masa depan.

Di antara terang dan gelap, berdiri Solmira. Penyeimbang ini mengenakan jubah yang terbagi dua warna—satu sisi putih bersih, sisi lain hitam legam. Wajahnya tenang, tanpa ekspresi berlebih, karena tugasnya adalah memastikan tidak ada sisi yang menang terlalu mutlak atau kalah terlalu dalam.

Dan terakhir, di posisi paling ujung, sedikit terpisah dari yang lain, berdiri Nyxarion.

Ia adalah penjaga akhir. Sosok yang paling misterius bahkan di antara para Seraph sendiri. Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terpikir olehnya, atau apa yang tersimpan di balik tatapan matanya yang dingin dan kosong. Kehadirannya membawa kesunyian yang berat, sebuah pengingat bahwa setiap awal pasti memiliki akhir.

Suasana di aula itu hening. Terlalu hening. Hening yang tidak damai, melainkan hening yang menahan napas.

Lunareth adalah yang pertama kali memecahkan kebisuan itu. Suaranya lembut, namun bergema jelas di setiap sudut ruangan, bergetar halus seperti senar gitar yang dipetik dengan hati-hati.

“Retakan itu meluas,” katanya. Nada suaranya tidak menyalahkan, namun membawa kepastian yang menakutkan. “Aku telah melihat masa depan… dan itu tidak utuh. Ada bagian-bagian yang hilang, terpotong, seolah-olah buku sejarah sedang disobek-sobek oleh tangan yang tak terlihat.”

Kaelthar mengerutkan kening. Otot-otot di lengannya menegang.

“Jelaskan,” perintahnya singkat. Tidak ada kemarahan dalam suaranya, hanya urgensi murni.

Lunareth perlahan mengangkat tangannya yang pucat. Dari telapak tangannya, memancarlah cahaya perak yang membentuk proyeksi di tengah udara. Gambar-gambar berkelebat cepat namun jelas di hadapan mereka semua.

Mereka melihat dunia-dunia yang runtuh bukan karena ledakan, melainkan karena lenyap. Mereka melihat bintang-bintang yang padam seolah dipadamkan oleh angin. Mereka melihat keteraturan yang berubah menjadi kekacauan. Dan di pusat dari semua kehancuran itu, ada sesuatu… sesuatu yang tidak memiliki bentuk pasti, sesuatu yang bergerak seperti cairan hitam yang hidup.

“Kehampaan,” bisik Lunareth, dan kata itu terasa dingin menusuk tulang. “Ia bangun. Apa yang kita kunci sejak zaman purba kini mulai menggeliat, mencari jalan keluar.”

Elyndra menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak ngeri. “Tidak mungkin… Kami telah menjaga aliran energi tetap stabil. Bagaimana bisa ia bangun?”

“Karena dindingnya mulai tipis,” jawab Nyxarion tiba-tiba.

Suaranya rendah, berat, dan datar, membuat semua orang menoleh ke arahnya. Ia masih berdiri membelakangi mereka, menatap ke arah langit melalui kubah transparan aula.

“Segala sesuatu memiliki batas ketahanan,” lanjutnya tanpa menoleh. “Bahkan hukum alam sekalipun.”

Altharion menghela napas panjang, rasa berat di dadanya kini terbagi menjadi sembilan. Musuh yang mereka hadapi bukanlah pasukan pemberontak atau makhluk asing. Musuh mereka adalah konsep kehancuran itu sendiri.

Dan pertempuran untuk menyelamatkan Elarion baru saja dimulai di dalam ruangan ini.

BAB 3: KELAHIRAN KEGELAPAN

Nama yang diucapkan Lunareth menggantung di udara Aula Cahaya, bukan sebagai kata, melainkan sebagai sebuah kutukan yang membeku.

Nihilum.

Bagi dunia yang teratur dan penuh cahaya ini, nama itu adalah antonim dari kehidupan. Ia bukan sekadar kegelapan biasa—karena kegelapan masih bisa ditembus cahaya, dan bayangan masih memiliki bentuk. Nihilum adalah sesuatu yang jauh lebih purba, lebih menakutkan, dan lebih asing. Ia adalah ketiadaan yang memiliki kesadaran. Ia adalah kekosongan yang lapar.

Bayangan visual yang diciptakan Lunareth masih berputar di tengah aula, memperlihatkan wujud yang terus berubah-ubah, tak pernah menetap pada satu bentuk. Terkadang ia tampak seperti lautan tinta hitam yang bergelombang, kadang seperti asap tebal yang menelan segalanya, dan kadang hanya berupa titik kecil yang gelap gulita—namun titik itu terasa begitu berat, seolah menekan seluruh ruang di sekitarnya.

“Dia bukan musuh yang bisa kita lawan dengan cara biasa,” bisik Altharion, suaranya berat memikul beban pengetahuan kuno. “Pedang tidak bisa memotongnya, sihir tidak bisa meledakkannya. Karena untuk bisa dihancurkan, sesuatu harus memiliki materi. Untuk bisa diserang, sesuatu harus memiliki eksistensi. Dan Nihilum… adalah lawan dari semua itu.”

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Namun kali ini, keheningan itu terasa mencekik. Setiap sosok di sana memikirkan skenario terburuk. Jika Nihilum benar-benar bangun dan menembus batas realitas, maka apa yang menanti bukanlah kematian, bukanlah kehancuran, melainkan penghapusan. Seolah-olah mereka, dan seluruh dunia ini, tidak pernah ada sejak awal.

Tiba-tiba, Isriel menggeletakkan tangannya ke dada, wajahnya pucat pasi seolah baru saja menerima pukulan telak di ulu hati. Sayap transparannya bergetar hebat, kehilangan kilau biasanya.

“Apa yang terjadi, Isriel?” tanya Elyndra sigap, segera mendekat dan menyalurkan sedikit energi hangatnya ke tubuh sahabatnya itu.

“Aku… aku merasakan distorsi,” jawab Isriel terbata-bata, matanya terbelalak menatap kosong ke depan. “Pada aliran jiwa. Jalur yang seharusnya lancar seperti sungai besar… kini tersumbat.”

Ia mengangkat tangannya yang gemetar, dan di udara muncul gambaran abstrak dari benang-benang cahaya perak—representasi dari perjalanan jiwa-jiwa di seluruh alam semesta. Biasanya, benang-benang itu bergerak indah, berputar, terhubung satu sama lain dalam harmoni yang sempurna.

Namun sekarang, mereka melihatnya dengan ngeri.

Beberapa benang itu berhenti bergerak. Beku. Diam total. Seperti jam yang mesinnya tiba-tiba macet.

“Beberapa jiwa… tidak bergerak,” Isriel menghembuskan napas dengan susah payah. “Mereka tertahan. Tidak maju, tidak mundur. Terjebak di antara dua keadaan.”

“Itu mustahil!” seru Elyndra, suaranya meninggi karena keterkejutan. Wajahnya yang biasanya penuh kasih sayang kini dipenuhi ketidakpercayaan. “Aliran jiwa adalah hukum dasar realitas! Itu adalah denyut nadi alam semesta! Tidak ada yang bisa menghentikannya, bahkan kami sekalipun!”

“Namun itu terjadi,” jawab Isriel tegas, meski suaranya lemah. “Dan setiap kali ada yang berhenti, ada ruang yang ditinggalkan. Setiap stagnasi… menciptakan celah.”

Kata terakhir itu jatuh seperti palu godam.

Celah.

Sama seperti retakan di langit. Sama seperti celah yang memungkinkan sesuatu masuk.

Perlahan, seolah ditarik oleh sebuah magnet tak kasat mata, semua kepala di ruangan itu bergerak serempak. Pandangan mereka beralih, melintasi lantai cermin, melewati pilar-pilar kristal, dan berhenti tepat pada sosok yang berdiri paling jauh di ujung aula.

Nyxarion.

Ia masih berdiri membelakangi mereka, menatap keluar menuju langit yang berwarna ungu. Tubuhnya tegak, kaku, dan tak bergerak sedikit pun. Tidak ada getaran, tidak ada emosi yang terpancar. Ia tampak seperti patung yang diukir dari malam abadi.

Namun di ruangan yang hening ini, kebisuan Nyxarion justru berteriak paling keras.

Ada sesuatu yang salah. Sangat salah.

Jika aliran jiwa terhenti, jika celah terbuka, jika Nihilum mulai bangkit—maka ada pihak yang menggerakkan roda-rodanya. Dan kekuatan untuk mengutak-atik akhir dan awal, hanya dimiliki oleh satu orang di antara mereka.

Nyxarion seolah merasakan tatapan ratusan mata yang menusuk punggungnya. Perlahan, sangat perlahan, ia memutar tubuhnya.

Wajahnya datar. Tidak bersalah. Tidak takut. Tidak juga bangga. Hanya ada kedalaman yang gelap dan tak terduga di balik iris matanya. Ia menatap mereka satu per satu, menatap ketidakpercayaan, kecurigaan, dan kemarahan yang mulai membara di mata para saudaranya.

Dan kemudian, bibirnya bergerak.

Sebuah senyuman tipis terbentuk. Bukan senyuman ramah, bukan pula senyuman jahat yang kejam. Itu adalah senyuman seseorang yang mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain. Senyuman seseorang yang telah mengambil keputusan berat jauh sebelum orang lain sadar bahwa mereka sedang berdiri di tepi jurang.

Di luar aula, guntur bergemuruh jauh di angkasa, seolah langit sendiri ikut menahan napas menanti jawaban darinya.

Misteri tentang retakan itu, tentang Nihilum, dan tentang jiwa-jiwa yang tertahan, perlahan mulai menemukan ujung benangnya. Dan ujung itu berada tepat di genggaman tangan Nyxarion.

Bab ini belum berakhir, namun panggung telah disetting. Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan taruhannya adalah keberadaan seluruh alam semesta.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!