Angin sore berhembus pelan di area parkir bandara, deretan mobil berkilau di bawah lampu yang mulai menyala satu persatu.
Kataleya berdiri di antara barisan kendaraan, ia memeluk tak kecil di tangannya. Di dalam tas itu, ada kotak makan malam yang ia masak dengan tangannya sendiri sejak sore tadi untuk suaminya. Itu adalah sup ayam kesukaan Arkana, ia tersenyum saat mengingat suaminya selalu mengatakan sup buatannya adalah masakan Leya yang paling lezat.
Tapi saat mengingat suaminya jarang pulang tepat waktu selama beberapa bulan terakhir ini, senyumnya memudar. Arkana memberikan alasan karena jadwal penerbangan yang sangat padat. Leya sebenarnya tidak mempermasalahkannya, karena menjadi seorang pilot memang seperti itu.
Leya tahu betul, karena dulu ia juga hidup di dunia yang sama dengan suaminya. Langit, kokpit, suara mesin pesawat dan lampu runway yang membentang seperti bintang di bumi, semua itu dulu adalah hidupnya. Sampai dia menyerahkan semuanya pada Arkana, suaminya.
Suara seseorang yang ia kenal membuat Leya tersentak dari lamunannya tentang masa lalu. Ia menoleh, dan di parkiran suaminya berdiri di samping mobil hitam miliknya. Arkana memakai seragam Kapten Pilot, terlihat rapi dan sempurna. Dipadukan jas gelap dengan garis emas di bahu yang berkilau di bawah sinar lampu. Dulu, seragam Kapten itu hampir menjadi milik Leya.
Mulut Leya baru saja terbuka ingin memanggil suaminya, tapi tertutup kembali saat dia melihat ada seorang wanita yang berdiri sangat dekat dengan Arkana. Dilihat dari seragamnya, wanita itu adalah seorang pramugari muda. Seragamnya masih lengkap, rambutnya disanggul rapi dan wajahnya dipenuhi senyum manja.
Leya tidak bergerak sama sekali, jaraknya dengan mereka hanya beberapa meter tapi cukup jauh untuk membuatnya tak terlihat di balik bayangan mobil. Ia tak berniat menguping, tapi kata-kata keduanya terdengar terlalu jelas.
“Kapten Arkana, kalau kita terus seperti ini... nanti istrimu marah.” Suara pramugari itu terdengar manja, bahkan dia menempelkan tubuhnya pada Arkana.
Arkana tertawa pelan, mata pria itu menyipit dingin. Ia lalu menyandarkan tubuhnya dengan santai di mobil. “Dia nggak akan tau.“
“Bagaimana kalau dia datang menjemputmu,“ Pramugari itu terkikik manja.
“Nggak mungkin, dia sibuk mengurus anak kami dirumah.“ Arkana mengangkat bahu tak peduli.
Kataleya menunduk, dia mencengkram tas makanan lebih erat. Tapi percakapan suaminya dan pramugari itu belum berhenti, wanita itu mengelus dada Arkana.
“Kamu benar-benar berani, Kapten. Kalau aku jadi dia, aku pasti tak akan membiarkan suamiku bersama perempuan lain.“
Arkana tertawa lagi, kali ini bahkan lebih keras. “Kalau kau jadi dia, kau nggak akan punya kesempatan menikah denganku.”
Pramugari itu mengerutkan keningnya, “Maksudnya?”
“Dulu, dia memang cantik. Dia juga adalah pilot yang hebat. Tapi sekarang... Dia bahkan nggak punya waktu untuk merawat dirinya sendiri. Dia terlihat jelek, membuatku tak bernafsu saat melihatnya.“ Arkana bicara dengan nada menghina.
Kalimat Arkana terasa seperti menampar wajah Leya, ia lalu menatap pantulan dirinya di kaca mobil di dekatnya. Rambutnya diikat sederhana, tubuhnya memang tak seramping dulu setelah ia melahirkan dan pakaian yang seadanya. Bukan itu yang membuatnya dadanya sesak karena sakit hati saat ini. Yang menyakitkan adalah Arkana tahu alasan dia menjadi seperti itu, tapi suaminya malah merendahkannya.
“Jadi, kamu tak mencintainya lagi?“ tanya Pramugari itu.
Arkana terdiam beberapa detik, lalu tersenyum tipis. “Cinta? Aku menikahinya karena waktu itu dia menyerahkan kursi pilotnya padaku.“
Nada bicara Arkana begitu santai, seakan membicarakan sesuatu yang tidak penting.
Pramugari itu terkejut, “Serius, Kapten? Jadi selama ini, kamu nggak cinta dia?“
“Iya. Kalau waktu itu dia nggak mundur dari seleksi kapten, mungkin aku nggak akan pernah mendapatkan posisi sekarang ini.“ Arkana tertawa menyeringai.
Suara detak dada Leya tiba-tiba terasa sangat keras, ia ingat waktu itu dengan jelas. Dimana hari ketika ia menandatangani pengunduran dirinya, hari ketika ia berkata pada Arkana dengan senyuman.
“Ambil saja kursi kapten itu, aku nggak keberatan.“
Karena saat itu ia pikir, jika Arkana bahagia maka ia juga akan sangat bahagia.
“Lagipula, melihatnya sekarang aku kadang berpikir... aku terlalu terburu-buru menikah.“ Ucap Arkana kembali bicara.
Pramugari itu menutup mulutnya seolah terkejut, tapi matanya justru berbinar. “Kalau begitu, gimana dengan kita?“
Arkana tak menjawab pramugari itu dengan kata-kata, ia menarik perempuan itu mendekat lalu mencium bibirnya.
Kotak makan di dalam tas Leya terasa sangat berat, sup ayam yang masih hangat itu tiba-tiba terasa seperti yang tak berarti. Angin malam berhembus dingin, tapi yang membuat ia menggigil bukanlah udaranya melainkan kenyataan pahit yang baru saja ia lihat dan ia dengar.
Enam tahun ia meninggalkan langit demi pria bajingan seperti Arkana. Menjadi ibu rumah tangga, mengurus rumah, memasak, mencuci, dan merawat anak mereka sendirian. Karena Arkana selalu mengatakan mereka harus hidup sederhana, jadi tak pernah ada pembantu apalagi baby sitter untuk anaknya. Tapi sekarang, Arkana memperlakukannya seperti beban dan mengatakan tak pernah mencintai dirinya.
Leya menutup matanya sejenak, saat membuka matanya kembali ia mengeluarkan kotak makan dari dalam tasnya. Ia menatap kotak sup itu sebentar, kemudian tanpa ragu ia membuang kotak itu ke atas tong sampah.
“Aku akan membuatmu menyesal, bajingan!!!“ mata Leya berapi-api.
Arkana membuka pintu mobilnya, dan saat itu lah pandangannya bertemu dengan tatapan dingin Leya.
“Leya...?“ Wajah Arkana seketika berubah.
Wanita pramugari itu turut menoleh, ekspresinya pucat.
Leya berjalan mendekat dengan langkah tenang, tak ada air mata di wajahnya. Bahkan tak ada kemarahan, tapi justru ketenangan itu lah yang membuat Arkana tampak gugup.
“Leya, sejak kapan kamu disini?“ tanya Arkana.
Leya berhenti beberapa langkah jauhnya dari Arkana, matanya berkilat tajam. “Cukup lama untuk mendengar semua ucapanmu.“
Pramugari itu buru-buru mundur, ia berjalan cepat pergi tanpa berani menatap Leya. Kini hanya ada mereka berdua yang tersisa, Arkana mengusap tengkuknya.
“Leya, ini nggak seperti yang kau pikirkan.“
“Memangnya menurutmu, apa yang sedang aku pikirkan?“ tanya Leya pelan, tapi tatapan menusuk wanita itu membuat Arkana tak nyaman.
Arkana membuka mulutnya, tapi ia menutupnya lagi karena tak tau harus menjawab apa.
Leya tersenyum tipis, tapi senyumannya malah terlihat aneh. “Tenang aja, aku nggak marah kok.“
Arkana menghela nafasnya, ia terlihat lega.
“Tapi akhirnya aku mengerti sesuatu,“ lanjut Leya.
Sebelah alis pria itu terangkat, “Apa?“
Leya menatap seragam Kapten yang dipakai Arkana, lalu tatapannya beralih pada garis emas yang dulu hampir menjadi miliknya.
“Semua yang ada padamu sekarang, dulu adalah milikku.“ Ucap Leya dengan tatapan dalam.
“Maksudmu apa, Leya?“
Leya menatap tajam ke arah suaminya, lalu dia tersenyum dingin. “Besok, aku akan ajukan gugatan cerai.“
Wajah Arkana langsung berubah, ia menggertakkan gigi. “Leya, jangan bercanda! Ini lelucon yang sangat buruk!“
“Aku nggak bercanda.“ Leya merasa hatinya benar-benar dingin, dia menatap pria yang dulu sangat ia cintai sepenuh hati dengan pandangan penuh kebencian. “Satu hal lagi. Mulai sekarang... aku akan mengambil apa yang seharusnya jadi milikku. Aku akan mengambil kembali langitku!“
“Leya! Kau—“
Tanpa menunggu jawaban Arkana, Leya berbalik dan berjalan pergi dengan dagu terangkat. Lampu runway di kejauhan menyala terang, seperti memanggil wanita itu untuk pulang.
Rumah yang ia tinggali bersama Arkana selama enam tahun setelah menikah itu sunyi ketika Leya membuka pintunya. Sebelum berangkat tadi, ia sudah menitipkan anaknya pada orang tuanya.
Lampu ruang tengah masih menyala menerangi mainan anaknya yang berserakan di lantai. Biasanya dia akan langsung merapikannya, tetapi malam ini Leya hanya berdiri diam. Pikirannya masih dipenuhi bayangan pengkhianatan suaminya yang ia lihat di parkiran bandara. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu melangkah menuju ruangan kecil di belakang rumah. Itu adalah sebuah gudang.
Leya menyalakan lampu dan ruangan itu langsung dipenuhi cahaya kekinian. Kotak-kotak lama tersusun rapi di rak kayu, dan di sudut ruangan ada koper hitam besar. Ia berjalan ke arah koper itu tanpa keraguan, tangannya langsung menarik resleting koper.
Begitu koper terbuka, sesuatu yang sudah lama ia tinggalkan kembali terlihat. Sebuah seragam pilot berwarna putih, dengan garis emas di bahu. Ada juga topi pilot, dan lencana sayap kecil. Leya menatap barang-barang itu, selama enam tahun ia mengubur semuanya.
Leya mengambil seragam putih itu, dan mengangkatnya. Kainnya masih bagus, sama seperti dulu. Ia berdiri di depan cermin kecil di dinding, seragam itu ia tempelkan di tubuhnya. Pantulan wanita di dalam cermin menatap balik, wajahnya memang lebih dewasa dan terlihat kelelahan disana. Namun ada sesuatu yang jauh lebih kuat dari wajah kelelahannya, sebuah tekad.
Leya menghembuskan nafasnya, ia mengelus wajahnya. “Jadi ini... yang kau bilang jelek, Arkana? Oke, tunggu saja.“
Wanita itu membawa koper dan seragam ke dalam rumah, dan saat itu lah pintu depan terbuka. Langkah kaki terdengar, beberapa detik kemudian Arkana muncul. Pria itu berhenti saat melihat seragam di tangan Leya, ekspresinya langsung berubah tidak senang.
“Kau sedang apa?!“
Leya tidak menoleh saat menjawab. “Apa kelihatannya nggak jelas?“
Arkana mendengus, “Untuk apa kau membongkar seragam lama itu?“
“Ini bukan barang lama, tapi ini hidupku yang pernah kau minta aku buang setelah kita menikah!“ Jawab Leya dengan nada dingin.
Arkana menghela nafas kesal, “Leya, jangan main drama. Cukup!“
Leya akhirnya menoleh, tatapannya tajam. “Drama katamu?“
“Leya, apa yang kau lihat tadi di parkiran bukan seperti yang kau pikirkan.“ Arkana mencoba berbohong kembali.
Leya tertawa pendek, “Kau masih ingin berbohong, setelah aku memergokimu secara langsung?! Apa kau pikir aku bodoh?“
“Aku dan perempuan itu hanya bercanda.“
Leya melangkah maju satu langkah, tatapannya tidak berkedip sedikitpun. “Aku mungkin belum menemukan bukti kau berselingkuh dan tidur dengan wanita itu. Tapi Arka... ciuman kalian bukan hanya sekedar bercanda.“
Arkana langsung terdiam, tapi hanya sepersekian detik. Lalu ia mengangkat bahu, seolah-olah tidak perduli. “Kau terlalu membesar-besarkan hal sepele.“
“Sepele katamu?“ Leya lalu tertawa. “Kalau aku berciuman dengan pria lain, apa bagimu itu juga hanya hal sepele?“
Mata Arkana terlihat terkejut, dia lalu mencengkram lengan Leya. “Jaga ucapanmu! Wanita dan laki-laki berbeda! Kalau kau berani bermain di belakangku dengan laki-laki lain, akan kubuat kau menyesal! Kau adalah Istriku, kau milikku!“
Leya menghentak tangannya, sampai cekalan Arkana terlepas. “Sayangnya, status itu akan segera berakhir. Kita akan menjadi orang asing setelah bercerai. Sudah cukup aku mengurus rumah sendirian, menjaga rumah tangga ini agar tetap utuh. Sementara kau, sibuk bermain dengan perempuan lain!“
“Jadi, kau mau kembali jadi pilot?“ Arkana malah tertawa sinis, lalu pria itu menatap tubuh Leya dengan pandangan merendahkan. “Kau sudah keluar dari dunia itu enam tahun lalu. Maskapai nggak butuh pilot yang sudah lama berhenti, apalagi dengan tubuh jelekmu sekarang.“
Kalimat Arkana terdengar seperti pukulan, tapi wajah Leya tidak berubah sedikitpun. Ia malah tersenyum tipis.
“Bagus kalau kau berpikir seperti ini! Karena nanti saat aku kembali seperti dulu, aku ingin melihat wajahmu saat kau sadar... ucapanmu salah.“
Arkana tertawa keras. “Leya, kau terlalu percaya diri.“
“Tidak! Aku hanya berhenti meremehkan dan merendahkan diriku sendiri demi kamu.“ Ucap Leya tegas.
Sunyi memenuhi ruangan.
“Kita akan bercerai, tunggu surat gugatan dariku!“ Leya bicara tanpa ragu.
Arkana menatap tajam wanita itu. “Kau serius? Kau pikir hidup di luar sana akan mudah, dunia penerbangan itu keras.”
Leya tak menjawab, dia hanya menatap tajam suaminya.
Beberapa detik berlalu, lalu Arkana mengangkat bahu. “Oke, kalau itu yang kau mau. Jangan menyesal dan meminta kembali padaku!“
“Tenang saja, aku nggak akan pernah kembali pada pria brengsek sepertimu!“ Leya tersenyum dingin.
Malam itu, Leya benar-benar pergi. Sebuah koper berisi barang-barangnya ia tarik keluar dari rumah yang selama ini ia tinggali. Di ruang depan, Arkana duduk memperhatikan. Tatapannya dingin saat Leya berjalan melewatinya.
“Leya, kalau kau minta maaf padaku sekarang... Aku akan memaafkanmu.“ Ucap Arkana dengan nada sinis, lalu ia menyandarkan tubuhnya santai, seolah tak terjadi apa-apa. “Setelah itu, kau harus melupakan apa yang kau lihat hari ini. Jadilah istri yang seperti biasanya, tinggal di rumah. Mengurusku dan anak kita. Tahu diri lah sedikit, selama ini kau hidup dari uangku.“
Langkah Leya terhenti, ia terdiam selama beberapa detik. Lalu ia tersenyum penuh ejekan, tatapan tajamnya menembus suaminya. “Kau nggak tau malu! Seharusnya kau lah yang minta maaf padaku. Dan ingat ini baik-baik! Kalau suatu hari nanti kau datang memohon-mohon memintaku kembali padamu... semuanya sudah terlambat!“
Wanita itu pun menarik kopernya dengan punggung tegak, Leya keluar dari rumah itu tanpa menoleh lagi. Ia hanya membawa sebuah koper, tanpa mengambil apapun. Itu hanya sementara, semua yang harus menjadi haknya akan ia ambil nanti di pengadilan. Harta gono-gini dan juga hak asuh anaknya.
Leya sudah memesan mobil online, tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di tepi jalan. Ia masuk tanpa banyak bicara, mobil itu melaju meninggalkan rumah.
Di belakangnya, Arkana berdiri dengan kedua tangan mengepal erat. Wajahnya memerah dipenuhi amarah yang sulit ia sembunyikan. Namun di balik itu ada perasaan lain yang muncul tanpa ia mengerti, sebuah perasaan asing yang menyesakkan dadanya. Perasaan itu muncul karena satu hal yang tak ia duga, Leya benar-benar pergi darinya.
“Cih! Dia nggak akan bertahan lama dan pasti akan segera kembali padaku!“ cibir pria itu.
Perjalan Leya tak terlalu jauh, rumah orang tuanya masih berada di kota yang sama. Saat mobil berhenti di depan rumah orang tuanya, malam sudah larut. Wanita itu turun dari mobil, dan berjalan menuju pintu. Belum sempat ia mengetuk, pintu itu sudah terbuka. Ibunya berdiri disana, wanita paruh baya itu tak bertanya apapun karena Leya sudah menjelaskan di telepon.
Ibunya hanya tersenyum lembut, lalu memeluk putrinya erat. “Nak, ini akan selalu jadi rumahmu. Kamu bisa pulang kapan saja.“
Leya hanya memeluk balik ibunya tanpa menjawab. Beberapa detik kemudian, ayahnya datang menghampiri. Pria itu memandang putrinya dengan tatapan penuh pengertian lalu mengelus lembut kepala Leya.
“Semuanya akan baik-baik saja, kami akan selalu ada untukmu.“ Ucap ayahnya penuh kasih.
Saat itu lah, pertahanan Leya runtuh. Air mata yang sejak sore tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Ia menangis di pelukan ibunya, meluapkan semua rasa sakit yang ia pendam. Ibunya ikut menangis, bahkan sang ayah tak mampu menahan air mata melihat putri semata wayangnya terluka seperti ini.
Tak lama kemudian, tangisan perlahan mereda. Leya menarik nafas panjang, lalu berjalan menyusuri koridor rumah yang sangat ia kenal sejak kecil. Langkahnya berhenti di ujung lorong, pintu kamar terbuka sedikit. Cahaya lampu temaram memancar lembut dari dalam kamar itu. Ia mendorong pintu perlahan, putranya bersama Arkana sedang tertidur pulas di tempat tidur. Anak kecil itu memeluk mainan pesawat kesayangannya yang selalu dibawa kemana-mana.
Leya mendekat dan duduk di pinggir ranjang, ia menarik selimut yang hampir jatuh dari tubuh kecil putranya. Wajah Arsen begitu tenang, begitu polos. Tidak tahu apapun tentang dunia orang dewasa yang sedang runtuh di sekitarnya. Tatapan Leya melembut sejenak, ia menunduk dan mencium kening anaknya.
“Tidurlah yang nyenyak... jagoan Mama.“ Bisiknya pelan, lalu ia membaringkan tubuhnya di samping sang anak.
Namun matanya tak terpejam, ia menatap langit-langit dengan pandangan penuh tekad dan perhitungan.
Aku akan membuktikan, bahwa aku masih mampu terbang tinggi di langit!
Pagi itu langit cerah di atas gedung Akademi Penerbangan Nusantara. Pesawat latih kecil terlihat rapi di apron atau pelataran parkir pesawat. Suara mesin dari hanggar terdengar bersahut-sahutan, bercampur dengan langkah para trainee yang berlalu lalang mengenakan seragam latihan. Leya berdiri di depan gerbang Akademi itu. Sudah enam tahun yang lalu ia pergi dari dunia penerbangan tanpa menoleh lagi. Hari ini ia kembali, sebagai seseorang yang ingin mengambil kembali tempatnya.
Leya menarik nafas dalam-dalam, lalu melangkah masuk. Beberapa trainee yang lewat menoleh sekilas padanya, tatapan mereka tidak peduli. Hanya sekedar penasaran melihat seorang wanita yang terlihat dewasa dari kebanyakan siswa disana. Ia langsung menuju gedung administrasi, di dalam ruangan itu seorang staf wanita sedang mengetik di komputer.
Leya berdiri di depan meja dengan wajah tenang. “Permisi, saya ingin mendaftar kembali untuk program lisensi kapten pilot.“
Staf itu berhenti mengetik, ia mengangkat kepalanya lalu menatap Leya dari atas sampai bawah.
“Nama?“
“Kataleya Sarasmita.“
Wanita itu mengetik sesuatu di komputer, beberapa detik kemudian ekspresinya berubah.
“Kataleya Sarasmita?“ Staf itu kembali menatap Leya, “Data Anda menunjukkan, Anda telah berhenti enam tahun lalu.“
“Benar.“ Jawab Leya.
“Kenapa sekarang kembali?“
“Karena saya ingin kembali meraih masa depan saya, dan kembali memeluk langit.“ Jawab Leya tanpa keraguan.
Staf itu terdiam sebentar, lalu kembali bicara dengan nada ragu-ragu. “Program ini biasanya untuk pilot aktif yang ingin naik menjadi kapten.“
“Kalau begitu, anggap saya kembali aktif.“
Staf itu tampak tidak yakin, tapi ia akhirnya berdiri dari duduknya. “Tunggu sebentar.“
Wanita staf itu berjalan ke ruangan belakang, beberapa menit kemudian seorang pria paruh baya keluar dari sana. Dia memakai seragam instruktur pilotnya, lalu menatap Leya dengan kening berkerut.
“Kataleya Sarasmita, kau berhenti terbang enam tahun lalu. Dunia penerbangan berubah cepat, pilot yang berhenti selama itu... biasanya tidak kembali.“
“Saya akan menjadi pengecualian pertama, saya akan berusaha.“ Leya menjawab dengan tenang.
Pria itu terdiam sebentar, sebelum ia lanjut bicara terdengar suara tawa dari arah belakang. Beberapa trainee pilot baru saja masuk ke ruangan, salah satu dari mereka melihat Leya dan berbisik pada temennya.
“Dia mau daftar juga?“
“Serius?“
“Kelihatan seperti ibu-ibu.“
Bisik-bisik terdengar, beberapa dari mereka bahkan tertawa mengejek.
“Program ini berat, ini bukan kursus untuk hobi. Apalagi dengan wajah dan tubuhnya yang jauh sekali dari kriteria.“ Ucap seseorang menghina penampilan Leya.
Tawa mereka makin keras, Leya mendengar semuanya. Tapi wanita itu tak membalas, ia hanya menatap instruktur di depannya. “Apa ada masalah dengan usia saya?“
Instruktur itu terlihat canggung. “Bukan masalah usia, tapi kemampuan.“
“Kalau begitu, uji saja saya.“ Ucap Leya dengan tatapan penuh keyakinan.
Beberapa trainee di belakangnya kembali tertawa. “Dia serius? Enam tahun tidak terbang, lalu langsung tes kapten?“
“Ini lucu sekali!“ timpal yang lain.
Leya akhirnya menoleh ke arah mereka, tatapannya tajam. “Kalau kalian semua sudah selesai tertawa, lebih baik mulai belajar. Jangan menyia-nyiakan waktu kalian, hanya demi merendahkan orang lain!“
Ruangan langsung sunyi, salah satu trainee mendengus kesal tapi pada akhirnya tak ada yang menjawab.
Instruktur itu menghela nafas panjang, “Baiklah, kita akan lakukan tes simulasi dulu. Kalau kau gagal, jangan buang waktu kami lagi.“
Leya mengangguk dengan tegas, “Tak masalah.“
Lalu ia menandatangani formulir pendaftaran tanpa ragu, tapi saat ia selesai dan berbalik meninggalkan meja, tatapannya bertemu dengan seseorang yang berdiri di ujung ruangan.
Disana seorang pria tinggi berdiri menatap Leya dengan pandangan penuh ketertarikan, seragam pilotnya terlihat sederhana tetapi cara berdirinya berbeda dari yang lain. Matanya tajam memperhatikan segalanya, bahkan pria itu tak ikut menertawakan Leya dan juga tak terlihat meremehkan. Ia hanya menatap Leya dengan ekspresi yang sulit dibaca, seolah sedang menilai sesuatu.
Beberapa detik mereka saling menatap, lalu pria itu memalingkan pandangannya seakan tak ingin terlihat terlalu memperhatikan. Sementara Leya tidak mengenal pria itu, tapi ia merasakan sesuatu yang berbeda dari tatapannya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!