Indonesia
NovelToon NovelToon

Target Transmigrasi: Berhenti Jadi Istri Durhaka Sang CEO Bucin!

Bab 1: Jangan Gunakan Namaku!

"Elodie, sudah kukatakan berkali-kali! Jangan gunakan namaku untuk karakter antagonis di novel murahanmu itu!"

Suara itu bergema di kepalaku, sisa-sisa ingatan dari dunia nyata sebelum semuanya menjadi gelap. Aku, Charlotte Lauren Blair—seorang pegawai bank yang hidupnya hanya seputar angka dan cicilan—terakhir kali ingat sedang bertengkar dengan sahabatku, Elodie Lunara. Penulis novel online yang obsesif itu bersikeras memakai namaku untuk karakter 'Istri Jahat' di karya terbarunya.

Aku menolak keras. Tapi Elodie hanya tertawa licik sambil berkata, "Tapi namamu itu sangat cocok untuk wanita cantik yang berumur pendek, Blair."

Sialan. Seharusnya aku tahu tertawa licik itu adalah pertanda buruk.

Aku mengerjapkan mata. Hal pertama yang menyerang inderaku adalah bau parfum mawar yang sangat mahal—jenis parfum yang tidak akan pernah sanggup dibeli oleh pegawai bank sepertiku.

"Nyonya? Anda melamun lagi?"

Suara bariton yang dingin dan tajam itu membuatku tersentak. Aku mendongak dan seketika jantungku serasa berhenti berdetak.

Di depanku, duduk seorang pria dengan setelan jas navy yang sangat rapi. Wajahnya... Ya Tuhan. Rahangnya tegas, hidungnya bangir sempurna, dan matanya sehitam obsidian yang memancarkan aura otoritas yang menekan. Dia tampak seperti dewa yang turun dari langit, namun dengan ekspresi sedingin es.

Tunggu... wajah ini. Pria ini... Ralph Liam Alexander?

"L-Liam?" gumamku spontan.

Pria itu menyipitkan mata, tatapannya penuh kebencian sekaligus luka yang disembunyikan dengan rapi. "Sejak kapan kau memanggil namaku tanpa nada merendahkan, Blair? Apa kau baru saja merencanakan skandal baru dengan Andreas?"

Otakku berputar cepat. Aku melihat sekeliling. Meja makan panjang, pelayan berseragam rapi, dan kemewahan yang hanya ada dalam deskripsi novel Elodie.

Aku... aku masuk ke dalam novel 'Lustre of Betrayal'?!

Aku menoleh ke samping dan melihat seorang remaja laki-laki berusia 16 tahun yang sedang memotong steak dengan gerakan mekanis. Wajahnya adalah versi muda dari Liam—sangat tampan, namun tatapannya kosong dan penuh kebencian saat melirikku.

"Mama tidak perlu berpura-pura bingung," suara remaja itu terdengar sangat rendah. "Bukankah hari ini Mama mau membawa pengacara untuk menggugat cerai Papa?"

Axelle Kai Alexander. Putraku. Anak yang di dalam novel selalu disiksa secara verbal oleh Blair asli karena dianggap sebagai 'beban' hasil kecelakaan malam kelulusan.

Gila. Elodie benar-benar gila! Dia tidak hanya memakai namaku, dia membuatku menjadi wanita paling menjijikkan di dunia ini. Dan yang paling parah... di bab 50, Blair akan mati mengenaskan karena dikhianati oleh selingkuhannya, Andreas, demi wanita lain yang ternyata adalah... Elodie di dunia novel ini!

[Kenapa dia diam saja? Apa dia begitu bersemangat ingin berpisah dariku sampai-sampai kehilangan kata-kata? Sial. Dadaku sesak sekali melihatnya menatapku dengan wajah linglung itu. Jangan pergi, Blair... kumohon, jangan katakan kata cerai itu lagi.]

Aku tersentak. Suara siapa itu? Suaranya persis seperti Liam, tapi bibir pria di depanku itu tertutup rapat. Dia sedang menatapku dengan angkuh sambil menyesap kopinya.

"Liam?" panggilku lagi, memastikan.

"Bicaralah. Aku tidak punya waktu seharian untuk meladeni drama pagimu," sahut Liam dingin.

[Dia cantik sekali pagi ini. Rambutnya yang berantakan itu... aku ingin sekali menyentuhnya. Tapi dia pasti akan berteriak jijik jika aku mendekat. Aku benci diriku sendiri yang masih sangat mencintainya.]

Mataku membelalak. Aku bisa mendengar suara hatinya! Pria kaku yang terlihat ingin membunuhku ini... ternyata seorang simp kelas berat? Dia sangat bucin padaku?!

Aku menatap Liam, lalu menatap Axelle. Keduanya sangat tampan. Visual mereka benar-benar di luar nalar manusia biasa. Pegawai bank sepertiku biasanya hanya melihat pria-pria lelah di antrean teller, tapi sekarang aku punya suami CEO dan anak jenius yang terlihat seperti model kelas dunia.

Mati tragis di bab 50? Demi Andreas yang parasit itu?

"Tidak," ucapku tiba-tiba sambil menggebrak meja.

Liam dan Axelle tersentak. Keduanya menatapku dengan waspada, seolah aku akan melemparkan piring ke arah mereka.

"Tidak apa?" tanya Liam dengan nada waspada.

Aku menatap surat cerai yang tergeletak di dekat vas bunga—surat yang sudah disiapkan Blair asli. Aku meraihnya, lalu tanpa ragu merobeknya menjadi dua bagian di depan mata mereka yang terbelalak.

"Aku membatalkan perceraian. Dan mulai hari ini, tidak ada lagi nama Andreas di rumah ini!" tegasku.

Axelle menjatuhkan garpunya. Liam tersedak kopinya sendiri.

[APAAAA?! DIA MEROBEKNYA? DIA TIDAK JADI MINTA CERAI?! YA TUHAN, APA AKU HARUS SUJUD SYUKUR SEKARANG? TUNGGU... INI PASTI TAKTIK! DIA PASTI MAU MEMINTA BERLIAN YANG LEBIH BESAR!]

Aku menahan senyum kemenangan. Elodie, maaf saja. Kau mungkin penulisnya, tapi sekarang aku yang memegang kendali tubuh ini. Aku tidak akan membiarkan visual setampan ini terbuang sia-sia di liang lahat.

"Liam, belikan aku berlian paling langka yang ada di pelelangan besok," perintahku dengan nada galak yang dibuat-buat. "Sebagai denda karena kau sudah membuatku kesal pagi ini!"

Liam berdehem, mencoba mengembalikan wajah kakunya meski telinganya memerah. "Hanya itu? Aku akan membelikan seluruh rumah pelelangannya jika itu bisa membuatmu tutup mulut soal cerai."

Aku bersandar di kursi emas itu dengan anggun. Selamat tinggal kehidupan pegawai bank yang membosankan. Selamat datang di dunia kemewahan, suami bucin, dan masa depan yang tidak akan berakhir tragis!

Bab 2: Pamit yang Tak Pernah Sampai

[Dia benar-benar merobeknya... Ya Tuhan, terima kasih! Jantungku serasa kembali ke tempatnya. Apa ini mimpi? Apa aku harus mencubit lenganku sendiri agar tidak terbangun dari kenyataan indah ini? Dia tidak jadi meninggalkanku!]

Suara hati itu bergema di kepalaku, begitu kontras dengan wajah Liam yang kini kembali sedingin es. Ia meletakkan cangkir kopinya dengan gerakan yang sangat kaku, mencoba menyembunyikan tangannya yang sedikit gemetar karena rasa lega yang luar biasa.

Aku menatap serpihan kertas di lantai marmer. Surat cerai itu hancur, Liam. Begitu juga rencana kematianku.

"Aku berangkat, Pa."

Suara dingin dan datar itu memecah keheningan yang canggung. Axelle berdiri, menyampirkan tas sekolahnya di bahu dengan gerakan malas. Wajah tampannya sama sekali tidak menoleh ke arahku. Ia bahkan tidak melirik seujung kuku pun pada sobekan kertas di lantai.

Liam mendongak, menatap putranya dengan tatapan yang sedikit melunak. "Hati-hati di jalan. Fokuslah pada pelajaranmu hari ini."

"Ya," sahut Axelle pendek.

Remaja itu melangkah pergi, melewati kursiku seolah-olah aku hanyalah udara kosong yang tidak kasat mata. Tidak ada kata pamit, tidak ada lambaian tangan, bahkan tidak ada tatapan benci. Hanya pengabaian total yang terasa lebih menyakitkan daripada makian manapun.

Aku tertegun, tanganku yang masih memegang sisa sobekan kertas mendadak terasa dingin. Jadi begini rasanya dibenci oleh darah dagingmu sendiri? Di dunia nyata, aku hanya pegawai bank yang kesepian, tapi di sini... aku punya anak, namun dia menganggapku tidak ada.

"Axelle," panggilku spontan.

Langkah kaki Axelle terhenti sejenak di ambang pintu besar ruang makan. Punggungnya yang tegap menegang.

"Mama... Mama hanya ingin bilang hati-hati di sekolah," ucapku dengan nada serak yang tidak bisa kusembunyikan.

Hening. Satu detik. Dua detik.

Axelle tidak menjawab. Ia justru mempercepat langkahnya, keluar dari ruangan itu tanpa menoleh sedikit pun. Pintu tertutup dengan bunyi dentum pelan yang terasa seperti palu yang menghantam hatiku. Aku menyadari satu hal: memenangkan hati Liam mungkin mudah dengan mendengar suara hatinya, tapi memenangkan hati Axelle? Itu akan menjadi tantangan hidup dan mati.

Aku menghela napas panjang, bahuku merosot lesu. "Dia benar-benar tidak mau bicara padaku, ya?"

Liam kembali menatapku. Matanya yang tajam seolah sedang membedah isi kepalaku, mencari di mana letak kebohongan dari aktingku pagi ini.

"Kenapa kau terkejut?" tanya Liam dengan suara berat yang mengintimidasi. "Bukankah kau sendiri yang melarangnya memanggilmu 'Mama' sejak dia bisa bicara? Kau bilang suaranya hanya mengingatkanmu pada malam yang ingin kau lupakan."

Aku tersentak. Dadaku terasa sesak. Blair asli, kau benar-benar iblis berbaju desainer! Bagaimana bisa dia setega itu pada anak setampan dan sepintar Axelle?

"Aku... aku hanya merasa ada yang salah dengan diriku selama ini," gumamku sambil menunduk.

Liam melangkah mendekat, aroma parfum sandalwood yang mahal dan maskulin menyerbu indera penciumanku. Ia berhenti tepat di depanku, membuat bayangannya menelan tubuhku yang kini terasa sangat kecil.

"Apa rencana barumu, Blair?" tanya Liam pelan, namun nadanya penuh ancaman. "Merobek surat cerai, bersikap manis pada Axelle... Apa Andreas sedang butuh uang tambahan lagi? Katakan berapa. Berapa harga dari aktingmu pagi ini agar aku tidak curiga?"

Aku mendongak, menantang matanya yang hitam pekat. "Ini bukan akting, Liam! Dan berhenti menyebut nama pria parasit itu. Aku sudah muak mendengarnya!"

Liam menyipitkan mata, rahangnya mengeras. Secara lahiriah, dia terlihat sangat marah. Tapi di kepalaku, suara hatinya justru terdengar sangat... hancur.

[Dia memaki Andreas? Dia bilang dia muak? Oh, tolong... jangan buat aku berharap terlalu tinggi lagi. Aku ingin sekali mempercayainya. Aku ingin memeluknya sekarang juga dan berjanji akan memberikan apapun asalkan dia tidak berbohong. Tapi aku takut... aku sangat takut ini hanya cara dia untuk membuatku lengah sebelum dia menusukku dari belakang lagi.]

Mendengar itu, rasa marahku menguap. Pria ini tidak kejam, dia hanya seorang pria yang trauma karena terus-menerus dikhianati oleh wanita yang dicintainya.

"Aku tidak berbohong!" balasku, kali ini lebih tenang namun tegas. "Mulai hari ini, aku akan tinggal di sini. Menjadi istrimu yang benar, dan menjadi ibu bagi Axelle. Suka atau tidak, kau terjebak bersamaku, Ralph Liam Alexander!"

Aku sengaja menggunakan nada bicara 'Blair yang galak' agar dia tidak curiga aku sudah dirasuki jiwa lain. Karena di dunia ini, Blair yang lemah lembut justru akan terlihat mencurigakan.

Liam terdiam lama. Ia menatapku seolah-olah aku adalah teka-teki paling rumit yang pernah ia temui di dunia bisnis.

[Dia bilang aku terjebak bersamanya? Itu adalah hukuman paling indah yang pernah kudengar. Blair... jika kau benar-benar tidak akan pergi, aku akan membangunkan surga untukmu. Aku akan mencari berlian paling langka hanya untuk melihatmu tersenyum padaku—bukan pada pria itu.]

"Terserah kau saja," sahut Liam dingin, sangat kontras dengan isi hatinya yang sedang berbunga-bunga. "Aku ada rapat penting. Jangan keluar rumah tanpa seizinku. Mengerti?"

"Ya, ya, Tuan CEO Posesif. Pergilah cari uang yang banyak untuk membelikanku berlian!" aku mengibaskan tangan, pura-pura tidak sabar menyuruhnya pergi.

Liam berbalik, namun ia sempat berhenti sejenak di dekat pintu. Tanpa menoleh, ia berkata dengan suara kaku, "Serpihan kertas itu... jangan biarkan pelayan yang menyentuhnya. Buang sendiri ke tempat sampah."

[Sebenarnya aku ingin mengambil sobekan itu dan menyimpannya sebagai kenang-kenangan kalau hari ini dia memilihku. Tapi itu terlalu memalukan. Ah, kenapa jantungku tidak mau berhenti berdetak kencang? Aku harus segera pergi sebelum dia melihat wajahku yang memerah!]

Pria kaku itu melangkah pergi dengan punggung yang sangat tegak, namun aku bisa melihat langkahnya sedikit lebih ringan—hampir seperti orang yang ingin melompat kegirangan.

Aku terduduk lemas di kursi emas itu setelah dia menghilang. Aku menatap meja makan yang kini sunyi.

"Satu masalah selesai. Tapi Axelle..." Aku teringat luka di bibir anak itu tadi pagi. "Kenapa dia terluka? Kenapa dia bilang Lucas sudah menunggunya?"

Aku menyentuh dadaku. "Tenang, Blair. Kau adalah pegawai bank yang biasa menghadapi nasabah paling galak sekalipun. Menghadapi remaja terluka dan suami tsundere... pasti bisa, kan?"

Aku segera berdiri. Sore ini, saat Axelle pulang, aku harus siap dengan kotak obat. Dan mungkin... sebuah permintaan maaf yang sudah terlambat lima belas tahun.

Bab 3: Luka yang Tak Terlihat + Visualisasi

Sore itu, mansion Alexander terasa lebih sunyi dari biasanya. Aku duduk di sofa ruang tengah, berkali-kali melirik jam dinding berlapis emas yang berdetak angkuh. Di depanku, sebuah kotak P3K sudah terbuka rapi.

Ayo, Blair. Kau menghadapi nasabah yang marah karena kartu kreditnya terblokir saja bisa, masa menghadapi anak remaja sendiri gemetar? batinku menyemangati diri.

Suara deru mobil di halaman depan membuat jantungku mencelos. Tak lama kemudian, pintu besar itu terbuka. Axelle melangkah masuk dengan bahu merosot, wajahnya tertunduk, dan langkahnya tampak goyah.

"Axelle," panggilku pelan.

Langkah kaki itu terhenti. Axelle mendongak, matanya yang tajam menatapku dengan kilatan benci yang sudah menjadi makanan sehari-harinya. Namun, fokusku tertuju pada sudut bibirnya yang pecah dan noda darah kering di seragam putihnya yang mahal.

"Apalagi, Nyonya? Aku sudah pulang tepat waktu sesuai perintah pelayanmu," suara Axelle terdengar parau dan dingin.

"Kemari sebentar. Duduk di sini," aku menepuk sisi sofa di sampingku.

Axelle tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar terlalu tua untuk remaja seusianya. "Duduk di sana? Supaya Mama bisa lebih mudah menamparku karena aku membuat Lucas menangis lagi hari ini? Tidak perlu repot-repot. Lakukan saja di sini."

Hatiku seperti diremas. Blair yang asli benar-benar iblis.

"Mama tidak akan menamparmu, Axelle. Kemarilah, biarkan Mama mengobati lukamu," ucapku selembut mungkin.

Axelle mematung. Ia menatapku seolah-olah aku adalah alien yang baru saja turun dari piring terbang. Dengan ragu dan langkah yang sangat lambat, ia mendekat, namun tetap menjaga jarak dua meter dariku.

"Apa rencana Mama kali ini? Ingin aku mengaku bersalah pada Andreas agar dia mau datang ke rumah ini lagi?" tanya Axelle sinis.

"Duduk, Axelle Kai Alexander. Aku tidak suka mengulang perintah," sahutku dengan nada sedikit tegas agar dia patuh.

Akhirnya, dia duduk di ujung sofa, tubuhnya kaku seperti batu. Aku menggeser dudukku mendekat, mengambil kapas yang sudah dibasahi alkohol. Saat tanganku terangkat, Axelle refleks memejamkan mata dan menarik napas dalam, seolah bersiap menerima pukulan.

Ya Tuhan, betapa traumanya anak ini padaku, bisikku dalam hati.

"Ini akan sedikit perih. Tahan sebentar, ya," gumamku sambil menempelkan kapas itu ke sudut bibirnya yang pecah.

Axelle tersentak. Matanya terbuka lebar, menatapku dengan jarak yang sangat dekat. Aku bisa melihat bulu matanya yang lentik dan iris matanya yang persis milik Liam.

"Kenapa?" tanya Axelle tiba-tiba. Suaranya bergetar.

"Kenapa apa?"

"Kenapa Mama melakukan ini? Kemarin Mama bilang aku adalah kutukan dalam hidup Mama. Mama bilang melihat wajahku hanya membuat Mama mual. Lalu kenapa sekarang Mama menyentuhku seolah-olah... seolah-olah aku ini berharga?"

Aku menghentikan gerakanku. Aku menatap matanya yang mulai berkaca-kaca meski ia berusaha keras terlihat tangguh.

"Karena Mama baru sadar kalau Mama bodoh, Axelle," jawabku jujur. "Mama terlalu buta melihat siapa yang benar-benar menyayangi Mama. Maafkan Mama... Mama tahu ini sudah terlambat, tapi biarkan Mama mengobati luka ini dulu."

"Mama... minta maaf?" Axelle tertawa kecil, namun air mata akhirnya jatuh di pipinya. "Dunia pasti sudah gila."

Di saat itulah, pintu utama kembali terbuka. Sosok Liam berdiri di sana, masih dengan jas kantornya yang lengkap. Ia terpaku melihatku sedang memegang wajah Axelle dengan kapas di tangan.

[Apa yang kulihat ini nyata? Blair... dia menangis? Dia mengobati Axelle? Ya Tuhan, pemandangan ini jauh lebih indah daripada semua transaksi bisnis yang pernah kumenangkan. Tapi tunggu... kenapa Axelle menangis? Apa Blair menyakitinya lagi?!]

Suara hati Liam meledak di kepalaku. Liam melangkah cepat mendekati kami, wajahnya terlihat sangat mengerikan karena emosi yang bercampur aduk.

"Apa yang kau lakukan pada Axelle, Blair?!" bentak Liam, suaranya menggelegar di ruang tamu.

Aku mendongak, menatap Liam dengan tenang meski jantungku berdebar. "Aku sedang mengobati anakku, Liam. Bisa tidak kau tidak berteriak?"

Liam terhenti. Ia melihat kotak P3K, lalu melihat wajah Axelle yang kini penuh dengan obat merah.

[Dia tidak memukulnya? Dia benar-benar mengobatinya? Oh, jantungku... berhentilah berdegup sekeras ini. Aku ingin ikut duduk di sana. Aku ingin merangkul mereka berdua. Tapi aku tidak bisa... aku takut mereka berdua akan menolakku.]

"Kenapa kau pulang secepat ini?" tanyaku sambil kembali fokus pada luka Axelle.

"Rapatnya... selesai lebih awal," jawab Liam kaku.

[Bohong. Aku membatalkan tiga rapat penting hanya karena aku khawatir kau akan menyiksa Axelle lagi setelah kita bertengkar tadi pagi. Ternyata aku salah... dan aku sangat senang aku salah.]

"Pa," panggil Axelle pelan. Ia menghapus air matanya dengan kasar. "Mama bilang... mulai sekarang aku tidak perlu menjemput Lucas lagi."

Liam menatapku dengan tajam, seolah meminta konfirmasi.

"Benar," sahutku sambil menutup kotak obat. "Dan kalau Lucas atau ayahnya yang parasit itu berani menyentuh Axelle lagi, aku sendiri yang akan mencabik-cabik mereka. Mengerti, Ralph Liam Alexander?"

Liam terdiam seribu bahasa. Secara lahiriah, dia hanya berdiri kaku seperti patung. Tapi di dalam kepalanya...

[DIA SANGAT KEREN! Istriku... dia membela anakku dengan wajah galak itu? Ya Tuhan, aku ingin menciumnya sekarang juga! Bagaimana bisa dia terlihat begitu menawan saat sedang marah? Aku akan memberikan berlian paling besar untuknya besok! Tidak, malam ini juga!]

Aku hampir saja tertawa mendengar suara hatinya yang sangat fanboy itu. Aku berdiri, lalu menepuk bahu Axelle pelan.

"Mandilah, lalu turun untuk makan malam. Mama akan memasak sesuatu yang enak untukmu," ucapku.

Axelle mengangguk pelan, masih dengan wajah bingung, lalu berjalan menuju kamarnya di lantai atas. Kini, hanya tersisa aku dan Liam di ruang tamu yang luas itu.

"Kau..." Liam berdehem, mencoba mengatur suaranya agar tetap terdengar dingin. "Kau benar-benar berubah, Blair. Apa kau jatuh dari tempat tidur dan kepalamu terbentur?"

Aku melangkah mendekati Liam, berhenti tepat di depan dadanya yang bidang. Aku mendongak, menatapnya dengan senyum miring.

"Mungkin saja. Tapi bukankah kau suka Blair yang seperti ini, Tuan CEO?" godaku.

Liam membuang muka, telinganya memerah padam. "Jangan percaya diri. Aku hanya... aku hanya tidak mau ada keributan di rumahku."

[AKU SUKA! AKU SANGAT SUKA! Tolong jangan berubah lagi, Blair. Tetaplah seperti ini. Aku bersumpah akan menjadi budakmu seumur hidup jika kau terus menatapku dengan cara seperti itu...]

Aku tersenyum puas. Ternyata, menjadi istri durhaka yang bertaubat itu cukup menyenangkan, apalagi jika suaminya se-menggemaskan ini di dalam hati.

...****************...

"Visualisasi yang dihadirkan dalam bab ini hanyalah sebuah representasi kecil dari apa yang ada di pikiran Author. Aku sadar bahwa setiap pembaca memiliki standar ketampanan dan kecantikan yang berbeda-beda, jadi mohon dimaafkan jika pilihan visual ini kurang berkenan atau tidak pas di hati kalian.

Anggaplah ini sebagai bonus kecil, namun jangan biarkan ini membatasi daya imajinasi kalian. Kalian tetap bebas menghidupkan karakter-karakter ini dengan wajah siapa pun yang kalian cintai.

Bicara soal visual, menurut kalian siapa publik figur yang paling memiliki 'vibe' atau aura yang mirip dengan [Nama Tokoh]? Apakah ada aktor yang punya tatapan mata sedingin dia, atau mungkin idol yang senyumnya semanis karakter kita ini? Yuk, kasih tahu aku di bawah, aku akan baca semua saran kalian!"

...PENOKOHAN ...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1. Charlotte Lauren Blair

2. Ralph Liam Alexander

3. Axelle Kai Alexander

4. Andreas Bradly

5. Elodie Lunara

6. Lucas Gasendrico Bradly

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!